MONGKU & BARNABAS
Rickman Roedavan
—
Barnabas terjun dari puncak pinus yang tingginya bisa membuat seekor kucing dewasa pingsan tak sadarkan diri. Gravitasi menarik seluruh kulit dan bulu-bulunya ke dasar tanah. Sementara angin yang berhembus bergerak sebaliknya. Bertiup kencang menekan kedua pipi tembem dan perut kecilnya. Aliran darahnya seperti berbalik. Dia merasa di tekan dari atas dan bawah secara bersamaan.
Mendekati ketinggian setengah pohon, dia membuka kedua tangan dan kakinya lebar-lebar. Membentangkan selaput tipis yang sejak tadi terlipat di tubuhnya. Selaput kecoklatan itu mengembang, memperlambat laju jatuhnya. Ekornya bergerak, begitu juga tangan dan kakinya. Membuat tubuhnya, yang tak lebih besar dari seekor kelinci, kembali terangkat di udara. Bergerak lincah menantang angin, menghindari batang pohon-pohon tinggi, lalu semakin turun, sampai akhirnya mendarat dengan sempurna di atas tanah berkerikil. Melihat caranya meloncat, menjaga keseimbangan di udara, dan mendarat, menandakan kalau Barnabas, adalah seekor bajing terbang yang sangat berpengalaman.
“Bagaimana? Kelihatan tidak?”
“Kelihatan. Rumahnya berada persis di balik bukit itu.”
“Bagus. Berarti kita sudah dekat. Ayo!”
“Tunggu dulu,”
“Kenapa lagi?”
Barnabas mengacak pinggang, melototi Mongku, sahabatnya.
“Memangnya kau sudah punya rencana?”
“Rencana? Mudah saja. Aku akan masuk melalui jendela, menghajar Sindel dengan pedangku, dan membebaskan semua teman-teman kita.” jawab Mongku. Barnabas tersenyum sinis. Seandainya dia tidak mengenal monyet berbulu emas itu sejak lama, dia pasti akan menyangka kalau monyet itu sedang bercanda.
“Kedengarannya itu sebuah rencana yang hebat. Aku yakin, rencana itu pasti berhasil.” sindirnya
“Memang. Aku juga yakin begitu. Ayo!”
“Ayo apanya!!” Barnabas berteriak. Kesal, “Memangnya bisa semudah itu? Aku masuk dari jendela, menghajar Sindel dengan pedangku, dan membebaskan teman-teman kita,” ulang Barnabas, “Sekedar mengingatkanmu, kalau-kalau kau lupa, Sindel itu seorang penyihir!!”
“Aku tahu kalau dia adalah penyihir. Lalu kenapa?” balas Mongku, “Aku tidak takut. Dia sudah menculik teman-teman kita, dan aku akan menyelamatkan mereka.” Dia mengambil sebilah pedang kayu dipunggungnya, “Pedang ini telah membantuku melewati banyak pertarungan. Jangankan seorang Sindel, sepuluh orang Sindel sekali pun bisa kukalahkan. Kau tahu, darimana aku mendapatkan pedang ini? Dua tahun yang lalu, ketika keluargaku terbunuh….”
“Ya, ya, ya., cukup! Cukup! Cukup!” potong Barnabas, “Kau sudah menceritakan soal kakek tua itu puluhan juta kali sampai aku bosan mendengarnya. Yang aku heran, kenapa sih kau tak bisa belajar dari peristiwa dulu, ketika Lala dan Yopi diculik pemburu?”
“Memangnya apa lagi yang harus aku pelajari? Toh aku juga berhasil menyelamatkan mereka berdua kan?”
“Oh ya. Kau memang berhasil menyelamatkan mereka,” jawab Barnabas dengan suara semanis madu, “Dengan hadiah berupa luka parah di punggung, kepala dan tanganmu. Kaki kirimu juga nyaris patah. Kalau saja waktu itu tidak ada Lagos, yang mengantarmu ke sesepuh Olaf, mungkin riwayatmu sudah tamat.” lanjutnya sinis
“Aku tak takut mati.” jawab Mongku pelan. Ada ketegasan dalam suaranya.
“Bukan itu maksudku.”
“Jadi maksudmu apa? Aku harus duduk diam, menunggu dan tidak melakukan apa-apa sementara teman-temanku di tangkap Sindel? Aku harus menunggu sampai dewan sesepuh hutan Legenda selesai rapat untuk memutuskan layak atau tidaknya teman-teman kita itu di selamatkan?”
“Bukan itu maksudku!!” Barnabas balas berteriak. Lebih keras. Tak mau kalah dengan sahabatnya yang mulai emosi.
“Lalu apa??”
“Rencana, sobat! Rencana!” katanya, “Yang akan kita hadapi adalah Sindel. Salah satu penyihir terkenal di negeri Dongeng. Kau tahu, binatang-binatang di hutan Angker menjulukinya apa? Si nenek ular. Karena dari semua sihir hitam yang dikuasainya, sihir andalannya adalah Kutukan Ular. Dia bisa melontarkan ular gaib dari ujung tongkatnya dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Kau boleh punya nyali, kau boleh merasa berani. Tetapi menghadapi sihir Sindel?” Barnabas mendengus, “Kau bisa mati kalau tidak hati-hati! Begitu juga teman-teman kita. Kalau kau mati, terus apa artinya pelacakan kita selama dua hari ini?”
Mongku ingin membantah, tapi tidak jadi. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Barnabas ada benarnya juga.
“Aku tidak takut dengan Sindel.” katanya kemudian.
Barnabas menghembuskan nafas panjang. Mengelus dada. Sebisa mungkin membuang rasa kesal. Sabar. Sabar. Sahabatnya itu memang bodoh. Jauh lebih bodoh dari seekor keledai. Jika seekor keledai akan berpikir seribu kali untuk meloncati parit, maka sahabatnya itu tidak akan banyak berpikir untuk meloncati jurang.
“Dengar sobat. Aku juga sama sepertimu. Aku juga ingin menyelamatkan teman-teman kita. Tapi kita tidak boleh gegabah. Kita tidak boleh sembrono. Kita harus memikirkan rencananya matang-matang.”
“Dan selama kita memikirkan rencana, mungkin Sindel sudah mulai menguliti teman-teman kita.” kata Mongku.
“Bisakah kau diam sejenak? Biarkan aku berpikir.”
Mongku diam. Menarik nafas panjang, lalu berkata, “Aku rasa, aku punya rencana. Aku yakin. Rencana ini pasti berhasil.”
Barnabas mengangkat alis.
“Dan rencanamu adalah?”
