ATHENE: AKU TAK PERLU KEMBALI LAGI

Adil Albanny

Pagi ini sangat ramai. Orang-orang sudah terbangun sejak fajar terbentang. Chrusilla sedang bergembira hati. Seorang Astazen telah lahir! Dan ini harus dirayakan.

“Siapa Astazen kali ini?” tanya Athene.

“Scarlett, anak laki-laki Tuan Yulius.” jawab Ibu cepat. Kedua tangannya tengah asyik menyulam sebuah gaun.

“Tuan Yulius? Raja tanah di Chrusilla itu!?”

“Iya…”

Athene termangu. Nama Tuan Yulius sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang Chrusilla. Ia memiliki tanah terluas di Chrusilla dan memiliki buruh tani yang luar biasa banyak. Anak laki-lakinya, Scarlett, adalah remaja nakal yang beberapa waktu lalu meninggal karena terlalu banyak minum. Athene belum pernah melihat sosok Scarlett, namun anak itu sudah terkenal sekali kenakalannya.

“Siapa yang menjadi Nodea?”

“Karavansa.”

“Oh, penggembala itu…”

“Biar penggembala, anak itu sudah terkenal kebaikannya. Katanya, sehari sebelum proses Cronzen untuk Scarlett, Tuan Yulius benar-benar memanjakan Karavansa. Tuan Yulius beruntung karena Karavansa hidup sendirian sehingga Tuan Yulius tak perlu memuliakan keluarganya.”

Athene terdiam. Ia malas sekali membicarakan hal itu. Athene memang tidak begitu mengenal Karavansa. Tapi anak itu pernah menolong Athene dari kejaran anjing hutan. Benar-benar anak baik yang sayang sekali untuk dikorbankan. Karavansa hidup sebatang kara. Ia adalah ‘mantan’ anak panti asuhan.

“Ibu, jika aku meninggal nanti, ibu tak perlu menjadikanku sebagai Astazen.” ujar Athene tiba-tiba.

“Kamu ini bicara apa? Sudahlah! Cepat mandi sana! Sebentar lagi, Tuan Yulius akan mengadakan pesta besar!” perintah Ibu. Athene meninggalkan ibu. Tapi tidak untuk mandi, melainkan duduk di serambi untuk merenung. Ia membenci Cronzen. Ia membenci orang-orang kaya. Chrusilla adalah negeri yang kuat karena memiliki ahli agama terbanyak di dunia. Negeri yang kuat dengan nyanyian religius dan kitab-kitab suci. Serta kemampuan Cronzen yang terkenal dan tiada taranya. Kemampuan ini bisa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dengan mengorbankan orang lain. Intinya, proses pertukaran nyawa yang melalui berbagai lika-liku aturan agama. Agama yang dianut para ahli Cronzen adalah Carmen. Merupakan agama yang memiliki nyanyian religius paling banyak. Agama yang mengajarkan bahwa kematian bukan penghalang bagi manusia. Kematian bisa diatasi dan kehidupan harus dijemput. Adapun Astazen dan Nodea, adalah dua objek vital dalam Cronzen. Astazen adalah orang yang telah meninggal, namun dihidupkan kembali. Biasanya, keluarga Astazen adalah orang-orang kaya dan memiliki pengaruh di Chrusilla. Mereka harus punya banyak uang untuk memuliakan keluarga Nodea. Nodea adalah orang yang dikorbankan nyawanya. Sebelum mereka dikorbankan, mereka selalu dimanjakan dan diberi berbagai kesenangan dunia oleh keluarga Astazen. Nodea harus orang baik dan memiliki kesadaran sendiri untuk menjadi Nodea. Jika dipaksa, ruhnya tidak akan diterima dan Astazen tidak akan dikembalikan. Dampak luar biasa yang dihasilkan adalah bencana alam dan wabah penyakit. Insiden seperti ini disebut ‘Mengundang Murka’. Selama Cronzen berlangsung, tak boleh ada penduduk yang keluar rumah. Mereka harus tetap berada di dalam rumah untuk menyanyikan lagu-lagu Carmen serta berdo’a agar proses pengorbanan itu berhasil. Untuk melakukan semua itu, keluarga Astazen harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Pesta Tuan Yulius benar-benar luar biasa. Berbagai makanan mewah dengan jumlah yang seakan tak dapat dijabarkan, terhampar untuk dinikmati para penduduk Chrusilla yang hadir. Rumahnya yang bak istana itu tak juga penuh sesak meski banyak sekali orang yang memenuhi undangannya. Semua orang berdansa dengan hati yang gembira. Kebanyakan dari undangan adalah bangsawan kaya. Namun pesta itu tak dibatasi. Penduduk kelas menengah ke bawah pun banyak yang menghadiri pesta. Mereka senang begitu melihat Scarlett duduk dengan manis di samping ayahnya. Athene tak menikmati pesta. Ia masih menyayangkan pengorbanan Karavansa. Ia tidak memperhatikan Scarlett atau orang lain yang saat itu tengah mendapat perhatian. Athene meninggalkan ruang dansa dan beranjak ke serambi atas. Ia lebih suka menyendiri. Siang ini agak berawan sehingga angin semilir serasa sejuk. Pohon-pohon mulai menggugurkan daun pertanda musim gugur menjelang. Awan-awan putih menutup sinar matahari dan Athene dengan puas memandang lapisan langit yang luar biasa.

