TEMMORA (BUAH POHON DOA)
Elbintang
—
Pada awalnya sebuah biji dari pohon do’a yang menetap di hati menjadi harapan. Menjelma pertama kali dari harapan adalah kata-kata yang menghadirkan ruang, memisahkan kesenyapan, menggantungi langit dengan bintang-bintang, memancang gunung-gunung sebagai pasak dan akhirnya menghamparkan bumi yang sudah jadi.
Sebelum dihamparkannya bumi, kata-kata yang dari harapan itu menjadikan air membelah dua, asin dan tawar, menciptakan mimpi-mimpi dan daratan, serta makhluk-makhluk yang tak terlihat dan kegelapan.
Bermulanya sekali adalah harapan. Dan semuanya tercipta.
Dalam satu ketika tanpa jeda, harapan mencipta segala macam binatang dan tanaman. Begitu juga cara manusia diciptakan, juga dewa-dewa dan jurang-jurang. Rumput-rumput yang mengikat tanah dan sungai-sungai yang membuatkan batasan-batasan. Lalu begitu semuanya siap, harapan memberikannya pada Godem Lak untuk dijaga.
Namun, seperti usia dunia yang sudah sangat tua, banyak hal yang terjadi. Seperti kelahirannya takdir, munculnya keinginan dan ambisi, hadirnya api, angin dan kehidupan juga bertambah usianya para kisah-kisah.
Begitu pun, buah dari pohon do’a terus bertahan di sana. Karena ia disabdakan kekal. Ia bertahan bahkan setelah peristiwa usai, mimpi-mimpi menjadi debu dan manusia lenyap. Kecuali itu, beberapa orang mungkin akan berkata-kata lagi dengan harapan. Jika saat itu tiba, seringkali harapan mencipta ulang keberadaan.
Godem Lak si Tuan Pencipta selalu mempercayai hal itu. Maka setelah ia bertemu dengan yang terceraikan dari takdir. Ia tahu saatnya untuk bersiap siaga.
***
Mora berlari dengan sepenuh upaya yang ia punya. Tak sempat menggunakan alas kaki, tapaknya merasakan aspal yang panas membara dibakar matahari. Hari ini, entah apa alasannya Godem Lak, si Tuan Pencipta, menggeserkan letak matahari menjadi lebih dekat dari biasanya. Saat cakrawala jingga baru saja terang benderang, di segala penjuru orang-orang sudah mengeluh pusing, pingsan bahkan sekarat. Mora menjadi sangat sibuk. Ia bertugas untuk membawa pesan dari setiap orang ke rumah-rumah penyembuh. Para penyembuh juga sangat sibuk hingga tidak jarang bukannya berterima kasih, mereka malah membentak-bentak Mora begitu mendapatkan pesan “segera datang” atau ”mendesak”.
“Tidak bisa lebih cepat lagi,” keluh Mora begitu mendengar dentang jam besar berbunyi. Ia sudah melakukan pekerjaan lebih dari setengah hari dan masih ada satu pesan yang belum ia sampaikan. Pesan penting untuk alamat yang penting. Lebih penting dari itu, ia harus keluar dari ruas jalan besar ini sebelum orang-orang tumpah. Dentang jam besar itu menandakan waktu kegembiraan yang berpusat di jalan besar.
Bagaimana pun orang-orang harus menikmati kesenangan sebelum Godem Lak benar-benar menjadi gila dan menghadirkan masa-masa suram yang panjang. Mora terkejut dengan pikiran yang baru saja melintas di benaknya. Tidak baik menginginkan keadaan menjadi lebih buruk dari seperti sekarang ini bagi Godem Lak, tegurnya mencela diri sendiri.
Godem Lak, si Tuan Pencipta adalah penjaga semesta saat ini. Ia sudah hidup ribuan purnama. Masih terlalu muda dibanding usia Godem Lak-Godem Lak sebelumnya, yang hidup ratusan hingga ribuan juta purnama. Hitungan yang tidak begitu tepat, hanya sekedar agar orang bisa membayangkan bagaimana ukuran tua dan muda bagi Godem Lak. Jika dibandingkan dengan dirinya yang baru berusia delapan purnama tentu tak terbayang sama sekali hidup selama itu.
Mora disibukkan dengan pikirannya, hingga kehilangan kesempatan untuk bergerak cepat dan ia terjebak di antara para pekerja yang keluar beristirahat dan murid-murid pelatihan yang memamerkan hasil kreasi mereka. Jalanan gaduh seketika!
Pekikan kegembiraan pertama berasal dari kreasi hujan permen limau yang segar. Disusul kemeriahan beberapa orang yang menaiki macam-macam benda – gayung, batang sapu, permadani, balon bahkan ada yang menjerat awan dan bintang- untuk ke langit menciduki sungai cokelat yang menggiurkan. Ianya melengkung tinggi di sana. Lalu gelak tawa anak-anak usia dua purnama yang meyoraki lomba adu cepat antara ikan yang menaiki angin dan burung yang berenang di air. Kesenangan bertambah saat pelangi mengeluarkan nada-nada merdu yang tepat dan berkelindan indah dengan semua kemeriahan. Benar-benar pesta.
Setiap hari selalu dengan pesta yang berbeda. Setiap masa dengan kegembiraan yang sama. Seperti tanda syukur. Pengulangan yang selalu terjadi tak membuat orang berpikir untuk mencari cara menghentikannya. Mungkin karena itu hidup lebih berarti bagi mereka, putus Mora capek meladeni pikirannya yang seolah hendak memberitahukan sesuatu yang tidak dapat diingatnya.
Mora berjalan cepat-cepat mencoba mengacuhkan semua gegap gempita yang terjadi. Kemudian ia melihat balon-balon dari air sabun itu. Kekehan geli, decakan gemas dan terganggu, serta kata-kata makian tumpang tindih keluar dari orang-orang yang ditempeli, disundul, dijilat dan digigit oleh balon yang berbentuk macam-macam binatang. Balon-balon itu ada yang segarang bebek, juga banyak yang bodoh dan lucu seperti singa, namun Mora benar-benar tidak ingin berurusan dengan mereka.
Dulu, pernah ia sengaja memecahkan balon anjing dan kucing yang menyundul kepalanya dan menggigit bahunya, namun sial, balon-balon yang pecah itu mengikutinya selama beberapa menit yang seperti selamanya. Menangis dan meraung-raung. Belum pernah ada lagi kejadian yang sememalukan itu terjadi sebelum atau bahkan sesudahnya.
Kemeriahan semakin menjadi. Mora mencari dan mencari. Begitu mata Mora mengingatnya, sebuah gang lebar yang jarang dilewati ada di sana, di sebelah kanan jalan, terbuka dan membebaskan. Gang yang suram dan berbau kematian. Bukan apa-apa. Hanya kesan yang dihasilkan dari praktek murid-murid pelatihan tingkat atas. Mereka kadang-kadang mencoba membuat mimipi-mimpi buruk atau menguatkan keinginan-keinginan dan ambisi di tempat ini. Tidak ada kematian yang sebenar-benarnya.
Sebelum belokan menuju gang itu, Mora melihat seorang murid pelatihan yang sedang mencoba kemampuan kreasinya membakar diri. Belum sempurna karena api kreasi anak itu hanya mampu menyelubungi sebagian dari tubuhnya.
”Ahhai Mora…aaah!”sapaan murid itu teralihkan oleh api buatannya yang tiba-tiba membesar sebagian. Mora melambatkan langkahnya. Warna kuning keemasan api itu dan semburat merah garang sungguh terlihat menakjubkan. Mora mendesah begitu teringat ia tidak boleh berlama-lama. Dengan meneguhkan hati ia kembali melangkahkan kakinya lebih cepat. Kali ini berlari. Dan…
”Bhhuaaa!…”Mora jatuh bergulingan ke dalam serupa jurang dari es yang ada di tengah-tengah jalan.
”Ah Mora, aku tadi baru mau mengingatkan. Salahmu terus saja berlari,”tegur suara perempuan dari atas jurang.
”Ay Alina, menunggumu berhenti bermain dengan api bisa-bisa aku tidak lagi dipekerjakan,”jawab Mora takjub menyadari bagian tubuhnya tidak ada yang sakit.