“Aku akan masuk ke rumahnya melalui jendela, lalu aku akan membunuh Sindel dengan pedangku, dan membebaskan teman-teman kita.”
“RENCANAMU ITU SAMA SAJA DENGAN YANG TADI!!” teriak Barnabas frustasi. Dia hampir saja menangis. Bodoh benar sahabatnya itu.
“Lalu bagaimana? Hanya itu rencana yang terpikir di kepalaku!” jawab Mongku. Dia mengacungkan pedang kayunya bagai seorang jenderal perang kerajaan Dongeng, “Sindel menggunakan tongkat sihir kan? Kalau begitu kita tandingkan saja. Mana yang lebih kuat. Tongkat sihirnya, atau pedang kayuku.”
“Eh? Tongkat sihir?” Barnabas terbelalak. Matanya berbinar. “Tongkat sihir katamu? Itu dia! Itu dia yang kucari-cari. Itu adalah rencana yang bagus!”
“Oh ya?”
***
Negeri Dongeng terletak di tempat yang sangat jauh. Jauh sekali. Negeri ini terdiri dari hutan-hutan lebat, pepohonan tinggi, pegunungan menjulang, dan puluhan sungai lebar. Tanah subur menjadi andalannya. Rumput-rumput menebarkan wewangian yang khas. Pohon-pohon pinus, kenari, beringin, cemara, oak, dan willow menata setiap sudut hutan, menjadikannya tempat yang rindang dan nyaman untuk berteduh. Sungai-sungai mengalir jernih, dingin, dan segar. Tidak salah jika seorang penyair mengatakan kalau negeri ini bagaikan surga. Surga untuk bangsa manusia, maupun bangsa binatang.
Terlepas dari segala keindahan panoramanya, negeri ini ternyata menyimpan kegelapan yang bertolak belakang dengan segala yang terlihat secara kasat mata. Negeri ini dikuasai para penyihir. Kerajaan Dongeng, yang memimpin negeri ini pun tak bisa berbuat apa-apa. Sang raja pun tahu seperti apa, dan sekuat apa kaum mereka. Bahkan seluruh ksatria berpedang tunduk, dan tak berdaya dihadapan para penunggang sapu terbang, dan perapal jampi-jampi mengerikan itu. Cerita tentang para raja dan ksatria-ksatria terdahulu yang membangkang, dan berakhir menjadi kodok, atau hancur jadi debu, cukup membuat mereka mengerti apa akibatnya bila berani melawan mereka. Itu sebabnya, pihak kerajaan, sebisa mungkin tidak mau bersinggungan dengan kaum penyihir. Tukang-tukang sihir itu tidak dipungut pajak, dan mereka bebas melakukan apa saja di negeri yang indah namun sebenarnya kacau ini.
***
Ruangan kecil itu pengap, sempit, dan berantakan. Temboknya yang dicat putih terlihat kotor dan kusam. Dekat sebuah jendela kayu yang tertutup rapat, terdapat rak reyot yang berisi puluhan buku tebal. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah meja yang di atasnya terdapat botol-botol kaca berisi cairan kental. Masing-masing mengeluarkan bau busuk, seperti kotoran sigung. Tetapi baunya masih kalah dengan yang berasal dari panci kecil hitam di dekatnya, yang saat ini sedang diaduk-aduk oleh Sindel. Panci kecil itu, apa pun isinya, pasti panas sekali. Cairan kental yang direbusnya sampai mendidih. Meletup-letup bagai lahar.
Nenek tua berhidung bengkok itu terkekeh mana kala reaksi seperti ledakan, disusul bunyi ‘boff’ pelan, muncul ketika tangannya memasukan rumput-rumput ilazar, tangkai mawar bernari, atau beberapa helai bulu gagak. Sambil mengaduk ramuan dengan sendok kayu, mulut keriputnya komat-kamit mengucapkan sesuatu. Sebuah ledakan terjadi lagi. Tidak seperti ledakan sebelumnya, ledakan kali ini sedikit lebih besar.
Sindel pun menyeringai.
“Akhirnya,” katanya dengan suara parau, “Ramuan Ratu Abadi-ku hampir selesai. Dengan ramuan ini aku akan menjadi secantik ratu dari kerajaan Dongeng, tidak! Bahkan mungkin lebih cantik lagi, hihihihi,”
Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah halaman buku besar tua yang sejak tadi dibacanya. “Panaskan ramuan terus menerus selama tiga jam. Setelah itu, masukan bahan-bahan berikut,” Sindel membalik halaman, “Sembilan belas helai daun herbaloko, dua batang kerait, enam akar mandrake.” Dia mengerutkan kening, “Rasanya aku sudah memiliki semua bahan ini. Lalu selanjutnya adalah, empat jantung bajing terbang.” Dia menoleh ke beberapa sangkar yang terletak di lantai. Menghitung jumlah bajing terbang yang terkurung di sana. “Satu, dua,… ah, sudah juga. Kemudian, dua pasang mata sigung, tiga belas jari tikus, dan dua kepala monyet. Bagus. Semuanya sudah lengkap!” Sindel menyeringai senang.
Nenek tua itu lalu berjalan ke sebuah lemari kecil, membukanya, mengambil beberapa toples kaca yang berisi daun dan akar-akar ajaib.
“Sembilan belas daun herbaloko.” katanya sambil menjejerkan beberapa daun lebar berwarna biru di atas meja, “Dua batang kerait. Enam akar mandrake, Loh?” Sindel melotot. “Demi jenggot kambing! Aku kehabisan akar-akar mandrake!!”
Tangannya meletakkan empat buah tanaman sebesar apel berbentuk bayi di meja, lalu kembali ke lemari kecil tadi. Membuka semua toples yang dia punya. Dan kembali mengumpat meneriakkan semua nama binatang yang bisa diingatnya.
“Menyebalkan! Bagaimana aku bisa lupa kalau akar mandrake-ku hanya tersisa empat buah? Kacau.” Belum hilang rasa kesalnya, sebuah batu kerikil, entah dari mana, tiba-tiba melesat menyerang punggungnya.
“Adaw!!” Sindel mengaduh. “Siapa itu? Siapa yang berani melempar punggungku?” Dia berbalik, tapi tidak melihat siapa-siapa. Menunduk ke lantai, mengambil kerikil kecil di dekatnya. Mengendusnya.
“Bau ini kan…. monyet? Jangan-jangan,” Dia tercekat. Mengambil tongkat sihir di atas meja, berlari tergopoh ke ruang ramuan. Menodongkan ujungnya ke sangkar kecil yang berisi sepasang ekor monyet kecil yang ketakutan.
