SINDROM ANZU: NAMA TERLARANG DI ANGKASA
Calvin Michel Sidjaja
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
SINDROM ANZU: NAMA TERLARANG DI ANGKASA
Calvin Michel Sidjaja
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 11:18 am
keren skali calvin..bnr2 aku ngefans bgt loh!btw boleh aku kasih masukan dikit?
utk critanya sgt mngagumkan,paling ttg penggunaan kata2nya aja kali ya..
epidemi -> maksud kamu pnykt yg sdg mewabah ya?klo itu yg kamu mksd mustinya endemi.
trus pengstudi->ini tdgr agak aneh.hehe..sori bknnya saya sibuk ngurus2 tata bhs.saya ga protes kata2 lain,tp klo yg 1 ini saat saya baca lgsg brasa aneh.thx.trus berkarya ya vin!aku yakin kamu sgt bbakat..
Agustus 24, 2010 at 11:27 am
Epidemi juga ga masalah kok. Artinya ‘wabah baru’. Endemi dan pandemi merupakan spesifikasi lebih lanjut dari kata itu berdasarkan lingkup wabahnya.
Agustus 24, 2010 at 11:28 am
Hmm, ceritanya menarik, filosofis. Cuma di beberapa bagian terasa bertele-tele.
Terus, gw nggak bisa menjustifikasi kenapa Silvanus nunjukin tuh buku sama Krisna, padahal dia tau benar dampak yang mungkin terjadi dengan baca buku itu.
Apalagi dengan dialog kayak gini:
“Karena tidak boleh ada yang tahu isi buku ini, Krisna. Karena professor khawatir jika orang lain membaca buku ini, dia akan mengalami sindrom serupa, mengira dia kehilangan namanya yang sesungguhnya, karena dicuri oleh burung Anzu, burung berkepala singa itu. Itu sebabnya dia melarangku untuk memberitahukan keberadaan buku itu kepada siapapun.”
Lah, terus kenapa ditunjukin sama Krisna?
Alhasil bagian itu jadi kayak gini di benak gw:
A: Eh, gw punya kotak keren lhoo, mau nggak?
B: MAUUUUU!!!!
A: Jangan deh, isinya bom.
B: Bodo’
B: *meleduk*
Entahlah. Begitu aja komen dari gw. Semoga bermanfaat.
Agustus 24, 2010 at 11:30 am
Hm, waktu baca, sbnrnya bkn baca yg bkn aku bingung bukan isi penjelasannya tapi penjelasannya itu sendiri.
Di lomba ini, cerpen dibatasi 3000 kata, maksimal. Byk org yg mengeluh habis2an soal batasan ini, terutama mereka yg byk pasang deskripsi buat ceritanya, tapi aku cukup kaget jg pas baca cerita ini ternyata asik aja di awal lsg ada materi diskusi mengenai mitologi (tp baru kulitnya aja). Aku sampe mikir, “Ini gak sayang yah jatah 3000 kata kemakan ama penjelasan puanjang gini?”
Tulisannya sendiri cukup bagus, dari segi teknis, dari segi logika. Ada beberapa kata yg terasa janggal, salah satunya “pengstudi”. Itu kata yg gak pernah aku dengar sblmnya dan rasanya janggal kalo ditaruh di kalimat lisan.
Kalo aku ngomong ke org, pasti bilangnya bukan “sebagai seorang pengstudi” tapi “sebagai orang yang mempelajari”.
Sayang, endingnya tergolong menggantung. Kalo melihat masalah yg dipaparkan dlm cerita, memang permasalahan itu susah diselesaikan dlm 3000 kata, makanya cuma disayangkan saja endingnya agak menggantung.
Ngomong2, nama dicuri ini mengingatkan aku pada ide nama sejati yang ada di A Wizard of Earthsea.
Konsepnya sama?
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 11:47 am
wah. suka yang ini
sepertinya ada sedikit bau2 horor dalam cerpen ini.
menurutku konflik yang disuguhkan cukup sederhana, tapi kelihatan rumit dengan kisah mitologi itu. ga mudah mengembangkan konflik seperti ini, karena itu aku berikan applause buat penulisnya.
selain itu endingnya juga gantung. setuju sama atas, 3000 kata memang sulit membuat penyelesaian yang tuntas.
Agustus 24, 2010 at 1:33 pm
teman-teman, terima kasih masukannya ya. maklum, berhubung panitia hanya membatasi 3,000 kata, jadi ceritanya dipadatkan sekali. masukannya akan saya catat kalau membuat cerita-cerita fantasi berikutnya
@mantoel
saya malah baru tahu cerita itu, saya sendiri mengambil inspirasi saya dari Kabbalah mungkin si penulis (Le Guin) juga mengambil inspirasi dari sumber serupa. tapi akan saya catat biar tidak terlihat mengkopi konsep ini
Agustus 24, 2010 at 2:11 pm
MANTAB!!!
Agustus 24, 2010 at 4:38 pm
Aku suka idenya. Walo kabbalah lagi, kabbalah lagi. Pun telanjang He.he
sayang terlalu akademis di awal. Gw sih suka, cuma untuk ukuran cerpen yg berkuota, gw kurang puas menikmatinya. He.he
thumb up
Agustus 24, 2010 at 9:09 pm
I love the anzu story.. and the myth
wonderful!
Agustus 25, 2010 at 5:43 am
Aku suka pembukaannya; amat menggungah selera
*halah*
Hmm, aku merasa dua tokohnya sedang memainkan peran “si pintar” dan “si bodoh” untuk menjelaskan konsep cerita. Terasa sekali loh
Untung bukan dosenku yang cerita panjang lebar seperti itu. Kalau tidak, mungkin aku sudah ketiduran bosan. Dan ketika aku terbangun, dia mungkin akan menyuruh buat kliping kebudayaan untuk kuliah palæography-nya! hiks, semoga tidak –> Kira-kira ini yang muncul di kepalaku habis baca ceritamu. Soalnya ada dosenku yang sifatnya mirip-mirip si Silvanus, dan dia tipikal dosen yang lebih baik kita hindari jika sudah bahas tentang kebudayaan. Ampun, freak banget ~_~”
Agustus 25, 2010 at 11:41 am
Setelah baca ampe tuntas, baiknya aku ninggalin komentar.
Dari semua yang udah kubaca ampe sejauh ini, ini cerita pertama yang berhasil memancingku mikir. Aku mesti salut ama penggalian bahannya. Di samping itu, pujian lain mesti kukasihin karena ini pertama kalinya aku nangkep nuansa Lovecraftian dari cerita buatan orang Indonesia.
Fuih, nama lain yang jadinya mesti diinget buat masa yang akan datang.
Agustus 25, 2010 at 12:05 pm
ternyata ada juga yang nyadarin pengaruh lovecraft di karya saya. terima kasih alfare
Agustus 25, 2010 at 12:15 pm
Salut sama risetnya mengenai nama sama agama-agama dunia. Tapi endingnya – maaf – bukan tipe saya ^^;;
*pecinta ending bagus*
Tapi, tetap nggak mengurangi penilaian saya bahwa cerita ini hebat. Laut yang penuh bahaya tapi layak diselami ulang.
Agustus 25, 2010 at 3:29 pm
Oke, waktu awal2 mbaca cerpen ini, aku agak swt sama dialognya. Scene adegan awal mengisahkan orang yang ketakutan dikejar sesuatu, entah apa, di angkasa. Keliatan banget ekspresi takutnya. Pembicaraan dua ilmuwan setelahnya juga sedikit menyangkut psikologi dan kemungkinan sedikit menyinggung penyakit yang menyebar ke orang2, tapi kenapa mendadak ga ada angin ga ada hujan dialog berikutnya nyambung ke masalah Atlantis adanya di Indonesia??!!! Ga nyambung!!!!!!
Dialog2 brikutnya juga kayanya ga ada hubungannya sama konflik utama. Kenapa mendadak jadi ngomongin psikologi di balik nama2 dewa?? Kalo tujuannya buat nunjukin si burung Anzu dan kebiasaannya nyuri nama2 dewa, kayanya itu kepanjangan deh.
Dan, ada banyak nama2 ato istilah asing di cerpen ini, aku sampe sempet ngerasa ini cerpen ga terlalu “reader friendly”. pembaca yang tahu ato sering denger istilah itu mungkin bakal ngerasa “waahh… kerrenn…. banyak researchnya…” ato yang semacamnya. Tapi pembaca yang ga pernah tahu istilah itu bakal mikir “Ini kalimat maksudnya apa sih? Ga bisa dijelasin pake bahasa manusia, ya?”
