MIMPI YANG DI DALAMNYA KEMAMPUAN BERPEDANGKU DIUJI
Alfare
—
Pada suatu sore di tahun pertamaku kuliah, beberapa meter sekeluarnya aku dari kelas, aku berpapasan dengan Nia Damayanti dalam perjalananku pulang ke rumah.
Nia sejurusan dan seangkatan denganku di universitas. Namun karena NIM kami berbeda jauh, belum pernah sekalipun kami ditempatkan sekelas.
Sebelum kejadian ini terjadi, aku dan dia lumayan akrab. Kami jarang berbicara. Tapi kami ‘nyambung’ pada kesempatan-kesempatan langka tatkala kami harus bertatap muka. Terutama pada saat-saat ospek jurusan dilaksanakan.
Pada awalnya kurasa, kami hanya merasa cocok dengan satu sama lain saja. Bukannya saling suka atau apa. Bagiku sendiri, Nia bukanlah perempuan yang penampilannya menarik perhatian. Yah, kuakui daya tarik yang dimilikinya memang beberapa tingkat di atas rata-rata. Tapi serius, aku belum cukup mengenalnya untuk sampai naksir padanya atau semacamnya.
Meski demikian, kejadian yang melibatkan dirinya ini tetap terjadi, yang secara bawah sadar turut mempengaruhi hidupku sampai bertahun-tahun ke depan.
Dia sedang berjalan beriringan dengan temannya. Aku tak ingat siapa. Lalu begitu melihatku, dirinya mendekat dan serta merta dia bertanya, “Rinto, katanya… kamu mau non-him ya?”
Ada jeda beberapa detik—saat langkahku terhenti, dan dengan enggan aku balas menatapnya—sebelum aku membenarkan pertanyaannya tersebut.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
Ekspresinya serius. Nada suaranya di antara mendesak dan cemas.
Aku nyerah. Aku ga sanggup lagi. Aku kurang tidur. Aku udah enggak liat ada lagi gunanya.Aku muak ama sistem osjur. Aku pengen lakuin sesuatu buat ngelawan.
Aku lupa apa persisnya yang kukatakan padanya. Aku hanya ingat bahwa aku mengatakannya selintas dengan nada muram. Tapi di bawah langit jingga yang menaungi kami hari itu, kata-katanya yang berikut ia terakkan sampai menggema di sepenjuru plaza kampus.
“…Payah. Kamu payah! Rinto payah! ARINTO MUSTOFA ITU ORANG PAYAAAAAAH!”
Baru pada tahun-tahun belakangan saja aku memahami latar belakang kemarahannya.
Aku biasanya tak mempedulikan pendapat orang. Tapi bila aku mengkaji baik-baik fakta-fakta yang kuingat dari tahun pertamaku kuliah itu, meski aku bukan mahasiswa berprestasi menonjol, kurasa aku cukup disegani oleh teman-teman seangkatanku. Alasannya sederhana: aku memperlihatkan lebih banyak semangat selama ospek jurusan dibandingkan kebanyakan orang.
Kami para mahasiswa baru mengikuti osjur sebagai prasyarat untuk diterima sebagai anggota himpunan. Ada lari-lari keliling kampus, tugas-tugas aneh, marah-marahan, dan segala macam hal lainnya. Semua demi menyiapkan sikap, mental, dan keterampilan dasar kami agar layak diakui sebagai anggota himpunan.
Hal ini juga berkaitan dengan koneksi dan kekerabatan di dunia nyata nanti. Tapi lebih banyak soal ini masih belum terlalu kupahami waktu itu.
Aku hanya… merasa sangat marah saat anak-anak Swasta—anggota-anggota himpunan yang tidak tergabung dalam kepanitiaan osjur—mulai terlibat dalam kegiatan. Sikap mereka yang temperamental dan begitu seenaknya—sekalipun itu semua hanya pura-pura sekalipun—membuatku tidak lagi ragu bahwa semua yang berkaitan dengan osjur itu konyol dan tak berarti.
Pada sore itu, tak kulihat ekspresi penolakan atau kekecewaan yang tersirat di wajah Nia. Padahal aku tahu ada nada sakit hati dalam suaranya. Kurasa Nia saat itu bahkan sudah membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya lagi.
Kakiku pun sudah kembali melangkah, bahkan sebelum teriakannya terdengar. Sebab dengan segala kedongkolan yang kurasakan waktu itu, sedikitpun aku tak sudi berlama-lama di hadapan orang lain.
Setahun kemudian, akhirnya tibalah saat aku dan Nia bisa sekelas. Tapi semenjak kejadian di plaza itu, kami berdua hampir tak pernah saling bicara lagi. Alasannya… sulit kujelaskan. Ada hubungannya dengan struktur kemasyarakatan kampus. Singkatnya, hubungan kami tak pernah berkembang sebagaimana yang semula kukira.
Mungkin karena stigma yang telah terlanjur melekat.
Kenangan itulah yang untuk suatu alasan menyeruak tatkala Penjaga Toko mengajukan tawarannya padaku.
“Jati diri manusia dibentuk oleh rangkaian-rangkaian keputusan di masa lalu. Ekspresi-ekspresi membentuk guratan wajah. Postur badan dibentuk citra diri bawah sadar. Segalanya ditentukan oleh keputusan-keputusan! Lalu masa lalu tersusun atas memori. Dengan merubah akar memori seseorang, maka merombak kenyataan masa kini menjadi suatu hal yang mungkin dilakukan! Inilah yang kau harapkan, bukan? Wahai, Arinto Mustofa?”