”Bermain ya? Kalau kau menyebutnya begitu mungkin ada gunanya jika…”
”Lebih berguna dari itu, bisakah kau menolongku keluar dari sini?”potong Mora cepat.
Alina berdiam beberapa lama. Sedikit lebih lama dari perkiraan Mora. Lama. Mungkin gadis itu berniat meninggalkannya.
”Apa mereka sudah berhasil membuat salju betulan di bawah sana?”tanya gadis itu tiba-tiba setelah Mora hampir yakin gadis itu sudah pergi.
Mora menggelengkan kepalanya namun cepat-cepat menjawab begitu sadar bahwa mata Alina tidak bisa mencapai tubuhnya, ”Tidak. Mereka belum sehebat itu,”syukur Mora sambil meletakkan tangannya ke dinding jurang. Empat hari yang lalu, murid-murid pelatihan itu hanya mampu menggambar jalan yang seolah-olah jurang. Mora sama sekali tidak menyangka kalau hari ini mereka bisa membuat jurang es. Walau…hawanya masih sepanas jalan aspal.
Mora mendongakkan kepalanya, ”Oi Alina!”
“Sebentar! Diamlah di situ,”bentak Alina galak.
Dia memang cocok menjadi Alina Putri Petir
Dari bawah Mora muncul berkas sinar kuning muda. Makin lama makin menggelap dan berkas jingga berbaur masuk. Makhluk itu membungkus tubuh Mora dan membawanya ke atas dengan membentur dinding jurang beberapa kali. Tertusuk puncak tajam yang menonjol dan membuat tubuh Mora seolah di kocok ke atas dan ke bawah.
Begitu menjejak di tepi jurang Mora tak tahan untuk bertanya,”Apa tadi itu?”
Gadis berambut sebahu yang kini terlihat jabrik dan kusut dengan beberapa jumput rambutnya yang menegang ke atas menjawab dengan enggan.
”Apiku,”
Mora tertegun. Perlu usaha yang cukup keras agar ia berhasil menahan semburan tawanya keluar. Dibandingkan Alina, kejadian seumur hidup yang dilewati Mora tidak akan menjengkelkan melebihi ini. Api buatan Alina tidak panas. Sama sekali tidak.
”Terima kasih atas bantuannya, Alina. Sayangnya aku buru-buru. Kalau tidak, aku pasti mau saja melihatmu berlatih dengan api,”Mora melebarkan senyumnya.
”Sampai jumpa…!”Mora berlari melesat seperti sebelumnya.
“Temmora!”panggil Alina terdengar bingung. Mora berhenti dan menengok. Selembar kain kecil melayang ke arahnya.
”Ikat kepalamu jatuh!”
Ia ketahuan?
***
Tidak sampai limabelas menit kemudian, Mora tiba di depan rumah Bate Shasha dengan keringat meluas dimulai dari ketiak, dada, punggung hingga ke seluruh pakaiannya. Rumah Bate Shasha, penyembuh nomor satu, berdiri kokoh, terbuat dari kayu pohon besi yang kuat. Warnanya hijau muda menyakitkan mata. Terlebih di terik yang menyilaukan seperti hari ini. Pekarangannya luas dengan banyak macam pepohonan dan tumbuhan. Begitu kaki menginjak masuk, wangi bunga dan segarnya harum buah menyerbu hidung. Siapa saja, jarang ada yang bisa tahan untuk tidak memetik buah atau bunga di sana.
Dulu sekali, Mora pernah tergoda. Ia memetik buah yang bentuknya bulat sekepalan tangan. Warnanya merah jambu dengan semburat kuning-jingga. Isinya lembut dan wangi. Tidak begitu asam dan segar bukan main! Sayang, buah itu bukan untuk dimakan begitu saja. Itu salah satu obat atau racun tergantung cara meraciknya. Efek buah itu membuat Mora tuli dan tak kasat mata selama berminggu-minggu. Buah Spinya. Sepi dunianya. Mora tak tahan jika mengingat hal itu. Hal sebodoh itu.
“Temmora! Hentikan itu. Kau pikir sudah berumur ribuan tahun hingga pantas untuk berkeluh walau hanya dalam hati?”seruan lantang dari dalam rumah cukup membuat Mora menciut dan merasa usianya kembali ke tiga purnama dan pantas dimarahi dengan galak oleh nenek tua seperti Bate Shasha.
Mora melangkah masuk dengan cepat-cepat.
”Cuci kaki dan tanganmu! Lakukan jangan terburu-buru. Kau kira dunia ini dibikin dengan terburu-buru? Untuk apa berdesak-desakan dengan banyak orang atau jatuh ke dalam jurang jika semuanya tidak bisa ditangani dengan baik?”
Bate Shasha terlihat tidak pernah berubah sejak dulu sekali. Menurut orang-orang ia bisa saja tampil secantik anak muda usia sepuluh purnama. Bukan seperti tampilannya saat ini seperti perempuan di usianya. Perempuan yang sudah sangat tua. Tua sekali. Bahkan usia dunia lebih muda dari dirinya. Ia bertubuh kecil dan kadang terlihat seperti tembus pandang. Ia berbau kayu manis. Seperti sebuah kenangan.
“Makanlah dulu,”ujar Bate Shasha yang terdengar seperti perintah di telinga Mora.
”Tidak, terima kasih. Belum lapar,”
”Kau sudah menghabiskan tenagamu untuk menyimpan hal-hal yang harus disembunyikan. Belum lagi sepanjang hari kau mendesah panjang-panjang dan berkata-kata kecuali keluhan. Itu semua menghabiskan energi. Makanlah dulu. Kau sebenarnya lapar,”
”Tidak juga,”
Bate Shasha melepaskan tatapan tajam yang menegur. Ia menyodorkan sepiring kacang merah ke arah Mora. Kacang merah yang pipih penuh dimasak hingga pecah dan memperlihatkan dagingnya yang putih bak mutiara. Ianya disiram gulai hitam yang dibumbui wewangian daun-daun asam pedas. Di atasnya ada irisan hijau dan kuning yang menguarkan wangi jeruk manis. Kemudian Bate Shasha menyodorkan piring besar satu lagi berisi paha unta yang lebih besar dari paha Mora.
Mora ingin mengatakan tidak sekali lagi. Namun ia yakin pada akhirnya ia harus memakannya juga. Jadi, Mora merasa benar-benar kenyang.
Diawasi Bate Shasha yang seolah tidak ingin satu biji kacang merah luput dari suapan Mora, ia mengunyah pelan-pelan hingga piringnya licin. Ini seperti makan terakhir terpidana mati, pikir Mora. Bukan berarti ia pernah melihatnya, hanya pengetahuan itu ada di sana.
Pengetahuan itu ada bersamanya selalu. Mora membeku mendapati pengertian kalimat itu menyerapnya dalam kilasan peristiwa yang entah kapan.
Keinginan-keinginan yang membakar tumbuhan dan akar-akar batu hingga debu. Angkasa melemparkan bintang-bintang. Gunung-gunung menghantam lautan. Es-es mencair di bumi dan di langit. Api menghilang tergantikan kegelapan panas yang tak bersumber. Mimpi-mimpi kosong. Orang-orang bersimbah darah. Kehidupan menggila.
Lalu rasa bersalah menghantam Mora bagai lemparan pisau menembus dada. Ia mencari nafas ke dalam paru-paru. Nafasnya seolah berubah menjadi besi panas. Membara. Cengkraman kuat seperti membuat luka menekan punggungnya hingga kibasan besar seperti awal badai membuatnya terhuyung ke belakang. Ia tersadar. Sayap berkilauan menampilkan semua warna mengembang di balik tubuhnya.
”Selamat datang Godem Lak baru,”
Entah sejak kapan, ruang tamu Bate Shasha dipenuhi beberapa orang yang tidak ingin ditemuinya dalam keadaan seperti ini.
Mereka tidak seharusnya melihatku begini, pikiran Mora memberontak.
“Harusnya bagaimana?”tanya nyaring yang memekakkan telinga itu berasal dari Bantha, Putra Kehidupan. Bocah cerdas berusia empat purnama.
