APPOLYON
George D. Farmer
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
APPOLYON
George D. Farmer
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 11:51 am
Aggh! Freaaakkk!!!
Berasa main game horor! Yah, memang bener banget kalo genre fantasi gak cuma sekedar jaman medieval, sihir, pedang, dan monster, tapi setahu gw sangat jarang ada yg mengolahnya jd horor/thriller gini.
Mgkn ada bakat jd penulis skenario game horor?
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 8:25 am
daripada skenario game, target gw mah novel horor deh
jelas, masih jauh sampai gw bisa ke tahap itu. lha ini baru belajar
Agustus 24, 2010 at 7:34 pm
Aaaaah gilaaaak horor-absurd-depresi giniii
parah.suasana dikejar suatu (atau banyak) makhluk yg g dikenal.diserbu segambreng orang.dan d akhirnya kayak terjangkiti sebagaimana orang” tersebut juga gitu.jadi penasaran apa si Appolyon ini dan dimana dia berada.makhluk apa yg ada d mimpinya?
dimulai dengan misterius mencekam dan diakhiri dengan misterius tragis
nice one! semoga gw g mimpi buruk malem ini.haha
Agustus 26, 2010 at 8:26 am
thanks for the comment
tapi malah saya maunya situ dapat mimpi buruk tuh
Agustus 24, 2010 at 8:44 pm
Jujur aja, endingnya buat gua pribadi SUCKS karena endless loop gini XD
Tapi, dangit! Gua nggak bisa menyangkal ini salah satu horor dengan ending “Euh…” yang paling memikat.
Dan kenapa saya kebayang Demon Abaddon ya…?
Agustus 26, 2010 at 8:28 am
jadi endingnya memikat dan sucks di saat bersamaan ya
yah, itulah. sampai sejauh ini kalo horror dengan format diary, gw selalu mengakhiri dengan protagonisnya antara mati atau gila. harus mikirin gimana caranya biar lebih variasi
Agustus 28, 2010 at 9:44 am
Lebih karena gua pribadi kan pecinta ending bagus, Dude
Walau gua bisa menolerir ending bitter juga, yang macam ini mah namanya Endless Loop kan? Nggak tahaaan ^^;;;
Cuma, yap, ini memikat, layak dibaca ulang. Terutama karena sampai akhir itu makhluk apaan nggak jelasss XD
Agustus 25, 2010 at 12:48 pm
Hoo, lagi-lagi cerita yang jenisnya enggak disangka. Enggak nyangka bakal nemu nuansa Lovecraftian lagi dari penulis Indonesia di hari yang sama!
Menurutku suasananya terbangun dengan kuat sejak awal-awal. Tapi penceritaannya agak mulai goyah menjelang sepertiga akhir. Efek keterbatasan jumlah kata?
Tapi cerita ini beneran menarik kok. Masih ada beberapa saltik. Tapi ceritanya beneran menarik.
(btw, yang kebayang di kepalaku juga Abaddon)
Agustus 26, 2010 at 8:30 am
Lovecraft ya. gw pakai konsep monsternya sih
monster kosmis dia kayak Cthulhu dll kan biasanya terlalu mengerikan untuk dapat dipahami manusia. gw tertarik sama ceritanya dia, udah dapat link cerpennya juga. tapi belum baca. sejauh ini cuma baca ringkasan2nya di wiki
kalau kata gw sih, penceritaannya goyah di 1/3 akhir karena protagonisnya juga mental dan kondisinya udah merosot di sana. tapi, yeah, gw harus memikirkan cara untuk menyajikan itu dengan lebih baik nanti.
thanks for the comment
Agustus 25, 2010 at 5:33 pm
Pertama-tama, cerita gaya diari ini hebat! Unik cara penceritaannya, tapi kemampuan mendeskripsikan adegan dan segala macamnya sama sekali ga berkurang. Memang kelemahan yang paling jelas terlihat adalah, ga ada deskripsi karakter, tapi itu ga masalah. Imajinasi bisa ngurus sendiri.
