Sesi XXV (22 Juli 2008 – 23 Juli 2008 )
- · Review Sang Penandai oleh fr3d
Post by: fr3d on July 22, 2008, 04:22:58 pm
SANG PENANDAI
(Tere-Liye; Serambi; Cetakan I, Desember 2006; 365 hlm.)
Sebelum mulai, gw kasih sinopsis singkat dulu ya, khususnya buat yang belum baca, berhubung di cover belakang bukunya emang gak ada sinopsisnya, dan malah diisi sama endorsement2.
Sebenernya kalau gak ada endorsement konyol dari Pak Faisal Basri justru bakalan ngejual banget deh back cover itu. Lagian bikin keki sih, koq bisa-bisanya orang yang gak pernah baca satu pun novel sampe selesai endorsement-nya malah dimuat?! Ngerti apaan dia tentang novel kalau satu pun gak ada yang selesai dibaca? ???
Jadi, apa isi novel Sang Penandai sebenarnya? [rolleyes]
Ceritanya, Jim si tokoh utama ditinggal mati kekasihnya, Nayla, dengan tiba-tiba. Dia lalu dikunjungi oleh seorang tua misterius nan kekal bernama Sang Penandai. Sang Penandai “menantang” Jim untuk merajut/menyelesaikan dongeng cintanya sendiri dengan cara menjadi seorang “pencinta sejati” (whatever that means
). Akhirnya, Jim ikut bersama Armada Kota Terapung pergi menjelajahi samudra nan luas, meniti petualangan demi petualangan, untuk menemukan Tanah Harapan.
Suatu kisah adventure/journey yang kedengarannya sangat menarik dan indah, kan?
Benar banget! Kebayang gak jadinya gimana kalau Alchemist-nya Paulo Coelho digabung sama Voyage of the Dawn Treader (Narnia 5)-nya C.S. Lewis? Pasti bagus banget! [biggrin]
Apalagi Tere-Liye memulai dongengnya dengan menggunakan kalimat2 yang ciamik. [thumbsup]
Paragraf pertama model Sang Penandai emang sering dipakai oleh novel2 non-fantasi (misalnya di buku2-nya Nicholas Sparks) atau paling gak di novel fantasi luar, tapi belum pernah gw temukan di novel fantasi lokal yang udah terbit dan udah pernah gw baca. Bener2 menarik deh, kalau gak mau dibilang menggugah!
Namun, jangan pada ketipu! [bigno]
Karena kenyataannya, bagian paling bagus dari seluruh novel Sang Penandai itu emang cuma di paragraf pertamanya aja!
Perlahan-lahan, tapi pasti, seluruh isi buku itu menjadi semakin aneh, mengada-ada, membosankan, bahkan sampai ke taraf bikin ilpil, apalagi sejak munculnya karakter Sang Penandai itu sendiri!
Alhasil, mencapai setengahnya Alchemist atau Dawn Treader aja kagak! [thumbsdown]
Hmm… Separah itukah? ???
Gw coba jabarin alasan gw satu2 ya:
(Btw, komen kali ini cenderung subyektif karena emang agak susah kalau mau obyektif… :-[)
Pertama, tentang karakter Sang Penandai.
Gayanya sangat annoying. [annoyed]
Gak tau deh Tere-Liye pake template tokoh apa buat karakter ini. Tapi yang jelas, boro-boro berperan sebagai karakter yang bijak, malah berkesan sotoy, ngeyel, dan kalau ngomong bertele-tele, terus ujung2nya gak ngejawab pertanyaan!
Yang ada di bayangan gw pertama kali tentang Sang Penandai ini adalah Dumbledore (yang juga emang agak jail), tapi setelah si Sang Penandai cuap-cuap lebih banyak lagi, yang kebayang malahan jadi si kakek kura-kura porno yang ada di Dragon Ball! (gw lupa siapa namanya)
Dan mungkin karena desperate (gak ada calon korban yang lain? ???), Sang Penandai juga kerasa agak memaksakan kehendaknya ke Jim, yakni supaya Jim pergi merajut dongeng cintanya.
Akhirnya, si kakek sotoy bukannya membuat Jim mengubah takdirnya sendiri, malahan mengubah takdir Jim sesuai dengan versi keinginannya. [hammer]
Buktinya, di cerita ada kejadian Jim lagi dikejar para pembunuh bayaran. Pada saat itu, Jim belum punya keinginan untuk pergi merajut dongeng seperti yang diminta Sang Penandai. Nah, si Jim seharusnya mati pada adegan itu, tapi tiba-tiba Sang Penandai muncul. Alih-alih berusaha mendorong Jim mengusahakan keselamatannya sendiri, Sang Penandai malah membunuhi para pembunuh bayaran itu untuk Jim!
Contoh lain (di hal 69), Sang Penandai bilang gini: “Ketahuilah, aku hanya muncul tiga kali untuk setiap manusia yang terpilih menjalani dongengnya, Jim…. Sayang, sikap keras kepalamu membuat tiga pertemuan itu terbuang hanya untuk penjelasan… dst.”
Jadi, sesuai SOP-nya Sang Penandai, Jim harusnya udah gak punya kesempatan lagi.
Tapi, di halaman 70, Sang Penandai malah bilang gini: “…. Maka aku akan membuat penyesuaian kecil untukmu. Kuberikan kau kesempatan keempat untuk bertemu denganku…. Kapan pun kau membutuhkan aku, panggillah!”
Tuh! Tokoh “demigod” yang seneng ikut campur takdir orang lain banget gak sih!?! [annoyed]
Tentang tokoh Sang Penandai ini, pada akhirnya yang bagus cuma cara munculnya doang, yaitu pake bawa2 ribuan capung. Pun begitu, cara itu gak ada maksud ataupun penjelasannya sama sekali, atau dengan kata lain, keliatannya emang cuma buat keren2 aja.