“Mereka berdua masih ada di sini? Lalu siapa… adaw!!” Sindel menjerit lagi ketika pantatnya kini yang menjadi sasaran kerikil. “Siapa? Siapa yang berani melemparku dengan kerikil??”
“Aku.”
Sindel melotot. Tak percaya.
“Demi jenggot kambing! Seekor monyet berbulu emas?”
“Namaku Mongku. Lepaskan teman-temanku, nenek tua. Atau pedangku ini akan menembus jantungmu.”
Sindel bengong. Dia, Sindel, si penyihir hebat dari negeri Dongeng, di ancam oleh seekor monyet? Ya ampun. Harga dirinya terasa diinjak-injak.
“Kurang ajar! Berani benar kau mengancamku. “
“Aku katakan sekali lagi, nenek tua. Lepaskan semua teman-temanku, atau kau akan merasakan akibatnya. Aku sarankan, sebaiknya kau menyerah dan jangan melawan. Karena tongkat sihir jelekmu itu, bukanlah tandingan pedang saktiku,”
Muka Sindel merah padam. Monyet dihadapannya itu pasti sudah gila.
“Kau benar-benar monyet sinting. Matilah kau!!” Sindel mengucapkan mantera Kutukan Ular sambil mengayunkan tongkat sihirnya. Sebuah bola kuning menyala di ujung tongkatnya, kemudian melesat bagai peluru. Meninggalkan jejak aneh seperti liukan ular di udara. Secepat bola itu berkelebat, secepat itu pula, bentuknya berubah menjadi seekor ular bercahaya, dengan sepasang mata berwarna merah.
Mongku melotot.
Dia tak menduga serangan cepat itu. Beruntung gerak refleksnya cukup baik. Ketika taring sang ular cahaya akan menerkamnya, dia berguling untuk menghindar. Ular sihir itu pun meledak ketika menghantam lantai. Membuat lantai itu hancur, meleleh, seperti baru saja diterjang lahar.
“Waaaah! Hampir saja, ” Mongku terbelalak. Dia melihat bekas lantai yang hancur tadi. Terlambat sedikit, dia akan bernasib sama.
“Rasakan ini!” Sindel kembali menembaki Mongku dengan mantera sihirnya. Beberapa bola kuning, yang kemudian berubah menjadi ular-ular cahaya, melesat sekaligus. Mereka bergerak zig-zag di udara, berkelok menukik tajam, menyerang Mongku dari segala arah.
“Gawat!! Aaaaaakh!!” Mongku mundur beberapa langkah, lalu meloncat, berguling, bersalto, melakukan semua gerakan yang dia bisa untuk menghindari semua serangan itu.
Ledakan demi ledakan terjadi silih berganti.
Ular-ular sihir yang gagal menerkamnya, menghantam lantai, tembok, kursi lalu meledak keras. Meskipun gerakan Mongku terbilang cukup cepat, tetapi dia gagal menghindari serangan ular terakhir. Bahu kirinya terserempet tubuh ular cahaya. Dia menjerit, berputar sesaat di udara, lalu terpelanting, terguling-guling.
“Kena kau,”
Mongku mengerang. Bahunya sakit sekali. Rasanya seperti disayat pisau panas.
“Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku.” Sindel terlihat senang, “Jarang sekali aku melihat seekor monyet berbulu emas di sekitar sini. Kau bisa menjadi salah satu bahan ramuanku yang berharga.”
“Kau mau menangkapku? Enak saja!” teriaknya.
Ketika Sindel mulai membidiknya lagi, dia melempar pedang kayunya. Gerakan itu membuat Sindel refleks menggoyangkan tongkatnya, melempar ular sihirnya dan menghancurkan pedang kayu yang dilempar Mongku.
“Kalau kau pikir pedang kayu itu bisa membunuhku, kau salah besar. Eh?” Sindel kaget begitu melihat Mongku tak memperdulikannya dan malah berlari kencang.
Kabur.
“Hei! Jangan lari kau monyet jelek!” teriaknya.
Dengan tergesa, dan sedikit terseok karena tersangkut jubah panjangnya, Sindel mengejar Mongku sampai ke pedalaman hutan yang ditumbuhi pohon tinggi dan semak-semak belukar. Begitu melihat ekor Mongku yang mencuat di kejauhan, nenek tua itu kembali merapal mantera. Ular sihirnya melesat dari ujung tongkatnya. Meliuk-liuk di udara. Mengamuk. Bergerak mencari sasaran. Menghancurkan semua benda yang diterkamnya.
Sambil memegangi bahunya yang terasa panas, Mongku berguling ke sana kemari. Berkelit ke balik pohon, bebatuan, dan terus bergerak. Sindel mendecak kesal. Rimbunnya pepohonan, perdu dan semak belukar, membuatnya kesulitan untuk membidik.
“Jangan bersembunyi kau, monyet jelek. Tunjukkan batang ekormu!” teriaknya keras saat ular sihirnya lagi-lagi gagal mengenai sasaran. Sial. Sindel mengumpat. Monyet itu sudah lenyap dari pandangannya. Pasti dia bersembunyi di balik semak-semak. Sindel menajamkan penglihatan. Berharap bisa melihat tanda-tanda keberadaan si monyet. Tiba-tiba sebuah batu kerikil, melesat cepat dan menyerang pantatnya lagi.
“Adaw!!” Sindel mengaduh, berbalik, menodongkan ujung tongkatnya. Tak ada siapa pun di belakangnya. Sebuah kerikil lain, melesat lagi. Kali ini menyerang belakang kepalanya.
“Adaw!!” Dia menjerit. Mengusap-ngusap kepalanya yang benjol. “Dasar monyet jelek tidak tahu diri. Beraninya sembunyi-sembunyi. Kalau kau memang ingin menantangku, tunjukkan….” Ceprot!
Sebongkah lumpur mendarat dengan sukses di wajahnya.
“Kuyang ajay, puh!”
“Aku di sini nenek tua,”
“Di maya kyau?” Sindel membersihkan lumpur di wajahnya dengan sekali usap. Kesabarannya sudah habis. Dia benar-benar marah. Berlari mendekati arah suara. Tangannya meremas tongkat sihirnya. Dia bersumpah akan membunuh monyet jelek itu sampai menjadi abu. “Tunjukkan batang ekormu!”
“Aku di sini.”
“Di mana? Aku tak melihatmu. Di mana kau?”
“Sekarang Mongku!”
“Waaa,” Gedebruk!
Kaki Sindel tersangkut sulur akar kerait yang mendadak melintang. Dia terjatuh, cukup keras. Tongkat sihirnya terlepas dari genggaman.