“Kau suka disini, kan?” sapa seseorang. Athene menoleh kaget pada orang yang menyapanya. Seorang laki-laki yang berwajah amat pucat dan berpupil mata warna kuning. Athene hampir terlonjak ketakutan.

“Siapa kau?” tanya Athene.

“Aku Scarlett. Kau?”

Athene menoleh tak percaya pada lelaki yang mengenakan baju yang mewah itu, “jadi engkau Astazen anak Tuan Yulius itu?”

“Kau tidak tahu aku?”

“Aku sering mendengar namamu, tapi aku tak tahu wajahmu.” jelas Athene.

“Oh… Kau siapa?”

“Aku Athene.” jawab Athene pendek.

“Athene, senang berkenalan denganmu…” Scarlett tersenyum. Athene sekilas menatap wajah Scarlett. Wajah yang sebenarnya terukir tampan itu, masih tersampul oleh ciri-ciri Astazen, yaitu warna kulit yang amat pucat dan pupil yang menguning. Athene merasa gelisah. Lelaki di hadapannya itu, hidup kembali setelah mengorbankan nyawa salah satu orang yang terkenal kebaikannya di Chrusilla.

“Saat Cronzen berlangsung, sempatkah kau bertemu dengan Karavansa, Nodea untukmu?”

“Aku melihatnya, dalam kegelapan. Saat itu aku tak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba muncul sosok Karavansa dan tangannya menarikku keluar dari kegelapan itu. Begitu ia melepaskan tarikan tangannya, ia menghilang dan aku merasakan ada sesuatu yang memelukku dengan erat. Aku tahu itu adalah Ayah, dan aku tahu bahwa aku hidup kembali.”

“Begitu ya… bagaimana rasanya telah hidup kembali? Pastinya bahagia, kan?”

Scarlett tiba-tiba menengadahkan kepalanya menatap langit. Sorot matanya yang tajam seakan mampu melahap langit yang kini mulai mendung.

“Rasanya? Aku pikir, yang akan merasa bahagia adalah keluarga dari Astazen itu sendiri. Aku ingin meyakinkan satu hal, bahwa yang Astazen rasakan setelah lahir kembali bukanlah perasaan senang, melainkan penyesalan!” tukas Scarlett keras. Athene tak menatap Scarlett, ia memfokuskan pendengarannya.

“Mengapa? Mengapa penyesalan?” sahut Athene.