Kedua, tentang gaya bahasa, gaya narasi, teknik penulisan, dan kerabat2nya.
Agak tricky nih kalau mau menilai ini, karena penulis bisa aja selalu berdalil kalau dia sedang bereksperimental dengan gaya bahasa tulisannya (yang niatnya nyastra kali yee? ???).
Tapi, karena gw sangat mencintai faktor gaya bahasa, gw harus protes keras! [bigno]
Hal2 terkait gaya bahasa yang terpaksa harus gw permasalahkan, a.l.:
a. Tentang kalimat2 pendek
Tere-Liye keliatannya emang suka banget sama kalimat pendek (kalimat gak berstruktur lengkap).
Gak ada masalah!
Lagian ini ternyata dipake pula sebagai media untuk mempermainkan emosi pembaca.
Tapi sayangnya, penggunaan kalimat2 pendek ini (yang ada di 90% bagian novelnya) hampir setengahnya kerasa kurang pas dan gagal. Gak dapet deh maksudnya apaan.
Contoh dari novel:
# Jim menatap Pate lamat-lamat. Tidak mengerti, apa masalahnya kalau muka dan fisik Pate tidak seperti orang-orang benua utara lainnya? Kembali menatap guratan tersebut. Lantas memegang lengan Pate, “Maukah kau mengajariku?” (hal 93) #
Bingung kan!
b. Tentang kalimat pengandaian/kiasan yang gak pas atau aneh
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Apa coba bagusnya kalimat itu? ???
Jim mencicit aja udah jelek, apalagi mencicit seperti tikus dalam perangkap!
Kebayang gak kayak apaan?
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #
Model gerakan robot gitu? ???
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Please deh ah! [hammer]
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Kalau ada guru Bahasa Indonesia yang bilang pengandaian itu bener, pasti deh bakalan gw kasih permen! [thumbsup]
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #
Maksudnya apa ya? ???
c. (Yang ini subyektif) Tentang kalimat2 narasi (bukan dialog) yang menyuruh2 pembaca
Gw ngerasa keganggu banget sama kalimat2 narasi macam itu!
Contohnya model begini:
# Lihatlah dia sekarang kehilangan harta paling berharga yang pernah dimilikinya. # (hal 37)
Terus masih di halaman yang sama ada juga kalimat narasi sok tau kayak gini:
# Bukankah sudah dikatakan di awal kisah ini? Hari itu adalah hari teraneh yang pernah ada di kota tersebut. #
Jadi sebenernya mau bercerita apa ngasih2 instruksi sih?!? [annoyed]
Kalau cuma satu dua kali sih bisa ditolerir, tapi ini berkali-kali! Lebih dari dua puluh kali ada mungkin!
(*geram!*)
d. Penggunaan font italic juga terlalu sering, terkadang bahkan for no good reason.
Ketiga, tentang plot.
Plot2 di dalam cerita, seperti kunjungan ke Puncak Adam, bertemu kura-kura raksasa, dan keberadaan barikade perawan, hampir gak ada gunanya sama sekali dalam keseluruhan bangunan plot utama. Jelas sekali dibuat-buat entah demi memperpanjang cerita atau mencari alasan guna menutupi lubang plot lain… [thumbsdown]
Terus, ada juga sejumlah hal berkaitan plot yang patut dipertanyakan, misalnya:
a. Kenapa Yang Zhuyi menyerang Armada Kota Terapung? Alasannya apa? Apa armada itu bawa banyak barang berharga yang worth it untuk dirampok dengan cara sekolosal itu?
Kalau iya, gak ada penjelasannya tuh!
Yang Zhuyi malah cuma keliatan kayak bajak laut yang kurang kerjaan aja, iseng-iseng berhadiah menghancurkan armada kerajaan benua utara. Kepengen nambah experience dan jadi tenar kali yee? ???
b. Lagian juga, tujuan Armada Kota Terapung menemukan Tanah Harapan apa pula?
Gak jelas.
Kalau cuma ekspedisi penjelajahan untuk mencari daerah baru (seperti yang akhirnya terjadi di ending, yakni cuma mampir terus langsung pulang lagi), mah gak perlu serame-rame itu, sampai bawa 40 kapal berisi 25.000 orang lebih! Kecuali niatnya emang buat perang atau kolonisasi, barulah wajar bawa banyak2 pasukan.
c. Laksamana Ramirez (salah satu tokoh pendukung yang penting di dalam cerita) diceritakan dulunya kriminal yang membunuh 5 orang. Setelah bebas, dia pergi ibukota. Anehnya, dia tiba-tiba bisa jadi seorang laksamana di ibukota, malahan sampe bisa disuruh memimpin Armada Kota Terapung segala!
Penjelasannya apaan nih? [dunno]
Keempat, tentang setting.
Kalau dari aspek sejarah, geografis, kelogisan setting, cerita Sang Penandai ini jelas2 gak terjadi di bumi.
Misalnya aja dari perang lautnya yang masif dan cenderung gak logis, atau juga dari posisi benua2 yang sesuka-sukanya penulis.
Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa nama2 istilah “berbau” bumi masih dipake juga seenaknya tanpa ada penjelasan apa pun? (Arab, Buddha, dll.)
Jadi niatnya itu cerita di bumi atau bukan? ???
Kelima, tentang ending.
Gw harus menyatakan kalau seluruh petualangan sepanjang novel itu serasa gak ada artinya sama sekali di ending karena Jim (si tokoh utama kita) gak berhasil atau gagal menemukan jawaban atas pertanyaannya, dan jawaban yang dia butuhkan itu justru malah dikasih tau dalam bentuk kuliah oleh si pemberi pertanyaan itu sendiri!
