THE JACKALS
Fallen Angel
—
11 Agustus 2011
Bayang-bayang malam kembali menyelimuti kota Paris. Malam yang terasa semakin tergesa-gesa meninggalkan kota di tengah musim panas yang mencapai puncaknya. Dan jika hari sudah malam seperti ini, berarti sudah waktunya bagi mereka untuk memulai pekerjaan mereka. Mereka yang diberi nama oleh para politikus sebagai International Bureau of Layden Investigation Service. Nama yang panjang dan tak berguna, karena para anggota mereka umumnya menyebut diri dan rekan kerja dengan sebutan yang lebih sederhana; The Jackals.
The Jackals memiliki tugas utama untuk memburu dan juga menyelidiki makhluk-makhluk supernatural yang sepuluh tahun belakangan ini mulai muncul mendadak dan menyerang manusia. Tidak ada yang tahu secara pasti dari mana makhluk-makhluk ini datang, mereka seolah muncul begitu saja ketika matahari sudah tenggelam dan mulai menyerang manusia bagaikan serigala kelaparan. Awalnya muncul di Timur Jauh, bahaya monster ini mulai menyebar ke seluruh dunia.
Kemunculan layden ini juga diiringi satu fenomena aneh lain, kemunculan mnusia-manusia yang memiliki kekutana supernatural yang mirip dengan para Layden. Mereka juga hampir sama misteriusnya dengan para Layden, dan tidak lebih ramah. Beberapa manusia yang mendapat kekuatan misterius ini menjadi kehilangan akal dan menggunakan kekuatannya untuk berbuat kejahatan atau meneror penduduk lainnya.
Untungnya tidak semua manusia ini memiliki kecenderungan merusak. Beberapa yang berniat baik atau masih bisa dikendalikan segera dikumpulkan dalam satu organisasi khusus untuk orang-orang berkekuatan supernatural ini. Organisasi inilah cikal bakal dari organisasi The Jackals.
Sekarang ini, di kota Paris ini, The Jackals berniat melatih salah satu anggota mereka yang paling baru. Jackal ini masih sangat hijau, baru saja lulus dari pelatihan dasar, dan masih belum memiliki pengalaman bertarung sama sekali. Tapi, tentu saja, dia tidak sendirian. Seorang Jackal yang lebih senior menemaninya dalam perburuan pertamanya di malam kota Paris. Malam singkat yang akan segera menjadi panjang.
Si Jackal junior itu jelas sekali terlihat gugup di balik jaket merahnya. Ia berkali-kali menelan ludah dan tangannya gemetar pelan di dalam sakunya. Jackal yang lebih senior, seorang wanita berambut pendek, menghampirinya dan menepuk bahunya dari belakang.
“Jangan terlalu gugup begitu.” Katanya. “Santai saja, dan lakukan seperti dalam latihan selama ini. Kau pasti bisa mengatasinya.”
Si junior mengangguk. Ia memang merasa lebih tenang karena ada seniornya disini, walau dalam hati ia sedikit merasa tidak enak kenapa dia yang laki-laki harus dilindungi oleh wanita.
“Aku tahu.” Jawab si junior. “Aku cuma… entah kenapa aku jadi sedikit terlalu gugup.”
Seniornya tersenyum. “Kita semua begitu dalam tugas pertama kita. Aku juga dulu sama gugupnya denganmu, bahkan mungkin lebih parah lagi. Aku sempat menangis waktu layden pertama muncul.”
Si junior tidak tahu apakah kalimatnya yang terakhir itu dimaksudkan untuk menyemangati atau menyindir. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di bangku taman tempat mereka berdua bersiaga dan menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk mengurangi rasa gugup.
Tapi sekedar untuk melewatkan waktu, ia memutuskan untuk bertanya. “Apa benar Jackal yang lebih senior bisa merasakan kedatangan layden?”
Seniornya tampak antusias ditanya seperti itu. Ia langsung duduk di bangku persis di balik juniornya. “Ya, itu benar. Ketua bilang itu ada hubungannya dengan jumlah layden yang kita bunuh, tapi semakin lama kau akan semakin bisa merasakan kedatangan mereka dari jauh.”
“Seperti apa rasanya? Maksudku, rasanya bisa merasakan kedatangan mereka?”
“Seperti apa ya?” Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, berfikir. “Mungkin seperti mendengar suara nada panggil ponselmu yang disembunyikan dalam selimut dari jarak jauh.”
“Hah?” Si junior mengernyitkan alis. “Perumpaan macam apa itu?”
“Aku juga tidak bisa mengatakannya secara past, sih. Rasanya sulit dijelaskan. Yang jelas, aku tahu kalau akan ada Layden yang muncul di kota ini.”
“Kau bisa merasakannya sampai ke seluruh kota?” Si junior terkesan tak percaya.
“Yap.” Yang ditanya mengangguk. “Karena itu, selain kau dan aku hanya ada satu tim lain yang menjaga kota ini. Dua tim saja cukup untuk menjaga seluruh kota.”