Aku suka dengan plot cerita yang berawal dari kehidupan damai sampai ke masa2 tegangnya. Bener2 ngerasa ngikutin semua perubahan karakter, dan juga kengeriannya waktu dia terperangkap sendirian di tengah kota, mesti ngelawan semua orang yang ga bisa mati.
Sedikit bersyukur ini ditulis pake gaya diari, kalo pake deskripsi narasi ala novel biasanya, aku pasti udah ketakutan dan ga berani ngelanjutin baca. XD
Bagian paling nyeremin waktu ada tulisan2 aneh di diarinya. Something’s out there, tapi kita ga tau siapa dan apa efeknya ke kita, sampai akhirnya terlambat. Love the ending too.
Salah satu kandidat cerita favorit nih!
Agustus 26, 2010 at 8:32 am
hoo, bagus deh kalau suka. sempat khawatir formatnya bisa bikin keki orang. kalau deskripsi, di versi awal gw sempat masukin…sampai gw menyadari kalau hampir nggak mungkin orang ngedeskripsiin orang yang sudah lama dia kenal di tengah2 buku hariannya.
thanks for the comment
Agustus 26, 2010 at 9:50 pm
hyaa seraaam
moga2 ga mimpi buruk abis baca cerita ni ><
keren, mantap!
Agustus 26, 2010 at 9:54 pm
ah, dude. thanks for commenting
Agustus 27, 2010 at 1:55 pm
Ceritanya insane! Pertamanya nggak tau ceritanya mau dibawa kemana. Pas udah nyampe ke Appolyon & ketemu sama penduduk dengan ramah-tapi-mencurigakan-banget, gw jd inget adegan di film/game horor thriller… Dan ternyata bener, Appolyon itu kota aneh! Terus akhirnya sucks banget (minjem kata2nya Oyabun) begitu >..< Tiada dialog, isinya narasi semua *_* (dr dulu nggak suka sama cerita yg nggak ada dialognya sekali, tp nggak suka jg sama cerita yg isinya dialog semua)
Kalo cerita ini ditulis ulang pake format biasa (dialog-narasi-deskripsi) kayaknya bakal lebih mantep nih. Fufufu…
Agustus 27, 2010 at 2:14 pm
ah, thanks for the comment. memang lebih mantap kalau formatnya dinormalkan sih, tapi jumlah halamannya bisa melonjak sampai bisa jadi buku sendiri XD
Agustus 27, 2010 at 2:18 pm
Iya sih
Format diari aja udah panjang banget, gimana kalo format normal XD Anggep aja yg versi diari ini promosi buat Appolyon the novel XD
Agustus 27, 2010 at 9:28 pm
George, ceritamu makin lama makin freak aja. Mantab!!!!
Agustus 27, 2010 at 9:30 pm
ini masih belum maksimal. gw usahain buat ningkatin nanti deh
Agustus 27, 2010 at 10:12 pm
catatan-catatan sebelum mati + mantra kegilaan yang ada di pesan + lupa makan + lupa tidur + terdorong untuk bunuh diri + kegilaan yang juga mencoba menarik pembaca ikut menjadi gila = appolyon
dan menurut saya, karakter utamanya itu jangan-jangan memang gila dari awal, dia membunuhi yang lain dengan alasan “logis” yang menurut saya, sebenarnya bisa jadi halusinasi
tidak bisa berkomentar. tidak bisa. tidak bisa. tidak bisa. berkomentar. berkomentar. harus komentar. harus bisa. harus. a-apa? a..ppolyon? *pura2 gila*
Agustus 29, 2010 at 3:50 pm
oh iya, itu bukan lupa makan dan lupa tidur lagi sih sebenarnya.. tapi GAK BISA MAKAN DAN GAK BISA TIDUR. haaha
makan.. makanannya dingin, mimpi.. mimpinya buruk. puas dah tuh kena gangguan kegilaan, haaha.
