SPEAK OF THE DEVIL: THE BAIT
F.A. Purawan
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010
SPEAK OF THE DEVIL: THE BAIT
F.A. Purawan
—
Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.
Agustus 24, 2010 at 10:27 am
Gw coba komen ya bos:
Secara keseluruhan, top dah, tapi ada beberapa hal yang mengganjal gw:
Pencampuran English dan bahasa Indonesianya terasa kurang enak aja gitu. Entahlah, terasa kurang pas aja gitu.
Contoh:
Biarpun ukuran barrelnya cukup besar, hampir selingkaran guci kecil, ukuran grip dan triggernya kekecilan bagi cakar-cakarku.
Dan tepat seperti yang kuperkirakan, Team-Alpha sudah menyadari decoy-ku dan mereka retreat kepada sang komandan yang tak habis-habisnya memaki melalui komunikator.
Kayaknya terlalu maksa aja gitu padahal laras, gagang, pelatuk, umpan dan mundur tersedia dengan baik dan kayaknya lebih enak dibaca dan diterima dalam kalimat itu, heuheuheu.
Terus endingnya keren bos, cuma entah kenapa, kok gw merasa malah bikin citra daemonnya turun ya, seolah mereka lemah sekali sampai untuk menghancurkan segelintir manusia aja butuh satu pasukan perang komplet (2000 lawan 28 kayaknya gimanaaa gitu, heuheuheu).
Segitu aja, semoga bermanfaat.
Agustus 24, 2010 at 2:40 pm
Ewing, TQ komennya.
Ralat tuh, harusnya bukan dua puluh delapan, tapi delapan belas! (VILLAAAAAM!! GUE KAN UDAH MINTA DIRALAT??)
Penjelasan 2000, karena ini:
1. Ada kaitannya dengan perang besar yang menyusul kemudian
2. Karena perimbangan Demon vs Hunter dipersepsikan lebih unggul Hunter dengan kemampuan teknologi dan penguasaan medan perang.
3. Yang dilawan, kan… Magnus Frankle! Hehehe
Glad U enjoyed, boss
FA Pur
Agustus 24, 2010 at 2:46 pm
gaya penulisannya oke dan visualistik, walau setuju dengan yang diatas, harusnya pake bahasa indonesia aja daripada bahasa inggris biar lebih terasa lokal, hehe.
Agustus 24, 2010 at 5:03 pm
Mas Pur ini jarang bisa jauh2 dari silat, apapun bentuknya yaaa.
Btw, si pemburu iblis pada byk bacot yah? Hrsnya si Baalruukh jgn ikutan nanggepin, lsg aja digamparin satu2 tu yg nodong senjata.
Oh, rite, jd lupa komen benerannya: great, akhirnya ada yg berpikir utk jd iblis instead of jadi pemburu iblisnya.
Hehe.
Agustus 24, 2010 at 6:55 pm
Barnabas tertawa terpingkal-pingkal. Air matanya sampai berderai. Mongku menatapnya. Heran.
“Kau kenapa Barnabas?”
“Ini, ceritanya om Pur ini, lucu sekali. Coba deh, kau baca bagian ini,” katanya mengarahkan monitor, menyuruh sahabatnya membaca pada bagian:
…
“Hahaha, kamu jelek, tapi puitis, Iblis!”
“Dan kamu—” aku terdiam. Ternyata aku tak cukup cerdas untuk memikirkan ejekan balik terhadapnya, “—sebaiknya mulai bersiap.”
…
“Hahahahah!” Barnabas terpingkal-pingkal lagi. Dia sampai sakit perut. Sementara Mongku masih mengerutkan kening. Dia tampak kebingungan, lalu menatapnya.
“Lucunya sebelah mana?”
Agustus 24, 2010 at 7:17 pm
Heee… sepakat sama Juun. Baru juga diomongin kemaren di Gath soal tren demon hunter.
Sepakat juga sama Roedavan soal bagian lucunya.
Eniwei Om… Alpha Team biasanya ama Bravo Team deh, bukan Beta team?
Dan pas baca paragraf terakhir, adekku muter “The Imperial March” dari Star Wars. Entah kenapa kok rasanya jadi agung gitu endingnya… wkwkwkw
Agustus 24, 2010 at 7:28 pm
… Dan kamu…O’ow, YOUR MAMA FIGHT!! Hehehe
@Luz, team Bravo, ya? Ups, my bad!
