Sesi XXIV (20 Juli 2008 – 22 Juli 2008 )
- Tentang budaya luar yang berpengaruh ke setting lokal
- Buku fantasi lokal memang dianaktirikan di toko buku?
- Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh FA Purawan
Post by: cheppy70 on July 20, 2008, 07:29:25 pm
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
Serial Candi Murca, dan Gajah Mada, ya?
Kalo gajah Mada kurang begitu masuk ke genre Fantasi, lebih tepat roman sejarah.
Kalo Candi Murca, memang kuanggap Fantasi, makanya gue masukin review. Sejauh ini kuanggap sebagai sebuah karya bagus. Tapi kalo mo bicara memuaskan atau enggak, sangat tergantung pada selera.
Gue sendiri biarpun bisa mengapresiasi ceritanya, masih kurang puas dalam menikmati bacaannya. Semata-mata gaya berceritanya buat gue agak ke arah jadul punya (terutama dari aspek penamaan tokoh dan dialog). Selain itu, kalo di Fantasi mungkin ada unsur ‘wisata imajinasi’ dimana pembaca diajak melanglang buana dalam universenya pengarang, menikmati isi dunia itu sendiri tanpa terlalu harus terikat pada menikmati isi cerita. Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
Untuk aspek wisata ini, kurasa dari yang pernah saya baca, baru Hozzo yang udah memasukkannya, serta satu lagi yang kulihat sudah right on the mark: Dream of Utopia. Frankly, gue belum selesai baca, tapi penjabaran-penjabaran akan dunia fantasy Dream Utopia sudah bisa dinikmati pada bab-bab depan, jadi cukup udah bisa gue omongin, deh ![]()
Sekarang bicara tentang blantika (halah istilahnya, Prambors taun 80-an banget ;D) Literasi Fantasy di Indonesia.
Menurut gue sih, memang benar bahwa ’standar’ kualitas karya Fantasy ditentukan dari Barat (atau Jepang
), bukan dari referensi yang bersifat lokal. Sudah sewajarnya, sebab ‘trigger’ yang menghidupkan minat terhadap genre itu datang dari karya-karya Barat dan Jepang. Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,… ![]()
Dan ga ada yang salah dengan itu. Kurasa problem utama kita (para penulis) jika memang ingin mengembangkan genre ini di tanah air, adalah banyak diantara penulis yang belum menguasai betul teknik kepengarangan. Memang itu merupakan proses belajar seumur hidup, tapi at least ada teknik-teknik dasar yang bisa dipelajari sendiri, serta teknik lanjutan yang bisa didiskusikan dan dipelajari bersama. Ibarat mau main jurus, lha kuda-kuda ada belum kuat, tapi kan bisa dipelajari (secara serius).
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya
Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….
nah, problem selanjutnya adalah semata buah dari situ. Tanpa ilmu kepengarangan yang kuat, karya yang dihasilkan menjadi miskin kualitas. karya yang rendah kualitas membuat penerbit jadi gak percaya diri. Dan pengarang+penerbit pun makin minder ditengah serbuan karya-karya Fantasy dari Barat yang notabene ditulis oleh ‘professional writer’ (liat aja term-nya, sudah begitu mengerikan, karena mengandung adanya kekuatan ilmu dan kekuatan pengolahan sebuah team di belakangnya, if you get what I mean
)
Sekarang, kita musti ngapain?
Well, kalo di Barat sana para pengarang merupakan subyek-subyek pembelajar yang terus mengolah wawasan dan kemampuan teknisnya, kenapa kita gak tiru kiat tersebut? Di Barat sono, sampe ada majalah khusus SciFi. Di kita, gak perlu sampe majalah deh, forum kayak gini aja udah cukup, yang penting kita sama-sama bisa belajar.