“Berhasil!” seru Barnabas. Dari balik semak-semak, dia meloncat cepat. Berlari mengambil tongkat sihir kesayangan Sindel.
“Aduh, kenapa sulurnya bisa melintang begini?” Sindel mengumpat, berdiri tertatih, dan melotot saat melihat Barnabas, dengan ekspresi penuh kemenangan, memainkan tongkat sihir kesayangannya.
“Kau kehilangan ini, nenek tua?”
“Bajing terbang? Kembalikan! Kembalikan tongkat sihirku!”
“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”
“Cepat kembalikan. Atau kau akan kukutuk menjadi batu!”
Barnabas pura-pura takut. “Dikutuk menjadi batu? Wah, itu benar-benar kutukan yang sangat mengerikan. Tapi, ada satu pertanyaanku. Bagaimana caranya kau mengutukku menjadi batu kalau tongkat jelekmu ini saja ada di tanganku?”
“Kurang ajaaar,” Sindel mengamuk, dan mulai mengejar Barnabas yang memancingnya berlari “Kemari kau bajing jelek. Kembalikan tongkatku!”
“Tangkap dulu aku, nenek tua. Kalau berhasil, barulah akan kukembalikan.”
“Awas kau ya. Aku bersumpah akan mengutukmu.”
Barnabas berlari kencang sampai mendekati pinggir sungai lebar yang membelah hutan Angker. Sesampainya di sana dia berbalik. “Apakah kau benar-benar menginginkan tongkat jelek ini, nenek tua?”
“Kembalikaaan!!”
“Kalau begitu, ambil saja sendiri!” Barnabas melemparkan tongkat itu sekuat tenaga ke tengah sungai. Dan berlari memanjat sebatang pohon willow.
“Bajing jelek!” Sindel mengumpat keras.
Tanpa pikir panjang dia melompat ke sungai yang dalamnya hanya sebatas pinggang. Dia terlihat berjalan dengan susah payah, padahal arus sungai tidak seberapa. Tongkatnya yang tidak tenggelam, dan hanya mengapung dipermukaan air, berhasil di dapatkannya lagi. “Akhirnya. Sekarang aku akan mengutukmu!”
“Bolehkah aku bertanya satu hal, nenek tua.” Barnabas berteriak dari puncak pohon. Tanpa menunggu jawaban dia melanjutkan, “Apa nama sungai ini?”
“Pertanyaan apa itu? Semua orang pasti tahu, kalau hutan Angker hanya dilewati oleh sungai Buaya.”
“Terus kenapa sungai ini sampai dinamakan sungai Buaya?”
Sindel bengong mendengar pertanyaan itu. Tawanya meledak. Keras sekali. Dia tahu kalau para bajing terbang adalah binatang yang bodoh. Tapi sepertinya, bajing tadi adalah bajing terbang paling bodoh dari yang terbodoh. Bukankah dari namanya saja sudah jelas, kenapa sungai ini sampai dinamakan sungai Buaya. Eh? Tawanya berhenti seketika. Dia melotot. Suara-suara kecipak air terdengar. Sedikit menganggunya. Ketika dia memandang berkeliling beberapa batang pohon sudah mengepungnya dari segala arah.
Oh, tidak. Sepertinya itu bukan batang pohon.
“Aaaaaaaaaakkkkh!!”
***
Para bajing terbang berebut memeluk Mongku yang telah membebaskan mereka. Sepasang monyet, sigung, dan beberapa ekor tikus tak mau ketinggalan. Mereka pun ikut bergembira menyambut sang pahlawan. Sejak di tangkap oleh Sindel beberapa hari yang lalu tak seekor pun dari mereka yang menyangka bisa bebas kembali. Setelah terlepas dari sangkar besi tua itu, udara yang mereka hirup jadi terasa lain. Ah, sungguh nikmat. Inilah yang dinamakan hawa kebebasan.
“Kau benar-benar hebat, Mongku.”
“Baru kali ini aku melihat ada seekor binatang yang bisa menghindar dari serangan sihir seperti dirimu. Kau sangat lincah.”
“Tadi itu aku sampai ketakutan. Sedikit saja kau salah melangkah, kau bisa hangus terkena mantera sihirnya.”
“Bahumu itu…, sakitkah?”
“Lumayan.” kata Mongku, dia meraba pelan bahu kirinya yang sudah dilapisi daun-daun herbaloko, dan diikat anak sulur kerait dengan kencang. “Tapi sudah agak berkurang, Barnabas yang mengikat lukaku. Dia memang pandai.”
“Seandainya tadi kau melakukan persis seperti apa yang kukatakan, pasti tidak akan jadi begini. Hampir saja kau mati tadi,” tukas Barnabas. Dia nyaris pingsan begitu mendengar kalau Mongku malah menantang Sindel satu lawan satu dengan pedang kayu bututnya. Padahal rencananya tadi hanyalah melempari nenek tua itu dengan batu, dan memancingnya ke semak-semak.
“Lalu, bagaimana dengan Sindel? Apa yang terjadi dengannya?”
“Kalau soal itu kau tak perlu kuatir. Aku yakin, nenek tua itu sekarang pasti sudah mati. Jadi santapan buaya,” Barnabas nyengir
“Masa?” para bajing terbang tak percaya.
“Dia tak usah dipikirkan. Dia takkan bisa menganggu kita lagi. Kalian semua baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?”
“Tidak. Kami semua baik-baik saja. Terima kasih atas pertolonganmu, Barnabas.”
“Berterima kasihlah kepada Mongku. Dia yang paling berjasa menolong kalian tadi. Aku hanya sedikit membantu dari belakang.” kata Barnabas, “Baiklah teman-teman, ayo kita semua pulang ke hutan Legenda.”
“Tapi….”
“Tapi kenapa?”
“Bagaimana dengan para pemburu liar? Bukankah mereka juga banyak berkeliaran di hutan? Maksudku, selain para penyihir tentunya,” kata seekor bajing terbang. Nada suaranya terdengar ketakutan.
Para binatang saling pandang. Ada rasa takut yang sama menyelinap di dalam hati mereka. Satu per satu, mereka memandang Barnabas. Yang balas memandang dengan tersenyum lebar. “Kalian tidak perlu takut soal para pemburu liar itu.” katanya, “Asalkan kalian semua mengikuti semua kata-kataku, kita pasti selamat. Kita semua pasti bisa pulang. Aku jamin.”
Awalnya mereka ragu, tapi kemudian mengangguk. Ya. Mereka setuju. Bagaimana bisa mereka meragukan Barnabas. Bajing terbang paling cerdik dari hutan Legenda.
“Ayo semuanya, ikuti aku!!”
“Ayoooo!”