Agustus 27, 2010 at 10:46 pm
permainan kata yang powerful, tidak terlalu banyak deskripsi dan membuat pembaca bisa merinding sendiri. kalimat2nya efektif, dan endingnya oke (pecinta bad ending). lovecraft sekali, dengan suasana kota bawah tanahnya (jadi keinget komik uzumaki juga sih+resident evil)
cukup buat bikin merinding malam ini
)
Agustus 28, 2010 at 7:46 pm
mencoba mengomentari *masih menggigiti kuku dari kemarin*
Iri rasanya sebuah Format diari yang minim deskripsi tapi bisa menjalin gambar di otak pembaca.
dan benar setelah membaca ini langsung segera merasakan insting tidak tertahan untuk pergi ke kamar kecil. tapi malah takut ke sana. jangan-jangan diculik ke tempat Aneh!
That’s it, Peace out
Agustus 30, 2010 at 3:57 pm
Wah
Formatnya jurnal
Horornya enggak ketebak
Deskripsi tokoh utamanya sangat alami dan mengalir
Gak bisa brenti baca
Ketegangan yang semakin lama semakin mencekam
Crescendo
Kesintingan
Amukan
(Zombie?)
Bad Ending
Mantab! Cerita horor favorit nih, good job!
September 7, 2010 at 12:20 am
btw, selamat udah jadi juara kedua!
istilah buat makhluk semacam itu Eldritch Abomination bukan?
terus pesan2 cryptic itu rasanya seperti…pesan elektronik dari alien yah…
September 7, 2010 at 8:37 am
ah, thank you
benar, itu makhluk disebutnya Eldritch Abomination. itu istilahnya Lovecraft kan
)
kalo pesan2 cryptic itu…well…anggap saja itu salah satu sentuhan antik dari si makhluk
September 7, 2010 at 12:11 pm
oh, istilahny dri Lovecraft y? aku nemu istilah t di tvtropes.org, yang klo g salah mendeskripsikan makhluk yg ‘terlalu mengerikan untuk dicerna otak manusia’.
jdi mau baca karya2 Lovecraft, heheheh
sentuhan antik? wkwkwk
ni judul buat gameny
Silent Hill: Appolyon
wakakakak XD
Agustus 31, 2010 at 1:14 pm
Gilaaak!!!
Halte busway gw hampir kelewatan gara2 gw terhipnotis baca cerita ini!!!
SERASADIPANGGILSERASADIPANGGILSERASADIPANGGIL
SERASADIPANGGILSERASADIPANGGILSERASADIPANGGIL
SELAMATDATANGSELAMATDATANGSELAMATDATANG
SELAMATDATANGSELAMATDATANGSELAMATDATANG
TIDAKADAYANGBISAKAULAKUKANTIDAKADAYANGBISAKAULAKUKAN
TIDAKADAYANGBISAKAULAKUKANTIDAKADAYANGBISAKAULAKUKAN
Untung gw masih sempet sadar tujuan hidup gw…
*terlalu mendramatisir, xD*
Eniwei, this is good.
Nope.
This is REALLY good!
Cuma satu hal yg janggal buat gw, georgie…
Pas menjelang ending kan kondisinya udah genting banget tuh, kok bisa2nya si tokoh utama masih sempet nulis2 di buku gitu?
Habis nembak… DOR!… Ngg… nulis dulu aaah…
Hehe, kalau gw ngerasanya sih lebih gampang kalau misalnya diari ini bentuknya semacam jurnal audio (mirip captain’s log di Star Trek).
Atau mungkin diari ini formatnya memang lebih modern gitu? Jadi enggak harus ditulis secara konvensional?
Agustus 31, 2010 at 2:13 pm
nggak, itu emang notes. cuma dia emang punya kebiasaan aneh buat nulis setiap saat, buat reality check, buat memastikan yang terjadi ini beneran bukan halusinasinya dia XD jawaban udel
yeah, kayaknya lebih cocok audio recording sih
atau menggunakan pendekatan lain buat penggambaran adegannya. tapi yah, sudahlah. ini terpaksa minta suspension of disbelief deh XD
Agustus 31, 2010 at 2:34 pm
ahahay, ya udah, suspension-nya diterima karna ini memang a nice piece of work
mungkin bisa jadi pertimbangan aja kalau mau dibuat novelnya
Agustus 31, 2010 at 8:36 pm
sedikit bertanya2 soal inkonsistensi pengkalimatan.
