CODENAME: THANATOS

Ivan Z

1400 hours

“Rein, Deva, Pelor, kalian ikut G jaga perimeter. Jangan sampai A.P. keluar dari gedung!” perintahku. Mereka adalah empat dari enam prajurit dengan pakaian serba hitam beserta sarung kepala. Sulit membedakan kesemua anak buahku jika kami sudah berpakaian lengkap hanya jahitan dengan kode nama kami di sarung kepala, juga suara yang sudah kami kenal selama dua tahun lebih yang membuat kami mengetahui satu sama lain.

Mereka berempat menyiapkan senjatanya, lalu memasuki lapangan luas yang merupakan halaman dan tempat parkir dari fasilitas ini.

“Tops, Ambil explosive charge di truk. Soko, Ikut aku membersihkan jalan sampai ke gedung utama.” Perintahku pada dua yang tersisa.

“Dan G!” aku berbicara pada G dengan mikrofon radio kami. “Ingat sudah dipastikan tidak ada yang selamat. Apapun yang bergerak tembak dahulu dan tembak kemudian!”

“Siap Pak!” setelah jawabannya selesai langsung terdengar rentetan tembakan senjata.

Soko Sudah siap dengan Ram-nya, Tops dengan Peledaknya. Dua benda ini akan kami gunakan untuk mendobrak pintu keamanan tingkat tinggi, pintu masuk gedung utama.

Mereka berdua menjawab dengan anggukan. Aku segera masuk menuju ke halaman. Kerja tim pertama sudah hampir selesai. Pemandangan yang ada melebihi apa yang kuprediksi.

Mereka mengatakan bahwa parasitnya akan mengendalikan semua orang tapi tidak mengubah bentuk. Para mantan manusia ini memiliki organ tambahan yang membuat mereka sangat berbahaya. Keempat jari tangan mereka dilingkupi oleh daging coklat keras membentuk seperti pisau di ujung lengannya. Ada beberapa yang memiliki gigi-gigi ekstra panjang dengan mulut yang melebar.

Aku mencoba menebak bagaimana ekspresi orang pertahanan kalau melihat senjata mereka lebih efektif dari yang mereka harapkan.

0710 hours

“Komandan Zero!”

“Siap, pak!”

Setelah selesai membaca berkas timku. Pak menteri yang dari tadi diam akhirnya memanggilku.

“Komandan dari tim terbaik Satuan Spesial Keamanan Negara!” dia menatapku.

Walaupun aku tidak bisa melihatnya karena prajurit harus selalu dalam keadaan siap sampai disuruh istirahat. aku tahu dia menatapku dengan rasa ragu.

“Kau tahu mengapa kau dipanggil ke sini, ke kantorku di departemen pertahanan ini?” dia memberikan gerakan tangan untuk menyuruhku duduk di kursi depan mejanya.

“Tidak, pak!”

“Zero, nama apa itu?” Pak menteri berbicara dalam suara kecil. Bertanya atau hanya menggumam aku punya kewajiban untuk menjawabnya.

“Di kesatuan kami tidak memakai nama lahir kami, pak. Kami menggunakan panggilan untuk membuat kami tahu bahwa keluarga kami hanya SSKN dan bukan yang dirumah!”

“Saya tahu, kesatuan itu berdiri juga atas tanda tangan saya!” Pak menteri setengah berteriak.

“Maaf, aku agak labil sejak mendengar tentang insiden semalam!” lanjutnya. “Dengar, sejak detik ini kau hanya melapor kepadaku dan beberapa orang yang kutunjuk. Aku juga meminta semua yang berhubungan dengan misi ini tidak diketahui oleh siapapun di SSKN, kecuali timmu!”

kata-katanya mengartikan aku akan mendapat misi besar. Ok, aku telah memimpikan ini, aku terlahir siap untuk ini!

“Bagaimana, Kau bisa independen sementara dari SSKN?”

“Siap, Bisa Pak!”

“Bagus, Ikuti saya!” Pak menteri berdiri. Dia mengajakku ke ruang rapat yang lebih besar.

0724 hours

“Fasilitas terpencil di pedalaman jawa tengah. Disitu kami menciptakan makhluk ini!” seorang ilmuwan memperlihatkan video serangan seekor mahkluk di tempat seperti laboratorium.

