RAHASIA FIONA
Nebunedzar
—
“Sang putri tidak menikah dengan pangeran impiannya.”
London, ibukota kerajaan Inggris yang terletak dekat dengan sungai Thames, tempat Fiona berada sekarang setelah menempuh perjalanannya yang berasal dari desa Halliford, desa kelahirannya. Fiona baru pertama kali datang ke pusat kota yang besar seperti London.
Fiona terpesona dengan kemegahan kota ini. Jalanan di kota ini menggunakan kumpulan batu yang disusun sedemikian rupa hingga terlihat seperti dekorasi. Lalu ada beberapa bangunan yang menjulang tinggi dibandingkan dengan desa kelahirannya yang hanya berupa kumpulan rumah dan belum ada jalanan seindah ini.
Pakaian yang digunakan oleh masyarakat di kota ini beragam, ada yang sama seperti umumnya dari masyarakat desa Fiona, dan ada juga yang menggunakan pakaian yang sangat rapih dan bersih. Sampai-sampai Fiona melihatnya mereka seperti mengkilau.
Lalu Fiona sendiri hanya seorang gadis petualang biasa. Dia sudah tidak menggunakan tidak memakai gaun lusuh coklat yang dia sering pakai sehari-hari selama di desanya, di mana dia biasa bekerja sebagai pemerah sapi, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau menjadi pelayan di tempat masyarakat berkumpul untuk bercengkrama.
Bahkan dia jadi agak terlihat seperti laki-laki dengan sepatu bot, celana panjang yang terbuat dari kulit sapi, lengkap dengan ikat pinggang, dan baju yang umumnya dipakai oleh pria. Warna pakaiannya didominasi oleh variasi warna coklat gelap dan coklat terang.
Sedangkan rambut pirangnya pendek sebahu, bibirnya agak lebar dan agak tebal, kedua alis matanya yang pirang pun terlihat samar dengan warna kulitnya hingga terkesan seperti tidak memiliki alis mata, tapi kedua matanya spesial; dia memiliki mata yang lentik.
Sebenarnya tujuan dia datang ke sini itu untuk bertemu teman dekatnya dari kecil yang bercita-cita untuk menjadi ksatria, Edmund namanya. Walau kenyataannya ksatria itu hanya berasal dari keluarga bangsawan, Fiona yakin dan tahu Edmund akan tetap berusaha. Jadi yang Fiona tahu, Edmund akan datang ke London untuk mendaftarkan diri menjadi prajurit, bukan menjadi ksatria seperti yang dia inginkan.
Namun tampaknya kedatangan Fiona terlalu cepat, dia tak berhasil bertemu dengan Edmund setelah mencarinya seharian ini. Bukannya menikmati pemandangan kota, Fiona mencari temannya ini dengan menanyakan ke berbagai orang di setiap pelosok kota.
Akhirnya karena matahari tampaknya sudah mau terbenam dan Fiona belum mencari tempat untuk menginap, dia memilih untuk menunda mencari temannya untuk hari ini. Fiona pun segera menuju ke tempat penginapan yang sederhana dan letaknya tak jauh dari tempat dia berada sekarang. Untunglah biaya menginapnya masih terjangkau.
Fiona lalu pergi menuju ke tempat masyarakat berkumpul; rumah publik namanya, biasa disingkat menjadi pub. Berbeda dengan bar yang isinya hanya untuk pemabuk karena memang tempat untuk minum-minum, pub itu tempat untuk berkumpul dan menghabiskan waktu.
Saat tiba di depan pub, Fiona memperhatikan papan tanda untuk menandakan tempat itu adalah pub. Soalnya di desanya tidak memakai hal seperti itu karena masyarakatnya yang sudah pasti tahu di mana tempat mereka akan berkumpul dan bercengkrama.
Pintu di depan terbuka lebar, Fiona pun masuk ke dalam ruangan pub paling luar. Di dalamnya masih ada lagi rupanya, bedanya pintu untuk ke ruangan berikut tidak dibuka lebar, ruangan ini bukan untuk memesan minuman maupun makanan. Fiona diam sebentar karena belum terbiasa lalu masuk ke dalam lagi.