“Hei! Mongku? Kau mau kemana?” Barnabas bingung melihat Mongku dengan penuh percaya diri melangkah ke utara.
“Pulang kan?”
Barnabas menepuk jidatnya.
“Arahnya ke sebelah sini, sobat!”
—
cerita ini dapat dilihat juga di:
Agustus 24, 2010 at 4:51 pm
Gw suka Mongku
dan pengen jitak Barnabas yang jaim. He.he
my fave
Agustus 24, 2010 at 9:00 pm
Satu lagi cerita fantasi yg membawa bernostalgia jaman dongeng Bobo.
Sementara org lain pake manusia, elf, jin, dst dst, Mongku-Barnabas ini salah satu karakter yg merupakan hewan (satu lg dari ceritanya Signora Luz Balthasaar).
Inget dongeng si Kancil gak sih kalo gini?
Tapi, sementara dongeng si Kancil berpusarnya di si Kancil nyuri timun, nyeberang sungai nipu buaya dan hal2 yg terasa remeh dan kurang heroik, duo Mongku-Barnabas jadi seorang pahlawan buat teman2nya jd sekalipun bernuansa fabel, gak bosen ama ceritanya.
Ini cerita yg bagus dan menghibur.
A good one for sure.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 9:24 pm
“Kata-katamu sangat tidak sopan!” dengus Barnabas, “Seorang pahlawan katamu? Kau pikir kami ini manusia? Kurang ajar!”
“Sudah! Barnabas, sudah!” kata Mongku menenangkan
Agustus 24, 2010 at 9:49 pm
Mau disebut apa atuh, Bung Barnabas?
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 10:11 pm
“Aku rasa dia lebih memilih untuk dipanggil ‘Seekor’ pahlawan. Bukan begitu Barnabas?” kataku
Barnabas mendengus lagi. Tapi dia mengangguk. “Ya, itu lebih baik.” katanya
“Seekor pahlawann? Kedengerannya keren. Aku juga mau dipanggil seperti itu.” kata Mongku terkekeh
Agustus 25, 2010 at 6:41 am
Suuuuukkkkaaa sekaaalliiiiiii >.<
Aku ada ide, bagaimana kalau dibuat kumpulan cerita-cerita Mongku dan Barnabas? Nah, mungkin lain kali mereka berurusan dengan para pemburu?
Sumpah, ini harusnya masuk list nominasi
*malah mendukung punya orang lain XD*
Agustus 25, 2010 at 5:53 pm
Thanks Kiro. Soal ide membuat kumpulan cerita-cerita Mongku dan Barnabas, kayaknya hal itu tidak memungkinkan, karena sejak awal, cerita ini memang saya buat untuk dijadikan sebuah novel anak-anak yang berjudul “Mongku & Barnabas: Gerbang Cacing”.
Adegan yang ada di sini, sebenarnya adalah penggalan bab 1 – 3 yang saya potong sana-sini demi memenuhi quota. Ceritanya sendiri direncanakan selesai akhir oktober, yah, ga banyak, cuma sekitar 120 halaman (baru rampung 40 halaman), dan untuk selanjutnya, saya harap teman-teman sekalian mau membantu proses editingnya sebelum dilempar ke penerbit.
Dengan reputasi novelis sarap dan 4 kali naskah sukses ditolak editor, saya rasa, saya sudah siap untuk menembak naskah yang ke-5 ini, hehehe
Agustus 25, 2010 at 6:00 pm
Namaku salah dieja T_T
Yah, maksudku sih kayak seri petualangan kecil-kecilan. Ini bisa jadi branding yang kuat loh, soalnya karakterisasi tokohnya bagus. Mungkin dalam perkembangannya bisa diperkenalkan tokoh-tokoh teman dua sahabat ini? Sindel juga berpotensi untuk jadi musuh bebuyutan yang kocak. Kan dia bisa sihir tuh, jadi sangat mungkin kan kalau dia selamat dari para buaya
Agustus 25, 2010 at 6:46 pm
Ups sorry Kuro. Salah ketik. Hehehe. Seri petualangan kecil2an ya? Idemu akan kupertimbangkan deh. Dan soal Sindel… ARRRGHHHH!! Darimana kau tahu kalau dia akan selamat dari buaya2 itu???
Kamu peramal?
Sejak awal Sindel sudah kutempatkan sebagai penyihir jahat yang sakti sekaligus culun. Dan sebagaimana layaknya wet bandit dalam home alone, she is definetly cannot die! Bahkan kalau pantatnya digigit dinosaurus sekali pun.
Dan kau benar sobat, Sindel memang akan menjadi musuh bebuyutan duo Mongku dan Barnabas. Bersama 2 saudaranya, yang sama2 jahat, dan well, sama-sama culun, Adela dan Lizy.
Tunggu perkembangan novelnya, dan soal sahabat dua jagoan kita ini, santai saja. Saya juga sudah memikirkan soal itu, hehehe. Thanks berat Kiro.
“Roedavan? Kau salah ketik lagi!!” teriak Mongku
Ups sorry.
Thanks berat Kuro.
Agustus 25, 2010 at 6:59 pm
hehe, saya juga bisa meramalkan Mongku bakal dapat banyak penggemar, dan Barnabas bakal banyak punya haters karena mengkritik keimutan Mongku!
yosh, saya akan selalu setia menanti duet maut ini XD
Agustus 25, 2010 at 12:21 pm
“Aku lapar, tupai-tupai di daerah sini susah sekali di tangkap.” kata Liek.
“Bersabarlah sobat. Hei, aku sering berfikir. Bagaimana kesempatan kita melawan penyihir?” kata Salamander.
Liek bergidik “Kita tak akan punya kesempatan.”
Agustus 25, 2010 at 5:55 pm
“Jika kita bersatu, kita pasti bisa Salamander!” kata Mongku, “Ayo berjuang melawan Baron!”
“Sssssssssst! Kau belum boleh menyebut nama itu, Mongku. Roedavan bilang, nama itu masih rahasia!” sergah Barnabas
“Ups! Maaf…”
Agustus 25, 2010 at 12:30 pm
Penulisannya kayaknya masih enggak rapi di beberapa bagian. Tapi seandainya nemu penerbit yang layak sama editor yang bagus, rickman sebagai pengarang bisa kaya dengan ngelanjutin cerita ini.
Lagi-lagi, aku enggak nyangka bakal nemu cerita kayak gini di FF 2010.
Agustus 25, 2010 at 5:58 pm
Thanks alfare. Masa sih penulisannya nggak terlalu rapih? Padahal saya ini penulis berpengalaman loh! Udah berpuluh2 kali nulis novel ke editor, semuanya terbit, semuanya best seller (tapi bohoong! wkwkwkwkw)
Boleh minta koreksi lebih detail?