Scarlett masih menengadahkan kepalanya ke langit. Burung-burung Feturian, burung tercantik di dunia, yang disinyalir sebagai burung peliharaan Dewi Anastasius, dewi kehidupan, melintas sambil menjatuhkan daun-daun Oimos, daun-daun rahmat, di atas Scarlett. Seolah-olah Scarlett adalah manusia baru yang lahir kembali. Daun-daun Oimos yang berwarna emas mengilap itu  menyemburkan cahaya-cahayanya ke arah Scarlett. Burung-burung Feturian terbang mengitari Scarlett sambil bersiul panjang pendek menyanyikan lagu. Athene sontak takjub melihat pemandangan yang hanya berjarak kurang lebih satu meter dari tempatnya berdiri. Cahaya yang disemburkan daun Oimos luar biasa gemerlapnya seakan-akan mampu menutupi kesunyian lapisan balkon ini. Namun, Athene tak melihat roman senang di wajah Scarlett. Bahkan, Scarlett tampak murung mendapatkan kemuliaan seperti itu. Sesaat kemudian, cahaya daun-daun Oimos berkurang dan kemudian lenyap. Burung-burung Feturian kemudian terbang pergi meninggalkan Scarlett.

“Astazen percaya, jika mereka dikelilingi burung-burung Feturian yang telah menempuh ribuan mil perjalanan sambil disembur oleh cahaya-cahaya daun Oimos yang paling gemerlap kilau emasnya, berarti Nodea yang telah berkorban sudah menjadi bagian dari Esvuidas, tempat terindah di alam kematian. Selain itu, pertanda pula bahwa kemudian Astazen tersebut akan berumur panjang. Aku senang Karavansa sekarang sudah bahagia. Tapi aku menyesali usiaku yang masih akan lama….” kata Scarlett lemah.

“Mengapa? Mengapa kau menyesal? Berbahagialah karena kau mendapatkan kemuliaan dari Dewi Anastasius!”

“Kau bukan Astazen, Athene! Astazen adalah manusia hidup yang pernah mengalami kematian. Ketika kau sadar bahwa ragamu tak mampu  lagi menopang arwahmu, segalanya berubah. Yang aku rasakan adalah kegelapan, dan sakit. Dengan membawa segudang kesedihan aku menangis untuk kematianku. Begitulah pada awalnya. Tapi, ketika seseorang mati, maka ia mengetahui segala rahasia tentang hidupnya. Begitu pula aku. Dengan kematianku, aku mengetahui siapa saja orang yang membenciku, orang yang ingin membunuhku, dan orang yang ingin menjatuhkan Hox padaku, dengan begitu yang aku rasakan kemudian adalah rasa syukur yang tiada terkira karena telah pergi dari dunia yang penuh ancaman ini. Sekarang, bagaimana aku tidak menyesal karena telah menjadi Astazen? Usiaku masih lama… dan aku harus berjuang menyingkirkan ancaman-ancaman itu.” tutur Scarlett sedih. Di sudut matanya, air mata menggenang. Namun sorot matanya tetap tajam.

Dada Athene berdesir. Ia terpana mendengar penuturan Scarlett. Tak menyangka bahwa kenyataan menjadi seorang Astazen itu begitu sulit. Ada yang ingin menjatuhinya Hox? Hox yang setara dengan digusur empat kuda balap di lahan berbatu, adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pendosa genosida. Apakah Scarlett pernah melakukan kejahatan genosida?

“Tidak. Aku tidak pernah melakukan kejahatan level itu. Hanya terlalu banyak minum saja. Tapi, orang-orang itu, yang menanam rasa dengkinya padaku, ingin menyiksa anak Tuan Yulius ini dengan hukuman setingkat Hox.” jawab Scarlett seolah menjawab pertanyaan di pikiran Athene. Athene merasa takjub.

