SKY OF DAWN
Noirciel
—
Gawat.
Kalau diucapkan dalam satu kata, itulah kondisiku saat ini.
Bayangkan begini; kau seorang prajurit dengan pangkat rendah, diberi tugas penting sehubungan dengan tawanan dan informasi yang dimilikinya, (kesampingkan perasaanmu saat menerimanya), tapi di tengah-tengah pekerjaan kau lepas kontrol untuk alasan yang tak dapat dijelaskan, lalu berakhir menghantam pingsan semua atasan dan orang penting yang ada di tempat. Tampak gawat? Yah, itulah yang baru saja kulakukan.
“Aaaghhh…” aku berjongkok, memegangi kepalaku dengan putus asa. Di hadapanku ada lima orang – semuanya tak sadarkan diri. Tiga di antaranya gegar otak ringan, satunya patah hidung dan dijamin akan sulit bergerak selama beberapa hari setelah terbangun, dan yang terakhir tertidur akibat ‘bius’ yang kuberikan sebagai bagian dari pertolongan pertama – aku nyaris membunuhnya dengan pukulan yang kulancarkan ke lehernya. Untung aku sadar sebelum dia berhenti bernafas dan sempat menolongnya.
“Aku ini ngapain, sih…!!” aku mengacak-acak rambutku.
Mendadak, ada sentuhan dingin di tanganku yang bengkak dan lecet. Aku mengangkat kepala dan melihat sepasang mata hijau cerah milik seorang gadis Elf menatapku dengan pandangan khawatir.
“Ah…” aku baru sadar, gadis itu masih setengah telanjang. Menghalau pikiran lain dari kepala, aku membuka seragam dan menyampirkannya di bahu mungilnya. Paham maksudku, gadis itu mengenakannya dengan benar. Tubuh mungilnya tenggelam dalam atasan seragam yang mirip mantel itu, tapi dengan begini dia tidak perlu tampil memalukan.
Aku berdiri dan mengulurkan tanganku. Dia terlihat ragu sesaat, tapi kemudian mengenggam tanganku.
“Ayo kabur!!”
Sambil menapaki tangga meninggalkan ruangan suram berbau darah dan orang-orang yang masih tak sadarkan diri di belakang kami, benakku melayang ke dua jam silam, yang rasanya kok sudah lama sekali berlalu…
***
Kegiatan sehari-hariku setelah berkeliling mengecek pasien di bangsal penyembuhan adalah berlatih sihir. Sihir itu seperti hafalan, kalau tidak sering dilatih atau digunakan, bisa hilang. Dalam kasusku, aku selalu salah mengalirkan mana ke jalur yang tepat dalam pembuluh sihirku. Untungnya sejauh ini belum pernah ada kasus serius. Paling-paling cuma sihir jadi tidak berjalan semestinya.
“Pertama, kumpulkan mana dari udara…” aku bergumam dan merasakan sesuatu yang mirip aliran listrik – mana – mengalir ke dalam tubuhku. Mengumpulkan sih mudah, tapi tahap berikutnya tidak demikian.
Bayangkan sebuah jalan raya, dengan lima jalur yang berbeda-beda. Mana yang kukumpulkan harus melalui jalur yang benar untuk menjadi sihir penyembuhan yang sempurna. Di sinilah aku kesulitan, karena pada umumnya, manusia cuma punya DUA jalur – energi biasa dan mana. Dan jujur saja, menemukan jalur yang tepat butuh waktu dan konsentrasi. Aku butuh pikiran yang setenang permukaan air…
“Leena Salvatore!!”
…yang bisa langung hancur lebur begitu dipanggil orang.
Aku membuka mata dan menatap orang yang memanggilku – sebisa mungkin berusaha untuk tidak pasang wajah marah atau sebal. Terheran-heran mendapati kenalan ibuku – Kolonel Clare Veeno dari Pleton 4 – menatapku dengan serius.
“Kami butuh Healer. Ikuti aku,” dia berkata tanpa basa-basi. Aku buru-buru mengambil seragam yang tergelatak di tanah dan memakainya sambil jalan. Kalau Kolonel sampai khusus mencariku, artinya ada pasien sangat serius, karena beliau tahu tentang kemampuanku yang tak dimiliki Healer lainnya. Ibu menganggapnya bisa dipercaya, dan pernah menceritakan hal itu padanya.
Oh, sebelumnya, aku harus menceritakan sedikit tentang ibu. Ibuku anggota pasukan khusus Blue River, komandan Divisi 4. Spesialiasi, penyiksaan.
Tampak mengerikan? Ya. Tak beradab? Tidak juga. Ini masa-masa kelam. Semua jungkir balik. Sulit untuk mengatakan dengan pasti, mana yang ‘benar’ dan yang ‘salah’. Yaa, sampai batas tertentu, hal itu memang masih kupahami, tapi, batas samar seperti ‘apakah menyiksa orang itu tidak beradab?’ tidak bisa kunilai dengan objektif lagi.
Dua puluh tahun terakhir ini, Elda Rune dilanda perang berkepanjangan, dan melibatkan seluruh ras yang ada. Lupakan slogan kuno seperti ‘Elf adalah makhluk cinta damai’ atau ‘Ramita tidak akan marah selama penelitiannya atau penemuannya tidak diganggu’. Aku pernah mendengar dari ibu, sebuah desa dibumi-hanguskan oleh satu klan Elf. Warga yang melawan dibunuh dan yang tersisa dibawa pergi untuk dijadikan budak atau semacamnya – beberapa yang paling cantik dan tampan bahkan dipotong kakinya dan dijadikan budak seks. Fraksi Ramita Anti Manusia yang dianggotai Ramita garis keras belum lama ini bahkan menciptakan bom manusia – menggunakan anak-anak dalam aksinya!
Jadi, apakah menyiksa musuh itu salah? Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku sudah merasakan sendiri, informasi yang keluar dari mulut tahanan seringkali menyelamatkan banyak orang. Dan karena manusia tidak bisa dibilang unggul dari segi fisik maupun intelegensi, yang tersisa bagi kami hanyalah kekerasan.
Aku hidup bersama ibu dan anggota pasukan khususnya. Kata ibu, ayahku sudah meninggal sebelum ibu sadar di kandungannya ada diriku. Ibu menetap di militer bersamaku, karena menganggap itulah tempat teraman bagi kami. Sebenarnya, aku tidak diharapkan jadi tentara pula, tapi – setengah ngotot – aku meminta ibu mengajariku berbagai hal, mulai dari menyiksa orang sampai menjahit luka di kepala.
Musim dingin tahun lalu, aku mengikuti tes resmi untuk bergabung dengan militer. Menurut penilaian, bakat bertarungku payah (katanya, aku terlalu mudah panik, dan kalau sudah panik aku tidak bisa membedakan kawan dan lawan), tapi aku berbakat dalam medik, dan mampu menguasai sihir penyembuhan yang terkenal sulit dalam hitungan minggu. Hasilnya, sekarang aku termasuk salah seorang prajurit medik yang paling diandalkan oleh kesatuan ini. Tapi, belakangan ini aku mulai merasa jabatan itu terlalu berat untuk kepalaku.
Tahanan yang kemarin kuurus, misalnya. Dia sudah kehilangan kuku jari tangan dan kakinya empat kali selama dua hari ini – belum termasuk luka cambuk dan tusukan besi di tubuhnya – tapi belum juga buka mulut. Aku enggan menyembuhkannya hanya untuk menjadikannya segar bugar dan siap disiksa lagi, tapi, bisa apa prajurit dengan pangkat rendah dan super lemah sepertiku?
Sejujurnya, aku merasa orang itu memang tidak tahu apa-apa. Belakangan ini, pola kerja kami – interogasi itu – sudah mulai diketahui lawan, dan mereka menahan informasi seminim mungkin. Yang tertangkap semua cuma prajurit rendahan, yang tak punya informasi berharga. Aku jadi kasihan pada mereka. Maksudku, mati dalam medan perang mungkin lebih baik ketimbang diperlakukan seperti mainan di sini.
“Pasukan pengintai menangkap seorang Elf kemarin siang,” Kolonel memecah keheningan dengan nada datar. “Pihak atas bersikeras dia mengetahui dimana letak perkampungan Elf garis keras. Dia tidak mau buka mulut, jadi…”
Kolonel bukan orang yang ramah tapi ibuku bilang dia salah satu dari sedikit orang militer yang masih punya otak. Dia tidak suka penyiksaan, tidak bisa dibilang akur dengan Ibu, tapi keduanya saling menghormati. Intinya, aku tak punya alasan untuk tidak suka padanya.
“Siap,” ucapku kaku. Aku tegang, seperti biasa. Aku tak pernah biasa masuk ke ruang penyiksaan. Bau darah segar, daging terbakar, serta hawa kematian yang begitu pekat selalu membuatku pusing. Kolonel menatapku sejenak, tapi tidak mengatakan apapun.
Kami tiba di ruang bawah tanah – kamar penyiksaan. Bukan tempat ibuku biasa bekerja, tapi isinya mestinya sama saja. Kolonel berhenti dan mengedikkan kepalanya ke arah pintu.
Aku menarik nafas panjang, kemudian mendorong pintu terbuka.
Neraka menyambutku.
Bukan, aku bukan takut melihat kondisi tahanan yang terikat di palang berbentuk huruf X di sudut ruangan ini. Oke, tubuhnya yang nyaris telanjang penuh bekas cambukan yang sebagian telah mengelupas dan menampakkan daging serta benda putih yang kemungkinan besar adalah tulang itu memang bukan pemandangan bagus – tapi aku sudah terbiasa. Begitu pula dengan luka bakar serta bekas-bekas tetesan lilin di sekitar luka-lukanya. Sadis, tapi, itu masih bisa kuterima. Kuku yang lepas apalagi. Itu makanan sehari-hari.
Alasanku kepingin nangis sekarang ini cuma satu.
Ibu pernah mengajarkan bagaimana melihat sejatinya seseorang dari mata mereka. Dari situ aku bisa tahu apakah seseorang bersalah dan layak disiksa atau tidak. Nah, aku sekarang bahkan tidak butuh melihat matanya untuk tahu gadis Elf ini tidak bersalah. Dia bahkan bukan petarung!!
“Leena Salvatore?” Kolonel menegurku.
“Siap!!!” aku spontan menegakkan tubuhku. “Anu…Ini…Maksud saya, gadis ini…”
“Bisa kau sembuhkan dia?” Kolonel tidak memberiku kesempatan bertanya lebih jauh.
Baru aku menyadari, ada tiga atau empat orang di dalam ruangan – selain gadis elf itu. Dua diantaranya pernah kulihat. Mereka anggota pasukan khusus, beda divisi dengan ibuku, dan tidak terlalu akur…tapi ibu memang biang masalah, sih, jadi belum tentu mereka jahat. Sementara sisanya…Aku belum pernah melihat mereka. Dan menilik dari pakaiannya, kemungkinan mereka orang-orang atas. Aneh…ada perlu apa para tuan besar itu berada di ruangan bau darah ini?
“Bisa atau tidak!?” salah seorang dari mereka bertanya tidak sabar.
Aku tersentak dan buru-buru mendekati gadis itu – berusaha keras untuk tidak menampakkan ekspresi yang bisa membuat mereka makin sewot. Tidak ada untungnya dibenci orang berkuasa. Tidak sopan pada gadis malang ini, tapi aku juga harus memikirkan diriku!
Kosongkan pikiran. Tenangkan batin. Kerjakan tugasmu. Aku Healer, dan yang akan kusembuhkan ini musuh – mati-matian aku mengulangi hal itu dalam kepalaku.
