BOXINITE
Mailindra
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
BOXINITE
Mailindra
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 25, 2010 at 5:21 am
Setting tahun 3500, tapi everything looks like, sound like, and feel like 2010 with just a little steroid added.
Hopo tumon? Beda 1490 tahun, lho?
Agustus 25, 2010 at 10:27 pm
Wow, ceritaku dikomen sama repiuer kawakan.
Makasih, Mas.
Sepertinya ini bisa jadi masukkanku untuk mempelajari selera pasar.
Setelah kulihat-lihat lagi, sepertinya penggunaan kata-kata seperti cekak,sangking, ngga, receh, dll, membuat ‘rasa’ masa depannya kurang.
Mungkin harus disuntik istilah englis sebagai steriod sebanyak mungkin, ya, baru kerasa kerennya?
Ibarat kata, biar udah pake jas, mobil ferari, iphone-blackberry kiri-kanan, rambut pirang, tapi kalo ngomongnya pake dialeg tegal, tetep ndeso ya, wkwkwk.
Pembelaanku cuma gini, anggap aja ini fantasi seorang Indon yang berharap setelah seribu tahun bahasanya bisa mendunia dan menggalaksi.
Merdeka!
Agustus 25, 2010 at 10:48 pm
Sedikit memperjelas maksud om Pur…
Masalahnya sebenarnya bukan pada bahasa, tapi budaya itu sendiri yang tidak terintegrasi pada cerita. Yang baca cuma bisa manggut2, “Iya, ini 3500! Kan penulisnya bilang begitu”. Tapi dia tidak merasakan kekahasan di sana. Contoh gampangnya, lepas dari masalah bahasa Anda tinggal di Indonesia dan Australia pasti kerasa kan perbedaan budayanya? Contoh tadi bukan hanya tentang daerah, tapi saya hanya sekedar mengingatkan bahwa contoh itu tetap berlaku karena budaya itu selalu berubah setiap waktunya. Pasti bisa dong merasakan apa bedanya hidup di jaman 90 kemarin dengan jaman 2010 sekarang ini
Agustus 31, 2010 at 5:27 pm
Sip. Makasih bro atas masukkannya.
Agustus 27, 2010 at 6:18 pm
Kayaknya ini salah satu cerpen yang underrated. Padahal bagus lho.
Aku nggak secara khusus suka tinju–tinju jaman ini ataupun tinju futuristis–tapi ngikutin tinju masa depan dari mata seorang slackboy ini menarik. Belum lagi intrik antara olahragawan dan promotor macam ini.
Memang suasananya masih kurang futuristis. Bukan masalah pemakaian kata, tapi kekurangan unsur yang bikin kita percaya ini dunia masa depan. But toher than that, thank you for writing such an entertaining story.
Agustus 31, 2010 at 5:28 pm
Aku senang dikau terhibur dengan cerita ini. Yah masih harus banyak belajar nih. Makasih atas pencerahannya.
Agustus 27, 2010 at 7:43 pm
Nah, lho, telat baca cerita ini, komentar2 udah disambar ama dua reviewer canggih.
Alasan saya tidak lsg baca cerita ini sampai tuntas sewaktu dipajang di Kemudian utk pertama kalinya adalah … saya bosen ketemu peserta yg nyetor cerita sci-fi … orz Waktu itu saya memang lagi scouting di Kemudian dan kebanyakan cerita yg bermunculan di akhir2 bernuansa sci-fi. Otak saya cepat bosan kalo sci-fi yg udah taraf startrek.
Jadi, setelah selesai baca, saya cuma ingin menyetujui soal entertaining yg disebut oleh Signora Luz. Soal teknologi dll yg masih mirip sama jaman sekarang, silakan ditengok komentarnya yg lain, soalnya saya nggak merasa demikian.
Malah krn gak beda jauh sama jaman sekarang saya jd lbh ngeh ngikutin ceritanya.
Hehe.
Agustus 31, 2010 at 5:29 pm
Yah, niat ikutan memang cuma ingin meramaikan. Glad you enjoy it.
Thanks bro.
Agustus 27, 2010 at 7:47 pm
Hahaha, di dunia mana juga, taruhan memang nggak bisa dilepas dari pertandingan olah raga, ya.
Menarik banget!
Agustus 28, 2010 at 12:26 pm
Terima kasih buat komentar teman-teman.
Senang kalian bisa terhibur.
Tentang setting yang kurang meyakinkan, saya terima sebagai pencerahan.
Salam dan salam kenal.
Mailindra
Agustus 28, 2010 at 3:05 pm
“Man, bolak-balik Jakarta Bandung saja butuh paling tidak 50 K-Energi untuk kendaraanku.”
haha… maksudnya 50 ribu tuh, ya?
aku tahu motifmu menuliskan ini *_^
curhat ni, yeee…
Agustus 31, 2010 at 5:39 pm
Hush, aku tau kau siapa!
Agustus 30, 2010 at 1:17 pm
pas baca si pelayan toko bilang: “Selamat, Pak. Pilihan anda memang tepat.” -> jadi kebayang sama pelayan di resto pizza itu… wkwkwk!
lanjut ke komen,
ide ceritanya sebenernya menarik banget tentang dunia tinju dan intrik2nya
tapi ada hal2 yg janggal, misalnya munculnya alat buat nguping percakapan orang itu kesannya terlalu tiba2; kebetulan banget si Trey belanja alat itu?
trus penjelasan tentang setting dan latar belakang karakter juga agak terlalu numpuk di depan
selebihnya, cerita ini oke
Agustus 31, 2010 at 5:32 pm
Hampir semua cerita punya faktor kebetulan. Yang buat enak atau tidaknya tergantung kemunculannya. Setahuku, kebetulan yang dibuat sebagai jalan masuk cerita, masih diperbolehkan. Yang kurang enak, kebetulan yang dijadikan sebagai solusi. Benar ngga?
Agustus 31, 2010 at 5:41 pm
Mailindra menulis: “Hampir semua cerita punya faktor kebetulan.”
Betul. Setuju. Itu sebabnya pula enggak semua cerita bagus. ^^
Mungkin perlu kujelaskan lagi maksudku…
memang “kebetulan” adalah temen yang sangat baik buat penulis, meski banyak yang enggak bener2 nyadar “sisi buruk”-nya si kebetulan itu,
tapi ada kebetulan yang bagus!
yakni kebetulan yang pembaca enggak sadar/yakin bahwa itu sebenernya adalah suatu kebetulan
nah, kalau untuk yg alat nguping ini, kebetulannya keliatan banget…
September 5, 2010 at 6:30 pm
Semula kupikir bakal cerita kungfu. Tapi ya gak jauh-jauh beda. Masih sekitar tema bak-bik-buk. Sudah menarik sejak kalimat pertama. Penuturan lancar dan ringan. Tau-tau udah beres.
Sepertinya komenku pun tidak berbeda jauh dengan yang lain. Unsur fantasi ato sci-fi-nya kurang begitu menggigit. Toh, meski sudah tahun 3500 dan melibatkan banyak alien dari planet lain, tapi kerasanya masih seperti abad 21. Masih ada nama negara-negara jaman sekarang. Indonesia juga masih eksis. Tapi dengan mengesampingkan aspek-aspek fantasinya, ini tetap cerita yang menarik.
Btw, slackboy ama cutman apa bedanya?
Adegan paling suka: “Schiller betul-betul balon, gampang benar bocor.” Ini istilah asli dunia tinju?
Adegan paling gak suka: Si Schiller Yahudi yang ngomong slengean kaya orang Jakarta. Walau kocak juga sih.
Harapan: si Trey lebih licik dan keji. Hehe.
Btw, selamat masuk BIG TEN! Tahun depan wajib ikut lagi dengan cerita kungfu macam Shanditera atau Peri Cinta.
September 8, 2010 at 10:26 am
Maaf buat Mailindra karena komennya telat.
Kalo buatku sih, aku ga begitu keganggu ama lemahnya setting. Meski settingnya emang ga begitu kekait ama inti cerita, menurut setting yang disampein di paruh awal cerita udah lumayan ngebangun fondasi yang menarik untuk pengembangan lebih lanjut ke depan. Dan buatku, itu udah jadi pencapaian tersendiri. Apalagi Mail nyampein ceritanya dengan rapi dan make ungkapan-ungkapan ‘ajaib’ yang menurutku diungkapin secara wajar.
Satu hal yang jadi sedikit kelemahan buatku sih mungkin di konflik ceritanya yang kerasa terlalu gampang terselesaikan. Padahal build up suasananya udah bagus! Kalo aja si Schill ternyata bukan manusia sepenuhnya sehingga ada efek samping apaa gitu terhadap pre-anelin kadaluarsa, kayaknya tamatnya bakal lebih berkesan lagi!
September 15, 2010 at 12:37 pm
@Heinz dan Alfare, terima kasih buat masukannya. Saran kalian akan aku pakai untuk merevisi cerita ini.
Salam