BANGKITNYA PEDANG SALAMANDER

Nekoman

“Beraninya sampah sepertimu melirik calon istri Yang Mulia Gorg, dasar budak.”

“Ampun tuan, yang mana saja. Tapi kumohon jangan masukkan aku ke dalam lubang mayat.” Mereka menyeretku dengan menjambak rambutku. Aku terus meronta. Prajurit itu marah dan menendang kepalaku dengan sepatu botnya. Rasa pening menyengat kesadaranku.

“Jadi, kau begitu takut dengan tempat itu, Hah?. Aku jadi semakin ingin memasukkanmu ke sana.” Perut buncitnya kembang kempis.

Prajurit satunya tersenyum bagai kucing lapar. Dia menampilkan gigi gigi berlubangnya yang tidak rata. Dia kemudian meludahiku.

“Kumohon tuan jangan lubang mayat.” Mereka menendangiku lagi membuatku terdiam.

Mereka terus menyeretku ke sebuah pintu hitam. Tidak! hantu-hantu itu memanggilku, mereka memanggilku! Aku mencoba meronta sekali lagi, tapi aku perutku terlalu mual dan kepalaku terlalu pening.

Tubuhku perlahan dilempar ke dalam, suara pintu besi berdentang menutup di belakang. Kegelapan menyelimuti. Sekarang sudah percuma melawan, hantu-hantu itu akan memangsaku. Mengambil jiwaku dan menyantapnya.

“Baik-baik di dalam sana. Budak. Semoga roh-roh tidak memakanmu.”

Dua penjaga tertawa. Semakin lama semakin jauh suaranya.

Aku tidak mengerti. Mereka memang roh kelaparan, tapi kenapa aku? Bukankah raja Gorg yang telah membunuh mereka.

Peningku perlahan hilang, walau tetap saja dunia masih berdenyut-denyut di hadapanku. Aku mencoba berdiri, menyesuaikan pandangan pada kegelapan ruangan. Saat pandanganku makin jelas dan kesadaranku semakin kembali. Sebuah bau busuk menyengat hidungku, bau busuk yang amat sangat. Aku memandang ke sekeliling, cahaya keremangan dari jendela cerobong di atas atap memberi sedikit keremangan.

Aku langsung muntah.

Seluruh makan siang yang hanya sepiring kaldu dan sayur tumpah semua di lantai. Aku meringkuk ke samping, menghindari tengkorak-tengkorak yang berguling dalam berbagai sudut. Aku melihat ke ujung, ada suara bising di sana. Sesuatu seakan bergerak-gerak. Aku mencoba memicingkan mata dan aku melihat lalat..

Ribuan lalat bergerak berputar-putar mengerubungi sebuah benda bulat. Kepala manusia.

Aku segera berbalik, mendekat ke arah pintu besi. Aku menggedornya.

“Tuan, tuan, akan kulakukan apa saja tuan. Akan kulakukan apa saja, tapi keluarkan aku dari sini tuan.” Aku merengek meminta pertolongan “Mereka telah memanggilku Tuan, mereka akan memakanku”.

Pintu dibuka. Kemudian sebuah sepatu Bot sekali lagi menghantam perutku. Aku mual, aku memandang ke arah pria kurus dengan senyuman kucing.

“ Hitungan ke sepuluh. Cih! kau membuatku kalah taruhan budak. Cobalah menggedor pintu sedikit lebih lama.” pria itu melempar pisau karatan ke tanah.

“Ini apa, untuk melawan hantu?” tanyaku.

“Bukan, kalau hantu itu datang, Gorok saja lehermu sendiri. Kami bertaruh apakah kau benar hidup atau mati ketakutan besok.” Dia tertawa, suara di belakangnya juga tertawa.

Dari kejauhan suara yang lain terdengar “Aku bertaruh kau akan hidup..”

“Dengar, aku bertaruh kau mati malam ini. Dan jika kau tidak mati malam ini, aku akan membunuhmu karena kau membuatku kalah taruhan. Kau mati saja sekarang, nanti toh kau mati juga.”

Aku memandang senyumnya yang licik. Senyum yang jahat dan merendahkan. Darah dalam dadaku bergolak. Biarlah aku mati di makan hantu, tapi aku akan membawanya ke dalam kematian. Aku tidak berfikir panjang, cepat aku mengarahkan pisau itu ke bagian tubuhnya yang tidak terlindung.

