I WAKE FOR THOUSAND YEARS
Kuro M
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
I WAKE FOR THOUSAND YEARS
Kuro M
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 10:23 am
aku merasakan cerita ini cuma sebagian dari cerita yang besar. kira2 kaya slice of life gitu. jadinya endingnya ngegantung gitu.
tapi aku suka cerita ini. emosinya bener2 kerasa. intinya, like this!
Agustus 24, 2010 at 6:34 pm
Hmmm, slice of life ya? Tidak salah sih, tapi ini bukan merupakan bagian dari cerita yang lebih besar. Ini dibuat dari sebuah puisi. Kalau mau cek puisinya, coba lihat cerita yang di blog-ku, di bagian bawah sendiri
(http://ancient-1.blogspot.com/2010/08/dibuat-berdasarkan-puisi-dengan-judul.html) yg bagian bawah sendiri
Agustus 25, 2010 at 10:01 am
Iya, saya sudah pernah baca di blog kuro sebelum nongol di sini.
Tapi tetap saja sih, bagiku ceritamu ini spt slice of life.
Malah kuharap, kamu mau melanjutkannya. Hehe :p
Agustus 28, 2010 at 9:39 pm
Maaf, tidak ada lanjutannya >.<
Kalau kau anggap sebagai slice of life, aku lebih suka menganggap ini sebagai "cerita setelah ending". Dan sayangnya aku ga ada bayangan untuk menulis cerita inti tersebut yang tentang "retakan". Aku punya konsep serupa (dan kupikir lebih kuat) yaitu di Chronostorm. Tapi yang Chronostorm pun masih dalam tahap under-construction, hehe
Lagi bingung cerita mana yang aku angkat berikutnya setelah novel Ancient-ku kelar ~_~)
Agustus 24, 2010 at 2:40 pm
kasihan…
nice one, kuro
agak terlalu lambat di tengah, tapi mungkin karena memang mau menceritakan “menikmati kehidupan bersama”, jadi ya… enggak bener2 ada kejadian yg penting kan?
Agustus 24, 2010 at 6:26 pm
hehe, iya. Di bagian tengahnya aku emang pengen kasih nuansa clash of culture, plus sebagai pendukung ending biar lebih kuat
Agustus 24, 2010 at 6:19 pm
@All, terimakasih
hiks, om villam ke mana ya? kan udah aku bilangin formatnya sebisa mungkin harus sama dengan yang di MS word. Soal flash back, kalian masih bisa nangkap ga?
Agustus 24, 2010 at 6:52 pm
Cerita ini, pas saya baca tempo hari di blogmu, rasanya bisa dianalogikan kyk gini:
seperti menjejalkan seloyang puding beserta saus vla-nya ke dlm gelas wine.
Yg bisa diartikan kira2 jd gini:
Cerita ini masih sangat jauh dari lengkap. Anggaplah si puding seloyang beserta saus vla adalah ceritamu, gelas wine ini adalah batasan 3000 kata yg ditetapkan. Demi memenuhi batasan tersebut, kamu memasukkan layer2 penting dari puding ke dlm gelas wine, sampe sepenuh mungkin.
Sayangnya kamu lupa bagian plg enak dari puding, saus vla, which is deskripsi.
Alhasil, ceritamu bolong di sana sini (krn puding yg seharusnya disajikan seloyang tapi cuma dpt segelas wine) bahkan deskripsi2 penting semacam makhluk apa sbnrnya si karakter utama ini, setting, dst gak dijelaskan, membuat pembaca clueless.
Itu gak nyaman kalo buat saya selaku pembaca, dibiarin clueless.
