Dulu, saya sempat berpikir, bagaimana jika seandainya Kaum Penyihir benar-benar ada. Apa yang akan terjadi dengan mereka di kehidupan nyata, mengingat mereka punya kemampuan yang di atas rata-rata–kalau tidak mau disebut luar biasa–terlepas dari mana kekuatan sihir mereka berasal.
Apakah seperti yang terjadi di abad pertengahan–diburu untuk dibunuh? Atau justru jadi kaum superior yang menakutkan, yang berdiri di atas semua penguasa dan masyarakat yang tidak ingin kena kutukan? Saya cenderung memikirkan opsi kedua. Lebih logis.
Dan opsi kedua itulah yang saya temui di The Magician Guild. Kisah yang berupa trilogi ini mengambil setting negeri khayalan penulisnya–Trudi Canavan–tepatnya di kota Imardin, di mana para Penyihir memiliki perkumpulan eksklusif yang bahkan Sang Raja pun boleh dibilang tidak berani macam-macam pada mereka. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kaum penyihir diikat sumpah setia pada negerinya.
The Magician’s Guild berbicara tentang dunia dengan setting buatan Canavan, yang diawali dengan cerita di salah satu kotanya, Imardin. Di kota ini ada berbagai lapisan masyarakat: para bangsawan, para penyihir, kaum pencuri dan orang-orang miskin (yang dipandang hina).
Sihir di Imardin berfungsi di banyak hal. Mereka yang berbakat, kebanyakan dari keluarga terhormat, akan direkrut (atau mendaftarkan diri) ke sebuah universitas sihir yang bergengsi, sejak usia dini. Setelah lulus akan bekerja untuk Raja sesuai dengan spesifikasinya masing-masing–Penyihir Ksatria, Penyembuh, atau Alkemis, dengan status tinggi dan berhak dipanggil dengan gelar Lord dan Lady. Setiap ‘jenis’ penyihir ini memiliki satu ketua, dan dari keseluruhan Persekutuan ada satu orang pemimpin yang disebut Ketua Tertinggi.
Semua berawal dari pengusiran para kaum miskin dari –katakanlah–pusat kota Imardin karena suatu sebab, dan Kaum Penyihirlah yang berbaris di lini depan untuk menyelesaikan tugas ini. Protes dan demonstrasi terjadi, yang berujung pada tindak kekerasan pelemparan batu kepada para Penyihir, yang membuat tabir pelindung tak kasat mata untuk melindungi diri. Salah satu gadis miskin, Sonea, melempar sebuah batu dan ternyata ia mampu menembus tabir tersebut, membuat seorang penyihir terjungkal dengan kepala berdarah tanpa sengaja. Sonea ternyata punya bakat sihir alami! Sejak saat itu, Sonea jadi buronan.
Ia lari bersama sahabatnya Cery, meminta perlindungan Kaum Pencuri yang dengan senang hati menerima seorang penyihir di kalangan mereka (untuk kelak bisa dimanfaatkan). Dimulailah pelarian Sonea. Ia berpindah-pindah tanpa henti, selalu ketakutan. Ia mulai mempelajari sihir barunya dan selalu berakhir dengan kegagalan, membakar atau memecahkan perabotan di sekitarnya. Sonea cemas karena ia bisa saja membunuh seseorang tanpa sengaja karena ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Ia terus berusaha berlatih, tanpa guru.
Sayangnya, semakin banyak Sonea menggunakan sihirnya, semakin mudah para penyihir mendeteksi keberadaannya. Ia tertangkap, dipindah ke Persekutuan dan terpaksa tinggal di sana bersama Rothen, seorang Alkemis. Di luar dugaan, para penyihir tidak berniat membunuhnya, bahkan sebaliknya. Kekuatan Sonea ternyata sangat besar dan kalau tidak bisa dikontrol akan membawa bencana baik bagi Imardin, maupun dirinya sendiri. Ia diberi pilihan, mau belajar sihir di Universitas dan menjadi bagian dari Persekutuan yang sangat dibencinya, atau pergi dengan sihir yang tersegel dan takkan pernah bisa digunakannya lagi.
Secara keseluruhan, saya menemukan ‘rasa’ baru dalam novel fantasi. Canavan meramu The Magician Guild dengan ramuan yang berbeda dari tipikal novel fantasi yang biasanya. Proses pembacaan pikiran dengan sihir misalnya (semacam telepati), digambarkan dengan detil dan unik, tetapi logis. Canavan juga memasukkan sedikit unsur politik dan sosial ke dalam novel ini, membuat ceritanya jadi tidak biasa.
Sayangnya, masih terasa datar. Emosinya kurang tergarap, entah memang gaya Canavan seperti ini atau pengaruh penterjemahan naskah. Deskripsinya bagus, bahkan terasa terlalu banyak di beberapa bagian, sehingga tempo pembacaan menjadi lambat.
Plotnya masih belum terasa gregetnya, bahkan sampai di halaman terakhir saya masih belum merasa puas. Setelah dilihat-lihat ternyata memang bagian pertama dari trilogi, barulah saya maklum. Ada twist menarik di akhir cerita, meninggalkan saya sedikit penasaran dengan kelanjutannya, tapi kalau dinilai secara keseluruhan saya tidak terlalu menantikan. Seri keduanya sudah ada di toko buku.

Desember 25, 2008 at 9:08 pm
review yang menarik..
bolehkah saya tautkan blog ini di blog saya?
salam,
Maret 20, 2009 at 4:42 pm
i love love this book! sudah bacakah yg buku lanjutannya? (the novice & high lord). even better!