Salam,
FA Pur
Agustus 24, 2010 at 10:22 pm
Saya hadir >.<
Sempat kaget; ternyata bukan silat. Dan ini juga sulit untuk dikasih komentar, hahaha. "Saya menikmatinya", mungkin cuma itu yang bisa aku ucapkan
*pergi jalan-jalan lagi*
Agustus 25, 2010 at 1:22 pm
Weks.. mantap kali hidangannya Om..
Agustus 25, 2010 at 1:30 pm
terkagum-kagum…
Agustus 25, 2010 at 2:19 pm
Wow.
Jadi ini ya, kehebatan sesungguhnya dari Om Pur yang legendaris? Sekilas tak terlihat begitu memukau. Apalagi dengan pencampuran istilah-istilah bahsa asing. Tapi kalau diperhatiin baik-baik, ada banyak hal menarik di dalamnya.
Sudut pandangnya konsisten. Alur penceritaannya luar biasa runut. Aksi ceritanya juga seru untuk diikuti. Istilah-istilah asing yang bisa dicerna. Terus pas sampai akhir, latar belakang konflik juga masih sempet-sempetnya diungkap dengan sisa kata yang ada.
Meski engga menonjol, aku langsung mikir: Gila. Ini keren!
Agustus 25, 2010 at 5:07 pm
uhuy, akhirnya gw (pernah) selesai jg baca satu karya om pur! (…setelah yg lainnya–dengan penuh ketidakpedulian–gw campakkan entah ke mana, ;p)
dan… ini cool!!
overall sih, gw enggak keganggu sama bahasa campurannya, cuma mungkin agak2 terlalu banyak kali ya jadi keliatannya menonjol banget??
sip deh pokoke!
Agustus 25, 2010 at 11:14 pm
Berhubung sudah dikunjungi, biar afdol, aku balik mengunjungi.
Ah, asoy nian nih cerita.
Tapi, memang ada beberapa hal yang aku kurang sreg.
Pertama, sama seperti komplain yang lainnya, para hunter ini kok hobi banget ngobrol ya. Kok rasanya ngga pas banget dengan kesadisan mereka, terutama si Santoz yang komandan itu.
Waktu liat dialog ini:
“OK, you’re the boss!“
Aku jadi berpikir, kira-kira anak buah para komandan yang jadi penjahat perang berani ngga ya ngomong gitu sama komandannya?
Yang kedua, dan paling menggangguku adalah dipakainya kebetulan sebagai solusi. Uh, Chekhov bisa bangkit dari kubur.
Contohnya ini:
Aku tahu apa itu. Pistol magnet kuat. Tembakan pulsa magnetnya akan sangat merugikanku, pro-kutub maupun kontra-kutub. Aku berharap ia melakukan satu kesalahan: berusaha menangkapku.
Dan benar, ia men-set kontra-kutub. Aku tak melewatkan kesempatan itu.
Dan di akhir cerita, tanpa ada clue apa pun di awal (atau aku melewatkan sesuatu?), 2000 daemon tiba-tiba bisa mengurung. Uh!..
Yah, tapi mungkin ini selera saja.
Seperti kata Stephen King, Bukankah di saat genting kita selalu mengharapkan mukjizat?
Kebetulan sebagai solusi, kenapa tidak?(Yang ini bukan kata King)
Viva Fantasy!
Agustus 26, 2010 at 4:45 am
Hallo bro,..
Sebetulnya gak ada yang kebetulan, koq. Semua udah masuk ke desain, hehehe.
si hunter bisa ngomong ‘ceplas-ceplos’ sama komandannya? Itu wajar koq kalo di lapangan. Sebagai pack, mereka punya kedekatan emosional tersendiri. Cek aja di antara temen-temen kopassus, hehehe. Mungkin bayangannya rada jauh, kali, antara kopral versus jendral?
Kenapa si hunter (yg bodoh) itu memilih setting kontra-kutub untuk menembak Baalruukh? Ini masalah kecenderungan napsu dalam mempengaruhi strategi tempur. Baalruukh sedang menjadi bentuk logam, “Metalshifter”, menurut istilah para hunters. Makanya dipilih pistol magnet. Maka taktikal advantagenya dua: dengan menarik si raksasa logam (jadi seperti ngejaring), atau sebaliknya menolak. Kecendenderungannya adalah menarik, karena udah sifat hunter cenderung ingin menangkap.