“Begitu.” Ia menghela nafas, lalu akhirnya bangkit dari tempat duduknya. “Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir akan ada layden yang menyerang mendadak, kan? Aku mau beli minuman dulu sambil menunggu. Kau mau kubelikan minuman apa?”
“Aah… coca cola zero.” Jawabnya santai. “Jangan lama-lama, ya. Kau tidak lupa lencanamu, kan?”
“Iya, aku bawa.” Jawab si junior sambil menunjukkan sebuah lencana dengan lambang anjing berkepala dua. Lambang organisasi Jackal.
Ia berjalan menghampiri vending machine yang dipajang sedikit jauh di sisi luar taman, lalu membeli coca cola zero pesanan seniornya dan 7up untuk dirinya sendiri. Setelah mengambil kedua minuman kaleng itu, ia menengadah menatap langit untuk sesaat.
Malam yang indah dan cerah. Batinnya. Rasanya akan lebih menyenangkan kalau layden-layden itu tidak muncul malam ini.
Doa yang mustahil dikabulkan, dia tahu. Layden selalu muncul tiap malam, walau dimana akan muncul tak seorangpun yang tahu. Ancaman dan teror mereka membuat suasana malam hari terasa seperti kegiatan wisata di tengah kebun binatang, dimana seluruh kandang binatang buasnya tak berjeruji. Ia menghela nafas sesaat dan berniat untuk kembali ke tempat dia dan seniornya berjaga, tapi belum sempat dia melakukannya ponselnya mendadak berbunyi.
Lucille. Nama seniornya itu tertera di layar. Ia langsung mengangkatnya.
“Ya?”
“Ke stasiun bawah tanah St. Rosemary sekarang!” Perintahnya terdengar tegas dan jelas. “Layden muncul!”
Perintah itu tak perlu diulangi dua kali. Si junior langsung memasukkan dua minuman kaleng itu ke saku jaketnya dan bergegas mengejar seniornya. Pintu menuju stasiun bawah tanah itu terletak tidak terlalu jauh dari taman, tidak akan makan waktu lama baginya untuk sampai kesana.
Dan ketika ia berlari menuruni tangga, barisan orang-orang yang melewati papan penunjuk rute kereta itu kelihatannya masih belum sadar akan apa yang terjadi. Si junior berlari melewati suami istri yang bersenda-gurau, pekerja kantoran yang sedang membaca korannya, dan ketika ia sampai di depan loket penjualan karcis, barulah terdengar suara sirine dari pengeras suara di ujung tembok. Disusul dengan berubahnya papan elektronik penunjuk jalur yang kini mengeluarkan dua tulisan; Bahaya Layden.
Kontan saja barisan yang sedetik lalu masih terlihat damai, langsung kocar-kacir berlarian dengan panik. Beberapa petugas keamanan stasiun langsung mengarahkan para penduduk agar tidak sampai terjadi keributan yang tak terkendali, atau malah korban jiwa akibat kepanikan massa. Dalam arus orang-orang yang berlarian ke luar stasiun ini, jaket merahnya terlihat mencolok melawan arus.
Ia akhirnya berhenti di peron kereta nomor tujuh yang tadinya akan membawa penumpang ke distrik dalam kota. Seniornya, Lucille, juga sudah menunggu disana. Ia berdiri di sampingnya, mengikuti arah tatapannya yang terpaku pada terowongan jalur kereta di sebelah timur.
“Mereka akan muncul dari sana?”
“Ya.” Lucille menjawab. Wajahnya terlihat sangat serius sekarang ini. Aura biru gelap seolah terbentuk di sekitar kepalanya, menanti kedatangan lawannya.
Si junior menghela nafas. Ia membuka jaket merahnya dan membuangnya ke samping, menunjukkan baju putih lengan panjang yang dia pakai dibaliknya. Sama seperti seniornya, ia mengumpulkan auranya terlebih dahulu sebelum menyambut musuh. Tapi masalahnya, ia tidak bisa mengendalikan auranya. Rasa gugup dan tegang ikut bercampur menganggu konsentrasinya. Jantungnya yang berdetak luar biasa sama sekali tidak membantu mempermudah persoalan. Sial! Rasanya saat ini adalah saat terburuk untuk menjadi gugup.
Dan belum sempat ia mengendalikan kekuatannya, tubuhnya seolah ditabrak oleh aura dengan kekuatan luar biasa. Aura ini, nuansanya begitu berbeda dengan aura milik seniornya, atau pelatihnya yang lain di markas Jackal. Aura ini… entah bagaimana mengatakannya. Aura ini terasa dingin, kelam, tapi tidak seratus persen jahat. Rasanya seperti…
“Seperti aura binatang buas, kan?”
Suara Lucille sedikit mengagetkan pikirannya. Ia menoleh dan melihat seniornya itu sedang tersenyum lembut.
“Jangan gugup. Aku juga merasakan sesuatu yang seperti itu dulu. Tarik nafas pelan dan anggap saja ini seperti latihan-latihan yang sudah pernah kau lewati.”