Di dalam ada banyak orang, mungkinkah sama seperti yang ada di desa Fiona? Mungkin kumpulan orang yang baru saja selesai bekerja, dan pergi ke sini untuk melepas penat. Fiona lalu memesan makanan yang tak terlalu mahal untuk dimakan sebelum pergi mencari meja untuk tempat dia makan. Fiona pun duduk di meja kosong yang berada di dekat jendela supaya dia bisa menikmati pemandangan sore menuju malam.
Selagi menunggu, Fiona menyadari ada seorang wanita cantik yang dari tadi duduk bersama seorang temannya yang duduk tak jauh dari tempatnya. Wanita itu bermata hijau, rambut coklat muda, dengan sebuah harpa kecil yang ada di tangannya. Sedangkan temannya berambut pirang, bermata biru langit, dan menaruh tangannya di atas sebuah biola yang terletak di atas meja mereka.
Tak lama kemudian, mereka berdua pergi menuju panggung yang ada di pub. Sepertinya mereka penyanyi keliling. Mungkin mereka sudah meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik pub untuk hal ini, atau bisa langsung saja? Fiona belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya, jadi dia tak begitu tahu hal itu.
Lalu wanita yang bermata hijau dan memegang harpa kecil itu memperkenalkan dirinya, dan ternyata namanya adalah Ophelia. Sedangkan yang memegang biola itu bernama Hilda. Ophelia pun memetik harpa kecilnya beberapa kali sebelum mulai menyanyikan sebuah lagu. Fiona merasa tertarik, dia pun memutuskan untuk terus menyaksikan.
Ada hal-hal kecil
Yang kadang kita tidak tahu
Maka untuk itulah
Saya di sini menyanyi
Apa yang kita lihat
Yang terlihat biasa
Mata kita bisa tertipu
Siapa yang sangka
Sembari terus memetik harpa kecilnya, Hilda kini ikut memainkan biolanya dan menjadi suara latar untuk Ophelia.
Katanya ada seorang bangsawan di London
Tuan Gilbert adalah panggilannya
Oh, katanya dia suka menculik gadis-gadis muda
Tatapannya juga bisa membuat terhipnotis
Kumerasa ada yang salah dengannya
Tapi apalah yang bisa saya lakukan
Oh, saya hanya pemusik keliling
Tak ada yang mau tahu
Sisa lagunya pun hanya berupa variasi ulangan-ulangan dari liriknya. Fiona agak miris dengan lirik bagian akhir beserta nadanya yang terdengar seperti ingin menangis, tapi sepertinya wanita itu memang menyampaikan isi hatinya.
Lagunya memang enak didengar, tapi tak ada yang peduli dengan isi dan pesannya. Fiona justru merasa lebih tertarik dengan isi ceritanya, apalagi setelah mendengar beberapa obrolan orang-orang di sekitarnya mengenai seorang bangsawan bernama Gilbert.
Selesainya mereka bernyanyi, ada beberapa menit kemudian baru mereka mulai menyanyi lagi. Ophelia, Fiona merasa nama itu terdengar elegan.
Di suatu masa
Ada seorang putri dari sebuah kerajaan
Dia menunggu pangeran impiannya
Dan oh, terdengar layaknya dongeng
Tapi sang putri tidak menikah dengan pangeran impiannya
Dia menikah karena terpaksa
Fiona mulai merasa heran, tapi tetap mendengarkan dan memakan makanannya yang sudah disajikan oleh pelayan.
Seperti mau mati saja
Sang putri menikah karena masalah kekuasaan
Oh, sedihnya hati sang putri
Siapa yang sangka
Sang putri hidupnya berakhir di hukuman pancung
Oh, hanya karena sang pangeran yang kejam
Tanpa berpikir dua kali, Fiona menggebrak meja makannya. Dia merasa terganggu dengan lagu yang dibawakan. Hanya saja, gebrakannya terlalu kuat hingga benda-benda yang berada di meja makannya terlihat seperti terhempas beberapa senti. Yang buruknya itu gelasnya pun tumpah dan menciprati pakaiannya. Untunglah pakaian Fiona tidak sampai terlalu basah oleh cipratan itu.
“Yah!” Fiona justru jadi panik sendiri dalam beberapa detik. Orang-orang yang sedang menikmati kegiatan masing-masing di pub itu pun juga jadi ikut terganggu. Jarang-jarang Fiona bertindak ceroboh seperti itu.
