• Biarkan penulis tahu jika memang ceritanya bukanlah jenis favorit kita. Hal ini akan membuat mereka lebih memahami sudut pandang kita. Hal-hal yang tidak kita sukai di ceritanya bisa jadi justru hal yang menarik buat para pembaca di genrenya, yang pastinya akan menjadi pasar utamanya nanti.
  • Tapi, jangan takut untuk mengkritik, seandainya cerita tersebut berada di luar ‘area’ kita. Karena dalam soal penulisan, sebenarnya banyak aspek yang berlaku secara umum. Seringkali kritik terbaik justru kita dapatkan dari orang yang berada di luar genre kita.

  • Seperti halnya banyak membaca cerita lain untuk bisa membuat cerita kita lebih baik, kita juga harus banyak membaca kritik lain, supaya bisa membuat kritik yang lebih baik. Kita bisa belajar membuat kritik yang lebih obyektif dan komprehensif, tidak hanya yang bersifat subyektif dan personal.
  • Pertimbangkan target pembaca yang akan dituju oleh cerita tersebut. Apakah kita bisa tahu mengenai target pembacanya? Seringkali ini adalah pertanyaan pertama yang harus kita jawab sebelum kita memulai seluruh proses mengkritik. Supaya kita bisa menilai, di akhir cerita, apakah cerita ini memang cocok dengan target pembaca yang diinginkan oleh sang penulis. Setiap target pembaca tentunya memiliki ekspektasi yang berbeda-beda.
  • Jika kita memiliki pengetahuan/pengalaman yang terkait dengan materi cerita yang kita baca, jangan ragu untuk menyampaikannya pada sang penulis. Berikan masukan secara langsung, atau berikan pula link/sumber bacaan tentang topik tersebut, jika ada.
  • Perbedaan cerita pendek dan novel, yang patut dipertimbangkan pula dalam mengkritik.
  • Dalam cerita pendek, efisiensi sangatlah penting, dan setiap kata haruslah berarti. Maka, apakah terdapat kata, kalimat atau paragraf yang tidak berkontribusi secara penting pada plot, dan seharusnya bisa dibuang?
  • Apakah terdapat terlalu banyak subplot? Dalam cerita pendek, satu buah subplot sudah cukup, dan dua atau tiga seringkali terlalu banyak.
  • Apakah sang penulis menggunakan banyak flashback? Secara umum di cerita pendek penggunaan flashback haruslah dipertimbangkan matang-matang apakah perlu atau tidak.
  • Sementara di novel, kita memiliki lebih banyak ruang untuk menggambarkan ekspresi, dialog, detail deskripsi, emosi, dan lain-lain.

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

-rdv-