“Astazen dikaruniai perasaan yang amat sensitif dan kemampuan untuk membaca pikiran orang lain lewat gerak-gerik dan mimic wajah orang tersebut. Jangan terlalu bingung.. sebenarnya, jadi Astazen itu menyenangkan juga…” canda Scarlett. Tapi malah terdengar sebagai sebuah ratapan di telinga Athene. Sekarang, hatinya merasa semakin iba pada Scarlett.

“Jangan iba padaku, ya… aku haus, ayo kembali ke ruang dansa…” ajak Scarlett. Athene menurut saja. Ia mengekor di belakang Scarlett, namun tiba-tiba Scarlett menggamit tangannya.

“Ayo..” katanya lembut.

Athene agak tercekat begitu tangan Scarlett menggamit tangannya, terutama begitu melihat perbedaan warna kulit yang agak mencolok. Tangan Scarlett yang teramat putih, terasa hangat. Athene terdiam saja. Berpikir bahwa jika ia telah mati nanti, ia tidak mau menjadi Astazen.
Dunia kematian, dunia yang baru itu, bukanlah dunia yang harus dihindari. Manusia yang terpisah jiwa dan raganya, memiliki kewajiban untuk menjalani dunia barunya. Menjadi Astazen itu memang suatu hak, namun penyalahan kodrat yang luar biasa.

“Brak! Prang!”  terdengar kegaduhan di ruang tamu. Athene yang tengah tidur di kamar seketika terbangun. Apa lagi yang terjadi?

“Aku minta uang!” teriak seseorang. Teriakannya menggema di rumah yang agak besar namun sederhana itu. Suaranya tak asing lagi di telinga Athene. Suara itu seperti….

“Kenapa disini tidak ada uang, hah!?” teriak orang itu lagi, dan semakin keras.

…suara kakak laki-lakinya yang telah lama meninggalkan rumah sejak beberapa tahun yang lalu, Armuchus!

Armuchus?

Athene segera beranjak dari dipannya dan berlari keluar kamar. Begitu ia membuka pintu, sontak matanya menangkap pecahan barang-barang yang berserakan di lantai, serta Ayah dan Ibu yang berlutut ketakutan! Melihat itu, Athene sekejap tak mampu menahan kemarahannya.

“Armuchus! Apa yang kau cari!?” teriak Athene. Armuchus yang sedang mabuk berhenti berteriak begitu mendengar suara adiknya itu. Tiba-tiba, Armuchus memeluk Athene dengan keras.

“Athene sayang… adik perempuanku yang tercinta! Bagaimana keadaanmu, adikku sayang?” kata Armuchus ngelantur. Athene berusaha keras melepaskan pelukan Armuchus yang kuat.

“Lepaskan, Armuchus!”

“Aku sangat merindukanmu…” lanjut Armuchus. Tanpa diketahui Athene, di sudut mata Armuchus yang menggenang, memang menggambarkan betapa hatinya merindukan adiknya itu. Armuchus meninggalkan rumah untuk bergabung dengan sindikat pengedar morfin dan sejak itu pula, tak terdengar lagi kabarnya. Meski jauh dari rumah, hanya satu orang yang selalu menjadi pikirannya, hanya satu orang yang menjadi pusat kekhawatirannya, yaitu Athene yang amat ia cintai.

Athene mendorong badan Armuchus yang kekar sekeras mungkin. Armuchus yang sedang mabuk seketika ambruk di lantai. Athene mendekati Ayah dan Ibu. Kedua orang tuanya itu tampak ketakutan.

“Ayah, Ibu, tenanglah… segalanya akan menjadi baik-baik saja…”

“Tidak baik-baik saja, Athene… Usaha sulaman kita sedang macet, dan ayah terlilit hutang yang tidak sedikit…” desis Ayah sedih. Athene tercekat mendengarnya. “jadi? Apa yang akan terjadi pada kita nanti?”

“Jika rumah ini tidak disita, mungkin kita akan makan nasi sepiring dua hari.” sambung Ibu.

“Sebegitu parahnya?”

