BATRAZ & DESELTRA

Blood Raven

Malam itu cukup tenang keadaanya di kedai milik Tuan Brass. Sebuah kedai sederhana yang tak akan dilewatkan oleh siapapun yang masuk dari gerbang utara Durtrand, salah satu kota besar di wilayah Kerajaan Anarosia. Beberapa pelanggan sedang menikmati makan malam mereka sambil berbincang-bincang ringan dengan ditemani cahaya remang-remang lampu-lampu minyak serta lantunan biola dan harmonika dari sekelompok musisi di pojok ruangan.

Alvina, gadis lima belas tahun dengan rambut cokelat berkuncir ekor kuda seperti biasa menghabiskan sepanjang malam di kedai tersebut. Sementara, pria gendut dengan kepala botak yang tak lain adalah Tuan Brass duduk dengan bosan di balik meja bartender sambil sesekali mengamati Alvina yang sudah separuh jalan membersihkan meja bartender menggunakan selembar kain.

Lonceng yang tergantung di atas bingkai pintu depan berdering. Gelapnya malam mengintip dari daun pintunya yang kini terbuka. Menampakkan sesosok laki-laki berbadan tegap yang mengenakan mantel cokelat gelap. Rambut hitamnya yang lurus menutupi separuh wajah serta kaca mata berbingkai tipis-nya. Dengan sebelah lengannya ia menenteng sebuah tubuh berjubah abu-abu dan berambut pirang panjang yang terkulai tak bergerak.

“Selamat datang,” sambut Tuan Brass ramah.

Namun yang diajak bicara tak menghiraukan, seolah-olah tak mendengarnya. Dengan derit-derit lantai kayu di sepanjang langkah-langkahnya, laki-laki itu menuju ke salah satu meja terdekat untuk mendudukkan tubuh berambut pirang yang tadi ditentengnya ke salah satu kursi dan meposisikannya sedemikian rupa hingga pipi si pirang menempel pada permukaan meja. Alvina dan Tuan Brass hanya bisa saling bertukar pandang ketika si laki-laki mendekat ke arah mereka.

“Secangkir kopi tanpa gula, dan semangkuk besar air,” pesan si laki-laki dengan nada datar.

“S-segera.”

Alvina melanjutkan mengelap meja bartender sambil sesekali melirik ke si laki-laki yang kini sedang mengamati koleksi botol-botol minuman yang tertata di rak belakang. Umurnya mungkin sekitar dua puluh lima tahunan. Alvina dapat melihat ekspresi si laki-laki yang tak berubah sedari tadi. Seakan-akan tak menyadari pandangan heran orang-orang di sekitarnya.

Setelah berterima kasih pada Tuan Brass yang mengantarkan pesanannya, si laki-laki kembali menuju ke meja tempat tubuh berambut pirang tadi terkulai. Cangkir kopi-nya ia letakkan, lalu dijambaknya rambut pirang itu hingga kepalannya terangkat dari meja. Mangkuk berisi air tadi ia posisikan tepat di bawah kepala berambut pirang itu, sehingga wajah si pirang terbenam ke dalam mangkuk saat ia melepaskan cengkeramannya.

Belasan umpatan dan kutukan segera terlontar dari mulut si pirang sesaat setelah ia menarik keluar wajahnya dari dalam mangkuk. Sementara si rambut hitam sudah duduk tanpa dosa sambil menghirup kopi dihadapannya.

“DEMI KUTUKAN DELAPAN GERBANG ABADI! DESELTRA! KAU AKAN MATI MUDA!”

“Tenang, Batraz. Kita sudah sampai di Durtrand,” jawab si rambut hitam yang dipanggil Deseltra itu.

Batraz segera menutup mulutnya ketika ia menyadari seluruh pasang mata di kedai itu menatapnya. Bahkan para musisi di ujung ruangan menghentikan permainan mereka.

“Maafkan teman seperjalananku,” ujar Deseltra pada seisi kedai, “Panasnya Iblenia telah memanggang otaknya.”

Kedua mata Batraz kini mengarah pada Deseltra dengan pandangan siap membunuh. Tapi ia segera mengurungkan niatnya dan meninggalkan meja. Aktivitas di kedai itu pun kembali seiring dimulainya gesekan biola dari salah satu musisi.