kadang dengan kalimat pendek (kata kerja tanpa imbuhan), kadang ditulis lengkap dgn imbuhan. kadang tanpa ‘ku’, kadang dengan ‘ku’.
agak terganggu membacanya krn sambil menyelami cerita, harus bertanya2 dgn kalimat2 itu.
ceritanya keren. horornya terasa pas bagian akhir.
suka bgt end-nya krn konfliknya klimaks (walaupun aku pribadi sedikit sedih krn tdk happy ending)
Agustus 31, 2010 at 9:03 pm
oh, itu. perbedaan gaya nulis itu berhubungan sama mood/kesibukkan si tokoh utama kan ;D
tapi kayaknya memang harus lebih dikemas dengan baik. thanks for the comment
Agustus 31, 2010 at 9:19 pm
asal gk blg ‘berhubungan dgn mood/kesibukan si penulis’. ehehe…
Agustus 31, 2010 at 9:20 pm
boleh nebak? idenya dari silent hill dan resident evil ya? hehe
Agustus 31, 2010 at 9:21 pm
lebih ke Silent Hill
selain itu datangnya dari creepypasta sama cerita2 horrornya E.A Poe.
September 1, 2010 at 12:24 pm
salah satu jagoanku menang
selamat ya
September 1, 2010 at 9:27 am
*daftar jadi fans barunya georgie* :”>
September 1, 2010 at 11:23 am
waduh, nggak tau harus ngomong apa deh XD saya ini mah masih harus ngembangin skill dulu deh sebelum pantas punya fans
September 1, 2010 at 11:19 am
keren..
ketegangan dibangun mulai dari awal. kalimatnya sederhana tapi dengan gaya diary yg detail banget dan runtut.
dengan ‘menyimpan’ si monster di ending bikin gw penasaran plus pingin protes hehehe..
ya, menurut gw lebih deket ke Silent Hill.
Oh ya, ‘arc timbre’ itu apa ya??
September 1, 2010 at 11:22 am
Arc Tembre? itu nama bulan kedelapan menurut penanggalan di dunia ini.
September 1, 2010 at 1:19 pm
Aduhhh… keren banget! Ketegangannya udah kerasa dari awal (walaupun suasananya masih damai) dan terjalin rapi jali sampai akhir cerita.
Walaupun ga ada dialog tapi menurutku karakterisasi masing-masing tokoh di sini tergambar dengan jelas.
Bagian tengah ceritanya juga bikin aku merinding, kayak menanti adegan horor yang pasti bakal muncul, tapi ga tau kapan…
Merinding waktu baca soal grafitti itu. Ihhh….
Hmm, waktu masuk ke bagian aku duduk di kafe setelah menembaki penduduk kota, aku ngerasa agak jumpy. Suasanya horornya jadi agak… berjarak kayaknya. Mungkin bisa diselipin adegan yang nunjukin kenapa tokoh utamanya nembak penduduk di sana? Misalnya, dia deketin salah satu penduduk kota terus dia tanyain macem-macem, tapi penduduk kotanya senyum aja. Dimarahin senyum aja. Diteriakin senyum aja. Diguncang-guncang senyum aja. Dipukul ampe jatuh senyum aja…
Arrgghh, otak ikutan korslet!
Baca ini kayak nonton The Village karya Shyamalan digabung ama Clover Field pake bumbu The Ring…
*merinding sendiri*
September 7, 2010 at 8:39 am
ah, thank you
kerasa ke-skip ya
itu memang ditargetkannya dia itu sempat nggak nulis sampai dia ngeliat jalan putar2 dan keanehan di kota. baru nulis lagi waktu dia berserk, buat mempertahankan kewarasannya.
tapi ya, gw coba haluskan dikit deh itu
September 7, 2010 at 4:09 am
Selamat kemenangannya
Cuma…kenapa ya..setelah baca ulang, kok mendadak terbayang ada orang pirang (bisa ce bisa co) yang tidak akan puas dengan keberadaan makhluk ini dan akan campur tangan secara nggak langsung ya ^^;;;;;
September 7, 2010 at 8:40 am
itu makhluk mungkin ada. tapi wujudnya gw rasa nggak akan persis begitu kok