Anyway, dalam adegan ini, sebenernya gw ingin menunjukkan bahwa si Baalruukh memiliki kapasitas baru dalam bertempur, yaitu kapasitas tactical analysis, yang konon belum pernah ditunjukkan oleh kaum rakshasha. I guess bagian itu nya gak terlalu nyampe, hehehe.
Dan soal 2000 prajurit, itu bukan kebetulan. Kan ada dialog antara Baalruukh dan Duurin, bahwa semua sudah direncanakan. Keduaribu prajurit itu sebelumnya sudah mendekam di sana, either dalam bentuk kamuflase logam, atau tanah/ batu. Hence judul The Bait. Alih-alih Aya, si Baalruukh sebenernya juga sedang menjadi Bait buat Santoz dan Frankle. Di sini gue peingin nyisipin kontradiksi, bahwa kaum manusia memasang unwilling victim untuk kepentingannya, sementara kaum raksasa justru mengorbankan diri sendiri (yang malah berstatus raja di antara kaumnya).
Sama satu lagi, gue gak langsung komen soal campuran bahasa inggris, pengen tahu apa ada yang ngeh atau nggak, hehehe.
Kalo diperhatiin, sebagian besar penggunaan istilah bahasa inggris di situ sebenernya (maunya) diambil dari combat-talk-nya team hunters. Ceritanya, begitulah bahasa mereka di lapangan. Si Baalruukh, saat menggunakannya, sebenernya juga meminjam kosa-kata itu dari kalangan hunters, sebagai sesama kombatan yang mempelajari teknik tempur di universe bumi ini.
Yah, memang –lagi-lagi– alasannya keterbatasan kata
Padahal ada alasan lain yang lebih sahih: keterbatasan kemahiran gue dalam menulis, hahaha.
Pokoke, appreciate all comments, viva fantasy fiesta!
FA Pur
Agustus 26, 2010 at 11:32 pm
Ah, sudah dikasi balasan rupanya. Senang juga bisa berbalas pantun dengan sesepuh kondang di pesta ini. (terima kasih, meski aku agak-agak grogi karena Mas Pur ini ternyata punya fans yang fanatik. Ngga boleh dicolek dikit
)
Oke, balik lagi ke soal hunter yang ceplas-ceplos itu.
si hunter bisa ngomong ‘ceplas-ceplos’ sama komandannya? Itu wajar koq kalo di lapangan. Sebagai pack, mereka punya kedekatan emosional tersendiri. Cek aja di antara temen-temen kopassus, hehehe. Mungkin bayangannya rada jauh, kali, antara kopral versus jendral?
Di lapangan ngga begitu, Bos. Silahkan diverifikasi dengan rekan-rekan kopassus. Seharusnya si hunter itu akan menjawab:
“Siap, Dan!”
Tapi ini bukan di lapangan, ini ceritamu. Jadi mungkin saja pengamatan lapangan tidak berlaku di sini.
Sekarang ke soal kebetulan:
Kenapa si hunter (yg bodoh) itu memilih setting kontra-kutub untuk menembak Baalruukh? Ini masalah kecenderungan napsu dalam mempengaruhi strategi tempur. Baalruukh sedang menjadi bentuk logam, “Metalshifter”, menurut istilah para hunters. Makanya dipilih pistol magnet. Maka taktikal advantagenya dua: dengan menarik si raksasa logam (jadi seperti ngejaring), atau sebaliknya menolak. Kecendenderungannya adalah menarik, karena udah sifat hunter cenderung ingin menangkap.
Kok aku tidak menangkap kecenderungan itu di cerita ini. Membaca adegan-adegannya, pasukan itu malah ingin menghabisi si Baalruukh. Mereka terlihat sedang menerapkan taktik Search-and-Destroy.
Mungkin akan beda efeknya seandainya kalimat ini:
Aku tahu apa itu. Pistol magnet kuat. Tembakan pulsa magnetnya akan sangat merugikanku, pro-kutub maupun kontra-kutub. Aku berharap ia melakukan satu kesalahan: berusaha menangkapku.
Dan benar, ia men-set kontra-kutub. Aku tak melewatkan kesempatan itu.
