HUJAN
D. Catcher
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
HUJAN
D. Catcher
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 7:06 pm
POV-nya serasa membaca “Pilih Sendiri Petualangan-mu”… tapi versi yg panjang sekali… xD
enggak tau kenapa, tapi kok rasanya emang capek banget ya baca marathon POV dengan tokoh utama “kau”
eniwei, fantasi afterlife-nya, tentang kontrak, dan karakter Jeremy cukup menarik, D.Catcher!
Agustus 26, 2010 at 4:12 pm
@fr3d: hehe, makasih ya komennya,
sebenarnya aku ada buat satu cerpen lagi, tapi karena kepanjangan (dan aku makan ati musti motong lebih dari 2000 kata), akhirnya dalam dua hari terciptalah cerpen baru ini, hehehe
rencananya aku mau buat versi novelnya, kalau ceritaku yang lain sudah selesai
u like Jeremy? me too
Agustus 25, 2010 at 9:29 am
Pemakaian pov 2… Wow. Ini menarik.
Tapi saya krg ngerti ceritanya. Kontrak itu ttg apa? Knp lalu si tokoh dan ayahnya akhirnya mati. Kurasa penulis masi perlu menjelaskan soal ini..
Agustus 26, 2010 at 4:26 pm
@Anggra: ssst, salahkan peraturan ’2500 – 3000 kata’, jadiny ga ad tempat buat jelasin lebih detil, heheheh
Agustus 26, 2010 at 5:53 pm
ups.. gitu ya? ==”
iya sih… itu juga masalahku… hehehe
Agustus 27, 2010 at 3:22 pm
Sama dong *toss*
Oh, lupa jelasin, jadi seperti kata fr3d, ini memang cerita afterlife, tentang kehidupan setelah kematian, atau tepatnya, ada apa setelah kematian.
Jadi tokoh ayah dan ‘kau’nya meninggal, terus dibawa ke suatu toko, semacam metafora dari peralihan jiwa setelah kematian, yang kalau istilah kita adalah ‘berpulang’, atau dalam cerita ini, kontraknya selesai
Kurang jelas ya? ^^;
Btw, ni cerita berlatar belakang Jerman, Nazi, dan terinspirasi dari film The Pianist. Kalo nonton film itu, bayangan mayat2 yang dibiarkan tergeletak di trotoar, enggak aneh pada masa pembersihan ras murni oleh Hitler yang itu. Ketika Rusia akhirnya datang, tentara Jerman sudah membunuh sebagian besar umat Yahudi dan Skotland…
Agustus 27, 2010 at 4:50 pm
Gw coba kasih comment ya. Pertama kali baca cerpen ini, wow, POV 2. Ini kayanya pertama kalinya gw baca cerita yg pake POV 2, jadi agak takjub & ngga bisa ngebandingin ama cerita yg laen (Eh tp, kalo fight club-nya chuck palahniuk POV 2 bukan ya? Harus liat-liat lagi nih).
Tp emang lama-lama agak pegel juga baca POV ‘kau’.
Btw, ide dan mitologi di belakang cerpen ini ambisius dan menarik bgt (pasti cukup utk jadi satu cerita novel yg utuh, dan kayaknya gw bakalan nyambung ama cerita ini). Emosi karakternya jg dapet, terutama pas Kau bertemu ayahnya di alam baka. Eh, kenapa ya gw selalu ngebayangin ini bag 1, trus bag selanjutnya perjalanan ayah dan anak di Padang Berkabut & pendalaman hubungan mrk?
Terus, naga & lumba-lumba itu ngelambangin apa sih? Maksud gw, kenapa naga & lumba-lumba?
Oh ya, satu lagi, kl emang latar belakangnya Jerman era Nazi, gw pikir sih tulis aja di deskripsi (ngga usah ‘Nazi’, tp cukup mis ‘lambang swastika’ aja). Itu lumayan banget ngegambarin latar belakang dan ngebangun suasana (terutama utk format cerpen). Soalnya gw jg ngga dapet latar belakang Nazi waktu baca cerpen ini. Itu menurut gw loh…
OK, gitu aja. Ditunggu novelnya!
Agustus 28, 2010 at 2:32 pm
Makasih udah komen
POV orang ke-2 juga dipakai cerita lain yang judulnya “Selera Ganesha”. Judulnya gitu, tapi ceritanya enggak ada hubungannya dengan Ganesha yang di kartun TPI (bocah berkulit biru itu) atau tokoh dalam agama Hindu. Coba baca aja, bagus kok, dan penggunaan ‘kau’nya enggak se-marathon ceritaku ini, jadi enggak usah takut pegel2 terus kram, hehehe.