Tiba-tiba sepatu bot telah bersarang ke pipiku, aku terlempar ke sampingr ke arah kepala terpenggal dan membuat lalat terbang.

“Sudah, jangan boros energi. Kau tahu, setelah urusan ini. Aku akan buat perhitungan denganmu. Kau tak akan mati dengan mudah.” Kata penjaga yang kemudian pergi.

Pintu sekali lagi ditutup. Aku bergerak menjauhi kepala dan lalat. Bergerak perlahan di dinding dan mencari tempat yang tepat untuk meringkuk. Menunggu dan menunggu. Memandangi tumpukan mayat di sekeliling mencari harapan, mencari pertolongan. Tapi tidak ada harapan, mereka adalah buktinya. Aku memandangi pisau karatan itu. Pisau itu memang tampaknya jelek, namun bagian logamnya masih bisa menampilkan bayangan cermin buram diriku.

Entah berapa lama aku memandangi pisau itu hingga malam semakin turun. Yang pasti lubang-lubang cerobong di angkasa telah kehilangan cahayanya.

“Hoi akhirnya datang juga..”

Aku merinding. Suara itu, suara yang sering kudengar di malam hari. Aku segera mengangkat pisau itu ke udara di depanku.

“Si.. siapa kau. Aku, aku tak ada hubungannya dengan semua ini. Raja Gorg yang melakukannya. Ja.. jangan makan aku.” kataku.

“Apa maksudnya memakanmu?”

“Apa maksudmu, hantu! Pergilah, jangan ganggu aku lagi. Pergilah dalam damai.” kataku membujuknya.

“Hantu!? Aku bukan hantu. Coba lihat lebih baik. Nanti kau akan tahu siapa aku.”

Aku menyipitkan  mata mencoba melihat lebih jauh. Aku melihat sebuah kerangka manusia yang tertidur di pinggir lubang. Dia nampak merangkul sebuah pedang.

“K..kau sudah mati, aku dengar ada sejenis hantu yang tidak tahu dia sudah mati!” kataku.

“Mati? Ini ayahku. Aku bukan tengkoraknya aku pedang!?” katanya.

“Maksudmu?” tanyaku.

Tiba-tiba pedang yang ada di sana berkilat dengan cahaya merah. Seekor kadal muncul tiba-tiba dengan diselimuti cahaya merah. Dia menggeliat ke sekitar pedang. Aku mundur, jelas dia bukan hantu. Tapi jelas dia bukan kadal normal. Semua orang tahu bahwa hal tidak normal itu sihir, dan siapapun jangan berurusan dengan sihir.

“Apa kau ini?” tanyaku.

“Aku? Huh? Aku jadi harus menjelaskannya dari awal. Dahulu aku adalah metal yang disebut Styxamite, metal paling berharga di dunia. Kami hidup dengan damai di dalam gunung dan hutan. Hingga jika kami diambil dan ditempa dengan cara tertentu. Kami akan lahir kembali. Itu yang dikatakan ayah, waktu pertama membuatku.” kadal itu meliuk-liuk dengan cahaya api melingkar-lingkar.

“Kau, pedang sihir.” pegangan pisauku mengendur.

“Itu tidak ilmiah, tapi yah, bolehlah.” katanya.

“Ke, kenapa kau bisa di sini?” Tanyaku.

“Pada beberapa tahun yang lalu Ayahku memiliki seorang putra. Putranya hilang, Gorg menculiknya. Dia menyuruh Ayahku untuk membuatkannya senjata yang terhebat jika Ayahku ingin melihat putranya kembali. Ayahku kemudian menempaku.”

Jadi tengkorak itu adalah tengkorak tukang besi. Aku tidak mengenalinya, pakaiannya terlalu bersih dan rapi untuk tukang besi.

Kadal itu kemudian melanjutkan “Ayahku tidak bodoh, dia menyuruhku untuk menipu Gorg, dengan pura-pura setia padanya. Sayangnya, Gorg mencoba diriku pertama kali untuk memotong ayahku. Aku terpaksa menumpul. Gorg marah kepada ayahku. Gorg mengambil pedang satunya dan membelah dada ayahku dan menendangnya masuk ke lubang. Oh, anak pandai besi itu sebenarnya tak pernah hidup, Gorg telah membunuhnya.”

