SANG PELUKIS
Fredrik Nael
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
SANG PELUKIS
Fredrik Nael
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 11:48 pm
Sepintas sampai ke tengah, saya kehilangan arah dari cerita ini. Tetapi kamu mengawalinya dengan baik, paragraf awalmu menarik saya masuk.
Agustus 25, 2010 at 2:31 pm
wkwkwkwk
makasih udah baca ya, arendrafa!
(meski mungkin enggak sampai selesai, >_<)
kalau boleh jujur, sebenarnya justru fragmen yg di awal itu baru kutambahkan setelah semua cerita selesai (demi penuh2in kuota <2500 kata), jadi ya… cerita yg sebenarnya adalah memang yg setelah fragmen di awal itu… xD
maaf kalau telah "menipu", :p
Agustus 27, 2010 at 2:25 pm
Fred, membaca ini gw jadi ingat “Lukisan Langit Senja” -entah cerpen siapa yang gw baca di mana, gw lupa-di sana tokohnya yang jadi pelukis. Tapi itu yang gw tangkap pas baca cepat 1x. baca part awal saja dan akhir ke 2 kali.
Setelah baca semuanya sekali lagi. Gw hanya bisa menikmati ceritanya saja. Males mengintrepretasikan apa-apa.
Agustus 27, 2010 at 3:31 pm
makasih, elbintang, udah baca juga!
hmm… gw enggak pernah denger sih cerpen itu…
eniwei, cerpen ini memang gw buat dengan niat satire
dan gw usahakan sebisa mungkin kalau pembaca yg mau (sesuai bahasa el) menginterpretasikan sesuatu, mereka bisa melakukannya (dan mudah2an ngerti jg maksudnya apa)
tapi, kalau pembaca yg pengen membaca aja, juga bisa menikmati cerita ini lewat plot dan setting-nya
ya, mudah2an el masih masuk ke kategori yg terakhir,
Agustus 28, 2010 at 2:14 am
Yupe, gw menikmati settingnya, kok. Kebayang saat si aku ada di semak2. Kebayang bagaimana si pelukis membuat kejadian dan kehidupan lewat lukisan. Kalo itu yg dmaksudkan. Nha kan gw mengambil makna simbol. Njhya.ha.ha
eh part awal itu yg sebenarnya pas todong2an itu, ya. Part kakak dan adik memang menarik tapi bikin tambah berat. Mungkin kerna simbolnya jadi lbh jelas, jadi gak bs intepr macam2. Ato gw aja yg memberat2kan he.he.
Agustus 28, 2010 at 8:22 pm
hehe
yg part kakak-adik memang tambahan, jadi kubuat untuk memperkuat latar belakang tujuan si “aku”, el
banyak memang simbol yg sangat literal seperti kata luz
mungkin yg lebih susah adalah menginterpretasikan: “trus maksudnya si penulis apa setelah memajang semua simbolisme2 ini di satu karya? apa pesan moralnya (kalaupun ada)?”
kekeke
eniwei, just enjoy aja sekenanya!
Agustus 27, 2010 at 3:56 pm
*ngapak Fred*
Yahh, baru nyadar kalau cerita ini punya si Om Fred.
Sang pelukis ini julukannya mirip banget dengan Sang Pelukis di Knights of Apocalypse-nya Is Yuniarto. Tapi perannya rada-rada beda sih.
Kayaknya ini masalah religi terinstitusi vs. pengabdian atas kehendak bebas yah? Konsepnya sih bagus Fred. Idenya juga termasuk jenis yang kusuka. Dan seneng juga baca soal realitas yang dikendalikan oleh lukisan itu. Aku pernah baca ide yang sama di Jukstaposisi-nya Calvin Sidjaja, meski yang di Jukstaposisi itu kali ga seliteral ini.
Aku berat baca cerita kamu karena bentuknya cenderung jadi kayak adegan debat filosofis, bukannya cerita. Diomongin alih-alih diselipin.
But at least, rapi dan tuntas sih.