Tapi, begitu melihat genangan darah di kaki, serta luka besar yang melintang di pangkal leher hingga ke perut gadis itu, serta tanda-tanda yang mengindikasikan luka itu sudah berumur cukup lama, isi kepalaku langsung kosong.
Ini gawat. Sihir yang kumiliki – tidak, seluruh Healer yang ada di markas ini sekalipun tidak akan bisa menyembuhkan luka separah ini. Duh! Mereka ini pasti bukan yang terbiasa menyiksa serius, deh!! Tubuh elf itu tidak sekuat manusia, tahu!! Mereka juga lebih rentan terhadap virus dan bakteri!! Luka sebesar ini dan tidak langsung kalian tangani!? Tahu nggak sih, normalnya sebuah tim penyiksa interogasi itu menyertakan seorang Healer!? Kalian itu mau mengorek info atau isi perut, sih, sebenarnya!?
“Turunkan dia! Izinkan saya meminjam ruang sebelah!!” biasanya di ruang seperti ini ada ruangan untuk siksaan lain. Tapi sebenarnya, dimanapun oke. Aku cuma butuh privasi karena yang akan kulakukan sekarang bukan sesuatu yang boleh disaksikan orang lain.
“Haa?” orang yang menyentakku tadi terdengar sangat tidak senang. “Lakukan di sini saja!” ujarnya.
“Lukanya terlalu parah untuk ditangani dengan sihir penyembuhan biasa. Saya satu-satunya di tempat ini yang mampu menyelamatkannya,” aku menelan ludah, berusaha untuk terlihat meyakinkan. “Itu sebabnya Anda memilih saya, bukan?” aku menatap Kolonel.
“Haruskah berdua…?” Kolonel bertanya hati-hati. Tampaknya dia curiga, tapi aku tak ada waktu.
“Pilihannya dua; tinggalkan kami berdua, atau dia mati.”
***
Ancaman ‘mati’ memang paling manjur untuk manusia keras kepala. Aku menarik nafas berulang kali, menatap tubuh Elf yang terbaring di hadapanku. Kami hanya berdua di ruang penyiksaan. Kolonel dan yang lainnya memutuskan menunggu di luar. Perutku terasa kejang, tapi aku mengacuhkannya dan memulai proses penyembuhan ‘istimewa’ yang kumaksudkan pada Kolonel barusan.
“Tenangkan diri, Leena…Kamu bisa…” aku bergumam, dan mulai memejamkan mata. Merasakan mana dan energi mengalir dalam pembuluh-pembuluh tubuhku. Begitu keduanya sudah mulai aktif aku masuk ke tahap berikut; ‘membuka’ tiga jalur lainnya.
Jalur pertama untuk menghubungkan aku dan gadis ini. Jalur kedua untuk arah sebaliknya (ini bukan jalan dua arah). Dan jalur ketiga…ini yang paling rumit – sekaligus alasan utamaku tidak mau proses penyembuhan ini dilihat orang.
Aku membuka mata, menunduk, merasakan sensasi dingin saat bibir kami bersentuhan. Yeah, aku tahu, ini tampak bodoh dan tidak masuk akal, tapi memang beginilah cara kerja kekuatan penyembuhanku.
Lewat kontak bibir ini, jalur kelima dalam lalu lintas energi tubuhku akan aktif, dan aku akan bisa ‘memperbaiki’ kerusakan yang ada pada tubuh lawan. Kalau diumpamakan, bagaikan menghadapi sebuah puzzle raksasa yang sangat rumit dengan menggunakan pikiranku. Bagian-bagian yang hilang dan rusak memperoleh suplai energi dariku untuk pemulihan. Tentu saja, bukan hal mudah dan sangat memakan tenaga. Dan yang paling merepotkan, selama itu aku harus tetap mencium bibir lawan. Sudah berulang kali aku dapat masalah karena ini, makanya ibu – dan aku sendiri – tidak mengizinkanku menggunakannya selain untuk masalah darurat.
Tiga menit berlalu. Aku mulai bisa merasakan tubuh gadis ini kembali hangat. Tampaknya aliran darahnya sudah mulai pulih. Luka di dadanya tidak bisa kututup sempurna, tapi setidaknya daging yang koyak sudah menyatu kembali. Intinya, aku sudah bisa menarik wajahku kembali.
Aku menarik nafas panjang, menyadari wajahku panas. Tapi buru-buru kuhapus semua hal tak penting dan mulai berkonsentrasi menggunakan sihir penyembuhan biasa. Untuk sentuhan akhir, cukup ini saja. Mana lebih mudah pulih ketimbang energi kelima yang kugunakan barusan. Dan saat aku melakukannya, telingaku menangkap erangan perlahan.
Jujur saja, aku tak mau dia melihat wajahku – bajingan yang menyembuhkan dirinya supaya bisa disiksa kembali untuk alasan entah apa. Tapi, sebelum aku sempat menggunakan bius atau memikirkan cara lain, dia telah membuka matanya.
Sepasang mata hijau menatapku. Aku merasakan dorongan untuk kabur, tapi formasi sihir dalam telapak tanganku masih solid – tak mungkin kulepas sekarang.
Gadis Elf itu menatapku, kemudian tanganku – yang masih bekerja memulihkan luka-luka di tubuhnya. Tampaknya dia masih bingung. Bagus! Bingunglah terus, non! Lalu izinkan aku kabur!! Maafkan aku, tapi aku cuma prajurit rendahan, perintah atasan adalah absolut…
“..sih…”
“He?”
“Te…ri…ma…kasi…h,” gadis itu terbata-bata mengucapkan terima kasih dengan senyum lemah tersungging di bibirnya.
