ANASTASIA

Alcyon

Peperangan seakan tidak berakhir di belahan dunia barat. Sejak President Leonid Rowen membagi Federation-II menjadi dua negara, Federation-III dan Republik Artorion demi menghindari pertengkaran putranya, malah pertikaian yang timbul diantara dua kubu baru ini. Perang besar-besaran tanpa akhir terjadi selama seratus tahun hingga salah satu dari dua negara itu binasa.

Tapi detik-detik menjelang penentuan itu tampaknya segera tiba. Federation-III yang memiliki sekumpulan ilmuwan jenius di bawah pimpinan Dokter Ivan Strauss berhasil menciptakan alat pembunuh canggih yang tak bisa ditandingi oleh Artorion. Jengkal demi jengkal tanah Benua Eurel milik republik ini dicaplok satu demi satu oleh Federation-III. Gemuruh mesin perang Fed menapaki kota-kota Artorion hingga mereka tiba di batas terluar kota terbesar kedua negeri ini, Deurngart.

Pagi ini, langit Deurngart begitu murung. Sinarnya yang kelabu dihiasi bulir putih salju yang turun berjatuhan. Pemandangan yang begitu indah dalam lautan putih. Anastasia begitu menikmatinya dari balik selimut tebalnya. Dipandanginya salju-salju itu sebelum akhirnya tatapannya jatuh ke pria yang terlelap disampingnya. Pria dengan wajah yang begitu manis dan lembut, pria yang sungguh sangat berbeda dengan pria-pria lain yang pernah didekatinya seumur hidupnya. Pria itu telah, entah sejak kapan, menyita perhatiannya, perasaannya. Semua miliknya telah membuat Anastasia kehilangan akal, membuncahkan suatu perasaan yang begitu asing, spesial, yang tidak pernah gadis itu rasakan sebelumnya. Perasaan itu membuat jantungnya berdebar begitu mistis, membuat dia tidak mampu mengelak hasutan dari alam bawah sadarnya. Cinta, begitu sang pria memperkenalkannya kepada Anastasia.

Di atas ranjang ini, hanya berdua ditemani pagi bersalju, mereka saling berpelukan. Entah sejak kapan, Anastasia telah menghabiskan waktu yang begitu romantis dengannya. Dia bahkan hampir melupakan dunia nyata karena pria itu memberikan mimpi yang membawanya menuju dunia yang begitu menyenangkan. Dunia yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Anastasia begitu betah disana. Dia tak ingin pergi.

Tapi roda kenyataan tak mau berhenti berputar. Tidak sampai sebuah pesan singkat datang menghampiri ponsel miliknya. Dia terhenyak. Terdiam bisu. Dirasakan aliran darahnya berhenti. Jantungnya tidak lagi bersahabat. Pesan itu menghadirkan kepedihan dalam wajahnya. Dia seperti baru dibangunkan ke dunia nyata. Bingung harus berbuat apa. Cukup lama dia merenung memikirkan tiap petak kata dalam pesan singkat itu.

Akhirnya dia memilih bangkit dari ranjangnya. Ditujunya kamar mandi, berharap kucuran air hangat mampu melarutkan padatan memori yang terekam antara dia dan pria itu. Anastasia berusaha sebisanya menghapus perasaan itu bersama air yang beriak turun, perasaan cinta yang tak seharusnya dimilikinya.

Membersihkan diri yang rupanya perlu waktu lebih lama dari biasanya akhirnya diselesaikan juga oleh Anastasia. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu lalu kembali menuju ranjang dimana pria idamannya berbaring. Anastasia seharusnya meninggalkan pesan. Tapi dia tidak melakukannya. Tujuannya adalah tempat dimana pria itu menghamburkan jas resminya tadi malam. Dicarinya dalam saku celana, ponsel milik pria itu. Diambilnya sebuah kartu memori dari dalamnya dan memasukkannya ke ponsel miliknya sendiri.

Pria di sampingnya masih saja terlelap. Begitu nyenyak setelah melewatkan satu malam penuh romantisme yang begitu menggelora. Anastasia mencium kening pria itu. Cukup lama karena kecupan itu adalah yang terakhir baginya. Dia tidak akan bertemu lagi dengannya. Sehancur apapun perasaannya, dia harus bisa meyakinkan diri bahwa semuanya sudah berakhir sampai disini.

“Dave…”, ucapnya pelan menyiratkan perpisahan. Dalam keheningan dia beranjak meninggalkan kamar itu.

