A. Pembukaan

  • Apakah kalimat dan paragraf pertama cerita bisa membuat kita tertarik, untuk terus membaca ke bagian berikutnya? Apakah sudah menggambarkan masalah utama sang protagonis, ataukah hanya sekadar pemanis untuk memikat pembaca dengan kata-kata indah atau adegan-adegan seru?
  • Apakah kita selaku pembaca bisa segera mengenali jenis cerita macam apa yang akan kita baca? Dan apakah perkiraan kita itu sesuai dengan warna cerita secara keseluruhan—nantinya setelah kita baca—dan kita tidak merasa tertipu karenanya?

B. Konflik

  • Konflik adalah inti sebuah drama. Tak ada konflik, berarti tak ada drama. Dan konflik yang membuat sebuah cerita (dan terutama karakter-karakternya) menjadi terasa hidup bukanlah berupa aksi-aksi pertarungan seru semata, melainkan jika terdapat pergulatan mental atau moral yang disebabkan ketidakcocokan keinginan/harapan dengan kenyataan.
  • Konflik emosional ini bisa berupa konflik internal (terjadi di dalam diri tokoh utamanya) ataupun konflik eksternal (tokoh utama vs tokoh lainnya/lingkungan sekitarnya). Kedua hal ini sama pentingnya. Konflik internal adalah hal yang membuat keseluruhan cerita berarti buat tokoh utamanya, dan otomatis berarti pula buat pembaca. Sedangkan konflik eksternal adalah hal yang memaksa sang tokoh membuat pilihan-pilihan dan perubahan-perubahan. Rasa penasaran pembaca terhadap pilihan dan perubahan yang akan dibuat inilah yang membuat mereka mau terus membaca ceritanya sampai selesai.
  • Maka, apakah terdapat konflik emosional di dalam diri sang tokoh utama? Apakah ada pula di antara tokoh-tokoh utama? Apakah konflik emosional ini membuat pembaca tertarik dan masuk ke dalam cerita? Apakah pembaca tidak hanya membaca sebuah cerita, tapi juga ikut merasakan menjadi tokoh utamanya? Contoh konflik emosional ini adalah: cinta vs loyalitas, kerakusan vs tugas, rasa takut vs keinginan, balas dendam vs keraguan diri.
  • Apakah ada terlalu banyak atau justru terlalu sedikit konflik? Tugas penulis adalah menjadi pembuat gara-gara. Beri sebanyak mungkin konflik dan masalah kepada sang tokoh utama, dan jangan selesaikan satu masalah sebelum muncul paling tidak dua masalah yang lain. Masalah yang belum terselesaikan akan menjadi janji yang membuat pembaca terus tertarik untuk membaca sampai selesai. Tapi tentu saja, di akhir cerita, seluruh masalah itu HARUS terselesaikan.
  • Apakah seluruh konflik bisa tersampaikan melalui tindakan, dialog, perilaku atau nilai-nilai para tokohnya (tidak melalui narasi panjang yang melelahkan)? Apakah karakter-karakter sudah cukup kelihatan kontras? Apakah sudah cukup banyak argumentasi dalam dialog-dialog mereka, atau perselisihan akibat tindakan-tindakan mereka, sehingga cerita tidak menjadi membosankan?
  • Ataukah justru mereka sepertinya puas dengan peran mereka dari awal hingga akhir cerita, tanpa ada perubahan? Apakah terdapat kemungkinan mereka menjadi berubah? Apakah bisa terbayang betapa tidak berartinya cerita ini buat pembaca, jika ternyata tak terjadi perubahan dalam diri tokoh-tokohnya?