Aku tak sepenuhnya memahami teori yang diajukannya. Tapi secara perlahan, aku mengangguk.
Sejak dulu, aku percaya kalau dunia paralel itu ada. Dunia yang berbeda dari dunia yang kutempati sekarang ini.
Sebut aku pengkhayal. Sebut aku kurang kerjaan. Tapi keyakinanku akan keberadaan dunia lain itu tak lagi bisa diubah. Mungkin akibat segala kekecewaan yang kualami, keyakinanku itu mungkin sudah menjadi semacam ideologi. Semacam kepingan impian masa lalu yang masih belum rela kulepas, yang justru menguat alih-alih melemah seiring aku dewasa.
“Brave Story.” ucap Dodi, tatkala aku bercerita padanya tentang keyakinanku ini.
“Apa?”
“Aku sebenarnya enggak terlalu heran sama khayalan-khayalan kayak gitu. Tapi cara kamu nyeritain, enggak tau kenapa bikin aku keinget sama novel itu.”
Perkataannya membuatku terhenyak.
Aku mengerti maksudnya, terutama sesudah mencari sendiri keterangan tentang novel itu di Internet. Tapi aku tak yakin apa aku bisa menjelaskan alasannya.
Inti cerita novel itu memang seputar anak-anak manusia yang berkelana di dunia lain. Tapi berbeda dari kebanyakan dongeng fantasi anak-anak yang lebih dikenal, tema-tema yang secara tersamar mendasari Brave Story adalah sisi suram kehidupan orang dewasa.
Ide mendasar soal bagaimana seandainya kita diberi kesempatan untuk mengubah realitas kita.
Sejujurnya, aku tak sedikitpun menyangka Nia akan bereaksi terhadap keputusanku mundur dari osjur. Maksudku, memang dia siapa? Setahuku tak ada alasan apapun baginya untuk mencampuri urusanku.
Hanya saja, menilai dampak keputusan itu terhadap kejiwaanku belakangan, tak pernah kuberhenti berpikir bahwa mungkin saja waktu itu Nia memang punya alasan yang bagus.
Penjaga Toko membawaku melewati serangkaian pintu di balik kassa, menuju satu dari sekian banyak ruangan misterius yang tersembunyi di bagian belakang tokonya. Aku perhatikan ada banyak jam antik tergantung di sepanjang dinding-dinding lorong. Detak jam-jam yang memenuhi kesunyian lorong entah mengapa membuatku bergidik. Lalu setelah melewati salah satu pintu, melalui sebuah kaca besar, yang hampir-hampir memenuhi satu sisi ruangan—terbingkai tirai-tirai beludru berwarna gelap bagaikan panggung sandiwara—Penjaga Toko memperlihatkan padaku ‘harga’ yang harus kubayar demi mengubah realitasku itu.
Ya, alasanku datang ke toko ini hanya satu
Aku mencari Brave Story-ku sendiri.
Aku tak ingat persis bagaimana awal mula aku bertemu dengannya. Tapi sebatas yang kuingat, Penjaga Toko adalah penjaga toko aneh di pusat perbelanjaan dekat rumahku. Toko yang setelah sekian lama tutup, baru belakangan buka kembali. Konon, toko ini menawarkan ‘layanan khusus’ bagi ‘pelanggan-pelanggan tertentu.’ Kemudian untuk suatu alasan, aku terpilih sebagai salah satu ‘pelanggan tertentu’ tersebut.
Yang agak menakutkan, Penjaga Toko itu tahu apa yang kuinginkan. Sekalipun aku tak pernah membicarakannya dengan siapapun.
“Kakak sedang melawan Kegelapan ‘kan? Salah satu kebijakan toko kami adalah membimbing orang dalam melawan Kegelapan masing-masing.”
Aku tak tahu bagaimana. Tapi aku langsung tahu yang dimaksudkannya itu apa.
Lewat ucapan itu saja, aku langsung terbayang akan kegelapan yang semenjak itu menyelubungi hatiku.
Saat aku kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat.
Saat minatku menjalani kehidupan lenyap.
Saat tahu-tahu saja aku apatis terhadap kenyataan.
Kuliahku tersendat. Aku kehilangan kontak dengan teman-temanku. Aku mulai menyadari perbedaan radikal antara jalan pikiran satu orang dengan jalan pikiran orang lainnya. Aku saksikan betapa kelam dunia nyata yang mesti kuhadapi selepas sekolah.
Masa-masa ketika kenyataan dan mimpi seakan melebur tanpa dapat dibedakan—kondisi wajar bila mempertimbangkan kondisi kejiwaanku.
Masa-masa aku mengalami depresi.
Setelah kupikirkan belakangan, kurasa semua ini memang dimulai semenjak Nia meneriakiku di plaza kampus waktu itu.
Belum pernah aku begitu berkeinginan mengubah masa lalu seperti saat itu!
Keputusan tak lazimku untuk menyerah.
‘Pengkhianatanku’ sesudah menjadi yang paling bersemangat agar kami semua menjadi anggota himpunan.