Terlalu sulit rupanya melupakan Dave. Terlalu berat membuang kepingan-kepingan kenangan indah bersamanya. Perasaan cinta itu masih menggema dalam jantung hati Anastasia. Tidak bisa dia meninggalkannya begitu saja dalam kamar ini karena ruang demi ruang, lorong demi lorong, bahkan jalanan yang dilaluinya serasa menghantuinya. Mengejarnya, memaksanya menerima kembali cinta yang telah dibuangnya. Dia tak berdaya. Dave terlalu kuat untuk dilenyapkan dari hatinya.

Dalam keheningan bis kota itu, Anastasia hanya bisa berharap, andai saja dia bisa mendapatkan sebuah keajaiban. Ya, keajaiban! Awalnya dia tak pernah percaya keajaiban. Tak pernah sekalipun karena segala yang terjadi dalam hidupnya dilaluinya dengan perhitungan dan perencanaan. Tapi entah kenapa, segala ucapan Dave membuatnya meyakini hal itu. Segala janjinya tentang pernikahan, tentang hidup yang baru, hal-hal indah yang sekalipun tak pernah terlintas dalam benak Anastasia, telah membuat gadis itu percaya, juga berharap, keajaiban yang begitu luar biasa akan datang mewujudkan semua mimpi-mimpinya.

Sekarang dia berharap keajaiban akan datang memberinya kekuatan menghadapi pesan dalam ponselnya yang masuk bertubi-tubi.

Anastasia tiba di daerah pinggiran kota yang cukup sepi. Sebuah gedung tua menjadi tujuan langkah kakinya. Dia menuju ke atap gedung. Ke tempat dimana seorang pria paruh baya diam menunggunya. Cuaca masih bersalju. Bulir putih itu membatasi antara dia dan sosok berpakaian hitam necis di depannya.

“Kupikir kau sudah melupakanku, Anastasia?!”

Anastasia memandang sejurus ke depan. Pria itu melepaskan kacamata hitam yang dipakainya, memaksa Anastasia memahami siapa dirinya.

“Paul…”

“Kau tidak memberi kabar apapun!”

Anastasia terdiam. Tak ada kabar memang untuk Paul sejak cinta membutakan dia.

“Bagaimana bisa pria seperti dia membuat kau berpaling dariku? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta kepadanya?”

“Tentu saja tidak!” Anastasia menolak semua kalimat berbau tuduhan walaupun sebenarnya dia tidak menyangkalnya.

“Kau kira aku tidak tahu?! Aku mengawasimu setiap saat! Aku sudah menyadari perubahan sikapmu, hari demi hari, kepadaku!”

Anastasia menunduk. Tapi dia sudah menduga cepat atau lambat Paul akan mengetahuinya. Pria itu menatapnya dingin dengan sinar matanya yang kelabu.

“Setidaknya aku sudah menyelesaikan tugasku dan datang kemari tepat waktu!” ucapnya berusaha membela diri.

“Memang begitu seharusnya!”

Anastasia lalu menyerahkan sebuah ponsel kepada Paul. “Semua data tentang  Hy-Ca ada disana”, ucapnya.

Paul tersenyum miris. “Kuharap semua sikapmu bisa terbayarkan dengan ini.”

Dia lalu memanggil seseorang dengan ponsel miliknya. Dalam beberapa menit, sebuah WarBird, wahana terbang Federation-III yang menyerupai helikopter tanpa baling-baling, berderu-deru di ketinggian mencari tempat pendaratan yang tepat di atas gedung itu. Paul memandang kembali Anastasia, mencoba menduga perasaan apa yang tersimpan dari balik wajah datar gadis itu.

“Apa kita sudah bisa pergi sekarang? First Wave akan dimulai. Tentu saja kau tak ingin terlibat di dalamnya, kan?”

Anastasia membalas tatapannya. Paul tahu itu tatapan ketidakrelaan.

“Jangan katakan kau masih teringat pria itu dan tidak ingin pulang denganku!”

Gadis itu hanya menjawab ucapannya dengan melangkah menuju WarBird. Misi sudah dia tuntaskan. Urusannya disini sudah seharusnya selesai. Tapi haruskah dia melupakan Dave? Haruskah dia membuang semua perasaan cinta ini? Melupakan semua yang telah dilalui Dave bersamanya?

Dimana keajaiban-keajaiban itu?

“Tasya…?”

Suara yang terdengar tak asing menyapa telinga Anastasia. Gadis itu menjerit sesaat tanpa suara. Paul mengerling, dia terkejut saat mendapati kemana tatapan mata gadis itu pergi. Di hadapan mereka, seorang pria berdiri memandang Anastasia dan Paul dengan nafas terengah-engah.

“D…Dave…?”

“Anastasia, dia mengikutimu?” bentak Paul. Anastasia menggeleng tidak tahu, masih dengan tatapan tidak percaya karena pria yang dicintainya tiba-tiba ada disana.

“Bagaimana bisa warga sipil mengikutimu sampai sini?” geram Paul. Wajahnya menampakkan amarah luar biasa yang tertahan. “Kenapa kau bisa sampai begitu lengah?” bentaknya lagi sambil mendelik ke arah Anastasia. Gadis itu hanya terdiam tanpa mampu berkata apa-apa. Paul memandang pria di depannya.

“David Sinclair. Pemikir terpenting dan salah satu pemilik Artorion Industrial Complex. Sungguh suatu kehormatan bersedia mengantar kepergian salah satu rekan kami.”

“K…kau? Tasya, si…siapa dia…?” ucap pria itu ke arah Anastasia dan Paul bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Dave… maaf…”, isak Anastasia pelan.

“Ada apa ini? apa yang terjadi?” ucap Dave lagi, kebingungan. Anastasia tak mampu menjawab pertanyaan penuh tanda tanya itu. Dia menatap Paul yang masih terlihat geram. Pria itu lalu berkata lagi, “Anastasia adalah bagian dari kami, pasukan elit Cobra, divisi khusus Federation Army. Dia kukirim untuk mendapatkan informasi terbaru tentang pengembangan senjata rahasia kalian, Hy-Ca Project. Dan sekarang, berhubung misinya sudah selesai, dia harus ikut kami kembali.”

“Ap…Apa…?!” suara Dave tercekat, antara ada dan tiada. Seperti rasa percayanya yang juga berada diantara ada dan tiada.

“Tasya… kau… mata-mata Fed?”

Anastasia masih tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya sedikit gerakan tak jelas di ujung bibirnya yang kaku.

Jadi… karena ini… kau memintaku menunjukkan berkas Hydrogen Cataclysm padamu… Sungguh, a…aku tak menyangka…”

“D…Dave…”

“Padahal… aku mencintaimu, Tasya! Kuberikan semua yang kumiliki kepadamu dan kau membalasnya dengan ini…? Semua kebohongan ini…?” rintih Dave tercekat. “ Jadi, semua cintamu padaku itu palsu…? Betapa kau setega ini padaku…?”

Anastasia tak bisa menjawab lagi, tubuhnya bahkan terlalu lemah untuk digerakkan. Dia seakan limbung, kehilangan pegangan. Dia seperti tengah jatuh ke dalam pusaran keputus-asaan. Dave sudah mengetahui rahasia terbesarnya dan dia terlihat begitu terpukul. Anastasia merasa hatinya sangat sakit karena telah membohongi pria yang begitu dicintainya. Matanya hanya bisa lekat-lekat menatap ke tanah, berair. Dia menangis dalam kebisuan.

Paul merasa waktunya mengakhiri sandiwara ini. Dia lalu memberikan kode, gerakan tangan, yang disambut dengan antusias oleh beberapa sosok yang tadi tidak tampak oleh Anastasia dan Dave. Gadis itu terkejut saat mendapati sekitar delapan sniper bersiaga di gedung yang berderet di sekitarnya. Bahkan belum sempat dia memalingkan tatapan matanya kembali kepada Dave, seorang gadis muda dengan pakaian serba hitam sudah menodongkan senjata ke arah pria itu.

Tiba-tiba Anastasia menyadari Paul tidak bisa diajak main-main.

“Kumohon… Paul, jangan! Dia tidak bersalah! Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau! Jangan bunuh dia!”

Paul tidak menggubrisnya. Matanya yang dingin kelabu menatap pria itu dalam-dalam. Dia berujar pada gadis di samping Dave, “Rebecca, bunuh dia!”

“Jangaaa…n!!!”