Agustus 26, 2010 at 7:59 am
Enggak. ^^
Lagian cuma saltik dan kurang tanda baca di beberapa bagian perasaan. Ntar juga kalo dibaca ulang bisa diperbaiki sendiri.
Agustus 25, 2010 at 12:50 pm
“M..Mau…”
:D:D:D:D:D:D
Alec menoleh ke arah Nanami. “Mau? Mau apa, Nanami?”
Nanami menunjuk ke arah duo Mongku dan Barnabas. “M…mau b..bawa pulang s…satu…”
Alec pun manggut-manggut. “Boleh. Ntar kita culik satu ya.”
Agustus 25, 2010 at 5:59 pm
Tidaaaaaaaaaaak!! Jangan culik Mongku atau Barnabas. Saya masih ada kontrak novel yang harus diselesaikan oleh mereka bedua, hehehe
Agustus 25, 2010 at 8:47 pm
“…”
Nanami cemberut sambil memegang gaun dan payung mungil ala Sarimin.
“Nanami..?”
Tiba-tiba Alec merasakan aura di sekitar Nanami berubah dingin. Aura pembunuh. Dan tertuju pada dorae… eh, Rickman.
Baru saja Alec hendak mengucapkan sesuatu untuk menenangkan Nanami, gadis itu sudah melesat ke arah Rickman dan menodongkan shiletto-nya di leher si penulis yang udah ngompol di celana. (:P)
“C..cepat…”
“e..eeh?”
Alec menghela nafas, langsung mengerti maksud Nanami. “Maksudnya, cepat buat novelnya kalau tidak mau kena shiletto.”
Agustus 25, 2010 at 9:04 pm
“Hahaha, kau hebat Nanami. Sampai bisa membuat Roedavan ngompol di celana.” Barnabas tertawa terpingkal-pingkal
Itu tidak lucu, Barnabas! kataku kesal. Celanaku jadi bau nih. Awas kau Nanami.
“Roedavan?” tanya Mongku pelan
Apa?
“Bukankah kau sudah berumur 28 tahun?”
Lalu kenapa?
“Kok masih ngompol?”
Agustus 25, 2010 at 2:10 pm
“Memang perlu dirapikan. Apabila diedit sedikit saja cerita ini pasti lebih nyaman dibaca.”
“Menurutku cerita ini perlu saus.”
“Saus? Maksudmu, bumbu dramatis?”
“Bukan. Saus steak.”
“Untuk?”
Barshan melirik Mongku, lalu Barnabas, lalu balik ke Mongku lagi (yang jelas lebih gendut) sebelum cengar-cengir di depan kakak kembarnya yang serius dan sinis.
“Kau lapar, Kirali?”
Agustus 25, 2010 at 6:01 pm
Akhirnya, tante Luz yang gal…, ehm, yang cantik dan menawan, komen juga di cerita saya.
“Tante Luz itu cewek yang super galak dan super sinis kalau ngeritik novel itu ya?” tanya Mongku
“Sssssssssssstt!!”
Sekali pun anda seorang kritikus terkenal, tapi jawaban saya adalah TIDAK!! Saya takkan pernah mau si Mongku dijadiin steak! Enak saja!! Nanti saya ga punya karakter utama dong? T_T tante Luz tegaaaa
Agustus 25, 2010 at 2:55 pm
uwaaa…jangan Mongku
*sudah berniat jadi fans Mongku*
Agustus 25, 2010 at 6:01 pm
elbintang, I love you so much
“I love you too!” kata Mongku
Agustus 25, 2010 at 3:46 pm
wow bagus!!
ini bagian fave-ku :
“Barnabas menghembuskan nafas panjang. Mengelus dada. Sebisa mungkin membuang rasa kesal. Sabar. Sabar. Sahabatnya itu memang bodoh. Jauh lebih bodoh dari seekor keledai. Jika seekor keledai akan berpikir seribu kali untuk meloncati parit, maka sahabatnya itu tidak akan banyak berpikir untuk meloncati jurang.” *ketawa*
ini bagian gak fave-ku :
““Bau ini kan…. monyet? Jangan-jangan,” Dia tercekat. Mengambil tongkat sihir di atas meja, berlari tergopoh ke ruang ramuan. Menodongkan ujungnya ke sangkar kecil yang berisi sepasang ekor monyet kecil yang ketakutan.
“Mereka berdua masih ada di sini? Lalu siapa… adaw!!” Sindel menjerit lagi ketika pantatnya kini yang menjadi sasaran kerikil. “Siapa? Siapa yang berani melemparku dengan kerikil??””
entah kenapa, ga terlalu suka monolog yg ini… (mengingatkanku sama adegan di sinetron layar tancep..)
sempat benar-benar ketawa waktu baca bagian yang ini.
cuma sayang ketika Sindel masuk kesannya Sindel jg konyol sperti Mongku n Barnabas (oh iya, love the names!!). Kecuali, tentu saja, bila memang ditujukan begitu…
anyway, great one! =)
Agustus 25, 2010 at 6:04 pm
Sindel adalah penyihir terkenal di negeri Dongeng. Dan yah, kau benar. Sindel adalah penyihir yang konyol. Begitu juga 2 penyihir sahabatnya.
Pernah nonton film power ranger? Kenal Rita? Penyihir oon kepang dua dengan suara serak ga banget itu? Thats Sindel on my mind. She is not a Voldermort, just a stupid witch with a really deadly spell…
Agustus 25, 2010 at 6:07 pm
oOoOoO *monyong panjang* =0
then u got her right
Agustus 25, 2010 at 5:04 pm
Cerita bergaya dongeng, dengan karakter dan konflik yang simple, gaya penceritaan yang ringan, dan ending yang menghibur. Bagus banget, emang. Apalagi ngeliat duo makhluk pinter-bego yang selalu bikin ketawa.
Kalo bisa kasih saran sih, narasinya bisa sedikit dibenerin jadi kerasa lebih lancar dan nyaman mbacanya. Trus, teknik bikin dialog juga. Aku kadang sering ketuker2 siapa yang ngomong, Mongku ato Barnabas.
Agustus 25, 2010 at 6:53 pm
Thanks banget Danny. Narasinya sedikit dibenerin ya? Boleh tahu bagian yang mana? Detail please…
Dalam dialog sering ketuker mana Mongku mana Barnabas? Nah, ini baru masalah serius.