Ia mengangguk. Sekarang, pikiran dan kekuatannya lebih mudah dikendalikan. Dan waktunya tidak bisa lebih baik lagi. Dari dalam terowongan dimana seharusnya kereta rel listrik melesat keluar, muncul tiga ekor Layden berwujud seperti capung raksasa dengan sabit belalang sembah sebagai tangan mereka. Dua dari mereka, yang berwarna merah terang, melesat menyerang Lucille, sementara yang lainnya menyerang si Jackal junior.
Si junior melompat mundur, mencoba mempertahankan jarak dengan penyerangnya. Lucille, sebaliknya, masih tetap berdiri tenang. Dari balik aura biru gelap yang melayang disekitar tubuhnya, mendadak muncul dua pasang pistol desert eagle yang segera memuntahkan pelurunya. Kedua layden itu menjerit marah dan terdorong mundur, tapi masih menolak untuk berhenti menyerang.
Sementara itu si junior tampak sibuk menghindari tebasan sabit yang terus mengincar bagian vitalnya. Ia mengelak, melompat, dan berlarian kesana kemari tanpa lelah seolah ada pegas tak terlihat di kakinya. Tapi ia tidak berniat untuk menghindar selamanya. Begitu dia mendarat di samping pilar yang menuju pintu keluar, ia langsung mengumpulkan kekuatan di tangan kanannya.
“Pusaka pembelah langit, jadilah bagian dari tubuhku.”
Perlahan-lahan, dari udara kosong, di tangan kanannya terbentuk sebuah senjata kecil. Sebuah keris pendek dengan bilah yang terukir huruf dan simbol-simbol aneh. Ia menggenggamnya erat, matanya menatap tajam pada layden yang menyerang membabi-buta itu, lalu ditebaskannya keris kecil itu membelah udara.
Seharusnya keris itu tidak bisa menyentuh lawannya. Masih tersisa jarak sekitar lima meter sebelum layden sasarannya masuk dalam jarak jangkauan keris, tapi tubuh layden itu sudah tergores seolah-olah tubuhnya benar-benar telah tersayat dalam jangkauannya.
Jackal junior melanjutkan tindakannya. Ia menebaskan keris itu membelah udara kosong, dan layden itu tergores sebagai akibatnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Goresan-goresan kecil yang dangkal tapi terasa sangat menyebalkan terus bermunculan di tubuh kurus sang layden. Terlihat sekali ia sangat kesal dan marah oleh serangan-serangan itu tapi tidak bisa bergerak mendekat untuk menyerang balik.
Dan layden itu meraung marah, menjerit mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang menggetarkan bangku kecil di samping si junior, sekaligus mengacaukan ritme serangannya. Kesempatan kecil ini langsung dimanfaatkan sang layden, sebelum ia bahkan menutup mulutnya lidah panjangnya tiba-tiba melesat keluar, bagaikan lemparan tali laso yang begitu mendadak diarahkan untuk menjerat leher si junior. Sasarannya tentu tidak menduga lidah merah panjang itu akan bisa menjulur dengan begitu mendadak. Ia tidak sempat menghindar ketika akhirnya lidah lengket itu menjerat lehernya.
Sang layden perlahan-lahan menyeretnya menuju mulutnya yang terbuka lebar. Si junior berusaha sebisa mungkin untuk tidak terseret. Keris di tangannya perlahan-lahan meredup, seperti bayangan yang akan menghilang, akibat konsentrasinya yang terpecah. Ia menebaskan keris itu sekali lagi, tapi luka yang dihasilkan tidak sedalam yang dibuatnya tadi. Monster itu menariknya sedemikian kuat, ia tidak memiliki kesempatan bahkan untuk mengkonsentrasikan kekuatannya membentuk senjata baru.
Sial! Baru menghadapi layden seperti ini saja ia sudah kewalahan seperti ini. Memalukan!
“Edo, awas!”
Suara Lucille! Senior wanitanya itu melompat memantul pada salah satu pilar dan membuka telapak tangannya ke arah layden yang menjerat leher Edo. Setengah detik berikutnya, senapan laras panjang tipe Dragunov SR1 terbentuk di atas tangan mungilnya. Senapan itu menyalak, memutuskan lidah menjijikkan sang layden, dan membebaskan Edo dari cekikan yang menyiksa. Lucille mendarat dengan sempurna di lantai.
Layden itu merintih kesakitan dalam suara lengkingan yang tidak jauh berbeda dengan suaranya tadi. Edo menganggap ini suatu kesempatan dan menggunakannya untuk merapal mantra sekali lagi.
“Kalung besi pengikat bumi.” Tangan kanannya mulai dipenuhi aura merah. “Rantai siluman api!”
Dalam seketika tiga buah rantai panjang berselimut api melesat dari tangan kanannya dan mencambuk tubuh sang layden. Layden itu terpental, menghantam kios penjual koran, dan menabrak dinding di baliknya sedemikian keras sebagian dinding itu sampai runtuh menimpa tubuhnya. Suara rintihan dan siluet ekornya yang menggeliat masih terlihat diantara debu puing-puing. Kelihatannya dia masih hidup.
“KYYAAA!!!”