C. Plot

  • Di dalam setiap cerita terdapat satu buah plot utama, yang (seharusnya) dimulai sejak awal cerita dan (pastinya harus) selesai di akhir cerita. Apakah plot utamanya jelas dan dapat dipercaya (believable)? Coba dilihat, apakah plot cerita tersebut bisa kita simpulkan dalam satu buah kalimat? Jika tidak, berarti plot tersebut belum jelas. Lalu, apakah dalam menyelesaikan plot tersebut sang penulis berhasil meyakinkan kita untuk percaya dengan alasan-alasannya? Jika tidak, berarti plot tersebut tidak dapat dipercaya.
  • Apakah karakter utamanya memiliki masalah yang jelas untuk diselesaikan? Apakah penulis sudah cukup menjelaskan mengenai motif, keinginan, kelemahannya dan kesulitan-kesulitannya, tidak hanya membiarkan tokoh tersebut berjalan-jalan tanpa tujuan? Apakah di akhir cerita masalah ini terselesaikan ataukah dia justru menerima hidup dengan masalah tersebut?
  • Apakah kita bisa cepat menentukan waktu dan kejadian cerita ini dengan cepat? Ataukah pembaca harus terus menebak-nebak sampai bingung, dan kemudian kecewa karena tebakannya ternyata tidak sesuai dengan latar yang ingin disampaikan oleh penulis?
  • Apakah cerita dimulai di saat dan tempat yang tepat? Apakah cerita dimulai terlalu awal, sehingga pembaca disergap kebosanan atau mungkin kecewa karena harus membaca hal-hal yang tidak penting dalam plot utama? Ataukah justru dimulai terlalu maju, sehingga pembaca menjadi kebingungan dengan latarnya?
  • Dan apakah berakhir di saat dan tempat yang tepat pula? Apakah begitu telah mencapai klimaks, cerita itu cepat diselesaikan tanpa bertele-tele? Ataukah justru terlalu cepat sehingga masih ada sisa konflik yang menggantung?
  • Apakah terdapat adegan-adegan yang tidak berhubungan dengan plot? Jika seandainya adegan-adegan tersebut dihilangkan, apakah akan mengganggu cerita secara keseluruhan dan juga karakterisasi tokoh-tokohnya?
  • Apakah terlalu banyak flashback, yang merusak perhatian kita? Apakah penulis menggunakan terlalu banyak flashback untuk menjelaskan latar belakang cerita? Alur maju biasanya selalu lebih baik di dalam menjaga emosi pembaca supaya tidak terputus, sehingga penggunaan flashback sebaiknya seminimal mungkin.
  • Jika cerita pendek, apakah ada terlalu banyak subplot? Jika novel, apakah salah satu subplotnya bisa semakin diperdalam, atau mungkin ditambahkan subplot? Sebaliknya, apakah ada terlalu banyak subplot sehingga kita menjadi bingung?
  • Apakah semua subplot itu berguna untuk memperkuat cerita dan karakternya? Atau sang penulis hanya sekadar menambahkannya supaya tampak lebih kompleks?
  • Apakah seluruh plot/subplot berjalan cukup cepat untuk tetap menjaga perhatian pembaca?
  • Apakah seluruh konflik yang dibangun dapat terselesaikan di akhir cerita? Atau sang penulis membiarkannya menggantung, membiarkan kita bertanya-tanya? Di akhir cerita, apakah kita merasa ada hal-hal yang mestinya bisa dijelaskan lebih lanjut? Dan jika sang penulis meninggalkan beberapa konflik tak terselesaikan, apakah dia mengindikasikan ada lanjutan ceritanya?
  • Sebagai catatan: plot hanyalah sebuah rangkaian kejadian dan situasi yang terjadi sepanjang jalannya cerita. Hal itu akan muncul dengan sendirinya secara alami, terasa kuat dan dapat dipercaya, jika sang penulis sejak awal bisa dengan sabar membentuk karakter tokoh-tokohnya, interaksi antar mereka dan konflik-konfliknya, serta latar ceritanya.

D. Latar

  • Apakah terdapat cukup deskripsi yang membuat seluruh adegan dalam cerita tergambar nyata oleh kita selaku pembaca? Apakah kita benar-benar merasa terbawa ke waktu dan tempat cerita itu?
  • Ataukah justru deskripsinya terlalu banyak, sehingga pembaca novel-novel modern (untuk membedakan dengan cerita-cerita klasik yang penuh deskripsi) cenderung menjadi bosan? Apakah deskripsi-deskripsi itu penuh dengan ungkapan atau penggambaran yang klise? Deskripsi klise terutama akan akan terjadi karena dua sebab: 1) kurangnya riset yang kita lakukan sehingga kita gagal menemukan sendiri secara langsung hal-hal yang paling unik, 2) kurangnya/malasnya kita berimajinasi/menuliskan imajinasi kita.
  • Apakah penulis menggunakan nama-nama yang bagus dan pas untuk setiap orang, tempat dan benda-bendanya? Apakah nama-nama tersebut mudah untuk diucapkan, dan diingat? Apakah ada nama-nama yang mungkin tidak cocok atau tidak konsisten dengan karakter tokohnya? Apakah ada nama yang stereotip, sudah terlalu umum digunakan?
  • Apakah penulis berhasil meyakinkan kita bahwa orang-orang yang hidup pada jaman di ceritanya itu memang akan berlaku seperti yang mereka lakukan? Apakah penulis sudah cukup kuat membangun latar budaya, geografi, atau kehidupan masyarakat di ceritanya?
  • Apakah urut-urutan kejadian di dalam cerita berlangsung secara konsisten? Adakah kejadian di belakang yang mungkin tidak sesuai dengan informasi yang diberikan di awal cerita?

