BOCAH SERIGALA DAN ISYARAT-ISYARAT API
Jaladara
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
BOCAH SERIGALA DAN ISYARAT-ISYARAT API
Jaladara
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 4:00 pm
Cerita yg menarik. Nama-namanya mengingatkan pada Hiawata, jaman baheula. Indian style.
Great work!
Agustus 27, 2010 at 9:50 pm
Hiawata? saya malah gak tahu tuh. hehe.
.. hanya berusaha menulis fantasi dengan nuansa yg lain, dgn nama-nama yang sangat tidak fantasi..
eniwei, thanks..
Agustus 28, 2010 at 9:12 pm
Hiawata? saya malah gak tahu
thanks apresiasinya
Agustus 24, 2010 at 4:03 pm
Nampaknya ini satu2nya cerita yg saya baca dr tadi yg ada gambar ilustrasinya.
Ilustrasinya bagus, btw (entah apa kata org lain, mnrt saya mah bagus).
Bagian yg mnrt saya agak mengganjal di cerita ini justru kemampuan si tokoh utama dengan serigala.
Itu elemen plg fantasi, yep, tidak dipungkiri lagi, tapi rasanya kemampuan itu datang out of nowhere. Mungkin memang itu kemampuan yg datangnya dari sejak lahir, krn si tokoh utama adalah “orang terpilih”, tapi rasanya sekedar kyk gitu kok gak cocok ama penceritaan yg bisa detail sampe jauh ke “mitologi” bangsa di dlm cerita ini.
Kira2 gitu aja.
Untuk segi lain, teknis menulis, dst, saya tidak melihat ada yang perlu dikritik atau dikomentari.
Hehe.
Agustus 27, 2010 at 9:56 pm
makasih kritikannya, kawan.
bingung juga sih sebenarnya mau nempatin elemen fantasi dalam cerita ini sampai sejauh mana. saya pun merasa masih kurang dalam menggarap kemampuan si bocah dalam memahami bahasa serigala..
tapi, kadang ada satu titik dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik awal bagi banyak hal hebat yang akan terjadi. nah, dalam cerita ini, titik itu adalah ketika sang bocah menyelamatkan serigala di bibir jurang.
Agustus 28, 2010 at 9:20 pm
terkadang, ada satu titik dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik awal segala hal-hal hebat yang akan terjadi kemudian. Nah, dalam cerita ini, titik awal itu saya bayangkan ketika si bocah menolong serigala. jadi, sebelumnya memang dia tidak memiliki kelebihan apa-apa.
makasih kritikannya, teman. salam ^_^
Agustus 24, 2010 at 8:10 pm
“Lucuuuuuuu!!” Mongku menjerit histeris. “Coba kau lihat ini Barnabas! Cerita ini ada gambarnya!! Lucu ya?”
Barnabas mengangguk. “Ceritanya juga keren. Aku suka cerita yang intinya adalah menolong sesama binatang, ng.. manusia.”
“Aku suka cerita ini.” kata Mongku
“Aku juga.” tambah Barnabas
Agustus 27, 2010 at 10:00 pm
“masa? ah, kau berbohong mungkin,” kataku. “pasti kau hanya sedang ingin membuatku senang saja. huh.”
kau menggelengkan kepalamu tanda tak setuju. “Tidak, Dara. ceritamu memang lucu. aku suka.”
“Heu? kok lucu? berarti jelek ya?” tanyaku cemberut.
“Bukan lucu yang berarti jelek.”
“Lantas?”
“Aku suka ceritamu.”
“Makasih.”
^_^
Agustus 28, 2010 at 9:17 pm
“heu? masa?” kataku tak percaya. “kau pasti hanya pura-pura menghiburku ya?”
“Bukan. Ceritamu ini memang lucu,” balasmu.
“Lucu? Jelek ya berarti,” tanyaku.
“Bukan. Bukan lucu yang berarti jelek. Tapi lucu yang berarti keren. aku suka ceritamu,” katamu.
“Beneran?” tanyaku.
“Bener.”
“Kasih kritikan dong.” Aku meminta
“Hmmm… apa ya?”
“Ayolah..”
^_^
Agustus 25, 2010 at 6:19 am
Ada satu kalimat yang sulit diterima akalku: “Dalam kepercayaan suku, pada awalnya seluruh dunia adalah laut.” Bukankah ini suku di gunung? Bagaimana mereka bisa punya orientasi kebudayaan dari laut? Dalam kajian kebudayaan ini tidak masuk akal, karena suku yang berdiam di gunung akan lebih animisme/dinamisme. “Kekuatan” yang mereka yakini harusnya berada di sekitar mereka, dan itu butuh proses bertahun-tahun sebelum menjadi kepercayaan umum.