Itu Lucille! Salah satu layden berhasil menggigit kakinya dan melemparkannya ke vending machine terdekat. Mesin penjual minuman itu melesak dan Lucille terbatuk-batuk mengeluarkan darah di depannya. Celaka. Dia dalam bahaya!
Edo dengan segera melupakan lawannya dan langsung berlari menolong seniornya. Ia melompat tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit dan mengumpulkan kekuatannya sekali lagi dalam satu ucapan mantra.
“Tunduklah kalian jahanam dalam kuasa Ratu Lautan!”
Perlahan-lahan aura tubuhnya mulai membentuk tombak biru panjang diatas kepalanya. Ia meraih senjata itu dengan kedua tangan dan melesat turun mngincar kepala salah satu layden. Ia menusukkan tombaknya kuat-kuat, tapi sang layden sempat menghindar pada detik terakhir. Tombaknya menghantam bagian belakang leher layden itu dan menjatuhkannya dengan keras ke lantai, tapi masih tidak cukup kuat untuk langsung membunuhnya.
Layden kedua datang dengan kedua sabitnya. Edo sempat menahannya dengan tombak panjangnya, walaupun akhirnya dia terdorong mundur akibat kekuatan sang layden. Layden itu melesat lagi, Edo dengan segera mengacungkan tombaknya. Tapi, sebelum keduanya sempat beradu senjata, kepala layden itu mendadak meledak disertai suara letusan kencang. Darah hitam pekat tercecer dimana-mana. Bau mesiu dengan segera tercium dari balik punggung Edo.
Selongsong peluru kosong terjatuh dengan keras di lantai. Lucille memberikan satu acungan jempol dan senyuman kecil berhias darah pada salah satu sudut bibirnya. Edo masih menatapnya terkejut.
“Terima kasih ya.” Kata gadis itu.
Edo mengangguk, membalas senyumnya, lalu merentangkan tangan kirinya. “Tujuh gapura lindungi kami dari segala mara bahaya.”
Dan tebasan sabit layden merah itu langsung ditahan oleh barisan tiang batu yang mendadak mencuat dari tanah. Layden itu menjerit kesal, lalu mencoba berkelit melesat masuk melalui sela-sela tiang. Edo membaca mantra lagi.
“Angin penghancur pusaka, jatuhkan semua lawan raksasa!”
Ia mengibaskan kedua tangannya seolah sedang mengayunkan kipas besar tak kasat mata. Hembusan angin bagaikan badai langsung menerbangkan sang layden hingga menabrak dinding stasiun di sisi jauh sekitar lima belas meter di belakangnya. Kepala monster itu langsung hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
Lucille merapikan rambutnya yang sedikit terkoyak akibat angin badai Edo, sementara yang merapal mantra justru mulai limbung dan jatuh bersimpuh pada kedua tangan dan lututnya. Nafasnya memburu dan keringat dingin perlahan berjatuhan dari dahinya.
“Kau terlalu memaksakan diri.” Kata Lucille. Ia mencoba berdiri sambil bersandarkan pada vending machine yang rusak itu.
“Apa boleh buat, kan?” Edo membalas sambil berusaha mengatur nafasnya. “Mana bisa aku membiarkan seorang perempuan terluka karena melindungiku? Itu sama sekali tidak keren.”
Lucille tersenyum geli mendengar kalimat terakhir Edo itu. Ia merasa juniornya ini sudah cukup tangguh untuk menghadapi serangan layden, walau jelas ia masih kurang pengalaman. Dan dia lumayan imut untuk ukuran laki-laki. Tapi, tanpa disadari olehnya, seekor layden yang tadi dihadapi oleh junior yag dipujinya itu melesat menuju sisi tubuhnya dengan sangat kencang. Ia masih sempat merasakan kehadirannya pada saat-saat terakhir, tapi sudah terlambat. Ia sudah kehilangan waktu untuk menghindar.
CRAASHH!!
Darah hitam pekat menyembur ke segala arah, membasahi dinding, vending machine, dan wajah Edo yang untuk sedetik terlihat seolah kehabisan darah. Lucille juga tidak sempat menyadari apa yang terjadi, ketika layden yang menyerangnya tiba-tiba saja terpotong-potong menjadi tujuh bagian! Sisa-sisa tubuhnya berceceran ke segala tempat di lantai stasiun.
Baru dua detik setelahnya mereka berdua sadar apa yang baru saja terjadi. Ketika sosok seorang pria berambut pirang panjang menyarungkan katananya kembali kedalam sarungnya dengan perlahan, menimbulkan suara halus yang khas. Ia melepaskan genggamannya pada gagang katana berlambang anjing berkepala dua itu, lalu menatap Edo tajam. Edo tahu betul siapa orang yang menolong seniornya ini.
“Senior Raido?!” Nada terkejut tak bisa disembunyikan dari kalimatnya. Raido adalah orang yang melatihnya dasar-dasar bertarung di markas pusat organisasi.
Yang dipanggil tidak segera menjawab. Ia masih menatap marah kepada Edo yang belum bisa mengangkat tubuhnya dari tanah. Seorang gadis kecil, mungkin umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun, berlari keluar dari balik salah satu pilar dan menghampiri Lucille yang terluka cukup parah.