Dari ujung matanya Alvina mengamati si laki-laki kedua. Kini si pirang itu duduk asal-asalan di salah satu kursi dan menyandarkan wajah cemberutnya pada meja bartender. Dari penampilannya, Alvina bisa menyimpulkan bahwa umurnya tak jauh berbeda dari yang sebelumnya.

Tuan Brass menghampiri Batraz dan menyodorkan sebuah gelas berisi air berwarna kemerahan. Sebelum Batraz bisa mengucapkan sepatah kata, Tuan Brass mendahuluinya,”Ini resep lokal. Ekstrak daun klutz dengan sedikit campuran rum. Untuk mendinginkan kepalamu. Tenang saja. Yang ini tak akan ditarik biaya.”

Batraz langsung meraih gelasnya dengan wajah berseri-seri. “Kukira semua orang dermawan sudah meninggalkan Durtrand. Terima kasih, Paman Gendut.”

“Sama-sama. Anggap saja itu ucapan selamat datang ke kedai kecilku. Lagi pula, malam ini cukup sepi dan dari penampilanmu kau pasti telah menempuh perjalanan jauh. Ada cerita yang bisa disampaikan?”

Batraz menghabiskan separuh gelasnya sekali angkat sebelum menjawab, ”Sayang sekali. Aku bahkan tak ingat bagaimana aku sampai di sini. Mungkin sebaiknya kau bertanya pada si Deseltra itu, walau aku ragu apakah dia akan menanggapinya.”

“Hm, begitukah? Mungkin kau bisa menceritakan tujuan kalian datang ke tempat ini. Yang pasti bukan untuk mengadu nasib kan? Sudah banyak orang seperti itu di Durtrand dan kau tak akan mau tahu apa yang terjadi pada mereka.”

“Tentu saja tidak.” Deseltra bangkit sambil membawa minumannya dan mengambil tempat duduk di samping Batraz yang mengalihkan pandangannya dengan jijik. ”Dari informasi yang beredar, gubernur kalian mendanai sebuah pengalian besar di sini.”

“Oh, kalian belum melihatnya? Aku bisa mengantar kalian ke sana besok pagi. Sementara itu, menginaplah di sini malam ini.”

***

Pagi itu matahari belum sepenuhnya meninggalkan kaki langit ketika Deseltra mendengar ketukan pelan di pintu kamar tempat dia dan Batraz menghabiskan malam. Sebelah alisnya terangkat ketika ia membuka pintu dan mendapati Alvina berdiri di ambang pintu.

“Aku yang akan mengantar kalian ke area penggalian menggantikan Tuan Brass.”

Dalam waktu singkat Alvina telah membimbing keduanya keluar gerbang utara Durtrand. Pemandangan monoton dari Padang Iblenia langsung menyambut mereka: hamparan tanah gersang nyaris tak bertanaman dengan endapan-endapan tanah berbagai bentuk dan ukuran. Beberapa orang dengan peralatan menggali terlihat menuju ke arah yang sama dengan mereka bertiga. Yaitu sebuah jalan setapak yang mendaki ke atas sebuah bukit.

Batraz tak kuasa untuk menahan rahangnya yang turun beberapa senti waktu melihat apa yang ada di balik bukit. Menghampar ratusan meter ke depan adalah sebuah rongga amat besar di permukaan tanah, seolah-olah ada sendok raksasa yang telah mencungkilnya. Mengubah permukaan yang datar menjadi sebuah cekungan curam dengan jalan setapak yang melingkari dindingnya. Di tengah-tengah rongga raksasa itu berdiri sebuah bangunan megah yang merupakan susunan ribuan balok batu berukuran besar yang membentuk bangunan raksasa membentang dari barat ke timur. Bentuknya mirip dua buah tangga amat lebar yang bertemu pada satu puncak. Susunan balok-balok batu yang lain melingkar pada salah satu sisi atapnya dan membentuk sebuah menara yang menjulang tinggi dengan puncak yang menyerupai sebuah bola.

“Beberapa bulan lalu seorang penduduk menemukan bongkahan emas yang terkubur di sekitar sini,” tutur Alvina. “Gubernur mengira bahwa ini akan menjadi tambang emas ketiga di wilayahnya, sehingga ratusan pekerja segera dikerahkan untuk menggalinya. Dan ia benar. Tapi disamping menemukan tambang baru, ia juga menemukan-”

“Salah satu kunci ke peradaban para leluhur,” potong Batraz yang dibalas Alvina dengan anggukan setuju. “Deseltra, mungkin saja monumen ini akan membimbing kita pada kitab semesta! Hei, Deseltra!”

