ARTEMIS DAN GUDANG HARTA RAHASIA PIRAEUS

Kirzo

Artemis menahan nafas. Ia berusaha merapatkan tubuhnya yang berotot dengan tembok batu di belakangnya. Batu‑batu gua yang kasar memberikan sensasi kurang nyaman ketika beradu dengan punggung Artemis. Namun rasa itu tidak terlalu penting, dibandingkan dengan ketegangan yang sedang Artemis hadapi tepat di depan hidungnya.

Kedua mata Artemis yang berwarna biru langit sedang memperhatikan dengan seksama gerak‑gerik tiga orang penjaga yang berada beberapa langkah di hadapannya. Dua di antara ketiga penjaga itu terlihat membawa masuk, masing-masing, dua karung  uang emas di punggung mereka. Sementara ketiga penjaga itu masuk, lima orang penjaga berjaga di depan pintu masuk rahasia dengan tombak dan pedang terhunus.

Sebagian rambut Artemis, yang berwarna sama dengan matanya, jatuh ke dahi dan mengganggu penglihatan bola mata kanannya, tetapi Artemis bergeming. Tangan kanan Artemis menggenggam erat gagang belati yang terselip di belakang punggungnya, siap untuk mencabut belati itu kapan saja diperlukan. Dan bila belati itu tidak cukup, masih ada selusin pisau lempar yang terselip rapi di balik baju Artemis yang berwarna coklat gelap.

Tak lama, terdengar suara benda berat yang bergeser di atas tanah. Salah seorang dari penjaga tadi baru saja menggeser beberapa batu khusus untuk menutup pintu masuk rahasia ke dalam gudang harta Piraeus. Artemis memperhatikan dengan seksama langkah‑langkah yang diperlukan untuk menutup pintu rahasia tadi. Ia, sangat mungkin, memerlukannya untuk keluar lagi dari gudang harta ini. Dan Artemis menyaksikan semuanya itu tiga langkah jauhnya dari tempat para penjaga tadi berdiri. Pancaran cahaya obor juga menyapu tempat Artemis ‘bersembunyi’ tetapi ketiga penjaga itu tidak melihat apapun di sana selain tembok batu.

Artemis hampir kehabisan nafas – dan jantungnya nyaris melompat keluar dari dadanya – ketika ketiga penjaga berwajah sangar tadi berjalan menjauh. Cahaya obor yang dibawa penjaga‑penjaga itu terus bergerak menjauh menyusuri lorong panjang nan sempit sebelum akhirnya menghilang ketika mereka berbelok ke kiri.

“Hampir saja.” Artemis berbisik lega. Kekuatan azimat ajaib yang membuatnya menjadi tak kasat mata sudah habis beberapa saat yang lalu. Lebih tepatnya, kekuatan azimat ajaib itu habis ketika para penjaga tadi baru berjalan enam langkah dari posisi Artemis berdiri. Dan Artemis, sungguh ingin menghindari, beradu kemampuan berpedang dengan para penjaga Piraeus. Bagaimanapun juga, ia hanya seorang pencuri.

Suasana menjadi sangat hening dan gelap. Suara langkah kaki para penjaga yang sebelumnya menggema sudah tidak lagi terdengar. Artemis merogoh ke balik bajunya dan mengeluarkan buntalan kain berisi sebuah botol kaca. Botol kaca itu terlihat bercahaya di dalam gelap akibat cairan lendir berwarna hijau topaz yang bercahaya di dalamnya.

Jemari Artemis bergerak cekatan menarik tutup karet botol tadi dan menuangkan sebagian isi botol ke atas telapak tangannya. ‘Menjijikkan, tapi berguna’, Artemis berkata dalam hati sebelum mengoleskan lendir kental itu pada kulit di daerah sekitar kedua matanya.