E. Karakterisasi

  • Apakah tokoh-tokohnya terlihat nyata dan masuk akal? Ataukah justru sang protagonis sebegitu baiknya, penuh kebaikan dan kelebihan tanpa cacat, dan sebaliknya sang antagonis sebegitu jahatnya, penuh kezaliman dan kekurangan seolah ia bukan manusia (kalau memang ia adalah manusia)?
  • Apakah informasi tentang tokoh-tokohnya (misal: ciri-ciri fisiknya) akurat dan konsisten sepanjang cerita?
  • Setiap orang pasti memiliki keluarga, teman, pekerjaan, ambisi, kekhawatiran dan lain-lain. Intinya, kehidupan lain di luar plot cerita. Apakah sebagai pembaca kita sudah cukup merasakan kalau hal-hal itu ada pada diri tokoh-tokoh utamanya?
  • Apakah kita sudah cukup mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang budaya, jaman, lokasi dan pekerjaan dari sang tokoh utama?
  • Apakah kita cukup merasakan adanya pertentangan batin di dalam diri tokoh utamanya? Cukupkah tergambar melalui emosi, perilaku dan nilai-nilainya?
  • Apakah kita terganggu dengan terlampau banyaknya informasi latar belakang yang diberikan oleh sang penulis dalam menjelaskan karakternya pada satu titik? Apakah terlalu banyak informasi melalui narasi/dialog panjang? Ataukah justru sang penulis sudah cukup bagus dengan menyebarkan informasi tersebut sedikit demi sedikit di banyak tempat?
  • Apakah sang protagonis mengalami perubahan di dalam cerita?
  • Apakah karakterisasinya sudah cukup? Apakah cerita dapat lebih ditingkatkan dengan menambahkan lebih banyak detil pada karakterisasi tokoh-tokohnya: reputasi, keyakinan, hubungan dengan orang lain, perilaku dan kebiasaan, bakat dan keterampilan, hobi dan kesukaan, ciri-ciri fisik?
  • Apakah setiap bab/halaman sudah cukup deskripsi inderawinya? Apakah pembaca bisa merasakan apa yang terjadi secara fisik pada sang tokoh utama? Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, dirasa?
  • Terkait dengan poin pertama, apakah sang tokoh antagonis terlihat nyata? Apakah mereka memang jahat tanpa alasan, ataukah mereka mampu merenung pula selayaknya manusia biasa? Apakah mereka punya alasan kenapa menurut mereka tindakan jahat (atau yang berlawanan dengan nilai-nilai sang protagonis) mereka dapat dibenarkan?
  • Apakah sang penulis mampu membuat karakter-karakternya (baik protagonis ataupun antagonis) dicintai atau dikagumi oleh kita selaku pembaca?