Aku melihat panel-panel di atap. Panel-panel itu bisa dibuka tutup terhubung dengan ruang mahkota Gorg. Jadi ketika Sang Raja mengeksekusi seseorang, dia tinggal membunuhnya dan mendorongnya ke lubang. Terkadang Gorg hanya melukainya dan membiarkan orang itu mati kesakitan atau kelaparan di dalam lubang. Cukup praktis.

Aku jarang berfikir mengenai raja Gorg, budak memang jarang berfikir sama sekali. Kami terlalu sibuk untuk melayani, atau kelaparan. Namun aku mulai memikirkannya, bagaimana mungkin saja Gorg membawa diriku pada masa kanak-kanak dari desa-desa dan menjadikanku budak. Bagaimana kemungkinan Gorg-lah yang telah membunuh orang tua kandungku. Tapi seperti yang kubilang kami memang tidak memang jarang berfikir.

“Aku telah lama menunggu kesatria pemberani yang mampu membawaku membalaskan dendam ayahku.” kata kadal itu

Aku tertawa sinis “Kau mungkin salah kadal. Aku bukan pria pemberani. Aku bahkan selalu menghindari pertarungan agar aku bisa naik tingkat menjadi prajurit.”

“Yah, memang banyak pemberani di sini. Sayangnya mereka semua mati.” kata kadal itu melihat ke sekeliling. “Tapi sepertinya kau tidak punya pilihan. Apa kau menunggu kesatria lain untuk menolongmu? Ayolah bung, aku satu-satunya harapanmu.”

Kata-katanya benar. Dia adalah kunci keberuntunganku. Mungkin dia satu-satunya harapanku untuk bisa keluar dari sini menuju kebebasan. Tapi bagaimana kalau dia salah, bagaimana kalau aku memohon maaf kepada parajurit tadi dan mereka membiarkanku tetap hidup? Bagaimana kalau aku memberitahu mengenai pedang ini, mungkin saja mereka akan membiarkan ku hidup?

Tapi lalu apa? Aku hanya terus hidup dalam persembunyian. Menjadi budak, hari demi hari meringkuk dalam kegelapan. Dihina dan dicerca. Sementara Gorg dan anak buahnya terus merajalela. Bagi sebagian orang, hidup semacam ini bukan hidup.

Tapi hidup tetaplah hidup. Bahkan bagi budak seperti aku.

“Hei, bung. Lama benar kau berfikir. Aku mengeluarkanmu dari tempat ini dan membebaskanmu dan kau akan membantuku balas dendam. Oke.”

Rasanya aku tak punya pilihan lain.

Aku menghidup udara busuk perlahan dan dalam. Aku sudah memutuskan, aku menarik pedang yang tertancap di tanah. Kemudian mengangkatnya. Sang kadal seakan terhirup ke dalam pedang. Ketika aku mengangkatnya energi panas mengalir ke tanganku dan ke tubuhku. Rasa panas menjalar melalui jalan darahku.

Kemudian sang pedang memberi tahu diriku, bahwa dia telah menggali lubang selama ini menuju ke ruang sebelah. Dia menyuruhku membersihkan tumpukan tulang belulang di dekat tengkorak tukang besi. Dia kemudian membawaku sebuah lubang di tanah.

Aku masuk ke dalam lorong yang sempit. Untung saja tubuh kecilku bisa muat ke dalam lubang itu dengan mudah. Kami kemudian berjalan dalam gelap dan pengap. Kulitku bergesekan dengan dinding lorong, terasa perih terkadang. San kadal keluar dari pedang dan berjalan di depanku memberi cahaya.

“Oh, Aku lupa mengenalkan diri, namaku Salamander pedang yang sangat hebat, siapa namamu?” tanya Salamander.

“Aku biasa dipanggil si kecil. Atau biasa dipanggil budak no 36.” kataku.

“Hmm, si kecil. Baiklah, kau akan kupanggil Leik, itu artinya kecil.” kata Salamander.

“Leik, baiklah tidak masalah.” Aku tidak begitu peduli.

Kami keluar ke sebuah bangunan penjara terbengkalai. Ternyata bekas penjara ini digunakan sebagai gudang. Di sana terdapat setumpuk topi besi dan baju kulit lusuh. Aku menyamar menjadi salah satu penjaga. Nampaknya cukup meyakinkan.

Keluar dari sana, aku melihat ruangan tawanan yang lebih baru, yang ini masih dipakai. Ruangan-ruangan yang lebih besar yang di dalamnya terdapat puluhan orang manusia dikumpulkan jadi satu. Seorang penjaga duduk di pintu keluar. Dia mabuk berat.

Aku ingin bergegas keluar dari tempat itu, namun Salamander yang cerewet dan rasa kasihanku. Aku membuka pintu-pintu itu. Kutinggalkan terbuka hingga salah satu tahanan sadar, dan mereka menyergap keluar. Mungkin aku bisa keluar dengan lebih mudah jika nanti terjadi kekacauan.

Aku segera mencari jalan ke arah pintu samping dan segera kabur dari benteng ini. Hingga ada satu suara menyapaku.

“prajurit, bantu aku membawa calon istri ini. Eh, rasanya aku pernah melihatmu?” katanya. Itu adalah prajurit bersenyum kucing. Aku mengepalkan tangan antara marah dan takut.

“Benarkah pak, wajah saya pasaran sih.” kataku.

“Heh, ‘pasaran’!?. Apa itu!?” kata Salamander.

“Sttt” kataku kelabakan.

“Kau sedang apa prajurit, yah, mukamu memang jelek dan pasaran. Aku tak bisa menyalahkan. Tidak seperti wajahku yang tampan dan estetis ini. Terserahlah, jangan apa-apakan mereka. Ini untuk Gorg mengerti.” katanya bangga ditanggapi dengan suara muntah oleh Salamander.

Aku kemudian menggiring beberapa orang gadis dengan pakaian putih. Tangan mereka semua terikat, wajah mereka menunduk. Aku membawa mereka ke arah ruang mahkota Gorg.

“Akhirnya, kita bisa menghadapi Gorg?” kata Salamander.

“Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau dia mendengarmu.” aku berbisik pada pedang di sabukku.

“Hanya orang tertentu yang berhati ksatria yang bisa mendengarku.” Kata Salamander.

“Pedang, kita harus keluar dari sini..”

“Hei kecil, kau dilarang bicara dengan calon istri.” Seorang prajurit membentakku.

“Baik pak”. Kataku.

Akhirnya kami berada di sebuah ruangan besar. Sebuah ruangan dengan beberapa tiang penyangga tinggi. Ruangan itu sekelilingnya prajurit-prajurit bersenjata lengkap berjaga. Di tengah ruangan, ada platform luas dengan lubang parit setengah lingkaran.

Lubang mayat. Tutupnya selalu terbuka jika Gorg sedang ada di tempat.

Para gadis dikumpulkan ke tengah ruangan. Duduk di kursi singgasana seorang pria besar dengan wajah buas dan jahat tersenyum melihat barang barang jarahannya yang cantik.

“Kali ini bagus juga..” Gorg berdiri. Tubuhnya nampak begitu besar.

Aku melihat ke arah sekeliling. Aku pergi ke samping. Para prajurit sedang sibuk memperhatikan dengan takut dan cemas ke arah depan ruangan. Aku harus mencari kesempatan agar bisa menyelinap.

“Kau bohong Gorg. Katamu jika aku menyerahkan diriku kau akan melepaskannya.” Kata salah seorang calon istri, aku tertegun. Begitu juga hadirin lainnya.

“Hah, adikmu itu juga cantik. Sayang jika disiakan.” Gorg tertawa, semua prajurit tertawa,

“Hei, hei, Mau kemana kau Leik, Dia di situ, bukankah kau ingin balas dendam. Hei, kau mau kabur begitu saja! Kau tidak ingat perjanjian kita?” kata Salamander suaranya hanya bisa didengarku. .

Aku seharusnya berkonsentrasi untuk mencari celah. Tapi gadis itu, dia adalah gadis yang membuatku dihukum, gadis denagan mata biru.

Gadis yang tercantik yang pernah aku lihat. Kulitnya sewarna gading dengan rambut hitam panjang. Bibirnya manis sedikit tipis dengan garis lembut. Tapi dari semuanya yang paling kuingat adalah mata birunya, mata biru yang paling indah yang pernah aku lihat.

Ah, dia hampir mengalihkan perhatianku. Aku harus cepat, menyelinap keluar dari ruangan ini. Semakin cepat aku keluar semakin baik. Terutama ketika semua terfokus pada gadis itu.