Selain itu, perlu juga ditingkatkan kemampuan dan peran serta para Editor, sebab mereka lah yang sejatinya mendefinisikan kualitas Fantasy hasil terbitan lokal. Kalo bisa digagas sebuah forum khusus para Editor Fantasy, boleh jadi kemajuan penulisan Fantasy di negeri kita bisa mengalami sebuah quantum leap!
Soal segmen pasar terbatas, aku nggak terlalu setuju, sebab sudah dibuktikan melalui terbitan Fantasy terjemahan yang cukup laku di pasar, menandakan bahwa pasar menyukai genre Fantasy. Tinggal pengarang lokal (dengan arahan editor) yang menjawabnya dengan karya-karya yang memenuhi standar kualitas.
Salam,
FA Purawan
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm
Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]
nah kan, ternyata ente sudah mendukung pernyataan ane di atas dengan statement ini:
Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….
Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya. ![]()
Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,…
Lho? ![]()
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india, kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
di sinetron-sinetron silat indo contohnya, pada pake setting jawa kuno & agama Islam (persis PG-nya om Pur), kalo dipikir-pikir kan Islam masuk indo dari saudagar-saudagar Arab, coba elu bayangin kalo seandainya saudagar-Saudagar Arab itu gak pernah dateng ke indonesia, indonesia bakal masih didominasi sama pengaruh hindu & Buddha. Atau mungkin Nasrani yg dateng dari Belanda & Portugis.
hari gini, giliran literasi barat & jepang yang masuk indo. dan banyak pengarang fantasi yg terpengaruh. kalo ngeliat kronologis di atas, seharusnya ini emang bisa diwajarkan, dan gak sepatutnya ada orang yang mencela generasi sekarang ini udah lupa sama akar budayanya dengan menulis fantasi bersetting barat. (gyahahahah ketauan banged gw lagi membela diri sendiri di sini ;D)
karena itu emang udah jadi ‘budaya’ kita sejak jaman primitif! menyerap, dan beradaptasi terhadap segala perubahan. sesungguhnya kita gak pernah ada niat buat sok kebarat-baratan kok.
(well lagipula yang gw liat terjadi di PG, dengan setting ‘lokal’nya yg kental, malah jadi banyak pembaca yang kurang berkenan dan gak masuk selera, si hege dan si serpent aja udah ngomong terang-terangan, daku pun menyatakan hal yg sama waktu awal-awal baca PG
–jadi selain urusan beradaptasi, ini emang masuk urusan selera juga sih, dan selera gak pernah bisa dibohongin)
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 10:30:13 am
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm
Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]
Dan, aspek WOW itu ternyata gagal, atau kurang WOW, semata-mata karena bangunan settingnya goyang
. Dan memang harus dibedain antara aspek WOW ini dengan plot & karakterisasi. Aspek WOW cuma bicara masalah setting, kayak lo bangun rumah dengan arsitektur keren, dengan segala isinya yg hi-tech yang bikin elo terkagum-kagum selama satu jam dua jam pertama (tergantung besarnya rumah,… hehehe).
Tapi Plot dan Karakterisasi adalah apa yg bisa elo kerjain di rumah itu, yang dapat membuat elo betah berhari-hari, bertahun-tahun di dalamnya, dengan sejumlah alasan ‘kenapa’.
Quote
Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya.
Bener sih, plot dan karakterisasi memang mumpuni, koq. Hiya ya, saat ini belum ada the ultimate Fantasy, mari kita tunggu
Quote
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india,
He he, kenapa pukul rata, gitu? Namanya kebudayaan, pastilah merupakan suatu kulminasi dari berbagai pengaruh. Literasi orisinil, rasanya banyak. Budaya bertutur Indonesia melahirkan banyak sekali kisah legenda yang bersumber dari peristiwa-peristiwa di tanah air yang diolah menurut kadar kemampuan fantasi rakyat saat itu. Contohnya legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang), Candi Prambanan, La Galigo.