Layaknya manusia biasa targetku berdiri. Dengan seluruh tubuh yang berwarna kecoklatan dan terstruktur secara sempurna. Tepat di bagian atas telapaknya dia memunculkan daging tambahan yang seperti tanduk untuk menusuk seorang ilmuwan di sana.

Daging kecoklatan itu lebih seperti perisai. Karena di videonya saat dia sudah tidak ditembak oleh pihak keamanan daging besar itu menyusut dan memperlihatkan bentuk manusianya. Aku tidak melihat wajahnya hanya punggung dari targetku itu.

“Video ini diambil jam 3 pagi tadi!” Video dihentikan oleh ilmuwan yang memegang remote ini. “Itu adalah Abomination Prototype, Misimu adalah hancurkan dia dan kemungkinan semua orang di fasilitas itu yang sudah menjadi pekerjanya!”

“Pekerja?” aku bertanya ulang tentang maksud membunuh warga sipil.

“Pekerja, istilah koloni serangga. maksudku A.P. mampu menguasai gerakan semua korbannya. Yang dia perlukan hanya menanamkan daging yang tadi kita lihat ke tubuh korbannya.”

“Kalau hanya misi penghabisan total, tinggal minta pak Deni kirim jet pengebom kan!”

Di ruang rapat ini hanya ada empat orang. Ilmuwan tadi sebagai kepala dari fasilitas tempat insiden terjadi. Pak menteri, Menteri pertahanan Indonesia. Aku, dan juga pak Deni, Pria yang akan menjadi penanggung jawab lapanganku.

Aku pernah beberapa kali bekerja dengan Pak Deni. Jendral bintang empat, Marsekal TNI A.U. hanya dengan menggoyangkan tangan aku yakin ia bisa mengebom satu propinsi.

“Pesawat pengebom sudah siap ditempat, begitu kalian keluar dari perimeter pesawat akan berangkat!” Jawab Sang marsekal.

“Tugas timmu sebenarnya adalah ini!” Ilmuwan itu meluncurkan sebuah pistol di atas meja.

Pistolnya cukup ringan dan juga terbuat dari plastik pastinya ini bukan senjata api.

“Setiap dari timmu mendapat pistol ini dengan 3 pelornya. 2 pelor berisi cairan yang harus ditembakkan ke tubuh A.P. saat dia tidak dilindungi daging perisainya. Cairan itu akan membuatnya tidak bisa menumbuhkan atau mengendalikan daging parasitnya sekitar 20 detik. Pelor ketiga gunakan dan tembakan ke arah bahu ke atas. pelor ketiga akan menghisap darah dan parasit penting di dalam tubuh monster itu. Kalian harus membawanya pulang hanya itu yang penting!”

Aku mengangguk dan memeriksa pistol itu dan kotak lain disampingnya. Kotak itu berisi dua suntikan lainnya. Satunya kosong, satunya berisi cairan ungu.

“Ada pertanyaan?”

“Bagaimana tingkat inteligensi target?”

“Sama seperti manusia, A.P. aslinya adalah mayat manusia yang kami modifikasi. Ia masih memiliki emosi dan juga ingatan kehidupannya. Kalian bisa gunakan itu untuk keuntungan kalian!”

“Jadi Zero, apakah kau menerima tugas ini?” Pak menteri yang dari tadi diam ikut mendengar penjelasan dari pak Deni dan Juga ilmuwan itu.

Aku berdiri tegak. “Siap, kapan timku berangkat!”

“Timmu sudah menunggu di Adi Sucipto, aku yang nyetir” Pak Deni bangun dari duduknya dan mengajakku keluar.

1404 hours

Brakkk

Pintu menuju ke gedung utama telah di dobrak oleh Tops. begitu terbuka kami melihat puluhan ‘pekerja’ sedang terbaring di lantai. Padahal kami belom menyerang mereka.

Satu lantai gedung utama ini tidak terlihat seperti sebuah laboratorium. Ruangan ini terlihat seperti riset teknologi. Dengan meja-meja panjang dan puluhan komputer diatasnya. Ada yang sudah terjatuh dari meja yang berantakan ada yang sudah terbelah atau pecah.