BYAAAR PET! [ban-1]
Sia-sia.
Sang Penandai dan sang penulis boleh jadi mengatakan kalau Jim berhasil berdamai dengan masa lalunya, tapi kenyataannya, Jim sebenernya tidak berhasil, karena dia justru dipaksa berdamai dan dinyatakan berdamai oleh Sang Penandai…
Payah.
Lah, masak sih novel ini gak ada bagus2nya? [question]
Ada koq. Selain yang udah gw sebut di atas, Tere-Liye ternyata juga seneng menggunakan kata-kata yang kurang umum, misalnya jerih (digunakan tanpa akhiran payah), mengkal, dll. Dan ini sebenernya bagus.
Terus jangan lupa juga, novel yang rada anti-Romeo & Juliet ini ternyata punya kalimat terakhir yang bagus. Kalimat itu intinya mengajak pembaca untuk melangkah ke depan dengan tegar. Very nice! [thumbsup]
Phew…
Dan, untuk menutup sekaligus menyimpulkan komen ini, gw hanya akan meminjam kalimat dari halaman 292 dan mengucapkannya dengan lantang, “Cerita itu terlalu dibesar-besarkan.” [yawn]
Post by: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Seru baca repiu-nya si pred ![]()
Tapi banyak yang subjektif, memang [biggrin]
Buat gw sih Sang Penandai masuk ke dalam jajaran fantasi lokal terbaik karena buku ini punya konsep ide yang orisinil banged: bagaimana seseorang dipilih oleh penjaga dongeng (sang Penandai) untuk membuat sebuah dongeng bagi dunia. Temanya jelas dan cukup orisinil (walaupun emang buku ini The Alchemist wannabe banged
), pondasi plotnya sederhana namun kokoh, teknik bahasa JELAS di atas rata-rata, greget dapet (terutama pas perang ama perompak Yang Zhuyi–btw masif dan gak logis gimana? ???), dan sejumlah orisinalitas lainnya dalam buku kayak capung, Puncak Adam, sampe kura-kura pembawa sial.
Terus gw suka ama gaya Sang penandai pas lagi mencela kisah Romeo & Juliet. Keren banged bagian itu! [thumbsup]
Dan please banged fred, stop memprotes kalo ada novel dengan setting dunia non-bumi pake istilah-istilah/kultur bumi di dalamnya. Liat dulu setting dunianya kek gimana, kali. Kalo template setting dunianya masi mengingatkan kita akan bumi yang kita pijak (kayak keberadaan manusia dalam setting itu), gw kira wajar-wajar aja kalo pengarang mengadop kultur dari negara tertentu buat ditempelin di settingnya (dan emang prinsip inilah yang gw terapin di novel gw). Masih match.
Kalo settingnya jelas-jelas beda banged ama image bumi, semisal kehidupan bangsa cacing supermodern di planet antah berantah, nah baru jangan lu nekad masukin budaya Jawa di setting itu. Jelas gak nyambung
Well sekedar mengingatkan, kalo lu konsisten dengan aturan lu itu, maka berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia rekaan ciptaan lu (kalo emang setting novel lu itu non-bumi) gak boleh sedikitpun mengingatkan pembaca akan kebiasaan dan atribut manusia, karena manusia berasal dari bumi! Contoh langsung, berarti lu gak boleh pake nama-nama karakter kayak ‘Constantine’ dan ‘Fabian’, karena itu jelas nama-nama yang beraroma bumi. Dan bahkan, sekalian jangan pake ras manusia dalam novel itu. Itu, kalo setting novel lu non-bumi, yak..
Tentang ending/konklusi di akhir buku, satu yang gw respek dari Sang Penandai, dia gak ngikut stereotip good ending kayak umumnya novel kebanyakan, padahal dia gampang banged kalo mau bikin Sang Penandai ke arah situ. Bisa aja ditamatin pas jim jatuh cinta ama puteri kepala suku di lereng puncak adam, atau pas jim ditawarin jadi raja dan kawin ama puteri kota champa yang namanya naila itu. Well Tere Liye menghindari good ending murahan seperti itu untuk menunjukkan pembaca bagaimana konsistensi seorang jim (dan ini sukses bikin pembaca gregetan): yang selalu disiksa perasaan bersalah terhadap kematian Nayla. Dan kata siapa Jim gak dapet jawaban? Dia dapet! Walau menyakitkan dan bikin kecele. Bukannya sang penandai udah ngejawab kalo jim itu sebetulnya boleh berhenti di dua spot ‘menyenangkan’ itu? Itu sebetulnya udah merupakan jawaban buat perjuangan jim, tapi jim mengabaikannya karena masih dihantui perasaan bersalah..
Well gw kira pesan utama Sang Penandai itu adalah bagaimana seseorang mau berjuang (entah untuk apapun alasannya) setelah suatu kekalahan besar, dan misi itulah yang telah dipenuhi Jim di akhir buku, walaupun akhirnya ia ’salah langkah’ sampe-sampe ngebikin dia mati. Tapi gw salut dengan ’salah langkah’nya jim ini, karena emang manusiawi banged, dan realistis.
Post by: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Lagi.. Lagi.. biar seru(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali. (ini pas si jim dihadang pembunuh bayaran Beduin yak?)
Komen subjektif lu ini:
Quote
Apa coba bagusnya kalimat itu?
Jim mencicit aja udah jelek, apalagi mencicit seperti tikus dalam perangkap!
Kebayang gak kayak apaan?
Benar-benar menyebalkan bagi gw (padahal bukan gw lho penulisnya ;D — tapi emang ada scene di lemures gw yang pake metafora rada-rada mirip kek gini), lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…
Quote
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #
Yang ini juga gak ada masalah. Dan yang jadi masalah di elu adalah, elu menerjemahkan kalimat konotatif ini sebagai kalimat denotatif.