Kemampuan kita menyerap cerita epos dari India dan merevitalisasi kembali sehingga muncul berbagai format (wayang kulit, wayang golek, wayang tari), yang bahkan menjadikan seolah-olah kejadian Bharata Yudha itu berlangsung di tanah Jawa sendiri
, itu justru merupakan hasil karya budaya yang levelnya tinggi. Bayangin dari cerita, muncul tarian yang format dan filosofinya jauh lebih dalem & rumit. Di India sendiri malah gak terbentuk sejauh itu.
Quote
kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
Ini dua masalah yang jawabannya berbeda ![]()
Dalam hal influence dari India, yang sudah terbukti adalah terjadinya transformasi cerita asal menjadi bentuk kreativitas baru, baik berupa seni, maupun fiksi-fiksi baru berupa lakon carangan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Transformasi ini sangat jauh berbeda sifatnya dengan apa yang kita lakukan sekarang. Pada jaman dulu, mah, istilah kata budaya kita nggak ‘ngalah’ sama budaya luar, melainkan terjadi proses penyerapan, budaya asli kita jadi diperkaya, dan diperkuat. Ciri khasnya, ada nilai tambah dari penyerapan itu, misalnya menyusupnya nilai-nilai kehidupan tradisi lokal dalam fiksi yang diciptakan. Salah satu contoh yang terkenal, kalau terkait pewayangan adalah terciptanya tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong), yang di versi Indianya aja gak ada, tapi begitu diciptakan oleh orang-orang kita, mereka mampu menjadi tokoh dalam Mahabarata versi lokal yang abadi menembus jaman. Atau lakon-lakon yang melibatkan Jimat “Kalimasada”, yang jelas-jelas merupakan pengaruh dari ajaran Islam, yang diintrodusir oleh Sunan Kalijaga dalam seni pewayangan.
Nah, Soal yg katanya warisan budaya, kenapa kita wajib melestarikan? Pertama-tama musti dijabarkan dulu APANYA yg wajib dilestarikan?
Kalo menurut gue sih, kita udah meninggalkan semua aspek budaya lokal kita secara hakiki, sehingga ga ada lagi alasan yang mewajibkan kita melestarikannya. Hehehehe,…. Practically, bangsa Indonesia saat ini adalah sebuah bangsa yang sedang mentrasformasikan dirinya menjadi bangsa Hollywood (bukan otomatis jadi bangsa Amerika), alias bangsa global sesuai yang disefinisikan di media-media dunia.
Ini situasi yang sangat jauh berbeda dengan masa lalu, dimana budaya asinglah yang terserap untuk memperkaya budaya lokal. Situasi kita sekarang, kitalah yang mencair (disolve) untuk bergabung dalam budaya global. Kenapa? Karena kita ‘kalah’ budaya. Kenapa kalah budaya? Karena kita semua sudah meninggalkan budaya lokal kita, tumbuh menjadi bangsa yang ‘a-kultural’ alias gak memiliki budaya lagi (so jangan heran bila dalam aspek kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak sekali anomali dalam masyarakat!)
Jadi salah aja, jika para tetua meminta generasi muda melestarikan warisan budaya Indonesia. Warisan yang mana? Saat ini yg disebut sebagai budaya lokal, practically cuman ‘bahasa daerah’, dan sedikit adat istiadat yang masih dijalankan oleh keluarga (saat kawinan, misalnya
. Tapi nilai-nilainya udah nggak diyakini dan dipercayai lagi sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan
. So, kehilangan budaya, memang sudah menjadi nasib kita, mo cepat atau lambat. Mungkin kalo mau contoh Indonesia di masa depan, mirip kayak warga Singapura sekarang ini, yang gak punya budaya jelas (karena udah pada ninggalin budaya lokal China, India dan Melayu-nya), kemudian sibuk menganggap diri berbudaya Barat.
Nah, yang menjadi pertanyaan buat kita sekarang ini, kita (Indonesia) mau yang mana?
Saya melihatnya bukan lagi pilihan-pilihan harga mati dari para tetua, yang kalo gak kita laksanakan akan bikin kita kuwalat. Saya ngeliatnya semata aspek strategis buat masa depan kita aja.
Di saat batas antar bangsa menyatu, kita nggak akan punya nilai kalau kita ngga punya keunikan yang bisa kita tawarkan. Apa anehnya ngeliat orang Indonesia ‘meniru’ performance hip-hop sepersis-persisnya? Soalnya remaja Iran, remaja Bangladesh, ato remaja India, semua bisa melakukan peniruan yang sama. Dan kita gak akan mampu masuk status sebagai ‘creator’, paling ‘impersonator’, kenapa? Karena jaringan bisnisnya (blood-nya) akan tetap dikuasai oleh mereka (Ini juga yang ngebedain perluasan Budaya era dulu dengan sekarang).
Nah, pada saat kita menguasai sesuatu yang unik, yg ngga dikuasai oleh bangsa lain (istilahnya, Local Genius, atau Local Ingenuity), kita punya daya jual dan daya tawar yang lebih tinggi. Apa yang unik itu? Ya budaya lokal yang dulu kita punyai. Semakin tinggi penguasaan kita atas budaya lokal, semakin kuat daya saing kita dalam kancah global.
Saat ini kita kan bisa mikir, bila novel-novel Fantasy kita diterjemahkan ke dalam bahasa asing, apakah akan punya appeal yang sama dengan novel asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Apa menariknya setting yang kita tawarkan di mata pembaca asing? Kalo kita cuma ‘niru’, rasanya ngga ada yg menarik sebab semuanya udah pernah ada di sana (been there, done that [rolleyes]). Dan lagi, gue rasakan sih dalam setiap peniruan, selalu ketara ada ’soul’ yang gak dapet.
Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang ‘beyond’ their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)
Kira-kira gitu deh pendapat gue atas topik ‘berat’ ini,… ![]()
Yg penting sekarang, mah: ayo, belajar menulis lagi terus!
Salam,
FA Purawan
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
Emm, sekalian ngungkit dikit, masalah keterbelakangan fantasy indonesia yang sering gw bicarakan.
Ga seluruhnya karena pembaca ga mau baca sih, juga bukan karena penulis sini sepenuhnya engga kompeten. Wong para pembaca aja ga dikasi kesempatan untuk membaca karya lokal. Karena buku lokal, khususnya fantasi, di toko buku itu dianak tirikan, diselipin di tempet yang engga keliatan dalam jumlah yang sangat sedikit. Serius, bulan ini gw dah bolak balik di gramed dan TGA di 3 mal di Jakarta,khusus utk nyari,(yang artinya radar ON) tapi ga melihat satu pun judul buku yang di review disini -__- Coba, yang emang niat nyari aja ga ketemu, gmn yang cuma lewat?? Main area di bookstore di penuhi buku luar semua. Coba kalau ada satu main area toko buku yang mencolok, berisi kumpulan buku lokal seperti Zauri, D.O.Utopia, dan lain2. Gw optimis penjualan akan meningkat jauh seiring dengan awareness pembaca yang meningkat.
Tak kenal maka tak sayang. Ini boro2 di kenal, terlihat ujung bukunya aja kaga >.< gimana orang mau suka? Jadi bukan karena pembaca ga mau membeli, tapi pembaca bahkan ga dikasi kesempatan untuk membeli. Awareness tentang keberadaan buku lokal hanya ada di sesama komunitas penulis aja. Selama pembaca ga dikasi kesempatan untuk ‘aware’, selamanya mereka akan jadi orang yang ‘awam’ terhadap buku lokal.