Berubah menjadi:
Aku tahu apa itu. Pistol magnet kuat. Tembakan pulsa magnetnya akan sangat merugikanku, pro-kutub maupun kontra-kutub. Aku berharap ia melakukan sesuai standar operasi yang dipelajarinya: berusaha menangkapku.
Dan benar, ia men-set kontra-kutub. Aku tak melewatkan kesempatan itu.
Efek kebetulannya akan langsung hilang.
Yah sudahlah. Bagaimana pun ini cerita yang keren. Sumpah! Dan, aku tidak ingin merusaknya dengan keluh-kesah-manja-nan-lebay.
Tabik
*tinju kanan diadu dengan telapak kiri tepat di depan dada*
Mailindra
Agustus 27, 2010 at 10:31 am
Hmmm, masukan kamu rasanya bagus untuk memperkuat situasi yang ingin kusampaikan.
Yep, thanks banget atas pencerahannya, boss.
*bersoja tiga kali*
FA Pur
Agustus 26, 2010 at 4:48 am
@Fred,tega nian kauw,….
Agustus 26, 2010 at 4:59 am
Belakangan ini gw semakin stress setiap kali lihat komentar. Rasanya banyak yang menahan diri dengan mengumbar komentar aman. Setiap kali itu juga gw kepancing untuk mencak-mencak dalam situasi ini.
Ah, balik ke Speak of the Devil! Secara pribadi sih aku ga merasa ada yang salah, dan pembelaan om Pur barusan adalah hal yang juga ingin aku ucapkan ketika banyak yang menyinggung bagian tersebut. Well, taruhlah ini di dunia nyata, maka semua yang dikatakan om Pur barusan itu benar. Mungkin hanya masalah selera, tapi terkadang aku keki juga ada orang yang memaksakan seleranya pada penulis, instead of mencari cerita lain yang sesuai dengan seleranya. (Teringat sama kasus fans para Harry Potter yang betul-betul merusak karya tersebut)
Anyway, tolonglah jangan merendah soal 3000 kata, ataupun skill. Ini kayak basa-basi aja. Wah, jelas sopan sekali, tapi ujung-ujungnya aku ngerasa komentarnya hanya ramah-tamah tidak membangun.
Maaf, otakku sekali lagi sedang drop dalam kondisi bermasalah
Agustus 26, 2010 at 7:22 am
@Kuro: Anda ini bagaimana? Kayaknya kurang berkenan dengan komentar aman, tapi begitu ada yang komentar yang kayaknya nggak aman, langsung dituduh memaksakan selera pada penulis.
Ah, bingung saya.
Agustus 26, 2010 at 3:05 pm
mungkin kita semua harus mulai berhenti menggunakan alasan batasan kata untuk menutupi alasan lain yg lebih krusial??
komentar amannya: “Kita semua senang mengembangkan kemampuan menulis kita kok.”
Agustus 26, 2010 at 5:38 pm
Ah, saya juga bingung kenapa waktu itu berkemontar seperti itu. Intinya, beberapa komentar masih belum kuat mendobrak dan bakal dengan mudah dibantah lagi, tapi tetap dilontarkan setidaknya untuk memperlihatkan bagian yang kurang. Tapi kalo bagian yang kurang itu bisa dengan cepat disadari dalam waktu dekat, walaupun tanpa diingatkan, saya jadi lesu. Yah, anggaplah saya sedang rakus kala itu, hahaha
Agustus 27, 2010 at 1:12 pm
hehe
kayaknya karena yg komen jg adalah org2 yg karyanya ikut ajang ini pulak, makanya kalau komen agak2 “sopan”
yg gw sebenarnya penasaran adalah… ada berapa banyak sih orang2 yg baca cerpen2 di FF ini yg ternyata bukan termasuk salah satu peserta?
okelah kalau FF ini bisa jadi ajang mengembangkan kemampuan para penulis; tapi dunia penulisan kan enggak cuma butuh penulis, melainkan pembaca juga
kalau ternyata kebanyakan para pembaca adalah para penulis jg, ya bisa dibayangin perkembangan fikfan lokal yg akan lambreta nian… xD
maap ya om pur, jadi curhat OOT di sini
tadinya gw pikir FF beneran masuk ke forumnya kastil, supaya kita bisa diskusi hal2 lain di luar karya masing2 peserta, tp ternyata sampe sekarang belum ada jg… :p
Agustus 27, 2010 at 1:54 pm
setuju, fred.
dunia penulisan gak cuma butuh penulis, tapi juga butuh pembaca, penerbit, toko buku dan mungkin juga negara (halah).
dan karena itulah sebenernya gue juga mau nantinya ada topik2 yang bisa diangkat dari ajang FF ini, yang bisa dijadikan topik bahasan yang lebih jauh di forum kastilfantasi. macam2, misal topik ttg karakternya, plotnya, gaya bahasa, pembatasan jumlah kata, genre, trend, dan masih banyak lagi.
sayangnya, karena gue amat sangat sibuk sekali hari2 ini, gue belum bisa bergerak banyak di sana. waktu n energi gue masih terbatas.
jadi, gue akan sangat berbahagia jika ada teman2 yang mau berinisiatif mengumpulkan topik2 apa yg kira2 bisa dibahas di sana, dan mungkin nanti berinisiatif juga mengangkat dan posting tentang itu di sana.
beneran, gue yakin temen2 pasti punya banyak pemikiran dan harapan buat ngembangin dunia fikfan indonesia, dengan lebih jauh, gak sebatas ini aja. makanya, gue berharap kita bisa jalan sama-sama.
villam
Agustus 27, 2010 at 4:15 pm
wahahaha, yg empunya acara datang!
*langsung buru2 kabur*
*tapi… batal, karena berasa sangat tidak bertanggungjawab… xD*
kayaknya yg disebutin sama villam untuk bahasan2 tentang FF udah menarik2, meski masih terbuka buat ide2 lain kalo ada yg punya
dan karena forum kastil terbuka untuk umum, semua bisa langsung mulai posting sendiri kan??
jadi, karena gw merasa masalah pertama forum itu adalah sepi, gw akan coba posting satu thread yg paling gampang
mudah2an ada yg tertarik ke sana… ^^’
Agustus 26, 2010 at 6:05 pm
Kalem aja lah para saudarah! Intinya, semua adalah untuk kebaikan. Ya ndaaak? Tabiiik, tabiiik
Agustus 27, 2010 at 10:32 pm
ceritanya menarik.. seru!
tapi saya terganggu dengan percampuran istilah daerah, Indonesia dan Inggris. kalau judulnya diindonesiakan, saya rasa tidak akan berpengaruh secara signifikan.
bayangin aja, ada Durga, ada panghalimun, ada Hunter, ada Demon!
saya nangkapnya, kalau semisal setting ini modern, berarti di jaman modern pun, masih ada orang yang mengingat wayang. Thanks god.
.. atau barangkali saya salah menafsirnya?
Agustus 27, 2010 at 11:44 pm
Iya ya, memang sekilas bikin bingung, soalnya informasi latar belakangnya kurang. Yah batasan jumlah huruf memang ada peranan di sini
Jadi, premis setting kisah ini adalah modernisasi dari mitos raksasa yang dihubungkan dengan budaya india kuno. Aku ngambil idenya dari novel Ravana Tattwa.
Kaum rakhsa, konon adalah pemuja Batari Durga.
Lalu ceritanya pada “Ledakan Pertama” kaum ini lenyap dari muka Bumi, sehingga kebudayaannya dianggap sebagai kebudayaan yang hilang.
Lantas pada “Ledakan Kedua” kaum ini muncul lagi, geto.
Di time-line cerpen, Indonesia kita udah menjadi semacam battlefield antara kaum manusia dan raksasa. Kalau raksasa punya Ilmu-Alam, alias Ilmu-Batu, Angin, Logam, Air, Api dll, manusia punya ilmu magis dan teknologi. Ilmu magisnya, antara lain ngumpulin koleksi dari berbagai kebudayaan, termasuk panghalimunan yang berasal dari indonesia. sementara mantera Vishnu, itu jelas dari India, gitu lah.
Salam,
FA Pur
Agustus 28, 2010 at 4:38 am
Eh koq jumlah huruf sih, jumlah kata, maksudnya…
Agustus 28, 2010 at 8:09 pm
Mau komen *Tapi malu ngomenin legenda hidup*
eeennngggg… setelah dipikir lebih lanjut bingung apa yg mau dikomenin… *liat komen sebelumnya*
Oh iya bahasa inggris.
gak masalah buatku, terus cukup mengesankan bagaimana seekor/seorang iblis mampu menganalisa benda teknologi seperti itu.
yang jadi inti pertanyaan dari pembaca humble ini adalah.
Jadi Si baalruukh sudah niat ngumpulin mereka di sana, namun pertannyaannya.
1 ngapa si baalrukh ngusir mereka dengan ban decoy itu, dan juga ngapa rakshasha lainnya bener-bener last second bgt keluarnya. padahal dari tadi nyamar di sana
tapi kayaknya yg kedua bisa saya jawab, biar endingnya dramatis.
*evil laughter* hwhawhawhahwhahwah
That’s it, peace Out
Agustus 28, 2010 at 8:25 pm
“legenda hidup”??
uhuk-uhuk-uhuk
*habis nge-rusuh, lgs kabuuur!*
Agustus 28, 2010 at 9:38 pm
@Ivan… Yg paling bener ya biar dramatisnya itu!


——–
Iblis Figuran I: pssst,.. udah belum?
Iblis Figuran II: belum
Iblis Figuran I: udah beluuum
Iblis Figuran II: hush! Belum, tunggu baginda!
Iblis Figuran I: tapi mereka tuh udah deket bangeeeet
Iblis Figuran II: Tunggu! Diem aja di posisi!
Iblis Figuran I: tapi gw dah pegel niii
Iblis Figuran II: rese deh lo! Mau dihukum pancung sm baginda??
Iblis Figuran I: abis aku ga tahaaaan…
Iblis Figuran II: napa seh, lo?
Iblis Figuran I: kebelet pipiiiis…
(Speak of the Devil: Song of the Miserable Bladders)
———-
FA Pur
Agustus 28, 2010 at 11:20 pm
wkwkwkwkw, kayaknya part ini harus diceritain juga deh… gokil dikit malah lebih manusiawi. Lagipula kan iblisnya juga digambarkan lebih mirip manusia, sedang manusianya mirip iblis (apakah itu kecendrungan jika seorang penulis menggarap dari sudut pandang iblis?)
Agustus 28, 2010 at 11:26 pm
Ah, iya, satu pertanyaan dari gw: “Kenapa tema demon hunter seringkali mengusung konsep out-of-nothing untuk kemunculan iblis-iblisnya?”
Kalau tidak out-of-nothing biasanya malah si iblis ini dilukiskan lebih “beradab” dari para manusia (yang bahkan sering kali dilukiskan sebagai kaum yang brengsek). Nah, untuk fenomena ini gw ada pertanyaan lagi, “Lalu sebenarnya mereka ini iblis atau bukan?—tentunya jika dilihat dari sudut pandang kaum manusia dalam cerita, pasti ada alasan tertentu dilekatkannya panggilan se-ekstrim itu”
Agustus 29, 2010 at 10:33 am
Konsep Out-of-Nothing itu maksudnya apa, ya? Perjelas, dong, Gan.
Kenapa manusia menyebut mereka Iblis? Itu sih kecenderungan natural aja, manusia selalu menyebut apa-apa yang tak dikenalnya sebagai setan, iblis, monster dll.
Apalagi, kaum raksasa ini memang punya wujud yang ‘menyeramkan’, antara lain punya belalai kecil-kecil di punggung, kulit berwarna-warni (mustinya banyak warna, tapi yg gue jelasin cuma Baalruukh yang warnanya biru), gigi taring dll.
Tapi pilihan gue untuk kata iblis, soalnya lagi mau nyindir para daemon hunters! Hehehe. Lo bayangin aja kayak perang yang diproyekin…
FA Pur
Agustus 29, 2010 at 2:20 pm
Maksudnya ya “ujug-ujug”, sering kali dilukiskan sebagai “hal teramat misterius hingga tidak perlu dipertanyakan karena kemisteriusannya itu”. Terkadang ada pengarang yang mau berbaik hati untuk menjelaskan, tapi sepertinya hanya sekedar supaya pembacanya ga protes. ATAU, kadang juga dikaitkan dengan hal gaib untuk mendapatkan pembenaran yang sulit ditentang oleh pembaca dan tidak bisa dijelaskan secara lebih rasional dan ilmiah.
Agustus 29, 2010 at 9:46 pm
Yeah!!! Kill those bast*** humans!
sori, klewat bersemangat, heheheh
Agustus 29, 2010 at 10:06 pm
Saya udah baca ini berulang kali, dan tetap nggak bisa menemukan kata selain; KEREN.
Konsep, pembawaan, susunan narasi, nggak ada keluhan sama sekali. Laut yang sangat bagus dan layak diselami ulang.