Alasan yang paling mungkin adalah mereka awalnya adalah suku yang bermukim di delta sungai. Tapi masih sulit bagiku membayangkan kenapa suku ini berpikir untuk naik ke gunung. Maaf, tapi aku tidak melihat hubungan sebab-akibat yang kuat di sini
“Sepanjang sejarah, tidak pernah terjadi pertumpahan darah atau peperangan antar suku.”
Hah? Serius? Bagaimana mungkin? Jadi bagi mereka semua suku adalah keluarga yang tidak perlu dicurigai? well, yang perlu digarisbawahi, antar suku itu selalu ada persaingan. Yang benar saja ada kepala suku yang mau dianggap lemah dan tidak berani—Hei, mereka ini suku pemburu dengan nama-nama garang!
Lalu kalimat lanjutannya yang berkata ada “padang” di dekat situ yang tidak pernah diekpslore…. what? serius lah, ini suku pemburu atau bukan? kok kayak petani ladang yang hidup menetap?
Jujur, aku tertarik dendengan konsepnya, sampai kemudian kamu sendiri yang meruntuhkan konsep itu dengan memberi logika paradoks yang bertebaran di mana-mana.
Soal gunung meletusnya, aku penasaran kenapa mereka tidak punya cerita rakyat soal itu. Gunung berapi punya siklus, setidaknya sebelumnya pasti pernah meletus. Sekedar informasi, tahu tidak bahwa semua kebudayaan di dunia memiliki cerita rakyat serupa tentang “banjir besar”? Nah, itu umurnya hampir sama tua-nya dengan peradaban manusia, tapi cerita itu masih kuat.
Ketika baca ceritamu, aku lebih fokus memahami maksud motif latar belakang-nya, lebih dari pada cerita ini sendiri. Seringkali aku bertanya-tanya, “apakah ini mungkin?” Soalnya banyak yang bertentangan dengan yang selama ini aku pelajari di kampus.
Agustus 25, 2010 at 10:42 am
Hoo. Aku sendiri nangkepnya nenek moyang mereka bermigrasi dari tepi pantai dan berpindah ke gunung. Kepercayaan mereka diajarin secara turun-temurun seiring dengan perkembangan geografis yang dialami bumi. Makanya pas aku baca sih, aku enggak ngerasain itu sebagai suatu hal yang ga wajar.
Soal kenapa ga pernah ada perang suku. Kurasa itu karena mereka masyarakat yang beradab aja. (ya, ya. lebih beradab dari zaman sekarang) Dengan kehidupan sederhana yang semuanya jalani, keselarasan seperti itu kurasa bukan sesuatu yang enggak mungkin buat diwujudkan.
Soal gunung meletus, kurasa aku sedikit setuju. Ketiadaan cerita rakyat dan keyakinan mereka ama Roh-Gunung ngindikasiin kalo mereka bukan suku nomaden. Tapi di waktu yang sama, mereka juga belum mengenal soal bertani. Aku ngeliat ini sebagai sesuatu yang sangat menarik.
Tapi kalo soal kapan gunung meletus, aku malah mikirnya tuh gunung semenjak awal emang ga aktif. Atau malah dipandang keramat sehingga bahkan enggak diketahui kalo itu gunung berapi.
Agustus 25, 2010 at 10:34 am
Menurutku ada kemungkinan sangat besar cerita ini bakal menang. Narasinya bagiku luar biasa.
Agustus 27, 2010 at 10:04 pm
amin. wish me luck
Agustus 28, 2010 at 9:24 pm
makasih, alf (bener gak manggilnya?)
wish me luck..
Agustus 25, 2010 at 10:53 am
overall, nice banget
adegan demi adegan kebayang jelas =)
tapi, ada bbrp yg aq mau tanya:
1. di bagian menjelang akhir ada pernyataan:
Sebuah bahasa yang tak pernah ia dengar sebelumnya, tapi ia mampu memahaminya.
di awal cerita ada adegan seseorang menyelamatkan serigala dan sempat berbicara ama serigala itu. itu ayahnya (gagak) atau tokoh utama (serigala)
“Ayahnya, Cakar-Gagak-Membelah-Gunung termasuk pemburu handal, satu di antara pemburu-pemburu terbaik di sukunya. Dia tidak terlihat memiliki kelebihan yang menonjol dibandingkan dengan anak-anak seusianya; sampai suatu ketika pada usianya yang kesebelas saat dia tengah berlatih berburu bersama sekelompok lelaki dewasa, dia menyelamatkan seekor anak serigala yang terperangkap di dinding jurang.”
lalu ada pernyataan :
“Satu persatu para pemburu menarik anak serigala dan bocah itu ke atas. Saat mereka hendak melanjutkan perburuan, dari semak-semak di dekat mereka, muncul induk serigala dengan beberapa anaknya. Induk serigala itu melolong lirih, memanggil anaknya yang berada dalam gendongan seorang bocah. Cakar-Serigala-Memecah-Bulan segera melepaskan anak serigala itu, membiarkannya bergabung kembali dengan induknya.”
2. adegan berikut sepertinya aga janggal :
“Seekor serigala mendadak melompat ke arahnya. Bersamaan dengan itu, sebatang anak panah melesat ke arah serigala tersebut namun meleset dan mengenai tanah. Cakar-Serigala-Membelah-Bulan melambaikan tangan ke arah gerbang perkampungan, memberi tanda agar orang-orang menahan anak panahnya. Pemburu muda itu berjongkok dan menekuk satu lututnya ke tanah, menyambut serigala yang dicarinya. Serigala itu melolong-lolong seperti tengah menyampaikan sesuatu kepadanya.”
ok, serigala menerkam dan panah melesat ini, seharusnya, terjadi sangat cepat. tetapi pemburu muda itu sempat memberi isyarat (melambai2) dan setelah itu masih sempat menghindari berjongkok dan menghindar
i don’t know, tapi sepertinya split second banget dan ga sempat melambai2 XD
well cuma share aja. no offense
“kritik itu mudah, seni itu sulit” =)
Great job, nonetheless!
Agustus 25, 2010 at 1:57 pm
Emm… gimana ya? Cerita ini termasuk cerita unik buatku, karena cerita ini lumayan bagus, tapi di saat yang sama aku juga ga seberapa suka.
Pertama-tama aku suka nama2 indiannya, apalagi nama itu keliatan kalo punya pola jadi ga sekedar asal ambil gitu aja. Tapi di saat yang sama nama indian itu terlalu panjang, jadi agak sedikit kerasa mengganggu waktu aku mbaca nama karakter pake nama lengkapnya terus2an. Lebih bagus kalo ada semacam nama panggilan ato sebutan lain untuk tiap karakter, biar lebih enak dibaca.
Trus, soal mitologinya. Aku ga akan protes sebanyak Kuro, dia lebih tahu soal mitologi daripada aku, tapi buatku terasa sedikit terlalu panjang dan ga seberaa jelas maksudnya ke cerita. Apa maksudnya mau njelasin asal muasal danau air mata? Ato soal dewa gunung? Karena menurutku ga perlu sampe ada narasi sepanjang itu buat njelasin sesuatu yang ga berhubungan langsung sama cerita.
Dan, sekali lagi aku sependapat sama Kuro. Bangsa yang hidup dengan cara berburu, itu pasti bangsa nomaden, karena binatang buruan bisa habis seiring dengan waktu dan mereka harus pergi mencari tempat buruan baru. Tinggal terlalu lama di satu tempat, tanpa punya pikiran untuk menjelajah daerah baru, rasanya aneh buat suku semacam ini. Apalagi pas tau mereka ga pernah perang. Apa mereka ga pernah berebut buruan sama suku lain?
Teknik bercerita, ga seberapa jelek lah. Aku cuma nemu beberapa kesalahan eja sama kata yang terkesan terlalu banyak diulang. Secara keseluruhan, not bad lah.
Agustus 25, 2010 at 5:08 pm
Cerita yg bagus dengan nama tokoh2 yg keren (walaupun kadang terasa kepanjangan).
Adegan yg paling menyentuh buat saya adalah ketika tokoh utamanya dijadikan persembahan. Seandainya berada di posisinya, pasti saya sudah kabur duluan sebelum dikubur :p
Oh ya, saya suka penjelasan tentang kepercayaan sukunya. Nice
Agustus 25, 2010 at 10:23 pm
Pertama-tama saya tertarik sama judulnya.
Serigala dan isyarat api itu mengingatkan saya pada salah satu cerita anak dari ensiklopedi yang pernah saya baca waktu kecil.
Cerita jadul tersebut punya beberapa kemiripan juga dengan karya jaladara ini, misalnya :
Seingat saya, ceritanya tentang asal mula mengapa ujung2 kaki dan ekor rubah berwarna hitam. Konon katanya, rubah menolong seorang anak dengan membawa obor api di mulutnya dan berlari untuk memberi isyarat pada penduduk desa. Asap dan jelaga membuat ujung2 hidung, kaki, dan ekornya berwarna hitam.
Seingat saya juga, setting ceritanya masyarakat sebangsa Indian dan tinggal di pegunungan.
Karena mirip-mirip inilah jadi terbawa nostalgia dengan kisah yang saya sangat suka waktu kecil dulu.
Saya suka cerita ini.Karya yang menarik. Semangat terus ya
Agustus 27, 2010 at 10:04 pm
wah, sepertinya saya harus mencari dongeng rubah itu. eniwei, bukan dongeng rubah dan gadis kerudung merah kan?
saya suka sekali dongeng-dongeng.. mau dong didongengin dongeng rubahnya..