“Hei, dasar Pengecut itu perjanjian kita.”

Hei, Salamander bodoh. Kau akan membuatku terbunuh.

“Jangan lari. Kau adalah kesatria, ayo kita lawan dia..”

Hei, sudah kubilang dulu, kau itu salah orang. Aku membiarkan ocehan Salamander lalu kembali memandang ke arah platform.

“Dasar Babi!” kata gadis itu menampar Gorg..

“Huh, Dasar gadis yang penuh semangat. Akan kuatur khusus agar kau dan adikmu..”

Aku harus pergi sekarang tapi…

“Hentikan, Masa kelalimanmu sudah berakhir Gorg. Aku akan menumbangkanmu. Dengan pedang Salamander ini.” Bodohnya aku malah mengunuskan pedang dan melompat ke arah Gorg.

Tiba-tiba semua hening. Kemudian bersama-sama semua tertawa, bahkan Gorg juga tertawa. Aku tahu betapa konyolnya diriku, tubuhku kecil. Bisa dibilang sekitar sepertiga tubuh Gorg. Dan aku sendirian berada di sarangnya. Satu lawan ratusan. Aku kemudian mencoba mengancam, mengayunkan pedang seperti orang bodoh. Mereka malah tambah tertawa.

“Hei, Salamander. Kau itu pedang sakti bukan. Kau pasti bisa mengalahkan mereka.” kata ku.

“Err, Liek. Aku pernah mendengar nasihat bijak yang kuno. Senjata sehebat apapun bergantung pada orang yang memegangnya.” kata Salamander bijak.

“Ah, begitu rupanya.” Rasanya ingin aku melempar pedang bego itu ke lubang mayat. “Ingatkan aku untuk membengkokkanmu kapan-kapan!”

“Hei dia sudah gila, dia bicara sendiri dengan pedangnya.” kata salah seorang prajurit.

Tiba-tiba amarahku meluap, aku menyabetkan pedangku ke arah belakang. “Diam” jeritku. Dari ujung pedang cahaya merah meletup dan menjadi api yang menjilat ganas. Semua orang terdiam, cemas dan takut. Reaksi yang biasa yang diperlihatkan orang-orang yang melihat sesuatu yang berbau sihir.

Aku menoleh ke arah Gorg, ternyata pedangnya sudah siap menebasku. Dengan tubuh besar namun lincah dia menghantam sekuat tenaga. Suatu keberuntungan pedangku menahan pedangnya, mencegahnya membelah tubuhku jadi dua. Aku terlontar menabrak salah satu tiang. Punggungku menjerit kesakitan.

“Jangan khawatir anak-anak. Dia akan kuhabisi. Hmm,aku ingat pedang itu. Pedang tumpul yang dibuat oleh orang tua bodoh itu. Kalau dipikir sekarang sayang sekali membunuh anaknya lebih dahulu. Akan menarik melihat ekspresinya ketika tahu anaknya akan mati. Ternyata pedang itu bisa sedikit trik sulap. Tapi itu tak akan menyelamatkanmu.”

“Dasar mulut Ember.” kata Salamander.

Gorg terkejut, kemudian nampak marah. Dia sepertinya telah dibodohi habis-habisan. Pedang tumpul itu ternyata adalah pedang sihir. Dan pak tua itu membuatnya tak bisa menggunakannya.

“Dia bisa mendengarmu!” tanyaku pada Salamander.

“Entahlah, baru pertama kali.”

Gorg menyerang ke arah kepalaku, tak ada saat untuk kesakitan. Aku bergerak cepat menghindar sementara tebasan Gorg ke tiang membuat tiang itu hancur dan rubuh. Jika terkena tebasan seperti itu aku pasti akan tamat. Kupikir percuma menunggu, maka aku mencoba menyerang.Aku mencoba jurus api, tapi serangan api seperti tadi tidak keluar. Gorg awalnya waspada, tapi tak lama dia pasti tahu bahwa aku sudah terpojok.

Aku berdiri goyah menghadapkan pedang ke arah Gorg. Dari senyumannya, Gorg sepertinya ingin bermain-main dahulu dengan diriku. Dia menggoyang-goyangkan pedangnya,mungkin dia berfikir bagian tubuh mana yang akan dia potong lebih dahulu.