Ibu pernah bilang, kebanyakan Elf tidak bisa bicara bahasa manusia, terutama mereka yang memang tidak punya urusan dengan manusia. Gadis ini jelas masuk kategori itu. Tapi barusan dia mengucapkan ‘terima kasih’ padaku…Padaku yang seperti ini…yang cuma cari selamat…
Sesuatu meledak dalam kepalaku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingat membuka mulutku, meneriakkan sesuatu yang tidak bermakna. Pandanganku merah, seolah ada tirai dari darah yang menutupinya. Dan ketika gejolak emosi yang bagaikan badai itu mereda, aku mendapati empat orang – lima ditambah Kolonel tergeletak tak berdaya, dan tiga diantaranya tidak dalam kondisi oke.
AKU yang menyebabkannya.
Sekarang aku paham benar kenapa instruktur dan penilai melarangku jadi prajurit biasa.
***
Tidak sulit membawa gadis Elf itu ke bangunan tua di luar markas. Tempat ini dulunya istal, tapi sudah lama kosong. Yang tersisa cuma jerami kering dan perkakas yang mulai dimakan karat. Kadang-kadang tempat ini dipakai oleh tentara muda yang memadu kasih – tahu maksudku, kan? Tapi, di sore hari begini, akulah pengunjung tetapnya. Terutama jika ibu sedang tidak di markas ini. Ibu dan pasukannya sudah seminggu pergi ke kota lain. Entah aku beruntung atau tidak, karena tampaknya aku baru saja melakukan hal paling gila.
“Aku ini mikir apaan, sih…” entah untuk keberapa kalinya aku bergumam begitu di atas tumpukan jerami kering. Duduk di sebelahku, gadis Elf yang mendorongku melakukan kegilaan ini. Tapi, mungkin aku sudah gila sungguhan, karena tidak terbersit sedikitpun keinginan untuk marah padanya. Cuma, sekarang aku harus bagaimana?? Komunikasi saja tidak bisa, mau menentukan langkah selanjutnya pakai apa?
Sementara aku tenggelam dalam pikiranku, gadis Elf itu bergerak. Lewat sudut mataku aku melihatnya mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian, dia berjongkok di atas tanah berpasir dan menggambar sesuatu dengan sepotong kayu. Penasaran, aku mengintip lewat bahunya dan melihat bentuk-bentuk – tulisan – yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“…Terima kasih sudah menolongku….?” tanpa kusadari, mulutku bergerak sendiri membaca ‘tulisan’ di atas pasir. Hal ini membuatku bingung, karena aku seharusnya tidak pernah melihat simbol ini – apalagi belajar cara membacanya. Seolah paham kebingunganku, gadis itu menghapus tulisannya, kemudian menulis sesuatu yang lain. Kali ini agak panjang, dan baru setelah dia usai aku bisa memahami isinya – lagi.
“Ini bahasa kuno, tidak digunakan lagi, tapi terukir dalam jiwa setiap makhluk hidup…”
Aku tambah bingung, jujur saja. Tapi, kalau memang begitu, sedikit masuk akal. Yang tahu bahasa ini bukanlah otak, tapi jiwa-ku. Dan ini menyadarkanku, bukan waktunya berpikir soal bahasa kuno.
Kenapa gadis ini seperti bisa membaca pikiranku?
“Elf…memahami pikiran lawan, yang ditujukan padanya…” gadis itu kembali menulis. “Jadi, sekedar memahami percakapan, tak masalah…” dia tersenyum.
“Oke. Akhirnya ada juga hal baik,” gumamku, tersenyum untuk pertama kalinya dalam dua jam ini. Komunikasi itu dasar dari segalanya. Sekarang setidaknya aku tahu, kami bisa berkomunikasi, walau seadanya. “Oh, sampai lupa. Namaku Leena. Siapa namamu?” tanyaku.
Elitihiasca – tulis gadis itu.
“Oke. Sekarang…Bisakah kau ceritakan…err…sependek mungkin, tapi yang cukup akurat, kenapa kau bisa tertangkap…dibawa kemari?”
Bahasa kuno tampaknya memang dibuat untuk ‘bercerita’. Setiap simbol memiliki makna, jadi bukan berupa abjad seperti bahasa manapun yang kukenal. Berkat itu, dalam waktu kurang dari sepuluh menit aku sudah memahami apa yang terjadi pada Lithia – dia ngotot dipanggil demikian.
Dia berasal dari klan Rems, dan – benar dugaanku – bukan petarung. Dia bahkan tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Klan Rems yang sebagian besar tinggal perempuan dan anak-anak selama beberapa puluh tahun terakhir hidup berpindah-pindah, menghindari konflik. Lithia terpisah dari klan-nya ketika mereka berpindah tiga hari yang lalu – pindahan yang tidak terencana, dikarenakan panik melihat pasukan Blue River terlihat di sekitar perkampungan mereka. Sisanya, seperti yang kudengar dari Kolonel.
“Makin rumit saja, nih…” gerutuku sambil menggaruk-garuk rambut.
Satu hal yang pasti, aku sudah tak bisa berada di sini. Aku telah melanggar perintah – yang tidak kusesali – dan tinggal menunggu waktu saja sampai penjaga menemukan kelima orang di dalam ruang penyiksaan yang terkunci dari luar. Dan setelah mereka keluar, aku tamat. Gadis ini juga, pasti akan menerima siksaan yang lebih parah lagi…
Aku melirik Lithia, menyadari dia menatapku dengan khawatir. Mungkin dia takut aku menyesal dan berubah pikiran, atau segala hal negatif lainnya.
“Tenang. Aku tahu kok rasanya kepingin pulang,” ucapku seramah mungkin sambil mengelus kepalanya. Melihat tanganku terangkat, dia berjengit kaget, seperti kucing yang waspada. Tapi, ketika merasakan sentuhan tanganku di kepalanya, dia memejamkan mata, tampak menikmatinya. Aku terkekeh dan melanjutkan mengelus. Sebuah ide mulai lahir dalam benakku. Perlahan-lahan aku bisa melihat apa yang bisa kulakukan.