Aku sempat mau nulis Swastika, tapi terus aku mikirnya, membayangkan dari sudut pandang anak itu. Mereka melihatnya sebagai sebuah lambang Swastika, atau sebagai ‘lambang itu’; lambang yang membuatnya merasa ngeri dan terancam tiap kali melihatnya?
Setelah nonton Pianist, aku melihat rasa takut para aktornya tampak sangat nyata, mungkin karena, ‘semua itu benar-benar terjadi’…
Wah, aku rencananya mau ngelanjutin ceritanya ‘toko itu’. Aku enggak mikirin lagi selanjutnya perjalanan si anak dan ayahnya seperti apa, karena selanjutnya bergantung pada mereka sendiri *halah*. Klo ada ide, mungkin tar bisa aku tulis. Cerita ini sedikit-banyak terinspirasi dari komik The Sandman, karya Oom Neil Gaiman, kalau mau tahu
.
Akhirnya ada yang nanya juga:
Naga: makhluk mitologi, untuk menandakan bahwa sebuah cerita adalah cerita fantasi (kata ini aku pernah baca dimana, mungkin wikipedia?)
Lumba-lumba: alternatif lain, mau aku bikin jadi ikan pari, tapi pari mana bisa gigit piring? hehehe…
sebenarnya masing-masing makhluk itu manifestasi dari unsur dunia, jadi:
- naga > fantasi, imajinasi;
- lumba-lumba > lautan, siklus hidup(Thomas bisa berubah wujud pada kondisi tertentu);
- Elsa (terpengaruh Fiddler’s Green dari Sandman)> tanaman, udara, dan tanah.
Versi novelnya bakalan lama, secara aku nulis lambatnya minta ampun *gregetan sendiri*. Tar klo uda mulai proyekny, aku pajang di facebook aku, boleh nongkrongin klo mau:
http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1176835051
dan nantikan kabar selanjutnya dalam …sekian tahun kemudian. Klo mau lebih cepet, tolong sumbangkan saya laptop *huahahahahah*
Bercanda koq, kamu ada nulis cerpen juga? Tar aku ramein punya kamu juga deh
Agustus 29, 2010 at 8:41 am
Gpp, nulis novel emang lama koq (soalnya gw jg). Kita mungkin ngga bisa ‘lari’ waktu nulis novel spt penulis lain, yg penting jalan selangkah demi selangkah dan ngga diam di tempat.
Udah koq, kamu udah comment cerpen gw, yg nomor 69 itu. Hehehe…
Agustus 28, 2010 at 4:29 pm
awalnya agak janggal jg bacanya karena pake tokoh utama “kau” tapi pas pertengahan ternyata enak jg.hehe.waktu baca kurang ngeh kenapa si ayah keliatan kek seneng banget,ternyata karena bisa ketemu anaknya ‘lagi’ y? jadi terharu saya apalagi setelah tahu kalau dia meninggal karena “Dia menyerang orang-orang yang telah membunuh anaknya, dan mengakibatkan dirinya tertembak mati” (kata si lumba-lumba).aq suka karakter si ayah
oh y, mereka sadar atau tidak kalau raga mereka telah mati? ini masih bersambung y?penasaran ma cerita selanjutnya,yang perjalanan mereka menelusuri padang berkabut,keknya seru,heheh.si jeremy lucu banget,suka makan kue coklat..mana sok2 menahan diri gt pas dikasih kue coklat,hahah.
Agustus 28, 2010 at 5:04 pm
Makasih udah komen
Kedua anak dan ayah itu sudah tahu bahwa mereka sudah mati, karena itu mereka sangat lega bisa berjalan bersama-sama menembus Padang Berkabut untuk pergi ke ‘tujuan selanjutnya’.
Kalau mau aku bikin lanjutannya dari POV si anak, mungkin bakalan rada-rada spiritual jadinya, secara mereka sudah menjadi arwah, dan jelas dunianya lain dengan dunia kita.
Baru dapat inspirasi nih (makasih ya, hueheheh) klo ada waktu entar aku tulis lanjutannya dari POV si anak, tapi dalam bentuk cerpen juga.
—OoO—
“Tampaknya semua orang menyukaimu, Jeremy.”
“Benarkah? Wow, keren! Apa itu berarti aku akan mendapat kue lagi?”
“TIDAK.”
“Aw.”
Agustus 29, 2010 at 1:00 pm
Aku baca ini putus-putus. Mungkin karena paragrafnya panjang2 banget tanpa ada sesuatu—apakah lewat cara bercerita atau materi yang diceritakan—yang punya tarikan cukup kuat hingga bikin aku baca terus.