Semua seranganku hanya ditangkis ringan. Salamander lepas dari genggamanku saat lecutan cepatnya menghantam Salamander. Para penonton tertawa melihatnya.

Gorg nampak santai mendekatiku. Dia menebasku ke kiri dan ke kanan, aku hanya bisa mundur dan mundur. Dia berhasil memojokkanku ke pinggir tiang. Aku terjatuh ke lantai. Dia tersenyum. .

“Bagian mana mana yang mau kupotong lebih dahulu.”

Dia mengacungkan pedang ke bangian selangkanganku. Diangkatnya pedangnya bersiap mengakhiri perlawananku yang sia-sia. Tepat pada dia mengangkat pedang. Salamander dalam wujud kadal berlari menggigit kakinya. Dia mendaki ke kepalanya dan menggangu dirinya. Aku sempat menghindar dari tebasannya.

Dalam sekian detik aku memiliki ide. Mendorong kaki Gorg, mencoba menghempaskannya ke lubang mayat. Dia terlalu kuat, tapi aku tidak menyerah. Aku mengigitnya sambil terus mendorong membuat dia terhuyung ke lubang.

Gorg kemudian terguling. Dalam usaha terakhirnya tangannya menggapai ke pinggir tebing, berusaha bangkit. Salamander memanjat naik dan menggigit jari-jarinya, aku membantu melepaskan pegangan Gorg dengan menginjak tangannya. Dia terjatuh ke lubang mayat dengan teriakan marah.

Beberapa saat hening.

Tiba-tiba suara Gorg terdengar dari dalam lubang. Dia selamat.

“Pasukan, habisi dia. Habisi dia.”

Rasa sakitku dan lelahku hampir mencapai puncaknya. Tulang punggungku masih berteriak-teriak akibat lemparan Gorg. Aku menoleh bersiap menghadapi pasukan Gorg. Tapi yang kulihat bukan pasukan yang siap tempur. Mereka kocar-kacir karena tawanan yang lepas dan para budak yang memberontak.

Aku mengangkat senjata mengancam membuat para prajurit semakin kehilangan nyali. Gorg telah kalah, dan mereka masih ketakutan karena melihat pedang sihir yang bisa bicara dan mengeluarkan api, Salamander. Kelelahanku semakin mencapai puncaknya. Aku masih terlibat satu atau dua pertarungan, tapi semuanya hanya peran minor. Akhirnya aku memilih mundur dan menyerahkan semuanya ke pasukan pemberontak.

Sampai terakhir Gorg masih berteriak mengancam. Suaranya tidak terdengar lagi saat beberapa orang melempari lubang mayat dengan pecahan batu-batu besar bekas tiang yang Gorg hancurkan.

Kupikir, itulah akhir dari Raja Gorg.

**

“Kau tidak tinggal Liek, orang-orang itu mungkin saja membuatmu jadi Raja.” kata Salamander.

“Raja, kau bercanda!?” kataku “Aku mana pantas jadi Raja.”

“Kata siapa? kau bisa saja jadi Raja negeri ini. Kau bisa mencegah rampok seperti Gorg meneror wilayah-wilayah.“ kata Salamander “Raja Estard dan pedang Salamander.”

“Yah, akan kupikirkan nanti. Untuk sementara aku ingin menikmati kebebasanku. Kau juga terkurung di lubang itu cukup lama bukan? Kita bisa berkelana dahulu beberapa lama. Lagipula siapa itu Raja Estard, bukannya namaku Liek.”

“Kau butuh nama yang lebih keren sebagai Raja. Destoragon misalnya, terdengar mengancam.” kata Salamander “Tapi, ngomong-ngomong kau tidak sadar kita diikuti.”

“Ya, aku tahu. Kira-kira siapa mereka. Mantan anak buah Gorg?” tanyaku.

“Seorang gadis. Juga dua seorang lainnya. Sepertinya adiknya dan seorang pria. Dia itu calon istri Gorg. Mungkin mereka ingin berterimakasih?”

Aku berhenti dan memandang kebelakang. “Oh, maksudmu mantan calon istri Gorg?”

“Apa yang kita lakukan.” Salamander keluar dari pedang dan merayap ke sekitar leherku. Dan mendengus nafas api.

“Apa boleh buat kan.”

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan