CHRISTAL, TULISAN CERMIN, DAN SAPHIRE

Feni N.S.

Kebanyakan perempuan yang mulai bertumbuh dewasa akan meninggalkan kebiasaan yang dilakukan saat anak-anak dan mulai beralih pada ritual mempercantik diri. Tapi, hal tersebut tak berlaku bagi Christal, gadis berusia 13 tahun yang duduk di kelas 7 di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Kalau anak seusianya yang lain memakai uang jajan mereka untuk membeli asesoris atau alat kosmetik, Christal memakainya untuk membeli berbagai buku favoritnya.

Christal, gadis kecil bermata cokelat dan berambut hitam kecoklatan sebahu itu adalah seorang kutu-buku. Tak heran tempat favoritnya di sekolah adalah perpustakaan. Seperti saat jam istirahat sekarang, ia dan sahabatnya Liza sedang asyik membaca buku.

“Liz, ada yang ingin kuceritakan,” kata Christal berbisik. “Sudah dua malam ini aku mengalami mimpi yang sama dan…,” Christal berhenti sejenak. “Dan mimpi itu aneh,” kata Christal dengan suara seperti di tahan.

“Aneh bagaimana maksudmu?” tanya Liza, “Chrissy, jangan membuatku pusing. Ceritakan!” Liza merupakan sahabat Christal sejak kecil dan ‘Chrissy’ merupakan nama kecil Christal yang hanya digunakan oleh kedua orang tua Christal, kakak laki-lakinya yang setahun lebih tua bernama Cornelius, Liza, dan satu-satunya sahabat laki-laki yang dimiliki Christal yakni Luis. Luis lebih memilih bermain baseball daripada membaca buku.

“Mimpiku selalu berawal saat aku menyentuh sebuah cermin dan tiba-tiba saja aku sudah berada di suatu tempat yang aku tak tahu. Lalu ada seorang anak perempuan berambut emas bermata biru yang tangannya seolah-olah ingin menggapaiku dan dia seperti ditarik oleh sesuatu yang sangat kuat.”

“Lalu aku berusaha mengikuti gadis itu melewati sebuah air terjun besar yang di bawahnya ada pusaran air yang sangat besar, dan…” Christal mulai menelan ludahnya.

“Dan?” tanya Liza dengan mata berbinar.

“Selalu berakhir di situ.” kata Christal, lalu menghirup nafas lega. Liza menggumam kecewa.

“Kau sudah mengalami ini dua kali?” tanya Liza. Christal mengangguk.

“Apa yang kau lakukan dua hari yang lalu?” Liza mulai menginvestigasi seperti detektif.

“Dua hari yang lalu, penjaga perpustakaan kita Miss Evelyn memintaku menolongnya membereskan buku-buku tua di kantornya. Kau tahu kan aku cukup dekat dengannya karena kami sering bertukar pikiran tentang buku-buku. Karena alasan aku sangat rajin mengunjungi perpustakaan jugalah makanya dia mengajakku.”

“Hanya kau sendiri?” tanya Liza dengan mata menyipit.

“Tidak. Ada Cornelius juga. Kau tahu kalau kakakku penggila buku juga.”

“Kalian berdua saja?” tanya Liza lagi.

“Iya. Hanya kami berdua. Alasannya, sebagai imbalannya hari Minggu nanti Miss Evelyn akan mengajak kami makan es krim di Ice Wonder dan membelikan buku yang kami inginkan di toko buku. Kalau kebanyakan murid Miss Evelyn takut kewalahan.”

“Apaaa???” Liza nyaris berteriak. Seketika semua mata yang berada di perpustakaan melihat tajam ke arah mereka dan para pemilik mata tersebut menempelkan telunjuk di bibir sebagai peringatan untuk tidak berisik dengan tatapan mencibir.

Sorry!” bisik Liza kepada mereka sambil tersenyum. “Tega benar Miss Evelyn hanya mengajak kalian berdua. Aku juga kan rajin membaca di perpustakaan ini.” protes Liza.

“Aku tahu kau pasti kesal, makannya aku bertanya padanya. Tapi, dia bilang dari daftar pengunjung perpustakaan memang namaku dan Cornelius yang teratas.” Christal menjelaskan dengan perasaan tak enak.

