BLOOD OF TWO BROTHERS

Makkie

Sebuah pukulan telak mendarat di perut seorang prajurit yang memakai jirah berwarna hijau tua hingga memecahkan pelindung besi tersebut. Prajurit itu jatuh terkapar pingsan, bertumpuk bersama hampir dua ribu prajurit lain di padang pasir kota Mirgoth, padang pasir terluas di benua Hyrnandher.

“Tidak ku duga kamu berkembang sepesat ini QI, walau aku heran kenapa kamu harus melumpuhkan mereka yang akan menangkapku?” seseorang bertepuk tangan sambil tersenyum dingin.

“Diamlah XAI!” QI berpaling, menatap tajam kepada XAI yang berdiri tidak jauh dari tempatnya,  pemuda yang sedikit lebih tinggi dari dirinya, memakai jubah berwarna biru gelap dengan bagian kerah yang tinggi sehingga menutupi wajah bagian mulut dan hidungnya. Dia hanya bisa melihat sepasang mata biru terang XAI yang menatap dingin dalam temaram senja. Di ufuk sana matahari beranjak menuju peraduan.

“Aku tidak akan membiarkan orang lain yang menyentuhmu. Aku sendiri yang akan membunuhmu. SENDIRI!” QI menatap geram.

“Tapi ternyata sikapmu tidak berubah.” XAI menghentikan senyumannya. Angin begitu kencang, menerbangkan pasir begitu banyak membuatnya harus sedikit berhati-hati menatap pemuda berambut pendek berwarna hitam senada dengan warna rambutnya. Dia menatap wajah QI yang sekilas terkesan seperti anak kecil yang tidak berdaya namun apa yang baru saja QI lakukan yang bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

“Jadi, apakah kamu sudah mengetahui kebenarannya?” tanya XAI balas menatap QI dengan tatapan yang lebih tajam dan dingin.

QI merasa waspada, tatapan XAI membuat hatinya sedikit ciut. Meskipun sudah melihat dia menghabisi prajurit-prajurit ini, XAI tidak sedikitpun gentar.

“Aku sudah tahu kebenarannya!” QI memantapkan hatinya. “Karena itulah, sekarang aku berdiri di hadapanmu! Berdiri untuk mengambil apa yang menjadi hakku!” QI berang, tidak lagi bisa menahan emosinya. XAI adalah orang yang selama ini dia cari, orang yang telah membuatnya menjadi seperti ini.

QI membiarkan jubah hitamnya berkibar tertiup angin, perlahan dia membuka kain pelindung yang menutup dahinya.

“Aku sudah mengetahui apa arti tanda ini!” tegas QI sambil menunjuk tanda pada dahinya, sebuah tanda yang tidak bisa dihilangkan. Tanda yang dibuat dengan menancapkan besi panas membara dengan aksara dari bahasa perjanjian.

“Aku tahu arti QI yang tertulis di dahiku ini!” QI melepaskan pelindung dahinya, “Ini adalah tanda bahwa aku adalah Lima-puluh Satu! Tanda yang mengatakan bahwa aku adalah maschinen yang kelima-puluh satu, Kakak Sepuluh Lima Satu!” QI mengepalkan kedua tangannya, amarahnya tak lagi terbendung. Melesat tanpa terkejar mata dia melayangkan belasan pukulan dan tendangan kepada XAI dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

XAI tidak membalas satupun serangan dari QI, bahkan dia tidak juga menangkis. Dia hanya menghindar, berkelit dengan kecepatan yang lebih cepat dari serangan QI. Belum lima menit dia menjadi bosan. Ingin mengakhiri serangan QI, dia membuka telapak tangan kanannya. Sebuah pusaran angin berkumpul memadat membentuk sebuah bola angin.

QI melihat gelagat yang tidak baik, segera dia mundur beberapa langkah tepat pada saat XAI hendak memukulkan bola angin. Setelah kuda-kudanya stabil, dengan cepat dia membuat bola api di masing-masing tangannya. Begitu bola angin dari XAI berhasil dia hindari, dia melemparkan kedua bola api tersebut.

Kedua bola api bertemu, dan membentuk pusaran api. XAI dengan cepat menarik tubuhnya dan menahan dengan kedua tangannya. Api menjalar kemana-mana, beruntung perisai angin sudah dia gunakan sejak awal pertarungan. Meskipun begitu, pelindung tangan dan jubahnya rusak terbakar.

