Sesi XXIII (15 Juli 2008 – 20 Juli 2008 )
- Komunitas penulis fantasi
- About changing the tone of a story
- Tentang fantasi modern
- Fantasi dengan setting lokal atau luar?
- Mengapa fantasi lokal dianggap kurang marketable oleh penerbit
Post by: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
Karena gak mau kalah sama jeff si dukun ular, gw akhirnya melanggar kontrak dongeng dengan Sang Penandai dan diam2 juga mulai membaca TFH: Q&K.
Sekarang udah sampai bab 3. Sejauh ini menarik.
Setting dunia-nya Elniri bikin gw teringat dengan kisah prekuel novel gw sendiri.
Aaah… jadi pengen nulis bagian itu… [rolleyes]
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 05:13:34 pm
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)
heheheheh…
life and death, actually.
kan udah diperingatin di bagian prolog.
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 11:54:01 am
Sejauh ini baru baca ampe bab 4. Menarik karena engga character based story, melainkan historical/world based story. Model cerita yang tidak punya karakter utama yah? Tapi kesannya buku 1 atau mungkin bab2 awal ini semuanya masih semacam prolog dari kejadian besar yah?
Quote
Atau justru malah sebaliknya: aku yang akan dipengaruhi
olehnya?
Yang jelas saat ini Wyndassi sudah berada di samping
Anthravai, ikut memperhatikan benteng Heyniri di depannya yang
menanti untuk ditaklukkan. Wyndassi kembali dari lamunan
panjangnya.
Gw dmen bagian ini. Cara flashback dan peralihan story yang ciamik [thumbsup] Selama ini gw bingung kl mau bikin flashback di novel itu gmn enaknya ^^ Trus penggunaan italic untuk pikiran dalam hati karakter di sepanjang cerita TFH ternyata sama sekali ga membuat pusing biarpun ganti POV org pertama tanpa dikasi penjelasan. Lebih dinamis dan engga kaku. Top deh, banyak yang bisa dipelajarin [biggrin]
Post by: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
Yups, dulu pernah iseng nanya penulisnya, ternyata ditotal-total smua cerita itu jadi tiga buku.
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.
Oh, satu lagi: dari semua prolog yang pernah kubaca, prolog TFH paling aq suka. Singkat, padat, bermakna.
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 01:15:25 pm
guys, ngomong2, gw baru aja registrasi ulang membership vgi, (gw udah bikin nick sebelumnya tapi lupa passwordnya >_<), ternyata forum RPN-nya masih idup! keren jugak, gw ngintip2 sejarah komunitas mereka ternyata umurnya udah jauh lebih tua dari geng fantasi kita :-[
bahkan penulis ledgard pun pernah join kesana.
jadi sejauh ini, komunitas/club/geng penulis fantasi yg gw tauk tuh ada 3 bijik:
-tret fantasi anak2 pulpen (yak kita2 ini lha
)
-komunitas fantasi kemudian.com (hikikomori-vq, alfare, codenamekey, dllll)
-dan geng vgi (maxim84, juunishi master, maha gnosis, dan konco2nya)
gw jadi berandai2, apakah sebetulnyah masih ada komunitas penulis fantasi selain 3 komunitas itu? dan gimana dengan milis? atau ym? atau jangan2 ada juga komunitas penulis yg ketemuan langsung face-to-face? ah betapa luasnya dunia ini [biggrin]
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:25:30 pm
pasti ada dunia lain yang lebih luas di luar kita, rey.
cuman kita gak tau para penulis fantasi itu nongkrong di mana.
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:36:29 pm
Quote from: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.
gelap? kurang lampukah? hehe…
hmm… masukan berharga. thanks.
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately.
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 02:07:50 pm
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2.
Post by: clickdian on July 16, 2008, 02:10:33 pm
#Villam
ya gak usah diubah, itu paling sugesti aq sendiri aja. paling, kalo mau, mungkin bisa dicari cara gmn membuat tone itu jadi bermanfaat dan bikin TFH lebih ‘mengundang’.
sedikit cangkokan dari tone yg lebih terang, mungkin? mungkin lhoooo…
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
Quote
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2.
ahak, iyak ini dia komen si jeff yg dulu gw tujuin ke cuplikan TFH waktu gw baca jaman dulu… penggambaran jalan perangnya terlalu simple/’lurus’. komandan A bawa sekian ribu pasukan, komandan b bawa sekian ribu pasukan, terus battle deh, dan resultnya pun cuma si komandan a itu menderita kekalahan sekian ratus jiwa, atau kotanya jadi terkuasai musuh. penggambaran adegan perangnya kurang ‘kreatif’ (ente nuntut makian kan? granted! ;D), sehingga kurang berhasil menciptakan greget bagi pembaca.
(tapi emang kalo boleh jujur sih, baca adegan perang TFH masih jauuuuh lebih seru daripada adegan perang di ledgard -.-”)
dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya. ![]()
Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately
HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun. ![]()
tapi untungnya, mungkin kerjaan kita gak sesusah si dukun beranak yg kudu ngebuang racun RPN dari bodi anaknya, which is quite impossible i think [biggrin]
Post by: clickdian on July 16, 2008, 04:23:44 pm
yups. bawa pasukan-perang-selesai-bawa pasukan lagi-perang lagi-selesai, gitu ajaaa terus. capek bacanya.
perkembangan karakternya gimana? komplikasi plotnya gimana?
kalo diseling romance–oke, boleh dah pada ketawa–gimana, lebih menarik gak?
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 05:25:55 pm
Quote from: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately
HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun.
tentang teknis atau gaya bahasa untuk memikat pembaca, mari kita perbaiki. tapi kalo soal mengubah tone, menurutku lebih baik setiap penulis memilih jujur pada diri mereka sendiri. tone adalah hati sebuah cerita, dan untuk itu lebih baik jujur pada apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan dalam cerita tsb.
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 07:03:01 pm
Betul bos… tone macem apa pun, cerita macem apa pun, kalau diolah pasti bisa jadi bagus. Ga ada istilah benar atau salah. Lagian nulis dengan ngorbanin idealisme sendiri itu bukan sesuatu yang membanggakan juga. Kalau berhasil memperjuangkan idealisme sendiri dan membuatnya sukses dan diterima semua orang itu baru bisa dibanggakan. [thumbsup]
Quote
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.
Nah ini bener banget. Satu jenis perang cukup disajian sekali aja, kl ada perang lain yang engga berbeda skenarionya dengan itu, dipersingkat dan tidak perlu dijelaskan dengan detil. Perang berikutnya yang dijelaskan dgn detil harus menyajikan sesuatu yang berbeda biar bikin pembaca tetep greget.
Quote
dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya.
Ini saran yang bagus, three kingdom awal juga menyajikan taktik di setiap perangnya. DIsini justru kita bisa nunjukin pada pembaca gimana tingkat kecerdasan masing2 tactician. Dimulai adri taktik Guan Yu yang termasuk pintar strategi perang, kemudian ganti Xu Shu yang levelnya jenius, ampe akhirnya ketemu Zhu Ge Liang yang levelnya beyond godlike. (wek jadi dota) Dr mengamati semua taktik2 yang disajikan sebelumnya, kita baru bisa memahami seberapa encernya otak Zhugeliang.
Post by: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
Quote
Hmm, TFH… baru baca sampe bab 8…
Masih jauh nih… kurang lebih masih tiga perempat lagi…
pada ngebut2 banged yak baca TFH :-[
gw aja belom nembus bab 2 ![]()
waktu pertama kali nerima kiriman TFH hari minggu kemaren, gw sih niatnya baca mulai dari bab 5, soalnya jaman dulu gw udah dikirimin sample bab 1-4 dari villam. jadi rada2 males kalo baca ulang dari bab 1.
tapi ternyata kayaknya ada bbrp adegan yg berubah (atau ditambahkan), dan udah itu muncul bbrp istilah/ide baru pulak. Kayak Fairahai, Torahai. Waktu dulu gw baca belon ada istilah2 itu. Mau tak mau harus ngulang lg nih bacanya.
Jadi... sabar aja yak villam my bes pren [biggrin]
(lagian sekalian mau bales dendam juga sih dulu nungguin ente beres baca lemures ane luamak pisan ;D ;D)
Post by: rd_Villam on July 17, 2008, 11:22:13 pm
Quote from: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
anak fantasi sini cukup variatif alirannya: ada silat (om pur), kolosal (villam), romance (clickdian), Sci-Fi (hege), sampe pure RPN (si jeff, op kors(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
trus belakangan, ada makmak dengan aliran supernatural. gw sendiri maen di aliran adventure. keren dah, semakin banyak yg gabung sini, semakin kaya pulak background geng fantasi anak pulpen [thumbsup]
ah ente ini…
yang beralir-aliran itu kan karyanya, bukan penulisnya. (huh bingung, gimana ya ngomongnya?). satu penulis kan bisa aja menulis karya2 yang jenis alias alirannya beda-beda.
TFH yang gue kirim taun lalu?! ![]()
buset itu kayaknya hampir separonya udah berubah deh…
kan berdasarkan saran serta makian ente dan yang lain. ;D
walau tetap ada yang dengan keras kepalanya gue jaga supaya gak berubah, demi memuaskan keinginan pribadi/egois gue. ;D
btw, dasar pendendam nih! ;D
Post by: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
Hehehehe….Ayo balik ke fantasi dong, sekalian gue mau nanya…di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)
Post by: clickdian on July 18, 2008, 12:59:54 pm
Dah baca PG-nya Mas Pur? ;D ;D ;D
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:11:13 pm
Kupikir PG bukan bergenre Fantasy, lah. Wong settingnya masih ‘didarat’ pulak [rolleyes] hehehe.
Tapi tetap layak baca! Ha ha ha,…
Kalo mo belajar mengenai penulisan Fantasy berlatar kota modern, baca Neverwhere-nya Neil Gaiman. Gue pengen banget bikin yg sejenis, tuh!
Salam,
FA Purawan
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:16:26 pm
Buatku udah masuk fantasi, mas ![]()
nah ituuuu!! di mana bisa dapetin novel itu yaa?
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:29:25 pm
di toko buku dong…
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:32:21 pm
ya iyalaaahh [hammer]
masa di toko baju? ![]()
emangnya dah ada yah? prasaan blon pernah nemu tuh ???
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:40:29 pm
neverwhere kayaknya udah ada dari setahun lalu deh. gak jauh-jauh setelah munculnya stardust (biar laku kali).
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:42:55 pm
*malu* [shy]
heuheuehue… maklum nggak gaul.
#Mas Pur, pernah review neverwhere gak?
Post by: MakMak on July 18, 2008, 01:45:37 pm
Quote from: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)
klo kmu suka yang history based fantasy, coba baca Nogo Sosro Sabuk Inten atau Kukus Kemelun ing Kartasura. untuk judul terakhir pakai bahasa jawa.
atau kalo kmu suka yang mythology, baca saja ramayana atau Mahabarata, atau lakon-lakonnya.
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:47:53 pm
Gue gak ngereview Neverwhere, kan bukan fantasy lokal?
Tapi kurasa worth to read, lah. Penciptaan dunia bawah tanah london-nya cukup unik.
Salam,
FA Purawan
Post by: juunishi master on July 18, 2008, 02:45:08 pm
oot dikit: Dan kalo ditanya gw tahu tempat ini dari siapa. Itu dari Elyasa. Salam kenal <– ini krn gw gak tahu hrs memperkenalkan diri dimana ![]()
Ah, dan bicara soal cerita fantasi lokal. Jujur aja, gw agak susah nemuinnya krn rata2 diterbitkan oleh penerbit yang emang kuota bukunya di toko buku semacam Gramedia tu gak terlalu byk. Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?
Plh yg kemarin gw liat di Gramed Bdg ya Dream of Utopia. Ada di “kawasan” buku2nya CPublishing. Bener CPublishing? CMIIW.
Satu2nya hal yg srg gw angkat alis kalo lagi liat novel lokal (batasannya gak lagi fantasi doang) biasanya cover. Masih ada aja cover yg mirip2 ama karakter anime apa dipajang di depannya. People do judge the book by its cover kalo mnrt gw. ![]()
Itu membuat gw berpikir utk ngedesain kover sendiri kalo seandainya ada yg terima naskah gw. ![]()
Hehe.