Sudah kukatakan padamu sebelumnya. Mereka akan datang dan mendukungmu. Suara Godem Lak si Tuan Pencipta di beberapa purnama yang lalu seolah mengejeknya kini. Pengetahuan yang tak berguna!
“Aku bukan Godem Lak yang baru. Tidak untuk masa ini,”ucap Mora berusaha mengatasi rasa bersalahnya dengan lebih yakin.
Godem Lak yang baru akan memicu kegilaan pada Godem Lak yang lama. Kemudian energi penguasa lama itu menenggelamkan dunia dalam nestapa, hingga akhirnya Godem Lak yang baru memenangkannya.
“Jadi sayap berkilauan itu hanya hiasan kreasi yang sementara saja?”tanya Bantha dengan wajah polosnya.
“Atau kegilaan Tuan Pencipta hari ini yang menyeret langit lebih dekat hanya sakit biasa yang bisa disembuhkan Bate Shasha?”timpal tanya Nueja pemilik ribuan purnama mimpi-mimpi. Orang terkasih dan dikasihi Godem Lak.
“Atau bagaimana dengan kilauan perak rambutmu dan tatapan matamu yang bisa membuat semesta runtuh?”ujar Bate Shasha.
“Matanya yang mana?”tanya Bantha ngeri.
Sebelum Mora bersuara, lolongan yang sahut menyahut menghentikan semuanya, bahkan angin.
“Tidak mungkin!”seru Nueja kaget,”Ini belum lagi senja,”desisnya menatap Mora lekat-lekat.
“Kehidupan mulai meninggalkan Godem Lak si Tuan Pencipta,”ujar Bate Shasha terdengar sangat sedih.
“Bukan,”geleng Bantha,”Kehidupan menyingkir dari si Tuan Pencipta dan memilih di sisi Godem Lak,”ucapnya penuh keyakinan.
“Jangan begitu,”pinta Mora pada Bantha. Putra Kehidupan itu melengos. Hawa tidak enak membekap dada Mora. Perasaan kehilangan dan keinginan memberontak memeras hati hingga terasa sakit.
“Begitu bagaimana?”
“Begitu seperti pilihannya hanya antara kehidupanku atau kemusnahan Godem Lak si Tuan Pencipta. Begitu seperti setelah semua kekuatan untuk menjaga kehidupan manusia, kita tidak berdaya menjaga kehidupan kita sendiri. Kehidupan penguasa kita. Begitu seperti kita hanya bisa menjadi boneka bodoh oleh yang kita sebut takdir. Ia yang tak ada bedanya dengan kita”
Bate Shasha menganggukkan kepalanya,”Memang begitu tepatnya,”
Walaupun ingin sekali mengguncang orang-orang di depannya atau berteriak hingga putus urat lehernya, seperti sudah terlatih Mora hanya menggelengkan kepala membalas ucapan Bate Shasha, “Tidak akan. Bukan untuk itu aku dinamakan Temmora,”
Ada kisah untuk Temmora. Nama yang tersimpan dalam mimpi-mimpi saat dunia masih sangat muda. Dia anak seisi dunia. Dengannya Godem Lak berumur panjang. Padanya kehidupan mengambil warna-warna. Lalu kisah-kisah itu bertemu keinginan dan ambisi, mereka bersekutu mencemburui Temmora. Kebahagiaan pelan-pelan lenyap. Duka nestapa kemalangan bertubi-tubi datang. Orang-orang saling berperang tak berkesudahan. Tak ada yang mampu menghentikan. Dunia manusia tersia-sia dan kehilangan arah. Untuk itu, takdir datang menawarkan dirinya pada Godem Lak. Ia menentukan batas-batas keinginan dan ambisi. Ia melakukan perjanjian dengan seisi dunia. Kecuali Temmora, takdir tak bisa menyentuhnya.
“Si Tuan Pencipta menamaimu Temmora. Dan menyembunyikan arti nama itu hingga angin pun tak bisa mengenalinya,”Nueja menelengkan kepala. Ia menipiskan bibirnya seperti menggambar senyum di sana,”Bahkan si pemilik nama tak pernah tahu,”
Mora menyentuh kepalanya dengan kepalan tangan, “Hanya pada awalnya aku tak tahu,”kemudian Mora menepukkan kedua punggung tangannya tiga kali.
“Pesan untukmu Bate Shasha,”ucap Mora dengan khidmat.
Liukan asap putih keluar dari tangan Mora membentuk pesan yang hanya bisa di baca oleh Bate Shasha.
Perempuan tua itu mengernyitkan kening. Setiap orang yang berusaha mendengarkan pikirannya, mungkin tidak mendapatkan apa-apa. Orang kepercayaan Godem Lak si Tuan Pencipta, memang harus mempunyai kemampuan tinggi menyimpan pikiran. Bate Shasha adalah orang kepercayaan Godem Lak si Tuan Pencipta. Tapi, Mora juga memiliki kemampuan yang sama dengan Godem Lak, mungkin melebihinya. Jadi…
“Temmora! Bisakah kau tidak ikut membacanya keras-keras di dalam pikiranku?”tegur Bate Shasha membulatkan matanya ke arah Mora.
Mora tersenyum salah tingkah.
Lalu Bate Shasha menatap tajam-tajam setiap orang. Mereka bertiga.
“Si Tuan Pencipta memberitahu kesadarannya mulai menghilang. Kegilaan sebentar lagi dimulai,” lalu Bate Shasha mengungkapkan isi suratnya. Sesekali lewat pikirannya, sesekali lewat ucapannya. Bahwa si Tuan Pencipta menduga ada jalan lain untuk kehidupan dunia ini selain jalan yang selalu mereka tempuh. Ia akan menempuh jalan itu, jika ia bisa menemukan satu saja sekutu. Namun ia tidak menemukan sekutu itu sepanjang hidupnya. Jika jalan itu ditempuh Temmora, semoga seisi alam raya menjadi sekutunya. Seberat apapun itu.
“Apakah yang dimaksudkan itu harapan? Jalan yang akan mematikan keinginan dan ambisi serta memudarkan kehidupan. Buah dari pohon do’a yang terlupa. Ia yang dapat menundukkan takdir,”ucap Bantha keras-keras dengan satu nafas.
“Kau mengetahuinya dari mana?”tanya Nueja terkejut. Semesta yang mendengar ikut berguncang membuat Bate Shasha mengirimkan getaran penenang yang besar.
Bantha memindai loteng rumah Bate Shasha sebelum menjawab,”Dari manusia,”jawabnya rikuh.
“Mereka memang pintar tapi sering lupa,”ucap Bate Shasha tersenyum.
Mengumpulkan harapan dari orang-orang. Mendorong manusia percaya akan harapan. Sambil membiarkan mereka mengalami kesedihan dan kemalangan yang tak ada hentinya. Itu mungkin seperti membawa manusia pada zaman kegelapan.
Mendengar itu mata Bantha bersinar dengan tegas,”Itu jalan yang sulit, tapi kehidupan pantas melakukannya,
“Jadi kau percaya padaku?”seru Mora menahan dirinya untuk melonjak girang. Mudahnya ia mendapatkan satu sekutu.
“Aku selalu percaya padamu. Walau sempat ragu karena kau menyimpan rahasia dalam pikiranmu hingga rambutmu memutih,”ujar Bantha merengut
“Ini rambut Godem Lak!”tegur Mora setengah hati.
“Aku tahu,”
“Karena Liana melihatnya hari ini maka kekuatan Godem Lak milikku menguat,”
“Aku tahu,”
“Eh. Jadi Liana tahu tentang aku?”tanya Mora terkejut
Bantha mencondongkan tubuhnya ke arah Mora. Usia mereka terpaut beberapa purnama,” Dia itu pengawal setia si Tuan Pencipta. Aku harus berulang-ulang menjamin bahwa jika kau benar-benar adalah Godem Lak yang baru, kau tidak akan membunuh Godem Lak si Tuan Pencipta,”
“Tidak akan.”tegas Mora sedikit tersinggung.
“Untuk jalan yang kau tempuh, kau harus memasung kekuatanmu,”ucap Bate Shasha hampir-hampir tak terdengar. Namun alam raya yang mendengar kembali berguncang.
“Itu memang diperlukan,”
“Lalu dengan namaku, Temmora, buah pohon do’a marilah tetapkan hati kalian untuk menanggung kekacauan yang diperbuat Godem Lak si Tuan Pencipta,”ujar Mora dengan sungguh-sungguh, “Kita akan menyemaikan harapan agar Godem Lak si Tuan Pencipta tetap menjaga dunia hingga batas akhir yang sebenarnya, hingga damai menjemputnya menemui Gagasan Yang Tertinggi. Harapan yang terucap dari setiap hati dan lidah semua makhluk. Harapan yang akan mematahkan kutukan takdir,”
“Aku mungkin terlalu bebal jika tidak mempercayai hal itu sekarang,”sambung sang pemilik ribuan purnama mimpi-mimpi dengan yakin,”Mimpi-mimpi akan menghadirkan kembali nama yang sudah lama hilang. Mereka akan merajut kenestapaan menjadi harapan dan semangat,”
“Kehidupan di beberapa tempat mungkin akan hancur. Tapi di belahan lain selalu ada tunas muda yang muncul. Itulah harapan,”ujar Bantha mengepalkan tangannya ke atas dengan semangat.
Bate Shasha tersenyum. Mora melihat setitik air mata di sana. Temmora!
Bantha menarik celana Mora dengan tiba-tiba.
“Temmora, apa arti namamu hingga harus disembunyikan oleh Godem Lak si Tuan Pencipta?”
Terdengar desah nafas panjang dari Nueja dan Bate Shasha. Sepertinya merasa terpedaya mengagumi kecerdasan yang tadi diperlihatkan Bantha Putra Kehidupan.
Di luar Mora mulai merasakan kegilaan yang mengendap-ngendap di sekitar Godem Lak. Seperti keteguhan yang mulai berdengung di telinga setiap orang. Mora tidak bisa memaksakan jalan yang ditempuhnya untuk menjadi jalan satu-satunya yang mereka percayai. Tapi ia yakin pada harapan.
Jika saatnya nanti, semoga harapan mencipta ulang keberadaan.
Angin membawa ucapan itu hingga ke setiap buaian.
Sedang Bantha melipat tangannya di depan dada, menunggu jawaban Mora.
—
Agustus 24, 2010 at 5:53 pm
untuk seseorang dengan iq jongkok seperti saya, cerita kamu ini bener-bener too high! beyond every imagination.
Satu-satunya bagian yang saya suka adalah pada bagian:
“Dengan meneguhkan hati ia kembali melangkahkan kakinya lebih cepat. Kali ini berlari. Dan…
”Bhhuaaa!…”Mora jatuh bergulingan ke dalam serupa jurang dari es yang ada di tengah-tengah jalan.”
saya emang paling demen sama adegan yang ada “gedebak-gedebuk”-nya, hehehe.
Thanks, el. Great story indeed, but one thing for sure, this is definetly not for a kids. I love kids anyway, :p
Agustus 24, 2010 at 5:57 pm
enggak ngerti nih… >_<
*garuk2 kepala*
nanti dibaca lagi deh… xD
yg bagian awalnya bagus, elbintang
tapi yg pas ketemu si mora ketemu alina itu kok berasa agak tempelan
duh… kayaknya memang harus ngulang lagi nih… ^^'
Agustus 24, 2010 at 6:43 pm
Argh. My bad.
Roedavan : untk anak-anak mungkin akan gw coba cara pencritaan yang lain.
Juga…mungkin bukan salah iq Roed atau baca 1x nya Fred. Kemampuan gw-nya yg dodol. *jedotin kpala di bantal*:p
uhm brasa tempelan ya? Mungkin kerna Liana gak muncul lagi? Petir dan pengetahuan ada hubungannya siy.
terima kasih komennya. Love y’
Agustus 24, 2010 at 6:47 pm
*bingung*
ceritanya belum selesai kah? dan wow. elbintang, cerita ini bener2 berat banget. ga nyampe deh imajinasiku… >.<
satu hal dari cerita ini, aku sangat suka caramu berdeskripsi. bahasanya indah banget.
Agustus 25, 2010 at 12:57 pm
dari mananya bisa terbaca belum selesai?
Agustus 24, 2010 at 7:49 pm
Bhhuaaa!
berat ya? T.T
Skill gw. Skill gw yg rada cupit.
*ah gak berkembang nih gw*
tengkiyuh Anggra udah baca dan komen.
Agustus 24, 2010 at 9:32 pm
Mantab! Memancing fantasy abibes niy, penokohannya juga unik.
ahahaha
saya nangkepnya, itu cerita tentang para staf semesta yang ditokohkan, terus si Temmora nyamar dulu jadi staf biasa, terus dia ketauan.
Ada siklus : ada Godem Lak baru, Godem Lak lama jadi gila, menyebabkan kiamat?
Terus Godem Lak ga mau siklus ini ngulang, makanya ada si Temmora sebagai kunci bersekutu dengan manusia. Godem Lak baru+ Godem Lak lama = kiamat
Godem Lak + Temmora + harapan manusia = ga seutuhnya hancur.
Bener ga sih?
*digetok karena sok tahu banget*
Agustus 25, 2010 at 2:08 am
Iya ya. Ada juga cara baca begitu.
Enaknya fantasy ada multitafsir di sana.
*Menyodorkan kacang merah ke Smith61*
tengkiyu for kaming en komen.
Agustus 25, 2010 at 5:13 am
Jujur saja ya, aku termasuk kelompok yang tidak suka bahasa berbunga-bunga. Kalau dalam genre lain mungkin bisa tampak indah, tapi kalau dipakai di genre ini, malah tampak membingungkan antara yang hanya sekedar ungkapan atau tidak—semuanya jadi serba bias. Dan alasan lain kenapa aku tidak suka, karena bahasa seperti ini lebih menguras tenaga. Ada batas tertentu otakku masih menerima, tapi kalau terlalu parah boro-boro konsen di cerita, mencerna kalimatnya saja udah sampai bercucuran air mata, bergelimang peluh yang turun menganak sungai.
Oke, aku tidak bisa lanjut (lain waktu akan kucoba baca lagi). Satu yang menjadi beban pikiranku, cerita ini ditujukan untuk kalangan pembaca seperti apa? Rasanya ini mirip dongeng anak, tapi bahasanya tidak memungkinkan untuk dicerna dengan santai. Kalau mau dibuat prosa-liris seperti halnya myth-myth yang ada di dunia kita, maka ini terlalu absurd dan kurang punya pegangan kuat. Kemungkinan terakhir yang terpikirkan olehku ini dibuat sebagai permainan simbol yang menginginkan pesan-pesan tersembunyinya dipecahkan dengan interpretasi tidak terbatas. Mungkin dari penulisnya ada pembelaan tersendiri?
Agustus 25, 2010 at 8:10 am
Bahasa berbunga-bunga? Ahaha gw gak tau bagian yang mana itu. Kalau semuanya, wah parah ya gw. He.he
gak ada pembelaan apa-apa kok. It’s ur time.
Agustus 25, 2010 at 12:53 pm
kayaknya ini sama sekali bukan ditujukan buat pembaca anak2 deh,
*nebak2 buah manggis*
Agustus 25, 2010 at 12:56 pm
bisa aja Fred. Tapi dibacakan. Gw menceritakan ke murid-murid gw kok. heuheu
Agustus 25, 2010 at 10:06 am
wow wow wow, sis!
berat tapi keren
never read anything like this before XD
bagus sekali pada saat penceritaan kisah yang bukan action. tetapi aga sedikit membingungkan pada saat penjelasan aksi fisik karakter2nya. mungkin kalau ditambah beberapa baris penjelasan lagi, mungkin, bisa jadi lebih baik
u got ur style! =)
Agustus 25, 2010 at 1:00 pm
ah ya, Kirzo. Gw kan pembelajar fantasy yang rada lemot. Di kasi tau dong, bagian aksinya yang mana yang bikin bingung. *ngelunjak gw*
tengkiyuh for komen yeuh…
Agustus 25, 2010 at 3:27 pm
wah kebalik sis. kayanya aq yg harus bnyk blajar penggambaran sperti yg sis pake
(perasaan gw yg ngelunjak) XD
same2 =)
Agustus 25, 2010 at 10:53 am
Rame bgt ya d sini…
Agustus 25, 2010 at 1:01 pm
Begini kalo fantasi berpesta Alfian. Mangga di tampih
Agustus 25, 2010 at 1:01 pm
Gw udah baca dan gw coba komen ya.
Bahasanya indah dan penulisannya bagus, sialnya, sampe akhir gw nggak nangkep ini cerita tentang apa.
Semacam suksesi kepemimpinan/kekuasaan dengan latar siklus yang selalu berulang, lengkap dengan makna nama yang tidak diketahui, tapi apaaaa? Apa yang sebenernya terjadi?
*ambil gitar dan mulai berdendang* Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang …
Agustus 25, 2010 at 1:04 pm
ah Ewing. Blame it to my skill…
Agustus 25, 2010 at 1:16 pm
Bukan soal skill sih kalo kata gw, la wong penulisan, gaya bahasa dan diksinya paten kok, heuheuheu.
Tapi mungkin sedikit kejelasan soal apa yang terjadi bisa amat membantu pembaca seperti gw (yang terlalu malas untuk mikir) untuk lebih mengapresiasi cerita yang sesungguhnya telah dibungkus teknik penulisan yang sangat mumpuni ini.
Agustus 25, 2010 at 1:34 pm
Erm, sejujurnya gw berkomentar kurang lebih sama dengan ewing.
Dari segi tata bahasa, diksi, dst semuanya bagus, tapi rasanya seperti dihadapkan pada lukisan abstrak (sbnrnya di real-life jg gw blm pernah ketemu lukisan abstrak) dan gw diharapkan menginterpretasikan.
Well, apakah otak gw yg gak mampu ato gimana?
Hehe.
Agustus 25, 2010 at 1:52 pm
Ewing dan Juu :
ew. kalo pencerita gak berhasil menjelaskan apa yang dicritakan ke pembaca, ada masalah di skil bercritanya kata gw. Mungkin bukan tehnis penulisan…
Penjelasan? uhm berpikir…
selalu tengkyuh Ewing, Juu, gw senang belajar dari komentar-komentar begini *mengasah pensil*
Agustus 25, 2010 at 1:57 pm
Maksudnya mungkin cerita ini perumpamaan tentang siklus penciptaan dan kiamat yang berulang-ulang. Satu-satunya yang tetap dari siklus itu adalah keberadaan “pohon doa” (a.k.a harapan)yang berperan sebagai penjaga agar siklus itu terus berjalan.
Intinya, dari harapan akan lahir awal baru kli ya?
Aku perlu 4 kali baca untuk mengerti sampai segitu. Benar salahnya pun aku ga yakin.
Tapi kalau tebakanku bener, aku rasa cerita ini kurang to the point. Getokannya ga cukup kenceng buat masukin poinnya ke kepalaku.
Agustus 25, 2010 at 2:12 pm
uhm. Gw bermasalah dengan getokan pointnya, ya…
mungkin bukan inti critanya Luz, tapi ya gw bercrita tentang hal itu juga.
*Argh help me, serius ini masalah serius. Gw gagal bercrita nin keknya*
Agustus 25, 2010 at 7:46 pm
*makan kacang merah*
Agustus 26, 2010 at 2:34 am
Ada buah spinya, mau? He.he
Agustus 25, 2010 at 8:56 pm
*ngintip cerpennya orang yang mnang taun lalu

hehe
dan emang kamu pantas menang
konsep ceritanya bagus loh
cuma aku pikir agak kaku aja, maksudnya kurang luwes untuk di baca semua umur (termasuk anak2)
dan cerita ini pantas untuk dibaca berkali2, soalnya sekali aja aku blom ngerti
good job
Agustus 26, 2010 at 2:13 am
Njhyaaa…gw gak kuat sama sindiran kek ginih
gw belajar sedikit demi sedikit *lemot ya gw* otak gw bagian crita mana yg gak mulus di pembaca.
Dan harus segera diselaraskan. Gw kan pencerita bukan pembuat kuis he.he
terimakasih sudah mampir baca dan komen.
Agustus 25, 2010 at 10:01 pm
hyaa kereeenn
kayaknya kk elbintang emang suka cerita yg model begini ya?
kayaknya yg taun lalu juga… (digetok gara2 geje)
tapi yg taun lalu lbh gampang dimengerti otak karatan saya hehe
yg ini malah saya nangkepnya harapan vs takdir
kayaknya otak daku emang tambah karatan deh (garukgaruk)
moga2 taon ini menang lagi kk XD
Agustus 26, 2010 at 2:18 am
Tengkiyuh sudah baca dan mampir, Yin.
He.he iya gw nulis di cerpennya takdir vs harapan.
Simpulnya setelah baca berapa kali, Yin?
Love y’
Agustus 26, 2010 at 9:08 pm
hee beneran kah??
**soraksorakgirang XD
cuma baca sekali kk
mungkin saya emang sedang beruntung
hehe
Agustus 26, 2010 at 3:29 am
Eh, gw bukannya mau menjatuhkan ya, tapi gara-gara orang pada ribut bilang sulit dimengerti tapi KEREN! gw jadi bingung, gimana mereka bisa bilang keren kalau ga ngerti? Lalu coba cek di wiki deh, atau kalau masih ga percaya coba cek di teks book jaman sekolah, cari pengertian tentang cerpen. Apa yang identik dengan cerpen? Biasanya kita dapat jawaban: “Cerita yang habis dibaca sekali duduk”. Silakan merenung sendiri, sama seperti kita semua merenung “Ini cerpen ngomongin apa sih?”
Agustus 26, 2010 at 4:05 am
Ada ya yang bilang begitu?
kata Temmora jalan yang dipilihnya adalah yang terbaik tapi ia tidak bisa memaksa setiap orang setuju dgn apa yang dipilihnya. Tapi berharap mereka akan mengerti adalah kemestian dirinya. He.he
soal cerpen, liat apa ya dirimu kutip. Bacaan yang selesai sekali baca. Bukan bacaan sekali baca selesai dan dapat dimengerti, dimaknai dan diambil hikmahnya. He.he. Itu pengertian yang dipake untk panjang dan waktu bacaan say. They mean to seperate with cerber defenition.
Love ur comment at all
Agustus 26, 2010 at 4:23 am
Maaf berat udah berkata begitu El, sumpah aku ga ada maksud menghina. Ini mengingatkanku pada keseharian di kampus, di mana aku biasa disodorin cerita, yang sumpah mampus gw berani bilang jelek, tapi kita dipaksa mengerti isinya. Ujung-ujungnya kita dipaksa kasih pujian untuk sebuah nilai, atau kalau tidak kita bakal dilirik dengan alis terangkat seolah-olah kita ini keterbelakangan mental yang ga bisa ngerti apa bagusnya karya ini. Sumpah mampus gw udah bilang jelek tapi tetep aja keadaan memaksa. Gw ga mau ngulang mulu matkul tersebut dan gw selalu nahan diri biar ga berkelahi dengan dosen!
Saran lainnya, coba kamu lempar cerpen ini ke komunitas sastra. Gw bisa jamin seyakin-yakinnya mereka akan langsung teriak, “Masterpiece!” Semakin mereka sulit ngerti semakin cepat mereka teriak kayak gitu. Dan itu salah satu dari deretan alasan kenapa gw benci kalangan sastra, seperti yang pernah aku singgung waktu komentarin punya Luz (sebenarnya ada hal lainnya, yang lebih membuatku mau muntah sama orang-orang kayak gitu).
El, tolong note, ini bukan komen. Anggap ini sebagai curhat gw aja, di bana dulu gw kira enak bisa kuliah di sastra ternyata malah tersiksa batin.
Agustus 26, 2010 at 4:38 am
Dari wiki, (http://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek)
“Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang”
“Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan.”
“Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.”
Genre dalam cerpen: “Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa liris dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.”