Semua… kepura-puraan dan kerendahdirianku saat berhasil memasuki jurusan dan universitas yang begitu prestisius…
Keputusasaanku tatkala terseret ke dalam neraka jiwa…
Penjaga Toko ingin aku pergi ke dunia lain, untuk ‘melawan Kegelapan jahat yang tengah mengancam.’ Baru sesudah aku melakukan itu keinginanku akan bisa dikabulkan.
Melalui kaca portal, Penjaga Toko sebelumnya memaparkan bahwa kota Walsa di dunia lain telah jatuh ke tangan sesosok monster jahat bernama Bhoul. Bhoul membantai semua yang melawan. Lalu sesudah menghancurkan kota bersama para pengikutnya, ia memperbudak mereka yang masih tersisa untuk membangun Menara Kegelapan di markasnya, sekaligus menjadikan mereka sandera seandainya Tentara Kerajaan datang untuk menghentikan niatnya.
Mendengar cerita aneh ini, tentu aku semula skeptis.
Tapi Penjaga Toko lalu berkata:
“Apa kau keberatan menolong orang-orang asing yang tak ada hubungannya denganmu, padahal kau mampu?”
Lalu aku terhenyak. Aku tak tahu apa, tapi ada sesuatu pada kalimat itu yang terus mengusik perasaanku.
Lagipula, bukankah semenjak awal aku percaya dunia lain itu ada? Dunia yang mirip, dengan perkembangan kejadian yang berbeda? Dengan sejarah yang berbeda? Tempat ‘aku’ berhasil menyelesaikan segala sesuatu sebagaimana mestinya?
Yang paling kuinginkan melebihi segalanya adalah menjadikan dunia lain itu milikku. Maka pada akhirnya, aku sepakat menerima tawarannya. Kupikir, apapun akan kutempuh asalkan bisa mengubah masa lalu dan menghapus penyesalanku.
Semacam bunyi denging aneh kemudian mulai terdengar. Kaca yang berpendar di hadapanku semakin terang. Kurasakan seisi ruangan mulai berputar.
“Ini… bahaya ‘kan?” Aku bertanya lagi di saat-saat terakhir.
“Kami mengamati pelanggan-pelanggan kami dengan seksama. Jadi kami tak sedikitpun ragu akan kemampuan terpendam yang Kakak miliki. Hasil yang diperoleh sepenuhnya akan bergantung pada kekuatan tekad Kakak sendiri.”
Kekuatan tekad?Bukankah justru itu yang selama ini tak kumiliki!
Tapi keraguanku tak terucapkan. Gravitasi portal kaca telah mengangkatkuku dan menarikku ke depan, membawaku menuju dunia lain.
Pada detik terakhir, entah mengapa, aku tak lagi melihat Penjaga Toko sebagai penjaga toko. Aku melihatnya bagaikan raja, yang untuk suatu alasan aneh tertentu, kini hanya bisa meminta jasa orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Ucapannya lebih terdengar sebagai permintaan daripada perintah, dan aku merasakan sensasi aneh bahwa merupakan sebuah kehormatan bagiku untuk melaksanakannya.
Tiba-tiba dengan gemetar kusadari satu hal aneh yang lolos dari kesadaranku sepenuhnya.
Wajah Penjaga Toko luar biasa mirip Dodi.
Jika ada dua hal yang membuatku bertahan agar tak sampai didepak dari bangku kuliah, maka itu adalah unit olahraga kendo yang kuikuti; dan teman-teman baru di subjurusan yang banyak menyemangati saat aku mendekati batas akhir masa kuliahku.
Kendo adalah olahraga bela diri Jepang yang mengaplikasikan pedang yang dibuat dari potongan-potongan bambu. Terdapat hanya tiga gerakan dasar dalam kendo, yang terus dilatih secara berulang. Kesederhanaannya memang menjadi daya tarik sendiri. Tapi kelebihan anehnya dalam mengasah indera-indera kami lebih cepat dibandingkan olahraga bela diri lain menjadi apa yang membuatku melekat.
Aku memang jarang terlibat dalam obrolan teman-temanku di subjur (aku lebih tua karena seringnya mengulang mata kuliah). Tapi aku menghormati mereka karena perlakuan wajar mereka terhadapku—mengajakku bicara saat berpapasan dan sebagainya. Alasan sederhana itu sudah cukup bagiku untuk memandang mereka berarti.
Dodi salah satu dari mereka. Di antara semua temannya, Dodi satu-satunya yang semenjak awal memandangku tanpa prasangka. Kurasa, karena itulah aku sedikit lebih menghargainya dibandingkan yang lain.
Aku sebenarnya jarang berbicara dengan Dodi. Hanya pada saat-saat kuliah saja. Aku juga belum pernah melihatnya lagi semenjak ia diwisuda satu semester lebih awal dariku. Karena itulah, aku merasa aneh dengan kemiripan ini.
Tapi kuputuskan untuk tak memikirkannya lebih lanjut begitu aku tiba di tujuan.
Langit Walsa di atasku tampak gelap dan suram. Gumpalan awan yang berpusar pun seakan merintih akibat siksaan penderitaan. Sekeliling terdekatku dipenuhi puing-puing kehancuran. Sekeliling terjauhku dipenuhi pembusukan dan kematian Aroma abu dan kepahitan merebak.
Terperangah, aku perlu sedikit menahan nafas agar tak merasa tercekik.
Ada rasa pahit sekaligus kesedihan yang secara mengejutkan menjalar. Sebab… segala sesuatu serupa dongeng itu kini hadir begitu nyata! Batinku tergetar. Nafasku tertahan. Rasanya, semua acuan akal sehatku menjadi terbalik.