“Benar, Athene… Ibu sulit sekali berpikir untuk mencari solusi untuk masalah Ayah.. tapi masalah Ayah adalah masalah kita juga…”

Tentu saja. Batin Athene. Apa pula yang sedang dipikirkannya? Entahlah, Ia terlalu banyak pikiran.

Athene sedang sibuk menyulam. Ia akan menyulam sebuah baju hangat untuk Scarlett. Kemarin, Scarlett datang ke rumahnya dan meminta untuk dibuatkan sebuah baju hangat. Akhir-akhir ini, Athene dan Scarlet semakin dekat. Athene merasa nyaman bergaul dengan Scarlett. Bukan karena Scarlett adalah orang kaya, tapi dia adalah orang yang sangat terbuka.

“Blak!” tiba-tiba pintu terbuka. Athene terkejut begitu tiba-tiba Ayah masuk dan mendekatinya.

“Ada apa?” tanya Athene.

“Cintakah engkau pada ayahmu ini, nak?” Ayah malah bertanya kembali. Keningnya penuh keringat. Sorot matanya menyayat-nyayat.

“Sudah tentu, Ayah…”

“Maukah kau melihat Ayah menderita karena hutang Ayah?”

“Tidak mau. Aku akan berusaha agar Ayah tidak menderita… bagaimana pun caranya..”

Mendengar jawaban Athene seperti itu, Ayah terdiam sebentar.

“Bersediakah kau menjadi Nodea?”

Guntur serasa menggelegar di telinga Athene. Langit terasa terbelah dan menjatuhkan seisinya ke dalam jiwa Athene saat ini, tak menyangka ayahnya akan bertanya seperti itu.

“Maksud ayah, aku menjadi Nodea dari Astazen kaya untuk melunasi hutang ayah!? Ayah! Ayah ingin aku mati!?”

“Tidak, sayang… ayah tidak ingin kau mati. Begini, cucu Raja Marhallum baru meninggal kemarin karena masuk angin. Raja sekarang tengah mencari Nodea untuk menghidupkan kembali pewaris tahtanya itu. Jika kau menjadi Nodea untuk cucu raja, mereka akan memberikan uang yang sangat banyak dan sebuah rumah yang besar. Nanti kalau hutang Ayah lunas, dan Ayah sudah sukses dengan bisnis Ayah yang baru, Ayah akan mencarikan Nodea untuk menghidupkanmu kembali, nak…” jelas Ayah.

“Tidak mau! Aku tidak mau mati dulu! Ayah jangan gila, Yah! Mengorbankan nyawa anak sendiri demi kehidupan orang lain!”

“Sayang, nanti Ayah akan menghidupkan kamu kembali…”

“Tidak mau!” teriak Athene sambil beranjak pergi meninggalkan sulamannya dan Ayah yang termangu. Tiba-tiba ada yang menahan tangannya. Athene menoleh,

“Kamu harus jadi Nodea! Kalau tidak mau, Ayah akan membunuh Ibumu!” ancam Ayah. Athene terperangah. Ia mulai tak menemukan sinar kasih sayang di mata Ayah untuknya lagi. Bisa-bisanya Ayah mengancam akan membunuh Ibu!

“Ayah! Ada apa dengan Ayah!? Kenapa Ayah jadi begini? Ayah tidak menyayangiku lagi!?”

“Sudahlah! Hari ini juga kamu harus menjadi Nodea!”

“Ayah, aku tidak mau!”

Ayah segera menarik tangan Athene dengan keras dan membawa pergi Athene. Ia membawa Athene ke suatu tempat, ke sebuah istana, untuk menawarkan Athene menjadi Nodea.

“Apakah Athene berada di rumah?” tanya Scarlett begitu menyambangi rumah Athene. Ibu merasa terkejut dengan kedatangan Scarlett. Lelaki itu datang dengan penampilam yang sederhana. Tidak seperti di pesta beberapa waktu silam. Di kulitnya mulai mengalir darah sehingga tidak terlalu pucat. Scarlett terlihat semakin manis.