“Kau tahu kira-kira kemana klanmu pergi?” tanyaku. Lithia membuka matanya, kemudian mengangguk ragu. Bukan jawaban yang menguatkan hati, tapi cukuplah untuk sekarang.
“Oke. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Mungkin kau enggan berada bersama manusia, tapi kumohon, sabar…” ucapanku terpotong oleh genggaman luar biasa erat dari kedua tangannya. Seperti anak kecil yang merajuk, dia menatapku lekat-lekat dan menggeleng kuat-kuat.
“…Aah…” aku tersenyum kecil, dan kembali mengelus kepalanya dengan tanganku yang satu lagi. “Terima kasih,” ucapku.
Terima kasih, sudah mempercayaiku.
***
Beberapa jam kemudian, matahari mulai terbenam saat kami duduk di tronton bersama setidaknya 50 pengungsi. Tujuan kami ke semenanjung barat yang masih cukup aman. Lithia tertidur di sisiku; kepala menyandar di bahu, sementara tangannya menggenggam erat tanganku. Perban melilit kepalanya – kamuflase untuk telinganya.
Pelarian kami cukup mulus, kalau aku boleh berbangga. Tapi, kami belum bisa tenang.
“Ibu sih pasti bisa melacakku, ya…” aku bergumam.
Jujur saja, itu sumber kekhawatiranku sekarang. Sebagai putrinya, aku tahu benar betapa ahlinya ibuku. Dia memang spesialisasi penyiksaan, tapi bukan berarti tidak bisa melacak jejak narapidana. Dan kalau kami sampai tertangkap…
Aku merinding membayangkan nasib Lithia kalau sampai bertemu ibuku. Namanya juga ibuku, dia pasti mencerna penjelasan Kolonel bahwa aku melarikan tawanan jadi seperti ini; “Putriku ditipu cewek Elf jahat!! Akan kukukiliti rubah betina itu hidup-hidup!”
Tapi, sudah terlambat untuk mundur. SANGAT terlambat.
Aku tertawa pahit, mendesah, dan menatap langit yang kemerahan. Sedikit terkenang cerita ibuku bahwa aku lahir di senja seperti ini. Dan menyadari bahwa mungkin besok aku takkan bisa menyaksikan pemandangan ini lagi.
Tapi, di sisi lain, yang kulakukan ini tidak salah. Merepotkan dan GILA, tapi, tidak salah.
Aku percaya – dan yakin untuk yang satu itu.
—
Agustus 24, 2010 at 2:29 pm
Uwaaaaaaaaaah, benar-benar seperti bagian dari game action. Kalau ada lanjutannya, mau baca dong. ^^
Agustus 24, 2010 at 10:24 pm
….Serius, tuh!? ^^;;
Thanks, anyway
Dipertimbangkan kelanjutannya ^^
Agustus 24, 2010 at 3:14 pm
Setuju! Kalo ceritanya dikembangkan jadi novel utuh, seru nih!
Agustus 26, 2010 at 7:37 pm
Wah…
Kalau novel utuh, bisa-bisa berkembang jadi cinta terlarang nggak tuh mereka berdua? XD
Tapi, thanks!
Akan dipikirkan
Agustus 24, 2010 at 4:18 pm
Ini pasti endingnya ngapung kepentok 3000 kata, yakin.
First thing first, kekurangjituan strateginya (IMHO) adalah di POV org pertama. Menggunakan POV org pertama mendorong yg nulis untuk menuliskan kalimat2 deskripsi pikiran/pendapat/apa yg dilihat si karakter utama. Untuk cerpen dengan batasan 3000 kata, deskripsi pendapat si pemeran utama sangat potensial menghabiskan stok kata lebih awal daripada seharusnya.
Tapi, hal baiknya adalah POV org pertama ini sangat memudahkan penghayatan karakter.
Ini poin bagus tersendiri krn dgn waktu singkat pembaca sudah memahami sebagian besar sifat karakter (apalagi Oyabun bkn kalimat2 pendapat/pemikiran si karakter utama asik banget
).
Jd, sebaiknya diberlakukan pembalasan dendam supaya puas nulisnya nih.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 4:20 pm
Keren.
Tulisannya enak dan bikin nagih. He.he
tob!
Agustus 24, 2010 at 5:21 pm
Saya suka cerita yang ada tokoh ibu-ibu jagoan, karena perempuan muda jagoan sudah lumrah. Semoga Leena lebih jago dari ibunya. Enak dibaca, penuturannya lancar.
Agustus 24, 2010 at 10:25 pm
Daripada kalah ilmu, kalah hawa dia mah XD
Thanks, Eve ^_^
Agustus 24, 2010 at 7:01 pm
Sasuga, Shiki. Ceritanya enteng dan enak dibaca. Dua kalimat awal udah menarik minat mbaca, ditambah dengan komentar konyol si tokoh utama, jadi deh mbaca yang ini duluan daripada tab cerita lain.
Dan inilah cerita FF2010 pertama yang berhasil bikin aku ketawa.
Seperti yang dibilang Juu, komentar2 dan pikiran aneh dari si tokoh utama yang bikin certa ini tambah enak dibaca, terutama komentarnya pas lagi ngobatin Thilia. Detail situasi dan setting jadi terasa “bisa dipinggirkan” untuk menikmati komentar pribadi si aku.
Singkat kata, ceritanya TOP deh. *jempol*
Agustus 24, 2010 at 10:40 pm
“Kau harus baca bagian ini, Mongku, kau pasti akan tertawa, hahaha,” Barnabas mengarahkan layar monitor. Mongku melihatnya.
…
Aku butuh pikiran yang setenang permukaan air…
“Leena Salvatore!!”
…yang bisa langung hancur lebur begitu dipanggil orang.