Agustus 27, 2010 at 5:25 pm
huehehehe, yup it’s me (again)
luz, jujur, pas nulis ini gw rasanya berat juga sih… >_<
bener2 stuck dan pengen meledak pas sampe di bagian "debat filosofis" itu… T_T
mengenai gaya dialog ala debat sendiri, emang itu masih jadi kelemahan gw
bohong kalau bilang gw enggak pengen ganti dan memperbaiki itu… tapi ya, resiko-lah kalau baru nulis di hari-hari terakhir deadline… xD
nope, enggak pernah baca KoA dan Jukstaposisi-nya Calvin
gw sendiri dapat ide cerpen ini pas lagi kebayang banget sama 1984-nya Orwell
that's why setting ujung2nya jadi agak sci-fi alih2 fantasi sihir2an
dan, sebenarnya ada tiga pihak yg dipermasalahkan dalam cerita, termasuk tokoh sentral, Sang Pelukis, yg bukan tanpa alasan namanya gw pilih jadi judul…
Agustus 27, 2010 at 7:14 pm
Gpp kok Fred. Nggak tiap hari orang selalu bisa bikin karya yang 100% kan. Ide ga selalu dateng kalaupun kita cukup gilak untuk bikin tato jidat berbunyi “sudi Mampir.”
Agustus 27, 2010 at 5:26 pm
oya, thx udah baca & komen! (sampe kelupaan)
Agustus 28, 2010 at 4:19 am
wah….rada berat ya..hehehe
tapi TOP dah…
bagus..bagus…bagus…(pake nadanya mey-mey)
ajarin yak! ^_^
Agustus 28, 2010 at 4:02 pm
memang sukanya yg berat2 sih mau gimana lagi, ^^’
ya kita sama2 belajar, qeeya
thx & mudah2an menikmati!
Agustus 31, 2010 at 8:56 pm
Waktu adegan pembuka yang saling todong-todongan itu, enggak tau kenapa yang pertama kebayang di kepalaku adalah sebuah adegan yaoi. Apa itu mungkin karena debat filosofis yang menyusul? Argh, sudahlah. Pola pikirku mungkin emang udah rusak.
Aku juga sejujurnya agak kesusahan ngikutin cerita dari tengah ke bawah. Aku ngerti inti konfliknya, tapi aku kesusahan ngebayangin gimana konflik ini bisa bermula, dan gimana si tokoh utama bisa kelibat di dalamnya.
Maaf.
Tapi narasinya menurutku bagus kok.
September 1, 2010 at 4:43 pm
yaoi?!
mungkin pas disebut mereka lagi berada di posisi “aneh” kali ya… wkwkwk…
makanya aku cepet2 langsung jelasin anehnya itu apa, hehehe
memang ketika menulis ini, aku memutuskan untuk menjabarkan secukupnya aja latar belakang konflik
tokoh utama sederhananya ya bisa dianggap mengemban misi (pribadi) menyelamatkan dunia akibat penglihatan “kiamat” yang pernah diterimanya,
meskipun, sebenarnya dia juga punya tujuan lain sendiri, yaitu “menyelamatkan” dirinya, dalam artian membuktikan kalau dia bisa mengubah takdir2nya (termasuk takdir2 kematian orang2 terderkatnya yang dia lihat di penglihatan2nya)
tapi makasih udah baca & komen ya!
September 2, 2010 at 10:06 am
Fred, selamat atas kemenangannya!
Setelah satu hari mengendapkan apa yang ada di pikiranku soal cerita ini, baru aku bisa ngasih komen.
Aku sendiri sih ga masalah sama bagian todong-todongan pistol itu. Menurutku pesan filosofisnya, walaupun disampaikan lewat dialog yang kata orang “preachy”, buatku ga berat untuk dibaca dan ga segitu preachy nya.
Adegan yang di awal itu emang jadi bagian yang akhirnya paling ga memorable buat aku. Yang keingetan cuma simbolisme parkit abu-abu itu aja, yang menurutku manis sekaligus sedih dan miris.
Kalo aku boleh kasih saran, adegan kematian si adik itu bagusnya diselipin di dalam adegan todong-todongan senjata, jadi lebih terintegrasi ke dalam cerita. Jadi sambil si tokoh utama ngomong ama si komandan, fragmen-fragmen saat terakhir adiknya itu terlintas di dalam kepalanya.
Menurutku, momentum cerita ini baru ada di bagian Bukit Angin. Dari sanalah ceritanya baru kerasa mengalir. Setting nya juga indah bangeeettt, langsung kebayang setiap detilnya di kepalaku. Tadinya sempet ragu, setting Bukit Angin yang magis itu emang cocok dipadu ama Obelisk yang sci-fi? Tapi ternyata Fred bisa maduinnya dengan baik banget, bahkan memunculkan kesan tragis yang dalam buatku.
Sedikit koreksi nih. Di awal, jarum suntik cairan paralisis itu katanya nusuk bahu kirinya tokoh utama. tapi setelah komandannya mati, tokoh utamanya nyabut jarum dari lengan kirinya. Mana yang bener nih?
Buatku, cerita ini emang cerita yang sarat makna, dalam, manis tapi sedih, kental akan rasa putus asa tapi juga penuh pengharapan. Walaupun aku ga dapet semua makna tersembunyinya, aku tetep nikmatin banget kok.
September 2, 2010 at 1:29 pm
waaa… mba dewi teliti banget!
padahal pembaca lain udah puyeng berat, mba masih bisa perhatiin detil2nya, huehehehe
seharusnya sih yg bener bahu kiri, karena itu yang tersebut pertama kali dalam cerita,
setelah ngetik 3 halaman pertama, aku memang lanjutin sisanya dengan ngebut banget (jam2 terakhir deadline!), jadilah yg kebayang lengan kiri (memang sesuai bayanganku pertama kali akan adegan itu)
ini beneran makasih banget diingetin, karena aku juga gak ngeh lho!
tentang adegan kematian si adik,
tadinya rencana awalku memang mau diselipin aja, biar langsung memperkuat latar penokohan sesuai di tempat seharusnya, yakni di bagian todong2an
tapi karena aku juga selipin penglihatan “kiamat” si Penglihat di bagian itu, aku jadi takutnya malah bikin tambah bingung
tapi aku akan coba untuk versi revisi,
toh memang aku sendiri merasa yang di bagian awal itu agak “terlepas” dari keseluruhan bangunan cerita
thx banget ya, mba, udah baca & komen! really appreciate it!
Desember 6, 2010 at 1:51 pm
rrr, baru sadar ak belum komen crita yg ini :p
pertama, biarkan ak meminta maaf dlu soal kertas ilustrasiny *sorrygrin*
waktu ak sudah dapet bayangannya, ak langsung ambil satu kertas folio dari mesin printer. begitu sudah sret-sret-sret, sketsa selesai rapi, ak bru sadar koq ada gelap-gelap gitu di kertasnya…yg begitu kubalik terlihatlah… deretan angka-angka.
ternyata itu kertas bekas untuk diprint ulang.
maaf >.<
dan bgitulah ceritany ^^;
nah, kini *mendadak tak merasa bersalah lagi XD* untuk komentar ceritanya yah…
mmm, ak berdugaan, hampir keseluruhan isi cerita ini terbentuk dengan sendirinya, seiring dengan bertambahnya kata-kata yang terketik…rite?
Desember 11, 2010 at 11:10 am
Haaah… membuat agak2 gimana gitu ketika ngeliat halaman belakang ilustrasi itu… >_<
Tapi untunglah gambar di halaman depannya bagus, huehehe…
Mengenai cerita ini, enggak gitu sih, von. :p
Cerita ini udah ku-plotting berminggu2 sebelum kubuat, tapi baru mulai kuketik sehari/dua hari sebelum deadline.
Jadi kalau soal materi cerita, sebenernya udah ada.
Yang tiba-tiba atau berkembang seiring penambahan kata mungkin ya lebih ke pemilihan kata-katanya.
Dan memang ada perubahan sedikit soal penempatan adegan dan karakterisasi sewaktu penulisan bila dibandingkan dengan versi rencana awalku.
Thanks for your comment, anyway!
Desember 19, 2010 at 10:26 pm
ghaaa, jadi ngerasa tambah gak enak… >.<
kalo gitu, pancake-ny gak usah dua porsi, cukup satu porsi aja *digetok*
'dasar tak tahu malu…' wkwkwkwk~
nah, ini dia hasilnya setelah Mbak Dian scan dan dibetulin sama Luz:
http://mysticross.deviantart.com/art/Bukit-Angin-183054742
jdiny keren juga
wah, dalam dua hari doang O.O mirip ma ceritaku juga yah, tapi itu waktuny tiga hari, itu aja di hari terakhir begadang semaleman, hwhwhw~
Desember 22, 2010 at 12:15 pm
lho kok ivon berubah jadi nagabenang?
ivooon!! ivooon…!!! di mana dirimu?!
Desember 23, 2010 at 8:24 pm
*ups, wujud asli ketahuan! berubah dulu!*
crink!
nah ini gw, siapa nagabenang?
XD XD