QI tersenyum melihat XAI yang berhasil dia paksa mundur. Dengan waspada dia mengamati tiap gerakan XAI yang sedang melepaskan pelindung tangan dan jubah yang terbakar di beberapa bagian. Matanya fokus pada kedua tangan XAI. Sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan dirinya, yang hanya dimiliki oleh ras maschinen. Sepasang tangan yang dipenuhi dengan garis-garis hitam menyerupai tanaman merambat mulai dari punggung telapak tangan sampai dengan sedikit di atas siku. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan tiga bulatan kecil yang menghiasi masing-masing tangan XAI. Bulatan-bulatan tempat untuk meletakkan sargi, bola energi alam. Enam sargi berbeda warna menempel di kedua tangan XAI.

QI perlahan melepaskan jubah dan melepaskan balutan kain yang menutupi kedua tangannya. Sepasang tangan yang mirip dengan tangan XAI, sebuah sargi merah menyala yang berisi elemen api menempel di punggung tangan kanan, sementara sargi merah pekat yang dia dapatkan saat mengalahkan salah satu geist, makhluk jejadian elemen api bernama Xarios menempel di punggung telapak tangan kiri. Sargi berelemen angin dan petir masing-masing menempel di kedua pergelangan tangannya. Menyisakan dua bulatan tanpa sargi di dekat siku.

Beberapa saat mereka berhenti, saling berusaha menebak jalan pikiran lawan. Hamparan padang pasir tandus yang sepi menjadi semakin senyap, tidak ada kehidupan selain mereka berdua di antara tumpukan ribuan prajurit yang tak sadarkan diri.

Tanpa aba-aba, mereka melesat saling menerjang. Memamerkan kehebatan-kehebatan yang mereka miliki, jurus-jurus yang tidak diketahui lawan. Memaksakan sargisargi untuk memberi kekuatan lebih pada pemilik mereka.

Ledakan membahana, benturan tak terhitung, kilatan-kilatan memancar, kekuatan dari elemen-elemen mereka saling beradu. Tidak hanya memaksa sargi untuk menguras semua inti energinya, tetapi juga menguras badan dan pikiran si pemilik. Pasir-pasir beterbangan ke sana kemari seiring dengan hentakan dan ledakan yang terjadi.

Pertarungan kekuatan elemen berlangsung dengan dahsyat, berseling dengan pertarungan menggunakan otot. Tidak ada satupun yang berniat untuk kalah, pertarungan harus berujung pada hidup dan mati. Pada suatu kesempatan, XAI berhasil menghempaskan QI dengan kekuatan anginnya sehingga QI terlempar ke belakang beberapa kaki.

QI sedikit kewalahan untuk menjaga kuda-kudanya, nafasnya mulai tidak beraturan. Sementara jauh beberapa kaki di hadapannya XAI berdiri tenang, tegak bagaikan karang yang tegar melawan ombak. Dengan satu sentakan dia melemparkan rentetan bola api mencoba menggoyahkan pertahanan XAI. Yang diserang tetap tenang menahan dengan perisai air, panas api menguapkan perisai air dengan segera tapi tidak sedikitpun bola-bola api berhasil menyentuh XAI.

“Apa benar kamu sudah menemukan kebenaran?” XAI menatap QI dengan pandangan bertanya-tanya. Melihat lawan yang tidak sedikitpun bisa mengimbanginya, dia menjadi pesimis kalau QI sudah menemukan kebenaran yang dia katakan.

“Aku sudah tahu kalau kita berdua adalah yang tersisa dari ras maschinen. Kebenaran yang aku ketahui adalah kamu yang menjadi penyebab itu semua, kamu yang menghabisi ras kita! Kamulah Tedezier, sang pembantai yang selama ini aku cari! Itulah kebenaran yang aku ketahui!” QI berteriak meski irama nafasnya belum teratur. Angin padang pasir semakin kencang membuatnya harus berbicara lebih keras dari biasanya.

“Jadi, kamu tidak mengetahui kebenarannya!” kata XAI tegas.

