BALADA SEORANG TERATA

Ubr

Daworth Terata adalah seorang bajingan. Dia juga seorang penyihir. Jadi, apakah dia seorang bajingan yang bisa menyihir? Ataukah dia seorang penyihir bajingan?…. Apapun kenyataannya, yang jelas dia termasuk orang sial.

Daworth Terata terlahir sebagai anak keluarga miskin yang bermukim di wilayah Federasi Esthir. Ketika dia berumur lima tahun, keluarganya pindah ke kota Lislingar di Kerajaan Ladslian. Disana, sang ayah menjadi seorang penenun. Kerasnya kehidupan kalau kau jadi orang miskin, ditambah lagi dengan temperamen sang ayah yang labil membuat Daworth lari dari rumah saat berumur lima belas tahun.

Dua tahun kemudian, Daworth ternyata menetap di Finisir, ibukota Ladslian. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan yang sama. Paling lama ia bertahan sebulan di sebuah tempat sebelum akhirnya dikeluarkan karena ia suka mencuri barang di tempatnya bekerja. Terkadang ia menjadi suruhan dari orang luar untuk menjadi ‘mata’ dan ‘telinga’ mereka di dalam. Daworth paling senang melakukannya karena komisi yang didapat lebih banyak daripada hasil curian. Belum lagi ditambah dengan gaji yang didapat dan kemungkinan tidak harus mencari kerjaan lain bulan depan.

Untuk sementara Daworth merasa bahagia. Uang mudah didapat. Hanya saja perginya juga cepat. Pergaulan dengan para penjahat membuat dirinya terpengaruh dengan gaya hidup hura-hura. Karena itu lama-kelamaan Daworth menjadi semakin berani. Pekerjaan dengan resiko cukup tinggipun ia rengkuh asalkan imbalannya cukup besar.

Sepandai-pandainya Daworth meloncat, iapun bisa terpeleset, jatuh dan masuk ke jurang tanpa dasar. Kegiatan ilegalnya ketahuan saat ia menjadi mata-mata bagi pihak asing di istana kerajaan. Daworth sadar kalau ia tak dapat lagi tinggal di Finisir. Ia harus keluar dari ibukota secepatnya. Pada saat itu juga pemberontakan di Ladslian utara mulai berlangsung.

Kerajaan Ladslian mengumpulkan tenaganya untuk menumpas pemberontakan tersebut. Banyak pemuda dan pemudi Ladslian yang mendaftarkan diri ke militer atas dasar rasa cinta kepada tanah air. Sungguh sebuah perbuatan mulia, yang sangat bertolak belakang dengan motif Daworth.

Daworth memalsukan identitasnya dan diterima dalam pasukan kerajaan. Ia menjadi tenaga bantu pasukan sihir. Daworth jelas tidak bisa sihir. Tapi dia kan bisa membantu mempermudah kehidupan para penyihir kerajaan di medan perang. Misalnya, menjadi orang yang membawakan perbekalan, kurir, dan sebagainya.

Hampir setiap saat Daworth berada di sisi para penyihir kerajaan yang rata-rata baru keluar dari universitas sihir. Mau tak mau keahlian Daworth sebagai ‘mata’ dan ‘telinga’ membuatnya dapat menyerap segala pelajaran ilmu sihir dengan cepat. Bila ada kesempatan, ia mencuri-curi waktu untuk melatih kemampuan sihir. Karena pada dasarnya memang berbakat, hanya dalam waktu tiga tahun kemampuan sihirnya sudah dapat menyamai para penyihir yang ia layani.

Suatu hari, tanpa sengaja Daworth mendengar kasak-kusuk dua penyihir tentang harta karun yang disembunyikan di sebuah pulau tanpa nama. Daworth merasa tertarik. Ia sudah merasa bosan hanya menjadi jongos para penyihir ingusan di medan perang. Salah satu dari pembicara mengatakan kalau peta petunjuknya telah terbagi menjadi empat bagian. Dia sudah memiliki dua bagian sementara kedua bagian yang lain hilang tak tentu rimbanya.

Daworth mengambil keputusan untuk mendapatkan harta tersebut. Karena itu ia selalu mengawasi gerak-gerik kedua penyihir tersebut, menunggu saat yang tepat merebut dua bagian dari peta harta karun.