Deseltra sudah belasan langkah di depan ketika Batraz menyadarinya. Berlari kecil menuruni jalan setapak yang menuju dasar rongga. Batraz memutar bola matanya sebelum bergegas menyusulnya, diikuti Alvina. Yang pasti, butuh beberapa menit bagi mereka bertiga untuk mencapai apapun yang ada di tengah area penggalian itu.

Empat orang bermantel hitam dengan masing-masing membawa sepucuk senapan lontak berdiri di depan pintu gerbang terbuat dari batu setinggi tiga meter yang merupakan jalan masuk ke dalam monumen. Salah satunya, seorang pria dengan wajah tikus langsung menghampiri.

“Hei, hei. Lihat siapa yang datang.”

“Delrian,” geram Batraz. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Begitukah caramu menyambut rekan seprofesi?”

“Sungguh? Jangan samakan kami dengan kalian! Kami tunduk pada sang raja.”

Delrian mendengus, “Kalian arkeolog keajaan sekumpulan arogan dan tak tahu malu. Ingat, ini bukan di ibu kota. Kami punya peraturan lokal. Dan permisi, kami ada urusan yang lebih mendesak ketimbang meladenimu. Ayo anak-anak, tuan-tuan ini tak akan menemukan apa pun selain tumpukan debu dan bebatuan di dalam sana. Apapun yang dapat diambil dari dalam tempat ini sudah dibawa pergi berhari-hari yang lalu.”

Batraz mengamati keempat pria bermantel hitam itu berlalu dengan kesal. “Bagaimana gubernurmu bisa mempekerjakan mereka? Apa dia tidak tahu kalau mereka itu bukan arkeolog resmi? Mungkin aku harus bertemu dengannya dan langsung memberi tahu apa pekerjaan si brengsek Delrian itu sebelum ini. Dan apa maksudnya dengan kalimat terakhirnya?”

“Aku pernah melihat mereka di kedai sekali. Mereka belum lama ini datang kemari,” jawab Alvina. “Sudah seminggu yang lalu sejak pertama kali monumen ini tergali sepenuhnya. Para arkeolog kerajaan sebelum kalian mengadakan penelitian selama beberapa hari dan membawa pergi semua artefak yang bisa diambil dari monumen ini. Jadi kalian berdua juga arkeolog kerajaan? Dan kalian tak tahu tentang ini?”

Batraz berdehem pelan dan menjawab, “Kami masih baru. Dan kami berbeda dengan arkeolog lain, kami tak menetap di satu tempat. Baiklah, jadi maksudmu tak ada lagi benda berharga di dalam sini?”

“Cukup disayangkan,” kata Deseltra yang sedang mengamati ukiran-ukiran aksara kuno di sekitar gerbang monumen. “Dari arsitektur dan huruf-huruf ini, tak salah lagi monumen ini adalah salah satu tempat penyimpanan milik kaum Nosdera. Pasti menarik sekali apa yang ada di dalamnya saat kamar-kamar penyimpanannya masih penuh terisi.”

“Maksudmu… ini semacam brankas raksasa begitu?”

“Ya. Orang-orang Nosdera termasuk kaum yang makmur di masanya. Pandai besi mereka terampil dan prajurit mereka tangguh. Di masa kepemimpinan raja terakhir mereka, seluruh wilayah di sekitar kerajaan takluk satu-persatu. Harta rampasan mereka disebutkan di literatur-literatur kuno cukup untuk mengubur istana mereka sendiri. Walau aku yakin literatur kuno selalu mengatakan semuanya dengan cara yang berlebihan. Dikatakan juga bahwa mereka adalah kaum yang arogan. Mereka menganggap kaum merek-lah yang paling tinggi. Di akhir masa jayanya, penaklukan-penaklukan mereka berubah menjadi pemusnahan ras. Namun keinginan untuk menjadi ras tunggal di benua ini justru mengarahkan mereka pada kehancurannya.”

“Ya, ya, para dewa murka pada kaum itu dan memusnahkannya dari muka bumi. Begitu kan ceritanya berakhir?” potong Batraz.