Lain kali, kalo mau menyajikan sesuatu ke konsumen(pembaca), saya rasa ada baiknya gak memaksakan bahwa yg disajikan tu harus sebuah mahakarya yg terlalu besar (puding seloyang) sedangkan wadah utk menyediakannya terbatas (gelas wine). Puding itu kan bisa diganti jadi a fine wine, yg cocok dan pas dengan wadah yg berupa gelas wine tersebut. Bukan masterpiece dari pengarang, tapi cocok dengan wadahnya.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 8:34 pm
hehe, yang ini emang ga fokus di deskripsi, jadi mohon maaf >.<
Aku emang punya kecendrungan membiarkan sisa deskripsi yang tertinggal terserah pada ruang imajinasi pembaca. Dulu kayaknya aku pernah bilang kalau aku lemah sekali dideskprisi kan? Maka dari itu aku menutupinya dengan membalutnya bersama emosi yang kuat. Sekali lagi mohon maaf jika style-nya tidak berkenan di hati Anda
Agustus 24, 2010 at 8:50 pm
Eh? Kamu lemah di deskripsi? Tapi rasanya terakhir kali tahu, justru cerita2mu butuh banyak sekali deskripsi ya?
Makanya aku mengira cerita yg ini jg kebutuhan deskripsinya pol. Jd yg kubilang minim itu bukan menyerang kamu lemah di deskripsi, tapi kukira kamu memang nggak mengurai byk deskripsi sebanyak yg seharusnya.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 9:06 pm
hmm, ga tahu deh harus berkata apa, kurasa kamu memang benar. Waktu nulis aku hanya bergerak lurus sih, mungkin karena terlalu konsen mencoba memparalelkan rentetan kejadian itu dengan flash-back. Lain kali mungkin aku harus lebih berhati-hati
Agustus 24, 2010 at 8:39 pm
Sebenarnya sisa deskripsi yang tertinggal terserah pada ruang imajinasi pembaca itu baik, sungguh. Tapi rasanya deskripsi yang diberikan masih terlalu kurang, sampai untuk membangun fondasi bagi imajinasi itu sendiri pun hampir tidak ada.
Tapi cerita ini memang unggul di bagian emosi, karena rasanya miris. Cuma, yahh, meskipun bagian emosi itu bertujuan untuk menutup kekurangan di bagian deskripsi, saya rasa pembaca pun jadi kurang bisa merasakan ikatan dengan cerita (dan segala unsur di dalamnya) karena kurangnya deskripsi tersebut.
Hanya pendapat pribadi, hehe.
Agustus 24, 2010 at 8:46 pm
Terima kasih. Saya akan terus belajar untuk semakin menutupi kekurangan itu >.<
Agustus 24, 2010 at 8:44 pm
Bagi yang masih bertanya-tanya soal makhluk seperti apa karakter utama ini, err sebenarnya itu juga jadi pertimbangan awalku. Dan pada akhirnya aku memutuskan bahwa “kan si aku ini tidak terlalu peduli, bahkan punya kesan tidak ingin membahasnya”. Hahaha, sebuah alasan yang konyol ya? :p
Trivia: Svein itu didasarkan dari prototype bangsa Naf dari cerita “Luminoska”. Susunan tubuhnya sebagian besar dari tulang, bahkan merupakan tulang dengan kepadatan tinggi. Terlihat seperti manusia biasa, tapi bobotnya bisa sekitar 200kg
Agustus 25, 2010 at 1:29 pm
Huah, akhirnya koneksi internet bisa cukup beres untuk kasi komen. O_O
Kalau aku sih, deskripsinya banyak, tapi kurang berkesan. Monolog internal si Svein mestinya bisa lebih lugas. Malah kecenderungan yang kulihat di karya-karya kamu masalahnya mungkin cuma satu aja kli Kuro, penceritaannya ga lugas.
Itu aja kli yah. ~_~ Takut klo komen panjang ni koneksi gagal lagi… ~_~
Agustus 25, 2010 at 2:00 pm
Sejujurnya, ini salah satu karya terkeren yang pernah kubaca di FF 2010.
Agustus 25, 2010 at 2:09 pm
buatku sih, deskripsinya lumayan kok. penggambaran tempat, monster, dsb, kurasa bisa diserahkan pada pembaca untuk diimajinasikan sendiri. yang kuat dalam cerita ini, deskripsi emosi si tokoh, dan bagus!
Agustus 25, 2010 at 8:38 pm
Baru sempet mampir2 nih
aku suka gaya penceritaanya, dengan flashback2 (klo nggak salah, ya), itu menurutku gaya tersendiri, dan unik
Kalo soal cerita entah kenapa waktu membacanya spertinya ada beberapa bagian yang rasanya ilang, kurang lengkap,
IMO
tapi tema yang diangkat cukup menarik dan emosional
Agustus 25, 2010 at 10:56 pm
@Luz, saya akan berusaha lebih lugas lagi lain waktu \^o^/
btw, lugas itu maksudnya apa ya? :p
@alfare, terima kasih
@anggara dan Chordannay, cerpen ini dibuat dari puisi sebenarnya, jadi aku berniat sebisa mungkin bisa menyampaikan emosi yang sama kuatnya XD
khusus menjawab soal kesan ada bagian yang hilang, alangkah tidak bijaksananya jika aku menyalahkan 3000 kata! *blush* Pengakuan dosa dariku: mungkin karena aku terlalu asyik menggodok emosi itu untuk persiapan di ending, jadi beberapa hal terlupa
Agustus 26, 2010 at 6:42 pm
Komentarku ga seberapa jauh dari Juu, bagian yang paling kerasa kurang itu di deskripsinya, terutama waktu si Kanara pergi sama ayahnya keluar kota itu. Aku kira mereka pedagang keliling dan ga ada niat buat mbalik ke kota itu lagi, dan waktu mereka menginap itu mereka bikin semacam tenda. Aku ga tau alo ada rumah tetap dan ladang di luar sana.
Mungkin bagian damai di tengah itu aja yang diberesin kalo lain kali mau ngedit cerita ini. Sama, di awal2 aku juga masih agak bingung soal siapa dia dan apa maksudnya sama kenangan. Aku kira tadi artinya kiasan, tapi ternyata kenangan dalam arti sebenarnya.
But, it’s already a nice story. Ah, tambahan lagi, deskripsi pertarungannya kayanya terlalu cepet gitu. Aku ga sempet ngeliat ato ngerasain si “aku” berubah pelan2 dan sedikit2, padahal mungkin itu yang mau kamu sampein. Ga langsung jadi monster, tapi pelan2 berubahnya jadi masih ada sedikit sisa2 manusia.
Agustus 26, 2010 at 8:05 pm
Soal, yg kamu sangka pedagang keliling itu, penjelasannya gini:
Rumah paman Himo itu berjarak sekitar 1-2 jam dari kota. Konsepnya meniru feodalisme denmark, di mana pertanian biasanya terpisah lumayan jauh dari pusat kota. Juga terpengaruh sedikit dari jaman Miyamoto Mushashi, soalnya waktu itu si Mushashi ini juga pernah nyasar ke kalangan petani yang tinggal di pinggir hutan. Yang punya rumah adalah pedagang patung budha. Dia ke kota hanya beberapa kali dalam seminggu akibat masalah jarak dan keuntungan yang tidak sepadan untuk terus-menerus bolak-balik tiap hari.
Soal ending, yup, saya tidak bisa memungkiri itu. Soalnya waktu itu kaget tiba-tiba udah 1800 kata padahal ending sama sekali belum dibuat. Jadinya lompat deh buat ending dulu. Dan tahu-tahu udah 2700. 300-nya lagi aku pakai untuk buat sambungan antara ending dan bagian tengah. Dan tada! 3000 kata persis, termasuk judul, hahaha
Agustus 26, 2010 at 8:25 pm
Hmmm… apa mungkin karena aku paling nikmatin dialog yang cepet, jadinya aku nggak keberatan dengan dikitnya deskripsi? Aku nggak ngerasa ada masalah itu…. Aku enjoy bacanya
Though kalau yang lain memberikan pandangan secara menyeluruh, aku pingin ngasih masukan tentang hal-hal kecil. Ada sedikit:
- salah spell (kalau ga salah harusnya ‘festival’ deh)
- kurang ketik (“Mereka hanya berpaling sebentar padaku, mengindahkan saja apa yang kukatakan.” Kalau mengindahkan berarti mereka peduli dong? Harusnya ‘tidak mengindahkan’ kali ya?)
-’AAaargh’ di akhir itu rasanya agak gimana deh, kuro
Tapi apalah itu kalau pembaca bisa menikmati cerita. Aku paling suka gimana Svein bisa terus bernostalgia tanpa menghancurkan irama cerita masa kininya. Soalnya biasanya kalau yang nostalgia gitu dimasukkin, pembaca suka pecah konsen dan lupa cerita inti. Dan aku juga kerasa banget crash of culture nya.
Agustus 27, 2010 at 8:01 am
“festival”, segera diralat bos
“Mengindahkan” *pergi cek di kbbi* wah, yang ini juga bener
“ARGHHHhhh ….!!!” no comment deh, itu terbesit begitu aja >.<
September 2, 2010 at 9:08 am
ceritanya seru, bro Kuro!
ane bisa dapet feelnya ngikutin alur kalimat per kalimat … dari awal udah keliatan arah ceritanya mau gimana, ada pepatah bilang, “kesan pertama begitu menggoda”. Nah dari awalnya udah ngena banget, jadi bikin ane penasaran buat baca sampe habis …
kalo cerpen yg kemaren ane baca itu, beda bgt sama tulisan agan. ane udah baca sampai separuh bagian tapi tetep ga ngerti ini cerita tentang apa. cuma bisa nangkep pertarungan antara saudara kembar yg cuma buat ngilangin ngantuk padahal pertarungannya serius banget. Apa karena ane terlalu awam atau otak ane yang lemot sampe2 ga bisa nangkep makna dan moral yang terkandung, hehehe …
At last but not least, ane suka cerita yang ini, ada gregetnya. Tapi ane masih penasaran, fanala itu apaan ya? Hewannya kek gimana? Soalnya ga ada keterangan apapun ttg fanala.
^___^
September 3, 2010 at 8:35 pm
Haha, akhirnya situ bisa dapat cerita yang sesuai dengan selera pribadi. Informasi aja nih, tiap penulis biasanya kuat di penguasaan tehnik tertentu dan pastinya dia juga lemah di tehnik yang lain. Belakangan ini aku belajar mengintegrasikan emosi dalam setiap kalimat (normalnya ini dipisah, dan sebagian besar penulis hanya memasukkan emosi di dialog, sedangkan pada cerpen yang satu ini aku memasukkan di setiap kalimat). Jadi bisa di bilang ini kelebihanku. Sedang punya Luz yang waktu itu kamu baca, dia kuat di deskripsi (aku malah justru lemah di deskripsi). Mungkin dia masih kurang dalam hal menyamarkan sisi lemah itu, dan pada saat yang bersamaan kamu kebetulan punya selera yang menuntut lebih pada penguasaan tehnik itu. Jadi deh kesannya buruk di mata kamu.
Lalu, ada juga penulis yang baik di permainan order (urutan cerita). Nah, kalau kita melihat masalah urutan pada cerpen yang kemarin kamu baca, sebenarnya Luz pengen menonjolkan kemampuannya di deskripsi. Dan sayangnya kamu mungkin tipe orang yang lebih menikmati jalan cerita daripada permaian kata. Jadi intinya, ada banyak tipe penulis, dan ada banyak pula tipe pembaca berdasarkan seleranya. SAntai aja, wajar kok jika seseorang tidak menyukai tulisan bahkan dari master sekalipun hanya karena masalah selera.
Mengenai fanala…. Kalau mau maenan tebak-tebakkan seting, sebenarnya itu sejenis babi hutan. Tujuanku sih hanya buat itu seolah-olah adalah hal biasa.