DECEPTIVE PROBLEMS FROM SCIENCE TOWN
LaniefayScienceLovers
—
“Bu, bukan yang ini bukunya! Yang penerbitnya Fientist,” tuturku pada ibu yang sedang memilih-milih buku IPA di “Scientist Book Store”.
Oh! Hai teman…, namaku Ghonira Weestrie Scienfy, aku biasa dipanggil Weestrie. Aku dan keluargaku tinggal di “Science Town”, sebuah kota di “Lesson Island”. Aku lahir pada tanggal 34th, Doorine (Doorine: September) 2000. Nah! Di Science Town, 1 Cience (Cience: bulan) ada sekitar 30 sampai 35 Opar (Opar: hari). Aku lahir dan tinggal di Science Town, begitu pula adiku dan kedua orang yang sangaaat aku sayangi. Aku sekarang baru saja duduk di Fivesciend_01 (Fivesciend_01: kelas 5-a) di SD Star Science I. Aku mempunyai seorang adik yang bernama Zevia Titiyou Scienre, dia biasa dipanggil Zevia. Ia baru saja duduk di Twosciend_03 (Twosciend_03: 2-c) di SD Star Science I, sama denganku. Oh ya! Kami Islam, jadi, jika sekolah, kami memakai Kruddmic (Kruddmic: kerudung). Jarak sekolah dengan rumah kami agak jauh, jadi kami berangkat lebih pagi.
Smartin Geveerin Daile dan Gracia Bunny Qenia, itulah namanya. Ibuku, Gracia Bunny Qenia, biasa dipanggil Miss (Miss: ibu) Gracia, tetapi, aku memanggilnya ibu. Ibuku bekerja sebagai Doctriss (Doctriss: dokter) di Healty Science Hospital. Sedangkan ayahku, Smartin Geveerin Daile, biasa disapa Mister (Mister: bapak) Daile, tetapi, sama dengan ibu, aku memanggilnya ayah. Ayahku bekerja sebagai Headvinschool (Headvinschool: kepala sekolah) di sekolahku, SD Star Science I. Oh ya! Ayah dan ibuku selalu sibuk setiap hari (berangkat jam 06.00, pulang jam 18.00). Tetapi, mereka tetap sayang kepadaku dan adikku. Maka dari itu, sebagai pengasuh selama sepulang sekolahku, ibu menyuruh Aunty (Aunty: bibi) Cifty untuk mengasuh Zevia dan aku setiap hari. Oh ya! Yang mengantar dan menjemput ku serta Zevia setiap hari di sekolah adalah Uncly (Uncly: paman) Hoggy. Aunty Cifty dan Uncly Hoggy biasa memanggilku Non Weest, sedangkan Zevia, dipanggil Non Zevi.
Aku mempunyai beberapa teman baik disekolah, tetapi belum menjadi bestFF (BestFF: Sahabat) ku. Dia adalah, Freezy, Denya, Hiroshi, dan Vrifia. Mereka sangat baik kepadaku, begitu pula sebaliknya
Sekarang, aku, Zevia, dan ibu berada di Scientist Book Store, tujuannya untuk membeli buku-buku sekolah yang akan dimulai 1 weekghy (Weekghy: minggu) lagi. Oh ya! sekarang adalah tahun ajaran baru, maka dari itu, kami akan membeli buku-buku baru yang akan digunakan untuk kelas selanjutnya. Sekarang, kembali ke Scientist Book Store ya…
“Miss, bukan yang ini bukunya. Yang penerbitnya Fientist ada tidak?” tanya ibuku kepada… Miss Snopty! Begitulah yang tertulis di tanda pengenal yang dipakai olehnya.
“Untuk Fivesciend dan Twosciend?” tanya Miss Snopty lagi.
“Iya…,” jawab Ibuku keras, karena suasana disini sangat ramai!
“Tunggu sebentar ya Miss… Silahkan mencari buku yang lain dahulu…,” tawar Miss Snopty dengan senyum manisnya.
“Ok, thanks,” jawab Ibuku. Sementara buku dicarikan oleh Miss Snopty, aku, Zevia, dan Ibu mencari buku Bahasa Indonesia dan buku IPS untuk Fivesciend dan Twosciend.
Setelah mencari sekaligus menunggu sekitar 15 menit, akhirnya buku yang kami cari terlihat! Dan, tidak hanya itu, Miss Snopty yang sedari tadi tidak muncul, sekarang giliran Miss Snopty muncul dengan membawa setumpuk buku.
“Ini Miss bukunya. Benar? Saya mohon maaf jika membuat anda terlalu lama menunggu…,” ujar Miss Snopty sambil mengulurkan bukunya kepada ibu.
“Oh! Iya, terima kasih Miss Snopty. No problem,” jawab Ibu sambil mengambil buku yang diberikan oleh Miss Snopty.
“Miss Snopty, terima kasih atas bantuannya… Mari,” sambung Ibu sambil berlalu.
“Iya…, sama-sama,” jawabnya.
Sekarang, aku dan Zevia membawa sebuah keranjang yang berisi setumpuk buku yang harus kami pelajari. Huft…, sangat melelahkan! Sekarang, waktunya kami membayar!
2 weekghy kemudian…
Hoooaaammm…
“Zev…, Zev…, ayo bangun! Sudah pagi!” perintahku kepada Zevia sambil mengguncangkan badannya.
“Aduuuhhh…, kak! Kok cepat sekali ya, pagi datang?” jawab Zevia sambil mengucek-ucek matanya.
“Kakak juga tak tahu Zev… Sudah ya, kakak keluar dulu. Sekalian mau mandi…,” jawabku dengan muka masam sambil berlalu.
Sesampainya diruang tengah, aku bertanya, “Ayah, Ibu, mau berangkat…?”
“Iya… Weestrie nggak mandi?” tanya Ibu lembut. “Zevia mana?” sambung Ibu lagi.
“Iya, habis ini. Zevia, masih dikamar tuh! Sedang mengucek matanya,” jawabku sambil tertawa kecil.
“Hihihi… Ya sudah! Kamu segera mandi, sudah disiapkan air hangat oleh Aunty Cifty kok,” tutur Ibu sambil tertawa.
Jam 06.30, aku dan Zevia telah siap, Uncly Hoggy juga telah menunggu kami di dalam mobil. Sedangkan ayah dan ibu telah berangkat terlebih dahulu. Dan…, bruuummm…, mobil melesat kencang ke arah SD Star Science I.
Teng… Teng… Teng… Teng… Teng…
Jam 14.00, bel pulang sekolah untuk anak Fivesciend SD Star Science I berbunyi, anak Fivesciend SD Star Science I pun berhamburan keluar kelas. Aku pun segera menuju mobil Jaguar Hitam yang didalamnya ada Uncly Hoggy. Oh ya! Zevia sudah pulang terlebih dahulu.
“Uncly, hari ini kayaknya ada yang syirik sama aku deh…,” ujarku kepada Uncly yang sedang menjalankan mobilnya.
“Maksud Non Weest, ada yang iri sama Non gitu?” jawab Uncly Hoggy sambil menyetir mobil.
“Iya…,” jawabku singkat sambil mengambil segelas soda jeruk yang berada di mini-refrigerator di mobilku.
“Um…, kalau menurut Uncly sih, santai saja. Nanti dia juga bosan kalau iri sama Non Weest melulu,” terang Uncly sambil terus berkonsentrasi kepada jalanan. Sedangkan, aku, hanya santai-santai, dengan sesekali meneguk soda jeruk yang ada di tanganku.
“Oh ya un, tadi sewaktu pelajaran IPA, aku dapet vipar (Vipar: nilai) 10 lho!” gumamku sambil meneguk soda jeruk.
“Wow! Hebat sekali Non Weestrie ini! Semoga Non jadi opsciend (Opsciend: ranking) satu lagi ya…,” jawab Uncly sambil mengacungkan jempolnya.
“Oke un…, Thanks,” jawabku.
Tiba-tiba, Tiiinnn… Tiiinnn… Josss…
Klakson mobilku berbunyi!! Keras sekali!!! Seketika, soda jerukku tumpah, hingga mengenai seragamku dan berbusa.
“Uncly! Ada apa!?” seruku setengah berteriak.
“Itu tuh! Tiba-tiba, mobil itu tiba-tiba berhenti mendadak!” Uncly Hoggy mulai marah.
“Aduh…! Gimana sih mobil itu!? Sampai-sampai soda jerukku tumpah ke baju! Tapi…, kayaknya aku sering melihat mobil itu parkir disekolah. Siapa ya…?” aku bertanya-tanya.
“Oh! Tumpah ya Non, maaf ya… Uncly Hoggy tidak sengaja,” ujar Uncly Hoggy. “Oh ya! Non Weest, masa sih, mobil itu biasa parkir di sekolah Non? Siapa?” sambung Uncly Hoggy.
“No problem! Uncly! Sudah pergi tuh, mobilnya!” seruku.
“Oke…,” jawab Uncly, Uncly pun menginjak gas, dan! Bruuummm! Mobil melesat kencang. “Nah Non, tadi pertanyaan Uncly belum dijawab,” ujar Uncly Hoggy.
“Oh iya! Um…, kayaknya…, iya…! Itu mobil si Twin. Xoria dan Xorine,” jawabku.
“Oh! Yang kata non paling jahat di Fivesciend_01 itu?” Uncly Hoggy mencoba menebak.
“Yup! That’s right!” jawabku sambil mengacungkan jempol.
“Non, sudah sampai nih!” tutur Uncly Hoggy tiba-tiba.
“Oke, makasih ya Uncly. Aku turun dulu,” pamitku sambil membuka pintu mobil.
Sebaiknya aku bilang tidak ya, kepada Xoria dan Xorine tentang masalah tadi!? Tidak usah lah! Nanti malah menimbulkan masalah! batinku dalam hati.
Weekghy by weekghy berlalu… Hingga sekarang, tiba saatnya ulang tahunku! Oh ya! aku sempat sakit lho, pada saat Jum’at opar, jadi aku tidak masuk deh!
“Weestrie! Selamat ulang tahun!”
“Weest, met ultah!”
“Weest, happy bhirtday!”
“Happy bhirtday to you…!”
Itulah kata yang selalu diucapkan oleh teman-teman di Fivesciend, maupun Fivesciend_01, Fivesciend_02, Fivesciend_03, sampai Fivesciend_06. Tapi, sepertinya si Twin belum mengucapkan itu kepadaku. Biarlah! Mungkin nanti dia mau memberiku kejutan (Ih…! KeGeeRan!)
Tapi, jika memang dia tidak member ucapan. Tak apa! Aku tetap senang!
Sampai dirumah, sudah banyak Miss-Miss dan Mister-Mister yang mengucapkan happy bhirtday to me. Termasuk ibuku, ayahku, Zevia, Aunty Clifty, dan Uncly Hoggy. Dan, kinilah puncaknya! Ulang tahunku dirayakan di rumah. Meskipun hanya dihadiri oleh seisi rumah, tetap terasa sangaaat mengasyikkan!
“Terima kasih ya bu…!” ujarku kepada ibu sambil mengecup pipi ibu. “Thanks ya yah…!” tuturku pada ayah, tak lupa aku mengecup pipi ayah. “Makasih banyak ya…, adikku yang baik!” aku mengecup dahi Zevia. “Aunty Clifty, makasih ya… Sudah mengasuhku sepenuh hati!” ujarku kepada Aunty Clifty sambil memeluknya. “Untuk Uncly Hoggy, terima kasih sudah mau mengantarkanku pulang-pergi dan sudah mau mendengar ceritaku!” ujarku pada Uncly Hoggy, aku memeluknya juga.
“Huft…, hari yang begitu melelahkan sekaligus mengasyikkan! Sangat asyik! Semoga, aku bertambah berbakti pada ayah dan ibu, tambah patuh dengan Aunty Clifty dan Uncly Hoggy, lebih sayang pada si cilik Zevia, lebih sabar dengan cobaan yang Engkau berikan, lebih sayang dengan teman-temanku, pokoknya semuanya deh!” gumamku dalam kamar sambil menengadahkan tanganku. “Amiiinn…,” gumamku lagi.
“Masih jam 8 malam. Belajar dan menyiapkan pelajaran untuk besok dulu ah!” ujarku sambil menuju meja belajar yang berada di dalam kamarku.
Menit demi menit berlalu! “Sekarang telah jam 9 malam. Waktunya aku tidur, tapi, pelajaran belum disiapkan. Siapkan dulu saja!” tuturku.
“Lho!? Kok buku IPAku tidak ada!?” aku terbelalak. “Apa…? Mungkin tertinggal dikelas? Um…, iya deh kayaknya! Ya sudahlah! Dicari saja besok,” sambungku. Aku pun merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, dan…, aku pun masuk ke dream world.
Keesokan harinya, sesampainya aku di Fivesciend_01, belum ada seorang pun. Jadi, aku menghabiskan waktu untuk mencari buku IPAku yang hilang.
15 menit aku mencari, tetapi buku IPAku sama sekali tak terlihat! Kutengok jam tanganku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 06.40
“Aduh! Setelah ini bel masuk berbunyi. Lalu, pelajaran IPA! Tetapi, buku IPAku belum ketemu juga! Bagaimana ini!?” gumamku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Tiba-tiba, bel masuk berbunyi! Teman-temanku pun berbaris rapi didepan kelas. Setelah itu, Miss Groony (Guru IPA Fivesciend_01) datang. Alhasil, aku tidak menggunakan buku IPA saat pelajaran IPA. Dan, weekghy demi weekghy aku mencari, tetapi tak terlihat juga! Yang paling parah, IPA adalah pelajaran pokok. Selain itu, semenjak buku IPAku hilang, si Twin sering mengerjaiku! Huh! Sangat tidak mengenakkan!
Keesokan harinya…
“Weest, sini deh!” panggil Xoria.
“Ada apa?” jawabku sambil menghampirinya.
“Sini deh! Agak dekat!” perintah Xoria. Aku pun mendekatinya. Dan…, brukkk! Aku terjatuh! Aku pun mengeluh kesakitan.
“Aduhh…,” keluhku sambil memegangi lututku.
“Oh…! Weestrie! Maaf ya!” ucap Xoria sambil menapuk keras pundakku.
“Tapi, maaf. Aku memang sengaja! Rasain!” bisik Xoria ketus.
“Xoria! Kamu jangan begitu dong! Dari kemarin! Dan kemarin! Aku selalu kamu tertawakan dan selalu kamu permalukan! Kenapa!? Kenapa!?” bentakku keras kepada Xoria. Seketika, air mataku menetes.
“Weestrie! Ada apa ini!?” Xorine datang menghampiriku. Persaingan semakin ketat! Apalagi, kami dilihat oleh teman-teman sekelas!
“Kamu juga! Sifatmu itu sama persis seperti sifat kembaranmu! Sama-sama jahat dan kejam!” bentakku kepada Xorine.
“Hah!? Apa katamu!?” jawab Xorine keras.
“I hate you!!!” bentak Xorine dan Xoria bersamaan.
“I hate you too!!!” jawabku sambil keluar kelas dengan air mata bercucuran di pipiku.
Keesokan harinya…
“Weest…, aku mau bicara private denganmu. Ayo ikut aku!” ajak Freezy, teman baikku. Dia pun menyeretku keluar kelas. Lagipula, itu sewaktu istirahat.
“Ada apa sih!?” tanyaku kepadanya saat tiba di aula.
“Gini…, buku IPA kamu hilang kan? Aku tahu siapa yang mengambilnya,” jawab Freezy setengah berbisik.
“Hah!? Siapa!?” jawabku sambil berteriak. Seketika, orang-orang yang ada disekelilingku tersenyum kecut kepadaku.
“Heh! Jangan keras-keras dong!” tegur Freezy. “Yang nyuri tuh…,” sambung Freezy sambil melihat keadaan sekitar, suaranya pun tambah pelan, “Xoria dan Xorine,” gumam Freezy!
“Hah!? Xoria dan Xorine!? Astaghfirullahhaladzim…! Masa sih!? Aku nggak percaya!” jawabku terbelalak.
“Masih nggak percaya! Aku punya kok saksinya!” jawab Freezy.
“Siapa!? Kamu tahu informasi ini darimana!?” tanyaku tegas.
“Denya! Tanya saja ke dia! Aku mengintipnya saat dia melakukan ‘penyiksaan’ terhadap bukumu!” jawab Freezy. Oh ya! Denya itu headvinclass (Headclassvin: ketua kelas) di Fivesciend_01 lho!
“Ok, aku percaya…! Memang bagaimana ceritanya!?” tanyaku.
“Begini…, sewaktu pelajaran IPA pertama, mereka itu iri denganmu, karena kamu mendapat vipar 10. Lalu, satu minggu mereka merencanakan ini, sampai-sampai, mereka juga sering mengerjaimu untuk mencari kelemahanmu! Lalu, sewaktu Kamis opar, mereka menyembunyikan buku IPAmu. Dan, sewaktu kamu tak masuk, tepatnya Sabtu opar, dia merusak, menyobek, menyelupkan dalam air, dan mencoret-coret bukumu! Begitu… Butuh bukti?” terang Freezy panjang lebar.
“Hah!!?? Benar!? Iya! Aku butuh bukti!!” jawabku. Air mata di pelupuk mataku sudah tak kuat untuk dibendung. Aku pun menangis.
“Tapi…, Weest! Jangan nangis dong! Please… Jangan nangis! Nanti dilihat sama anak-anak!” cegah Freezy. Aku pun berhenti menangis, dan Freezy menarik tanganku menuju loteng sekolah kami.
Disana, ada sebuah ember kecil yang berisi air bekas pel, sobekan-sobekan kertas, spidol warna-warni, dan… buku IPAku!! Telah kaku, lecet, dan sobek. Huaaa!
“Ya Allah… Astaghfirullahhaladzim…! Xoria, Xorine! Kenapa kamu tega melakukan ini!?” aku menangis sejadi-jadinya. Freezy yang menghiburku ikut terharu. Aku pun mengambil sobekan buku yang telah terbagi menjadi dua bagian.
“Freezy…, makasih ya atas informasimu… Hiks… Aku nggak bisa balas apa-apa. Makasih banyak ya…,” ucapku pada Freezy sambil memeluknya.
“Iya, iya. Nggak usah dibalas kok… Mau aku bantu melabrak Xoria dan Xorine?” tawar Freezy sambil terus memelukku.
“Freezy… Kamu baik banget sih! Boleh… Aku mau dong, jadi bestFFmu, boleh? Hiks,” aku melepaskan pelukanku sambil menangis.
“What!? Boleh banget! Dari dulu, aku pingin jadi bestFFmu. Tapi, nggak keturutan… Jadi, mulai sekarang kita berbestFF ya…?” jawab Freezy senang.
“Iya…,” jawabku. Aku menghapus air mataku yang sudah bercucuran kesana kemari. Dan, aku pun merangkul pundak Freezy sambil tersenyum.
“Sekarang, kamu jangan nangis lagi ya… Kita sama-sama melabrak si Twin. Nanti keburu masuk,” gumam Freezy sambil tersenyum. Dia pun kembali menarik tanganku menuju kelas.
Sesampainya dikelas, kebetulan hanya ada Xoria dan Xorine. Dan…, inilah waktunya!
“Xoria! Xorine! Kamu tahu buku ini nggak!?” tanyaku kasar kepada si Twin yang sedang nyemil.
“Hah!? Buku siapa ini!? Kok bisa sobek!? Siapa yang menyobek!?” Xoria mulai ber-acting.
“What!? Ya ampun…, ini buku siapa!? Kasihan sekali, bukunya tersobek!” Xorine pun ikut ber-acting.
“Hei…! Jangan pura-pura nggak tahu kalian!!! Semua rahasia kalian sudah terbongkar!! Aku sudah mengetahuinya…, kalau kalian pelakunya!!” bentakku kepada Xoria dan Xorine.
“Apa katamu!? Jangan asal menuduh kamu!?” balas Xorine ketus.
“Siapa yang menuduh!!?? Ini kenyataan!! Bukan khayalan!! Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga!! Pasti!!” jawabku sambil melemparkan sobekan buku IPAku ke muka mereka.
“Weestrie! Jangan kurang ajar kau! Berani-beraninya kamu menamparku dengan bukumu yang telah kaku, lecet, sobek pula! Dasar! Penuduh! Munafik!” caci-maki dilempar kedalam diriku. Begitu tersayatnya hatiku mendengar caci-maki dari mulut Xoria. Aku kecewa padanya!
“Hei! Ngaca dong! Kamu itu yang penuduh! Munafik! Kalau kamu nggak mau dituduh! Mending mengaku saja deh! Agar nanti di akhirat nggak disiksa terlalu berat! Mengaku saja deh!” Freezy mulai angkat bicara. “Kamu tahu nggak! Perasaan kalau di caci-maki oleh seseorang yang tidak mau mengakui kesalahannya!? Yang tidak mau jujur dengan perlakuannya sendiri!? Sangat sakit! Hati itu sangat sakit dan sakit sekali!” sambung Freezy keras. Aku pun tak kuat menahan tangisanku.
“Hei! Freezy! Kamu nggak usah ikut campur deh!” Xorine angkat bicara.
“Why!? Terserah aku dong! Aku BestFFnya! Perlu dong! Tahu masalah BestFFnya!” kelihatannya, Freezy mulai marah.
Sementara aku menangis, tiba-tiba, “Xoria! Xorine! Sudah deh! Kamu jangan berpura-pura deh! Aku dan Freezy menjadi saksinya! Aku punya buktinya! Mau lihat!?” Wow! Denya datang dengan wajah tegasnya.
Denya pun menunjukkan pelewphone (Pelewphone: handphone) miliknya dan…, muncul video Xoria dan Xorine sedang menyobek bukuku, menyelupkan bukuku, mencoret-coret bukuku, dan menginjak-injak bukuku.
Begitu sangat sakit hatiku. Terlebih, aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
“Xoria, Xorine! Kamu sudah lihat kan buktinya! Itu ditunjukkan oleh ketua kelas kita sendiri! Lihat kan! Lihat! Jadi, sudah terbukti! Kamu pelakunya! Dasar! Munafik! Jika kalian ketahuan melakukan hal itu ke bukuku, kalian pasti akan di skors atau mungkin kalian bisa di-DO oleh ayahku!” caci-maki seketika keluar dari mulutku yang sudah tak sabar untuk mengejeknya. Cukup untuk membuatku menganga. Sedangkan Xoria dan Xorine memilih untuk membungkam mulutnya sendiri. Freezy dan Denya pun memilih diam.
Teng… teng… teng…
Bel masuk berbunyi, pada waktu ini, jam pelajaran hanya sebentar. Aku segera kembali ke tempat duduk, begitu pula teman-temanku. Anak-anak masuk ke dalam ruang yang baru saja digunakan untuk perang mulut. Anak-anak yang masuk pun menganga, karena di Fivesciend_01 ada dua sobekan kertas tebal yang biasa mereka gunakan untuk belajar. Ya! itu sobekan buku IPAku!
“Weest, awas kamu!” bisik Xoria dan Xorine kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman sinis.
Miss Tynaw, teachmissclass (Teachmisclass: ibu guru) kami masuk kelas. Dan…, beliau berkata, “Xoria! Xorine! Ke headvinroom (Headvinroom: ruang kepala sekolah)!!” Xoria dan Xorine pun berjalan keluar dari Fivesciend_01 sambil menundukkan kepalanya
Terima kasih Ya Allah… Terima kasih… Engkau telah mengabulkan permintaanku…, batinku dalam hati sambil tersenyum. Denya dan Freezy pun ikut tersenyum.
“Den, Frez, bagaimana Miss Tynaw bisa tahu permasalahan ini?” tanyaku senang kepada Freezy dan Denya.
“Sudahlah!” jawab Denya. Freezy menjawabnya dengan anggukan.
“Anak-anak! Sekarang, di Fivesciend_01, sedang ada permasalahan serius, yang hanya didasarkan oleh hal-hal SEPELE! Apakah kalian sudah mengetahuinya!?” tanya Miss Tynaw galak
Sayup-sayup, terdengar suara, “belum, Miss.”
“Siapa yang melakukannya!?” tanya Zendun, teman perempuanku.
“Yang melakukan adalah anak dari pejabat tinggi Science Town! Dan, pelakunya adalah anak dari headvinschool kita sendiri! Begitu…,” Miss Tynaw belum melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba, Teng… Teng… Teng… Teng… Teng…
Bel pulang telah berbunyi. “Pulaaang!” teman-temanku berteriak kegirangan, tapi aku, Freezy, dan Denya tidak.
“Baiklah. Ceritanya Miss teruskan besok. Sekarang, silahkan pulang. Bagi Denya, Freezy, dan Weestrie tetap dikelas!” perintah Miss Tynaw.
Setelah semua anak pulang, Miss Tynaw berseru, “anak-anakku, silahkan ke headvinroom!”
“Baik Miss…,” jawab kami serempak. Kami berjalan ketakutan kearah headvinroom. Miss Tynaw membuntuti kami.
Sesampainya disana, kami dipersilahkan duduk. Disana, telah ada si Twin dengan cucuran air mata di pipinya. Di pelupuk matanya pun sudah terbendung air mata.
“Denya, Freezy, apakah video pembuktian itu asli!?” tanya ayah.
“Iya! Itu asli! Aku dan Denya yang menyutingnya,” jawab Freezy.
“Alright, sekarang, boleh kalian tunjukkan videonya?” tanya ayah.
“Silahkan…,” jawab Denya, video pun telah diputar. Ayah pun tercengang. Lalu bertanya pada Xoria dan Xorine, “jawab dengan sejujur-jujurnya. Apa itu benar Xoria, Xorine!?”
“Um…, benar Mister,” jawab mereka.
“Terima kasih Xorine, Xoria, telah berbicara jujur. Sekarang, kalian berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang sama lagi, dan berjanji untuk tidak mempermalukan nama SD Star Science I di Science Town!” ujar ayah tegas.
“Kami berjanji! Agar tidak melakukan hal yang sama lagi! Dan! Tidak akan mempermalukan nama SD Star Science I lagi!” seru Xoria dan Xorine dengan diikuti senggukan tangis.
“Tak usah menangis! Tak ada gunanya!” singgung Miss Tynaw yang ada dibelakang kami.
“Sudahlah! Jangan bertengkar!! Weestrie, kamu ingin Xoria dan Xorine dihukum apa!?” ayah menawarkan kepadaku.
“Aku ingin mereka diskors selama 2 bulan!!” jawabku ketus.
“Keputusanmu akan dipikirkan dahulu oleh pihak sekolah,” jawab ayah.
“Baiklaaahhh…,” jawabku lesu.
“Semuanya silahkan pulang! Terima kasih telah hadir,” ujar ayah.
Aku keluar dari headvinroom, dan segera berlari menuju Uncly Hoggy.
Keesokan harinya saat aku sampai dikelas…
“Weestrie!!! Deceptive problems!!!” Xoria, Xorine, Freezy, dan Denya tiba-tiba tertawa kepadaku.
“Hei! Ada apa sih!?” tanyaku.
“Deceptive Problems!!!” tiba-tiba, semua anggota sekolah datang ke Fivesciend_01.
“Ada apa sih semuanya ini!?” tanyaku heran.
“Kamu baru saja kami tipu! Sebenarnya, masalah itu kami ‘rekayasa’! Untuk kejutan ulang tahun kamu!” terang Miss Tynaw.
“Wuuuaaa!!! Aku ditipu! Hahaha…,” aku terbelalak sekaligus tertawa.
“Maaf ya Weestrie!” mereka mengucapkannya serempak.
“LOVE YOU ALL!!!”
—
Agustus 24, 2010 at 6:32 pm
Yaaahh.., g ada yg comment…
Comment doonngg..
Agustus 24, 2010 at 8:05 pm
HIKS…. :’(
Agustus 24, 2010 at 8:20 pm
ceritanya bagus dek
Agustus 25, 2010 at 9:31 pm
Waaa…!! Makasih ya ka…
udah baca ceritaku… ^_^
Agustus 24, 2010 at 9:46 pm
…
Sbnrnya ada byk yg mau disampaikan, tapi daripada menyampaikan lbh byk dari yg gak diperlukan, saya merasa perlu menanyakan satu hal krusial.
Laniefay_Scientist sekarang ini umur berapa, kalo boleh tahu?
Hehe.
Agustus 25, 2010 at 9:35 pm
Makasih ya,,, udah nyempatin comment di critaku..
Aku msh umur 10thn. Kenapa??
Agustus 25, 2010 at 10:04 pm
Tuh, Juu, ditanyain kenapa XD
Ya, komen Anda ga bisa keluar deh, ciakakakaka… Face it, just feel the spirit inside XD
Soal kenapa ditanya umur, mari kita buka-bukaan aja biar kamu bisa berbesar hati. Semua orang disini aku rasa mengakui cerita kamu punya potensi, terutama semangat keceriaan itu. Tapi masalahnya kamu juga perlu banyak belajar (nasihat om RD Villam di bawah itu sangat membangun loh).
Aku mau berbagi cerita dikit soal kasus Willy Flarkies, novel anak usia 13 tahun yg dihebohkan indigo jenius. Faktanya, dia dihina habis-habisan. Banyak aspek penulisan yang kacau-nya luar biasa, logika yang amburadul tidak karuan. Rata-rata anak seumur kamu seringkali mengartikan fantasy itu sebagai “berimajinasi seluas-luasnya”. Kenyataannya tidak begitu. Dunia fantasy kita pun memiliki tatanan masyarakat dan sistem di dalamnya. Maksudnya, dunia imajinasi itu sebenarnya sama dengan dunia nyata, tapi dengan tata masyarakat dan cara kerja yang berbeda. Ibaratnya, misal dunia kita ini diumpakan sebagai alat transportasi mobil, maka dunia khayalan itu adalah perahu sebagai alat transportasi di laut. Jadi walaupun keliahatan luar biasa fantasy, mereka sebenarnya tidak beda jauh. Istilah kerennya, dunia fantasy itu “paralel” dengan dunia kita.
Kenapa kami sangat pengen tahu masalah umur? Kami takutnya komentar itu nantinya justru menjatuhkan semangat menulismu. Umur 10 tahun itu bisa dikatan amat-sangat-langka ada yang punya niatan untuk menulis sepanjang ini, apalagi tulisanmu ini tergolong rapi. Kamu kurang pemahaman mendalam untuk tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kan pelajaran Bahasa Indonesia itu bertahap sampai SMA. Betul bukan? Masih banyak waktu untuk belajar. Kau tahu, aku aja diumur 16 tahun, waktu itu masih kacau banget, dan jujur punya kamu ini masih mending.
Intinya, kami tidak berani memuji bakat kamu setinggi-tingginya, karena ketika kamu sadar dan mulai paham bahwa tulisan kamu belum matang, nantinya kamu tidak akan sakit hati dan merasa ditipu. Di lain pihak, kami juga tidak bisa memberi kritik pedas karena kami percaya kamu punya potensi. Dan orang dengan bakat dan potensi itu hampir tidak memiliki batas untuk mimpi-mimpinya. Kami hanya berharap jika mimpi kamu itu adalah menjadi penulis, maka kamu harus belajar banyak mulai dari sekarang
Itu saja deh. Dan percayalah, seiring umur, kamu akan merasa tidak puas dengan karya kamu yang lama. Kamu merasa butuh untuk memperlihatkan bahwa kamu telah berkembang menjadi lebih baik
Agustus 26, 2010 at 10:17 am
@Kuro: Halah, bukannya saya jd speechless no comment. Saya baru tahu udah ada reply-nya malah. Semalam kan terjadi persengketaan modem makanya gak bisa internetan sampe malam.
@Lanie: Kenapa tanya umur? Simpelnya, kalo jawaban yg kuterima umur 13-17 (SMP/SMA) saya akan langsung membantai habis2an dengan komen. Masalahnya waktu saya baca ceritamu, ada feeling bahwa gak mungkin penulisnya umur kisaran segitu (saya seringkali bisa merasakan karakteristik orang via tulisannya, tulisan fiksi sekalipun). Saya bisa dilaporin ke Komnas Perlindungan Anak kalo saya udah mengeluarkan komen dgn terlalu blak2an hingga terkesan melakukan penganiayaan mental terhadap anak di bawah umur … Komen tulisan pun ada caranya, tergantung yg diomongin komen itu.
Satu hal penting yg saya rasa perlu disampaikan untuk saat ini cuma satu: fantasi tidak dibentuk hanya oleh istilah2 aneh untuk menyebut benda yang punya kegunaan sama persis dengan sebuah benda di dunia nyata. Doraemon mengeluarkan Pintu Ke Mana Saja krn memang pintu itu bisa nyambung lsg kemana2. Kalo Doraemon ngeluarin panci biasa, dia kan nggak nyebut (secara nggak perlu) Pancee Ajaib. Itu rasanya lebay kalo bukan alay si Doraemon nyebut2 Pancee Ajaib utk sebuah panci normal …
Dari saya cuma itu aja, karena yg lain sudah meng-cover dengan komentar yg tepat di aspek lain.
Maaf kalo kata2nya ada yg susah dimengerti.
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 1:32 pm
@Kuro: Oke, oke… Makasih banyak atas kritik dan sarannya yaa…
InsyaALLAH, kalo aku bisa, aku akan menuruti saran kakak kok..
Makasih banyak ya ka.. ^_^
@Mantoel Toink : Wow! masa sih!? Nggak segitunya juga mungkin Kak…
oh! gitu ya, oke2… Makasih ya kak, kritik n sarannya…
Kalo aku bisa, InsyaALLAH… aku menuruti saran kakak kok… Makasih banyak ya kak.. ^_^
Agustus 24, 2010 at 10:42 pm
Karena km yang kelihatan paling semangat, jadi aku menyempatkan sesegera mungkin baca ceritamu
Aku udah baca setengah sampai sini, dan aku setuju dengan Juu untuk bertanya dulu tentang umurmu. Masalah umur mempengaruhi pola pikir dalam menciptakan latar dunia fantasy, dan aku segan memberi komentar aneh-aneh yang justru akan membuatmu tidak nyaman. Bagaimanapun juga komentar selalu harus diklarifikasi alasannya sama penulisnya, dan karena cara berpikir berbeda, mungkin kedua belah pihak bisa salah paham akut…
Oke, aku baca dulu sampai selesai, dan ini agak berat sebenarnya buatku
Agustus 25, 2010 at 9:59 pm
Wow! OKe2, makasih ya… ^_^
AKu masih umur 10 tahun…
Kalo berat bacanya, ngga usah dibaca gapapa kok, aku ga marah.. Tapi, kalo mau baca, Tafadhol..
Mkasiih ya masukannya… ^_^
Agustus 24, 2010 at 11:01 pm
The hell is this?
Penamaan yang tidak biasa + istilah yang tidak biasa + Bahasa Indonesia + English + “Ya Allah… Astaghfirullahhaladzim…!”
Setelah membaca aku hanya bisa bertanya, “Gusti Allah, now I sedang berada di mana? Kulo mboten ngertos”
Hmm, tapi pastinya kamu ini seorang gadis yang bersemangat
Agustus 24, 2010 at 11:04 pm
Woi, tidakkah ini terlalu frontal utk diartikan sebagai sesuatu yg buruk? Kirain teh mau nunggu jawaban soal umur dulu dr yg nulisnya.
Teuing ah kalo ada yg nangis gara2 situ. Gak ikut2, gak ikut2.
*berlari menghilang meninggalkan kuro sendirian*
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 11:09 pm
Loh, aku ini sedang memuji loh soal gadis yang bersemangat XD
Jujur aja deh, waktu jaman segini emang kita pernah berpikiran buat cerita beginian? Dan gw juga termasuk orang yang menentang pengebirian habis-habisan si Willy Flarkies. Kalo kita geser dikit cara berpikir kita, sudah jelas ini unggul di kelasnya?
Agustus 25, 2010 at 10:01 pm
Hah!? Hell!?
Makasih ya, kritikannya….. ^_^
Agustus 24, 2010 at 11:43 pm
*ngakak*
Ini lucu. Kayaknya ini cocoknya masuk cerita komedi daripada fantasi. Lagian, ini kayak anekdot gitu, deh.
Agustus 26, 2010 at 1:33 pm
Oh! gitu ya kak…
Mkasih ya, kritiknya… Sebisa mungkin, aku akan mengubah alur ceritaku jika aku menulis cerita selanjutnya.. Makasih kak.. ^_^
Agustus 24, 2010 at 11:44 pm
bagus kok. bagus, dik
Agustus 26, 2010 at 1:34 pm
Makasih kak pujiannya… ^_^
Agustus 25, 2010 at 11:41 am
ini komen pertama saya di FF 2010.
satu komen saja, khusus untuk lanie.
untuk yang lainnya tetap minggu depan.
lanie,
saya sudah baca. memang terlalu banyak penggunaan nama dan istilah asing (mungkin supaya terasa fantasi ya, lanie?), dan juga terlalu banyak tanda seru, tapi saya suka bacanya kok. kamu sudah berusaha, dan saya suka. beneran.
saran saya, setelah ini kalo kamu mau terus menulis, kamu banyak-banyak baca cerita di buku atau majalah ya. banyak belajar cara menulis dan bercerita yang baik, dan terus menulis dengan semangat.
di FF 2010 ini kamu juga bisa baca cerita yg judulnya ‘Moka si Mobil Jelaga’. baca ya. itu contoh cerita anak yang bagus. dan jangan lupa beli buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) di toko buku. harganya cuman 12 ribu, kalo gak salah.
terakhir, jangan kebanyakan nonton sinetron di tivi. terlalu banyak kata seru dan tanda seru di sana, gak baik. nanti kamu ketularan juga kebanyakan nulis tanda seru, kayak di cerita ini. hehe…
itu dulu saran dari saya ya.
tetaplah menulis. itu satu permintaan dari saya.
villam
Agustus 26, 2010 at 2:01 pm
Wahh!! Makasih banyak ya kak..
Hhee..
Iya ka…
Wah! Masa kak!? Makasih ya ka… ^_^
InsyaAllah kak… Udah kok, aku malahan udah beli. Tapi belum aku baca… wkwkwwkk
Memang, EYD di ceritaku ini ngga menganut di KKBI ya??
Hehe…
Aku jarang kok kak, liet kayak gituan. AKu kasih banyak tanda seru, soalnya biar keliatan seru aja pas tengkarnya itu.. hehehe
Oh ya! Makasih ya kak kritik dan sarannya…
InsyaAllah, aku akan melaksanakannya..
Oke, makasih banyak ya kak.. ^_^
Agustus 25, 2010 at 5:16 pm
Saya juga jadi penasaran sama umur Lanie. Bukannya mau mendiskriminasi, tapi saya justru ingin memuji. Saya pribadi pernah memasukkan fanfic ke majalah Final Fantasy World (dimasukkan di FFW edisi kedua kalau tidak salah) waktu saya masih kelas 6 SD. Waktu itu, gaya bahasa dan teknik penulisan saya malah dibilang terlalu dewasa untuk usia saya. Saya waktu itu sangat terpukul dan sakit hati karena merasa seperti dikatai “kamu seperti tante-tante”. Hahaha. (Kalau sekarang, sih, sudah kebal dikata-katai seperti apapun)
Jadi… Kalau memang umur Lanie sesuai dengan gaya penulisannya ini, yang ceria dan begitu murni, saya rasa ini adalah sebuah cerita yang memang ia tulis untuk dunia anak-anak yang penuh kegembiraan. Sebuah dunia yang masih lurus, bersih, dan tulus. Dunia yang mungkin di mata kita adalah sesuatu yang penuh dengan cela, tapi sebenarnya memiliki keunikan tersendiri. Dan keindahannya terletak pada keunikan itu.
Terus menulis, ya, Lanie. Tidak semua orang bisa menulis, tapi mereka tidak bisa karena mereka tidak mau. Nah, pada kasusmu kamu mau menulis, jadi saya yakin kamu pasti akan semakin berkembang lagi. Asalkan kamu tetap memelihara rasa “ingin menulis” itu.
Agustus 26, 2010 at 2:09 pm
Wah! masa ka!? AKu masih umur 10 tahun..
Hehehe…
Memangnya, sekarang kaka umur berapa kalo boleh tau?? ^_^
Wah-wah-wah! Aku ga percaya deh, sama omongan kakak.. hehehe
Cuma bercanda kok ka.. Makasih ya kak, pujiannya..
INsyaALLAH, aku akan terus menulis. Makasih kak, nasehatnya… Dan, makasih ya, atas kritik, saran+nasehatnya… ^_^
Agustus 26, 2010 at 4:05 pm
Ah, 10 tahun toh. 2 tahun lagi, kalau kamu terus menulis, saya percaya teknik penulisan kamu sudah akan mendekati sempurna. Karena saya berusia 12 tahun ketika tulisan saya secara teknis (dari segi EYD) dikatakan benar-benar “layak untuk diterbitkan”.
Sekarang saya 16 tahun.
Good luck to you, Lanie.
Agustus 28, 2010 at 10:48 am
Oh.. gitu.. Iya, iya.. Makasih ya kak..!! Kaka hebat bangett!! ^_^
Thanks ka…
Agustus 25, 2010 at 7:01 pm
Wow, om Villam memberikan komentar pertamanya hanya untuk cerita Laniefay? Berarti cerita yang ditulis benar-benar istimewa. Dan dari apa yang kulihat, cerita ini memang berisi hawa ceria yang tidak dimiliki oleh kaum sepuh, ng, maksudnya om dan tante yang sudah uzur, hehehe.
Rasanya saya jadi mengerti, mengapa hanya pada karya ini, om Villam mau memberikan komentar pertamanya. Mungkin karena dia juga bisa melihat apa yang saya lihat.
Laniefay, kau punya bakat terpendam untuk menjadi seorang penulis besar.
Agustus 26, 2010 at 2:14 pm
Wah-wah-wah! Terlalu over nih.. hehehe..
cuma bercanda kok kak..
Hah!? Masa kak!? Makasih banyak ya kak, atas pujiannya… ^_^
Agustus 25, 2010 at 7:35 pm
Setuju dengan komen2 di atas, but still, you have to learn A LOT. Nilai lebih dari tulisan ini adalah keceriaannya, kepolosannya, dan yang utama adalah semangatnya.
Sini Juu, kita pergi berdebat di tempat lain *tertawa sinis*
Agustus 25, 2010 at 7:46 pm
Hayu, mari.
Bukannya dari tadi jg udah berdebat di tempat lain?
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 2:29 pm
Wahh!! Makasih ya pujiannya… ^_^
Agustus 25, 2010 at 8:33 pm
Hehe…. komentar pertama untuk cerpen-cerpen fantasi fiesta 2010 dariku.
Setuju soal masih terlalu banyak aspek yang bisa dikembangkan…. Saran-saran di atas sudah mengcover hampir semuanya, jadi aku cuma bisa ngomong itu aja.
Tapi aku juga setuju cerita ini punya hawa ceria yang nggak dimiliki cerita lain.
Keep writing!
Agustus 26, 2010 at 2:30 pm
Oh, gitu… MAkasih kak, saran dan pujiannya..
Insya Allah,..
Thanks ya ka… ^_^
Agustus 25, 2010 at 10:54 pm
Wah ini crita Laniefay yg semangat bgt itu kn?
Numpang promo ya!
http://kastilfantasi.wordpress.com/2010/08/24/heart-speaker/
Agustus 26, 2010 at 2:33 pm
hehehe..
ngga juga sihh.. hahaha:p
Oke, oke…
Agustus 26, 2010 at 2:29 pm
Mia : mi critamu bagus bgt… kamu dapet dari mana istilah – istilahx…
Agustus 26, 2010 at 2:32 pm
Kok bisaaa!!?? Tapi, kalo iya.. Makasih banyak ya bell.. ^_^
Ya ngarang sendiri doongg.. hehehe
Bel, kalo boleh tanya, ada kritikan ngga buat critaku??
Agustus 26, 2010 at 2:36 pm
Makasih banyak ya, semuanya… Udah ngasih aku kritik, saran, dan nasehat…
AKu akan menerima kritik, dan saran kalian dengan senang hati (meskipun sedikit sakit. hehehe:p)
Thanks all.. ^_^
Agustus 26, 2010 at 4:11 pm
lanie, kalau boleh kasih tambahan saran juga:
coba deh kamu tulis2 sesuatu yang temanya bukan fantasi/sci-fi
kalau misalnya kamu memang enggak suka cerita non-fantasi, ya anggap aja itu cuma buat latihan2 menulis aja supaya terus berkembang kemampuannya
karena menurutku yang bikin bingung banget dari cerita ini adalah dua paragraf panjang di awal dan kata2 yg ada di dalam tanda kurung
tapi itu semua kan istilah, dan istilah gampang banget kok digantinya
Agustus 28, 2010 at 10:51 am
Oohh.., gitu… Udah kok, dari dulu malahan.. Hehehe
Itu perkenalan ka.., trs yg di kurung itu arti dari istilah2 di Science Town.. gituu…
Hhee..
makasih ya kaka, kritik dan sarannya.. ^_^
Agustus 26, 2010 at 4:55 pm
…Lanie yang ngarang ini masih muda ya? Dalam artian, muda banget? Hoo, aku enggak nyangka bakal ada peserta semuda ini.
Yah, menurutku pengarang masih bisa banyak berkembang sih. Baik dari sisi pemilihan tema cerita maupun teknis penulisan.
Aku cuma heran ama satu hal aja. Kenapa cerita ini enggak dinikin dalem format buku harian, dari sudut pandang orang pertama? Kupikir, kalo aja dia ngebikin cerita ini dari sudut pandang orang pertama, dengan pemilihan kata-kata yang lebih sederhana, bakal ada lebih banyak hal yang jadi bisa dia ungkap.
Yah. Kenyataan dia punya keberanian buat ikutan, dan kesanggupan buat nuntasin ceritanya aja udah sesuatu yang layak buat dapet pujian.
Agustus 27, 2010 at 7:21 am
Ups. Salah nulis. Maksudku, dalam format buku harian (ini emang sejak awal udah dibikin dari sudut pandang orang pertama
).
Eniwei, aku coba kaji lagi. Lalu aku nyadar kalo kayaknya pengarang nulis ini dalam keadaan udah kebayang apa-apa yang mau dia tulis. Cuma dia memang masih belum terlalu bisa menuangkan apa yang ada di kepalanya itu ke dalam bentuk tulisan. Ini keliatan dari pergeseran sudut pandang kasar di toko buku pas di awal-awal.
Lalu soal konflik yang dia angkat. Kayaknya dia mau ngegambarin situasi di mana si tokoh utama berhadapan dengan orang-orang yang perilakunya enggak riil (bayangin The Truman Show-nya Jim Carrey). Itulah aspek ‘fantasi’ yang tadinya mau dia tunjukin. Cuma, entah karena dia enggak punya acuan ato gimana, jadinya malah bernuansa sinetron gini.
Hal ini kusimpulin dari soal gimana ia maksain nyebutin soal Deceptive Problems menjelang akhir cerita, yang kalo kita perhatiin dari sudut pandang orang luar, terkesan enggak perlu mengingat konflik buku itu udah tuntas.
Aku tau karyanya ini masi kurang. Tapi kurasa pengarang udah nunjukin bakatnya. Asal dia cuekin apa kata orang lain dan terus berusaha, yah, ntar diapun bakal jadi hebat.
Agustus 28, 2010 at 11:13 am
Maksud kaka?? AKu ga ngertii..
Hah!? Ini bernuansa sinetron ya?? pdahal sebenernya, bukan tema itu yang mau aku usung..
Sebenernya, bukan itu judulnya.. Tapi, “The Problems from Science Town” cuman, karena fontnya kelebihan.. AKu ganti deh epilognya… Jadi, kayak agak ngga nyambung.. :’(
IYa ya…
Makasih kak, saran dan kritiknya…
Agustus 28, 2010 at 10:55 am
Masa sih kak!? Emang kaka umur brp??
Maksudnya dalam format buku harian kak?? Terus, maksudnya dari sudut pandang orang pertama itu apa?
Makasih kak.. ^_^
Agustus 26, 2010 at 5:10 pm
Payah nich, font nya dirubah membuat mata sakit waktu membaca cerita.
Please font diganti agar mudah dibaca dooooong. Bacanya pusing, bagaimana mau komen
Agustus 28, 2010 at 11:14 am
MEmang siapa kak yg merubah??
Bilang ke Kak @rdvillam aja kakkk..
Agustus 27, 2010 at 1:58 pm
kesan: sangat ceria!
perbaikan: terlalu banyak istilah yang sengaja dipelesetkan, sehingga agak mengganggu, dan enggak perlu.
saran: setuju dengan orang2 lain: ada bakat menulis, jadi setelah ini, banyak-banyaklah membaca buku (novel dan buku lainnya, dan kata siapa majalah dan koran enggak boleh?
), dan -Demi Tuhan, for God’s sake, Gusti Allah- kuRANGi nonton sinetron
teruslah berlatih!
Agustus 27, 2010 at 2:10 pm
Oh, plus, jangan terlalu terpaku pada apa yang kamu lihat di televisi. Tidak semua yang terjadi dibalik layar itu benar (kecuali, mungkin, berita).
Coba memberi perhatian lebih pada semua hal yang benar-benar ada disekitarmu, seperti: pohon besar di halaman sekolah, apa saja yang teman-temanmu kerjakan di jam istirahat, toilet dan petugas pembersihnya, kesamaan pada orang-orang yang berjalan-jalan di mall, sampai burung-burung yang mungkin hanya berkicau di jam-jam tertentu.
Biasanya dibalik hal-hal paling remeh dan sederhana, tersimpan cerita yang, mungkin, diluar imajinasi kita, dan amat luar biasa.
Kembangkan cerita itu, dan Yang Maha Kuasa akan membantumu mengembangkan anugrah-Nya padamu. Oke.
Agustus 27, 2010 at 2:21 pm
Oh! iya iya…
OKe, oke.. mkasih banyak atas saran dan kritiknya…
Agustus 27, 2010 at 2:19 pm
Makasih atas kesan yang kaka berikan..
Oh! iya, makasih…Akan aku perbaiki sebisa mungkin (kalo aku bisa nulis lagi…)
Tapi, aku emg GA SUKA dan JARANG liet sinetron…
Agustus 28, 2010 at 6:11 pm
Wah, kalau kedengarannya terlalu keras, sori ya. Soalny aku mendapat kesan yang agak ‘kesinetron-sinetronan’ dari beberapa dialognya, seperti:
“…Kamu sudah lihat kan buktinya! Itu ditunjukkan oleh ketua kelas kita sendiri! Lihat kan! Lihat! Jadi, sudah terbukti! Kamu pelakunya! Dasar! Munafik!…”
yah…aku enggak pernah dengar, ada anak SD yang meneriaki temannya ‘munafik!’, yang menurutku, khas tante-tante di sinetron2. Hehehe, sekali lagi, maaf ya kalau kamu tersinggung berat
, cheer up!
Agustus 29, 2010 at 10:10 am
Oh! Gitu ya…
Iya-iya, gapapa..
Tapi, di pelajaranku ada kok tentang ‘Munafik’..
Agustus 27, 2010 at 3:06 pm
Lanie semangat!
eh temanmu yang mo ikutan lomba ini juga jadi ngirim?
Nulis lagi dong. Tema yang lain juga boleh. Gabung di http://www.Kemudian.com, yuk. Di sana rame-rame orang nulis dan belajar juga dikomentari. Walau rada-rada lama. Sekarang di sana ada member yang usianya 14 tahun. Juga hobi bikin tulisan fantasy.
Anak di usia kamu yag bisa menulis cerpen dengan jumlah kata yang ditentukan itu, gak banyak. Dari yang sedikit itu gak banyak lagi yang mau terus belajar. Ayo ramaikan dunia fantasi indonesia! jangan berhenti hanya dengan lomba ini. Lagi pula lomba ini akan hadir tiap tahun. Hope so.
Love y`
Agustus 28, 2010 at 11:22 am
Makasih kak!! nggak jadi, soalnya, dia baru aja ngetik pas 2 hari sebelum deadline.. Jadi, belum seleseee…
Wow!!
Oke-okee…
Makasih ya ka, nasehatnyaaa…
Agustus 28, 2010 at 1:06 pm
wah, bakal jadi kandidat crita favorit nih.
Agustus 28, 2010 at 1:31 pm
Wowow!! Makasih ya.. ^_^
Agustus 29, 2010 at 10:11 am
Tapi kayaknya ngga..
Agustus 31, 2010 at 3:24 pm
This is a very good story, I love it. You are smart to make the story mia! @ Tasyalvz2
Agustus 31, 2010 at 3:26 pm
Ihhh…, masa sihh!!? Makasih yaa… ^^
Agustus 31, 2010 at 3:33 pm
ur welcome (:
Agustus 31, 2010 at 9:09 pm
okeoke
September 3, 2010 at 10:12 am
Kayaknya semua orang udah ngomong apa yang perlu disampaikan sama Lanie, jadi aku cuma mau nambahin:
Terus menulis ya, Lanie. Kalau kamu memang cinta menulis, semakin banyak kamu menulis, semakin berkembang juga kemampuan penulisan kamu. Nanti kalau kamu udah SMP dan SMA, coba baca lagi tulisan kamu yang sekarang ini, dan kamu jadi bisa menyadari apa yang temen-temen semua bilang di sini (soal format diary, soal EYD, dan sebagainya).
Juga banyak baca buku, koran, majalah, komik juga boleh. Perluas pengetahuan kamu, karena sebenernya itu lah harta terbesar para penulis: PENGETAHUAN. Baik pengetahuan akan kehidupan, lingkungan di sekitar kita, sampai pengetahuan akan teknik penulisan itu sendiri.
Kalau bisa, cobalah berikan tulisan kamu ini ke guru Bahasa Indonesiamu. Minta beliau untuk membimbing kamu jadi penulis yang lebih baik lagi.
Sekedar berbagi, dulu aku juga mulai nulis umur 10 tahun lho. Dan waktu itu tulisanku jelas ga sepanjang dan ga sebagus tulisanmu ini. Waktu itu orang yang berjasa banget mengembangkan minat dan kemampuan menulisku adalah guru Bahasa Indonesiaku.
Soal kamu nggak menang, jangan kecewa ya. Karena, sebagian besar peserta di sini jauh lebih tua dari Lanie dan jelas punya pengalaman yang jauh lebih banyak sebagai penulis. Contohnya aku, yang umurnya dua kali lipat lebih umur Lanie (ups, jadi ngebongkar umur sendiri deh
) dan dari umur 10 tahun sampai sekarang aku nggak pernah berhenti belajar menulis.
Jadi, jangan patah semangat. Teruslah menulis, dan suatu saat nanti kamu pasti bisa menang lomba juga. Atau suatu hari nanti, aku bakal beli buku yang kamu terbitin terus bilang ke semua orang, “Ini bukunya Lanie yang dulu ikut Fantasy Fiesta 2010 waktu umurnya 10 tahun, lho! Hebat, kan?”
September 5, 2010 at 5:31 pm
Hm, aku tidak peduli berapa umur Anda. Aku juga tidak peduli komen-komen yang telah tertulis sebelumnya. Aku akan komen sejujurnya berdasarkan apa yang telah kubaca.
Cerita fantasi itu tidak melulu identik dengan istilah-istilah yang fantasi pula. Terkadang kalau terlalu banyak istilah, pembacanya jadi sibuk menghafal sehingga tidak lagi mengikuti inti cerita yang hendak disampaikan (apalagi sampai mengubah istilah lazim yang sederhana menjadi tidak lazim. Itu gawat!). Tapi, ya, walau penyampaiannya kurang ramah buatku, tapi aku masih bisa menangkap inti ceritanya.
Lalu terkait dengan permohonan agar lebih dari 3000 kata, hm, kukira di sinilah keahlian seorang penulis diuji. Anda boleh menulis hingga 30000 kata, itu tidak masalah. Tapi syarat tetaplah syarat: 3000 kata. Nah masalahnya, apakah para pembaca lain bisa melihat 27000 kata lain (yang telah terpangkas) dalam 3000 kata itu? Jujurnya (dan maaf pula), cerita ini walau nambah jadi 4000 kata seperti yang di-request, aku tetap melihatnya sebagai 1000 kata saja.
Oya, mengapa ‘islam’ dan ‘asthagfirullah’-nya gak dicari padanan bahasa ajaibnya? Hehe, just kidding. Hanya usil saja.
Adegan paling suka: mobil jaguar dengan kulkas. Wuaaaaah!
Adegan paling gak suka: istilah-istilah ajaib yang bejibun dan juga lelucon deceptive-nya.
Harapan: terus berlatih menulis dan tahun depan ikut lagi.