Agustus 26, 2010 at 5:24 am
Ew. Gw suka komen model curhatnya
but for sure, kutipan yg lu pake itu adalah cara ato pengertian penulisan cerpen. Bukan cara baca cerpen. Kalo ambil pengertian itu, cerpen gw gak ada masalah.
Kalo yg dimaksud itu plot yg tidak rumit, pny gw juga gak rumit kok he.he.
Lucunya, cerpen ini tidak bermasalah waktu gw bacakan di anak2 sd. Mereka cuma protes crita makanan. Soalnya pas jam 10 pagi bacanya dan mereka lagi shaum (puasa).
Dan gw baru inget untk bilang kalo gw sama sekali gak bermain simbol dalam crita ini. Gw buka-bukaan.
Gak bermaksud nyastra sama sekali kerna gw juga gak terlalu paham tentang itu.
Jangan khawatir memuntahkan apa yg ada di benak lu tentang tulisan gw ini.
Berarti banget buat gw.
Yea. masa kuliah memang menyeramkan.
Agustus 26, 2010 at 5:31 am
yup, tololnya gw kadang kekanak-kanakan. Dan sekali lagi, janganlah itu dianggap komen, membuatku semakin merasa bersalah…
Mengenai kutipan itu, tenang aja, kan dia selalu bilang, “kecendrungan”, “biasanya”, “pada umumnya”, dll
Agustus 26, 2010 at 8:12 am
Permintaannya dterima. Gw anggap curhat kok.
Gw balesnya dgn gaya curhat jg. See
-
focus topic
gw nanggepin posting sebelumnya ttg membaca kembali defenisi cerpen. Lu minta semua merenung. Thats mean ada definisi yg gw telikung di cerpen gw. Dan gw harus bilang ini : kutipan itu malah bikin posisi tulisan gw gak bermasalah. Dan itu yg bikin gw bingung. Lu mo nyampe-in apa?
Pasti sesuatu yg penting yang bikin lu mencak-mencak. He.he
kalo gak shaum gw hidangkan es timun serut, deh
…
..
Jangan merasa bersalah. Sante aje.
Agustus 26, 2010 at 9:32 am
Sebuah cerita… adalah tentang apa yang ingin disampaikan cerita itu dan/atau bagaimana cerita itu disampaikan… yah beberapa mungkin ada yang mementingkan SIAPA yang menyampaikan cerita itu.
-
Kurasa julukan tuan pencipta agak paradox dengan fungsi Godam Lak sebagai PENJAGA SEMESTA.
-
Yah mungkin karena itu ya si tuan pencipta cuma mendekatkan matahari, bukan menghancurkan bumi, terlepas dari kegilaannya.
-
ah… bagaimanapun cerita ini masih terlalu pendek…
Agustus 26, 2010 at 1:56 pm
Ias u r genius
Godem Lak si Tuan Pencipta bukan Gagasan Tertinggi yang mampu menghancurkan dunia termasuk bumi. Menghancurkan tempat di mana ia tinggal, mungkin. Mempengaruhi manusia dan jagad raya, mungkin.
Kalu si Temmora jadi Godem Lak mungkin namanya bakal Godem Lak Buah Pohon Do’a atau Godem Lak si Tuan Harapan.
Cerita ini memang sependek ini Ias, tahulah kemampuan gw menulis bagaimana :p
soal apa dan SIAPA…he eh can’t agree more than that
Tengkiyuh sudah mau baca dan berkomentar.
Agustus 26, 2010 at 9:21 pm
Mendengar bahwa cerita ini pernah dibacain ke anak2 dan anak2 ngerti membuat saya merasa otak saya sesimpel amoeba. orz
Apa gw mikirnya kesusahan ato gimana yah? Interpretasi dari saya gak bisa jauh2 dari “pergantian pengurus besar di sebuah sistem”. Sistem, nggg, sistem … Sistem yg seharusnya diatur oleh tuhan (“t” kecil, iya).
Hehe.
Agustus 27, 2010 at 12:16 pm
bukan Juu,
orang dewasa otaknya sudah lebih komplex. Hingga membaca sesuatu yang di luar kebiasaan akan mengartikan ke banyak simbol.
sedang anak-anak biasanya mengartikan sesuatu dengan arti yang sebenarnya.
Agustus 26, 2010 at 10:32 pm
gada kata2 laen kecuali
GJ!
Good Job!!!!!
keren bgt! gw gak kepikiran ampe sana!
bungakan!
Agustus 27, 2010 at 12:19 pm
hya.ha.
sepatu, dahlia, kamboja…
terima kasih sudah mampir dan baca, say
Agustus 28, 2010 at 8:32 pm
Mungkin cara kak elbintang kasih ke anak-anak dengan lisan atau tulisan kak…?
tapi kak sebenarnya soal Plot memang gak terlalu ribet, Plot simpel dan menarik…
namun soal pensimbolan itu…
memang dalam imajinasi saya ini cerita akan sangat indah jika masuk ke otak secara lisan. tapi saat kita membacanya dan menggambarkan satu kalimat dahulu ke dalam otak. swer ini Berat…
That’s it peace Out
Agustus 28, 2010 at 11:00 pm
Simbol? Sebenarnya gak ada simbol-simbolan, Van :p
tapi gw udah bisa tahu salahnya cerpen ini bercerita. Dodol gw. He.he
tengkyuh ya udah komen.
Agustus 31, 2010 at 6:16 pm
el, aku akan cb memberikan sedikit masukan dari sudut pandangku. semoga dapat memberikan kontribusi.
1. part penciptaan awal, ntah mengapa aku sebel sm “Godem Lak si Tuan Pencipta”. aku merasa dia bukanlah ‘pencipta’. tp hanya sebagai ‘penjaga’. keyakinanku yg muncul stelah membaca, sang pencipta semestinya adalah ‘harapan’.
2. krn point pertama, jd agak2 gmn gt pas ngelanjutin baca. feelingku merasa ada yg tak pas.
3. bagian penciptaan, aku menganggapnya ‘mode kiasan’. pas bagian penceritaan mora masuk, aku masuk ke ‘mode gamblang’ (mengartikan apa adanya). ceritamu imaginatif. terkadang diantara kalimat gamblang ada kalimat kiasan (terkadang aku bingung harus mengartikan suatu kalimat secara gamblang atau kiasan, karena pem’bahasa’an keduanya tidak terlalu kontras).
secara keseluruhan aku merasa n melihat ini adalah cerita yg indah. tp aku sedih tidak mampu menikmatinya secara ‘utuh’.
itu aja sih. maaf klo ada salah kata. aku berharap dapat memberikan kontribusi utkmu dr sudut pandangku yg kecil.
semoga bs menikmati cerita baru el lagi
September 3, 2010 at 12:47 pm
Fran…tengkyuh dah mampir dan baca
1. Godem Lak itu sifatnya bisa digantikan. Jadi bukan harusnya siapa. Karena siapa saja yang jadi Godem Lak hanya berarti bahwa masa manusia ‘kemungkina’ akan mengalami perubahan trend.
2-3 Sayangnya, Fran…gw nggak menggunakan kata-kata kiasan atau simbolik saat menulis ini. Mungkin persepsi gw itu yang nggak nyampe di pembaca. Bahwa : Kehidupan, Api, Mimpi-mimpi, Kisah-kisah, Keinginan, Ambisi, harapan, dll merupakan makhluk.
komentnya berkontribusi banget kok. Tengkyuh lagi dan lagi
Crita baru> pasti-pasti… ^_^
September 4, 2010 at 12:22 am
(aku memutuskan utk melanjutkan menambahkan kontribusi padamu. *weeew*
mari kita lanjutkan sedikit yaa…)
haa… konsep ‘semua adalah makhluk’ itu spertinya tidak tersuarakan cukup kuat sehingga tak berhasil kutangkap saat baca. ah, aku setuju denganmu.
saat aku membaca penjelasanmu itu n cb baca ulang, ada banyak virtualisasi yg muncul jauh lebih jelas.
btw, aku masih penasaran Godem Lak. Apa saja yg merupakan ciptaan barunya?
mengenai bukan kata2 kiasan/simbolik, aku ambil contoh kalimat pertama yah.
cb bantu aku memahami kalimatnya.