Kesempatan yang dinanti akhirnya muncul di medan peperangan. Pasukan sihir tempat Daworth berada di posisi yang sulit. Mereka menjadi sasaran empuk pedang dan tombak milik para pemberontak. Daworth menyerang keduanya dari belakang dan mendapatkan kedua bagian peta harta karun.

Dalam peristiwa tersebut, seluruh anggota pasukan terbantai. Daworth juga  dianggap telah mati. Padahal sebenarnya ia masih hidup. …Oke, sepertinya pernyataan di atas harus diubah. Daworth bukanlah orang sial. Daworth adalah orang yang bernasib sial ─pada akhirnya.

Meloncat dua tahun kedepan, Daworth telah menjadi seorang penyihir pemburu hadiah yang cukup sukses. Dia berhasil  menyelamatkan putri seorang saudagar kaya dari Samshell-Perdio tanpa luka segorespun. Ia juga merupakan salah satu dari beberapa pemburu hadiah yang memberantas bandit pegunungan Tranehafo di perbatasan Ladslian dengan kerajaan Jakubar. Ia bahkan pernah sampai di Republik Rustlun jauh di sebelah barat gurun Fasha saat mengejar penjahat bernilai tinggi. Walaupun begitu, Daworth tidak akan pernah melupakan misi utamanya yaitu mencari dua bagian yang tersisa dari peta.

Berdasarkan informasi yang Daworth kumpulkan selama ini, salah satu bagian peta telah jatuh di tangan seorang saudagar kaya kota Karlemenga, kota dagang terkenal di tenggara Ladslian dan satunya lagi, ironisnya, di tangan salah pemimpin pemberontakan Ladslian utara.

Apa sih susahnya merebut sepotong kertas dari seorang saudagar yang tidak bisa apa-apa? pikir Daworth. Dia tidak pernah mencicipi saat-saat dimana nyawa bisa melayang dalam sekejap mata. Dia pasti juga tidak akan selalu siaga setiap waktu.

Karena itulah Daworth memutuskan untuk mendapatkan bagian peta yang ada di Karlemenga dulu karena menurutnya merupakan pekerjaan yang gampang. Ia tidak akan pernah menyangka kalau justru ‘pekerjaan gampang’ inilah yang merubah suratan takdirnya, menjadi orang sial.

Kesialan yang dialami Daworth di Karlemenga sangat banyak. Pertama-tama, informasi alamat si saudagar ternyata tidak tepat karena semrawutnya Karlemenga membuat alamat menjadi sebuah hal yang tidak relevan ─terutama jika pemilik alamat tersebut mengalami kebangkrutan dan dilanda hutang besar. Kedua, Daworth terpaksa mengeluarkan banyak uang demi mencari keberadaan si saudagar yang akhirnya bisa ia temui batu nisannya di tanah pemakaman tak jauh dari Karlemenga. Ketiga, saudagar tersebut tak memiliki sanak saudara sehingga tidak ada yang bisa diinterogasi oleh Daworth tentang keberadaan peta harta karun. Dan keempat, sisa-sisa peninggalan almarhum telah tersebar kemana-mana.

Beberapa ahli sejarah Ladslian sepakat bahwa Karlemenga dapat diibaratkan seperti makhluk hidup. Apapun yang masuk ke dalam tubuh bakalan dicerna sampai tinggal ampasnya yang lalu dibuang lewat jalan belakang. Dalam kasus yang dihadapi Daworth, kita dapat mengibaratkan peninggalan almarhum menjadi makanan yang segera ‘dicerna’ oleh ‘organ dalam’ Karlemenga, yaitu para pencuri, maling dan rekan-rekannya sebelum akhirnya didistribusikan ke ‘bagian tubuh’ yang membutuhkan seperti para penadah, kolektor, saudagar saingan dan tentu saja toko perabotan antik.

Suatu hari, Daworth menghentikan langkahnya sewaktu menelusuri jalanan ramai Karlemenga. Wajahnya yang muram mulai sedikit cerah. Jangan ditanya apa saja yang yang telah dilakukan oleh Daworth sebelum akhirnya ia dapat memastikan bahwa bagian peta terkutuk itu disembunyikan dalam sebuah lemari kuno yang kini berada di dalam sebuah bangunan tua di depan matanya.

“Toko antik Kirzo, dimana kau akan menemukan barang terantik se-Ladslian,” gumam Daworth. Kira-kira begitulah tulisan yang terpampang di papan nama depan toko. Sebuah pernyataan yang jelas-jelas merupakan sebuah bualan, trik dagang, karena isi toko hanyalah perabotan bekas dari berbagai sumber dengan status dipertanyakan.