Seketika saja aku kembali diliputi keraguan, ketakutan, semua emosi negatif yang selama ini telah begitu sering kurasakan.
Tapi begitu aku menemukan senjata yang telah Penjaga Toko siapkan, tertancap bersama sarungnya di tanah lapang di tengah-tengah reruntuhan rumah, semua tergantikan oleh perasaan menggelora yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sebilah pedang bergaya Jepang; panjang keseluruhannya, dari ujung mata hingga dasar gagang bila diukur dari atas tanah, tepat sampai ke ketinggian ulu hatiku. Panjangnya pas, batinku. Pedang bersama sarung kucabut dan aku kemudian menimbang bobotnya. Belum pernah aku memegang pedang sungguhan sebelumnya, bahkan untuk iaido sekalipun. Tapi genggaman pedang, ukurannya, bersama pembagian titik-titik beratnya, secara menakjubkan terasa begitu sesuai untukku.
Lalu dengan berbekal pedang itu, entah bagaimana aku merasa aku bisa melakukan sesuatu.
Kubawa pedang itu di tangan kiri, dan kutatap Menara Kegelapan yang berdiri angkuh di kejauhan itu dengan penuh tekad.
Baru saat itu aku sadar. Selama hidupku memiliki makna dan tujuan, tak ada alasan apapun bagiku untuk merasa bersedih!
Tujuanku saat ini adalah mengalahkan Bhoul di menara kegelapan.
Apa yang orang lain katakan tentang diri atau prestasiku sama sekali tak ada artinya.
Yang terpenting bukanlah apa yang dilihat orang lain, melainkan apa yang kita lihat pada diri kita sendiri. Bagaimana kita melihat semua itu, kemudian bergerak untuk mewujudkan segala yang kita citakan!
Maka aku berlari menembus cahaya sore yang melingkupi hutan. Dari jauh kudengar Tentara Kerajaan yang akhirnya bergerak. Medan pertempuran telah menanti!
Aku melepaskan teriakan perang.
“Bhoul! Aku datang untuk menghentikan semua kejahatan yang telah kau lakukan!”
Lalu kucabut pedangku dan dengan sigap membantu pasukan berzirah menghadapi monster-monster yang menjaga dasar menara. Tubuhku tahu-tahu bergerak. Aku bahkan tak menyadari saat badanku dengan luwes mengikuti gerakan pedang dan mematikan lawanku yang pertama.
Pedang kugenggam dengan dua tangan. Inilah saat ketika semua yang telah kulatih selama ini diuji.
Perwira yang kutolong bertanya-tanya tentang siapa diriku. Tapi sekarang bukan saatnya berbicara, sebab monster-monster baru semakin mendekat!
Gerbang Menara berhasil kami terobos dan kali melalui lorong-lorong suram dan tangga-tangga melingkar. Mayat dan orang terluka, tua maupun muda, telah bertebaran di mana-mana. Kuperhatikan sebagian di antara tak memakai seragam. Teriakan-teriakan kerusuhan terus menggema. Para penduduk yang diperbudak akhirnya mengambil kesempatan untuk memberontak sesudah dibebaskan para pionir.
Situasiku mengingatkanku akan video game yang pernah kumainkan bersama bersama beberapa teman lamaku dulu. Di game itu, kami memilih satu dari sekian banyak jagoan berpedang dan menghadapi ninja-ninja yang menyerang kami secara mendadak. Mungkin karena pengetahuanku akan kendo, aku yang pemula mengesankan teman-temanku dengan menaklukkan lawan-lawan di tingkat pertama dengan satu sabetan saja. Tapi tanganku mendadak licin menjelang akhir tingkat, sehingga dengan konyolnya karakterku turut tewas dengan hanya satu sabetan pula.
Hal serupa kutakutkan di sini. Dengan ngeri kudapati aku selalu hanya perlu satu tebasan—satu tebasan cepat dan tanpa ragu—untuk menjatuhkan setiap lawan yang menghadang. Apa… sejak dulu aku sekuat ini? Aku sadar keberuntungan ini takkan berlangsung lama. Aku tahu suatu saat genggamanku mungkin ‘selip’ dan ‘kekonyolan’ saat aku memainkan game itu akan terjadi.
“Jangan kira… kebangkitan Tuan Yorugias… akan bisa kalian hentikan!”
Monster terakhir yang kami bunuh membuat kami mengetahui bahwa para monster membangun Menara Kegepalan untuk menjangkau Kunci Langit; yang selanjutnya akan digunakan untuk membebaskan Yorugias, Penguasa Langit Kegelapan yang telah dikurung para Pahlawan Agung pada zaman dahulu kala.
Dengan ngeri kami akhirnya menyadari bahwa kami berpacu melawan waktu. Keselamatan dunia Walsa terancam, dan yang dapat mencegah kehancuran lebih lanjut yang akan terjadi hanyalah kami.
Kedua lenganku kebas. Nafasku terus memburu. Jantungku seakan hampir meledak saat aku akhirnya tiba di puncak Menara. Dengan ngeri kusadari para perwira yang bertarung bersamaku telah berpisah jalan entah ke mana.
Di hadapanku, sesosok banteng kelabu berotot berjubah berdiri menggunakan dua kaki membelakangiku dengan kedua tangan terentang ke atas. Pijar-pijar sihir meletup di atas kepala. Secara perlahan, dari depan altar, ia membalikkan badan saat merasakan kehadiranku.