Aku maju perlahan dengan senjata yang sudah diancangkan di depan bahu. Karena masih memegang prinsip yang sama ‘tembak apapun yang bergerak!’

kami bergerak bersama dalam grup setiap orang menjaga punggung seseorang, tujuan kami hanya Lift yang menuju satu lantai dibawah kami.

Suara tembakan menghentikan grup kami. Tembakan itu berasal dari senjata Pelor, dia tepat di sebelah kiri belakangku.

“Pelor, sudah kukatakan kalau mau tembak, tembak yang mengancam.” Aku berteriak. Setiap misi timku Pelor memang yang dikenal sebagai trigger happy person.

“Tapi tadi pekerja itu bangun!” dia menunjuk ke sebuah mayat yang bibirnya hancur terkena tembakan Pelor.

“Kalau gitu, kasih tahu arah ancaman dulu!”

“Zero, ada juga yang berdiri di sini!”

Aku berbalik menuju ke arah pandangan G, wakilku di grup ini. memang ada satu pekerja yang berdiri sedikit jauh dari grup kami.

“Mengapa kalian kemari?” Pekerja itu bertanya.

“Zero?” G meminta keputusanku.

“Tembak!”

Beberapa pelor meluncur dari senjata G. Mendarat di dada dan wajah ‘Pekerja’ itu. anehnya pekerja itu hanya begerak di tempat akibat menerima pelor namun masih berdiri tegak.

“Aku tidak akan keluar dari sini!” dengan wajah yang hancur ‘pekerja’ itu masih berbicara.

“Aku tidak akan menyerang kemana-mana lagi!” aku berbalik ke asal suara, pria yang tadi ditembak oleh pelor kini berdiri lagi.

“Aku…” satu persatu semua ‘pekerja’ mulai bangkit. Entah suara itu berasal dari ‘pekerja’ yang mana.

“Hanya…” suara terdengar berganda seperti beberapa ‘pekerja’ berbicara bersamaan.

“Ingin menjadikan tempat ini surgaku!” kali ini semua ‘pekerja’ berbicara bersamaan seluruh gedung ini bergetar hanya oleh vibrasi suara.

Ok, This is creepy enough, komandan?” Tops bergerak mundur membuat kami juga ikut berpindah menyamakan posisi secara naluriah.

“Aku tidak akan menyerang kalian, tapi sebaiknya pergilah sekarang juga!” suara itu makin menggelegar kembali kini ditambah yang dari luar. Sepertinya yang kami serang dalam pembersihan perimeter juga tidak mati. kami berhasil dijebak A.P. sampai ke gedung utama.

A.P ini sepertinya bisa diajak negosiasi. sayangnya misi utamaku jelas. Menghabisi dia. Jadi kurasa omongan juga percuma.

Aku hanya diam berpikir kalau aku tidak pergi ini akan menjadi misi bunuh diri. Musuh kami, para ‘pekerja’ ini tidak efektif ditembak.

“Kawan?” aku bertanya kepada semua anak buahku. “Kalian siap mati?”

Semuanya terdiam berpikir, kurasa tidak satupun akan menjawab. Kami memang dilatih untuk mati, namun tidak mati sia-sia.

“Aku punya rencana, tapi kalau tidak berhasil kita akan mati, atau kalian mau pergi dari sini dan mendapat hukuman di mahkamah militer?”

“Zero!” Suara wakilku memanggilku lagi. “Kau komandannya keputusan nyawaku ditanganmu!” jawabannya ditutupi oleh kokangan sejatanya. Menunjukkan bahwa ia siap bertempur. Serentak semua anak buahku juga menarik kokangan senjatanya.

“Aku diberitahu bahwa mereka dikendalikan oleh A.P. dengan daging perisai itu. kurasa jangan tembak orangnya, tembak tangan pisau, atau wajah dengan gigi ekstra itu!”

“Kalian siap?” aku kembali menyanderkan pangkal senjataku di depan bahu. Menargetkan kepada daging coklat yang tumbuh berbentuk sayap di ‘pekerja’ depanku.

Open Fire!” bersamaan dengan komandoku suara desingan dan ledakan senjata api yang menjadi lagu penambah semangat mulai berkumandang.

Setelah tertembak daging coklat itu pecah berantakan layaknya kendi kering. Pekerjanya pun terjatuh. Melihat hasil yang nyata semangat grupku juga terbakar. Di sisi lain para ‘pekerja’ merangsek maju.

Kami bertujuh melawan puluhan ‘pekerja’. dengan kerjasama yang bagus kami tidak membiarkan satu ‘pekerja’ pun yang masuk ke dalam radius satu meter kami. Dengan begini para ‘pekerja’ mulai menipis.

“Komandan satu yang besar arah jam tujuh!” Rein berteriak. Sebuah pekerja dengan bentuk badan besar seluruh tubuhnya tertutupi daging perisai. ‘Pekerja’ besar itu tidak berjalan ataupun lari dia terbang. Daging itu membentuk lengannya menjadi sayap. Membuatnya laksana manusia burung.

Beberapa dari kami mengubah target tembakan. Puluhan pelor menghujam ‘pekerja’ terbang tersebut. Kali ini daging itu tidak pecah, pelor-pelor kami hanya masuk begitu saja ke dalam dagingnya.

Makhluk itu menukik, tidak ada yang bisa menghalanginya lagi, dengan sekali belokan ia mencengkram Rein dan membawanya terbang.

Sontak kami menghentikan tembakan salah satu peraturan adalah tidak menembak kawan.

Grup segera mengikuti makhluk itu terbang. Kami terpaksa berlari meloncat-loncat diatas meja-meja panjang yang melintang. juga menembaki beberapa ‘pekerja’ yang mengejar.

Makhluk itu melemparkan Rein ke dalam lift yang baru dibuka oleh ‘pekerja’ biasa. Dia pun ikut masuk. Aku menembak pekerja biasa yang mencoba menutup pintu lift. Kena, namun terlambat. Pintu itu menutup.

Ruangan ini telah bersih dari ‘pekerja’ kini yang tersisa hanyalah ruang labnya ruang dimana A.P. diciptakan, seluruh Lantai B2. Fasilitas ini tidak memiliki B1.

“Tops, kau dan Soko kembali ke truk kita. Minta pelontar granat sama Pak Deni, Juga ganti bawakan suply pertarungan dekat. Pekerja yang tadi tidak bisa dilawan dengan dengan senjata biasa. Kami akan menunggu di sini!”

“Komandan, bagaimana dengan Rein?” Deva memencet tombol lift tanpa perintahku.

“Bodoh, Bagaimana kalau ada yang keluar dari dalam!” aku segera mengacungkan senjata ke arah pintu. Semuanya mengikuti.

Pintu lift terbuka tidak ada siapa atau apapun. Perasaanku mengatakan bahwa A.P. mengundang kami untuk turun.

“A.P. itu bisa beradab, kalau dia ingin membunuh kita tadi, kita sudah mati oleh burungnya. Tapi burung itu hanya menculik Rein. Rein tidak akan dibunuh!”

“Dan mana pelontar granat yang tadi kuminta!” aku melotot kepada Tops. Tanpa menjawab siap mereka segera berlari arah pintu keluar gedung. Prosedur tidak diperlukan di saat-saat seperti ini.

“Semuanya periksa amunisi kalian semua ini akan berakhir sebentar lagi!” aku menenangkan suasana mendinginkan kepala mereka. Apapun yang menunggu dibawah pasti kebih menyeramkan daripada di sini.

1422 hours

tinggg

suara bel lift yang menyatakan bahwa kami sudah di lantai B2. suara ini menambah siraman adrenalin ke otakku. Semua scenario terburuk yang bisa terjadi melintas sesaat. Tapi kuhalau itu demi menyelamatkan Rein, aku tidak bisa membiarkan kegugupan menggagalkan misi.

Pintu lift terbuka dan Rein sedang berdiri mengarahkan senjatanya ke seseorang di tengah ruangan.

Ruangan melingkar dengan alat-alat lab di sekeliling ruangan. Seandainya tidak pecah. Di tengah ruangan terdapat tabung tinggi dan sebuah bangku. Kurasa selama Ini A.P. ditahan di ruangan itu.

“Rein kamu tidak apa-apa?” tanyaku pada Rein lalu mengikuti dia berbari disampingnya dan menodongkan pelontar granat pada manusia itu.

A.P sedang membelakangi kami, di sebelah kirinya ada makhluk burung tadi dan di sebelah kanannya ada mayat yang ia terus-terusan beri daging ekstranya. Membentuk tubuh baru bagi mayat kedua, Layaknya makhluk burung.

“10-4, komandan. Tapi ada yang kau perlu tahu. Dia komandan, dia adalah Thanatos!”

Nama itu segera membangkitkan ingatanku. Thanatos, wakil kaptenku sebelum G, yang meninggal di tengah misi.

Satu syarat masuk ke SSKN, adalah kami mati. kami dilaporkan terbunuh saat bertugas kepada keluarga kami, sehingga kami tidak memerlukan yang namanya keluarga. Keluarga kami adalah SSKN.

Jadi saat kami sungguh-sungguh meninggal, mayat dan urusan lain akan diurus oleh departemen pertahanan.

A.P memutskan pendonoran dagingnya, mayat tadi kini sudah berbentuk, seperti seekor beruang. A.P. berbalik badan dan melihatku sambil tersenyum.

“Hi komandan!” benar, itu adalah wajah Thanatos.

Semuanya mulai masuk akal apalagi jika ditambahkan dengan kalimat dari sang ilmuwan.

“Bagaimana tingkat inteligensi target?”

“Sama seperti manusia, A.P. aslinya adalah mayat manusia yang kami modifikasi. Ia masih memiliki emosi dan juga ingatan kehidupannya. Kalian bisa gunakan itu untuk keuntungan kalian!”

Kurasa kami dipilih dari SSKN bukan karena kehebatan kami, namun hubungan emosi kami dengan target.

“Hi Thanatos!” aku segera menembakan pistol yang berisi injektor cairan ungu.

Thanatos melintangkan tangan kirinya dan mengubah lengannya menjadi perisai kecil. Menghalangi jalur injektor tersebut.

“Jangan kira aku tidak bisa memberikan tembakan balasan!” dia mengacungkan tangan kanannya. Tangan kanannya segera meluncurkan daging coklat tadi yang berbentuk layaknya pasak.

Aku yang biasanya menghindar setelah mendengar letusan senjata api atau melihat hentakan balik dari senjata. Kini diam berdiri tidak menghindar. Instingku tidak berguna di sini.

Tapi daging itu tidak mengenaiku hanya sedikit menggores kulit leherku.

“Sepertinya aku meleset yah?” Thanatos menjulurkan lidahnya sembari tersenyum.

Dia sengaja, Thanatos yang kukenal tidak pernah meleset. Bahkan kalau tidak yakin kena dia akan mencoba menembak ke arah badan.

“Kau bisa menangkis tembakan Than, coba tangkis INI!” Pelor segera menembakkan pelontar granatnya.

Thanatos melakukan hal yang sama mencoba menangkisnya dengan tangannya yang berubah. Ledakan terjadi di tengah ruangan, makhluk seperti burung dan beruang tadi terpental kedua arah karena ledakan, namun setelah asap mereda Thanatos berdiri di tempatnya. Tangan perisainya hancur sayangnya beberapa detik kemudian terganti lagi dengan yang baru.

“Bagus kau menghabiskan satu-satunya tembakan granat jatahmu!” marahku kepadanya.

kedua makhluk bikinan thanatos mulai bergerak ke arah kami. Menyerang kami dari dua arah.

Tembakan kami yang sebelumnya tidak berpengaruh, namun kali ini beda. Tadi kami memakai M4A1 senapan mesin otomatis. Kini untuk melawan makhluk gede ini pasukanku sudah mengganti senjata dengan SPAS-12 shotgun yang memang lebih berdaya ledak.

Thanatos masih tetap berada di tengah memperhatikan pertarungan kami, atau mengendalikan gerak kedua makhluk itu.

Walaupun bisa memundurkan kedua makhluk ini. senjata kami tetap tidak bisa melumpuhkannya. Sesekali kusuruh Rein Yang masih memegang M4A1 untuk menembak ke arah Thanatos, ia hanya menutup kepalanya dengan lengan berperisai, bagian lain ia biarkan tertembak dan sembuh sendiri.

“akhirnya sampai juga”

sebuah suara kecil bergema di kepalaku.

“Kau kira gampang memaksa parasitku ikut masuk aliran darahmu sampai kembali ke otak”

Sial, daging Thanatos tadi yang menggores leherku membawa parasitnya sampai ke otakku.