“Pada awalnya sebuah biji dari pohon do’a yang menetap di hati menjadi harapan”
apakah pohon doa itu benar2 ada? apakah dia memang berbiji? jika ya, apakah biji tersebut dapat masuk dan tinggal di hati? hati siapakah? apakah biji tersebut akhirnya berubah menjadi harapan? harapan yg seperti apa? harapan yg menjadi sumber seluruh harapan di seluruh dunia?
temmora ini menjadi jauh lebih mudah utk diinterpretasikan.
seandainya…
September 4, 2010 at 4:05 am
Iyap. Gw bercerita dahulu, awal sekali…sebelum dunia ada, Gagasan Tertinggi (gw gak named here) menciptakan pohon do’a. Yang berbuah. Salah satu buahnya adalah harapan. Kemudian disabdakan kekal dalam hati setiap makhluk.
Nah, bahkan pada Godem Lak (siapa saja) biji itu juga ada. Dulu yang menjaganya adalah Harapan hingga saat Takdir membuatnya diasingkan oleh semesta.
Kreasi seperti sungai cokelat di langit, pelangi yg berdenting itu hanya kekuatan penciptaan sementara yg dipinjamkan Godem Lak pada makhluk semesta. Pada dasarnya masing2 makhluk hanya bisa memproyeksikan dirinya dgn sebagai apa dirinya untk manusia. Mis, Liana bisa membuat api karena putri Petir tapi ia juga bisa bikin hal2 lain yg sifatnya sementara kalo dilatih seperti membuat hujan membeku.
Begitu keadaannya kalo Godem Lak nya yang terpilih adalah si Tuan Pencipta. Di alam manusia, Godem Lak si Tuan Pencipta menghasilkan imajinasi.
Dan ini bukan tentang siapa yang harus jadi Godem Lak.
Selalu tengkyuh Fran ^_^
September 4, 2010 at 12:38 pm
gw nggak named here maksudnya there (in the story)
Agustus 31, 2010 at 9:28 pm
Jadi… intinya ada pohon. Dari pohon ini segala sesuatu di alam semesta diciptakan berdasarkan harapan semua orang yang terlibat. Yang ngejaga dan ngelola ni pohon itu si GL, karena itu dia disebut si tuan pencipta, dan kedudukannya diganti dari generasi ke generasi.
Cuma, entah dari otak dan khayalan siapa, ato mungkin juga akibat akumulasi semenjak masa lalu, pikiran-pikiran negatif mulai merasuki ke pohon doa dan bahkan mempengaruhi si GL terkini sendiri. Kayak proses umpan balik, hal-hal negatif terus memasuki pohon doa dan secara perlahan tapi pasti mengacaukan semesta.
Hanya Temnora, identitas sesungguhnya dari seorang gadis sederhana, yang terbebas dari keterikatan pohon doa terhadap semesta, yang berpeluang mengembalikan segalanya seperti semula. Demi menemukan kembali ‘harapan’ yang telah sedemikian lama tak terbuahkan dari pohon doa, ia menerima tugas barunya dan memulai perjalanannya.
___
Intepretasinya gini bener ga sih?!
September 3, 2010 at 12:57 pm
dari mana dapat kesimpulan kalo Temmora itu perempuan?!?
Hai Alfare,…ck cara bacamu menyeramkan
he.he…(dan gw berpikir, kenapa juga idenya gak kubikin seperti ini)
Godem Lak nggak menjaga Pohon Do’a. Godem Lak menjaga semesta. Pohon Do’a ada bersama Gagasan Tertinggi.
“Ada kisah untuk Temmora. Nama yang tersimpan dalam mimpi-mimpi saat dunia masih sangat muda. Dia anak seisi dunia. Dengannya Godem Lak berumur panjang. Padanya Kehidupan mengambil warna-warna. Lalu Kisah-kisah itu bertemu Keinginan dan Ambisi, mereka bersekutu mencemburui Temmora. Kebahagiaan pelan-pelan lenyap. Duka nestapa kemalangan bertubi-tubi datang. Orang-orang saling berperang tak berkesudahan. Tak ada yang mampu menghentikan. Dunia manusia tersia-sia dan kehilangan arah. Untuk itu, Takdir datang menawarkan dirinya pada Godem Lak. Ia menentukan batas-batas Keinginan dan Ambisi. Ia melakukan perjanjian dengan seisi dunia. Kecuali Temmora, Takdir tak bisa menyentuhnya”
kalo gw tebalin kek gitu bisa beda, nggak?
tapi cara bacamu paling tidak lebih jelas dan ada kemiripan dengan crita yang gw ingin sampaikan.
Tengkyuh…
September 4, 2010 at 4:16 pm
el, aku datang lg
disini dirimu menciptakan dunia baru dimana sifat dan kelakuan objek2 didalamnya cukup berbeda dan baru.
tanpa penyebutan ‘semua adalah makhluk’ dan ‘ini adalah dunia berbeda dgn yg biasa anda bayangkan’, banyak hal terterima sebagai kiasan.
dunia yg dirimu ciptakan besar dan baru, el. sementara pendefinisiannya kurang. dan kuota kata juga sangat terbatas. ukh…
aku kabur ah el (nyodorin teko minta bagian sungai cokelat)
September 7, 2010 at 2:38 am
Masalahnya bukan pada kuota kata kok ^_^
yea, seperti yg gw bilang ke koment2 sebelumnya, ini masalah cara bercerita.
1. Detail untk tulisan ini tidak gw perlihatkan dgn baik. Ada juga yg salah.
2. Gaya bahasa yg gw pake ternyata semena-mena menganggap pembaca ‘sekali baca’ pasti bisa :p
sadarnya pas baca Si Pelukis punya Fred. Gw langsung ber o-panjang sadar bgmn pembaca melihat tulisan gw.
Tulisan gw dan Fred beda banget cara bertuturnya tapi perumpamaan, simbolik dan lainnya…hhh pantes pembaca mengira tulisan gw perlu rada diterjemahkan kembali
Datang lagi Fran, gw terbantu lho.
Kali lain pilih saja m naik pake apa k sungai cokelat. Pake gayung, balon, awan, payung atau lainnya ^_^
September 5, 2010 at 5:38 pm
Aduh, El, beribu-ribu ampun dan maaf. Aku gak nangkep inti ceritanya. Yang kutangkep sih (entah benar ato salah, tapi sepertinya salah) tentang pergantian posisi Tuhan Semesta Alam. Entah kenapa kubayangin Tuhannya itu ibarat Yggdrasil. Gara-gara pohon kali ya?
Tapi mendinglah. Yang taun ini, aku berhasil baca ampe beres. Yang taun lalu, aku hanya kuat ampe setengah doang. Lumayan, peningkatan. Semoga taun depan, aku beres dan ngarti baca ceritanya.
Adegan paling suka: ‘seperti kenangan’ duh kiasan yang pas banget!
Adegan paling gak suka: apaaaaaaaaaaa ya……? (keliatan banget baca kurang menghayatinya)
Harapan: taun depan skillku membaca cerita makin nambah dan bisa makin ngerti. (Haha, ini sih harapan buatku sendiri). CHEERS!