Agustus 26, 2010 at 11:14 am
keren. aku suka yang ini. romansa pemuda dan seekor serigala adalah salah satu konsep yang kusuka dari cerita fantasi. aku sendiri juga memakai konsep itu untuk novelku.
Agustus 26, 2010 at 9:04 pm
hehe keren sih ceritanya
tapi berhubung ni cerita ada penjelasan latar dunia ama mitologinya jadi setuju ama pendapat kk kuro
saya juga ngerasa janggal baca bagian itu
soalnya kayaknya di cerita ni sukunya terkesan terpencil banget gitu (ato mungkin gara2 kebayang indian mulu?)
tapi klo gunung berapi kayaknya masih bisa de
bukannya orang2 pompeii sana juga g tw vesuvius itu gunung berapi sampe gunungnya meletus ya? klo g salah emang g ada kata gunung api di bahasa mereka, jadi mungkin2 aja kayaknya suku gunung ga punya cerita ttg gunung api
ah tumben saya banyak omong (kuncimulut)
hehehe
Agustus 28, 2010 at 4:07 pm
err…yah, cerita suku hutam dalam yang kedua, dan masih bernuansa Chronicles of Ancient Darkness, walau lebih banyak narasi, deskripsi, dan jarang dialog (yang cukup bagus).
Suka tokoh2nya, serigala, sukunya, dukunnya (eh, maksudku ramalannya), alamnya, dan terutama kisah awal mula penciptaan dunia; itu bagian favoritku.
Walau, lagi-lagi, rasanya seperti potongan prolog sebuah novel, hahahah… XP
Agustus 28, 2010 at 9:35 pm
hehe.. aku menunggu komen ini.
yup. inspirasinya memang dari Torak.
semoga cerita ini bener2 bisa menjadi prolog dari novel.. huft.. bakal kerja keras lagi nih..
Agustus 28, 2010 at 4:23 pm
iya nih, keliatannya masih ada lanjutannya ya, jaladara?
teknik penulisannya oke, tapi yah… endingnya itu…
gambarnya bagus, btw! suka!
Agustus 28, 2010 at 9:09 pm
semoga ada waktu dan stamina buat ngelanjutin ini menjadi novel.. ^_^
bikin segini aja udah ngos2an, apalagi bikin lanjutannya.. wkwkwkwk
Agustus 28, 2010 at 7:03 pm
Ini cerita berasa banget kesukuannya ditambah dengan ilustrasi. klo soal paradoks itu. aku gak pernah berpikir tentang latar belakang cerita di dalam sana.
tapi klo soal semuanya laut. itu kurasa bisa diterima seandainnya mereka bener” tinggal di area yg lebih banyak laut.
toh klo kata orang, yg disembah mereka adalah yg sering diliat mereka. pertanyaanku mereka pernah liat laut ga?
Logic aside. this is a good story
Agustus 28, 2010 at 9:07 pm
“Jika ada anggota suku yang meninggal dunia, maka setelah mayatnya dibakar, abunya akan dilarung di sungai itu agar menuju laut. Dari sanalah kehidupan bermula, dari sanalah kehidupan akan kembali. Meski tidak ada seorang pun dari anggota suku yang pernah melihat laut, mereka percaya, jika mereka mengikuti aliran Sungai-Air-Mata, maka suatu saat mereka akan menuju laut, berjumpa dengan Roh-Laut.”
Laut saya analogikan sebagai Surga, tempat segala sesuatunya bermula. tentu saja kehidupan suku tersebut jauh sekali dari laut, tapi mereka percaya, aliran Sungai-Air-Mata akan menuju ke Laut (Surga)
seperti Adam yang semula tinggal di Surga lalu diusir ke dunia, seperti itulah Roh-Gunung yang tinggal di laut lalu diusir..
September 5, 2010 at 5:17 pm
Kukira ini cerita biasa yang ditulis dalam bentuk narasi luar biasa. Poin lebih lagi untuk gambarnya sehingga aku langsung bisa membayangkan penampilan si bocah itu yang seperti anak suku nomad macam suku Apache.
Sederhana, tidak rumit, dan mudah dicerna. Sayangnya, aspek konfliknya minim sehingga kurang gereget. Mitos legendanya bagus hanya saja terbentuk pada istilah “laut”. (mengingat suku ini sama sekali tidak tahu bentuk laut itu seperti apa, jadi siapa dong yang menurunkan cerita legenda itu?). Mungkin lebih tepat jika danau luas atau sungai luas atau apa gitu (sotoy mode on).
Adegan paling suka: peristiwa saat menolong anak serigala. Sepertinya anak serigalanya cute banget.
Adegan paling gak suka: ternyata bahaya itu adalah semburan lahar
Harapan: adegan heroik si bocah lebih diexpose.