ARIMAN

Wyka

“Amir!!!!”

Amir langsung melompat dari tempat tidurnya. Teriakan ibunya dari dapur telah membangunkannya. Amir segera berlari ke dapur mencari tahu penyebab mimpi indahnya di siang hari terganggu. Dapur terlihat baik – baik saja, rapi seperti biasa, tapi tunggu dulu, semua panci dan kuali ibu Amir sudah tidak tampak di lokasi masing – masing. Kenapa tiba  – tiba dapur kosong melompong? Ibu Amir berdiri di tengah – tengah dapur, tampak tidak percaya dengan kesialannya. Ia baru saja pulang kerja, masih tampak lelah dalam seragam kerjanya yang kusut. Ia langsung melotot ke arah anak tunggalnya yang sedang bengong memandangi dapur mereka dengan mulut menganga.

“pancinya kemana semua Ma?

“Mana Mama tau? Mama baru pulang kerja. Kamu dari tadi di rumah, masak nggak tau?”

“Siang tadi masih ada koq Ma, habis makan siang Amir tidur, nggak denger apa – apa.”

“Pintunya juga masih terkunci, berarti bukan maling ya Mir?”

“Malingnya pinter kali Ma, bisa masuk nggak pake bongkar pintu.”

“Iya maling pinter, nggak butuh duit, cuma butuh panci.”

Mereka terdiam sesaat, masih berusaha memahami kejadian ini.  Akhirnya sore itu  Amir diseret ibunya ke supermarket buat membeli pengganti barang – barang yang hilang.

Amir masih tidak habis pikir dengan kejadian siang kemarin. Masak barang – barang di dapur semua raib tanpa bekas? Gara – gara itu ia sekarang tidak bisa tidur siang seperti biasanya. Pikiran Amir sedang melayang – layang entah kemana saat terdengar suara – suara di dapur. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan mengendap – endap menuju dapur. Pintu dapur masih tertutup rapat. Syukur ibu Amir tidak pernah meninggalkan kunci di lubangnya. Amir berjongkok dan mulai mengintip dari lubang kunci. Tidak tampak siapa  – siapa di dapur.

SREEKK..SREEKK..

Suara itu terdengar lagi, tetap tidak ada siapa  – siapa di dalam dapur. Belum hilang kebingungan Amir, tiba – tiba…

”AAARRRGGGHHH!!!!!!!”

Amir menjerit kaget. Sebuah bola mata berwarna hijau keemasan balas memandangnya dari lubang kunci. “hanya kucing”, bisiknya dalam hati, “buka saja pintunya, tidak ada apa – apa disana”, pikirnya berusaha menenangkan diri.

Amir memutar pegangan pintu pelan – pelan. Pintu terbuka dan Amir menghembuskan nafas lega. Tidak ada siapa – siapa di balik  pintu.

“Haaloo.”

“AAARRRGGGHHH!!!!!!!”

Amir kaget sampai terjengkang ke belakang. Pada gagang pintu dapur duduk seekor mahkluk kecil, hanya seukuran jempol,  sedangkan ekornya sangat panjang, mungkin dua kali lipat panjang tubuhnya. Bulunya berwarna kuning keemasan yang membuatnya tersamar di gagang pintu yang berwarna sama. Matanya bulat besar, sampai – sampai memenuhi separuh bagian atas wajahnya, mulut dan hidungnya kecil mungil. Mata yang sama yang menatap Amir dari balik pintu tadi. Mahluk ini terlihat seperti seekor monyet mini. Ia memakai rompi berwarna biru gelap dan membawa ransel mungil berwarna sama.

Amir mulai bisa mengatasi kekagetanya dan sekarang mulai meneliti mahluk yang ada di hadapannya. Si mahluk tampaknya sama sekali bukan pemalu, karena bukannya bersembunyi, ia malah bersalto di pegangan pintu.

“Aku Ariman. Siapa namamu? Kita berteman?”

Suaranya kecil dan nyaring, seperti denting lonceng. Matanya yang bening terus memandangi Amir.

“A..a..amir!”

Amir bangkit dan mendekati si monyet kecil.

“Kamu yang mengambil panci mamaku?”

“Maaf, tapi Pika sudah kelaparan dan kami kebetulan terjatuh di dekat sini”

“Pika?”

“Mmm, ayo kukenalkan!”

Si monyet kecil melompat melewati Amir. Lompatannya tinggi sekali, tidak seperti binatang apapun yang pernah Amir lihat. Lompatan Ariman bisa setinggi badan Amir, membuatnya selalu berada di depan.

“Kamu ini mahluk apa?

“Kami bangsa Maar. Kami juga penduduk bumi. Leluhur kami datang dari galaksi lain ribuan tahun lalu. Pika itu kendaraanku. Lihat?”

Si monyet kecil berdiri di atas sebuah batu besar di kebun di belakang rumah Amir. Amir memandangi batu itu keheranan, seingatnya kemarin – kemarin batu itu belum ada di sini.

“Pika suka padamu, ia ingin menunjukkan keahliannya, boleh?”

Amir hanya bisa mengangguk dan tiba – tiba saja batu itu lenyap dari pandangan matanya berganti dengan sebatang pohon mangga.

“Hi.. hi.. hi..Pika suka menyamar dengan menampilkan hologram, dengan begini tidak ada manusia yang tahu tentang kami. Soalnya manusia kadang seram, kemarin mereka menebang habis hutan tempat persembunyian kami.”

“Maaf, aku ikut berduka cita deh. Lalu kenapa kalian bisa ada di sini? Apa gara – gara manusia..?”

“Bukan…bukan…Kalau itu sih gara – gara Larok. Mereka juga berasal dari galaksi yang sama dengan kami. Mereka mau menangkap kami untuk dibawa ke planet mereka.”

Tiba – tiba Ariman melompat ke pundak Amir. Sedetik kemudian Amir sudah berada di dalam ruangan. Seluruh dinding dan langit – langit ruangan itu berwarna hijau, kecuali dinding di depan Amir yang transparan, sebuah jendela kaca yang sangat lebar.

”Ini bagian dalam Pika, kalau aku menyentuhmu tubuhmu menjadi seukuran kami dan bisa masuk kemari.”, bisik Ariman, “Ada Larok di luar sana, jadi kita harus bersembunyi dulu sebentar.”

Amir memandang ke luar. Seekor kodok besar menatap ke dalam ruangan.

“Musuhmu kodok?”

“Bukan, iya sih, mereka mirip kodok, itu yang membuat mereka bisa membaur di palanet ini. Manusia tidak tahu tentang larok, kalian mengira mereka kodok.”

“Kenapa mereka ingin menangkap kalian?”

Ariman tidak menjawab tapi malah melangkah ke sudut ruangan. Ia memberi isyarat kepada Amir untuk mengikutinya. Ada sebuah bola kaca di sana. Permukaannya terlihat sangat halus mengkilap. Warna biru dan hijau terlihat silih berganti dari dalam bola.

“Letakkan tanganmu di permukaannya,”

Amir mengikuti perintah Ariman dan badannya terasa terjatuh ke dalam terowongan yang sangat terang. Amir berteriak. Rasanya lama sekali, seolah – olah terowongan itu tidak berujung, dan tiba – tiba badannya terbanting ke dasar.

Ia berada di tengah – tengah padang pasir dan di depannya terlihat pemandangan yang hampir – hampir tidak bisa ia percaya. Ribuan Larok, ia tahu ini Larok karena ia hampir yakin kodok tidak akan bisa berbaris rapi seperti ini, sedang berkumpul memandang ke arah panggung tempat seekor larok berada. Larok itu pasti pemimpin mereka karena ia tampak seperti sedang berpidato dan sesaat kemudian Amir bisa memahami apa yang dikatakan Larok tersebut, tidak dalam bahasa tapi hampir seperti melihat gambaran – gambaran di pikirannya.

Larok itu mengingatkan rakyatnya tentang nasib mereka, tentang hutan – hutan mereka yang habis ditebang, tentang kota – kota mereka yang terlalu padat dan penuh kekacauan dan tentang masalah yang paling menakutkan yang sedang dihadapi ras mereka. Air di planet mereka yang hampir habis, lenyap tanpa ada kemungkinan untuk tercipta lagi. Semua karena perkembangan mereka yang terlalu cepat sehingga semua yang ada di planet mereka habis mereka gunakan.