Saya pernah baca sebuah artikel (lupa siapa yang nulis), katanya dalam pembuatan dialog 2 karakter jangan terlalu sering menggunakan format:
“DIALOG” NAMA TOKOH 1
“DIALOG” NAMA TOKOH 2
“DIALOG” NAMA TOKOH 1 dst….
Kalau hanya dengan menggunakan:
“DIALOG”
“DIALOG”
“DIALOG”
Tetapi pembaca bisa menebak siapa tokoh 1 dan siapa tokoh 2, berati penulis udah sukses bikin dialog yang mencerminkan karakter. Dalam kasusmu, berarti cara saya bikin dialog masih gagal. Aaargh, my bad!
Oh ya, boleh saya tahu, dialog mana yang bikin kamu ngerasa ketuker seperti itu? Detail please…
Agustus 25, 2010 at 7:01 pm
Danny benar, tapi om Roedavan tidak perlu terlalu khawatir. Sekali lagi, karakterisasinya unik dan kuat. Tanpa narasi yang menjelaskan siapa yang sedang bicara, aku (tapi ga tahu yg lain) bisa bedain si Mongku dan Barnabas
Agustus 27, 2010 at 4:16 am
Hmm… sudah sekitar seharian lewat dari waktu aku mbaca cerita ini, jadi aku agak2 lupa kalo harus ngasih tahu bagian narasi yang mana. Tapi kalo soal dialog, dialog awal mereka di bagian paling atas itu yang paling bikin aku bingung siapa yang ngomong. Apalagi karena aku belum tahu nama mereka.
Cara bikin dialog kaya yang kamu contohin emang bener sih, tapi kalo terlalu kaku ngikutin itu kadang ada pembaca kaya aku yang sering ketuker juga. Mungkin sekali2 dikasi tahu siapa yang nulis juga bagus.
Agustus 26, 2010 at 8:53 am
ceritanya menghibur sekali ini XD
karakterisasi dua tokoh utamanya solid banget deh itu. humornya juga kena. kalau flaw, bagi gw nggak ada yang terlalu mengganggu. waktu pertama kali baca kemarin, ngerasa cara pembawaan ceritanya kurang maksimal. tapi habis dibaca lagi kayaknya oke-oke aja itu
Agustus 31, 2010 at 7:23 pm
Thanks Georgie, senang bisa menghiburmu dengan ceritaku ini.
“Ehm!” Barnabas mendehem keras, “Ini bukan ceritamu, Roedavan. Ini adalah cerita kami. Kau hanya membantu mengetikkannya. Ingat itu!”
Iye deh, iyeee. Ini cerita kaliaan. Dasar bajing terbang sok keren.
“APA KAU BILANG??”
Tidak. Aku tidak bilang apa-apa. Seperti yang tadi kau bilang, aku hanya “mengetik”.
Agustus 26, 2010 at 2:50 pm
salut dah buat rikman, masih sempat nulis nulis…..tapi kok panjang banget…he3x
Agustus 31, 2010 at 7:25 pm
Salut juga buat ibu, masih sempat buka-buka internet pas jam kantor, ups! *kabuuuuur*
Agustus 26, 2010 at 8:36 pm
aku juga setuju kalo dibuat kumpulan cerita-cerita pendek Mongku dan Barnabas. Sepertinya lebih asyik ya begitu
Satu buku berisikan cerita-cerita pendek petualangan kedua binatang lucu ini. Rasanya lebih segar begitu daripada membuat satu cerita panjang tentang mereka
Agustus 31, 2010 at 7:27 pm
Thanks Brainsucker. Sejujurnya gara-gara kau dan Kuro, aku jadi susah tidur belakangan hari ini. Aku seperti berada di persimpangan jalan yang sulit untuk kupilih (halah)
Di satu sisi, aku ingin bikin novel duo binatang kocak ini, di sisi lain, ide kalian tentang kumpulan cerpen bikin aku bersemangat juga. Pusing deh jadinya.
Mauuu di baaaawa kemanaaaa, ceritaaa iniiiii……
Agustus 26, 2010 at 8:49 pm
hahahaha kereen!
suka yg lucu2 gini
menghilangkan stress soalnya kekekeke
Agustus 31, 2010 at 7:29 pm
Thanks yin. Senang rasa bisa menghilangkan stress orang-orang yang membaca ceritaku ini.
“Ehm!”
Iya deh, iya. Ini cerita kalian. Ini cerita kalian.
Puas?
Agustus 28, 2010 at 1:16 am
Ceritanya lucu, plotnya simpel, sederhana, enak diikuti dan karakterisasi tokoh utamanya kuat banget. Two thumbs up!
Agustus 31, 2010 at 7:31 pm
Thanks madun. Komentar anda singkat, tepat, padat, akurat, ningrat, pesat, kumat, lezat, aparat, dan bermanfaat.
Agustus 28, 2010 at 1:18 pm
Bagian favoritku yang ini:
Mongku diam. Menarik nafas panjang, lalu berkata, “Aku rasa, aku punya rencana. Aku yakin. Rencana ini pasti berhasil.”
Barnabas mengangkat alis.
“Dan rencanamu adalah?”
“Aku akan masuk ke rumahnya melalui jendela, lalu aku akan membunuh Sindel dengan pedangku, dan membebaskan teman-teman kita.”
“RENCANAMU ITU SAMA SAJA DENGAN YANG TADI!!” teriak Barnabas frustasi. Dia hampir saja menangis. Bodoh benar sahabatnya itu.
*************************************
Bravo Aa Rickman!!! Coba ada ilustrasinya, pasti lebih lucu lagi
Agustus 31, 2010 at 7:42 pm
Merci beaucoup ma belle soeur. Merci de commenter cette histoire. Cette histoire n’est qu’une partie du roman intitule globale prevue “Mongku & Barnabas: Gerbang Cacing”. J’espere que j’ai reussi a le terminer. Souhaitez moi bonne chance.
Agustus 28, 2010 at 4:50 pm
“Tukang-tukang sihir itu tidak dipungut pajak,”
“Ahahahahahaha!”
“Apa apa?” tanya Thomas, mendekati Jeremy yang terpingal-pingkal.
“Cerita ini lucu! Untung tuan juga mendapat cerita seperti ini!”
“Mana?” Thomas membacanya, lalu berkomentar, “Oh ya, cukup bagus…khususnya untuk anak-anak, mereka akan sangat terhibur. Sedikit mengingatkan pada Walt Disney, tapi sayang tak ada ilustrasi.”
Ekspresi dan nada suaranya yang datar membuat Jeremy menggeram gemas, “Cuma itu komentarmu? Kau bahkan tidak tersenyum! Selera humor lumba-lumba memang payah.”