Ide sih bagus. Suka juga soal hidup adalah kontrak itu, dan keputusan ‘pake hati’ si Penjaga Toko Kehidupan untuk ngebunuh si Bapak.
Agustus 29, 2010 at 7:28 pm
Hehe, thanks udah sempet komen
Hmm, mungkin karena paragrafny deskriptif, tapi kata-katanya yang terlalu umum yah? Jdiny kurang ‘catchy’. Pas aku baca2 lgi juga rasanya banyak kata-kata tak perlu yang harusny masih bisa dipangkas…
Yes, dapet nama deh buat tokonya
.
Hahahah, makasih juga buat pujiannya, walo rasanya cerita ini masih perlu banyak perbaikan disana-sini… I’ll study more for the next story
, thanks!
Agustus 31, 2010 at 8:59 am
Saya setuju ama beberapa komen sebelumnya. Ngikutin deskripsi-deskripsi panjang dengan kata ganti orang kedua bener-bener melelahkan. Tapi aku ga tau alasannya kenapa. Mungkin karena kerasa ga wajar aja? Apa ada alasan tertentu kenapa dibikin pake POV orang kedua? (Fight Club pake POV orang pertama kok. POV orang kedua itu seingatku dipake pada adegan-adegan permisalannya aja)
Eniwei, karena cerita ini diputus gitu aja dan berakhir sebagai fragmen, pas begitu beres baca rasanya gimanaa gitu. Tapi narasinya menurutku bagus kok. Kalo aja kaitan yang bisa bikin orang ketarik baca langsung ditampilin semenjak awal, kayak kebingungan si tokoh kau dan segala macam, kupikir cerita ini bakal mengalir lebih lancar.
Soal surat perjanjian yang ditanda tangan lalu dibakar oleh sang naga, sayangnya maksudnya aku kurang ngerti.
Soal latarnya, aku enggak langsung kebayang kalo ini Jerman tahun 1940an (semula aku pikir ini latar fantasi, sebab motivasi pencopetan itu buatku ampe sekarang masih belum kebayang. apa duit masih berharga di tengah masa pendudukan perang?), dan aku baru ngeh soal itu sesudah membaca keterangannya di komen. Mungkin ada beberapa ciri-ciri zaman itu yang bisa ditambahin kemudian.
Soal ide ceritanya sendiri saat ini belum bisa komen. Tapi soal konsep yang mau dibawain, kurasa sejauh ini emang menarik.
Agustus 31, 2010 at 11:15 am
Wah, ini komen yang paling mengkritik nih, heheh, thx udah komen.
Klo kulihat dari komen2 yang ada…kurasa kesimpulan untuk cerita ini:
Ide menarik, tapi pengeksekusiannya kurang matang.
- Kenapa kurang jelas? Karna batas max 3000 kata (sudah kuusahakan, tpi crita ini gk bisa lebih jelas lagi klo pendek begini
)
- POV orang kedua, kugunakan agar pembaca bisa ‘melihat’ dari sudut pandang tokoh utamanya. Tapi kayakny, malah backfire. Aku enggak sadar, klo POV org kedua jg membuat pembaca tancap cas mengikuti ceritany.
- Sebuah…fragmen? Emm, maksudny fragmen kisahnya si anak dan bapak, atau fragmen kisah toko itu? Soalny sejauh ini, 4 dari 5 pembaca mengatakan klo mereka penasaran pada kelanjutan kisah si anak dan bapak itu. Padahal maksudku sebagai penulisny, bukan begitu. Ak cuma sekedar naruh sepotong kisah kematian, untuk memberi gambaran akan keberadaan sebuah toko yang bertugas mengurusi jiwa-jiwa manusia yang telah meninggal.
- Mungkin karena sejak awal sudut pandangny fokus ke anak itu, jdi tujuan awalku tergeser yah…hahah
- Wah, pengamatan yang tajam. Kenapa anak itu mencopet? Padahal pas perang, makan n minum jauh lebih penting? Kok dia enggak nyuri roti dari pasar terdekat aja?
Alasan: karena anak itu berpendapat, uang bisa mempertahankan hidupny dan bapakny, walau dalam kenyataanny, begitu prosesi ‘pembersihan’ oleh Hitler dimulai, uang sudah tidak berguna lagi. Tapi bagaimanapun, di pikiran anak itu, sebelum perang, uanglah yang membuat orang-orang tetap hidup.
- Sebenarny ada penjelasan lebih lanjut di paragraf2 yg terpaksa kuhapus untuk kuota 3000 kata, tpi karna fokus utamany pada kematian itu, jdi akhirnya, yah, gak kusertakan…
- Soal surat kontrak yg dibakar? Well, musnahny surat itu semacam pengesahan, bahwa kontrak itu telah selesai, dan sudah tak lagi mengikat. Lanjutanny lum bisa kujelasin, takut rada spoiler, hehehe
Okeh, thx jg buat beberapa pujianny n kritikny.
*kabur sebelum diomeli gara2 protes soal 3000 kata melulu, wkwk*
September 1, 2010 at 3:45 pm
Wah, ada juga yang pake POV 2, kayak aku
Buatku sih narasinya lancar, ga berasa capek bacanya, tapi mungkin karena aku juga abis bikin cerpen POV 2 X(
Waktu baca cerita ini, yang pertama kali kebayang adalah Howl’s Moving Castle (karena sosok penjaga tokonya kali ya), trus waktu penandatanganan kontrak, jadi kebayang Willy Wonka and the Chocolate Factory. Tadinya kebayang, wah, si anak dapet tokonya nih buat dikelola bareng bapaknya! Jadinya mereka ga perlu susah-susah lagi dan si anak ga perlu nyopet lagi. Tapi ternyata endingnya kayak gitu. Jadi rada miris bacanya.
Soal Jeremy dan Thomas, aku suka banget tokohnya d(^_^) Cute tapi ga maksa. Tadinya aku rada berharap ini cerita anak yang berasa agak dewasa (cerita buat umur 12 tahun ke atas lah) tapi taunya kayaknya bukan ya.
“Yah, habis.” Kau membuka matamu dan menemukan Jeremy menundukkan kepala dengan sedih diatas piring kosong itu.
Menurutku adegan ini imut banget ^_^ bayangin ada naga kecil dengan tampang memelas, lagi nundukin kepala di atas piring, aiihhhhh….
September 2, 2010 at 2:08 pm
Firstly: Halo! Selamat untuk juara pertama
! Love ur story too
, n makasih juga udah sempetin komen d cerpen ak, hehehe.
Ak udah pernah nonton Spirited Away, tpi Howl’s Moving Castle lum pernah (produserny sama2 Hayao Miyazaki kn?), jdi penasaran nih, tar ak cari filmny deh, hehehe.
.
Wah, ini lebih ajaib lagi, Willy Wonka! Wkwkwk, XD, yah, tpi karna ceritany tentang perjalanan setelah kematian, apa boleh buat, gini deh endingny, hehe, sori klo bikin down.
Target pembaca y maksudny? Yah…ak gak pernah mikirin itu sih, hehe, soal pesan atau kesan yg ketangkep tiap orang kan bisa beda, baik orangny masih kecil, atau sudah dewasa. Klo suka bacanya dan bisa dapat satu ‘pesan’ atau apalah, bagus deh
Mau miara Jeremy? ^_^ Sediakanlah berton-ton coklat di rumahmu, heheheh~ thx
September 2, 2010 at 3:22 pm
Coba nonton deh, bagus lho. Yah, namanya juga Hayao Miyazaki kan, ga perlu diraguin lagi deh.
Waduh, kayaknya aku susah buat miara Jeremy, soalnya aku juga suka coklat. Ntar kita rebutan lagi
September 2, 2010 at 5:46 pm
Oke
. Sbenarny dlu tertarik beli, tpi lum ktemu DVD yg ‘orisinil’ (y know lah what i mean), hehe.
)
Klo Ponyo On the Cliff By the Sea udah nonton jg?
(kok malah ngomongin Miyazaki ya? kapan2 ak main k blogmu yah
Hahaha, Jeremy dijatahin aj, biar dia enggak abisin seluruh coklatnya kamu, XDXD
September 16, 2010 at 10:48 pm
Baru baca.
Selain seni menulis gw gak ngerti kenapa crita ini pake PoV2 kerna menurut gw lebih ngena PoV1 limitted. Toh di akhir PoV2nya lepas
si Jeremi tugasnya bilang ‘sah’, ya ^_^
eh gw pikir tadinya si bpk bermata merah itu Pemampas Ruh, ternyata agen resmi. He.he
tetap menulis!
September 22, 2010 at 7:11 pm
hlo, thx udah comment
soal POV…yah banyak yg bilang begitu, tpi klo gt gaya ceritany musti agak diubah. trus karna keterbatasan waktu (bru bikin 2 hari sebelum lomba >.<), jdi pke ide yg mampang di kpala dan inilah hasilny, wkwkwk~
Jeremy juga bertugas sebagai food-tester koq, terutama cookies, XD
hah, agen resmi? (kebayang salesman berjas rapi n bawa koper, XD)
btw, Pemampas Ruh itu istilah dari mitologi mana y? gw baru denger kli ini… ^^;
yep, keep writing