Orang yang lulus mata pelajaran b. indo waktu SMP pasti bakalan nangkep kalo kalimat di atas tuh mendeskripsikan gerakan Jim yang mendekat ragu-ragu, sebentar berhenti sebentar maju.
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini? [hammer]
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.
‘Anak’ di kalimat itu jelas merujuk ‘anak kecil’, dan ‘anak kecil’ di sini punya konteks sebagai sosok yang gak bisa diem (hiperaktif), atau mungkin juga berisik (dalam artian lagi nangis). Match sama sifat badai.
Dan kalo dikasih permen (atau biasanya es krim, di dorama-dorama korea), biasanya anak kecil bakal nurut (untuk term badai, jadi ‘mereda’) ==> ini udah jadi semacam pakem/’resep’ tak tertulis di benak orang-orang dewasa, walau pada kenyataannya gak selalu begitu. Dan pakem itulah yang dimanfaatkan tere liye dalam metafora itu.
note:
Tere Liye itu dosen sastra UI, jadi silakan dikau mengirim permen kepada beliau. [biggrin]
Quote
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #
Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), dan dalam metafora di atas, pengarang lebih menekankan makna utuh ‘mengeluarkan’, jadi sinkron dengan kondisi mata (menangis) yang mengeluarkan air mata.
Prinsipnya sama kayak metafora-metafora:
“Bolpoin yang menari di atas kertas.”
“Kapal layar yang mengukir lautan.”
“Pandangan mata yang menyapu seluruh sudut.”
(sebetulnya ini masuk ke satu jenis majas, tapi gw lupa nama majasnya >_<)
eniwei ampun dah fred, masak metafora materi pelajaran anak smp kek gini aja kudu gw jelasin sih? ???
Well fred, gw bukan fans Tere Liye sampe kayak ngebela mati-matian novelnya gini (gw gak punya urusan ama penjualan bukunya), tapi kalo ada komentar yang gak relevan model di atas, pasti bakal gw babat abis-abisan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Post by: fr3d on July 23, 2008, 09:28:02 am
Ah, gak seru nih lempar2an cabe kalo gak ada penulisnya! [biggrin]
Lempar2an cabe antarpembaca pasti cuma berakhir ke lubang hitam…
Quote from: cheppy70 on July 22, 2008, 05:32:43 pm
Apa arti “PENANDAI” sesungguhnya? (dari dulu gue gak ngerti arti kata ini :-\
Di dalam novel, emang ditulis kalau kata itu gak akan ditemukan artinya di mana-mana (kurang lebih gitu deh…).
Intinya ya seperti kata vadis, kurang lebih artinya “pencipta dongeng-dongeng”.
Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
buku ini punya konsep ide yang orisinil banged: bagaimana seseorang dipilih oleh penjaga dongeng (sang Penandai) untuk membuat sebuah dongeng bagi dunia. Temanya jelas dan cukup orisinil (walaupun emang buku ini The Alchemist wannabe banged
).
Setuju.
Plot2 Puncak Adam dan kura-kura raksasa idenya emang menarik (cuih, gw gak sampe hati bilang bagus, karena gw pernah baca banyak yang jauh lebih bagus), tapi jelas yang kura2 gak full orisinil (ini setau gw mitos kuno bangsa timur, kalau ngambil sesuatu, apalagi yang “unik”, dari tempat asalnya, bisa bawa sial).
Masalahnya adalah plot2 ini cuma tempelan belaka dan gak dioptimalkan sebagai penguat bangunan plot utama (dongengnya Jim).
Maksudnya gini, kalau dua plot itu dihapus, ngaruh gak ke ceritanya Jim?
Nggak!
Harusnya, kalau mau, bener2 dipake deh sebisanya tuh dua plot (+ tentang barikade perawan –> kalau ini menurut gw dibuat cuma supaya ada aja yang bisa membunuh di ending; bener2 wasted [yawn]).
Tentang perang laut, masif ya udah jelas.
Gak logis karena: coba deh dibayangin dulu kondisi di tengah laut, ada banyak kapal (kalau gak salah, kapalnya Yang Zhuyi aja ada ratusan… atau ribuan?), terus dari kapal2 itu keluar banyak kano yang gak ada habis2nya, sampe berhari2 (inget kan, dia perangnya berhari-hari?).
Nah, sekarang pertanyaannya, kano2 yang udah sampe ke Armada Kota Terapung itu kan udah gak ada orangnya/orangnya mati, terus menumpuk gitu? Kayak sampah2 di Tanjung Priuk!?!
Gimana dong caranya kano2 yang laen bisa lewat? Apalagi secara simultan gitu!
Macet, bang!
Emangnya gampang apa ngayuh kano di laut, apalagi banyak sampah2 gedenya? [hammer]
Kalau emang ada penjelasannya tentang hal ini, gw gak nemu tuh di dalam buku.
Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Dan please banged fred, stop memprotes kalo ada novel dengan setting dunia non-bumi pake istilah-istilah/kultur bumi di dalamnya. Liat dulu setting dunianya kek gimana, kali. Kalo template setting dunianya masi mengingatkan kita akan bumi yang kita pijak (kayak keberadaan manusia dalam setting itu), gw kira wajar-wajar aja kalo pengarang mengadop kultur dari negara tertentu buat ditempelin di settingnya (dan emang prinsip inilah yang gw terapin di novel gw). Masih match.
Kalo settingnya jelas-jelas beda banged ama image bumi, semisal kehidupan bangsa cacing supermodern di planet antah berantah, nah baru jangan lu nekad masukin budaya Jawa di setting itu. Jelas gak nyambung
Bah, cuma nyari2 alasan. [yawn]
Rey sendiri bilang kalau itu cuma tempelan tuh.