Post by: BloodSin on July 18, 2008, 03:34:19 pm
oh my, tret ini kedatengan juga seorang dubes dari vgi, akhirnya \(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)/
jadi buat sis juunishi, salam kenal dari saya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Quote
Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?
bentar dulu nih. fantasi lokalnya yg kek gimana dulu? kalo yg ngambil setting barat/non-indo, gw rasa gramed emang gak pernah (dan gak bakalan pernah) nerbitin. -_-”
tapi kalo yg settingnya indo, setauk gw gramed ada nerbitin tuh ‘Panah Patah Sangkuriang’.(btw bener kan nih penerbitnya gramed?)
jadi selama kita penulis lokal, nekad nulis fantasi dengan setting luar, secakep apapun novelnya luar dalem, gw jamin halal gak bakalan pernah nembus gramed deh..
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…
Post by: ewingerwin on July 18, 2008, 05:53:18 pm
Hmm, susah juga ya kalo gitu. Hmm, jadi selama setting masih Indo, masih punya peluang ya? Hmmmm [rolleyes]
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 07:46:59 am
Quote from: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…
Tadinya jg gw kira mereka lbh mikir ttg profit. Panah Patah Sangkuriang? Er… kyknya Gramedia yg plg dekat dgn rumah gw itu udah terkontaminasi ama Naruto sedemikian dahsyatnya sampe2 area novel jd lbh sempit daripada area komik… Menyedihkan… :’( Gw kan jadi gak tahu apa2 soal novel gini jadinya…
Hehe.
Post by: BloodSin on July 19, 2008, 09:01:43 am
yep, begitulah. gramed emang terlalu berorientasi sama profit; tapi ini wajar, mengingat cetakan pertama mereka itu mencapai 8000 eks atau setidaknya di atas 5000 eks. mana berani mereka nyetak jumlah segede itu demi ‘jenis’ buku yang kurang marketable? alasan kenapa fantasi lokal dinilai kurang marketable, udah gw ceritain di Ruang Konsultasi kemaren hari [biggrin]
Post by: Elyasa on July 19, 2008, 08:05:19 pm
[Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable/quote]
Jawabannya menurut gue
1. Peminatnye dikit
2. Yang minat juga udah ada mind set bahwa yang keren itu yang dari luar
3. Penerbit ogah2an buat nerbitin fantasi…
Gitu kali yeee
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 08:39:32 pm
Cihhh!!!
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…
Ngg…
Gw kok jadi emosi?
Sori2 :-[
Hehe.
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 19, 2008, 10:06:18 pm
Konsepnya memang engga baru, tapi dia berhasil 'bercerita' dengan baik. Orang sini pandai mengkonsep, tapi soal bercerita gw rasa masi setingkat dibawah Eragon sekali pun. Pasti ada orang sini yang jago, tp secara mayoritas masih dikit jumlahnya, apalagi di bidang fantasy. Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan.
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 07:21:41 am
ada yang punya story hebat, tapi lemah dalam storytelling. ada yang pintar dalam storytelling, tapi storynya lemah. ya begitulah. nah berhubung para penerbit/editor tidak mau dan mampu memupuk bibit-bibit penulis fantasi setengah matang seperti itu, ditambah lagi dengan konsumen yang masih lebih senang menyantap fantasi-fantasi karya penulis impor, ya jadilah akhirnya penulis-penulis fantasi kita tumbuh secara liar demi kehidupannya (halah...).
yeah, tapi mari kita sama2 punya keyakinan, bahwa suatu hari nanti kita bisa membuat sesuatu yang berbeda. belajar dan bekerja (menulis) tanpa henti. mestinya itu kuncinya.
ah, buset... kok gue jadi serius lagi ngomongnya yak? padahal gue lagi pengen becanda di sini... [biggrin]
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
Quote
Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable, gw penasaran pengen baca tuh. Ada di topic konsultasi kira2 halaman berapa?
hmmm, lupak! >_< sekitar di halaman 30-an, pokoknya pas gw lagi ‘berdiskusi’ sama seorang junior bau kencur bin nyolot(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
ah eniwei, ini update jawaban gw:
1. membaca genre fantasi relatif lebih sulit, karena sedikit-banyak pembaca membutuhkan wawasan dan imajinasi yang lebih tinggi daripada genre teenlit/chicklit. dan itu berarti semakin sempit pulak cakupan pembacanya. tapi sebetulnya wawasan dan imajinasi pembaca disini masih relatif juga sih.