Rebecca siap melepaskan tembakan sebelum tiba-tiba sebuah teriakan histeris keluar dari mulut Anastasia. Sebuah gelegak jiwa yang begitu mengejutkan, yang sungguh tidak disangka oleh Paul bisa lepas begitu saja dari mulut seorang pasukan elit yang seharusnya sudah tidak punya perasaan emosional lagi. Dia semakin terkejut saat menyadari Anastasia sudah mengarahkan senjata ke wajahnya. Begitu tangkas dan cekatan, sebagaimana seharusnya Cobra.

“AP… APA MAKSUDMU, ANASTASIA???” Paul tidak menyangka, “Kau menodongkan pistol ke arahku? Kau membelanya? Jadi kau benar-benar memiliki perasaan padanya!?”

Semua yang melihat kejadian itu terkejut. Tiba-tiba puluhan titik merah kecil langsung muncul membayangi dada Anastasia. Titik merah itu berasal dari laser pembidik milik sniper yang siap menembaknya apabila ada satu saja hal bodoh yang dilakukan gadis itu.

“Kau melakukan hal yang sia-sia, Tasya! Aku sangat kecewa! Selama lima tahun kau kudidik menjadi spesialis pengintaian dan ini yang kudapatkan darimu?! Kau seorang senior, panutan, tapi malah jatuh cinta pada sasaranmu sendiri? Hal yang sungguh, sungguh, sangat memalukan!!! Kau mencoreng nama baik Cobra, Tasya! Kau tahu itu?!”

“Dia tidak bersalah! Biarkanlah dia pergi. Setelah itu, kau boleh melakukan apapun padaku…,” ujar Anastasia memelas.

“Kumohon…”

“Bodoh! Sungguh aku tak mengira kau akan bertindak sebodoh ini! Kau melakukan dua kesalahan besar, membiarkan pria itu mengutitmu hingga membongkar kedok kita dan kau jatuh cinta padanya sampai nekad menodongkan senjata kepada mentormu sendiri! Sekarang sebelum kau berbuat hal yang lebih bodoh, turunkan senjatamu!”

Anastasia tidak bergeming. Tekadnya kuat. Dia tak akan mendengarkan perintah Paul sampai pria itu membebaskan Dave. Tak akan!

“Dengarkan aku, Tasya. Pria itu sudah membongkar kedok kita. Kita tentu tak bisa membiarkan dia hidup bukan?”

Anastasia tetap tak bergeming. Pistol yang dicengkeramnya tetap mengarah ke jidat Paul.

“Sayang sekali, Anastasia! Sayang sekali!”

Sekilas Paul seperti sedang mengerling, sebuah kode yang luput dari perhatian gadis itu. Tiba-tiba terdengar suara dentuman senjata berperedam, yang meskipun lirih, mampu didengar oleh telinga Anastasia yang peka. Dia tidak sempat mencari tahu apa yang terjadi saat sebuah peluru yang melaju sangat cepat mendarat di rusuknya. Gadis itu menjerit tertahan. Peluru itu mendorongnya hingga terhempas kuat. Dia terseret beberapa meter ke samping. Terkapar tidak berdaya. Pistol yang dipakainya untuk menodong Paul tadi terlempar entah kemana.

Paul menggeleng lemah. Untuk beberapa saat, Anastasia terbatuk-batuk. Darah mengalir dari mulutnya. Namun dia menguatkan diri untuk kembali bangun. Dia mengira dirinya sudah mati saat menyadari jaket anti peluru yang dipakainya tadi telah menyelamatkan nyawanya.

“Terlalu sayang membunuhmu…” pandang Paul pada gadis itu. “Jadi tolong menurutlah padaku!” Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rebecca.

“Tak usah menunggu lama, Becca! Bunuh dia!”

Anastasia menatap Rebecca tidak berdaya. Dia tidak sudi Dave mati. Ingin rasanya berlari menjangkau gadis itu dan menahan gerakan tangannya. Menghentikan waktu kalau saja mampu.

Dia berharap keajaiban muncul saat ini!

Doanya terkabul.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring sirene dari kejauhan yang meraung-raung di seluruh pelosok kota. Semua yang hadir disana terperangah mendengar suara itu. Rebecca membatalkan niatnya menembak, dia menatap Paul penuh tanda tanya. Pria tua itu seketika menyadari sesuatu dan menggerutu perlahan.

“First Wave…?!”

Entah berapa puluh benda hitam bergerak muncul dari langit putih mengiringi suara sirene yang sangat mengganggu itu. Benda berbentuk bumerang dengan lambang rajawali berkepala dua di perutnya menderu-deru di atas langit berselimut salju. First Wave, pertanda dimulainya gelombang pertama serangan terbuka pihak Federation-III atas Republik Artorion di Deurngart. Ada sesuatu yang terbuka dari balik perut benda terbang itu, yang menjatuhkan ratusan benda-benda berbentuk tabung oval ke arah bumi. Sebuah bom.