“Scarlett?”

“Benar,”

“Ada urusan apa dengan putri saya? Putri saya membuat masalah dengan anda?”

“Tidak, Bu. Saya hanya ingin mengambil sulaman yang saya pesan pada Athene.”

“Oh, begitu… tapi Athene sedang tidak berada di rumah…”

Scarlett baru akan bicara lagi, tiba-tiba Ayah datang.

“Ayah, mana Athene?” tanya Ibu.

“Ia sedang bersenang-senang…”

“Apa? Bersenang-senang bagaimana?”

Ayah mendekatkan mulutnya ke telinga Ibu. “ia menjadi Nodea malam ini, untuk Astazen Mauriculos.” bisik Ayah.

“Apa!? Ayah tidak sedang membohongi Ibu, kan!?”

Ayah tak menjawab pertanyaan Ibu. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Ibu mengejar Ayah, tapi penyakit asmanya mendadak kambuh dan ia terjatuh. Scarlett yang melihat hal itu langsung menolong Ibu.

“A-ambilkan obat di buffet!” pinta Ibu. Scarlett segera mengambilnya dan memberikannya kepada Ibu. Setelah beberapa saat, Ibu tampak sudah tenang. Tiba-tiba Ibu menangis.

“Bu, ada apa?” tanya Scarlett lembut. Tangis Ibu semakin kencang. Ia merasakan perih di hatinya. Anaknya akan berkorban untuk orang lain malam ini!

“Bu, tenanglah…”

“Bisakah kau tenang jika anakmu akan menjadi Nodea malam ini!?” hardik Ibu.

“Athene?”

Ibu mengangguk. Scarlett mengerutkan kening.

Athene akan menjadi Nodea? Bagaimana bisa?

“Ayahnya terlilit hutang. Mungkin dengan menjadikan Athene sebagai nodea, Ayah akan mendapatkan uang untuk membayar hutangnya…”

“Tapi kenapa harus dengan mengorbankan anak sendiri!? Athene pernah berkata padaku bahwa apapun yang terjadi ia tidak mau menjadi nodea ataupun astazen! Ia ingin menjadi manusia yang mati dengan normal dan tidak pernah mau kembali lagi ke dunia ini! Lagipula menjadi Nodea itu hatinya jangan dipaksa! Ini akan mengundang murka! Kita harus menghentikan ini…”

Malam yang teramat sunyi. Cronzen sedang berlangsung. Nyanyian-nyanyian yang hanya terdengar di dalam hati, juga sahutan-sahutan kecil dari burung-burung Ergano hitam yang merupakan lambang dari kematian dan pengorbanan. Ibu hanya menangis di rumah ditemani oleh Armuchus yang tiba-tiba menjadi anak yang baik. Beberapa menit yang lalu, kepala Ayah baru saja terpenggal di tangan Armuchus yang begitu marah ketika tahu bahwa adik perempuan yang paling dikasihinya, dikorbankan untuk membayar hutang Ayah. Scarlett tidak ikut bernyanyi malam itu, tapi bermain bersama burung-burung Feturian. Sambil berdo’a semoga astazen Mauriculos mendapatkan kemuliaan Dewi Anastasius seperti dirinya, pertanda bahwa Athene, perempuan yang sudah dianggap sebagai adik perempuannya itu, telah bahagia. Malam memang terlalu sunyi, mewakili perasaan cemas dalam hati Scarlett, Ibu, dan Armuchus. ‘Mengundang Murka’ akan terjadi lagi. Hati nodea malam ini benar-benar terpaksa. Athene tidak menyukai Cronzen dan semacamnya. Namun kini ia menjalani ritual itu.

Semoga segalanya berjalan baik-baik saja.

Proses Cronzen akhirnya selesai juga. Entah apa yang terjadi. Tapi kitab ramal Verglas mencatat bahwa beberapa hari kemudian, Raja Marshallum akan mengadakan pesta besar.

Iklan