“Sherry?” Seru Edo terkejut. “Kau juga ada di sini?”
“Memang kau pikir aku datang kesini dengan siapa, bodoh?” Kalimat pelan, namun begitu dingin, itu meluncur begitu saja dari bibir Raido. Ia berjalan menghampiri Edo, membiarkan Sherry mengobati luka-luka Lucille. “Aku tadinya datang cuma untuk mengawasi, tapi tidak kusangka kau benar-benar menyedihkan.”
Edo jelas tidak terima dikatai seperti itu. “Apa maksudmu dengan menyedihkan?! Kalau kau tidak sadar, aku menyelamatkan senior Lucille hari ini.”
“Dan juga hampir membunuhnya.” Ia menunjuk Edo dengan sarung pedangnya. “Kau benar-benar tidak berguna. Melesat menolong rekan begitu tiba-tiba sampai melupakan mangsa yang tadinya kau lawan, lalu setelah itu kau menghabiskan seluruh tenagamu dalam satu serangan cuma agar kau terlihat keren? Apa yang selama ini kuajarkan tidak pernah menembus otak kecilmu? Memalukan!”
Edo menggeram marah. Ia ingin menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk membalas semua kalimat mantan gurunya ini. Tapi otaknya kosong, lidahnya tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Seperti biasa, gurunya ini selalu bisa menemukan tindakannya yang salah dan mengejeknya habis-habisan.
Merasa puas menceramahi Edo, pandangannya kini mengarah pada Lucille. “Kau sudah tidak apa-apa, Lucille?”
Lucille mengangguk. “Ya. Seperti biasa, kemampuan menyembuhkan Sherry memang nomer satu, tapi apa kau tidak terlalu keras pada Edo. Bagaimanapun, inikan pertarungan pertamanya.”
“Itu bukan alasan yang cukup untuk membuatnya hampir membunuhmu.”
Lucille terdiam, ia memutuskan untuk tidak melawan orang satu ini.
“Sudah selesai.” Kata Sherry. “Kita bisa kembali, Raido.”
Raido mengangguk paham, walau wajahnya masih tetap terlihat sedingin biasanya. “Kau bisa laporkan ini ke kantor pusat sesukamu, Lucille.” Katanya sambil berjalan menjauh. Sherry segera menghampiri dan menggandeng tangannya. “Hanya saja, saranku, jangan terlalu bergantung pada pemula itu. Seperti yang sudah pernah kubilang, keputusan meluluskannya terlalu tergesa-gesa.”
Edo rasanya ingin melompat dan menebas orang itu dari belakang saja. Tapi Raido tetap berjalan santai, mengacuhkan Edo, bahkan ketika aura sihir Sherry perlahan-lahan membungkus mereka berdua dan membawa keduanya menghilang. Pergi menuju lokasi patroli mereka yang seharusnya.
Lucille menghampiri juniornya dan menepuk bahunya perlahan. “Tidak usah terlalu dimasukin hati, deh. Kau sendiri tahu kan bagaimana sifatnya orang satu itu.”
“Iya. Tapi tetap saja menyebalkan.” Edo berjalan ke tempat jaket merahnya tergeletak. “Selama aku mengenalnya, aku tidak pernah ingat dia mengatakan satu pun hal baik padaku.”
Lucille mengeluarkan suara tawa datar. Mencoba menghiburnya. “Sudahlah, daripada ngomongin dia, lebih baik kamu sekarang memberitahu petugas stasiun. Biar aku yang membuat laporan ke kantor pusat.”
“Iya, baiklah. Tapi sebelum itu.” Edo meraih ke dalam saku jaketnya. “Ini, coca colamu.”
—
cerita ini dapat dilihat juga di:
Agustus 25, 2010 at 11:26 pm
Pertama baca rada garuk-garuk kepala. Ini Paris kan? Kok ada Leyden yang di Belanda itu? Leiden lumayan terkenal loh; cukup kuat untuk men-distract konsentrasi membaca
Pembukaannya pengen buat aku teriak, “cepetan donk om narator!! bawel nih”. Lalu percakapan berikutnya malah memakai format “si pintar” dan “si bodoh” untuk menjelaskan konsep. Agak disayangkan sih, karena malah jadi terkesan datar tanpa emosi. Pendapat pribadi nih ya, bagaimana kalau konsepnya dikasih sejalan dengan keperluan cerita? Kalo novel mungkin memang perlu sekali dijelasin dari awal, tapi kalau cerpen kurasa itu bikin pembaca seperti aku gregetan
“Sherry?” Seru Edo terkejut.