Amir kemudian melihat planet lain yang lebih kecil. Planet ini berwarna hijau kebiruan, mirip sekali dengan bumi, pikirnya. Amir langsung mengetahui apa yang dilihatnya. Ini rumah Ariman. Sesosok mahluk mirip Ariman tampak di benak Amir. Ia melompat mendekati sebatang pohon yang tampak menyedihkan. Sebagian cabangnya patah. Banyak daun  -daunnya yang habis terbakar, mungkin pohon ini sudah tersambar petir. Si monyet kecil melompat ke atas pohon sambil mengeluarkan suara lengkingannya yang khas. Hanya beberapa kali, kemudian datang lagi yang lain semakin banyak dan semakin banyak yang datang untuk ikut bernyanyi dan sedikit demi sedikit perubahan itu mulai tampak. Dari sisa sisa batang pohon muncul tunas – tunas daun yang baru. Amir merasa melihat semua itu seperti dalam film yang dipercepat. Akhirnya pohon itu pulih kembali, dengan daun – daun yang segar dan mereka pun melanjutkan nyanyian mereka dengan gembira. Bangsa Maar ternyata bisa menumbuhkan kembali pohon – pohon.

Amir kembali melihat rapat besar para Larok. Sang pemimpin masih terus berbicara. Amir memandangi sekelilingnya. Gurun pasir luas yang tandus dengan cuaca yang panas menyengat. Amir sudah tidak mendengarkan kata – kata sang pemimpin lagi. Ia sudah mendengar yang perlu didengarnya, rencana besar sang pemimpin Larok.

Kita akan menyerbu dan menduduki planet mereka dalam waktu yang sesingkat – singkatnya dan mengembalikan keindahan planet mereka dengan kekuatan budak baru kita yang istimewa.

Amir tertarik lagi oleh terowongan yang sama dan sesaat kemudian ia sudah berada di hadapan Ariman.

“Itu rekaman dari robot peneliti kami. Kemudian mereka mengirimkan tentara mereka ke planet kami. Teknologi mereka tidak maju dan kami bisa mengatasi senjata – senjata mereka dengan mudah. Tapi jumlah mereka sangat banyak, fisik mereka kuat dan setiap kali kami mengusir yang datang menyerang, akan datang lebih banyak Larok lagi untuk menyerang dan lama kelamaan hutan kami juga menjadi rusak oleh perang. Kaum kami yang tertangkap pun nasibnya tidak kalah menderita. Para larok akan memaksanya untuk menyanyi siang dan malam tanpa henti untuk merawat pohon – pohon mereka. Para larok sendiri tidak pernah belajar dari pengalaman. Mereka tidak bisa merawat rumah mereka sendiri. Pohon – pohon tetap saja habis mereka tebangi dan tidak peduli seberapa keras kaum Maar yang tertangkap bekerja, usaha mereka tetap sia – sia. Pada akhirnya satu persatu dari mereka akan mati kelelahan.

Sebagian dari leluhur kami yang sudah bosan berperang, memutuskan untuk menjelajah angkasa luar kemudian pergi meninggalkan planet kami dan pada akhirnya sampai ke bumi. Planet ini sangat mirip dengan rumah dan kami pun memutuskan untuk tinggal dengan menyembunyikan segala kemampuan kami dari manusia. Tapi larok berhasil menemukan kami dan memburu kami lagi.”

“Aneh tidak ada manusia yang tahu tentang hal ini?”

“Amir, biasanya kami menghapus ingatan manusia yang melihat kemampuan jadi tidak mungkin mereka menceritakan kejadian ini kepada orang lain. Manusia sekarang melakukan hal – hal yang dilakukan larok dulu di planetnya, kalau bangsa kalian tahu akan kemampuan kami, bukankah kalian juga akan memburu kami?”

Amir termenung. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya, memandangi Larok yang masih berusaha mencari buruannya. Tiba – tiba si Larok melompat pergi.

“Akhirnya ia pergi juga.”, sinar mata Ariman menunjukkan kelegaan.

“Aku masih belum mengerti kenapa kau ada di dapurku dan mencuri panci – panci kami?, tanya Amir.