Situasinya terus bertambah aneh. Bagaimana bisa ia, yang semula datang untuk memburu bagian peta ketiga, sekarang malah memasuki sebuah toko untuk mencari sebuah lemari kuno.

Biar begitu, Daworth akhirnya memilih untuk masuk dan menutup pintu dari dalam. Kesunyian tipis dan tajam timbul. Ia merasakan perasaan yang aneh dikelilingi perabotan kuno. Hampir semua benda memiliki sejarahnya sendiri-sendiri, akan tetapi hanya salah satu sejarah yang ia ingin ketahui, tepatnya informasi yang tersimpan dalam bagian peta yang ia inginkan.

“Oh, selamat datang!”

Daworth menoleh ke arah suara berasal. Ia mendapati seorang kakek-kakek berpakaian lusuh tengah jongkok di depan sebuah lemari tua. Daworth tercengang, lemari itulah lemari yang ia cari-cari.

“Sebentar tuan. Anda bisa melihat-lihat dulu. Pekerjaan ini lebih menarik daripada dugaanku semula,” kata si kakek

“Maksudmu?”

Si kakek yang sepertinya pemilik nama Kirzo menoleh dan tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya yang menggenggam palu dan tangan kiri yang menggenggam tatah.  “Lemari ini ternyata memiliki tempat penyimpanan rahasia.”

Tap.

Dengan sekali pukulan palu, tatah Kirzo melesak ke dalam kayu lemari dekat bagian kaki . Setelah mencongkel selama beberapa saat, akhirnya ia berhasil membuat sebuah lubang tipis memanjang secara horizontal.

“Lihat,” kata Kirzo penuh dengan kegembiraan. “Kira-kira apa isinya…”

Kirzo menggunakan sebuah capit logam kecil untuk menarik benda dari dalam lubang.

Tanpa sadar Daworth menyeringai. Benda tersebut adalah sebuah buku kecil dengan sampul yang menguning. Tidak salah lagi, bagian ketiga dari peta harta karun tersebut pasti ada di dalamnya.

“Tuan, buku itu-“

“Ah, tentunya tuan juga merasakan apa yang saya rasakan,” potong Kirzo senang. “Rasa ingin tahu merupakan insting makhluk hidup yang sangat sulit untuk ditekan. Karena itu mari kita sama-sama baca isinya.”

Kirzo meletakkan buku tersebut di atas meja dekat lemari. Daworth melihatnya membuka lembaran demi lembaran dengan hati-hati. Buku kecil tersebut ternyata berisi tentang catatan almarhum saudagar sewaktu masih muda. Kirzo membacakan isi buku yang menurutnya menarik dan melewati yang tidak.

Isinya tidak menarik bagi Daworth, sampai pada bagian dimana almarhum mencatat tentang pertemuannya dengan seorang pria sekarat di pinggir sebuah hutan. Pria tersebut menceritakan kisahnya yaitu perebutan harta antara empat orang yang berakhir tragis. Ia lalu mempercayakan bagian peta yang ia miliki kepada almarhum sebelum menghembuskan napas terakhir.

Kirzo mendesah. “Dapatkah kau mempercayainya?” tanyanya. “Mereka berempat menemukan harta tersebut tapi karena ketamakan akhirnya tidak ada yang dapat menikmatinya.”

“Tentu saja,” jawab Daworth. Ia membuka telapak tangannya dan mulai memfokuskan aura sihirnya. Tatah yang tergeletak di lantai mulai bergetar dan akhirnya melayang kearah tangan Daworth.

Hanya dengan satu tusukan di punggung, Daworth mencabut nyawa si kakek. Tidak ada jeritan, tidak ada rontaan, yang ada hanyalah tatapan mata penuh ketidak percayaan.

“Karena aku tidaklah ragu-ragu untuk melakukan hal yang sama,” lanjut Daworth dingin.

Daworth mengelus halaman buku kecil. Tidak sia-sia usaha yang telah ia lakukan semenjak menginjak tanah Karlemenga. Akan tetapi, belum sempat ia mengamankan buku tersebut, terdengar suara ketukan dari pintu depan.

“Tok Tok.”

Sialan! Batin Daworth.

“Sebentar!” serunya.