Hah! *ketawa sinis* aku curiga nih. Dari mana inspirasi datangnya nama Sherry tersebut? Soalnya nama ini sangat jarang digunakan. Lebih sering jadi Sherryl ataupun Sharon. *tiba-tiba merasa sebagai yang punya hak cipta atas nama itu, karena duluan menggunakan XD*
Dan akhirnya setelah sampai ending, pendapat jujur saya, tidak ada yang istimewa
Cuman bak-bik-buk aja. Aku hampir pasti berteriak, “Ini lebih pas kalau dibuat novel! Ah, bukan. Malahan ini udah berformat novel” Sorry, tapi pada dasarnya, hal yang ditekankan dari sebuah cerpen itu adalah even-even kecil yang pengaruhnya luar biasa bagi tokohnya, entah melibatkan cara pikirnya, atau psikologinya. Kalau cerita yang satu ini khas novel banget. Memupuk perlahan dan menggunakan ending sebagai pamungkasnya. Dan yang aku baca ini masih di bagian tengahnya, ketika kamu sedang memupuk itu :\
Agustus 26, 2010 at 9:58 am
Emm… layden itu nama monsternya, bukan nama tempat. Semua jackals di seluruh dunia manggil monster pake nama layden ini, jadi biar di Paris ato dimanapun juga bakal sama aja.
Dan, karena ini cerpen, makanya aku ngerasa harus njelasin sedikit latar belakang cerita di awal2, jadi pembac ga heran ato penasaran sama asal muasal makhluk ato kekuatan tokoh utamanya. Tapi masih kerasa terlalu panjang ya?
Mengenai dialog yang kerasa kaya si bodoh dan si pintar itu, mereka berdua kan emang senior sama junior? Wajar lah kalo yang junior tanya2 beberapa hal sama seniornya dan si senior mbimbing juniornya. Itu kan tujuan Lucille ada di situ?
Sherry dapet nama dari mana? Ini nama karakter penting juga di ceritamu, ya? Hehehe. Sherry namanya aku ambil dari nama anggur, latar belakangnya si Sherry emang deket sama dunia anggur sama minuman kerasnya gitu. ^^
Soal endingnya, maksudnya ga ada penyelesaian yang memuaskan ya? Ya, ini kan emang cerpen yang dibatesin jumlah katanya, bakal agak aneh juga kalo cerita soal pertarungan gini mendadak ke last boss dan berakhir happy ending. Jadi ya, cuma ending kaya gini yang bisa aku bikin. Sori kalo jadi terasa kaya cerita yang ada di tengah cerita panjang ya.
btw, thank you udah baca dan kasih komentar.
Agustus 26, 2010 at 5:50 pm
Nah, itu dia. Maksudku kenapa memakai kata “Leyden”? Haruskah itu?
Untuk Sherry, gw juga ambil dari nama anggur. Untuk nama orang “hampir” ga ada. Makanya aku kepikiran bahwa ini pasti ada sesuatu! Ternyata emang gara-gara anggur, hahaha
Klo soal ending sih, menurutku ga harus begitu juga. Kan bisa saja (misal) junior kita ini tiba-tiba jadi punya cara pikiran tidak biasa tentang masalah Demon Hunter setelah pertarungan gitu. Kalo ujung-ujungnya, “Oke, masih ada hari esok. Sekarang istirahat dulu, minum soda biar seger”, Breett! Ekspektasiku langsung jatuh. Aku ingin sesuatu di luar hal-hal itu. Mungkin semua krew-nyamati dan di luar dugaan hanya dia yang selamat? Mungkin dia malah jadi Demon-Hunter Hunter? (hahaha, yang ini ngaco kayaknya) Atau mungkin juga, ternyata orang tuanya yang mati berubah jadi salah demon itu, dan dia harus membunuhnya, padahal dulunya dia menyalahkan diri sendiri atas kematian orang tuanya. Errr, lebih menggigit kan? Lagi pula ini cerpen kan? Ga ada lanjutannya kan? Langsung hajar aja segila-gilanya
Haha, sorry kalo aku ngomong ngaco
Agustus 26, 2010 at 5:53 pm
Brrr! Gw jadi kepikiran, tahun depan garap demon hunter ah! hahaha, sesuatu menggelitikku untuk menghabisi pemeran utamanya ke tahap sakit mental gara-gara depresi, muahahahaha….
Agustus 25, 2010 at 11:42 pm
hmm, yang menonjol di sini itu teknis penulisan sama gaya penyajian ceritanya. teknisnya rapih, dan penyajiannya enak. masalahnya cerita yang disajikan itu bener2 cuma kerasa kayak prolog cerita panjang. kalau cerpen itu kan gw baca dan niatnya dapat semacam penutup di bagian akhirnya. nah, ini gw malah mikirnya “harus ngeliat lanjutannya dulu sebelum bisa bikin keputusan lebih lanjut”
of course, itu cuma pendapat gw
Agustus 26, 2010 at 10:00 am
Ahahahaha, gapapa kok. Mungkin aku emang kurang bisa bikin penyelesaian di cerita 3000 kata. Mungkin lain kali bisa lebih bagus.
Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar. ^^
Agustus 26, 2010 at 10:01 am
Entah kenapa gw amat sangat bersyukur gw masukin calon cerita pertama gw buat FF2010 ini ke blog, taruh linknya di Goodreads, Fallen baca dan dia bilang ceritanya mirip …
Yeah, definitely. Ini cerita emang kerasa mirip banget ama pny gw yg pertama, biarpun potongan adegannya beda.