…
“Hahaha, bagaimana? Lucu kan? tante Noirciel ini memiliki selera humor yang tinggi.” Barnabas tergelak, namun tawanya lenyap begitu melihat Mongku masih memasang wajah serius. “Jangan bilang kalau kau juga tidak mengerti di mana letak kelucuannya?”
“Aku mengerti kok,” jawab Mongku mantap
“Baguslah kalau begitu.”
“Tapi ada satu pertanyaanku.”
“Apa?”
“Kenapa ada orang yang mau menghancurkan permukaan air?”
Agustus 24, 2010 at 10:45 pm
“Ceritanya belum tamat nih. Belum selesai. Kayak baru prolog doang. Tapi beneran, gaya berceritanya asyik banget. Mengalir, dan lancaaar. Kau setuju denganku, Barnabas?” kataku
Barnabas mengangguk. “Ini adalah cerita yang hebat. Aku suka tema dan POV yang digunakan. Sangat menarik. Brilian.”
Agustus 25, 2010 at 9:27 am
Gyahahaha… Cerita fantasi dengan bumbu komedi natural. Benar-benar top.
Apalagi perkataan ibunya Leena: “Putriku ditipu cewek Elf jahat!! Akan kukukiliti rubah betina itu hidup-hidup!” <– benar-benar bikin ngakak!
Semoga menang, Noirciel!
Agustus 25, 2010 at 11:18 am
Latar ceritanya sakit. Tapi sial, narasi si pengarang udah level tinggi. Jadi saat ini itu sama sekali bukan masalah.
Wow. Noirciel ya? Ini salah satu nama yang mulai sekarang mesti kuinget.
Agustus 25, 2010 at 11:25 am
Psst, gak usah diinget tuh nama, buka aja Animonster at least sampe tahun lalu mgkn ketemu namanya dia di salah satu artikel.
(Gw yakin gak byk org nyadar soal namanya, yakin banget.
)
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 7:53 am
Ah, pantes! Pantesan namanya enggak asing! O.o
Agustus 29, 2010 at 10:29 pm
Sakit, dalam artian? ^^;;
Thanks sudah komen
Agustus 25, 2010 at 11:22 am
bookmarked!!
Agustus 25, 2010 at 3:00 pm
Cara berceritanya sendiri bagus, ada rasa visnov/anime. Tapi jelas ini putus karena jumlah kata.
Mungkin karena pamungkasnya ga kenceng, atau memang dari awal niatnya memang cuma menghadirkan rangkaian adegan, cerita ini jadi sekedar mampir di kepalaku. Bagus sih, tapi setelah selesai, aku ga bisa bener-bener jawab isinya apa.
Terus nulis ya. I’ll wait for your works.
Agustus 25, 2010 at 11:41 pm
teori sihirnya itu bikin saya teringat dengan novel black magician-nya canavan
suka dengan narasinya. banyak sekali informasi yang disampaikan di awal2, tapi hebatnya, saya sama sekali gak ngerasa bosan. justru menikmati
ceritamu ini masuk kelompok “cerita ff yang berkesan bagi anggra”
dan saya cuma protes sama endingnya aja. kuharap noir mau melanjutkannya.
Agustus 25, 2010 at 11:47 pm
walah, beneran banyak yang minta lanjutannya. ini mah seratus persen sukses bikin prolog XD
first person view + karakter kayak Leena ini emang berjodoh buat membantu narasi situ, gw rasa. gw lebih cepat klop sama Leena daripada sama Nicol dan Leona (dua2nya emang cenderung…berbeda sama ini sih sifatnya)
well, niat bikin lanjutan lepas ini pasangan?
Agustus 26, 2010 at 1:04 am
“Kami butuh Healer. Ikuti aku,” Maksud kamu, “ikut aku!”?
Lupakan slogan kuno seperti ‘Elf adalah makhluk cinta damai’ atau ‘Ramita tidak akan marah selama penelitiannya atau penemuannya tidak diganggu’. (dan seterusnya hingga satu paragraf kelar).
*mengangkat alis* “Oh, betulkah?”, kataku, “Kalau begitu kasih alasan donk kenapa suatu budaya bisa tiba-tiba bertolak belakang”. Aku sungguh penasaran, karena biarpun budaya dapat berubah relatif cepat, mustahil ia menjadi bertolak-balakang (kecuali kau punya alasan yang kuat, dan sayangnya aku tidak menemukannya). Parahnya, adegan Leena bersama Elf itu justru menghancurkan semua yang baru kamu katakan. “lah, jadi mananya yang salah dari slogan kuno itu?” tanyaku. Apakah mungkin kamu bermaksud membuat seakan manusia lah yang menciptakan propaganda itu? Bakal menarik sepertinya, sayangnya aku tidak diperlihatkan tentang kemungkinan satu itu, jadi tidak ada alasan bagiku untuk percaya semua hal berbelit soal perang elf tersebut, yang pada ujungnya malah kamu bantah sendiri.
“Alasanku kepingin nangis sekarang ini cuma satu.”
Responku: “Hah? Padahal tadi sepertinya seakan-akan berkata bahwa itu hal yang lumrah dan Leena sendiri tidak terlalu peduli lagi” Berbelit-belit menurutku. Kalau kamu to the point dari awal, malah lebih kerasa, tidak hanya sekedar curhat angin lalu dari si tokoh. Lalu kamu memperparah dengan justifakisi aneh “Aku Healer, dan yang akan kusembuhkan ini musuh – mati-matian aku mengulangi hal itu dalam kepalaku.” juga kalimat sebelumnya yg seolah menegaskan, “Kan mereka musuh? jadi sepertinya tidak apa-apa donk”
Konsep cerita: aku bingung, gara-gara banyak yang kamu bantah sendiri setelah awal-awalnya kamu jelaskan dengan amat menjanjikan.
Tata bahasa: rapi
Penokohan: entahlah, mungkin kamu memang sengaja buat tokoh yang labil
setelah selesai baca: so what?
overal: lebih mirip prolog ataupun bab awal suatu novel
Agustus 26, 2010 at 12:47 pm
“Alasanku kepingin nangis sekarang ini cuma satu.”
Responku: “Hah? Padahal tadi sepertinya seakan-akan berkata bahwa itu hal yang lumrah dan Leena sendiri tidak terlalu peduli lagi”
Kyknya yg tdk terlalu dipeduliin lg ama Leena itu persoalan perangnya dan pemikiran biadab/nggak sebuah penyiksaan, bukan dia udah gak peduli lg kalo disuruh ngobatin org yg luka parah krn disiksa.
Terus bagian yg elf, kyknya kronologisnya gini deh:
- disuruh nyembuhin elf yg diinterogasi yg udah sekarat
- sembuhin krn emang lukanya parah banget
- gara2 si elf ngomong terima kasih, sekrup mental si Leena lsg ada yg copot dan dia semacam berserk
- yaa, tentu saja krn org2 yg tersisa di sekitar sana semaput dan Leena takut bakal digantung saat itu jg, dia melarikan diri
Rasanya ada tambahan fakta cerita bahwa gak semua elf jd pemberontak, makanya gak salah kalo si karakter utama menilai elf yg dia tolong itu jenis elf non-pemberontak dan kemudian mengajak serta si elf dlm pelariannya.
CMIIW (lg kekurangan mood nge-scroll balik ke atas buat kroscek, jd nulisnya berdasarkan ingatan)
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 8:57 pm
ooo, sekrup ya… ngomong-ngomong soal sekrup, belakangan ini sekrupku juga suka error, jadi mohon maaf sebesar-besarnya
Agustus 26, 2010 at 8:37 pm
Saya balas mampir, deh. Hehehe.
Gaya bahasanya benar-benar beda dari yang lain. Dalam artian begini, gaya bahasa dalam cerpen ini bukan bahasa puitis. Bukan berarti itu hal yang buruk. Bagi pembaca awam yang tidak terbiasa membaca novel fantasi, gaya bahasa seperti ini lebih mudah dicerna. Jadi, karya kamu ini fleksibel sekali. Semua orang bisa baca.
Mengenai konsepnya, saya kurang lebih setuju sama Kuro dan Mantoel Toeink.
Terus… Semoga ini bisa dilanjutkan jadi sebuah novel. Hehehehe. Saya salut, kamu bisa membuat prolog seperti ini. Soalnya bagi saya, prolog itu bagian yang paling susah untik ditulis.
Agustus 27, 2010 at 12:23 pm
Entah kenapa, tiap kali baca cerita Oyabun (Noir), gw selalu menemukan sesuatu yg ‘khas Oyabun’. Gaya penulisannya, terutama^^ (bagi yg sering baca ceritanya Noir pasti ngeh). Susah lho bikin gaya menulis ‘khas gue’ & bisa dideteksi sama pembacanya… Jadi, 1 jempol buat ini
Buat teknik, no comment deh. Yg jelas tulisannya mengalir & enak dibaca^^
PoV, setuju sama Juu (Mantul), karena ditulis pake 1st person, pembaca jd lebih bs masuk ke dalam pikiran si Leena. Dan kadang2 ada komentar Leena yg gaje (tapi jadinya kocak XD). Ini asyiknya nulis pake PoV 1st person, bisa masukin komentar2 gaje si karakternya tanpa kesan maksa XD
Oyabun, apa ini promosi terselubung buat project novel? XD Soalnya ini bener2 kayak prolog novel ketimbang cerpen-sekali-tamat XD
Agustus 28, 2010 at 10:32 pm
Ahaha ^^a
Sankyuu! Walau sejujurnya saya sendiri nggak ngerti kok bisa masukin ciri khas itu XD
Err…
Segitu berpotensinya jadi cerita utuh…?
Agustus 30, 2010 at 2:08 pm
Dou itashimashite~
Ciri khas yg nggak disengaja ya XD Ng, menurut gw brpotensi banget ya^^ Premisnya udah oke (perang berkepanjangan), berujung ke konflik2 besar maupun kecil.
Bisa aja awalnya Leena niatnya cuma nganterin si elf, tapi pas tengah perjalanan ada kejadian penting yg bikin dia punya resolusi baru… Hentiin perang, misalnya? Trus ceritanya bisa dilanjutin jd 1 buku (bahkan berbuku2 deh^^)
Agustus 27, 2010 at 1:25 pm
aside adegan ciuman antar…errr..’sesama’ ^_^;; (aku agak2 merinding klo baca begituan)
, berpotensi jadi novel nih!
cara berceritanya bagus n enak dibaca, tapi sayang kok akhirnya- tes
ayo lanjutin
Agustus 28, 2010 at 10:38 pm
Tanpa cinta, kok ^^;;
Tapi kalau pembaca menghendaki, bisa diatur
Bercanda, bercanda, hehehe XD
Itu kan prosesnya emang rese, makanya Leena sendiri sebenarnya ogah pakai kecuali memang ada kasus khusus.
Ahaha…
Akhirnya memang segitu bermasalahnya ya…?
September 7, 2010 at 12:09 am
request: banyakin adegan ‘muah2′nya yah, dengan deskripsi yg lebih ‘wah’ *menyeringai*
XD, gw becanda! jangan ditanggepin serius yah ^^;!
eh, terus soal bangsa elf yang suka nyulik dan merampok di masa perang itu bener yah? soalny dimana2kn bangsa elf itu digambarin sopan, berwibawa, cerdas, etc3. Klo disini tahu2 mereka digambarin sama saja dengan manusia…yah, gw gak tahu pendapat orang2 gmn, tp gw merasa rada kurang sreg dengan ini…heheh
September 7, 2010 at 4:08 am
Kakaka~
Sebenernya, misalnya jadi ke arah sana sekalipun, Leena nggak akan bisa kok. Dia bukan tipe yang bisa gitu.