Tangan dan sihir Daworth segera bekerja. Ia membuka pintu lemari dan menerbangkan mayat si kakek kedalamnya. Tak lupa Ia menyedot tumpukan kain dari pojok ruang yang lalu ia gunakan untuk menutupi serpihan kayu dan bercak darah di lantai. Begitu yakin aman, Daworth membukakan pintu depan.

Nampak seorang pria berbadan gemuk berdiri didepan. Menurut Daworth, tatapan mata orang ini biasanya milik orang-orang licik.

“Silahkan masuk,” kata Daworth sembari tersenyum ramah.

Si gemuk masuk tanpa basa-basi.

“Mana pak tua? Aku mengambil pesanan Rokko dari rumah makan Jendela Harimau? Kamu siapa?” Tanya si gemuk bertubi-tubi.

“Beliau sedang berhalangan. Mengenai pesanan yang anda maksud saya tidak tahu-menahu karena saya orang baru disini.”

Si gemuk menatap Daworth selama beberapa saat. Daworth bersiap-siap, kalau sampai dia curiga maka bakalan ada mayat kedua.

“Dasar pak tua! Bilang saja kalau aku akan kesini lagi besok!”

“Baiklah, akan saya sampaikan,” jawab Daworth.

Si gemuk segera pergi setelah membanting pintu depan keras-keras.

Daworth bernapas lega. Ia kemudian menyambar buku kecil dari atas meja dan berjalan menuju ke pintu belakang toko. Waktunya berlalu dari kota ini, batinnya.

Dari semua kejutan yang didapati oleh Daworth selama ada di Karlemenga, kejutan dibalik pintu inilah yang menurutnya paling mengejutkan.

“Kau!” seru Daworth ketika mendapati si gemuk tadi sekarang telah berdiri di depannya ditemani beberapa pria berseragam putih ─penjaga kota Karlemenga.

“Kau mau kemana?” tanya salah satu penjaga kota berumur empatpuluhan dan bertubuh agak kekar. Dengan seragam dan kumisnya yang rapi, ia tampak menonjol bila dibandingkan dengan yang lain.

“Eh, tidak… ak-“

Si gemuk dan para penjaga kota segera mendorong Daworth masuk kembali ke dalam toko.

“Tangkap dia komandan Apollon. Dia telah membunuh Kirzo,” kata si gemuk.

Apollon, si pemimpin penjaga kota mengamati seluruh isi toko. “Sebentar Kalfao. Kalau benar ia membunuh Si tua Kirzo, mana mayatnya?”

Si gemuk Kalfao membuka pintu lemari kuno. Mayat si kakekpun runtuh keluar.

Kau tahu darimana!” seru Daworth tidak percaya. Padahal ia yakin kalau ia sudah menutupi jejaknya dengan rapi.

“Kesalahan terbesarmu adalah tidak ada pedagang Karlemenga yang tidak menawarkan dagangan mereka. Kau hanya berdiri diam dan tidak mengatakan apa-apa kalau aku tidak bertanya. Padahal biasanya para pedagang selalu nyerocos menawarkan dagangannya walaupun aku tidak mengatakan apapun.”

“Tapi, itu merupakan tanda bahwa toko ini adalah toko untuk orang terhormat! Suatu hal tabu kalau bicara seenaknya seperti itu!”

“Kalaupun begitu, aku ragu kalau para ‘orang terhormat’ mengetahui lokasi toko ini yang jelas tidak berada di pinggir jalan utama.”

Daworth terdiam sementara Kalfao meringis licik.

“Aku cuma heran kenapa sebulan terakhir seseorang sangat bersusah payah mencari informasi tentang sebuah lemari tua, sampai-sampai beberapa nyawa melayang.”

“Jadi dia yang melakukan pembunuhan berantai para pencuri dan penadah yang belum terpecahkan itu?” tanya Apollon.

Kalfao mengangguk.

“Firasatku mengatakan kalau lemari itu pasti menyimpan sebuah rahasia besar. Jadi aku menelusuri jejakmu sampai kemari. ”

Kalfao memandang langit-langit, mendesah.

“Aku menghubungi penjaga kota dulu karena aku tidak dapat membekukmu seorang diri. Akan tetapi ternyata keputusanku mengakibatkan satu nyawa lagi melayang…”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Daworth penasaran.

“Namaku Kalfao, Seorang penyelidik terkenal Karlemenga!”