“Wabah, tepatnya. Mayat-mayat yang membusuk dari hasil pembantaian besar-besaran mereka menimbulkan wabah penyakit yang mengakhiri keberadaan mereka sendiri. Hanya monumen-monumen berisikan harta mereka-lah yang tersisa. Tersebar di penjuru benua ini dan sebagian besar habis di tangan penjarah. Artefak-artefaknya menjadi salah satu komoditas di bisnis penyelundupan. – Namun… monumen yang satu ini sedikit berbeda. Bagaimana ini bisa berada di bawah permukaan tanah aku tak habis pikir.”

Batraz menguap lebar. “Baiklah, cukup kuliahnya. Kalau memang tak ada yang bisa diambil dari dalam bangunan ini aku akan kembali ke penginapan. Alvina kau boleh ikut atau mau menetap di sini dan menemani Deseltra menyingkirkan debu-debu di dalam monumen.”

“Tidak,” ujar Alvina lirih. “masih ada satu pintu yang belum terbuka di dalam bangunan ini.”

Deseltra bergeming setelah mendengar pernyataan Alvina, sementara Batraz mengeluarkan ekspresi antara terkejut dan curiga. “Apa maksud kata-katamu?”

“Dengar. Kita harus masuk ke dalam sana dan akan kuberi tahu semuanya setelah kita sampai.” Dari sorot matanya Alvina bahkan tak terlihat yakin akan kata-katanya sendiri. Tetapi Batraz dan Deseltra tak meperdebatkan hal ini dan menuruti permintaannya.

Dengan sebatang obor yang ia temukan pada mulut monumen, Alvina membimbing kedua arkeolog menembus kegelapan. Monumen itu berisikan sejumlah lorong cukup lebar dengan beberapa persimpangan berpintu kayu yang menuju ke ruang-ruang berisi peti-peti batu dan lemari-lemari yang seperti dugaan, isinya telah diambil dari tempatnya. Ukiran huruf-huruf kuno berderet membentuk garis di sepanjang kedua dinding lorong.

Batraz berkali-kali menggaruk kepalanya menyaksikan Alvina yang terus mengecek tiap ruangan yang mereka temui di sepanjang lorong. Terlihat baginya bahwa Alvina sendiri sama tak tahunya dengan dia tentang bangunan ini. Tak hanya sekali Alvina menemukan jalan buntu dan meminta maaf pada keduanya sebelum berbalik dan mencari jalur lain. Menit demi menit berlalu dan Alvina masih belum juga berhasil menemukan apa yang dia cari. Dan pada menit berikutnya ketika Batraz memutuskan untuk melamun, mendadak tubuhnya membentur sesuatu.

“Hei, Alvina. Jangan berhenti mendadak!” keluhnya. Namun si gadis berdiri diam di tempatnya, menatap jauh ke tembok di ujung lorong.

“Hoo, siapa yang tahu,” Batraz mencibir.” Jalan buntu lagi kan? Waktunya memutar dan kita-“

“Lorong ini… berbeda dari yang lain.”

“Kau pernah kemari?” tanya Deseltra.

Alvina menggeleng. “Jujur saja aku bahkan belum pernah melangkahkan kakiku ke dalam monumen sebelumnya.”

Kesenyapan yang canggung langsung memenuhi udara lorong gelap itu. Tak menghiraukan kedua arkeolog yang menatapnya penuh teka-teki, Alvina mengambil langkah-langkah kecil menuju ke arah tembok di ujung lorong yang memang terlihat sebagai jalan buntu.

“Lorong ini… Aku tak pernah mengunjunginya sekalipun. Namun aku pernah melihatnya berkali-kali sebelum ini. Apa kalian berdua percaya pada takdir?”

Batraz dan Deseltra hanya bisa bertukar pandang.

“Apa kalian pernah merasakan sesuatu mencoba menerobos ke dalam pikiran kalian? Memberikan gambaran-gambaran akan sesuatu yang tak pernah kalian saksikan? — Gambaran-gambaran akan tempat ini bermunculan di pikiranku sejak seminggu lalu.”

“Sejak monumen ini tergali sepenuhnya,” potong Deseltra lirih.

Alvina mengangguk. “Sering kali ketika aku selesai bekerja di kedai, saat kondisi tubuhku sedang menurun dan pikiranku mencoba beristirahat, gambaran-gambaran itu menyelinap kedalam pikiranku dalam kilasan-kilasan samar. Namun tadi malam, saat pertama kali melihat kalian berdua muncul di pintu kedai, pada saat itu juga kilasan itu muncul kembali. Sangat jelas. Sebelumnya tak pernah sejelas itu. Seakan-akan siapa atau apa pun yang memberikanku kilasan itu telah mengisyaratkan padaku untuk membawa kalian ke tempat ini.

“Dan satu lagi bakat yang kumiliki…” Alvina menyentuhkan kedua telapak tangannya ke permukaan tembok dan menutup kedua matanya. Tak lama kemudian beberapa suara klik dan gesekan-gesekan batu terdengar dari balik pintu, dan diikuti suara putaran gerigi di kedalaman, tembok batu itu bergeser terbuka.

“Si… sih-”

“Telekinesis!” desah Deseltra memotong kata-kata Batraz. “Kau menggerakkan mekanisme kunci itu dengan pikiranmu.”

Sekali lagi Alvina mengangguk. “Pengetahuan tentang pintu ini masuk ke kepalaku bersamaan dengan kilasan-kilasan itu. Baiklah, sepertinya tugasku mengantarkan kalian telah selesai. Apapun yang ada di dalam ruangan ini sepertinya bagian kalian.”

Batraz langsung berlari masuk ke dalam ruangan itu. Namun perasaan kecewa segera tergambar jelas pada wajahnya ketika ia tak menemukan satupun tumpukan emas atau peti berisikan harta pada ruangan tak seberapa besar itu. Hanya ada sesosok kerangka manusia tergeletak dengan posisi duduk di ujung ruangan. Kedua tangan tengkoraknya menggenggam pecahan batu berwarna hijau zamrud sebesar kepalan tangan. Alvina yang masuk setelah Deseltra langsung berlutut dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

Deseltra mengerling pada pintu batu yang terbuka sebelum berlutut dan menatap pilu mayat yang terduduk itu. “Pintu tadi hanya bisa dibuka dari dalam.— Siapapun orang ini… kupikir dia mengurung dirinya di sini untuk melindungi yang ada dalam genggamnya. Pasti dia lah yang memberikan kilasan-kilasan tempat ini padamu, Alvina, paling tidak yang tersisa dari dirinya.”

“Menurutmu… siapa orang ini?” tanya Batraz yang sudah berhasil menyingkirkan rasa kecewanya.

“Entahlah. Tapi batu yang digenggamnya itu tak ternilai harganya.”

“Semua benda tentu ada nilainya, apa lagi jika kau tahu dimana tempat yang tepat untuk menukarnya,” sebuah suara tak menyenangkan menyambut mereka bertiga dari arah pintu masuk.

“Kau!” geram Batraz, “Seharusnya aku tahu kalau kalian akan membuntuti kami!”

Delrian, si pria berwajah tikus berdiri di depan pintu ruangan menyeringai. Ketiga orang anak buahnya menodongkan senapan lontak mereka.

“Kalau tahu gadis ini bisa membukanya lebih cepat aku tak perlu berlama-lama menunggu kiriman peledak yang kupesan di Trivelan. Dan ini…” Delrian memberi isyarat pada Batraz untuk menyingkir dari jalannya dan melangkah menuju mayat tadi. “Pecahan Nivarus.”

“Maksudmu…”

“Ya, Batraz. Ini pecahan dari petunjuk ke makam lbizril. Makam suci yang tak pernah ditemukan.”

“Percuma saja. Sang Raja menyimpan tiga pecahan lain di dalam istana. Menemukan makam itu akan menjadi mimpi kalian seumur hidup.”

“Oh, tentu. Tentu, tentu saja.— Mimpi semua orang sepertiku untuk menemukan tempat seagung itu.”

“Mimpi para perampok makam,” geram Batraz.

Delrian yang sepertinya tak tersinggung dengan julukan itu melanjutkan kalimatnya dengan semburat senyuman menjijikan, ”Tapi kalian pasti tahu banyak orang di luar Anarosia yang bersedia menukar batu ini dengan lima peti emas. Dan aku bisa mendirikan kota-ku sendiri dengan hasil…”

Baru sejengkal Delrian mengangkat batu zamrud itu dari tempatnya, mendadak  tempat itu berguncang hebat, membuat suara berderu yang bising.

“Selamat, Delrian,” Batraz mencemooh. “Kau akan membuat kita semua terkubur hidup-hidup.”