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 01:29:49 pm
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
Kl aku sih baca novel Ramayana karya orang Bali. Jujur sih terpaksa gara2 tema tugas akhir gw ngangkat cerita ramayana. Bagian depannya bagai baca silsilah keluarga -__- gile, mulai setengah buku ke atas baru mulai berasa bagus. Bab2 awal ngantuk abis bacanya. [refuse]
Pernah ada diterbitkan satu buku (karya orang Indonesia) yang judulnya kalo gak salah Ravana Tatwa.
Ini buku punya premis yang cukup menarik, yaitu Rahwana (tokoh antagonis di dalam Ramayana), yang justru diposisikan sebagai pahlawan yang menentang hegemoni ras Arya pemuja Wisnu di daratan India yang saat itu dominan pemuja Syiwa.
Kita bisa melihat Ramayana dari sisi yang berbeda, seolah kisah Ramayana itu sejatinya merupakan propaganda satu ras terhadap ras lainnya yang dijajah. Menariknya, memang fakta kultural di daerah Sri Lanka (Alengka Dirja?) bahwa masyarakat di sana lebih pro Rahwana dibanding Rama. Dan bukankah Sri Lanka dan India sampai saat ini pun tidak pernah benar-benar ‘akur’?
Nah, bicara setting Fantasy, sebenernya setting yang dibangun pengarang sungguh realistis dan mencengangkan, walaupun begitu banyak aspek mistis melingkupinya, tapi tetep terasa wajar-wajar saja, sambil membayangkan bahwa jaman dahulu situasinya memang benar-benar demikian.
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 01:57:51 pm
sekarang nih HUT-nya si Villam lho, potong kue dulu yak ^-^
Happy B’day buat lu bro, semoga di umur yg sekarang ini ada satu judul novel lu yg terbit, gw tunggu momen itu. [thumbsup]
(Sebagai sesama penulis yang sama-sama ber’pengalaman’ menerima berbagai bentuk penolakan penerbit, gw kira wish ini cukup powerful dan menggugah hati
)
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 05:29:11 pm
Mumpung RD lagi ulang tahun, sekalian inget kalo udah kelar TFH dari dua hari kemarin ^-^
Sekarang hadiah ultahnya,… hehehe komen dari gue.
Setelah gue baca, TFH memang kuletakkan dalam jajaran karya yang sudah lancar dan enak dibaca, artinya udah nggak mengalami masalah dengan teknik penulisan, penyusunan plot, karakterisasi, sehingga sekalipun ada beberapa kelemahan (yg sifatnya lebih pada pertanyaan bukan penilaian), TFH sudah kuanggap merupakan sebuah karya polished yang siap dibaca oleh konsumen akhir.
However, memang ada beberapa pertanyaan.
Yg pertama mengenai deskripsi dunia Elniri. Gue sempat lost di sini, antara mengaitkan alam Elniri dengan referensi yg gue kenal, atau sepenuhnya memfantasikan sebuah setting yang bener-bener baru. Masyarakat padang rumput Elniri sendiri mengingatkan saya pada masyarakat Mongol, dan ekspansinya ke seberang lautan konsisten dengan sifat ekspansi bangsa Mongol. Tapi pengarang nggak memberikan detail yang memuaskan terhadap bangsa ini, sehingga saya ngga berani bener-bener membayangkan mereka serupa dengan bangsa mongol. Padahal, kurasa itu akan sangat membantu imajinasi saya, terutama terhadap pakaian dan pernik-pernik budaya asli Elniri.
Demikian juga mengenai kerajaan2 yang ditaklukkan oleh Anthravai, gue sempat bingung akan memilih imaji mana untuk nama-nama seperti Newton, Terran, Melhaus, Minerva, dll. Apakah akan kubayangkan sebagai imaji Eropa Tengah/ Barat? Gue pikir mendingan langsung aja pengarang memberi deskripsi yang rinci untuk gambaran-gambaran locale ini, supaya kisah yang panjang itu dapat lebih mudah dikunyah.
Pertanyaan selanjutnya adalah dalam hal naming. Kurasa biarpun sudah ada naming conventions, gue tetap merasa lost. Terutama di saat gue nggak pasti apakah harus mengaitkan nama-nama yang ada dengan suatu budaya tertentu, atau feel free aja. Ada nama Helmut & Serge, yg langsung kupikir sebagai orang Jerman
Nama-nama kaum penyihir Hajduk, ampun susah banget dibacanya dan membuat pikiran kusut tanpa perlu [bomb]
Ketiga, mengenai prolog yang tiga lapis
. Terus terang kepala gue langsung penuh di awal-awal bacaan
Ada Kuga, ada Hajduk, kemudian ada Wyndassi. Emang sih nantinya semua akan terjalin (BTW, Kuga belum muncul di buku 1? Trus ngapain bikin bingung pembaca?). Tapi kalo udah kebanyakan, akan jadi let down factor.
Sebenernya pengkisahan Wyndassi di depan juga membuat gue kecele, sebab ternyata yang menjadi tokoh sentral dari novel ini adalah si Fabian. Pembaca kan perlu mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Repotnya saat gue telah terlanjur berjangkar pada Wyndassi (setelah dibingungkan oleh Kuga dan Hadjuk), gue harus memindahkan jangkar gue seterusnya ke kubu Fabian. Gue tahu sih, kisah Wyndassi juga merupakan elemen plot yang cukup penting, secara Wyndassi merupakan salah satu tokoh sentral yang akan mempengaruhi jalan cerita, sehingga latar belakangnya penting untuk dikenal pembaca. Dan ternyata, I love Wyndassi more than Fabian!
Efek minus dari perpindahan tokoh sentral di tengah novel ini antara lain jadi memberi kesan bangunan ceritanya mengulur, sebab pembaca harus mulai dari awal lagi (saat pindah tokoh).
Nah, bangunan yang mengulur inilah yang kupersoalkan, dalam bentuk missi cerita yang buat saya jadi kurang jelas. Saya merasa terlalu jauh berjalan-jalan tanpa punya tujuan yg kuat. Walaupun saya tahu bahwa ada missi utama berupa kemerdekaan rakyat Newton dari Elniri, saya harus mengikuti Fabian yang sempat mengasingkan diri untuk membangun kampung baru (gue jadi inget plotting cerita-cerita lama pada jaman cerita silat populer di Indonesia), Helmut bikin temple segala dll. Well, emang sih, berkat itulah novel ini jadi terasa epik-nya. Tapi kurasa, kemuluran itu ditambah dengan banyaknya adegan perang yang ‘pointless’ (seperti telah diutarakan oleh temen-temen), membuat fokus dari novel ini melebar ketika sampai di pertengahan novel.
Kalo model plotting lo seperti ini, kayaknya format yang tepat bagi TFH buku 1 adalah sebagai Cerbung di Majalah
Beberapa konsep kurasa juga masih sedikit perlu di make sense, seperti apa itu pendekar dan kemudian koq tiba-tiba muncul konsep ksatria, yg sebelumnya belum pernah ada dalam bangunan masyarakat Newton (terbukti knighthood bukanlah produk dari Raja Edouin, sebagaiman lazimnya knighthood adalah produk dari raja-raja Eropa). kemampuan para pendekar aku rasa juga sedikit overstatement, belasan bisa mengalahkan ratusan
Lalu mengenai kekuasan Anthravai di negeri Newton itu, koq kayaknya rada kurang terasa impact-nya, ya? Bagaimana nasib tanah air Wyndassi sendiri setelah ditinggal oleh Rajanya ke tempat jauh? Bagaimana impact keberadaan penjajah baru ini terhadap kehidupan di Newton? Mestinya ada pengaruh, entah dalam bentuk budaya (bahasa) atau pemandangan (bangunan baru atau aneh yg seleranya ga klop), atau paling sedikit: nama-nama tempat (kayak pemimpin orde baru yang kemudian mengganti seluruh nama jalan protokol di kota-kota Indonesia dengan nama Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto)
. Buat gue itu hal kecil tapi bisa membuat cerita elo lebih meresap.