Kalfao menoleh ke arah Apollon. “Komandan?”

“Bawa bajingan ini ke habitatnya!” seru Apollon memerintah anak buahnya.

Daworth segera diapit oleh dua penjaga kota. Sementara itu Kalfao merampas buku milik saudagar yang dipegang Daworth. Ia lalu menyimpannya di balik baju.

Daworth tidak terima. Ia tidak mau ditangkap begitu saja. Ia juga tidak akan membiarkan bagian peta ketiga lepas dari jangkauannya. Karena itu ia melawan dengan sihirnya.

Aaargh!”

Ia membuat kedua penjaga kota dan  Apollon melayang keluar dari toko dan menghempas jalanan dengan ayunan tangannya. Setelah itu ia mengangkat beberapa perabot dalam toko dengan sihir yang lalu melayang mengitarinya dan menjadi tameng yang mengancam dan menghantam siapa saja yang menghadang langkahnya.

Para penjaga yang lain segera menghambur keluar dari toko. Begitu juga dengan  Kalfao yang lalu berlindung di balik sebuah kereta barang yang kebetulan berhenti tak jauh dari toko antik Kirzo.

Sebuah meja rias tua terbang menabrak tembok toko, menghasilkan sebuah lubang menganga yang menjadi jalan keluar bagi Daworth

“Bekuk dia!” seru Apollon begitu ia dapat berdiri kembali.

“Ya komandan!!!” seru bawahannya yang langsung merangsek ke depan.

Sihir Daworth sulit dilawan. Para penjaga hanya bisa melihatnya dari jarak yang aman. Begitu salah satu dari mereka mendekat, sebuah meja ataupun kursi bakalan lepas dari orbitnya yang mengitari Daworth untuk melabrak baik dari samping maupun menghujam dari atas. Apollon dan pasukannya tidak dapat mendekati Daworth. Mereka hanya bisa menjaga jarak supaya tidak diterjang perabotan.

Bagi penduduk Karlemenga yang kebetulan melihat peristiwa ini, pemandangan para penjaga kota berkelit, berguling ke sana kemari di jalanan kotor Karlemenga menghindari terjangan meja dan kursi terbang menjadi buah bibir perbincangan nanti malam.

Begitu yakin kalau para penjaga kota tidak berkutik, Daworth mulai mencari keberadaan Kalfao. Ia mengetahui pemilik tubuh gemuk tersebut bersembunyi di balik kereta barang. Hanya dengan hentakan tangannya, Daworth menggulingkan kereta kesamping. Sepasang kuda penarik kereta panik saat keduanya terangkat dan melayang beberapa saat di udara. Kalfao dapat lolos dari himpitan kereta barang beserta kudanya, tapi ia tidak dapat lolos dari jangkauan sihir Daworth.

Tubuh Kalfao langsung berhenti bergerak begitu Daworth mengepalkan tangan kanan. Ia lalu mengangkat tubuh Kalfao yang tak berdaya dan menariknya mendekat hingga akhirnya Kalfao mengambang di depan Daworth.

“Mana petaku!” seru Daworth.

“Peta?” Tanya Kalfao dengan raut muka ketakutan.

“Buku yang kau ambil tadi! Cepat! Kalau tidak bukan tubuhmu yang melayang tapi! “

Daworth menggoncangkan tangan kanannya yang masih terkepal.

Kalfao merasakan badannya terombang-ambing tak karuan. Isi perutnya mulai memberontak.

”Tunggu-tunggu!” jerit Kalfao.

Daworth melepaskan genggamannya.

Kalfao terbebas dari belenggu sihir. Ia jatuh terjerembab ke jalan.

Sambil melawan rasa pusing di kepala, Kalfao merogoh bagian dalam pakaiannya. Ia tiba-tiba menggerakkan tangannya dengan cepat dan mengumbarkan serbuk putih yang langsung menerpa wajah Daworth.

Karena kaget dan merasakan matanya pedih, konsentrasi Daworth  terganggu. Perabot yang melayang mengitarinyapun berjatuhan.

“Apollon!” Seru Kalfao sambil berguling menjauhi Daworth.

Melihat adanya kesempatan, Apollon bergegas mendekati Daworth sembari menghindari hujan perabotan. Ia lalu menjambak rambut Daworth yang langsung mengaduh-aduh kesakitan.

Begitu Daworth dapat melihat dengan jelas, yang ia lihat adalah senyum di wajah Apollon.