“Kau?” cibir Bhoul. Suaranya begitu menggelegar dan dalam. “Kau, yang tak memiliki kaitan dalam peperangan ini, justru menjadi orang pertama yang sampai? Hahahahahahaha! Lelucon macam apa ini?”
Kengerianku memuncak. Tapi dengan kemarahan terhadap diri sendiri dan sesal untuk mereka yang tewas, aku mencoba untuk berani.
“Namaku Arinto Mustofa! Akulah orang yang akan mengambil nyawamu!” teriakku lantang.
“Pulanglah, orang asing! Pertempuran ini tak ada kaitannya dengan dirimu! Ya, aku tahu.” lanjutnya saat melihat keterkejutanku. “Aku tahu kau diutus dari dunia lain! Hal serupa pernah terjadi ribuan tahun lalu saat tuanku terkunci! Aku bahkan tahu kau orang yang sebenarnya seperti apa!”
Genggaman pedangku bergetar…
“Kau pengecut yang telah melarikan diri dari kenyataanmu.”
…ia berada tepat beberapa belas meter di depanku…
“Kau yang bermaksud menukar kenanganmu untuk kepuasan diri yang sama sekali tak layak kau dapatkan!”
…tapi tubuhku membeku tanpa dapat bergerak!
“Kau kira orang sepertimu sanggup menghadapiku?”
“Bukan…”
“IYA! Kau bahkan tak LAYAK untuk mati di tanganku! Pulanglah. Toh kau tak lebih dari sekedar sampah.”
“BUKAAAN!” Aku menjerit.
Aku melangkah maju dan bertarung dengannya!
Saat berikutnya aku sadar, sepasang tanduknya telah menembus abdomenku. Organ pencernaanku hancur. Darah dan empeduku mengucur. Aku ingin mengerang, tapi untuk bersuarapun aku tak bisa. Akhirnya air mataku meleleh, baik oleh sesal maupun rasa sakit.
Haha, mungkin… pada akhirnya aku memang tak berguna…
Tapi saat mata nanarku memperhatikan; rupanya tebasanku yang mengincar kepala tanpa sadar kuubah menjadi tusukan akibat cepatnya Bhoul merunduk. Karena bersih dari keraguan, seranganku ternyata tepat sasaran. Ujung pedangku menembus titik lunak tengkorak Bhoul dan keluar lewat dagunya.
“Padahal… tinggal sedikit.. kenyataan baru… Tuan… Maaf… Rufael… bahkan pasukanmu… aku… g-gagal…balas…dendam…”
Apa yang terjadi selanjutnya kurang bisa kuingat. Tubuhku yang sekarat entah bagaimana terpulihkan. Aku teringat inti semua ilmu pedang adalah semangat hidup yang tak goyah. Lalu mungkin karena telah bisa mensyukuri apa yang ada, aku tak lagi berminat terhadap masa lalu lagi. Sebagai gantinya, karena telah mengalahkan Bhoul dan menyelamatkan Walsa, Penjaga Toko menghadiahiku sebentuk boneka sapi mungil paling manis yang pernah kulihat (“Tunggu dulu, ini maksudnya APA-APAAN?!”).
Kedengarannya absurd.
Tapi sekejap berikutnya, kurasakan tubuhku seakan mengambang hingga mencapai permukaan. Telingaku kembali berfungsi. Mataku membuka. Seketika, keriuhan orang-orang berbelanja memenuhi udara.
Ingatanku kembali.
Aku yang tertidur di salah satu bangku mall dekat rumahku, hujan deras yang turun di luar, setahun yang sudah berlalu semenjak aku diwisuda. Lalu keadaanku yang tertekan karena tak ada pemasukan. Lalu soal Dodi yang tak mungkin kujumpai karena sedang S2 di mancanegara. Jantungku yang utuh dan masih berdebar.
Sehingga dengan terkesiap, aku tersadar..
Semua pengalamanku bersama Penjaga Toko hanyalah mimpi.
Mimpi yang amat sangat aneh.
…atau bukan?
Sebab boneka sapi itu masih ada.
Terbujur di pangkuan, terbungkus kantung kertas coklat, masih dengan label merek, tapi tanpa kuitansi ataupun keterangan harga.
Aku terhenyak.
“…Rinto?”
Seketika aku terlonjak, dan saat mendongak, dengan takjub aku melihat Nia Damayanti kembali setelah sekian tahun. Untuk sesaat, aku hampir tak mengenalinya. Sorot matanya yang pengertian masih belum berubah.
“Nia?”
Apa ia secara kebetulan saat sedang window-shopping?
“Hei.”
“H-hei.”
“Lama enggak ketemu, ya?”
“Iya.”
…Kurasa wajar bila sesudah semua yang terjadi, kami berdua sama-sama sedikit salah tingkah.
“Abis belanja?” tanyanya, menunjuk apa yang terdapat di pangkuanku.
Dalam hati aku bertanya-tanya apa aku memang telah membeli sapi itu sebelumnya. Ingatanku mungkin sudah tak beres. Tapi dipikir bagaimanapun, tetap tak ada alasan bagiku untuk membeli boneka sapi.
“…Buat kamu aja.”
“…Hah?”
Teringat soal mengubah realitas, dengan sedikit malu kusodorkan sapi itu kepadanya.