“Hus. Setidaknya aku berkomentar yang membangun. Bukannya berguling-guling tak jelas seperti naga keracunan jamur basi.”
Jeremy menatapnya kesal, “Aku juga akan berkomentar. Cerita ini kurang satu hal, yaitu NAGA. Naga yang keren, jantan, kuat, loyal, dan amat-sangat-gagah.”
“Dan maniak kue.”
Jeremy memelototi Thomas.
“Apa. Maksudmu?”
Thomas meluncur pergi sebelum Jeremy sempat menerkamnya.
Dikejauhan, Elsa menatap mereka dan bergumam, “Dasar laki-laki.”
Agustus 31, 2010 at 7:47 pm
“Kau dengar itu Barnabas? Mereka bilang masih ada yang kurang pada cerita ini. Yaitu naga. Naga yang keren, kuat dan sangat gagah.” Mongku tak bisa lagi menahan tawanya, “Seandainya mereka tahu tentang Nimbas.”
“Sssssssssst!! Jangan dulu sebut nama itu, Mongku!” Barnabas melotot
“Ups! Maaf!”
Agustus 28, 2010 at 7:39 pm
salah satu cerita yg bikin *nepuk kepala* dari semua cerita Di FF.
Karena aku adalah pembaca cuek teknik, maka gak ada masalah sama sekali di cerita ini.
semua sisi gak bisa dibilang kurang. jadinya… aku bilang perfect deh.
that’s it peace out
Agustus 31, 2010 at 7:52 pm
Thanks ivan. Dalam setiap novel fantasi lokal, biasanya, ehm, maaf, selalu diembel2i dengan endorsemen yang heboh, mantap, keren, jeleger duar untuk menarik pembeli. Pujianmu membuat saya berhasil memikirkan sebuah endorsemen untuk novel ini kelak.
“Mongku & Barnabas! Sebuah cerita yang Perfect! Sempurna! Tanpa Cacat! Dijamin 100% Tokcer!!”
Terus dibawahnya ada tulisan lagi. Pake font keciiiiil bener. Ukuran 3,5. Bacanya juga kudu pake mikroskop.
“Syarat-syarat dan ketentuan berlaku:
Yang baca wajib cuek sama teknik.”
Agustus 30, 2010 at 11:59 am
Hihihi.. lucu..
Duo karakternya kuat banget, bakal ngalahin duo Patrick & Spongebob nih..
Gw suka opening line-nya..
‘Barnabas terjun dari puncak pinus yang tingginya bisa membuat seekor kucing dewasa pingsan tak sadarkan diri.’
bikin penasaran..
Agustus 31, 2010 at 7:59 pm
Thanks baw. Suka openingnya line nya? Memang bagus kok. AKu memikirkannya 7 hari 7 malam untuk bisa mendapatkan kalimat sekeren itu.
Barnabas langsung melotot.
Ya ampun! Aku nepuk jidat. Tak bisakah aku sebagai seorang penulis ngaku2 dikit soal kalimat pembukanya?
Barnabas menghela nafas panjang. “Baiklah, baiklah. Untuk sekali ini, kau boleh bilang kalau kalimat pertama itu adalah hasil pemikiranmu.” katanya
Nah! Gitu dong. Aku senang. Kan jadinya sama-sama enak.
“Satu saja permintaanku.” katanya lagi
Apa?
“Aku minta kenaikan gaji.”
Agustus 30, 2010 at 7:32 pm
Saya bukan penulis handal, tapi idenya sudah bagus. Memang masih ada sedikit keurangan spt pada dialog2 tokohnya masih perlu diberi keterangan siapa yang berdialog dan dengan emosi spt apa tokoh2 dalam cerita berucap supaya pembaca bisa dapat merasakana emosional tokoh2 ceritanya.
Sukses ya Mas! Dan terus lah berkarya
Agustus 31, 2010 at 8:05 pm
Thanks berat ya, Kak Rico. Udah nyempat2in baca cerita picisan ini. Jadi nggak enak nih, mudah2an ga ngeganggu waktunya, hehehe
Ah, ya. Soal kekurangan pada dialog, it’s totally my bad. Sepertinya memang masih perlu banyak bebenah di teknik pembuatan dialog.
Dan soal emosi, well, ini memang agak dilematis. Karena dalam cerpen ini yang paling saya tekankan adalah unsur komedinya. Dan nggak sedikit pun nyentuh2 emosi, wkwkwkw.
Oh well, sepertinya itu pun akan menjadi sebuah pe-er besar.
Sekali lagi, thanks komentarnya Kak Rico. Salam sukses dan lestarikan budaya dongeng untuk anak-anak!
Peace
Agustus 31, 2010 at 7:01 pm
Tanpa berpikir panjang, aku kemudian memetik dua lembar daun kertas terdekat. Aku setengah menangkupkan kedua telapak tanganku dan mengangkatnya ke arah puncak pusaran angin. Sambil mengulang-ulang isi penglihatanku di dalam benakku, aku pun meniup.
Setelah melayang beberapa kaki, dedaunan harapanku mulai berubah dengan saling melipat sampai akhirnya menjadi serupa…
Bajing terbang.
Lalu tanpa kusangka-sangka, bentuk itu berubah lagi.
Sekarang menjadi… monyet berbulu emas.
Ada yang aneh. Rasanya ada yang salah dengan semua ini.
Lalu bentuk itu kembali berubah menjadi… seorang nenek sihir jahat…
Dan seolah itu kurang, ada dua ekor bentuk buaya yang mengejar-ngejar nenek sihir itu.
Ini sama sekali tidak sesuai dengan penglihatanku.
Sama sekali!
Aduh! Ini penglihatannya siapa?!!
***
btw, om roedavan, entah kenapa aku lebih suka mongku & barnabas yg sering mampir komen di cerpen2 lain; rasanya lebih lucu dan lebih jujur… xD
mungkin karena yang ini ceritanya terlalu panjang kali ya, jadinya lucunya agak terlalu ketarik-tarik… ^^’
Agustus 31, 2010 at 8:10 pm
Kamu lebih suka Mongku dan Barnabas yang komen di cerpen2 lain? Aneh sekali. Padahal aku sama sekali nggak suka mereka komen di sana.
Tahu kenapa?
KARENA MEREKA BERDUA PAKE LAPTOPKU!!
SEENAKNYA! NGGAK MINTA IJIN NGGAK PERMISI MAIN PAKE AJA!!
Tuh lihat.., ini keyboardnya jadi banyak bulu. Bau lagi. Ini pasti bulunya Mongku. Dan lcd-nya, ampuuuuun, ada tapak2 kaki. Nggak tahu deh ini laptop abis diapain sama si Barnabas. T_T