“Ada apa, kawan? Jangan bertingkah aneh begitu.” Seseorang mengatakannya di salah satu pojok ruangan. Fiona sendiri kurang memperhatikan orang-orang di sekitarnya, dia sedang sibuk sendiri.
Lalu Ophelia dan Hilda sendiri belum menyelesaikan lagu yang mereka bawakan, masing-masing hanya diam di tempat sambil terus memegangi alat musik yang mereka gunakan. Hilda pun menunjukkan wajah yang cemberut, sementara Ophelia kini menutup matanya.
Fiona mengangkat kedua tangannya untuk menandakan permintaan maafnya kepada pengunjung-pengunjung yang merasa terganggu sebelum langsung menghampiri mereka kedua pemusik itu. Dia langsung meninggalkan meja makannya begitu saja. Padahal mungkin di dalam tasnya terdapat barang berharga.
Tidak seperti biasanya, Fiona melangkah dengan badan condong ke depan dan gerakan lengannya selalu melekuk ke belakang; Fiona berjalan seolah-olah dia adalah pria yang sedang kesal dan marah. Langkah Fiona penuh bertenaga, lantai kayu yang diinjaknya sampai berbunyi cukup kencang di tiap langkahnya.
“Kamu tidak bisa menyanyikan lagu yang lebih enak untuk diresapi ya?” Fiona berkacak pinggang untuk posenya yang sedang marah-marah terhadap Ophelia.
Ophelia yang walaupun dengan matanya yang tertutup sedari tadi itu sebelum sudah mengarahkan kepalanya ke arah Fiona dari dia melangkah menuju ke arahnya. Dia hanya terus seolah menatap Fiona yang ada di depannya dengan mata tertutup.
“Apa seperti itu yang namanya pemusik keliling?” Nadanya terdengar kasar, dan kata-kata Fiona ada benarnya, juga ada salahnya. Bahkan bisa dibilang menyakitkan hati. Fiona masih terus melanjutkan komentarnya. “Memang tidak ada lagu yang lain lagi ya?”
“Kamu seenaknya saja bicara seperti itu.” Hilda menimpali Fiona dengan ketus. Sementara itu, ada beberapa orang yang merasa asyik untuk mengamati situasi mereka bertiga, dan ada juga beberapa orang yang acuh tak acuh dengan hal tersebut.
Fiona agak menurun rasa kekesalannya setelah ditimpali. Mungkin karena menyadari tindakannya yang mengomentari orang lain dengan seenaknya. Lalu akhirnya Ophelia membuka matanya, dan Fiona pun akhirnya risih kembali begitu melihat Ophelia tak melihat ke arahnya. Rupanya Ophelia tak peduli dengan ucapan Fiona.
Dari tadi dia ternyata tak mendengari komentarku!
“Kaamuuu..” Fiona sedang kehabisan kata-kata karena terlalu marahnya dia sekarang. Kedua tangannya yang ada di depan dadanya itu seolah ingin mengepal atau seolah siap mencekik leher Ophelia, mungkin itu cara penyaluran marah Fiona.
Hilda yang melihat Fiona seperti itu, menghembuskan nafas yang menyampaikan pesan bahwa dia dalam keadaan susah. “Dia tidak bisa melihat. Jadi wajar kalau Ophelia tidak menghadapkan matanya ke arahmu.”
“Eh?” Fiona sontak kaget juga, dia sudah berpikir macam-macam tadi untuk menafsirkan tindakan Ophelia. Kali ini ada rasa bersalah yang benar-benar menyelimuti hatinya. Fiona diam sejenak, sepertinya sedang tenggelam dalam benak pikirannya sendiri.
“Bukan itu, Hilda. Tak perlu membelaku seperti itu. Tadi aku memang mengacuhkannya.” Ophelia bicara seperti itu tanpa mengubah posisi kepalanya dan arah matanya. Tak ada nada sinis yang terdengar, tapi jelas ucapannya itu memang membuktikan bahwa Ophelia tak peduli dengan komentar pedas Fiona barusan.
Sengaja mau memancingku marah ya.
Fiona masih tetap diam, tapi dia kini terus menatap ke arah Ophelia selagi dia hanyut dalam arus sungai pikirannya yang masih mengalir deras. Rasa bersalahnya perlahan menyatu dengan rasa kesal dan marah. Fiona pun mengambil nafas panjang dan mendengus.