—
cerita ini dapat dilihat juga di:
Agustus 24, 2010 at 8:51 pm
“Kehadiran dirimulah yang membuat segala sesuatu dalam hidupmu menjadi bermakna.”
Aku selalu menyukai cerita yang jujur. Jadi bagaimanapun cerita yang satu ini pasti berharga.
Agustus 26, 2010 at 8:56 am
Danke. >.<
Agustus 26, 2010 at 11:34 pm
De nada ^.^
Agustus 25, 2010 at 9:39 am
Sudah dikomen di kkom
Mampir untuk meramaikan
Agustus 26, 2010 at 8:54 am
Thank you.
Agustus 25, 2010 at 11:14 am
Ahh, ini tho rupanya yg kulihat di Kemudian tempo hari. Ternyata ganti judul. Kemarin ini sempat kukira gak dikirim padahal di Kemudian dilabel fantasy fiesta 2010.
Bagus2 ternyata kamu ngirim.
Entah idenya dari Brave Story beneran ato bukan, saya sbnrnya (masih) suka dengan tipe cerita yg menjurus klise (nobody that become somebody to save everybody) makanya saya bisa gak protes waktu di “dunia mimpi” si karakter utama disuruh membantu mengalahkan antek kejahatan.
Buat org lain, saya rasa org lain ada yg udah bosen ama pola itu, tapi bukan saya tentunya.
Pembawaannya bagus, terutama bagian dunia nyata. Bagian “dunia mimpi” terkesan lbh buru2 dan bias settingnya, tapi sepertinya memang bukan “dunia mimpi” fokus settingnya, jd ya udah kali yah.
Anyway! Saya mendapat gambaran kalo kampus yg dijadiin referensi di sini tu ITB.
Kenapa? Kata “plaza” mengingatkan pada daerah Campus Center ato daerah Indonesia Tenggelam, ada istilah “Swasta” untuk senior yg udah “uzur” (apa di univ lain sebutannya jg swasta? saya kurang tahu, CMIIW) daaannn, unitnya kendo (di ITB memang ada unit kendo, terlepas dr saya tahu ada univ lain yg pny unit serupa).
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 8:51 am
Ah. Identitasku ketahuan. Sesuai peraturan, keberadaanmu mesti dihapuskan.
Cuma bercanda.
Eniwei, dugaanmu bener. Sejujurnya aku juga enggak nyadar soal kekolotan itu di awal, sampai ada yang ngomenin soal istilah dan sebagainya. Terus akhirnya itu jadi bahan revisi.
Aku syok juga karena sebagian ceritanya ternyata masih bisa dipotong tanpa terkesan terlalu aneh.
Pas baca ulang, aku nyadar nuansa fantasinya mungkin kurang kuat. Tapi ya sudahlah.
Thanks a lot for the comment. Belakangan kendo udah semakin populer kok.
Agustus 26, 2010 at 9:34 am
Ugeeehh, saya mau dilenyapkan!!! *untung udah jarang ngampus*
Jd pgn nanya lbh lanjut ttg identitas in real-life (IRL). Beneran anak ITB yah?
Kalo beneran dari ITB jg, saya rasa itu bisa menjelaskan kenapa gaya ceritanya bisa mirip.
Hehe.
Agustus 27, 2010 at 9:51 am
Di ITS juga pake istilah Plaza kok…
Agustus 27, 2010 at 11:14 am
Di UGM juga.
Agustus 27, 2010 at 11:54 am
Nah, berarti penentunya, adakah unit kendo di kedua universitas tersebut dan apakah senior yg udah lulus ato angkatan sangat tua disebutnya jg swasta.
Saya beneran gak tahu istilah di tempat lain, btw. Bukannya ITB-ialisme.
Hehe.
Agustus 28, 2010 at 10:10 am
Kurasa buat bahan novel aku mestinya survei-survei ke kampus lain. X_X
Paldies.
Agustus 26, 2010 at 8:45 am
teknis penulisannya rapih, dan gaya pembawaan ceritanya cukup enak di gw. sudut pandang first personnya berhasil dengan sukses digunakan buat membantu gw mengenal dan memahami tokoh utamanya. kekurangan yang gw rasakan mungkin…endingnya kurang nendang. nggak gitu meninggalkan kesan di gw, gitu. tapi yah…memang kalau plotnya begini, itu ending yang masuk akal
tetap sih, ini cerpen lumayan bagus bagi gw
Agustus 26, 2010 at 8:53 am
Sial. Aku juga kepentok di ending itu. Tenagaku udah abis, karena ga tau kenapa paruh awal cerita susah amat dibikinnya.
Terima kasih banget atas komennya.
Agustus 27, 2010 at 9:14 pm
halo, alfare. ini saya mau kasih komentar ya..
mengenai teknis penulisan, ada sedikit kesalahan kata. tapi saya enak-enak aja kok bacanya ^^;
untuk audience, karakter utamanya yang sudah terbilang meranjak dewasa pun tampaknya menjadikan pembacanya juga harus setidaknya mengerti seperti apa rasanya ospek di tingkat universitas
dan untuk endingnya bagus, saya suka karena menunjukkan sebuah proses dari sebuah ujian yang dialami ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi seperti apa yang diinginkan dari dulu
itu aja sekian, dan maaf kalau ada kata2 yang salah ya.
Agustus 28, 2010 at 10:08 am
Iya. Menjadikan pembaca mengerti soal ospek, apalagi buat mereka yang belum ato enggak ngalamin kuliah, ternyata bukan hal yang gampang.
Di versi sebelumnya, aku sebenernya udah dapet sedikit protes soal ending, karena terlalu ‘vague’. Aku sendiri merasa kalo kesan tamatnya sebenernya masih bisa diperdalam lagi.
Gamsa. *_*
Agustus 27, 2010 at 9:25 pm
Udah komen di kekom ^^
Mampir untuk meramaikan
Agustus 28, 2010 at 10:05 am
Grazas. XD
Agustus 28, 2010 at 10:12 am
Barusan baca. I think it is okay. Secara penulisan nggak jelek, idenya biasa. Kekurangan faktor segar aja kali ya.
Agustus 28, 2010 at 11:44 am
Yea. Membaca karya-karya lain di FF tahun ini emang membuatku nyadar betapa aku males-malesan.
Tapi sebelumnya kupikir Mbak Luz bakal ngasi semacam komen yang lebih pedes. Ato dalem. Ato sesuatu yang bikin Mbak terkesan kayak detektif yang kurang kerjaan. Tapi ya sudahlah.
Spasibo.
Agustus 28, 2010 at 12:33 pm
Aku cuma ngasih komen pedes ke mereka yang kurasa patut dapet komen pedes. Kalau kamu ini ntar dulu deh pedesnya, wkwkwkw.
Tapi aku klo kasi komen serius lho, walau singkat. Ide kamu pasaran dan cara menulis kamu belum berkesan buatku. Itu kalau kamu mau versi agak pedesnya.
Lagian bikin komen pedes yang ‘kena’ itu ada seninya, dan kalau aku bikin begitu ke semua orang, aku bakal kehabisan waktu untuk nulis.
Agustus 29, 2010 at 10:13 pm
Ah, ini dia yang kunanti. (M mode on)
Thanks, thanks.
Agustus 28, 2010 at 6:42 pm
pas dari pertengahan aku dapat bgt ceritanya dan settingnya…
tpi pas awal-awal, orientasi penjelasan waktunya kok gimana-gimana…
layaknya…
Malam Osjur, suatu sore, saat protagonistnya kabur. dan sudah ketemu si penjual mimpi. semuanya dihidangkan seketika.
kata nyokap waktu baca awal” otak gwa kluar asap dan bunyi konslet (ok… hiperbola)
Agustus 29, 2010 at 10:15 pm
Tenang. Bukan itu yang terjadi. Tapi aku ngerti kenapa kau ngebayanginnya ke sana sih.
Ini emang salah satu cerita yang dengan menyesal kuakui kutulis dengan rada asal. Trims karena udah nyoba.
Agustus 28, 2010 at 9:00 pm
Kau hobi belajar bahasa, ya? :-/
Agustus 29, 2010 at 10:16 pm
Fitur2 google menarik.
Agustus 30, 2010 at 12:49 pm
hahaha, alfare, gw enggak nyangka dengan judul cerpen se-”aneh” itu ternyata isinya begini
memang ide ceritanya tentang “tokoh yg seolah-olah mimpi, lalu bawa pulang benda dari dunia mimpi” udah terlalu sering dipake (gw jadi mengenang kembali salah satu cerpen pertama gw yg udah lamaaa banget itu… xD)
tapi untuk ide cerita yg “basi” begitu, alfare udah berhasil banget!
mungkin bisa gw ibaratkan: sebasi-basinya ide cerita ini, versi ini termasuk salah satu yg tereksekusi paling baik!
jadi, singkat kata, gw suka ini,
oya, titip salam ya buat nia damayanti…!
:p
Agustus 30, 2010 at 9:04 pm
Waktu baca komen ini, aku saking terharunya sampe kepengen nangis.
(Tapi maksudnya salamin Nia Damayanti itu apaaan?! O_o)
Eniwei, soal ide cerita yang basi (serius, aku nyangkanya yang basi itu pola cerita ala Dragon Quest-nya, bukan soal item dari mimpi), aku baru belakangan banget nyadar kalo itu gara-gara aku lagi-lagi maksain diri buat ngelakuin eksperimentasi aneh dalam cerita.
Pas ngetik cerita ini, aku begitu kepikiran soal gimana cara ngebikin sesuatu yang ‘garing’ jadi ‘keren’.
…Sial. Pasti karena pengaruh Sakura Taisen.
Tapi hasil akhirnya setelah kubaca skarang emang masih kurang optimal.
Trims banget buat komennya.
Agustus 30, 2010 at 10:03 pm
Karena ada beberapa yang nanyain, alur umum yang ingin kusampein itu seperti ini:
1. Tokoh utama ngalamin pengalaman pahit semasa kuliah
2. Tokoh utama mulai ngerasa kehidupannya memburuk semenjak pengalaman itu
3. Selepas kuliah, tokoh utama mulai terobsesi dengan gagasan mengubah masa lalu
4. Tokoh utama kemudian bertemu Penjaga Toko dan nerima tawarannya untuk ngubah masa lalu, dengan prasyarat dia pergi dulu ke ‘dunia lain’ untuk ngalahin monster.