Nggg, entah kenapa yg terasa ngganjel tu justru cara si karakter utama manggil jurus. Dia perlu enchant seperti itu? Kata2 yg dipake mengindikasikan kalo dia sepertinya dari Jawa ato gimanaa gitu.
Sisanya? Gak ada masalah dr teknis dan hal2 formal lainnya.
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 3:19 pm
Sejujurnya, penulisannya menurutku masih bisa dirapihin. Masih kesisa beberapa saltik dan kalimat-kalimat yang bisa diefisienkan lagi.
Lalu ada satu adegan yang menurutku agak kurang wajar sih. Waktu Edo dan Lucille tiba di subway, situasinya masih belum sepi-sepi amat kan? Kalo udah jadi pengetahuan umum kalo monster-monster ga jelas belakangan keluar di malam hari, kayaknya wajarnya, kota udah bakal mulai sepi pas senja dan sepi BANGET kala malem. Seenggaknya, orang-orang udah enggak lagi saling bercengkrama pas jam segitu.
Soal isi cerita, aku agak idem ama komen2 sebelumnya. Tapi aku ngerti perasaan pengarang sih. >.< Buat FF 2010, aku juga sempat kepikir bikin cuplikan novelku.
Kalo aja perasaan para karakter lebih dieksposisi lagi, kayak gimana Edo dan Lucille saling mengamati potensi masing-masing lebih lanjut, kayaknya cerita ini bakal lebih mateng deh.
Yah, seenggaknya menurutku begitu.
Agustus 26, 2010 at 5:57 pm
*crrinnggg*
Itu dia!
Gw jg sempat bertanya2, kenapa kalo layden muncul tiap malam, gak diberlakukan jam malam? (di cerita gw yg pertama, yg tadinya mau disetor tp gak jd krn mirip ama cerita ini, ada jam malam)
@alfare: Terima kasih sudah mengingatkan kalo saya mau komentar gitu ke Fallen.
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 7:19 pm
Iya, aku ga terlalu mikirin masalah penduduk yang masih keliaran waktu malem2 itu sih. Dalem pikiranku, yang penting ceritanya jalan. Hal2 kaya gini bisa dipikirin lagi nanti.
Tapi, bisa jadi mereka masih ada aktivitas malem2 karena tahu ada Jackals yang ngelindungin? (alasan ngaco)
Agustus 26, 2010 at 7:15 pm
Buat Kuro, balesannya aku taruh di sini karena ga bisa bales balesannya dia. (mendadak ngerasa nulis kalimat ambigu)
Soal layden, aku emang maksa harus pake nama itu buat nyebut nama monsternya. Lebih tepatnya, buat dapet abjad L di awal namanya. Tujuannya satu2nya cuman biar singkatan International Bureau of Layden Investigation Service bisa jadi IBLIS.
Kalo monsternya pake nama Heartless, katakanlah, jadinya kan IBHIS. Ga sangar lagi.
Dan soal ending saranmu, kayanya itu lebih cocok jadi ending buat cerita panjang deh. Bukan buat novel. Lagian, kalo mau pake ending kaya gitu, bakal habis berapa ribu kata nanti?
Agustus 26, 2010 at 7:42 pm
*ngakak baca IBHIS*
Hotel Ibhis.
Mgkn harusnya dikasih nama lain yg berawalan “l” dan gak seberapa mirip ama kota. Ato bisa aja bkn alasan “nyebelin” macam: “mereka pertama kali ditemukan di kota Leiden”.
Gw malah gak mikirin soal mirip ama nama kota, rawr.
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 7:54 pm
*ketawa serem*
Aku dapat bayangan buat uraian yang tadi aku katakan, dan akan kubuktikan bisa jadi cerpen, krik-krik
Oke, mulai menulis, muahahaha
Btw, klo huruf L itu, kan bisa aja pake sembarang, misal, Leshrac, Lever-kusen-pintu, Liver-pool,
“L’Ordre moral”(The moral order is the name given to the government of Albert de Broglie formed by Marshal Patrice de Mac-Mahon from May 27, 1873. The objective of this government was preparing society for the third restoration.)
“Lares” (Gold archaically, Lases – Were ancient Roman protective deities)
Dua terakhir itu dari bahasa Prancis. Lagipula kan kalo sekedar nama julukan bisa apa aja
Agustus 26, 2010 at 7:59 pm
Iya sih, nama julukan bisa apa aja. Tapi layden yang pertama kali masuk di kepala. Lagian, nama layden lebih familiar daripada nama2 lainnya kan.:D
Agustus 26, 2010 at 7:26 pm
Pingin minta kelanjutan, atau permulaannyaa, nih…
Sekarang ini cuma bisa komen, ini penulisannya oke, penokohan juga (Edo minta ditendang XD), penjabaran battle juga pas
Satu pertanyaan!