Dan please banged deh rey, gw kan gak bilang gak boleh. Tapi gw minta penjelasan ke Tere-Liye, kenapa di situ ada agama Buddha, ada negara Arab, etc.
Dateng dari Hong Kong? Jatuh dari langit? PLOP! Tiba2 ada aja gitu?!? [annoyed]
Kita semua tau pasti kalau agama Buddha ataupun negara Arab bisa ada sekarang ini di bumi karena SEJARAH yang panjang lebar dan berliku-liku. Kalau di dunia Sang Penandai (yang bukan bumi), datang dari mana?!?
Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Well sekedar mengingatkan, kalo lu konsisten dengan aturan lu itu, maka berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia rekaan ciptaan lu (kalo emang setting novel lu itu non-bumi) gak boleh sedikitpun mengingatkan pembaca akan kebiasaan dan atribut manusia, karena manusia berasal dari bumi! Contoh langsung, berarti lu gak boleh pake nama-nama karakter kayak ‘Constantine’ dan ‘Fabian’, karena itu jelas nama-nama yang beraroma bumi. Dan bahkan, sekalian jangan pake ras manusia dalam novel itu. Itu, kalo setting novel lu non-bumi, yak..
Sori man, di cerita gw mah semua yang dipertanyakan itu (ada manusia, nama2) ADA ALASANNYA.
![]()
Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Tentang ending/konklusi di akhir buku, satu yang gw respek dari Sang Penandai, dia gak ngikut stereotip good ending kayak umumnya novel kebanyakan, padahal dia gampang banged kalo mau bikin Sang Penandai ke arah situ.
Dan kata siapa Jim gak dapet jawaban? Dia dapet! Walau menyakitkan dan bikin kecele. Bukannya sang penandai udah ngejawab kalo jim itu sebetulnya boleh berhenti di dua spot ‘menyenangkan’ itu? Itu sebetulnya udah merupakan jawaban buat perjuangan jim, tapi jim mengabaikannya karena masih dihantui perasaan bersalah..
Gw gak masalah tentang ending sad itu koq. Yang gw permasalahkan adalah Jim gak menemukan jawabannya sendiri. Dia harus dikuliahi dulu sama Sang Penandai barulah sadar.
Ibaratnya: seseorang disuruh cari tahu rasanya air laut apa. Terus orang ini pergi ke laut dan balik lagi. Dia bilang kalau gak ngerasa apa-apa. Akhirnya orang yang menyuruh pertama kali bilang ke dia (mungkin juga karena udah desperate?), “RASANYA ASIN, DODOL!”
Terus ini apa artinya ke pesan yang mau disampaikan oleh penulis ke pembaca?
Artinya, kita harus dikuliahi dulu sama orang lain barulah bisa menjadi “pencinta sejati”.
Dan gw yakin kalau maksudnya Tere-Liye bukan ini. Tapi ternyata jadinya itu, jadi salahnya siapa dong? ???
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Lagi.. Lagi.. biar seru(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tentang contoh2 kiasan, gw cuma mau membuktikan satu hal.
Kalau misalnya pembaca sampe butuh penjelasan yang dijabarkan sama rey supaya bisa ngerti/paham, ya berarti udah jelas lah kalau kiasan2 itu gagal dan layak dipertanyakan.
Kiasan yang bagus itu, siapa pun yang sekali ngebacanya PASTI langsung nangkep artinya apa. [thumbsup]
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali.
Benar-benar menyebalkan bagi gw, lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…
Pernah liat tikus di dalam perangkap? Pernah liat dia mencicitnya seperti apa?
Nah, sekarang bayangin deh kejadian itu diibaratkan ke Jim.
Ada yang setuju kalau kalimat itu bagus?
Gw gak bilang kalimat itu salah, tapi gw bilang itu jelek.
Aneh aja, padahal masih ada banyak kiasan yang lebih bagus gitu. Kenapa harus milih yang itu? ???
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini? [hammer]
Norak.
Hanya karena di kalimat sebelumnya ada akhiran kata “separuh” gak menjadikannya legal untuk memasukkan kata yang sama ke akhiran kalimat berikutnya. Butuh pertimbangan solid supaya kalimat itu artinya bisa bener2 bagus.
Lagian apa pula maksudnya “hati Jim bergemerincik separuhnya“? Separuhnya lagi emangnya kenapa? ???
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.
Gih eksperimen sana, coba deh ngasih permen ke anak kecil yang lagi diam (gak ngapa2in atau gak lagi kenapa2). Terus liat reaksinya apa.
Seneng aja kan?
Nah, analogi “seneng” sama “badai reda” apaan?
Gak ada.
Rey, gw tau maksud loe apa, dan gw juga tau maksud Tere-Liye apa.
Tapi, kalimat yang bener itu kan seharusnya si anak lagi mengalami sesuatu yang perlu “dibuat reda” oleh permen, misalnya nangis.
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #
Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), dan dalam metafora di atas, pengarang lebih menekankan makna utuh ‘mengeluarkan’, jadi sinkron dengan kondisi mata (menangis) yang mengeluarkan air mata.
eniwei ampun dah fred, masak metafora materi pelajaran anak smp kek gini aja kudu gw jelasin sih? ???
Kalau maksudnya memakai kata “berdenting” cuma itu, ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan/mewakili kegiatan “mengeluarkan/menghasilkan” dengan lebih tepat daripada “berdenting”, dan lagi, kata-kata yang lain itu gak ada embel2 menghasilkan bunyinya. Silakan liat aja di tesaurus.