“Ada yang urusan harus kulakukan disini, tapi saat kami sedang terbang rendah tiba – tia ada larok yang menembak Pika dan kami pun terjatuh di belakang rumahmu. Panci – panci itu untuk Pika. Ia diciptakan dari zat organik yang membuatnya mampu beregenerasi dan berkomunikasi dengan pengendalinya. Tapi ia tetap menggunakan logam untuk memperbaiki beberapa bagiannya yang rusak. Ia juga makan logam, semacam untuk bahan bakarnya. Maaf ya”

“Tidak apa – apa, kau masih butuh logam lagi? Kita bisa memakai perabotanku lagi.”

“Benarkah? Terimakasih! Pika bilang kau manusia baik!”

Amir cuma bisa tersenyum lebar. Kalau ibunya tahu dan mengomel lagi? ya sudahlah!, pikirnya.

Mereka melihat  -lihat keluar dari jendela kaca Pika. Kelihatannya tidak ada siapa – siapa. Ariman kemudian melompat ke bahu Amir dan mereka pun berada di luar lagi. Amir baru berjalan beberapa langkah ketika ia mendengar suara gemerisik di belakangnya. Ia menoleh ke belakang ketika ia merasa ada gelembung yang mengurungnya.

“Diam di sana!”, teriak Ariman.

“Ariman awas!!!”, Amir berteriak ketakutan melihat si larok yang tiba – tiba sudah berada di belakang Ariman.

Si larok menyentakkan lidahnya yang panjang keluar, berusaha menangkap Ariman yang menghindar dengan gesit. Pemburu dan buruannya sama – sama gesit, mengejar dan menghindar sangat cepat membuat Amir hanya bisa melihat kelebatan warna hijau lumut dari lidah si larok dan bulu keemasan Ariman.

“SRAAKKK!!!”

Amir melihat Ariman terjatuh, ia tampak kelelahan tapi setidaknya si larok tidak bisa menangkapnya. Si larok mengeluarkan suara dengkungan yang terasa menggema di telinga Amir. Entah kenapa ia merasa itu merupakan teriakan kemenangan si larok. Keringat dingin menetes di punggungnya. Diam – diam ia khawatir akan keselamatan Ariman.

“SRAAKKK!!!”

Kelebatan merah dan kuning itu mulai lagi tapi sekarang Amir mulai bisa melihat gerakan Ariman. Apakah ia semakin lambat?, pikir Amir.

Ambil permatanya!”, suara Ariman terdengar di dalam pikiran Amir. Amir memandang Ariman kebingungan.

Di bawah, di sebelah kakimu.

Amir membungkuk, memungut sebuah permata berwarna merah darah, yang berkilauan tertimpa cahaya matahari. Amir menggenggam permata itu erat – erat dikarenakan perasaan aneh yang tiba – tiba muncul di hatinya. Tanpa tahu bagaimana, ia merasa pasti kalau benda itu sangat berarti bagi sahabat kecilnya dan mulai sekarang ia harus menjaganya.

“SLAAPP!!!”

Lidah si larok akhirnya bisa menangkap Ariman. Tubuh kecilnya meronta tak berdaya berusaha melepaskan diri dari lilitan lidah panjang si larok. Amir menggigit bibirnya untuk mencegah jeritan keluar dari mulutnya. Lidah itu masuk kembali ke dalam mulutnya kemudian si larok melompat pergi tanpa menyadari ada manusia yang menyaksikan pertarungannya diselubungi perisai pelindung kaum Maar. Perlahan – lahan gelembung yang menyelubungi Amir memudar. Amir tetap berdiri tak bergerak. Air mata menetes di pipinya. Ia tahu tidak akan melihat Ariman lagi.

Permata merah di tangannya bersinar. Amir menghapus air matanya. Diangkatnya permata itu kedepan wajahnya. Ia memandangi permata itu dalam – dalam dan iapun paham. Amir melangkah mendekati Pika yang masih terlihat sebagai pohon mangga. Ia mengangkat kembali permata itu ke depan wajahnya dan iapun sudah berada di dalam Pika lagi. Ia sudah tahu apa yang dicarinya. Bola kaca biru tempat kenangan – kenangan kaum Maar disimpan. Disana ia tahu, ia akan menemukan kenangan dari sahabat yang baru saja ditemuinya namun sudah dirindukannya. Tangannya pun bergerak menyentuh permukaan bola.