Terus terang saja, membaca buku 1 sampai habis, saya belum menemukan missi utuh dari novel ini kecuali sekedar perjuangan Fabian, yg menurut saya sangat insignificant. Judging from your expertise, aku rasa ente sebener-benernya memang sudah punya missi yang akan disampaikan pada pembaca. Cuma kulihat ada strategi untuk menghadirkan semuanya tuntas hanya pada buku ke empat. Kalau buat gue sih, itu agak beresiko, mengingat jarak buku ke 1 sampai ke 4 bisa beratus-ratus halaman, dan pembaca bisa ko’it di tengah jalan.
Terakhir, soal judul neh. Kenapa harus ‘Forgotten’ heroes? Kalau terlupakan, berarti perjuangan mereka tak bergema, dong,..??? hehehe.
Anyway, great work! [thumbsup]
Salam,
FA Purawan
Post by: rd_Villam on July 21, 2008, 05:39:38 pm
teman-teman,
terima kasih atas seluruh ucapan selamatnya.
semoga kita semua semakin sukses dan selalu berbahagia.
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 10:46:16 pm
Quote
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.
Sebenernya ane kurang ngerti di bagian yg dibold, buat ukuran novel fantasi, bukannya mestinya semakin ‘kuno’ gaya story telling-nya, semakin asik diikutin? Karena sejatinya literasi fantasi itu masuk ke dongeng-dongeng juga, dan akan betapa cucoknya kalo dieksekusi dengan story-telling ala dongeng, seharusnya.
Sejauh ini ada dua novel fantasi luar dengan gaya story-telling ‘kuno’ yg memukau bagiku: The Hobbit & Thief of Baghdad.
Dan gaya komikal di karya ane itu dipengaruhi berat sama dua karya ituh, yang akhirnya berujung kena label ‘pretensius’ dari ente ;D ;D (itu lho, adegan para perampok di bab 2)
@villam,
wah… PG dapet komen positif tuh dari Raja Biawak (tapi tumben gak panjang-panjang amat). Selamat yak, tak sia-sia revisi ente [thumbsup]
Tinggal di-resend ke penerbit lagi tuh ![]()
Kalo masi ditolak jugak, berarti lu punya hak buat nge- [bomb] kantor penerbitnya [biggrin]
Post by: cheppy70 on July 22, 2008, 08:50:12 am
Elo mesti baca bukunya dulu dah, biar ngerti apa yg gue maksud ![]()
Ini bukan soal kuno atau modern gaya storytelling. Kalo di Ravana Tatwa, banyak sekali kisah dituturkan bukan melalui aksi atau dialog yang membangunkan imajinasi pembaca, melainkan dinarasikan begitu aja oleh pengarang. Contohnya bisa kayak frase seperti ini:
Selama tiga puluh tahun Abvasa mendirikan astana di kaki bukit itu, dan bangunan utama sudah hampir selesai sembilan puluh persen. Druvadi sering mengatakan bahwa rancangan astana ini menyalahi tata aturan pembangunan yang semestinya karena lalai memperhitungkan posisi gunung tang tegak menjulang di sebelah Barat Daya. Sudah dua tahun terakhir ini Abvasa disibukkan oleh pembangunan gapura yang sudah empat kali mengalami perubahan rancangan. Pohon randu kecil di sudut itu yang menjadi penyebabnya, gara-gara pendapat Druvadi yang menjengkelkan.
Druvadi sering mengatakan, “O, suamiku, sang Rsi. Janganlah kau tumpas anak Randu itu,” Selanjutnya Druvadi memberi saran agar Abvasa membiarkannya kelak menjadi batang Randu raksasa yang meneduhkan gapura.
Dalam pembangunan ulang yang ke delapan barulah Abvasa merasa bahwa rancangan gapura kali ini cukup cocok dengan saran Druvadi.