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Tere Liye itu dosen sastra UI, jadi silakan dikau mengirim permen kepada beliau. [biggrin]
No. Gw gak akan ngirim permen ke penulisnya. Penulis mana pun udah pasti lah membela tulisannya sendiri (gw juga koq). [biggrin]
Oh… dosen sastra rupanya… di UI pula… (*diam2 nyengir iblis*)
Jangan2 gw pernah ketemu… [rolleyes]
Ya gw maapin deh dia, dosen pun manusia juga toh.
[biggrin]
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 23, 2008, 10:21:59 am
Btw asik nih ada perang cabe lagi wakakak… untunglah sementara Bloodsin teralihkan ke Fred, jadinya ga gangguin gw mulu hehe… Tapi gatel juga pengen ikut lempar cabe sembunyi tangan. ;D
Tapi kalau yang gw liat sih komen kalian berdua soal metafora itu jelas subjektif. Fred lebih senang dengan gaya bahasa sederhana dan kurang suka bahasa canggih yang dipaksakan (kesannya menyombongkan diri sebagai seorang dosen sastra, malu dong kalau ga pake gaya bahasa maut ala metafora? Gt ya?) Sementara Bloodsin dengan Lemur nya yang selalu puitis jelas senang dengan gaya bahasa canggih dan indah. Metafora yang belum pernah dipakai, unik, mungkin aneh sekalipun, adalah nilai plus sebagai kreatifitas.
Quote
Quote
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali.
Benar-benar menyebalkan bagi gw, lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…
Well, metafora tikus mencicit sudah dipakai untuk deskripsi peter pettigrew di Harpot toh? Nah kalau mau liat seperti apa itu manusia ketakutan mencicit, nonton aja versi film bioskopnya. Ada sih ada aja, itu terserah penulisnya, dan terserah pembacanya untuk mengartikannya. Tapi, bagus atau engga? Jelas engga kalau nginget lagi si pettigrew itu.
Quote
Quote
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini?
Kl ini sih gw setuju dengan Fred. Kalau ga ada embel2 kalimat sebelumnya mungkin gw masih tertarik mengorek arti metafora ini. tapi kalau liat kalimat sebelumnya jelas aneh, ga nyambung dan ga ada artinya. Udah ada gadis menatap gemericik beningnya air sungai, trus mukanya terlihat separuh, kemudian metaforanya gabungin keduanya, hati Jim seketika bergemerincik separuhnya ???
Dari bunyi jelek, estetika biasa aja, dan artinya ga jelas. Seperti kata Fred, metafora yang artinya ga sampai ke pembaca artinya gagal. Tugas kita sebagai penulis itu apa? Menyampaikan cerita/informasi ke pembaca! Kalau pembaca gagal untuk menerima informasi yang diberikan secara benar, artinya kita yang gagal sebagai penulis, bukan mereka yang gagal sebagai pembaca -__-. Pembaca adalah raja.
Quote
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.
Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.
Yang ini mungkin gw lebih memihak ke BloodSin. Secara arti gw rasa masih cukup mudah dimengerti. Pas gw baca sih malah kepikirannya ke metafora ala pendekar, yang biasa mengucapkan ‘anak menangis pun akan terdiam mendengar namaku’. Entah ada sangkut pautnya atau tidak. Maksud sih nyampe, tapi kalau ditilik lebih detil, mestinya bagai seorang anak menangis yang diberi permen. Karena anak jika tidak menangis dikasi permen ya ga terlalu banyak berubah, yang ada lagi anteng2 di kasi permen malah lari2an kegirangan. ;D
Well, balik ke masalah selera dan level pembaca lah… Karena 2 hal itu sangat bervariasi. Kalau bersikeras menggunakan bahasa yang canggihnya sampe menjelimet, mungkin target dia emang kalangan pembaca level tinggi mungkin? atau bukunya perlu dilabelin requirement : pendidikan minimal S1 jurusan sastra Indonesia ;D Yowez segitu dulu deh. [thumbsup]
Salam,
Serpentwitch
Post by: cheppy70 on July 23, 2008, 11:31:47 am
Nimbrung soal metafora, ah,…
Kalo menurut gue sih, yang bukan dosen sastra UI
, Seni menggunakan metafora antara lain bertumpu pada ketepatan metafora tersebut terhadap situasi yang ingin di metaforakannya (tuh, keribetan gue udah ngalahin dosen, khan?
)
Artinya antara situasi yang ingin digambarkan melalui metafor, dengan metaforanya sendiri, harus ada kesinambungan, entah berupa kesinambungan rasa atau kesinambungan logika, atau kesepadanan karakter. Mungkin dapat kita persamakan dengan rima atau sajak, yaitu dalam sajak ada kesamaan akhiran kata, misalnya. Gue ga tahu istilahnya menurut ilmu sastra
, tapi let’s just say ada semacam paralelisme di dalam suatu metafor.
Misalnya metafora:
“Tatap matanya yang sedalam lautan”, akan memberikan pengertian suatu bobot pandangan mata yang memiliki sifat rasa seperti menekan atau menyedot jauh ke dasar (hati yg terdalam), sepadan untuk karakter yang memiliki pesona karismatik tertentu.
Tapi, kalau dituturkan begini:
“Tatap matanya bagai lautan terdalam”, akan memberikan pengertian yang berbeda, mungkin tatapan mata yang terasa penuh misteri, yang tak mudah dibaca oleh orang lain. Somewhat karakter yang tenang tak tergoyahkan, tapi sekaligus ancient penuh pengalaman.
Nah adanya pemahaman karakter ini membuat tidak sembarangan metafora dapat ditempelkan pada sembarang karakter, sebab kesalahan pemasangan akan mengacaukan bentuk karakter tersebut di dalam konsep pemikiran pembaca.