Dalam sepersekian detik ke depan, ledakan berhamburan dimana-mana. Bom itu menghantam jalanan, gedung, mobil-mobil, dan manusia malang yang berhamburan panik lalu meledakkannya. Reruntuhan gedung berjatuhan menimpa siapapun di bawahnya. Teriakan histeris makhluk malang yang tak menyangka akan terjadi serangan dadakan muncul dimana-mana. Seisi kota bergemuruh seperti terserang gempa bumi. Sebuah panorama neraka yang dihadirkan Federation-II di kota ini.

Itulah keajaiban yang diberikan Tuhan kepada Anastasia. Sebuah kesempatan yang tak mau dia sia-siakan. Di tengah hiruk-pikuk ini, disaat Paul dan Rebecca lengah, disaat para sniper berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing, dia mengambil pistol cadangan yang disimpannya untuk saat-saat genting. Dilepaskannya tembakan dengan sudut presisi tinggi, suatu keahlian yang dia dapat dari Paul, ke arah genggaman pistol Rebecca. Sontak, benda itu terpelanting dari tangan Rebecca. Paul dan Rebecca yang begitu terkejut terlambat menyadari kalau Anastasia sudah begitu dekatnya dengan Rebecca. Satu pukulan telak membuat gadis itu terpelanting jatuh.

“Dave…”, Anastasia langsung menghampiri kekasihnya setelah memastikan Rebecca cukup tidak berdaya. Tapi siapa sangka, Dave malah bergerak mundur sambil menggeleng pelan. Anastasia melihat amarah, ketakutan, sekaligus ketidakpercayaan di wajahnya. Dave ternyata sudah menganggap dirinya berubah menjadi sesuatu yang tidak bersahabat baginya. Anastasia tertegun. Dia berteriak mengucapkan sesuatu. Semacam kata maaf. Semacam permintaan untuk diberi kesempatan menjelaskan segalanya. Tapi suara-suara itu hilang bersama gemuruh reruntuhan dan ledakan bom. Bahkan air mata yang mengalir deras dari wajah Anastasia seakan tertutup oleh bulir-bulir salju dan ledakan-ledakan yang hingar bingar diantaranya.

Dave seperti sudah kehilangan segalanya dari Anastasia. Pria itu tidak mengindahkan tatapan bersalah gadis itu. Dia membelakanginya dan berlari pergi, meninggalkan gadis yang pernah dia cintai tertegun dan menangis.

Anastasia tak tahu harus berkata apa.

Dave jelas-jelas sangat kecewa dengannya!

Dave telah meninggalkannya!

Anastasia menjerit. Kesakitan. dirundung kekecewaan dan amarah, dia melepaskan tembakan membabi buta ke segala arah. Dia kehilangan kendali. Putus asa seperti orang yang telah kehilangan segalanya. Tercampakkan. Sinar matanya menghilang. Rasa bersalah telah menggerogoti dirinya, menghancurkannya. Dihujatnya semua yang telah dia lalui. Dihujatnya keajaiban yang tak berhasil membawanya kembali ke mimpi-mimpi.

Amarah membuat Anastasia tidak menyadari kalau Rebecca baru saja melepaskan tembakan ke arahnya. Pelor panas menghantam pundak gadis itu. Matanya nyalang menyiratkan perih. Dia menjerit, terkejut kelengahannya membawa bencana baginya. Dia berhenti menembak. Tatapannya beralih ke gadis yang mengarahkan pistol ke wajahnya.

“Begini sikapmu terhadap kakakmu sendiri…?”

Rebecca tidak berkata apa-apa meskipun Anastasia tahu ada kesedihan di balik wajah datar juniornya itu. Pandangan mata mereka bertemu, mata hijau dingin Anastasia dan mata biru beku Rebecca. Ada pertikaian dari tatapan mereka. Pertentangan. Rasa tidak percaya. Rasa harus kehilangan.

“Kakak yang membuat semuanya menjadi begini!”

Ledakan demi ledakan menghujam Deurngart. Serangan dadakan Federation-III telah meluluhlantakkan infrastruktur kota ini. Reruntuhan yang terbakar dengan asap hitam yang mengepul tanpa ampun menghiasi langit bersalju yang muram. Bangunan-bangunan tinggi kehilangan keagungannya, hampir semua rata dengan tanah. Mobil-mobil tergeletak hangus. Jalanan dipenuhi lubang-lubang besar. Ribuan warga sipil, dengan berbagai macam kondisi yang mengenaskan, mati terkapar. Beberapa tertimbun reruntuhan, ada yang terkena ledakan, atau terjepit dalam kendaraannya sendiri. Tak ada yang tersisa juga dari gedung tempat konflik tadi berada. Bangunan itu, dan juga gedung-gedung di sekitarnya, runtuh setelah menerima empat-lima kali serangan bom. Sebuah WarBird tampak teronggok di salah satu reruntuhan, kendaraan yang dipakai Paul untuk menjemput Anastasia telah hancur.

Salju putih tetap saja setia turun. Saksi bisu dari sebuah cinta yang harus kandas. Pengingkaran yang tak termaafkan, kekecewaan tak berujung, dan kisah tragis yang tak terlupakan. Setiap teriakan, hujatan, dan air mata yang tumpah terekam baik-baik dalam tiap bulir salju itu. Menumpuk menyatu menjatuhi kota yang tiba-tiba senyap. Sesenyap matahari siang yang tak mau menampakkan diri dari balik mendung pekat.

Di salah satu reruntuhan itu, seorang pria tertegun putus asa. Kemelut wajahnya menggambarkan ketidakpercayaan kalau semuanya harus berakhir seperti ini. Dia telah kehilangan segalanya. Tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Suaranya mendadak hilang. Tubuhnya tak mampu bergerak. Semua amarah yang tadi dia rasakan seakan menguap. Lenyap setelah melihat tubuh gadis yang pernah mencintai dan mengkhianatinya, tergeletak kaku di depannya. Anastasia telah pergi. Lubang penuh darah di dahinya telah mengantarnya menuju keabadian. Gadis itu mati dengan meninggalkan wajah penuh kekecewaan dan rasa bersalah yang seakan tak terampuni. Ingin Dave menangis, tapi tidak bisa karena hatinya terlanjur sakit. Kepedihan itu menghalanginya bersimpati. Kerisauan dan kekecewaan, mengapa semua harus terjadi?

“Benar-benar menyebalkan, sungguh!”

Tiba-tiba terdengar suara menggema di telinga kirinya. Dave menyadari sesosok pria lain sudah berdiri tegak di sampingnya.

“Kamu telah berhasil mengacaukan segalanya, Tuan Sinclair!”

Dave melihat seorang pria paruh baya dan ujung pistol yang jaraknya hanya sepersekian senti dari wajahnya. Pria itu menggeram. Suara dentuman tembakan tiba-tiba terdengar mengiringi sebuah peluru yang bergerak cepat menuju wajahnya. Menembus otak pria muda itu. Menceraiberaikan isi kepalanya ke atas salju putih. Dave mati seketika. Tubuhnya jatuh menimpa kekasihnya sendiri. Kekasih yang sangat dicintainya. Kekasih yang terlebih dahulu kehilangan nyawa. Dua sejoli yang sama-sama pernah mencintai dan dikhianati itu akhirnya tiada.

Paul memandang Rebecca sambil menghela nafas kekecewaan yang rasanya terlalu besar. Sebuah WarBird lain sudah datang menderu-deru di atas udara, menjemput mereka keluar dari neraka itu. Second Wave, serangan darat besar-besaran, akan segera tiba, Paul tak ingin berlama-lama disana. Sudah cukup baginya kehilangan satu orang gadis yang sangat dia andalkan. Tatapan pedih tergambar di wajahnya saat menyaksikan tubuh Anastasia yang mulai tertutup salju hingga WarBird membawanya semakin menjauh dari jasad gadis itu.

Demi Hy-Ca Project, Cobra kehilangan sembilan orang terbaiknya. Anastasia serta delapan sniper yang tertimpa reruntuhan dinyatakan MIA (Hilang dalam Tugas). Hy-Ca Project dikembangkan oleh Dokter Strauss menjadi bom pemusnah massal pertama di dunia yang digunakan Federation-III menghantam Bargandy, Ibukota Artorion. Bom ini lalu dikembangkan lagi oleh Ascott menjadi bom paling mengerikan andalan invasi Federation-IV ke seluruh penjuru dunia, KOMET.

Iklan