Nah,… baca frasa kayak gitu, capek gak loe??? Padahal dalam buku tersebut satu bab bisa aja hanya berupa narasi tanpa dialog. Jadi bisa dibayangin setelah sekian bab terasa mendera-dera, nggak kayak baca novel tapi kayak baca kitab undang-undang ;D
Salam,
FA Purawan
Post by: rd_Villam on July 22, 2008, 01:55:03 pm
@mas pur,
thank you berat, bos, atas reviewnya!
berhubung ini pertama kali draft TFH:Q&K dibaca dan direview secara keseluruhan, sudah pasti ini adalah masukan yang sangat berharga dan emang udah ditunggu-tunggu. [thumbsup]
begitu baca reviewnya, langsung deh berkali2 gue menggumam sendiri: ‘iya ya, betul juga…’. hehehe… dan kepala langsung terisi penuh oleh ide-ide baru, semuanya minta langsung ditulis segera.
sementara ini yang udah kepikir adalah cara memperdetil suasana dan budaya seluruh negeri-negeri yang ada, termasuk cara penamaan orang-orang dan kotanya. juga sejarahnya, dan konsep mengenai ksatria. sambil berusaha agar semuanya tetap bisa masuk ke plot dan tidak menjadi infodump.
mengenai efek ekspansi elniri ke utara, mungkin akan lebih kelihatan di buku berikutnya, setelah bertahun-tahun lewat dari kejadiannya. tapi bakal gue coba juga masukin sedikit di buku satu ini.
soal prolog, yang mungkin terasa ganjil bagi kebanyakan pembaca fantasi, memang ada beberapa pilihan, tapi sejauh ini tipe semacam yang gue pake itu adalah solusi yang menurut gue paling cocok jika dikaitkan dengan tema keseluruhan cerita nanti. sejauh ini lho, jadi bisa aja nanti gue berubah pikiran dan mengubah prolog itu.
soal bangunan cerita yang kemudian banyak melebar dan mengulur, itu juga betul. mungkin memang sudah seperti itu resikonya, karena konsep ceritanya memang ‘cerita-cerita kecil dalam cerita besar’ dengan banyak karakter pencerita (multiple point of view). ada plot utama yang bakal terselesaikan di akhir, dan ada plot terpisah di masing-masing buku. sebuah jenis cerita yang memang ganjil buat pasar fantasi modern, mungkin.
tentu saja, ada resiko, ada konsekuensi, dan harus ada solusi dan aksi. gue udah berusaha memilah mana yang penting untuk diceritakan, dan mana yang gak penting buat dihilangkan. tapi jika kemudian plot tersebut masih terasa kabur seperti yang dirasakan mas pur, tampaknya itu semata-mata karena masih kurang terampilnya gue dalam menunjukkan apa sebenarnya pesan-pesan yang ingin gue sampaikan. dan ini yang mesti gue perbaikin.
ah… segitu dulu balasan komen dari gue. udah cukup kenyang nih… hehehe…
sekali lagi, thanks berat buat reviewnya, mas pur. komen dari yang lain ditunggu. [biggrin]
sekarang…
menulis lagi.
ditambah revisi TFH, berarti ada tiga proyek yang mesti diberesin sekarang. hayyah…
semangat semangat!
tapi prioritasnya udah ada kok.
Agustus 30, 2008 at 12:51 am
Pendatang baru nih. Salam kenal. Menanggapi tentang dunia buatan, Elniri perlu dibikin juga buku yg membahas tentang creation mythologynya, ya macam Silmarilion gtu deh! Buku itu bisa jadi suplemen untuk menjelaskan sejarah dunia Elniri yg tidak atau belum sempat dibahas dalam buku utama.. Gimana? Gimana?
Agustus 30, 2008 at 10:44 pm
hai, kristiyana.
iya, nantinya emang rencananya mau dibuat begitu. makasih ya…