Bayangkan kalau gue menempelkan metafora secara asal seperti ini, “Ahmad, si kenek mikrolet 604 jurusan Pasar Minggu – Kampung Melayu itu bergayut di pintu kijang berwarna hijau telur asin itu, sembari memandang perempatan dengan tatapan matanya yang bagai lautan terdalam,”
Atau, “John Byrson memandangi deretan label harga DVD di display itu dengan tatapan mata sedalam lautan”
;D ;D ;D
Kira-kira ngerti, kan, konsepnya?
Nah, kalo kasus yang disebutkan fred:
“Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap”
menurut gue memang berpotensi membentuk konsep karakter yang kurang tepat, atau menghancurkan karakter Jim yang sudah digariskan oleh pengarang sebelumnya. Kebetulan aku belum baca, dan belum tahu seperti apa karakter Jim seharusnya pada point adegan ini. Tapi metafora itu telah memberikan bayangan pada saya berupa karakter seseorang yang luar biasa pengecutnya, yang dikuasai oleh kepanikan sehingga tak mampu mengambil keputusan secara rasional. Kebayang sosok seperti Ruben Onsu saat menghadapi krisis kebakaran rumah atau gempa, gitu :-\ atau karakter si Pembawa Acara dalam film The Fifth Element [bigwink].
Persoalannya, apakah itu konsisten dengan karakter Jim sebagai tokoh utama? Gue kurang tahu, tapi kurasa yg sudah membaca bisa menilai. Bisa aja karakterisasi seperti itu memang konsisten dengan kondisi Jim saat adegan tersebut berlangsung. Siapa tahu memang di awal-awalnya, Jim adalah pribadi bencong yang kemudian mengalami transformasi berkat petualangannya di novel itu.
Jadi temen-temen, IMO, sebagai suatu perangkat penulisan yang memiliki aspek seni, memang metafora memiliki kekuatan untuk diinterpretasikan secara tak terbatas. Tapi tetap saja, dalam kerangka komunikasi kita kepada pebaca, kita tetap harus memilihkan metafora yang mampu mengantarkan ide (cerita) kita secara tepat ke dalam pikiran pembaca.
Salam,
FA Purawan
Post by: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Quote
Ah, gak seru nih lempar2an cabe kalo gak ada penulisnya!
Lempar2an cabe antarpembaca pasti cuma berakhir ke lubang hitam…
Tenang aja, gw udah nge-add ym penulisnya di ym gw (masalah diapprove apa kagak ama Tere Liye itu urusan nasib
), pasti nanti gw undang beliau kesini (atau at least, dia bisa baca ‘diskusi’ menyenangkan kita ini ^-^)
Quote
Masalahnya adalah plot2 ini cuma tempelan belaka dan gak dioptimalkan sebagai penguat bangunan plot utama (dongengnya Jim).
Maksudnya gini, kalau dua plot itu dihapus, ngaruh gak ke ceritanya Jim?
Nggak!
Kalo lu bilang gitu, sama aja lu mempermasalahkan kenapa di LotR ada scene kebiasaan Merry & Pippin yang seneng ngisep cerutu, terus adegan pengejaran orc di deked hutan Lorien yg menyebabkan Boromir mati, tradisi bangsa elf bikin roti lembas, terus scene Aragorn pacaran ama Arwen, terus scene perang Rohan, dan masih banyak lagi.
Semua itu ngaruh gak ke misi utama Frodo ngelebur One Ring? Gak.
Apakah setiap detil/subplot kecil dalam suatu tubuh cerita harus selalu mendukung bangunan plot utama secara konkrit? Aturan maen darimana itu? Betapapun sepelenya, yang namanya ‘wisata fantasi’ itu tetap penting, terutama buat faktor entertaining novel, memperkaya warna plot, & memperjelas setting.
Apakah karena rintangan-rintangan itu muncul secara ‘alamiah’ maka jadinya aneh dan berkesan sengaja ‘diada-adakan’? Sama sekali kagak, justru realistis dan malah banyak terjadi dalam kehidupan nyata. Contoh kasusnya, hari ini Budi punya misi pergi ke bogor, apakah segala sesuatu yang terjadi di sekujur perjalanan itu harus merupakan satu kesatuan plot sinkron hingga akhirnya Budi sampe ke bogor? Gw kira, kagak juga. Bisa aja mobil yang Budi kemudikan nabrak bajaj, dan si Budi jadi harus mengantarkan supir bajaj ke rumah sakit terdekat sebelum nyampe ke bogor. Atau bisa juga si supir bajaj tewas dan Budi jadi ditangkep polisi dan malah gak pernah nyampe bogor. Ini yang namanya ‘warna plot’, fred, kalo lu nangkep poin gw.
Itu, jawaban gw kalo emang bagian-bagian yg lu sebut itu gak relevan dengan tubuh cerita secara keseluruhan. Karena sesungguhnya bagian-bagian itu tetep nyambung ke dalam cerita. Bagian kura-kura yang mendatangkan badai mahadahsyat, itu jelas buat menguatkan tema struggle dalam tubuh buku, tentang sebuah rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah perjalanan.
Bagian Puncak Adam, itu jelas Subplot buat karakter Pate lha! Elu ngeprotes bagian ini, sama aja dengan ngeprotes subplot Merry & subplot Pippin (dan masi banyak lagi) di LOtR. Tapi sebetulnya subplot ini pun masi berpengaruh kuat ke plot utama Jim, karena di lereng puncak adam itu Jim kena godaan cinta pertamanya.
Buat Barikade Perawan, apakah gak wajar kalo suatu artefak yang amat berharga dijagain sedemikian rupa ama rintangan yang berat banged?