Dan aku juga setuju sama Ewing. Motivasi si Stevanus buat ngasihin buku itu ke Krisna agak kurang jelas. Kalo emang buku itu seberbahaya itu, rebut aja paksa. Gibeng Krisna kalo perlu, toh itu buat nyelametin kesadaran dirinya. Sedikit luka di bibir ga masalah. Kenapa Stevanus terlihat pasrah dan terkesan “apapun yang terjadi, terjadilah” alias lepas tanggung jawab sehabis Krisna akhirnya kena bahaya. Hei, dia yang bikin sepupunya jadi kaya gitu!!
So, kalo boleh dibilang, aku ga suka banget sama karakter Stevanus ini. Dia yang bikin masalah, tapi ga punya keberanian buat nyelesein masalahnya.
Agustus 25, 2010 at 5:19 pm
Mungkin aku bisa sedikit ngerti motivasi Silvanus yang pengen bikin heboh. Yang kayak begini banyak terjadi di kalangan akademisi. Mereka mencari sebanyak mungkin bukti yang menguatkan, lalu menghubung-hubungkannya. Sisanya mereka tinggal bangun tinggi-tinggi tembok untuk menutupi segala kelemahan teorinya. Contoh yang paling bagus itu para Darwinisme, mereka cuma cari bukti penguat, tapi menolak fakta yang memberatkan mereka (walaupun sama masuk akalnya dengan bukti yang menguatkan tersebut)
Agustus 25, 2010 at 5:22 pm
Tentang pembicaraan dua tokoh yang menempatkan Silvanus pada posisi sok pintar itu, mungkin aku bisa sedikit ngerti motivasi-nya yang pengen bikin heboh. Yang kayak begini banyak terjadi di kalangan akademisi. Mereka mencari sebanyak mungkin bukti yang menguatkan, lalu menghubung-hubungkannya. Sisanya mereka tinggal bangun tinggi-tinggi tembok untuk menutupi segala kelemahan teorinya. Contoh yang paling bagus itu para Darwinisme, mereka cuma cari bukti penguat, tapi menolak fakta yang memberatkan mereka (walaupun sama masuk akalnya dengan bukti yang menguatkan tersebut)
Agustus 25, 2010 at 11:02 pm
waow kereeen
dilihat dari sisi manapun tetep keren XD
mantap
Agustus 27, 2010 at 10:09 am
whoa, ngasih sentuhan horror juga ke cerita ya
premis plotnya keren, tapi kayaknya ada masalah di penyajiannya. dialog Silvanus dan Krisna itu agak terlalu memakan ruang, bagi gw. karakter utamanya juga…agak gimana gitu. dan biarpun premisnya bagus, ini kelihatan banget usaha buat dipadatkannya. jadinya terlalu ringkas. nggak bener2 kerasa kayak prolog sih, tapi ya…tetep aja, gw merasa ini cerita bakal lebih keliatan impactnya kalo dibikin cerita yang lebih panjang.
of course, that’s only my opinion
Agustus 28, 2010 at 7:30 pm
klo kata komentator top(nunjuk Luz B) . sebagian awalanya adalah lecture dosen terselubung dari penulis, tapi gak masalah toh tokohnya memang seorang dosen/pengstudi.
tapi saya memang setuju dengan Motif Pola mitologi di seluruh dunia. tambahin Banjir besar dan River Of styx.
dan soal ending cerita, kalau di lihat masalahnya hanya mitologi. mungkin gak ngegantung, tapi klo dilihat dari..
kapan itu epidemi sembuh yahhhh penasaran sih. toh seharusnya silvanus yang sudah sembuh ngasih tahu cara sembuhinnya bukan ngasih tahu cara dapat penyakitnya!
Agustus 30, 2010 at 2:07 pm
suspense-nya dapet banget, calvin!
dan tentang teknik nyebut2 suatu argumen B yg enggak ada hubungan langsung dgn argumen A, sebenernya mirip2 gayanya Dan Brown, jadi enggak masalah buatku
memang tentang teknik penokohan kayaknya masih banyak yang bisa diperbaiki biar cerita2nya makin kuat