“Oke, kembali ke kasus.” tegas Liza, raut wajahnya berubah 180 derajat. “Lalu, menurutmu apa hubungannya dengan mimpi anehmu dua malam ini?”

Christal mulai berpikir serius, “Tak tahu, tapi saat merapikan buku-buku tua itu, aku menemukan sebuah buku tua dan besar. Sampul depannya sudah usang jadi aku tak tahu apa judulnya. Di dalam buku itu, aku menemukan sebuah cermin. Cerminnya cantik, seperti cermin putri-putri di dongeng. Aku tak melihat apa-apa lagi. Lalu ku susun buku itu ke rak dan setelahnya kami pulang ke rumah.” Christal menjelaskan.

“Kau yakin tak menyentuh apa-apa dari buku atau cermin itu?” tanya Liza.

Christal mencoba mengingat-ingat. “Aku mengusap bagian depan cermin itu karena berdebu.” Christal terdiam sejenak. Ia mulai berpikir, apakah ada kaitan mengusap cermin itu dengan mimpi-mimpinya. Lamunannya dibuyarkan oleh suara bel tanda waktu istirahat telah usai. Mereka bergegas kembali ke kelas.

Malamnya Christal mengalami mimpi yang sama lagi. Kali ini lebih jelas dan terasa nyata.

Sabtu pagi itu sekolah libur. Christal, Liza, dan Luis berkumpul di rumah Liza untuk mengerjakan tugas kelompok Fisika. Christal masih terbayang akan mimpinya.

“Ehem, Chrissy. Melamun hanya akan membuatmu semakin cepat tua.” kata Luis yang dari tadi ternyata memperhatikan Christal yang banyak melamun. Christal tersadar.

“Ya? Ada apa?” tanya Christal.

“Lupakan!” kata Luis dan mulai mengerjakan tugas nya lagi.

“Jangan bilang tadi malam kau bermimpi aneh dan sama lagi!” kata Liza sambil menatap Christal. Christal mengangguk.

“Mimpi apa?” tanya Luis.

“Mimpi tentang seorang gad…” Liza berhenti karena dipotong oleh Christal. Christal menggeleng. ”Jangan Liz!” katanya. Luis menatap Christal kemudian menatap Liza, lalu menatap Christal lagi. “Katakan apa yang kau mimpikan tadi malam?” tanya Luis sambil menatap Christal. Christal menggeleng.

“Teman-teman aku pulang duluan ya. Ada yang harus aku kerjakan. Tugasku akan aku kirimkan ke email kalian.” kata Christal sambil berlalu pulang. Liza dan Luis menatapnya terdiam.

“Oke Liz, ceritakan apa yang aku lewatkan!” perintah Luis.

Liza pun menceritakan semuanya. Diakhiri dengan kalimat, “Kau harus lebih memperhatikannya dan jangan sibuk main baseball terus!” kata Liza sok dewasa, dahi Luis berkerut.

Christal menuju sekolah. Meskipun Sabtu merupakan hari libur sekolah, tapi sekolah tetap buka karena hari sabtu merupakan hari yang dipakai untuk berbagai macam klub di sekolah. Tapi bukan itu tujuan Christal. Kali ini Christal bermaksud menuju perpustakaan sekolah, tepatnya ke ruangan Miss Evelyn. Tujuannya untuk menemukan buku tua dan cermin itu. Christal akan membaca buku apa itu sebenarnya dan kaitannya dengan mimpi-mimpinya selama ini.

Tapi, Christal sadar kalau dia sendiri yang meminta ke Miss Evelyn apalagi di hari libur seperti ini, Miss Evelyn bisa curiga. Karena itu, Christal akan meminta Cornelius sebagai tamengnya. Ia memanggil Cornelius untuk keluar dari lab Klub Sciencenya. Cornelius berjalan menuju Christal masih menggunakan jas lab kebanggaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Cornelius.

“Aku butuh bantuanmu. Kau dan aku akan berpura-pura meminjam buku Fisika yang ada di ruangan Miss Evelyn. Katakan kita perlu untuk kepentingan Klub Science hari ini.” kata Christal.

“Aku mencium ada sesuatu yang tak beres. Lagipula kau bukan anggota Klub Science.” Cornelius mengerutkan dahinya.