Tanpa disadari momen-momen seperti ini dimanfaatkan oleh seorang anak kecil gembel yang menyusup ke dalam pub untuk mencuri barang yang bisa dicuri. Melihat tas Fiona yang tergeletak di atas meja tanpa ada yang mengawasi, tangan kecil anak itu mengambil tanpa ada halangan yang berarti.
Namun, bukan berarti orang yang ada di sekitarnya tak menyadari tindakan si pencuri kecil itu. Ada yang menyadari, tapi dia justru memanggil Fiona ketimbang menangkap anak itu. “Hei.. nona muda! Itu tasmu sepertinya sedang diambil pencuri.”
Eh? Eeeeh?!
Sesudah panik dengan wajah yang hampir pias dan mata yang agak terbelalak, Fiona langsung mengejar anak kecil itu. Sayangnya Fiona agak kesusahan mengejarnya ketika masih di dalam pub karena terhalang oleh meja-meja yang ada; dia tidak siap untuk mengatasi kalau misalnya akan ada pencuri.
“Heeeeii!! Jangan lari!” Fiona mengatakannya begitu sampai di pintu terluar yang ada di pub.
Anak kecil gembel yang dirasa oleh Fiona sudah termasuk menyebalkan itu larinya cepat sekali. Bisa-bisanya dia memanfaatkan kesempatan yang ada dalam kesempitan. Lalu anak kecil itu menengok ke belakang untuk melihat Fiona.
Sebelumnya wajahnya juga hampir sama saja dengan Fiona, dia juga takut kalau sampai tertangkap. Apalagi kalau kemungkinan terburuknya adalah dia dihabisi oleh Fiona, namun sekarang dia sedang kesenangan. Lidahnya sampai dijulurkan pula sebelum tertawa dan benar-benar menghilang di belokan menuju gang kecil.
Aduuh.. Bagaimana ini?
* * *
Di kamar tempat dia menginap, Fiona berkeringat dingin ketika sedang tidur dengan wajahnya yang terlihat gelisah. Sebelumnya dia jadi tak bisa membayar pesanan makanannya di pub hingga terpaksa bekerja di sana sebagai tukang cuci sampai larut malam. Kini, di dalam tidur pun Fiona pikirannya masih tertuju ke bagaimana dia nanti caranya agar Fiona bisa membayar sewa kamar tempat dia menginap.
Fiona pun bermimpi dalam tidurnya, dia memimpikan kejadian-kejadian yang telah terjadi kepada dirinya di tempo hari. Ketika itu Fiona sedang dalam perjalanan bersama suatu karavan yang mayoritasnya berisi petualang-petualang bersenjata lengkap yang bertugas melindungi pedagang-pedagang kaya. Fiona menemui mereka ketika karavan tersebut sedang singgah di desa Halliford untuk berdagang dengan masyarakat setempat.
Cukup aneh memang, barang-barang yang mereka jual itu murah, padahal umumnya barang tersebut dijual mahal di pasar-pasar yang ada di kota-kota setempat. Dan para pelindungnya mungkin akan disangka prajurit kalau mereka membawa bendera dari salah satu simbol keluarga bangsawan yang ada di Inggris. Namun Fiona tak begitu menaruh curiga, apalagi ini adalah kesempatan emas untuknya; dia bisa pergi ke London bersama karavan yang bersenjata lengkap ini.
Di dalam perjalanan, Fiona pun ikut karavan selaku petualang juga, namun dia tidak bertugas sebagai pelindung pedagang-pedagang di karavan sebagaimana yang lainnya. Perjalanannya benar-benar menjadi pengalaman berharga, para petualang seolah-olah menjadi sang guru untuk Fiona yang masih belum mengerti banyak dengan dunia luar.
Suatu ketika, para petualang memutuskan untuk berpisah dulu dengan para pedagang yang dikawalnya karena para pedagang sedang dalam masa berdagang di suatu desa. Para petualang ini berniat untuk menyerang sarang bandit yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Mengetahui hal itu, Fiona pun bersemangat dan ikut dalam penyerangan itu. Sesampainya di tujuan, Fiona baru menyadari kesalahannya. Para petualang ini tidak sekedar menyerang sarang bandit, tapi melakukan pembantaian.
Di sana sama saja sebenarnya seperti desa lain, tapi memang isinya adalah masyarakat di luar hukum yang cenderung melakukan tindakan kriminal, apalagi ada pula desa-desa di luar hukum yang merupakan pemberontak terhadap kerajaan. Namun dalam hati Fiona, pembantaian yang dilakukan terhadap mereka adalah hal yang salah.
Saat penyerangan dilaksanakan, Fiona hampir terlalu banyak termangu dan tidak melakukan apa-apa. Dia baru pertama kali melihat pembantaian terhadap manusia yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Baik itu yang masih muda maupun tua, semuanya dikirim oleh para petualang ini untuk menemui sang Pencipta.
Di hadapan Fiona ada seorang ibu dan seorang anak kecil. Mereka belum menemui takdir karena belum ada petualang yang lain di dekat mereka. Fiona tetap berdiri di tempat selagi sang ibu berteriak marah dan kecewa.
“Kamu kira kami ini apa? Musuh kalian? Kami juga manusiaa!!” Ibu itu meneriakkan kata-kata itu sebelum seorang petualang yang tengah menunggang kuda itu menancapkan tombaknya ke perut sang ibu.
Darahnya pun muncrat ketika tombak itu ditarik, dan ibu itu tersungkur ke tanah. Sedangkan penunggang kuda itu segera pergi begitu saja untuk mencari mangsa yang lain. Lalu anak ibu itu pun menangis meraung-raung di atas tubuh yang lemas tak berdaya itu. Fiona sudah merasa sangat kasihan sekali, dia pun menghampiri ibu itu. Begitu duduk berlutut di samping ibu itu, Fiona menggenggam tangannya.
“Apa seperti itu yang namanya seorang ksatria?” Ibu itu masih memiliki tenaga untuk berkomentar kepada Fiona, dan kata-katanya itu seperti petir yang menyambar. Fiona merasakan kegetiran di dalam hatinya, dia sebenarnya juga ingin menjadi seorang ksatria seperti Edmund. Genggamannya pun semakin erat. “Kami, yang hanyalah rakyat biasa, dianggap sangat rendah oleh para bangsawan. Tuhan, mengapa kau biarkan kami seperti ini..”
Rupanya ibu itu menyangka yang menyerang desa ini adalah para bangsawan karena melihat para petualang yang terlihat seperti prajurit. Sepertinya mereka bukan petualang biasa, melainkan prajurit bayaran yang melakukan pembantaian ke desa-desa seperti ini untuk merampas harta milik rakyat desa. Sedangkan Fiona, dia sudah bangun dari tidurnya sekarang. Dia seperti ditegur melalui mimpinya itu.
* * *
Fiona merasa agak lesu ketika bangun, lalu dia duduk di atas kasur untuk beberapa waktu lamanya untuk merenung di subuh itu. Matahari pun sampai terbit dan menyinari tiap-tiap sudut kamar. Fiona yang sudah merasa agak jernih pikirannya seolah-olah mendapat pencerahan selagi matahari juga menyinari wajahnya yang kini terlihat menjadi sumringah.
Kenapa Fiona tidak bekerja lagi saja di pub itu? Barangkali dia akan diterima lagi, sama seperti saat bekerja tadi malam. Fiona pun pergi menuju pub, tujuannya adalah untuk mencari penghasilan yang nantinya akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan menginap selama dia tinggal di kota London.
Dan ternyata, dia justru tidak lagi bekerja sebagai tukang cuci piring, melainkan bekerja sebagai pelayan yang menerima pesanan dan mengantar makanan. Gajinya pun lebih baik daripada bekerja sebagai tukang cuci piring. Fiona pun senang karena dia masih bisa mendapatkan kesempatan.
Beberapa hari kemudian, Ophelia dan Hilda rupanya kembali lagi ke pub itu untuk menyanyikan lagu mereka lagi. Fiona pun memutuskan untuk meminta maaf kepada mereka, dia lalu mendatanginya dengan langkah agak ragu dan merasa bersalah saat Fiona mendapat waktu kosong di sela pekerjaannya.
“Kamu mau apa? Kamu ini musuh apa teman sih?” Hilda yang menyadari kedatangan Fiona, langsung menunjukkan hawa permusuhan. Dia mengatakannya dengan nada sinis dan benci.
“Saya..” Fiona menundukkan kepalanya sedikit dan awalnya tak berani melihat mata Hilda, apalagi kedua mata hijau milik Ophelia. “.. saya hanyalah manusia, sama seperti kalian.”
“Ah?” Hilda mengucapkannya seolah seperti berbisik, dia tak menyangka jawaban seperti itu.
“Maaf, tolong maafkan saya. Tindakan saya tempo hari memang sudah kelewatan..” Wajah Fiona memerah, matanya berkaca-kaca seperti mau menangis saja.
“Santai saja, aku tak begitu memasukkannya ke dalam hati kok.” Ophelia mengatakannya seperti seorang ibu yang berkata kepada anaknya sembari menengokkan matanya ke arah Fiona.
Dia tahu di mana letak wajah Fiona karena Ophelia menggunakan kedua telinganya. Lalu Ophelia pun tersenyum. Fiona pun menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat, dia sering melakukan hal itu ketika dia sedang merasakan perasaan bahagia, terharu, dan sedih yang sangat kuat.
Hanya saja, lagi-lagi si pencuri nakal di tempo hari datang kembali. Kali ini dia melihat tip dari pengunjung untuk Fiona yang terlihat mengganggur di atas meja yang kosong dan belum diberesi oleh Fiona. Untunglah, seorang pengunjung pub menyadari hal itu, dan langsung memberitahu Fiona dengan cepat. “Hei, Fiona! Pencuri yang sama mencoba mengambil tip milikmu!”
Karena anak kecil itu sudah sangat yakin sekali kalau dia akan berhasil lagi, dia dengan berani mengejek Fiona, dan tidak langsung melarikan diri. “Hei, coba tangkap aku kalau kamu pikir kamu bisa berlari lebih cepat dariku!”
Hah? Ah, ada-ada saja.
Akhirnya pelukannya itu dilepaskan juga oleh Fiona, walau sebenarnya dia masih ingin lanjut. Dia pun jadi merasa agak risih, lucunya dia sedang memperlihatkan wajah konyolnya karena pencuri itu tidak tahu akan kesalahan fatalnya. Fiona pun meninju-ninju pelan telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya, dan Fiona pun menyeringai.
Anak kecil itu jelas salah total, Fiona kini sudah tahu pasti letak-letak meja yang ada di pub setelah dia bekerja di sini untuk beberapa hari lamanya. Fiona pun bisa berlari menuju anak kecil itu tanpa masalah, bahkan dia menaiki meja terakhir yang memisahkan Fiona dengan pencuri itu.
“Haaah?!” Pencuri itu pias melihat tindakan Fiona yang sangat cepat dan cekatan.
“Hei anak kecil, kamu sebaiknya jangan mencari masalah lagi denganku ya..” Fiona mengatakannya dengan wajah yang menakuti anak kecil itu.
“Hiiii!!” Dia ketakutan setengah mati, apalagi pintu di belakang sudah tertutup oleh Fiona.
Namun ternyata anak kecil itu terlalu berprasangka buruk, Fiona hanya menginginkan barang miliknya kembali. Lalu Fiona pun mengusapkan kepala anak kecil itu sebelum membiarkannya pergi ke luar pub. Anak kecil itu sendiri menjadi heran dengan kebaikan Fiona. Dia melangkah malu-malu sebelum pergi berlari hingga tidak terlihat lagi oleh Fiona.
Biarlah rahasia itu aku simpan untuk selamanya.
—
Agustus 24, 2010 at 8:08 pm
Sejujurnya, sampe akhir cerita saya nggak ngerti ini nyeritain tentang apa. Ada masalah apa sih yg ingin disampaikan di cerita ini selain Fiona mencari teman masa kecilnya? Bahkan dia mencari teman masa kecilnya pun terhambat ini-itu sehingga akhirnya gak ada penyelesaian dari masalah.
Malah di akhir cerita ada rahasia yg disimpan? Rahasia apa pula itu? Kyknya kok saya nggak dikasih tahu sblmnya.
Kalo dr segi teknis, nggak ada masalah sama sekali. At least, huruf kapital dan tanda baca udah bener jd nyaman bacanya.
Masalah lain selain cerita ada di karakteristik. Karakteristik Fiona dan karakter2 lainnya terasa komikal, which is gak cocok ama media novel yg lbh serius daripada komik/manga. Situasinya jg bukan situasi yg mendukung karakter2 tersebut bertingkah “aneh” begitu.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 8:28 pm
Segi teknis cerita ini sangat unggul. Saya setuju dengan Mantoel Toeink kalau cerita ini nyaman dibaca karena huruf kapital dan tanda bacanya tepat.
Saya masih tidak mengerti inti ceritanya. Saya juga tidak menangkap endingnya. Rahasia Fiona itu apa? Dari setiap konflik pun tidak ada akhir, lantas kenapa harus menceritakan tentang teman kecilnya kalau akhirnya, inti dari ceritanya bukan itu? Mungkin akan lebih baik kalau latar belakang mengenai teman kecil Fiona digunakan untuk melatari karakteristik Fiona secara lebih mendalam.
Saya rasa kekurangan cerita ini adalah dalam sebab-akibat. Tapi saya suka bagian nyanyian Ophelia dan Hilda. Saya rasa itu bisa dijadikan ide utama dari sebuah kisah, dan bisa dikaitkan dengan Edmund dan Fiona sendiri kalau mau.
Ini hanya pendapat pribadi, ya, hehehe.
Agustus 25, 2010 at 6:27 am
Terima kasih ya karena sudah berkomentar untuk cerpen saya.
@Juu
Memang tidak terselesaikan, ironis memang (penulisnya).
Lalu ini rahasianya:
“Fiona merasakan kegetiran di dalam hatinya, dia sebenarnya juga ingin menjadi seorang ksatria seperti Edmund.”
Sayangnya komentar ibu itu mengena ke hati Fiona, apa seperti itu namanya ksatria. Hanya berasal dari kaum bangsawan dan memandang rendah rakyat jelata.
Untuk karakteristik, itu seperti untuk menutupi sesuatu hal yang bisa dinilai berat dan simbolik yang tersembunyi dalam cerita. Mau tidak mau terpaksa jadi pembaca aktif memang, dan saya rasa ceritanya jadi membosankan kalau terlalu berat, Juu.. :O
@JAP
Iya, memang tidak bisa ditangkap apa yang saya sampaikan. Maaf ya untuk hal yang itu? ^^;
Dan jika di-interpretasi, memang hal tersebut memberikan bayangan untuk ke depannya yang bisa cenderung kelam untuk Fiona dan Edmund.
Kehangatan dan kekomikalan di dalam cerita, bisa saya bilang seperti topeng yang menutupi sesuatu situasi buruk yang sebenarnya entah itu terjadi di masa lalu, sekarang, dan mungkin ke depannya. *madesu*
Agustus 26, 2010 at 11:42 am
hmm… yang mau kukomentarin udah dikomentarin sama yang lain. cuma mau nambahin:
aku kurang ngerti, kenapa si fiona ini marah sama hilda dan ophelia?
Agustus 27, 2010 at 7:34 am
dia tidak suka dengan lagu yang dibawakan, lagunya tidak lazim. biasanya memang menceritakan sesuatu, seperti kisah robin hood misalnya, tapi jarang yang mengisahkan lagu yang bernuansa tragedi
fiona tidak menerima dan mengomentari, di mana sebenarnya dia memiliki rahasia yang dia dikomentari demikian oleh orang lain, maka dia menyadari hal itu sehingga dia pun meminta maaf kepada mereka; berkomentar adalah hal yang bukan sepele
semoga bisa menangkap pesan karya tersebut dari penjelasan saya, dan terima kasih atas komentarnya. maaf sebesar-besarnya atas kelemahan karya ini ^^;
Agustus 27, 2010 at 2:33 pm
Hoo. Aku nangkep maksud cerita ini. Emang tersamar sih. Intinya ngebandingin perilaku para petualang di tengah cerita dengan keputusan terakhir yang Fiona ambil terhadap pencuri tas itu kan? Lalu semua terkait dengan cita-cita terpendam Fiona untuk jadi pembela kebenaran! Hoo, ini bagus juga.
Narasi di cerita ini rapi. Penjabaran soal kota London-nya sendiri menurutku masih bisa ditambah sih. Terutama bila mengingat pada zaman para ksatria gitu, berdasarkan sejarah London bahkan belum ada. Gaya bicara para karakter kurasa bisa dibikin agak lebih kolot agar sesuai dengan zamannya. Tapi beginipun sudah bagus kok.
Soal sifat para karakternya, sifat mereka ternyata lumayan bisa aku nikmati. Mungkin karena aku sering baca komik cewek.
Agustus 27, 2010 at 3:57 pm
Terima kasih atas komentarnya.
Keren, bisa menangkap pesannya. ^^;
Oh iya, itu komentar gaya bicaranya ditujukan untuk semua karakter ya? Padahal dialognya sedikit lho itu.
Yang terakhir, judulnya saja sudah berbau komik cewek ya. Rada malu juga saya sebenarnya baca judulnya.
Agustus 27, 2010 at 5:41 pm
hmmm, teknis penulisannya masih bagus seperti biasa. tapi di sisi lain…kayaknya ada yang salah sama metode penyajiannya. karena di gw, ceritanya rada kerasa dull. jadi rada kesulitan buat terus fokus ke ceritanya.
karakterisasinya rada unik, tapi apa karena masalah penyajiannya ato gimana, keluarnya kurang nendang.
well, of course, that’s only my opinion
Agustus 27, 2010 at 6:41 pm
hadeh, bikin saya jadi terharu aja nih George karna kamu yang kasih komentar duluan.
metode penyajiannya ya? bahkan saya merasa kalau pun dikasih lebih dari 3000 kata, saya jadi merasa penyajiannya tetep gini2 aja.. :O
Agustus 28, 2010 at 8:39 pm
eh teman seangkatan.
ahahahha
Tapi bener aku lebih mengharapkan Draft awal (bait pertama lagu) daripada Moment of truth ini.
tapi rily cerita ini enak dibaca jika tidak dipikirkan (dalam artian baik), cerita-cerita yang buat kita betah kalau nunggu bus di halte!.
That’s it, Peace Out!
Agustus 28, 2010 at 8:40 pm
eh salah bait kedua dari tiga bait
Agustus 28, 2010 at 10:12 pm
@ivan
yup, tidak apa-apa kawan.
tunggu komentar saya ya.
Agustus 31, 2010 at 2:51 pm
Ceritanya emang runtut, enak dibaca, tapi entah kenapa terasa datar. Aku jadi serasa cuman mbaca rentetan kejadian tanpa bisa tahu ada apa sebenarnya, atau apa yang dirasakan tiap2 tokoh.
Dan, beberapa pengulangan kata di awal cerita juga agak ga nyaman dibaca. Tapi overall, cerita ini ga seberapa jelek. Mungin cuman perbedaan style antara aku sama penulisnya yang bikin cerita ini agak ga nyaman dibaca buat aku.
September 1, 2010 at 4:06 pm
@fallen
iya, memang kebetulan saya sendiri masih belajar menentukan gaya apa yang cocok untuk saya..
makasih sekali ya atas komentarnya, dan maaf karna belum sempat2 komentar punya kamu.. *ngacir:
September 5, 2010 at 5:54 pm
Hm, pertama-tama aku hendak minta maaf. Jujurnya aku sempet nge-stalk ke forum VGI dan baca garis besar ide cerita. Kuakui itu ide yang menarik dan bagus. (walau usulku sih sebaiknya kalau punya ide jangan diberitakan segamblang dan setotal itu, ntar ada yang nyuri gimana?)
Tapi pas aku baca cerita ini, hm, sorry to say, dari seluruh cerita di FF 2010, ini cerita yang paling sulit kutangkep intinya.
Penuturannya gak runut, ke sana kemari. Bingung aku. Mula-mula datang ke London mencari si Edmund, lalu berbelok ke cerita karavan-pelindung-bandit, ada pula tukang nyanyi dan si bocah pencopet. Dan ditutup dengan ‘rahasia disimpan selamanya’. Waduh…..
Untungnya aku sedikit tercerahkan dengan komen-komen di atasku. Tapi saranku sih sebaiknya cara penuturan itu yang diperbaiki sehingga plot cerita yang ada tidak perlu dijelaskan melalui komen penulisnya.
Adegan paling suka: kalimat pertama yang sangat ‘mengundang’.
Adegan paling gak suka: paragraf empat yang ada salah cetak (menggunakan tidak memakai) dan koma panjang banget. Inilah awal segala bencana ketidakmengertianku.
Harapan: ide bagus tanpa eksekusi yang mantap, hasilnya cuma separuh. Oleh karena itu, mohon runut penceritaan dipermanstab!
Mei 1, 2011 at 7:21 pm
waduh, baru baca. maaf ya maaf
iya, masih harus baca banyak dan nulis banyak biar hasilnya bagus hehe