2. kalah pamor sama fantasi luar negeri
3. belum adanya fantasi lokal yang meledak, sehingga sedikit-banyak jadi nilai minus di mata penerbit. coba deh, tungguin ada satuuuu aja yang meledak, pasti penerbit bakal berlomba-lomba nyari naskah fantasi.
4. kebanyakan buku fantasi lokal itu halamannya tebel, berujung harga jual muahal, padahal ditulis oleh penulis gak jelas (belum punya nama), dan didukung pulak dengan ketiga poin di atas, penerbit makin gak berani nanggung resiko.
Tapi gw salut berat sama Copernican, salah-satu penerbit yg berani nerbitin fantasi lokal dengan halaman super-tebel, Misteri Pedang Skinheald II.
5. well, alasan terakhir ini, murni dateng dari pribadi gw sendiri yang udah ngelumat lebih dari sepuluh judul fantasi lokal: kalo dievaluasi dengan nilai rata-rata, buku-buku fantasi yang udah beredar dan terbit di masyarakat itu ‘ngapokin’ orang. (setidaknya pendapat gw ini udah didukung jugak ama statement si fred pas die awal join kesini:D)
Tendesinya masih lebih gede ke ‘mengecewakan’ daripada ke ‘memuaskan’.
Dan kalo elu megang sebuah buku fantasi lokal, lebih baik elu jangan terlalu berharap banyak deh.
well emang ada sih 2-3 fantasi lokal yang bagus banged (boleh dibilang setara ama bikinan orang luar), ada juga 1-2 judul yang ‘lumayan’, tapi yang butut mampus dan bikin ilpil jauh lebih banyak. Dan sialnya, gak sedikit yang butut mampus itu disejajarkan sama LOtR dan HarPot di endorsement-nya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Sekali lagi, ini penilaian gw pribadi yak, tentu ini subjektif dan bisa aja gak berlaku bagi pembaca lain. ![]()
Quote
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…
eragon mah gak ada bagus-bagusnya ![]()
ide-idenya gak ada yang kreatip, plot standar abis, miskin greget, dan dieksekusi dengan gaya bahasa yang ngebikin ngantuk pulak. (mohon maap kalo di sini ada yg maniak ama eragon, eniwei :-[)
gw setengah buku pun gak lewat bacanya. eh tapi ini gw baca yang versi terjemahan GPU, mungkin versi bahasa aselinya (english) better kali yak. ![]()
Quote
Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan.
sotoy lu ah, belom pernah beli dan baca satupun judul fantasi lokal jugak ;D ;D
tapi emang bener begitu sih…
@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 12:21:05 pm
Kesimpulannya, kecuali orang2 iseng sesama komunitas penulis yang pengen ‘ngecek’ dah sejauh mana kemampuan saingan sesama penulis lokal, udah nyaris ga ada orang yang punya pikiran untuk membeli fantasi lokal.
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 03:41:38 pm
menyedihkan jika memang benar begini… ![]()
tapi sebodo amat dah. itu tetap gak menghentikan gue untuk tetap menulis. fantasi terutama. hahaha… nikmati sajalah… ;D
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 05:02:04 pm
Nyaris seperti itu. Well, kl ga ada perubahan yang nyata, susah mendobrak keadaan ky gini. Kita cuma bisa terus menulis dan menulis sampai suatu saat karya kita diterima toh? Atau seperti yang gw ingin lakukan, kl tidak ada jalan, gw akan merintis jalan gw sendiri melalui self publishing. Ada yang punya alternatif lain menyangkut keadaan yang memprihatinkan ini? ![]()
Btw, mana nih review2 buku yang ramai dijanjikan 2 minggu lalu?