Aku Ariman, aku seorang Maar. Usiaku 23 tahun Maar, mungkin setara 17 tahun umur manusia. Ayahku seorang ilmuwan ia bertugas menjaga perisai markas kami tetap berfungsi dan menyembunyikan kami dari kaum Larok. Itu tugas yang sangat penting, karena ada ribuan orang yang berlindung di dalam perisai markas kami. Aku sangat bangga padanya. Aku tidak belajar untuk menjadi ilmuwan. Aku tidak sepintar itu. aku juga ingin melindungi bangsaku jadi aku memilih berlatih menjadi prajurit. Aku masih anak baru dan juga anak yang payah, tapi aku akan berjuang sekuat tenaga untuk menjadi prajurit yang hebat.

Hari ini ayahku memanggilku untuk berbicara hanya berdua saja. Aku sudah tidak sabar , ingin tahu apa yang akan dibicarakannya! Ternyata hari ini hari yang bersejarah untukku. Ayah bertanya  kepadaku apakah aku percaya dengan permata legenda. Seorang ilmuwan bangsa kami dulu berhasil menciptakan formula ajaib yang konon bisa meningkatkan kemampuan kami untuk menumbuhkan pohon – pohon sampai tak terhingga. Tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya cara kerjanya karena sang ilmuwan dan permatanya tiba – tiba saja menghilang tanpa jejak.

Aku tidak terlalu percaya cerita itu tapi ayahku mengejutkanku dengan perkataanya.

“Ayah sudah menemukan jejak permata bertuah tapi tidak ada yang menganggap serius masalah ini. Ariman, ayah tahu kau masih muda dan masih harus banyak belajar tapi tidak ada lagi yang bisa ayah andalkan. Ayah tidak bisa meninggalkan tempat ini dan dewan pemimpin sudah memutuskan tidak akan melakukan pencarian terhadap batu permata itu. Jadi, ayah ingin kau yang melakukannya, kau yang akan mencari permata itu dan membawanya kemari. Permata itu memiliki energi yang sangat besar untuk menyembuhkan tapi energi itu juga bisa digunakan untuk menghancurkan. Kita tidak ingin permata itu jatuh ke tangan yang salah bukan?”

Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan, bagaimana ayahku bisa tahu begitu banyak tentang hal ini? Tapi ayah bilang ia akan menceritakan semuanya saat aku kembali dan  disinilah akhirnya aku berada. Aku menganggap diriku sedang berpetualang seperti pahlawan di cerita – cerita kesukaanku, di kota yang penuh dengan manusia ini. Aku menemukan permata itu tersembunyi di sebuah gua yang bagian atasnya sudah runtuh menutupi pintu masuknya. Aku juga menemukan jurnal sang ilmuwan yang tidak bisa kulihat isinya. Mungkin ayah bisa membacanya nanti. Masalah mulai muncul setelahnya. Ada larok yang melihatku lalu mulai memburuku.

Amir, jika  kau melihat pesanku ini berarti aku sudah tidak bisa memenuhi perintah ayahku. Bisakah kau melanjutkan tugas ini untukku? Pika tidak pernah salah menilai orang. Ia percaya kau adalah teman kami dan akupun begitu. Ayahku bilang manusiapun bisa menggunakan kekuatan permata ini dan kuharap kau akan bijaksana dalam menggunakannya. Sayang sekali ini berarti aku tidak akan menjadi prajurit seperti cita – citaku tapi aku tidak menyesal, aku menjalani petualangan tehebat dalam hidupku dan aku bertemu dengan sahabat manusiaku.”

Amir terduduk di depan bola Kristal. Sebuah gambaran terbentuk di benaknya. Sulawesi Utara, disanalah markas Ariman berada, tersembunyi di hutan di antara kelompok kera kecil Tarsius yang hanya ada di sana. Manusia tidak akan bisa membedakan kaum Maar dengan kera tarsius sama seperti mereka tidak bisa membedakan larok dengan kodok. Sangat pintar..aku akan menyelesaikan tugasmu kawan pengorbananmu tidak akan sia – sia, batin Amir. Ia mungkin akan mengatakan pada ibunya akan menghabiskan sisa liburannya di sana. Ini hanya sebuah awal, awal dari petualangannya sendiri dan ia akan berjuang sekuat tenaga demi kenangan sahabatnya, Ariman sang prajurit Maar.

Iklan