Yaa, kan udah disebutin, itu masa-masa kelam. Perang antar ras udah panjang banget, bisa dibikin catatan sejarah sendiri (yang memang udah disusun sih dalam kepala) jadi udah sampai ke batas ektrem memang. Gua pribadi sih sebenernya malah lebih kerasa parah yang bom manusia
Agustus 27, 2010 at 11:37 pm
err… aku ngak tahu orang menganggap medik dan healer itu 2 pekerjaan yang sama ato berbeda? Maksudku keduanya memang serumpun sama-sama mengobati orang sakit / luka. Tapi sepertinya ada kesan beda dari antara keduanya ya.
Agustus 27, 2010 at 11:43 pm
oh my god!!!! teknik penyembuhan dengan mencium bibir pasien? Bagaimana kalo si pasien menderita penyakit hepatitis B, AIDS, ato penyakit lainnya yang menular lewat air liur????
Agustus 28, 2010 at 9:34 am
Emangnya elo kira cium yang pakai main lidah segala? itu mulut bahkan nggak kebuka waktu melakukan…
Agustus 30, 2010 at 9:28 am
good blog..nice post..:)
Salam kenal..ditunggu kunjungan baliknya..
Agustus 31, 2010 at 6:43 pm
ini karakter Leena orangnya heboh banget ya? ^^’
pengen nanya, kou, kenapa judulnya Sky of Dawn?
trus pengen rekues,
kalau jadi dibuat lanjutannya…
harus jadi pasangan ya… xD
Agustus 31, 2010 at 11:35 pm
Dia itu otaknya sibuk sih, kepenuhan soalnya XD
Aah…soalnya, di ending (yang dibilang kurang sip sama semua orang ^^;;), dia kan mikir, besok mungkin dia udah mati, nggak bisa lihat matahari senja lagi, gitu aja sih ^^
Lanjutan…
Ada sih…masa depan, jauuh banget, dan mereka udah bukan tokoh utamanya. Masih mau rekuest?
September 6, 2010 at 6:12 pm
ooww… ternyata maksudnya itu… ^^
ngg… kalo tokoh utamanya ganti… *mikir2 dulu*
hehe
Agustus 31, 2010 at 9:55 pm
Noirciel ini Shiki di Goodreads kan? Dipanggil ‘Oyabun’ juga toh? (Hehe, ini menarik perhatianku, soalnya lagi nulis novel yang ada hubungannya dengan yakuza-yakuzaan sih. *___*)
Oke…. Aku pingin ngasih beberapa masukan. ^^
Pertama-tama soal point of view. Kamu kan milih point of view orang pertama, tapi aku bingung deh di paragraf ini:
‘Tiga di antaranya gegar otak ringan, satunya patah hidung dan dijamin akan sulit bergerak selama beberapa hari setelah terbangun, dan yang terakhir tertidur akibat ‘bius’ yang kuberikan sebagai bagian dari pertolongan pertama – aku nyaris membunuhnya dengan pukulan yang kulancarkan ke lehernya. ‘
Soalnya kalimat ini disajikan di paragraf awal. Waktu itu aku masih nggak tahu kalau Leena ini healer, jadi mungkin karena profesi itu dia bisa tahu orangnya tiga gegar otak, satu patah hidung dsb…. Soalnya kalau aku sendiri yang bikin pingsan orang, aku nggak bakal tahu dia pingsan karena gegar otak atau apaan.
Udah gitu soal jenis kelamin Leena. Di awal cerita waktu Leena ngasih seragamnya ke si Elf, aku kira dia itu cowok, soalnya kok di bayangan aku dia tersipu-sipu dengan kalimat ‘menghalau pikiran lain di kepala’. Tapi eh setelah dibaca-baca, narasinya terdengar kecewekan dan namanya Leena. Tapi lalu ketika adegan belaian rambut di dekat tumpukan jerami dengan Elf itu, aku kembali merasa apakah si Leena ini cowok?? Lalu aku dapat kalimat ibunya Leena khawatir dengan putrinya (ooh, ternyata si Leena cewek). …Aku nggak tahu apa ini cuma aku yang ngerasa, tapi yang jelas aku terganggu dengan hal ini.
Aku nggak tahu apa kamu memang berniat bikin ini dengan hawa humor dan cheerful, tapi ada satu paragraf di mana Leena marah-marah:
‘…Duh! Mereka ini pasti bukan yang terbiasa menyiksa serius, deh!! Tubuh elf itu tidak sekuat manusia, tahu!! Mereka juga lebih rentan terhadap virus dan bakteri!!…’
Aku sama sekali nggak ngerasa dia itu lagi marah atau kesel, lebih kerasa seperti dia lagi ngomel-ngomel ringan yang ngebuat orang cenderung senyum mendengarnya.
Bagaimanapun, menurutku gaya nulis kamu mempunyai hal yang beda dari orang lain: bisa membawa nuansa ceria. Itu adalah hal yang bagus, karena aku juga merasa kamu membawa hawa yang segar.
Moga-moga masukan sederhana ini membantu.
Agustus 31, 2010 at 11:41 pm
Yaa, thats me
Hum? Yakuza? tell me if u’re need help. Jangan jadi cerita yang asal tempel budaya asing ^^
Hahaha…
Soal ciumannya, maaf deh. CPR sih. Dan udah ditegaskan kan, Leena sendiri benci itu cara, karena sering bikin masalah.
Thanks, lho!! ^^
Agustus 1, 2011 at 10:05 am
Waah,
jadi pengen nulis cerita fantasi nih!
Kupikir selama ini fantasi tu cuma cerita serius doank, eee ternyata komedipun bisa dikemas dengan apik & menghibur dalam seri fantasi…
seru, seru, dapat inspirasi baru…
kalo boleh, buatin cerita yang kayak gini lagi donk… ^_^