September 1, 2010 at 2:47 pm
Narasi yang mengalir lancar, adegan aksi yang keren banget dan langsung kebayang di otak, ending yang dramatis (hohoho)
Kesimpulannya? Keren ceritanya Om d(^_^)
Tapii…. (ini dia nih) masih ada beberapa hal yang mengganjal buat aku.
1. Kok Baalruukh, yang ternyata adalah raja para Rhakshasa, butuh minion buat berpikir? Apa Rhakshasa yang lain memang lebih bodoh lagi dari rajanya?
2. Buat aku, dialog-nya kok terkesan ga nyata ya? Rasa-rasanya, di lapangan sepasukan tentara itu ga akan ngomong kayak gitu. Tapi aku sendiri juga ga punya background and pengalaman soal ini, jadi anggap aja ini selera pribadi >_<
3. Wah, kok aku rada kecewa ya kalau ternyata Daemon itu latarnya diambil dari pewayangan? Rasanya jadi jatuh pasaran gitu. Tadinya aku berharap daemon itu something from out there, apa lah gitu. Tapi ini kayaknya karena aku udah lebih banyak terkontaminasi konten barat daripada konten lokal.
*ngejitak kepala sendiri*
Walaupun gitu, aku suka nama-nama Yang-Empat nya hehehe.
Hmm, Raja Timur, Ratu Utara, Tetua Selatan, Pemimpin di Barat. Yang terakhir kayaknya agak ngebanting deh, ga selevel sama yang sebelumnya. Gimana kalo Kaisar Selatan?
Kalo yang lainnya nanya, kenapa Baalruukh mau jadi umpan lama-lama padahal udah ada pasukannya yang nunggu, aku bakal jawab: karena nunggu Magnus Frankle nya muncul dulu. Klo udah dihabisin duluan dari awal, mungkin Frankle nya bisa kabur walaupun Santos mati.
Semoga ga sotoy
September 2, 2010 at 12:00 am
@Dewi, selamat dulu ah, bukber nya ditunggu. Wakakak.
No.1, memang desain settingku begitu. Kaum raksasa itu sejatinya males mikir (sehingga kadang dianggap bodoh dan predictable) makanya mereka simbiosis mutualisma dengan para minion, yg di sini menjadi semacam penasihat pribadi. Makanya Frankle jadi cemas saat Baalruukh menunjukkan tingkah laku cerdas tanpa minion.
No. 3, bukan pewayangan, tapi India Kuno. Gue malah lebih excited, soalnya misterinya lebih dalam dan lebih ‘tua’ dibanding western punya
Kalo Kaisar ntar mmenguasai yg lainnya dong, hehehe. Pemimpin aja, kayak Moammar Khadafi
Terus soal jawaban kamu mengenai 2000 itu, Nnnaah! Itu juga yg pengen gue omongin sama Om Boni! Hehehe
Thanks ya!
FA Pur
September 2, 2010 at 9:29 am
*Bagi-bagiin cendol buat buka bareng*
Hoo, jadi sebagai penyeimbang kekuatan Rakshasa yang hebat, karakter mereka dibikin males berpikir sendiri ya? Hebat, Om! Karakterisasi yang unik banget menurutku
Oh, India Kuno ya (ketahuan pengetahuan sejarahnya kurang banget) hahaha, tar aku pelajri ah, jadi tertarik karena baca cerita Om.
Om, setelah aku tinggal tidur, bangun, sahur, mandi, trus ngantor, baru ngeh nih apa yang sebenernya ngebuat aku ngerasa kalo dialog nya nggak nyata. Di cerita ini, karakterisasi antagonisnya sama semua, yaitu:
1. Kejam
2. Menghalalkan segala cara
3. Hobinya ngebacot plus memaki
4. Juga hobi meremehkan
Karakter antagonis kan ada banyak rupa dan macem, misalnya licik, dingin, terselubung, dan masih banyak lagi. Ini kalo kulihat, semua tentara, mulai dari bawahan sampai Santos, sampai Magnus Frankle, kecenderungannya sama, yaitu 4 hal di atas. Jadinya berasa ga alami.
Gitu deh.
September 2, 2010 at 2:54 pm
Hmm,…. bener juga. Karakter hitam-putih. Yah, kurasa memang aku memilih seperti itu biar gampang aja