“Oh, ayolah Corny, nanti akan kuceritakan semuanya, ini sangat berarti untukku.” Christal memohon.

“Apa artinya bagiku?” tanya Cornelius.

“Artinya, kau akan mendapatkan setengah uang jajanku bulan ini.” kata Christal terpaksa.

“Oke, ditambah buku serial Tin Tin-mu yang di dalamnya melibatkan Profesor Calculus, deal?”

“Hah? Kau tega sekali. Kita saudara kandung atau bukan sih?” tanya Christal hilang harapan, namun akhirnya dia berkata, “deal!”

Akhirnya, mereka dapat masuk ke kantor Miss Evelyn tanpa dicurigai. Christal mulai mencari buku tua berwarna kebiruan itu. Sementara Cornelius melihat-lihat buku Fisika. Christal menemukan buku tua itu. Ia meniup debu yang menutupi sampulnya. Ada tulisan, tapi Chrystal tak dapat membaca tulisan itu. Seperti tulisan terbalik.

“Sebenarnya apa yang membuatmu sangat menginginkan buku itu?” tanya Cornelius berbisik.

“Nanti aku ceritakan,” kata Christal sambil mulai membuka buku itu dan mendapati cermin unik. “Apa sebenarnya isi buku ini?” tanya Chrystal lirih. Akhirnya Cornelius menghampiri adiknya dan duduk. Cornelius mulai memperhatikan buku itu.

Christal mulai menelusuri tulisan dalam buku itu tapi kesusahan karena tulisannya terbalik. Sementara Cornelius mulai mengerti sesuatu.

“Chrissy, nilai Fisikamu berapa?” tanya Cornelius.

“Dapat 80. Kenapa tiba-tiba menanyakannya?”

“Buku itu berisi tulisan yang terbalik, seperti tulisan cermin. Artinya bisa dibaca jika diproyeksikan menggunakan cermin yang notabene ada di tanganmu saat ini,” kata Cornelius sambil memandang adiknya dengan tersenyum. Christal menuruti perkataan kakaknya dan mencoba memproyeksikan tulisan di halaman yang dibukanya dengan cermin dari buku itu. Christal terperangah dan Cornelius benar, tulisan itu bisa dibaca dengan cermin karena tulisan itu adalah tulisan cermin!

“Cornelius, kau jenius!” seru Christal.

“Tahan tepuk tanganmu, karena ini belum seberapa. Tunggu sampai aku menemukan planet atau komet,” kata Cornelius bangga.

“Sombong!” desis Christal. Tiba-tiba terdengar derap langkah memasuki kantor. Christal dan Cornelius terkejut. Itu Liza dan Luis. Christal dan Cornelius menarik nafas lega.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Christal berbisik.

“Kalian hampir membuat jantungku copot,” kata Cornelius sambil memegang dada kirinya.

“Seseorang mencemaskan adikmu dan akhirnya kami ke sini,” kata Liza kepada Cornelius sambil berjalan menuju Christal. Cornelius melirik Luis dan Luis gerapan. “Jangan memandangku seperti itu Corny!” kata Luis dengan salah tingkah.

“Jadi ini buku yang kau ceritakan?” tanya Liza. Christal mengangguk.

“Apa judul bukunya?” tanya Luis. Christal membalikkan buku itu dan mulai memproyeksikan judul di sampulnya dengan cermin.

“SA…SAPHIRE,” baca Christal. Seketika cermin itu bersinar dan buku tua itu terbuka lebar. Cahaya kebiruan keluar dari buku itu dan mulai mengeluarkan daya tarik dan menyedot cermin yang dipegang Christal. Begitu kuat daya tariknya sampai Christal mulai ikut tertarik ke dalamnya, masuk ke dalam buku itu. Buku itu menarik Christal semakin cepat.

“Chrissy, lepaskan cermin itu!” teriak Cornelius sambil menarik tangan Christal yang satunya. Liza terperanjat dan Luis mulai menarik badan Cornelius.

“Tidak bisa, dia kuat sekali menarikku.” Kali ini Christal sudah masuk dan daya tarik itu semakin kuat serta cepat menyedot semua yang bisa disedotnya. Cornelius tersedot. Luis berusaha keras menahan dirinya, sementara Liza yang mungil sudah tersedot. Luis mengerahkan tenaganya dan memegang rak buku tapi ia menyadari sahabatnya ada di dalam buku itu dan akhirnya dia melepaskan rak dan tersedot dengan cepat ke dalam buku itu.

Mereka berempat seperti melewati terowongan yang panjang dan terang kebiruan. Lalu mendarat di sebuah taman. Christal masih memegang cermin itu yang kini tampak seperti baru. Cermin itu terbuat dari emas dan memiliki permata biru. Apa yang mereka lihat selanjutnya seperti dalam dongeng. Taman yang hijau dan pepohonan dengan buah yang unik. Langitnya biru cerah.

“Dimana kita?” tanya Christal. Mereka berempat berdiri dan memandang sekeliling.

“Selamat datang di Saphire,” terdengar suara yang bening dari balik pepohonan. Mereka terperanjat, karena terkejut Liza memeluk Cornelius dan Christal memegang tangan Luis. Suara itu milik seorang gadis. Gadis yang dikenal Christal, berambut emas dan bermata biru, mata yang sangat jernih. Cornelius berdehem. Liza melepaskan pelukannya dengan wajah memerah dan Christal sadar lalu menarik tangannya yang tadi memegang tangan Luis dengan wajah merona. Wajah Luis tak kalah merah.

“Aku…aku pernah melihatmu,” kata Christal tergagap.

“Iya, kita pernah bertemu dalam mimpimu. Tiga kali,” kata gadis itu dengan tersenyum. Christal mundur selangkah dan terhuyung karena lemas. Apa yang ada dalam mimpinya itu benar.

“Apa yang kau mau dari adikku?” tanya Cornelius.

“Pertolongan,” kata gadis itu.

“Pertolongan apa?” tanya Luis.

“Untuk membawa cermin itu dan mengalahkan peramal wanita yang jahat,” kata gadis itu dengan wajah memelas.

“Apa hubungan itu semua denganku?” tanya Christal.

“Baiklah aku ceritakan. Saphire adalah pulau yang kehidupannya bertumpu pada sebuah batu permata besar berwarna biru yakni Batu Saphire. Peramal wanita itu dulunya adalah peramal yang bekerja untuk kebaikan pulau ini dan dua pulau lainnya, Pulau Emerald dan Pulau Ruby. Tapi, dari ramalannya dia mendapatkan bahwa jika ia bisa memiliki satu saja dari tiga batu sumber kehidupan yakni Batu Saphire, Batu Emerald, dan Batu Ruby, dia tidak akan mengalami penuaan dan bila mendapatkan ketiganya maka dia akan menjadi abadi. Dia Sudah mendapatkan Batu Emerald dan Batu Ruby. Dua pulau itu kini dalam kekuasaannya. Dia sedang berusaha mendapatkan Batu Saphire dan jika itu terjadi semuanya akan menjadi milik Peramal Jahat itu.”

“Apa yang bisa mengalahkan dia?” tanya Christal.

“Bayangannya sendiri. Peramal itu sebenarnya sudah berusia ratusan tahun dan tua renta. Jika ia melihat bayangannya yang sebenarnya, dia akan lenyap selamanya. Karena itu dia berusaha memusnahkan semua cermin di pulau ini. Cermin yang tersisa hanyalah cermin milikku yang kusembunyikan di buku tua Saphire dan kulemparkan ke portal agar ada yang menemukannya dan menolong kami semua.”

“Dan orang yang menemukan serta tahu cara masuk ke pulau inilah yang akan menolong, begitu?” tanya Liza. Gadis itu mengangguk.

“Aku adalah keturunan terakhir dari pemimpin pulau ini, karena peramal itu sudah melenyapkan keluargaku,” kata Gadis itu sambil terisak. Christal memegang pundak gadis itu dan mengusap air matanya. Mata biru gadis itu penuh rasa permohonan.

“Aku akan menolongmu dan mengerahkan segala yang ku miliki,” kata Christal sambil tersenyum. Gadis itu memeluk Christal.

“Tapi aku pasti memerlukan bantuan kalian teman-teman,” kata Christal kepada para sahabat dan kakaknya. Liza dengan cepat mengangguk mantap. Luis mengangguk dengan mata serius. Cornelius berkata, “ Kita sudah sampai di sini jadi jangan sia-siakan kedatangan kita.”

“Dimana kita bisa mengalahkan Peramal itu?” tanya Luis.

“Dia tinggal di balik air terjun besar itu,” kata gadis itu sambil menunjukkan air terjun yang dimaksud.

“Seperti dalam mimpiku,” kata Christal,”Berarti di bawahnya ada pusaran air yang besar dan siap menenggelamkan kita.”

“Itu tercipta karena kekuatan Peramal itu, tapi kalau kita tidak melihat ke bawah kita tidak akan ditarik. Pastikan pandangan kita jangan melihat ke bawah,” kata gadis itu. “Dia pasti sudah menyadari kedatangan kalian. Untuk itu aku akan membekali persenjataan sebagai perlindungan.”

Gadis itu memberikan tameng emas bermata biru kepada Cornelius, pedang bermata biru kepada Luis, busur panah kepada Christal, dan bumerang kepada Liza. Liza sangat senang dan langsung menamainya Za-boom.

“Kita harus bergegas karena kita akan semakin kuat saat langit masih biru,” kata gadis itu. Mereka segera berangkat mengendarai burung phoenix raksasa biru. Burung itu terbang sangat cepat.

“Andai aku bawa handycam-ku untuk merekam ini,” kata Cornelius kecewa. Mereka terbang melewati awan-awan. “Andai aku membawa tabung kimia untuk menyimpan awan pulau ini untuk diteliti,” kata Cornelius lagi.

“Corny, jangan kacaukan apapun yang ada di pulau ini,” semprot Liza.

Mereka tiba di dekat air terjun besar itu. Para prajurit dengan baju jirah hitam sudah menanti dan langsung menyerang mereka. Pedang Luis yang dengan sekali tebas mengeluarkan sinar biru menyilaukan yang bisa memotong apapun. Tameng Cornelius bisa melindungi mereka dengan perisai sinar biru. Panah Christal yang tanpa anak panah itu hanya dengan satu tarikan bisa mengeluarkan sinar biru yang bila dalam benak Christal ingin 20 anak panah maka sinar itu akan berpencar memburu 20 prajurit yang menyerangnya. Sementara Za-boom milik Liza dengan sekali lempar akan menyerang siapapun yang diinginkannya. Karena itulah para prajurit itu mudah dikalahkan.

Tapi, satu monster besar mirip naga berkepala empat siap memangsa mereka. Kali ini phoenix biru ambil andil dan menjadi tunggangan Luis karena pedang Luis bisa menebas apapun. Tak mudah mengalahkan monster ganas itu, tapi setelah disilaukan dengan cahaya cermin bermata biru dan langsung ditebas dengan pedang Luis, maka monster itu bisa dikalahkan.

Perjuangan yang berat adalah melewati pusaran air menuju gua peramal. Begitu mereka berada di tepi, suara pusaran air terdengar menderu-deru.

“Jangan sekalipun melihat ke bawah!” gadis itu mengingatkan lagi. Dengan penuh perjuangan mereka menahan tubuh dari tarikan pusaran air dan tidak melihat ke bawah. Christal tiba-tiba teringat akan mimpinya saat tersedot ke dalam pusaran air itu, akibatnya dia terpelesat dan hampir jatuh kalau saja Luis tidak menahannya. Christal mengucapkan terima kasih yang dibalas Luis dengan anggukan. Akhirnya mereka tiba di gua yang gelap. Permata biru dari masing-masing senjata mereka memberikan penerangan.

“Selamat datang anak-anak nakal!” kata suara perempuan yang melengking. Mereka berlima terkejut dan mulai waspada. Peramal itu memunculkan dirinya. Ia berambut hitam panjang, wajahnya cantik dan terlihat sangat muda, tapi tatapan mata dan senyum bengisnya mengisyaratkan kalau dia sangat jahat. “Mau mengalahkanku, akan aku layani.”

Peramal itu mengeluarkan sinar keunguan yang bisa menghancurkan apapun. Christal hampir terkena reruntuhan yang terkena serangan peramal itu. Jelas, Christal menjadi incarannya. Peramal itu terbang ke arah Christal dan mulai menyerang. Christal melompat menghindar. Cornelius ingin menolong tapi peramal itu menciptakan kobaran api besar dihadapan Cornelius, Luis, Liza, dan gadis berambut emas itu.

“Kini tinggal kau dan aku,” kata peramal itu sambil berjalan mendekati Christal yang tersungkur ke dinding gua. Peramal itu mencekik Christal sampai Christal terangkat dari tanah. Christal mulai kesakitan dan sulit bernafas. Ia teringat perkataan gadis itu tentang kelemahan peramal itu. Dengan susah payah Christal menarik cermin yang disembunyikannya dalam saku jacketnya dan mengarahkannya ke wajah peramal itu. Peramal itu tercekat, di cermin ia melihat bayangannya yang sudah sangat tua dan keriput. Dia berteriak dan melepaskan Christal yang terjatuh kesakitan. “Lenyaplah kau yang jahat!” kata Christal. Peramal itu kesakitan dan mengerang, perlahan seluruh tubuhnya berubah menjadi tua renta dan mulai lenyap sampai hilang tak bertitik. Tiba-tiba muncul cahaya hijau dan kemerahan dari Batu Emerald dan Ruby yang terkubur di tanah. Batu-batu itu terbang menuju pulau masing-masing. Cahaya biru terang memasuki gua. Bersama lenyapnya peramal itu, gua tempatnya bersarang mulai runtuh. Api besar tadi sudah lenyap, Cornelius beserta yang lainnya berlari mendapatkan Christal. Mereka memapah Christal yang lemah menuju mulut gua. Di sana phoenix biru telah menunggu. Gua semakin hancur dan runtuh total saat mereka terbang meninggalkan gua itu. Tak ada lagi pusaran air besar karena pembuatnya sudah lenyap.

Mereka terbang menuju pusat Batu Saphire yakni sebuah kolam yang jernih. Di sana sudah menanti para penduduk dan pemimpin pulau Saphire. Gadis itu berlari bahagia dan memeluk orang tua dan keluarganya yang sempat lenyap dalam kuasa peramal itu.

“Terima kasih karena menyelamatkan kami semua,“ kata ayah gadis itu yang juga memiliki rambut emas dan mata biru. Christal tak bisa berkata apa-apa, dia berlari dan memeluk mereka juga. Mereka semua tertawa bahagia.

“Bagaimana kami kembali ke asal kami?” tanya Cornelius.

“Dari kolam ini. Kolam ini lebih jernih daripada cermin. Inilah portal yang aku gunakan untuk mengirim buku dan cermin itu ke dunia kalian,” kata gadis itu.

“Jadi, kita bisa bertemu lagi?” tanya Christal berbinar. Gadis itu tiba-tiba sedih. “Tidak bisa, begitu kalian keluar dari sini, segala hal yang berasal dari pulau ini harus tetap berada di sini, jadi buku darimana kalian masuk pun akan lenyap dari dunia kalian dan kembali ke sini. Tak ada portal lagi dari dunia kalian menuju pulau ini.”

“Berarti aku juga akan berpisah dengan Za-boom,” kata Liza terisak sambil membelai bumerangnya. Tanpa sadar Cornelius memegang bahu Liza dan berusaha menenangkannya.

“Baiklah, selamat tinggal pulau Saphire. Kami senang pernah ke sini.” kata Christal tersenyum. Mereka berempat mulai melangkah mendekati kolam itu. Christal, Cornelius, Luis, dan Liza tersenyum dan serempak terjun ke kolam. Mereka ditarik lagi ke terowongan. Tiba-tiba mereka keluar dari buku tua besar dan setelah memastikan mereka berempat selamat, mereka berpelukan. Buku tua itu mengeluarkan cahaya biru dan lenyap seketika.

Tiba-tiba pintu kantor terbuka. Itu Miss Evelyn. Mereka berempat melepaskan pelukan dan bergegas berdiri.

“Anak-anak, ada apa ini? Baru satu jam saya tinggalkan tapi sudah berantakan lagi seperti ini?”

“Maaf Miss, akan kami bereskan,” kata Christal.

“Oke! Sebagai imbalannya, besok siang kita makan es krim di Ice Wonder. Khusus Christal dan Cornelius akan mendapatkan dua porsi karena kalian rajin membaca selama ini, bagaimana?”

“Asyiiik!” kata mereka serempak sambil tersenyum bahagia.

***

Iklan