F. Dialog

  • Apakah kata-kata yang meluncur dari mulut tokoh-tokohnya sesuai dan konsisten dengan kepribadian mereka?
  • Apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit dialog, menurut kita?
  • Apakah tokoh-tokohnya cenderung berbicara dengan monolog panjang? Jika ya, apakah hal itu terdengar wajar dan sesuai dengan konteks suasana atau kepribadian mereka? Apakah mungkin jika dipecah menjadi dialog-dialog yang lebih pendek?
  • Apakah kita sudah bisa merasakan konflik, perilaku dan niat dari tokoh-tokohnya melalui dialog tanpa sang penulis perlu menjelaskannya secara langsung?
  • Apakah dialog-dialognya mudah diucapkan, memiliki jeda yang cukup saat berbicara, dan tidak terkesan sebagai narasi biasa?
  • Apakah dialognya terlalu mirip dengan pembicaraan sehari-hari yang penuh dengan: “ …”, “… err …”, “… mmm …”, yang terasa mengganggu?
  • Apakah penulis menggunakan dialek kedaerahan yang terlalu kental, sehingga menyulitkan pembaca umum untuk membacanya?
  • Apakah setiap karakter sudah memiliki perbedaan/ciri khas gaya bicara, aksen, kata-kata yang biasa dipakai, dan bahkan panjang kalimat yang khusus, yang bisa membedakan degan karakter lainnya?
  • Di dalam pembicaraan, apakah kita bisa dengan cepat mengenali siapa yang sedang berbicara, tanpa harus diberikan keterangan?

G. Sudut Pandang (Point Of View)

  • Apakah setiap adegan dalam cerita sudah diceritakan melalui satu sudut pandang yang jelas? Di keseluruhan cerita, apakah terdapat terlalu banyak sudut pandang, ataukah memang sudah cukup pas?
  • Apakah sering terjadi pergantian antara penceritaan melalui sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga? Apakah perbedaannya bisa terlihat dengan jelas? Tak ada yang salah dengan hal itu, asal pembaca bisa mengenalinya dan tidak kebingungan.
  • Jika cerita diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga, apakah konsisten dengan sudut pandang orang ketiga Omniscient (serba tahu) atau Limited (pembaca hanya tahu motif dari tokoh pencerita, dan tidak tahu motif dari orang lain di sekitarnya, hanya bisa menebak melalui kata-kata dan tindakan mereka)? Ataukah justru penulis mencampuradukkan keduanya? Apakah menurut kita pilihan penulis sudah tepat?
  • Ketika terjadi perubahan sudut pandang di antara dua adegan, apakah kita bisa dengan cepat mengetahui siapa sudut pandang yang baru?

H. Show vs Tell

  • Ketika bercerita melalui sudut pandang seorang tokoh, apakah sang penulis sudah cukup berdeskripsi dengan apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba dan dirasakan tokohnya itu? Ataukah sang penulis hanya bilang: ‘barang ini bagus, makanan itu tidak enak’?
  • Apakah penulis cukup bisa menggambarkan tindakan/aksi tokohnya?
  • Apakah (di dalam narasi deskriptif terutama, bukan dialog) terdapat terlalu banyak kata-kata bermakna abstrak atau relatif seperti: sangat, sekali, benar-benar, bagus, jelek, cantik, ganteng—sementara deskripsi yang lebih detil bisa membuat ceritanya lebih menarik?
  • Apakah kita berhasil mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan gambaran suasana (show) atau merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh para tokoh—katakanlah saat mereka sedang capek? Ataukah penulis hanya memberitahukan (tell) bahwa sang tokoh ‘sekarang sedang capek’?

I. Penulisan dan Tanda Baca

  • Apakah format tulisannya mudah dan enak dibaca? Pertanyaan ini terutama ditujukan jika kita sedang membaca hardcopy naskah yang nantinya memang akan dikirimkan ke penerbit.
  • Apakah banyak terdapat paragraf (dan kalimat) yang terlalu panjang hingga menutupi hampir separuh halaman dan membuat lelah kita selaku pembaca? Bisakah paragraf-paragraf itu dipotong lebih pendek, tanpa mengabaikan tata cara penulisan yang baik dan benar?
  • Apakah kata-kata dan tanda baca yang dipergunakan mudah dibaca? Apakah terlalu banyak kesalahan penulisan EYD dan tanda baca?
  • Apakah terlalu banyak salah ketik/typos sehingga sudah sampai taraf mengganggu kita?
  • Apakah penulis terlalu banyak menggunakan tanda seru yang tidak perlu?
  • Apakah terlalu banyak ungkapan-ungkapan klise? Ungkapan klise masih wajar jika muncul dalam dialog, jika memang sang tokoh memang pas mengucapkan hal tersebut, namun sebaiknya dihindari dalam narasi atau deskripsi.
  • Apakah terlalu banyak adegan dan ungkapan melodramatis alias cengeng?

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

-rdv-