Itu nama-nama karakternya…inspirasi dari mana, terutama Lucille? ^^;;
Agustus 26, 2010 at 8:03 pm
Edo yang minta ditendang? Bukan Raido? XD XD
Nama2 karakternya ya? Edo itu ngambil dari nama temenku yang kebetulan mirip2 sama nama bahasa Jepang. Sherry, udah aku jelasin di atas. Raido itu mendadak muncul begitu aku bayangin image cowok berambut pirang panjang pake senjata katana.
Sementara Lucille, aku dapet itu dari manga Beck. Itu nama gitar keren (suara maupun bentuknya) punyanya Ryusuke. Gitar dengan tujuh lubang peluru, bekas tembakan jarak dekat. (sounds badass, isn’t it?)
Agustus 26, 2010 at 8:26 pm
Dan, coba search Raidou Kuzunoha kalo gitu. Search aja, cr image-nya. Barangkali ente blm kenal dia …
Hehe.
Agustus 26, 2010 at 9:57 pm
keren nih XD
cuma rada gimana ama nama kerisnya itu hihihi
Agustus 26, 2010 at 11:44 pm
Nama keris?
*lirik keatas*
Emang kerisnya aku kasih nama ya?
Ah, thanks udah komen, btw.
Agustus 31, 2010 at 7:41 pm
ini anggota2 the jackals sebenernya orang2 dari negara yg beda2 gitu kan ya, dan?
tapi kok rasa ngomongnya agak2 indonesia, xD
apalagi ditambah coca cola zero, 7UP (bukan berarti dua produk ini enggak ada di eropa), plus edo dan kerisnya (si edo ini memang anggota dari indonesia ya?), jadi yg kebayang di kepalaku malah di indonesia melulu… >_<
(setelah baca komen Kuro baru inget kalo settingnya di paris)
seru sih, btw
Agustus 31, 2010 at 8:16 pm
Yup, anggotanya dari macem2 negara. Dan Edo emang salah satu yang dari Indonesia.
Rasa ngomong yang agak2 Indonesia itu, yang kaya gimana ya? Aku ga seberapa ngerti sih, apa mungkin maksudnya dialognya kerasa kaya dialog di novel terjemahan?
Thanks ya, buat komentarnya.
September 6, 2010 at 8:27 pm
udah baca ulang, dan, karena waktu itu bacanya pas lagi enggak konsen banget
lebih bisa nikmatin sekarang
dan kutarik lagi komenku yg tempo hari; enggak terlalu berasa indonesia-nya kok
tapi ceritanya memang agak nanggung sih
siapa edo? siapa lucille? siapa raido? siapa sherry?
padahal pengen tahu tentang mereka… tapi enggak sempat terpuaskan… hehe,
Agustus 31, 2010 at 8:35 pm
mm, pas baca “Kemunculan layden ini juga…”, aku lgsg mikir: emg td ada jelasin Layden itu apa, yak?
aku lgsg baca ulang paragraf2 sebelumnya. dan ntah knp, pas aku gk nemu definisinya, beginilah yg terjadi dibenakku:
ada kecurigaan klo itu nama monster, secara yg dibahas terakhir emg monsternya. tp gara2 baca “of Layden Investigation Service”, ntah knp ‘Service’ itu bikin aku merasa klo ‘Layden’ bukan ‘monster’. malah lebih cocok nama kota
ada typo yg bikin bacanya jd agak terhenti.
si jackal junior lama sekali baru disebut namanya. sampe aku gemes n bilang dalam hati: ya ampun, siapa sih nama si junior ini…?
keknya dr awal sampe akhir, actionnya itu jelas bgt dibenakku. aku suka
Agustus 31, 2010 at 9:27 pm
Ah, Laydennya ga aku jelasin sampe jelas di awal ya? Sori2, my bad. Aku kira tadinya cukup cuma njelasin nama organisasinya itu.
Typo ya? Can’t get away from that. >_<
Soal nama jackal junior itu, aku emang sengaja. Nyoba seberapa lama aku tahan nyebut si karakter utama ga pake namanya langsung. Untungnya sekarang baru sampe level "gemes" bukan "kesel". Hehe.
Thank you, aku seneng kalo ada pembaca yang suka. (dan mau lempar komentar)
Agustus 31, 2010 at 9:50 pm
Hueee utang komenku yang terakhir… XD XD XD
Cerita ini kira2 70% nya berisi penggambaran orang berantem. Kadar antara “describing a battle” dan “actually telling a story”-nya rada timpang nih klo buatku.
Konsep dan idenya sih ga papa. Bisalah dipake. Soal kerisnya unik, cuma bunyi mantranya sedikit maksa.
BTW, request nama Edo agak lebih berasa pemuda Jawa boleh ga? Soalnya klo “Edo” kayanya generik abis. Ganti jadi yang wah kayak “Ardani” gitu, hahaha.
September 7, 2010 at 12:14 am
kayakny bagus kalau dijadiin anime atau manga
bisakah? heheheh.
terus saiya rada shock dengan penggunaan keris di Eropa…wkwkwk, Edo orang Indonesia kn?
September 11, 2010 at 9:31 pm
Yap, Edo itu orang Indonesia. Cuman kebetulan aja tugas pertamanya di Eropa sana.