Quote
Sori man, di cerita gw mah semua yang dipertanyakan itu (ada manusia, nama2) ada ALASANNYA.
oke kalo gitu gw tunggu cerita lu terbit biar gw bisa baca dan nilai langsung ^-^
Quote
Tentang contoh2 kiasan, gw cuma mau membuktikan satu hal.
Kalau misalnya pembaca sampe butuh penjelasan yang dijabarkan sama rey supaya bisa ngerti/paham, ya berarti udah jelas lah kalau kiasan2 itu gagal dan layak dipertanyakan.
Kiasan yang bagus itu, siapa pun yang sekali ngebacanya PASTI langsung nangkep artinya apa.
ah gw kira, orang yang udah lulus SMP mestinya bisa langsung ngerti semua kiasan yang ada di Sang Penandai sekali-dua kali baca. Masih cetek banged gitu lho, belom sedalem kiasan dalam cerpen-cerpen kompas minggu.
Quote
Pernah liat tikus di dalam perangkap? Pernah liat dia mencicitnya seperti apa?
Nah, sekarang bayangin deh kejadian itu diibaratkan ke Jim.
Ada yang setuju kalau kalimat itu bagus?
Gw gak bilang kalimat itu salah, tapi gw bilang itu jelek.
Aneh aja, padahal masih ada banyak kiasan yang lebih bagus gitu. Kenapa harus milih yang itu?
Rumah gw lagi kebanjiran tikus!! Kemaren ada yang ketangkep pake lem tikus anaknya satu ekor, dan tuh anak tikus bercicit-cicit ria pulak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Terus terang aja Fred, dari semua vonis sotoy lu thd penggunaan gaya bahasa di Sang Penandai, bagian ini yang paling konyol dan bikin gw gregetan tujuh keliling
Kenapa juga orang harus selalu diibaratkan dengan hal yang bagus-bagus dan gak boleh jelek? Maksud lu kiasan yg ‘lebih bagus’ itu, harus yang bersih-bersih dan steril bebas kuman semacam “Jim berhati seputih malaikat”, “Jim setulus orang suci”, “Jim setampan pangeran Harry” gitu kali ye?
Well bos, yg namanya metafora itu yang penting maknanya pas, kena, dan sinkron dengan posisi dari si yang dimetaforakan. Gak peduli mau berkonotasi positif atau negatif. Dan emang makna yang diniatkan pengarang thd tokoh Jim dari metafora itu adalah kondisi begimana jeleknya tikus kalo lagi terdesak dan mencicit.
Tuh si Serpent bilang penulis sekaliber JK Rowling aja pake metafora ini.
Quote
Norak.
Hanya karena di kalimat sebelumnya ada akhiran kata “separuh” gak menjadikannya legal untuk memasukkan kata yang sama ke akhiran kalimat berikutnya. Butuh pertimbangan solid supaya kalimat itu artinya bisa bener2 bagus.
Lagian apa pula maksudnya “hati Jim bergemerincik separuhnya”? Separuhnya lagi emangnya kenapa?
Well, penilaian ini jelas subjektif banged, dan gak jelas banged isi argumentasi lu itu kayak gimana di atas.
untuk satu poin ini, gw nyerah tanpa syarat dah ;D ;D
Soalnya ini cuman bisa diukur ama orang-orang yang ngerti sastra, dan kapasitas gw untuk menjelaskan belum nyampe ke situ.
Quote
Gih eksperimen sana, coba deh ngasih permen ke anak kecil yang lagi diam (gak ngapa2in atau gak lagi kenapa2). Terus liat reaksinya apa.
Seneng aja kan?
Nah, analogi “seneng” sama “badai reda” apaan?
Gak ada.
Rey, gw tau maksud loe apa, dan gw juga tau maksud Tere-Liye apa.
Tapi, kalimat yang bener itu kan seharusnya si anak lagi mengalami sesuatu yang perlu “dibuat reda” oleh permen, misalnya nangis.
Gw kan udah bilang yang terpenting di sini itu konteks.
Terkadang, seorang penulis gak harus menjabarkan segala sesuatunya secara langsung, jelas, dan lengkap. Yang terpenting itu asal konteksnya dari awal udah ada terpatri di pikiran pembaca. Yang Tere Liye coba terapkan di metafora_gak_utuh itu, beliau ingin memancing pemahaman utuh dari pembaca dengan sepotong umpan yang ‘tepat’. Tapi emang gw rasa umpan yang ‘tepat’ ini cuma bisa kena di pembaca yang ‘tepat’ jugak. *sigh*
Buat gw, di situlah seninya, fred.
Yahhh.. Apakah level bahasa gw terlalu tinggi sampe-sampe gw bisa nangkep konteksnya sedangkan elu kagak? Kagak juga ah…
Quote
Kalau maksudnya memakai kata “berdenting” cuma itu, ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan/mewakili kegiatan “mengeluarkan/menghasilkan” dengan lebih tepat daripada “berdenting”, dan lagi, kata-kata yang lain itu gak ada embel2 menghasilkan bunyinya. Silakan liat aja di tesaurus.
Sama aja elu mempermasalahkan semua metafora yang berjenis majas ini (termasuk contoh majas-majas sejenis yang udah gw kasih). Yang satu ini udah masuk ke gaya bahasa personal pengarang, sih. Tapi gw inget dulu waktu jaman gw belajar Bahasa Indonesia di SMP, ada jenis majas yang prinsipnya sama kayak metafora di atas. (@anyone ada yg tauk nama majasnya?)
It’s okelah kalo lu gak sreg ama gaya bahasa ‘memerintah’ yang ada di Sang Penandai, tapi kalo buat metafora-metafora yang udah wajar (dan ternyata dipermasalahkan dengan cara yang tidak relevan) seperti dalam quote-quote di atas, gw dengan senang hati rela membahasnya bersama elu sampe tuntas. [biggrin]