“Apa maumu?” aku berbisik sendiri sangat tipis untuk pastikan tidak ada yang mendengarku, hanya makhluk kecil dalam otakku.

“Komandan, lakukan segala sandiwaramu, dan bunuh aku secara layak, kita ini sedang ditonton!”

“Kau ingin mati?”

“Awalnya tidak, sampai aku melihat kalian dan meyadari… aku tidak layak di bumi ini kalau satu-satunya keluargaku yang tersisa ingin membunuhku!”

Aku terkesiap, di dalam hati Thanatos, dia masih menganggap kami saudara. Dia masih menganggap kami keluarga.

“Aku bukan lagi manusia, itu juga yang menjadi salah satu alasannya kan?”

“Baiklah, itu juga misiku… saudaraku!”

Aku berhenti mendesak sang beruang. Mengisi kembali pelor-pelor di SPAS-12 sampai penuh. Lalu menodongkannya ke dia.

Satu tembakan. Thanatos kembali melintangkan tanganya. Aku segera mengambil Pistol injektor yang ada di ikat peinggang milik Pelor, karena dia yang terdekat dan menembaknya ke arah perut sesaat setelah tembakan shotgun kedua kalinya.

“aku takkan menghindar!”

Injektor itu mendarat di pahanya. Seketika itu pula, dia berdarah. Darah dari lubang pelor shotgun yang belum tertutup. Kedua makhluk ‘pekerjanya’ jatuh. Daging ekstra mereka mencair.

Aku berlari ke arahnya, mengambil tabung suntik kosong di kotak amunisinya dan menancapkan tabung itu ke keningnya. Carian merah agak bening mengisi tabung.

“selamat tinggal, saudaraku!”

“sampai jumpa, komandan, pastikan tidak ada lagi aku yang berikutnya!”

Tabung sudah terisi penuh, kucabut barangnya. Thanatos terjatuh seluruh tubuhnya mengeriap seakan daging-daging ekstra tadi berusaha keluar. kuakhiri penderitaannya dengan satu tembakan shotgun dari jarak dekat.

“G, kabarkan Pak Deni dia sudah boleh menyuruh pembomnya berangkat, kita keluar sekarang!”

Aku melangkah menuju lift menahan rasa haru kematian kedua kalinya saudaraku.

2037 hours

“Pekerjaan yang luar biasa!” puji pak Menteri setelah membaca berkas laporanku, “dan tabung berisi sampel A.P?”

Aku menggelindingkan tabung suntik itu sampai berhenti di depan pak menteri, melewati barisan orang-orang besar yang duduk di kanan-kiri meja panjang pertemuan.

Pak menteri mengangkat tabung itu ke udara dan menunjukkan kepada semua orang. “inilah hasil duit kita selama ini bapak-bapak!”

Semuanya bertepuk tangan. Suasana meriah dan aku hanya terdiam. Usaha kami ternyata terekam dalam CCTV, dan selama ini menjadi tontonan mereka untuk melihat keberhasilan Project Abomination.

Aku berbatuk perlahan menenangkan kerumunan.

“Pak menteri, minta izin untuk bertanya?” aku langsung menatap pak mentreri dengan serius.

“Yah, silakan!” dia kembali duduk dengan wajah tersenyumnya yang mengesalkan, sembari masih mengangkat tabung suntik itu.

“Apakah misiku dari bapak sudah selesai?”

“Tentu saja!”

Aku tersenyum. Jawaban ini yang aku tunggu, “kalau begitu, pak…” aku mengambil pistolku dan menembak tabung suntik yang dipegang olehnya. Kurasa tembakanku juga membolongi telapak tangannya.

“Barusan adalah misi dari saudaraku dan aku tidak perlu bertanggung jawab terhadap bapak!”

dia berteriak beberapa detik setelah sadar apa yang terjadi dengan telapak tangannya. dengan berjalan cepat, aku segera pergi meninggalkan ruang rapat. Tidak peduli apakah di depan nanti para satpam akan menangkapku.

Setelah pintu ruang rapat di belakangku tertutup, suatu suara mengagetkanku.

“kerja bagus komandan, kau tidak berkata sesuatu tentang aku yang ada di dalam otakmu kan?”


Iklan