“Mustahil!” Delrian panik. “Batu ini tak terpasang pada apapun. Tak mungkin hanya dengan mengambilnya akan memicu sebuah reaksi berantai.”

“Kau baru saja memicunya,” ancam Batraz yang telah berhasil mencabut dua bilah pedang kembarnya untuk diacungkan ke leher Delrian dan seorang anak buahnya. Sementara Deseltra menodongkan sepasang pistol berpeluru tunggal ke batang hidung dua anak buah Delrian yang lain. Guncangan hebat tadi telah mengalihkan perhatian mereka.

Delrian yang merasa terjepit mengulurkan batu zamrud tadi yang kemudian diraih oleh Alvina. Keempat senapan lontak pun berhasil dilucuti.

“Ka-kalian berdua tak mengerti! Kalian bisa membeli sebuah pulau dengan pecahan itu!”

“Maaf, kriminal!” seru Batraz, “Ada hal yang lebih berharga dari pada tumpukan koin di luar sana.”

Guncangan semakin hebat ketika mereka semua berhasil keluar dari gerbang monumen. Para penambang lari terbirit-birit menyelamatkan diri mereka dari dinding rongga raksasa yang mulai runtuh.

“Terpujilah Para Dewa!” bisik Batraz yang menatap langit.

Sesosok raksasa dengan sepasang sayap mirip kelelawar bertengger pada menara monumen yang telah remuk. Tubuhnya mirip seekor kadal hitam dengan badan yang gemuk dan cangkang-cangkang tulang yang melapisi kepala bagian atasnya hingga punggung dan ekor panjangnya. Teriakannya yang mirip suara kerbau menggema ke segala penjuru.

“Tiba-tiba saja puncak menara monumen memancarkan kilat dan makhluk itu muncul entah dari mana!” seruan panik seorang penambang yang ditanyai Batraz.

“Makhluk itu pasti punya hubungan dengan Pecahan Nivarus,” ujar Deseltra.

Dengan kedua kaki besarnya si makhluk raksasa menjejak puncak menara dan menyebabkan reruntuhannya berjatuhan ke bumi. Memaksa para penambang berlarian ke segara arah. Kemudian makhluk itu terbang dalam putaran dan dengan cakar-cakarnya menggores dinding-dinding lembah yang mulai runtuh.

“Naik ke permukaan! Apapun makhluk itu, dia bermaksud mengubur tempat ini!” seru Batraz yang memimpin semuanya ke jalan setapak yang mendaki ke atas. Ia segera mengumpat saat melihat empat pria bermantel hitam mendahului mereka dengan menunggangi kuda. Delrian menyeringai dan memberi lambaian perpisahan.

***

“Tak salah lagi yang kita saksikan kemarin adalah Azarzil si punggung cangkang!”  kata Deseltra esok paginya. Dia dan Batraz telah beberapa meter meninggalkan Durtrand dengan menunggang kuda. Pecahan Nivaruz telah diambil alih oleh perwakilan kerajaan yang datang pagi itu juga. “Sungguh beruntung kita bisa menyaksikan makhluk menakjubkan itu dengan mata kepala kita sendiri.”

“Sungguh beruntung kita berhasil keluar dari lubang terkutuk itu dan tak terkubur hidup-hidup kemarin,” jawab Batraz yang tampak lesu di atas pelana kudanya. “Dan kenapa gadis kecil ini jadi ikut dengan kita?”

“Siapa yang kau maksud gadis kecil!?” bentak Alvina yang menunggangi kuda ketiga. “Aku yang membuka ruang rahasia di dalam monumen dan sedikit banyak menyebabkan makhluk itu kini berkeliaran bebas di Anarosia. Jika suatu hal terjadi, itu tanggung jawabku juga.”

“Kemampuan gadis ini lah yang membawa kita ke makhluk itu sebelumnya, Batraz. Ada kemungkinan itu akan membawa kita untuk yang kedua kali.”

“Ya ya terserah… asalkan kemampuan berkudanya tak seperti gadis kecil!” seru Batraz yang lalu memacu kudanya lebih cepat dan mendahului yang lain. Alvina yang merasa diejek segera melakukan hal yang sama.

“Begitu banyak pertanyaan… namun hanya sedikit waktu.” Deseltra menghela nafas panjang sebelum menyusul keduanya dan memulai perjalanan mereka dengan menyeberangi Iblenia.

Iklan