“Rasakan! Rasakan!” seru Apollon saat memukuli wajah Daworth hingga si penyihir kehilangan kesadarannya.

Apollon melepaskan cengkramannya. Ia mengatur napasnya dan mengatur rambutnya.

Melihat si penyihir berhasil dilumpuhkan, Kalfao berani mendekat.

“Nampaknya kau sekali lagi berhasil memecahkan sebuah kasus, Kalfao. Entah dengan cara apa kau-“

“Teori pikiran,” potong Kalfao, membuat Apollon sedikit tersinggung.

“Teori…pikiran?”

“Teori pikiran adalah sesuatu yang semua orang harus miliki supaya dapat mengerti pikiran orang lain. Kita menyebutnya teori karena pikiran kita tidak pernah tersambung dengan yang lain…. Kecuali dengan bantuan sihir tentunya. Tidak ada cara yang efektif untuk mengorek isi alam sadar atau untuk menganalisa motivasi dan keinginan. Karena itu, ketika kita berinteraksi dengan orang lain kita hanya bisa menebak, menggunakan teori pikiran untuk menemukan apa yang mereka tahu, pikirkan atau rasakan.”

Apollon memiringkan kepalanya sembari meringis, “Tebakan yang kebetulan tepat maksudmu?”

“Logika!” sanggah Kalfao.

Apollon mengangkat bahu.

“Demi Dewa, saudara Apollon! Kau seharusnya bertanya-tanya kenapa kita harus bangun tiap pagi. Kenapa kita harus bekerja? Hanya supaya bisa membeli lebih banyak barang? Tidak akan pernah cukup. Lihat diri kita. Asumsi apa yang membawa kita dari sini ke sana? Apa yang membuat kita berhak memakan pisang dan memakai sepatu milik kita? “

“Baiklah,” balas Apollon mengalah. “Kalau begitu kenapa kau bisa seyakin itu, Kalfao, kalau dialah si pembunuh berantai? Padahal ada beribu-ribu orang yang ada didalam Karlemenga.”

“Orang bisa melakukan kesalahan.”

Kalfao mendengus sombong.

“Aku tidak.”

Kalfao melangkah pergi meninggalkan Apollon yang hanya bisa menggelengkan kepala.

Jadi begitulah, kesialan seorang Daworth Terata adalah bahwa jalan hidupnya bersimpangan dengan Kalfao, si penyelidik. Seharusnya ia sekarang mendapatkan bagian terakhir peta, menemukan harta dan  menikmatinya. Daworth bisa saja menjadi tuan tanah di Esthir ataupun pemilik armada kapal dagang di Kieshark, kota pelabuhan milik Samshell-Perdio. Tapi kedua skenario tersebut dan kemungkinan yang lainnya hanya akan menjadi bahan impian Daworth selama menghuni sel kotor penjara Karlemenga.

“Kalfao,” geram Daworth dari dalam sel pengap dan gelap begitu ia tersadar. Ingatannya tentang kejadian terakhir yang ia alami timbul tenggelam dalam benak.

Daworth berusaha mengumpulkan auranya. Tapi auranya tidak bergerak sama sekali. Ia meraba leher dan merasakan sebuah benda asing melingkarinya. Sembari memaki keras ia memukul tembok sel. Sihir tidak bisa membantunya disini. Di lehernya telah terpasang sebuah Fatima ─artifak di dunia Ladslian─ khusus penyerap aura sihir.

Daworth kemudian menenangkan diri. Ia mengawasi sekitarnya. Pemandangan di dunianya sekarang hanyalah tembok batu dan jeruji besi berjarak beberapa langkah dari tubuhnya. Suara yang dapat ia dengar hanyalah suara dengkuran tahanan sel sebelah. Dan bau yang ditangkap oleh hidungnya hanyalah bebauan yang bertolak belakang dengan udara pegunungan dan keharuman padang bunga.

Waktu pasti berlalu, umur pasti bertambah, tapi ambisi seorang Daworth tidak akan pernah goyah. ‘Mata’ dan ‘telinga’nya mulai bekerja, mencari celah dan memilah kesempatan untuk lolos dari kurungan.

Entah sampai kapan Daworth bisa bersabar. Entah kapan ia dapat keluar. Tapi kalau sampai ia berhasil lolos dari penjara, maka kita semua bakal tahu siapa orang sial selanjutnya.

Iklan