5. Tokoh utama nemu kembali semangat hidupnya di dunia lain, dan akhirnya kehilangan minatnya akan masa lalu.
6. Sebagai ganti kesempatan ngubah masa lalu, si tokoh utama nerima boneka sapi sebagai imbalan usahanya.
7. Si sapi jadi benda yang bisa ngebantu merbaikin apa yang udah terjadi di masa lalu.
Jadi ya, cerita ini bersetting SESUDAH masa kuliah, dan enggak, pada akhirnya si tokoh utama ENGGAK ngalamin adegan perjalanan waktu. >_<
Aku tau aku sering cerewet soal penceritaan yang runut di kekom, tapi kayaknya buat yang satu ini aku emang butuh banyak masukan buat struktur penceritaan yang optimal. Jadi segala usul tambahan (kalo ada…) yang bisa ngebantu memperbaiki penyampaian detil-detil penting cerita benar-benar akan diterima dengan senang hati.
Makasih banyak.
Agustus 31, 2010 at 2:08 pm
kalau gw sih ngerti alurnya
(pemahaman gw sama persis sama urutan alur di atas), jadi enggak ada masalah
mungkin juga kebantu karena gw baca ini pas pikiran lagi seger, jadi (kayaknya) enggak ada kata/kalimat yg kelewatan
alfare bilang kalau nulis cerita ini dengan rada ngasal, tapi ya justru memang yang “rada ngasalnya” itu yg kerasa banget buat gw
cerita ini jadi kayak cerita yang easy-to-read, gokil, dan berkesan di hati (apa coba?!)
oya, ngomong2 soal Penjaga Toko, pas kalimat yg ini bikin gw ketawa ngakak: “Wajah Penjaga Toko luar biasa mirip Dodi.”
gw langsung kebayang seorang dodi yg gw kenal… dan ternyata, mukanya emang agak2 pas juga kalau jadi seorang penjaga toko… wkwkwk…
September 6, 2010 at 7:37 am
Hm Pas baca penilaian dewan juri, yang pasti aku nyadarnya sih gaya cerita ini rupanya emang ga cocok ama semua orang. -.-
Yah, aku sendiri udah cukup bahagia kalo ada yang bisa nikmatin. ^^
Soal penjaga toko itu. Wkwkwk, kayaknya itu relatif banget penjaga toko yang dibayangin kayak apa.
Agustus 31, 2010 at 3:57 pm
“Menara Kegepalan”
inilah yang membuat typo bisa menjadi amat fatal ketika kelewatan. Semula, segala sesuatu begitu seru, misterius, dan menegangkan, lalu tiba-tiba– hah? “Menara ke– kegempalan?” Pfftt..! XD
Sebenarny aku udah pernah baca cerpen ini, cuman belum nemu kata-kata yg tepat buat komen. Baru sekarang, hehe. Klo bisa, pengen juga aku balik ke masa lalu, untuk memperbaiki kesalahan tololku didepan mesin ATM sialan itu…
Anyway, cerpenny mirip dengan punyaku yah (bagian Penjaga Toko misterius doang sih, hehe). Settingny anak kuliahan di Indonesia, terus kisah asmarany, n soal kiriman duit yg telat, lumayan terasa alami. Apalagi pemberontakan dalam organisasi kuliahny.
Klo mau masukan, mungkin:
;
.
Konflik pas perkuliahanny, kemungkinan besar cuman bisa dimengerti orang yg sudah kuliah aj, secara banyak istilah2 yg rada asing untukku
“Inilah yang kau harapkan, bukan? Wahai, Arinto Mustofa?” klo di-’suarain’ nadany tanyany jdi diulang 2 kli yah, kayakny krg enak dengerny, tpi mungkin juga karna ak jarang denger orang ngomong kaya gitu sih, hehe;
Terus, si tokoh utama selepas kuliah kagak kerja? Gara2 depresi kli yah?
Terus, mau liat dong boneka sapiny
Btw, “non-him” itu apa ya? (serius loh pertanyaanny, ak lum kuliah, jdi rada gak nyambung pas tahu2 aja si Nia marah besar)
September 6, 2010 at 7:50 am
Oh sh*t. Ada typo di situ ya? …Trims banget udah nunjukin.
(
Soal latar belakang cerita, kayaknya itu juga yang jadi salah satu kelemahan cerita ini sih.
Non-him itu dulu istilah untuk para mahasiswa tahun pertama yang memboikot pelaksanaan orientasi jurusan (osjur). Dengan enggak mengikuti osjur ampe tuntas, mereka enggak memenuhi prasyarat buat jadi bagian dari himpunan mahasiswa jurusan bersangkutan. Dengan kata lain, ada semacam tantangan yang mesti dilaluin buat jadi anggota him. Lalu kurasa Nia dalam cerita marah lebih karena si tokoh utama nyerah di tengah-tengah, daripada karena kenyataan dia ga jadi bagian him.
Soal apa seseorang itu him ato nonhim di zaman sekarang kayaknya emang udah ga lagi dominan. Tapi di zaman dulu, ada semacam anggapan bahwa mereka-mereka yang menjadi bagian dari himpunan memiliki semacam ‘keterjaminan’ soal koneksi dan relasi, yang nantinya bakal mudahin mereka dalam ngedapetin peluang dan kedudukan di dunia kerja. Hal ini paling jelas keliatan di jurusan2 tertentu di universitas2 tertentu yang ga tau kenapa punya struktur kerja yang agak ‘feodal’.
Kuharap segitu cukup buat ngejelasin.
September 6, 2010 at 11:28 am
okay bos, understood, thx
!