Dengan mata tertutup dan menahan rasa gatal yang mulai timbul, Artemis meringkas botol berisi ingus kelelawar Shimerian tadi dan memasukkan kembali botol serta buntalannya ke balik baju. Kedua matanya akan terasa sakit dan gatal keesokan harinya, tetapi Artemis tahu bahwa hal itu penting demi keberhasilan misi kali ini.

Segera, setelah rasa gatal mulai reda, Artemis membuka kedua matanya. Dan bagaikan seekor kucing, kini ia dapat melihat dalam kegelapan. Setidaknya untuk jarak pandang sepuluh sampai lima belas langkah ke depan, Artemis dapat melihat walaupun penglihatannya seperti sesekali berkedip dan juga tidak berwarna.

Piraeus, pemilik gudang harta rahasia itu, adalah tuan tanah terkaya di bagian timur kerajaan Melvius. Tanahnya sangat luas, dan sudah tak terhitung jumlah pekerja yang ia pekerjakan untuk mengelola tanah miliknya. Selain kaya raya, Piraeus juga terkenal kejam dan bengis. Secara licik, Piraeus membodohi petani‑petani bawahannya untuk bekerja baginya dengan upah yang sangat rendah. Ia juga yang menentukan jenis serta jumlah bibit tanaman yang harus ditanam, sehingga ia dapat memonopoli dan memanipulasi harga pasar dengan seenaknya.

Artemis sendiri belum pernah bertemu, ataupun melihat, Piraeus secara langsung. Bahkan sebagai seorang pencuri sekalipun, Artemis merasa malas berurusan dengan manusia semacam Piraeus. Koneksi pengusaha licik itu dengan pihak tentara membuat Artemis berpikir tiga belas kali sebelum mengingini harta di dalam gudang harta Piraeus.

‘Seseorang harus memberi gembrot sialan ini pelajaran!’ Artemis berseru geram dalam hati. Dalam benak Artemis, masih membekas kejadian di pasar tadi siang. Piraeus – yang berada di dalam tandu – beserta pengawal‑pengawal pribadinya yang mengelilingi tandu hendak melintas di tengah pasar yang sangat ramai. Dengan kasar para pengawal pribadi Piraeus membuka jalan di tengah keramaian pasar. Mereka mendorong ke kanan dan ke kiri tanpa mempedulikan apapun juga demi kenyamanan Piraeus.

Kelakukan mereka sudah lebih dari cukup untuk mengusir para pengunjung pasar. Banyak yang memilih mengurungkan niatnya untuk berbelanja dan menunggu kunjungan Piraeus berakhir. Namun akhirnya, tidak butuh waktu lama hingga pasar kota kehilangan semua pengunjungnya. Tetapi, bagaimanapun juga, para pedagang tetap tinggal.

Dan di situlah Artemis menyaksikan bagaimana Piraeus dapat berbelanja tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ia memilih dan mengambil apapun yang ia suka dari pedagang manapun yang ia inginkan. Kain-kain lembut, pakaian mewah, karpet bulu domba selatan hingga batu perhiasan yang menarik mata Piraeus, semuanya ia bawa begitu saja tanpa membayar. Dan ketika semua pengawalnya sudah tidak dapat membawa apa‑apa lagi, saat itulah ia pergi meninggalkan pasar begitu saja.

Mungkin saja rasa keadilan yang menggerakkan Artemis untuk merampok gudang harta Piraeus malam ini. Namun Artemis juga tidak dapat menyangkal bahwa ia sudah sangat lama mengincar salah satu artefak ajaib di dalam gudang harta Piraeus yang belum pernah tertembus oleh seorang pencuri pun. Sudah lama sekali Artemis menginginkan safir cermin langit yang, konon, tersimpan di dalam gudang harta Piraeus.

Tantangan, sedikit ketamakan dan sentilan rasa keadilan yang menggugah hati. Semuanya adalah jumlah alasan yang cukup untuk membulatkan tekad Artemis melakukan aksinya malam ini.

‘Siapa menabur angin akan menuai badai, Piraeus!! Malam ini, aku, Artemis, akan memberimu pelajaran yang sangat mahal!’ Sembari menyusuri kegelapan gudang harta Piraeus, tekad Artemis membara di dalam hatinya. Dengan penglihatannya yang tajam dan pendengaran yang terlatih, Artemis mengikuti jejak rute yang diambil oleh ketiga penjaga yang juga ‘membukakan’ pintu baginya.

Para pengawal tadi tidak banyak berbicara. Mereka hanya terus berjalan makin jauh ke dalam tanah. Dan fakta itu membuat Artemis tidak dapat hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya untuk memutuskan jalan mana yang benar di dalam gudang harta yang terkadang berliku itu. Namun gelar pencuri legendaris dari selatan yang Artemis dapatkan bukan isapan jempol belaka. Bukan hanya suara yang ditimbulkan oleh para penjaga itu, bekas tapak kaki hingga suara samar‑samar dari koin emas yang saling beradu di dalam karung,  membuat Artemis dapat mengikuti para penjaga itu dengan mudah.

Setiap jalan yang bercabang seakan memiliki tanda besar berkilauan yang menunjukkan arah mana yang dilalui para penjaga tadi. Dan dalam proses menguntit itu, Artemis berusaha agar jarak di antara dirinya dengan para penjaga tadi tetap sedikit jauh. Setidaknya sekitar dua puluh langkah di belakang mereka.

Azimat ajaib, yang tergantung di leher Artemis, memang dapat membuatnya tidak kasat mata selama beberapa saat, tetapi kekuatan azimat ajaib itu tidak akan dapat membantu Artemis lagi malam itu. Setidaknya hingga kekuatannya terisi kembali pada putaran bulan purnama berikutnya. Dan ditambah lagi dengan kondisi lorong‑lorong gudang harta Piraeus yang cenderung panjang dan sempit, akan sangat menyulitkan Artemis untuk bersembunyi bila ia harus berpapasan dengan para penjaga.

Artemis bergerak mengendap‑endap, memasuki bagian yang lebih dalam dari gudang harta itu. Semakin dalam, semakin lebar dan tinggi ruangan‑ruangan berdinding batu yang Artemis lalui. Dan juga semakin banyak obor yang terpasang di dinding untuk menerangi ruangan‑ruangan itu.

“Ugh, sial!” seru Artemis terkejut sambl melompat mundur dan bersembunyi di balik tikungan terakhir yang ia ambil. Matanya terasa pedih. Di balik tikungan, terdapat sebuah ruangan besar yang sangat menyilaukan. Memasuki ruangan seterang itu, dengan mata yang telah diolesi dengan ingus kelelawar Shimerian, sama saja dengan menyucukkan sebilah belati ke dalam mata sendiri. Sedikit lebih lama melihat ke dalam ruangan penuh cahaya tadi dapat membuat Artemis kehilangan penglihatan selamanya.

Artemis menduga, ruangan besar berstruktur datar itu kemungkinan besar merupakan ruang pemilahan harta sebelum ruang utama gudang harta Piraeus. Di ujung ruangan yang berukuran kurang lebih dua puluh kali tiga puluh langkah itu, terdapat pintu utama berukuran sangat besar. Kecurigaan Artemis makin besar karena sesaat dalam kesilauan tadi, ia melihat bagiamana pintu besar itu bertahtakan berbagai macam perhiasan dan batu berharga.

Artemis menunggu sejenak. Sambil memejamkan mata, ia mendengarkan derap langkah kaki ketiga penjaga itu. Tak lama kemudian, ketiga penjaga itu berhenti berjalan. Terdengar suara gemerincing di kejauhan.

‘Sekumpulan anak kunci.’ ujar Artemis, mengenali sumber suara gemerincing barusan. Saat di mana ketiga penjaga tadi membuka pintu masuk ke dalam ruangan harta Piraeus, saat itulah Artemis akan keluar dan secepat mungkin menundukkan ketiga penjaga tadi.

Artemis memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan, ia memfokuskan pendengarannya. Satu. Dua. Tiga. Artemis menghitung jumlah suara induk kunci yang baru saja terbuka. Dan setidaknya ada tiga buah induk kunci yang dibuka oleh penjaga tadi. Juga dari suara langkah kaki yang timbul, Artemis dapat mengetahui urutan lobang kunci yang dibuka oleh penjaga tadi. Kanan, kiri lalu lobang kunci yang berada di tengah.

Artemis tersenyum puas. Begitu pintu itu terbuka, dan terkonfirmasi bahwa ruangan itu benar‑benar ruang utama gudang harta Piraeus, Artemis akan memulai aksinya. Merobohkan ketiga penjaga itu mungkin akan sedikit merepotkan, tetapi Artemis masih punya beberapa trik yang belum ia pakai. Dan, dengan sedikit keberuntungan, pekerjaan ini bisa menjadi lebih mudah dari yang Artemis bayangkan sebelumnya.

Setelah pertimbangan singkat, Artemis mulai membersihkan cairan ingus kelelawar Shimerian pada mata kirinya dengan lengan baju yang ia kenakan. Tidak berhasil. Cairan itu lengket sekali, seakan menyatu dengan kulit di sekitar mata Artemis. ‘Tidak ada pilihan lain’, pikir Artemis, yang kemudian meludahi telapak tangan kanannya dan menggunakannya untuk membantu mempercepat proses pembersihan tadi.

Artemis mempercepat gosokan pada mata kirinya. Dari aroma khas kepingan‑kepingan emas yang tercium dari kejauhan, Artemis tahu bahwa, tidak salah lagi, di belakang pintu besar tadi tersimpan harta benda yang sangat banyak.

“Luar biasa!” seru Artemis antusias. Dengan sebelah mata terbuka dan yang satunya lagi tertutup, Artemis melongok dan melihat bahwa ia sudah berada di jalur yang benar. Ketiga penjaga tadi telah menuntunnya menemukan ruang utama gudang harta Piraeus yang sebenarnya.

Cahaya temaram ruangan di belakang pintu besar, yang masih terbuka sedikit, tidak dapat memberi gambaran yang jelas pada Artemis akan seberapa besar harta yang menunggunya di sana. Tetapi kegembiraan yang meluap‑luap dalam hati Artemis sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merogoh ke dalam saku di balik bajunya dan mengeluarkan salah satu artefak kesukaannya.

Kristal pelahap cahaya. Demikian Artemis menamakan bola kristal kaca bening yang berada di dalam genggamannya sekarang. Sekilas bola kristal itu terlihat seperti bola kristal biasa dengan bagian tengah yang kosong dan meninggalkan rongga di dalamnya. Tetapi, sesuai dengan julukannya, sesaat lagi bola kristal itu akan menjadikan ruangan terang benderang di hadapan Artemis menjadi gelap gulita. Semua cahaya di ruangan itu akan dilahap habis tak bersisa.

Tanpa ragu lagi, Artemis melemparkan bola kristal itu dengan keras melintasi ruangan besar di hadapannya. Spontan suara nyaring pecahan kaca memenuhi ruangan ketika bola kristal tadi menghantam tembok batu. Dan, tentu saja, kejadian ini menarik perhatian para penjaga.

Ketiga penjaga itu berlarian keluar dengan pedang terhunus. Mereka melihat serpihan‑serpihan kaca di lantai dan mata mereka mencari‑cari kesana kemari.

“Keluar! Tunjukkan dirimu!” teriak salah seorang penjaga. Salah satu dari mereka menghampiri letak jatuhnya bola kristal tadi dan menunjuk ke arah persembunyian Artemis.

Artemis bergeming. Semua masih berada dalam perkiraan dan kalkulasinya. Ketiga penjaga itu, sudah pasti, akan mengetahui tempat persembunyian Artemis. Hanya saja, sebentar lagi, mereka tidak akan dapat melihatnya.

Artemis memejamkan mata kirinya, dan membiarkan penglihatan mata kanannya mengambil alih. Dan benar, seusai sepuluh hitungan mundur Artemis, kristal pelahap cahaya mulai bekerja.

Bagaikan sebuah ledakan, kegelapan merebak, menggantikan cahaya yang memenuhi ruangan. Lusinan obor yang ada di ruangan itu masih menyala. Suara ayunan lidah‑lidah api dari semua obor itu masih terdengar samar‑samar di dalam kegelapan. Tetapi semua cahaya yang keluar dari obor‑obor itu terhisap masuk ke dalam artefak ajaib Artemis.

“Apa-apaan?!” seru penjaga yang sudah berada dekat dengan persembunyian Artemis. Kegelapan itu tidak akan bertahan selamanya, oleh karena itu, Artemis bergerak cepat.

Dengan penglihatan yang baik di dalam kegelapan, Artemis tidak mengalami kesulitan menghajar ketiga penjaga tadi. Tidak sampai dua puluh hitungan, Artemis sudah berhasil merobohkan semua penjaga tanpa perlawanan yang berarti.

‘Saatnya mengisi kantong‑kantong kain ini’ Artemis berseru senang di dalam hati. Ia berjalan memasuki pintu gerbang besar tadi sembari mengeluarkan tiga buah gulungan kantong kain berukuran besar dari balik bajunya.

Senyum Artemis terbentang lebar. Harta yang menggunung dan tak terhitung jumlahnya, Artemis yakini, sedang menunggu tak jauh di hadapannya. Ditambah lagi kepuasan yang amat sangat akan keberhasilannya menembus gudang harta salah satu orang paling kaya di kerajaan Melvius. Benar-benar malam yang indah bagi Artemis.

Ruangan harta itu berukuran, kurang lebih, dua kali lebih besar dari ruangan sebelumnya. Efek kegelapan dari kristal pelahap cahaya turut membuat ruangan itu menjadi gelap gulita. Artemis melihat sekeliling, dan puluhan obor yang berkeliling rapi di sepanjang tembok ruangan itu terlihat seperti barisan hiasan kertas yang melambai‑lambai.

Tumpukan-tumpukan tinggi koin‑koin emas, rata‑rata setinggi laki‑laki dewasa, bertebaran di seisi ruangan. Perabotan‑perabotan yang bertahtakan berlian, batu‑batu berharga, dan lusinan peti harta juga memenuhi ruangan besar itu. Pencuri biasa pasti sudah mulai menjarah dan memasukkan sebanyak mungkin koin‑koin emas ke dalam karung, tetapi tidak demikian Artemis.

Sejak memasuki pintu itu, tatapan mata Artemis langsung tertuju pada ujung paling dalam ruangan itu. Di atas sebuah altar batu, Artemis melihat banyak batu‑batu berharga, namun sebuah batu berbentuk bulat memancarkan cahaya biru yang sangat indah. Tak salah lagi, batu itu pastilah safir cermin langit. Kekuatan magis kristal pelahap cahaya nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada artefak ini.

Artemis bergegas mendekat. Beberapa langkah dari altar batu itu, Artemis terpaksa menutup mata kanannya dan membiarkan mata kirinya yang bekerja di dalam kegelapan. Silaunya cahaya yang terpancar dari safir cermin langit terlalu menyakitkan bagi mata kanannya yang masih di bawah pengaruh ingus kelelawar Shimerian.

“Sungguh indah.” Artemis bergumam, mengagumi safir cermin langit yang kini sudah berada di dalam genggamannya. Ia mengeluarkan kantong kecil dari saku celananya dan memasukkan safir cermin langit ke dalamnya.

Tugas belum selesai. Kembali ke penglihatan dalam gelapnya, mata kanan Artemis menelusuri gunung‑gunung harta di dalam ruangan itu. Dengan pengalamannya, tidak sulit bagi Artemis untuk membedakan mana benda yang benar‑benar berharga dan mana yang tidak terlalu berharga.

Ia mulai berpindah dengan cepat dari satu bagian ke bagian yang lain. Dengan cekatan, Artemis meraih semua benda‑benda paling berharga yang dapat ia kenali dan mulai memenuhi ketiga kantong besar tadi.

Tak lama kemudian, Artemis tersenyum puas. Ketiga kantong kosong tadi sudah berubah menjadi harta karun yang, mungkin, dapat dipakai untuk membangun sebuah kerajaan.

Meninggalkan ketiga kantong itu tergolek di tengah ruangan, Artemis duduk di depan altar, di mana ia menemukan safir cermin langit, dan mulai menggosok sisa ingus kelelawar Shimerian pada mata kanannya.

Tak lama kemudian, efek kristal pelahap cahaya habis. Cahaya barisan obor yang teredam di dalam ruangan itu kembali menjadi sebagaimana mestinya. Melihat semua tumpukan harta yang berkilauan di hadapannya membuat senyum Artemis tidak berhenti mengembang. Otaknya sempat memikirkan cara memindahkan semua isi gudang harta ini keluar, tetapi ia tahu bahwa itu mustahil untuk dilakukan sekarang. Diperlukan persiapan yang jauh lebih matang untuk melakukan hal itu.

‘Kalau gembrot sialan itu tidak merubah kelakuannya, mungkin akan kulakukan.’ pikir Artemis dalam hati sembari bangkit berdiri. Ia melihat ketiga kantong besar berisi harta itu dan menyayangkan bahwa sebenarnya ia hanya akan membawa keluar satu di antara kantong-kantong itu.

Di dalam kepalanya ia sedang memutar ulang langkah demi langkah yang akan ia lakukan agar dapat membawa kantong harta itu dan keluar dari gudang rahasia ini hidup‑hidup. Karena, yang pasti, kelima penjaga yang menunggu di depan satu‑satunya pintu keluar tidak akan membiarkan Artemis lewat begitu saja. Bukan hanya nyawa, tetapi yang lebih penting, reputasi Artemis sebagai seorang pencuri legendaris dari selatan juga dipertaruhkan malam ini. Tetapi Artemis yakin semuanya akan baik‑baik saja.

Piraeus akan sangat kesal, dan dalam benak Artemis mulai terbayang wajah masam Piraeus ketika mengetahui bahwa gudang hartanya yang tersohor tak lagi kebal terhadap pencuri. Segera, semua pencuri di wilayah kerajaan Melvius akan mendengar kabar ini lalu berbondong‑bondong datang kemari untuk menguji kemampuan mereka.

Beberapa nama pencuri tersohor sempat terlintas di dalam benak Artemis dan kesenangan Artemis memuncah hingga ia tak dapat menahan lagi tawanya. Tak lagi memusingkan cara keluar, Artemis tertawa sekeras‑kerasnya di dalam gudang harta Piraeus.

Ia tertawa, berguling‑guling di atas lantai batu sambil memegangi perutnya yang mulai sakit. Sementara itu, imajinasi Artemis terus bergulir. Piraeus tentu akan melipat gandakan penjagaan, akan banyak ‘kolega’nya yang gagal dan tertangkap. Nama besar gudang harta ini akan pulih kembali dalam satu atau dua tahun, Artemis menduga-duga.

“Dan saat itulah, aku akan kembali dan mencuri lagi.” Artemis berbicara sambil menahan tawanya yang masih belum juga berhenti. Ia sudah berhenti berguling dan otot perutnya sudah terasa sakit karena terlalu tegang. “Ow, aku sangat menyukai pekerjaan ini!!”

Iklan