September 7, 2010 at 3:51 am
Ya, nggak harus dipaksain baca juga kali, bro ^_^
dan baru dirimu yang bilang cerpen Temmora lebih ringan dari Wan dan Na :p selera baca orang memang penuh misteri…
Ya, selainnya “Temmora” memang selalu ada di hati setiap makhluk, kan. So, still hope ^_^
September 6, 2010 at 4:28 pm
el,
setelah makan buah spinya satu kali gigitan (enggak berani terlalu banyak, takut pengaruhnya terlalu kuat) dan membaca dua kali putaran lagi…
gw akhirnya memutuskan kalau cerpen ini… bagus!
ceritanya, fantasinya, pemilihan kata-katanya… keren!
cerita ini sebenernya agak2 mirip bahasannya sama cerita gw (ternyata! -> gw baru ngeh >_<),
kita sama2 ngomongin soal takdir, pilihan, dan harapan
bedanya, el lebih bermain di sebab, dan gw akhirnya lari ke akibat
kalau gw enggak salah (mudah2an enggak), cerpen ini adalah tentang pilihan mora
mora percaya kalau dunia (baca: manusia) masih bisa berubah, dan dia memutuskan untuk memperjuangkan "keselamatan" dunia dari takdir yg menjelang dengan cara membawa manusia kembali ke "jalan yang benar", yakni jalan harapan
sebenernya si tuan pencipta juga punya keinginan yang sama kayak mora, dia ingin supaya dunia/manusia tidak dihancurkan oleh takdir (baca: kiamat manusia; akibat membludaknya ambisi dan keinginan, yang juga merjer sama kisah-kisah), tapi masalahnya si tuan pencipta enggak mampu karena dia enggak punya sekutu, dan belum lagi, umurnya terbatas (enggak seperti mora yg anti-takdir)
akhirnya, pilihan ini jatuh kepada mora sebagai calon penerus godam lak; apakah mora memilih menjadi godam lak dan kembali mengakibatkan kehidupan dan seisi dunia terjerat oleh takdir (loop berulang-ulang, seperti selama ini setelah adanya perjanjian)? atau memilih jalan lain, jalan harapan?
aaah… jadi pengen niup balon2 air sabun…
satu hal yg gw masih bingung adalah signifikansi adegan ketemu si alina itu, el
gw cuma menangkap di adegan itu mora ketahuan sebagai penerus godem lak, dan karena ketahuan sama alina itu, pengetahuan si mora jadi bertambah
trus apa hubungannya sama "petir"?
masuk ke saran dan usul,
kalau menurut gw, gaya nulis kita sama2 "terlalu", el
temmora ini terlalu implisit (punya gw terlalu eksplisit)
akhirnya karena terlalu halus, kayaknya jadi banyak pembaca yg enggak nangkep maksudnya apa…
(kalau kasus gw, karena terlalu gede, pembaca jadi males mikir lagi… xD)
trus kalau boleh usul juga, yang kalimat2 pikiran di dalam hati (entah dalam hati mora atau karakter lain) mendingan dibuat italic aja biar jelas (karena gw bingung, dan baru ngeh setelah gw zoom out)
terakhir,
gw suka sama bantha! pengen nyubiiit!
wkwkwk
*bisik2 ke Bantha*
"Artinya… harapan."
September 15, 2010 at 3:19 pm
Aha.ha gw terharu dirimu balik lagi untuk baca Fred^^
yupe materinya mirip. Dan…bacaanmu banyak benarnya. Hanya saja cerpen ini belum menyentuh manusia-nya.
Gw sedang menuliskan kembali banyak hal tentang Temmora. Masukannya membantu banget. Walo sejujurly gw nulis model kek gitu juga ada maksudnya T.T
Tentang Liana pada plot asalnya sih kepegang. Hanya pas revisi gw mengganti arah part tengah ke akhir, gw memilih membiarkan Liana dgn adegan asalnya berharap pembaca agak-agak terlupa siapa dirinya
Liana Putri Petir itu termasuk 3 sekutu penting yg harus ada di sisi Temmora. Kehidupan (sarana), Mimpi (penggerak), Petir (prasarana : hidro, oxy, carbon, nitro, fe)
dapat acung jempol dari Temmora : jarang-jarang ada yang bisa menahan diri makan buah Spinya satu gigitan
Bantha gak suka dicubit pipinya
…
Ah gelembung sabun bebek TT_TT
September 16, 2010 at 3:24 pm
gw tentu balik lagi lah, kan terlanjur udah janji mau baca ulang… xD
lagian cerita ini memang layak dibaca ulang kok, ada banyak hal2 menarik di dunia-nya mora
sayang jadi under-rated karena banyak pembaca yg bingung,
el, yg bagian pikiran dalam hati itu mungkin banyak bikin bingung karena orang mengira itu masih masuk narasi, jadi kesannya tiba2 penulis bikin narasi gaya nyastra di antara paragraf2 normal, padahal sebenernya kan enggak gitu… ^^’
kudu ada suatu cara untuk memperjelas itu deh kayaknya (mungkin bisa tetap mempertahankan non-italic)
huh, bantha sombong nih!
ayo siniii!
*kejar2 bantha*
September 16, 2010 at 5:04 pm
Ya ampun Fred! :p
pamor Bantha Putra Kehidupan langsung jatoh. Ha.ha
untuk rev.cerpen 3000 kata mungkin bakal gw italic, Fred
untk versi iseng-iseng novel sedang nyoba dgn format biasa ^_^
tengkyuh banget…
September 22, 2010 at 6:44 pm
mua…gw nunggu bukuny terbit aja baru komen disini yah, otak gw gak bisa mencernany (secara baru baca satu paragraf aj mata gw sudah bilang ‘hah?’) klo bacany di layar komp, hahahah, sori banget… >_<
tpi memang terkesan ada sesuatu yg 'indah' sich, tar gw interpretasiin lagi deh, oce? okeee ^^
Oktober 18, 2010 at 4:11 pm
akhirny, selese baca juga…ni komen ak:
setting: wow. Wow. WOW O^O
serasa kota surrealistik berwarna-warni yg hanya bisa eksis dalam dunia mimpi O^O
karakter2: manifestasi dari unsur-unsur pembentuk alam semesta kah?
plot: seorang ‘anak’ bernama Temmora hendak menyampaikan pesan pada seorang ‘nenek tua’, dan setelah memakan hidangan si nenek, Temmora mendadak ‘berubah’, menyerupai wujud ‘Godem Lak’ sang Tuan Pencipta. Godem Lak, yg mulai dilanda kegilaan (entah kenapa), menciptakan Temmora dan menyembunyikan arti namanya, sehingga Takdir yang datang dan menawarkan untuk ‘mengatur’ dunia tak bisa menyentuh Temmora, yang telah dipesani agar selalu ingat akan harapan, ketika ‘waktunya’ telah tiba. dan itulah yang Temmora lakukan ketika dia menjadi Godem Lak yang baru.
benar? :I
sayangnya:
- ceritanya terkesan tidak selesai.
- dan astaga, imajinasi dan cara memahaminya; astaga. otakku lecet 8I
- lebih cocok jadi script film atau graphic novel (harus yg daya seni-ny luar biasa punya)
saran(?):
- ceritany kelewat susah dimengerti, karna terhambat 3.000 katakah?
- imajinasiny ibarat ledakan jutaan kembang api, namun tak terkontrol. coba klo lebih di atur dan di beri banyak ‘jangkar’ dan ‘tonggak penunjuk jalan’, pasti bisa lebih menarik untuk dibaca ^^;
- BUAT FILM ANIMASI 2D-nya, dengan gambar2 seperti Spirited Away punya, pasti KEREN 8D
- walau mungkin filmny cuma bakalan berjalan selama 30 menit aja, karena ini cerpen
- lebih tepat lagi, mungkin film 2D yg sejenis dgn cerpen ini adalah “Angel Egg”, yg nuansa surrealistikny kelewat kental, sehingga orang2 jg pada susah ngerti inti ceritany apa, hahahah. tpi art-ny (katanya) keren sih :p
dan terakhir, maaf ak salah bicara di komen sebelumny >.<
Oktober 22, 2010 at 1:20 pm
bhwahahaha…tengkyuh Ivon sudah berusaha dengan susah payah membaca cerpen ini.
kalo kata teman yang baik hati sih, gw salah milih si Temmora sebagai corong cerita ini. Kerna dia juga nggak terlalu begitu tahu tentang segala macam yang harusnya diceritakan ke pembaca
terhalang 3000 kata? bukaaan…
)
gw secara sadar membuat cerpen ini dalam 3000 kata kok. Nggak bisa lebih aha.ha
errr, grafisnya udah ada yang nawarin tapi gw pengennya menuangkan grafis ke dalam bahasa tulisan.
dan phew! komentmu membuat gw merasa bersalah kerna melalaikan versi panjang cerpen Temmora yang baru 20 halaman T_T
info : sebenarnya yang bikin Temmora berubah berkaitan dengan keyakinan a.k.a rambut perak…aaah!mybad lah pokoknya kalo nggak ketangkap
)