“Aku tidak perlu kebenaran yang lain!” QI berdiri tegak. Kedua tangan dia rentangkan. Tangan kanannya terselubungi aliran angin, sementara di tangan kirinya lidah api menjilat-jilat. Sambil menyatukan kedua tangannya, dia berteriak “Kebenaranku sudah cukup untuk mencabut nyawamu!!”

Sesaat setelah QI mengadu kedua tangannya, lidah api dan pusaran angin bertemu membentuk badai api yang sangat besar. Melesat dengan cepat menuju XAI yang tidak beranjak sedikitpun.

“Bodoh!” XAI menangkis badai api dengan satu kibasan tangan.

Badai api menghilang dan hanya meninggalkan jilatan-jilatan api kecil, QI bisa melihat perubahan pada XAI. Tato pada kedua tangan XAI bergerak, merayap seperti tanaman merambat yang dipercepat pertumbuhannya. Bukan hanya itu, wajah XAI juga dipenuhi dengan tato hitam tanpa bentuk yang jelas, dan bola matanya berubah menjadi hitam sepenuhnya.

QI tersentak, serangan kedua dari XAI jauh lebih kuat dari sebelumnya, dia hanya bisa menahan dan berusaha menghindar. XAI menyerang secara beruntun tanpa memberinya kesempatan untuk membalas.

Dentuman ledakan, sayatan angin, dan jurus-jurus yang tidak bisa QI perhatikan satu persatu merajai tubuhnya. Sekarang jelas kekuatan mereka jauh berbeda. QI bertahan sambil sesekali meringis begitu XAI dengan beruntun melancarkan serangan, sekarang tubuhnya mulai merasakan sakit, panas dan perih. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain terlempar, dan terhempas hingga akhirnya jatuh berdebam terjerembap. Perlahan dia berusaha untuk berjongkok dengan satu kaki, dan menatap XAI sambil terengah-engah.

XAI melangkah, tubuhnya diselimuti cahaya merah menyala bagaikan api membara yang kemudian berubah menjadi biru menyala.

Entah mengapa QI merasa tertekan, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan. Tekanan udara di sekitarnya berubah seiring dengan perubahan pada XAI, dia bisa merasakan XAI menjadi jauh lebih menakutkan, desakan kengerian dia rasakan saat menatap wajah XAI. Julukan tedezier sekarang menjadi momok yang sangat menakutkan baginya.

QI bergetar hebat, ketakutan akan kekuatan XAI dan ketakutan rencananya akan terbongkar bergumul menjadi satu. Tinggal sepuluh langkah lagi XAI akan berada dalam jebakannya. Dia mulai menghitung langkah langkah XAI.

“Enam..Lima..Empat..Tiga..Dua..” QI mengepalkan tangan kirinya.

“Mati KAU!!” teriak QI sambil membuka telapak tangan kirinya, melemparkan beberapa tombak petir ke arah XAI.

Begitu tombak-tombak petir mengenai tubuh XAI, QI menekuk kelima jarinya, rapalan agar tombak petirnya melilit kedua tangan, kedua kaki, dan leher XAI secara serentak. Tersenyum dia bangkit dan berdiri, menatap XAI yang berusaha melepaskan diri dari jeratan petir pengikatnya. Perlahan dia mengangkat tangan kiri, membuka telapak tangan menghadap langit. Seiring dengan itu, XAI perlahan terangkat ke atas.

XAI berontak, mengerahkan kekuatan untuk menghilangkan petir pengikat. QI tidak tinggal diam, dia mengerahkan lebih banyak tenaga kepada petir pengikatnya sementara tangan yang lain dia arahkan ke tanah pasir tepat berada di bawah XAI. Sejurus kemudian pusaran angin menekan tanah pasir, berputar mengulir dan menjara. Butuh waktu lama baginya untuk membuat lubang yang amat sangat dalam.

XAI melirik ke bawah, dia mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh QI. Jika dia ingin menjatuhkanku ke dalam lubang itu, usahanya akan sia-sia pikir XAI.

“Aku tidak memerlukan kekuatan yang besar untuk mengalahkanmu, aku hanya membutuhkan kejeniusanku!” tegas QI. Dia membalikkan telapak tangan yang tadi digunakan untuk merapal pusaran angin menghadap ke atas sambil berujar, “Pembantaian yang kamu lakukan terhadap saudara-saudara kita bukanlah kebenaran! Minta maaflah mereka saat kamu bertemu di alam bawah sana!”

Sesaat kemudian terdengar suara gemuruh, seperti gemuruh air dari dalam tanah. Suara gemuruh terdengar lebih kencang dengan cepat hingga akhirnya wujud sumber gemuruh menampakkan diri. Minyak mentah yang terkandung di dalam padang pasir QI alirkan dengan menggunakan pusaran anginnya, minyak mentah melesat menyembur, membasahi tubuh XAI.

Semburan berlangsung lama, QI menatap XAI yang perlahan-lahan menghilang di balik semburan minyak mentah. Matilah kau! gumamnya sambil merapal bola api dengan tangan kanan, membakar XAI hidup-hidup.

Matahari telah tenggelam sepenuhnya, meskipun bulan bersembunyi di balik awan mendung, cahaya dari api bercampur minyak mentah menerangi daerah tandus padang pasir itu.

Hampir satu jam QI menahan rasa kaku di kedua tangannya, sementara kakinya seperti mati rasa. Api mengecil seiring dengan berhentinya semburan minyak mentah. Hanya menyisakan lidah-lidah api yang menyambar tidak beraturan. QI menjatuhkan kakinya ke tanah pasir, bertumpu hanya dengan lutut. Tangan kanan terkulai lemas. Nafasnya semakin berat bahkan pandangan matanya semakin tidak jelas. Dengan keburaman matanya dia menatap XAI yang masih menggantung di udara.

Satu serangan lagi akan cukup untuk mengalahkannya. Aku rasa sudah waktunya untuk memanggil bantuan dari atas sana gumam QI sambil menatap awan cumulonimbus yang berarak pelan di atas mereka.

Dengan satu tarikan nafas, QI merentangkan kelima jari tangan kirinya dan kemudian melesatkannya ke bawah. Sesaat kemudian muncul puluhan petir dari dalam awan mendung. Petir-petir yang dengan cepat menyengat dan menyambar XAI tanpa ampun, kilatan-kilatan cahaya menghiasi malam gelap padang pasir.

XAI jatuh berdebam terhempas ke belakang dengan bunyi yang cukup keras sementara petir masih saja menghujam, membuyarkan pasir sehingga melesat tak tentu arah, paling tidak itulah yang bisa QI lihat sebelum dia juga terjatuh. Tenaganya sudah terkuras habis, meski begitu dia memaksa untuk tertawa puas.

“Lumayan!” sebuah suara menyadarkan dan menghentikan tawa QI yang berlangsung beberapa menit.

QI mendongak, matanya membelalak begitu melihat XAI yang masih bisa berjalan meski sedikit. Rasa cemas dan takut kembali menjalar di sekujur tubuhnya.

XAI mengarahkan tangan kanannya ke QI dengan telapak tangan terbuka. Perlahan badan QI terangkat, bergerak perlahan hingga akhirnya berada pada posisi seperti disalib.

Qi menatap lemas XAI yang berdiri dengan kekuatan yang masih cukup untuk membunuh dirinya. Dia melihat pakaian yang XAI kenakan rusak dan terbakar beberapa bagian, luka bakar dan memar menghiasi beberapa bagian tubuh XAI.

“Padahal aku mengharapkan kamu menemukan kebenaran itu, dan dapat menampikkan kebenaran yang aku lakukan! Tapi ternyata kamu hanya terobsesi untuk membalas dendam terhadap puluhan saudara kita yang aku habisi. Kamu tidak mengetahui sedikitpun tentang kebenaran!” XAI mengepalkan jemarinya, QI mengerang merasakan tangan raksasa yang tak kasat mata meremas tubuhnya.

“Kenapa?! Kenapa kamu melakukan ini semua?!” QI merintih, memaksakan diri untuk berbicara.

“Walau aku mengatakannya, aku ragu keadaan akan berubah. Tujuan aku melakukan semua ini adalah untuk mewujudkan kedamaian dan melindungi Èrde.” XAI berhenti sesaat untuk mengatur nafasnya.

“Kedamaian?! Melindungi?! Hentikan omong kosongmu! Kamu telah membunuh saudara-saudara kita!!” QI memberontak, sakit di sekujur tubuhnya tidak membuatnya untuk melanjutkan, “Setelah apa yang kamu lakukan, jangan berani mengatakan tentang kedamaian di depanku! Jangan berani membenarkan apa yang kamu lakukan!”

“Hmm, kalau begitu kebenaran apa yang kamu punya?!” XAI menatap dingin.

“Aku akan membunuhmu! Aku yang akan mengembalikan kedamaian pada ras kita!”

“Memang itu termasuk kebenaran tapi ingatkah kamu, QI! Orang tua angkatku dari ras inland, teman-temanku yang berbeda ras dari kita, kekasihku yang aku cintai, mereka semua dibunuh oleh ras kita. Ya, ras kita Adikku! Bukan yang lain, ras kita. Kebenaran yang mana yang membenarkan itu semua?!” nada marah dan duka yang teramat menyelarasi kata-kata XAI.

“Kalau mereka membenarkan untuk apa yang mereka lakukan, kenapa kamu tidak menerima kebenaranku?! Katakan Adikku yang telah mendapatkan kebenaran? Katakan padaku kebenaranmu itu!”

XAI terdiam sesaat memandangi QI yang mengerang, menjerit dan akhirnya meronta dalam belenggu jurusnya.

“Kamu punya kebenaranmu! Aku punya kebenaranku! Pembenaran atas balas dendam yang kita lakukan. Kebenaran yang hanya akan menghasilkan kebenaran lain untuk melakukan hal sama, balas dendam! Dan ini akan terus berulang seperti lingkaran setan.” XAI melanjutkan.

“Maafkan aku Lima-puluh Satu, aku terpaksa memusnahkanmu! Kebenaranmu tidak cukup untuk menepiskan tujuanku! Selamat tinggal, Adik!” XAI berkata dingin.

QI merasakan sakit yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah dia dera sebelumnya, gemeretak tulang-tulang patah terdengar dengan jelas. Menjelang ajal, dia merasakan semua kenangan tentang dirinya seakan berputar kembali. Seperti melihat kehidupan dirinya,semua kenangan itu bermunculan dan tidak sedikitpun ada yang terlupakan.

Perlahan QI mulai melupakan sakitnya, tersenyum saat menyelami kehidupan yang pernah dia punya. Semua kejadian itu berjalan, meski dalam hitungan detik kenangan itu berlangsung seperti selamanya. Tiba-tiba kenangan terhenti bergantikan rasa sakit yang mendera, bukan karena dia sudah tewas melainkan tubuhnya jatuh terhempas ke tanah.

QI sekuat tenaga berusaha melirik ke arah XAI yang tiba-tiba terjatuh ke tanah dan bertumpu menggunakan kedua lututnya. Dia melihat darah mengalir dari mulut XAI yang batuk dengan keras, seakan menderita penyakit yang parah. Kesempatan pikirnya, namun apa yang bisa dia lakukan, tak ada kekuatan bagi dirinya untuk menyerang, bahkan untuk bangkit berdiri saja dia tidak mampu.

Sebuah rencana melintas dengan cepat di otak QI, satu-satunya rencana yang bisa dia lakukan. Memanggil Xarios, Sang Raksasa Penjaga Neraka.

Dia yang bersemayam dalam diriku, yang menjaga tiap sudut neraka, datanglah karena aku memanggil, melalui darah dan daging ini. Atas nama perjanjian yang disucikan, aku bangkitkan pembawa api diraja api. Xarios aku memanggilmu.” QI tetap merapal mantra pemanggil meski dia tahu bahwa hal itu bisa berakibat fatal baginya, tapi dia tidak peduli karena ajalnya sudah tidak terselamatkan.

XAI tersadar, telah memberikan banyak waktu untuk QI berulah. Tapi sakit yang dia derita memang tidak bisa dihindari, jantungnya semakin melemah. Sudah terlalu banyak dia menggunakan kekuatan sargi ketujuh, sehingga mulai menggerogoti jantungnya.

Xarios perlahan muncul dari balik simbol sihir yang diciptakan QI dengan rapalannya, makhluk raksasa dengan sepasang tanduk besar, bergigi runcing dan tajam seperti hiu. Berdiri di depan Qi, dia menatap XAI dengan tatapan mengerikan. Tangan kirinya menyala, jilatan lidah api bermunculan, berkelebat dan dengan cepat berkumpul membentuk bola di telapak tangannya.

QI berdiri, Xarios membagi sedikit tenaga untuknya. Jika tidak, dia tidak akan bisa memerintahkan Xarios untuk menyerang. Matanya kirinya terpejam, tidak mampu dia buka, tangan kanannya menjuntai lemas. Di depannya, Xarios berdiri membelakangi dengan bola api besar di tangan kiri, sementara di seberang sana XAI berdiri dengan pasti.

Dalam satu teriakan Xarios menerjang XAI. QI memaksa untuk tersenyum meski dia tidak bisa merasakan bentuk wajahnya. Tapi sesuatu di luar dugaannya terjadi, dengan satu hentakan pukulan XAI menepiskan bola energi api ke samping. Menghujam tanah tepat di tempat ribuan prajurit pingsan berada. Bola api meledak, berdentum dengan keras. Potongan tubuh prajurit-prajurit, cipratan darah, dan pasir beterbangan melesat ke segala penjuru.

Belum hilang keterkejutannya, QI tercekat nafasnya saat XAI dengan satu pukulan telak memukul Xarios hingga terlempar jauh, melesat melewati dirinya. Belum terhenti debar kencang jantungnya, XAI sudah berada tepat di depannya melayangkan sebuah pukulan dengan tangan kanan.

Reflek QI menangkap dan mengunci tangan XAI. Satu-satunya terakhir yang sempat dia pikirkan adalah membakar diri bersama dengan XAI. Berteriak dia menguras energi api dari sargi-nya hingga retak.

QI kembali tidak waspada, dia melupakan satu hal penting. Tangan kiri XAI masih bisa bebas bergerak. Sementara tangan kanannya tidak bisa dia gerakkan sama sekali.

QI hanya bisa memejamkan mata saat tangan XAI melesat menyerang dada kanannya dengan tangan kiri. Tapi bukan rasa sakit yang dia rasakan saat tangan XAI menyentuh dadanya, melainkan rasa ngilu seperti ada sesuatu menggeliat masuk ke dalam, perlahan dia membuka matanya. Bukan tatapan tajam yang dia temui, melainkan tatapan penuh kasih dengan sebuah senyum kebahagiaan.

“Temukanlah kebenaran yang sebenarnya!” ujar XAI lembut, layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya.

“Jika kamu sudah menemukan kebenaran itu, maka tunjukkanlah kebenaranmu pada hyrnandher, pada Érde!” XAI terbatuk-batuk, meski begitu dia memaksakan melanjutkan, “Ini sudah waktuku, hiduplah untukku…” XAI batuk beberapa kali, darah mengalir di mulutnya. Ia memaksa melanjutkan“…dan tunjukkan kebenaran itu padaku!”

“Ras kita adalah ras yang mampu menandingi para dewa, kita diciptakan untuk –“ suara XAI semakin lemah. QI tidak mampu mendengar kalimat terakhir XAI.

XAI perlahan menutup mata, terkulai lemas terjatuh , tewas dengan wajah tersenyum, spontan QI menahan dan merangkulnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Kemenangan dia dapatkan, tapi entah mengapa dia merasa ada yang salah dengan kemenangan ini, rasa sakit yang teramat menusuk kalbunya. Berteriak dia bertanya pada dewa-dewa tentang kebenaran mana yang benar, manakah kebenaran sejati, tapi hanya gemuruh guntur dan kilatan halilintar yang dia  dapatkan.

Langit meneteskan hujan menemani QI yang menangis sambil memeluk erat tubuh XAI.

******

QI berdiri menatap langit di atas sebuah karang yang menjulang tinggi. Di belakangnya puluhan ribu pasukan bersenjata lengkap berteriak dengan seru dan lantang.

QI tidak sedikitpun peduli terhadap sorakan prajurit-prajurit itu. Perlahan tangannya memegang sargi ketujuh di dada kanannya, kepalanya menunduk.

“Kakak, pemberianmu tidak akan aku sia-siakan. Hari ini, kerajaan para dewa akan aku buat berantakan demi mendapatkan kebenaran sejati. Aku tidak akan membiarkan mereka terus mempermainkan kita. Akan aku tunjukkan kebenaranku!” QI bergumam pelan.

QI mengangkat kepala, berbalik menatap puluhan ribu pasukan. Perlahan dia menarik nafas, bersiap memberikan aba-aba untuk menyerang kerajaan langit, kerajaan para dewa.

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan