DECEPTIVE PROBLEMS FROM SCIENCE TOWN

LaniefayScienceLovers

“Bu, bukan yang ini bukunya! Yang penerbitnya Fientist,” tuturku pada ibu yang sedang memilih-milih buku IPA di “Scientist Book Store”.

Oh! Hai teman…, namaku Ghonira Weestrie Scienfy, aku biasa dipanggil Weestrie. Aku dan keluargaku tinggal di “Science Town”, sebuah kota di “Lesson Island”. Aku lahir pada tanggal 34th, Doorine (Doorine: September) 2000. Nah! Di Science Town, 1 Cience (Cience: bulan) ada sekitar 30 sampai 35 Opar (Opar: hari). Aku lahir dan tinggal di Science Town, begitu pula adiku dan kedua orang yang sangaaat aku sayangi. Aku sekarang baru saja duduk di Fivesciend_01 (Fivesciend_01: kelas 5-a) di SD Star Science I. Aku mempunyai seorang adik yang bernama Zevia Titiyou Scienre, dia biasa dipanggil Zevia. Ia baru saja duduk di Twosciend_03 (Twosciend_03: 2-c) di SD Star Science I, sama denganku. Oh ya! Kami Islam, jadi, jika sekolah, kami memakai Kruddmic (Kruddmic: kerudung). Jarak sekolah dengan rumah kami agak jauh, jadi kami berangkat lebih pagi.

Smartin Geveerin Daile dan Gracia Bunny Qenia, itulah namanya. Ibuku, Gracia Bunny Qenia, biasa dipanggil Miss (Miss: ibu) Gracia, tetapi, aku memanggilnya ibu. Ibuku bekerja sebagai Doctriss (Doctriss: dokter) di Healty Science Hospital. Sedangkan ayahku, Smartin Geveerin Daile, biasa disapa Mister (Mister: bapak) Daile, tetapi, sama dengan ibu, aku memanggilnya ayah. Ayahku bekerja sebagai Headvinschool (Headvinschool: kepala sekolah) di sekolahku, SD Star Science I. Oh ya! Ayah dan ibuku selalu sibuk setiap hari (berangkat jam 06.00, pulang jam 18.00). Tetapi, mereka tetap sayang kepadaku dan adikku. Maka dari itu, sebagai pengasuh selama sepulang sekolahku, ibu menyuruh Aunty (Aunty: bibi) Cifty untuk mengasuh Zevia dan aku setiap hari. Oh ya! Yang mengantar dan menjemput ku serta Zevia setiap hari di sekolah adalah Uncly (Uncly: paman) Hoggy. Aunty Cifty dan Uncly Hoggy biasa memanggilku Non Weest, sedangkan Zevia, dipanggil Non Zevi.

Aku mempunyai beberapa teman baik disekolah, tetapi belum menjadi bestFF (BestFF: Sahabat) ku. Dia adalah, Freezy, Denya, Hiroshi, dan Vrifia. Mereka sangat baik kepadaku, begitu pula sebaliknya

Sekarang, aku, Zevia, dan ibu berada di Scientist Book Store, tujuannya untuk membeli buku-buku sekolah yang akan dimulai 1 weekghy (Weekghy: minggu) lagi. Oh ya! sekarang adalah tahun ajaran baru, maka dari itu, kami akan membeli buku-buku baru yang akan digunakan untuk kelas selanjutnya. Sekarang, kembali  ke Scientist Book Store ya…

“Miss, bukan yang ini bukunya. Yang penerbitnya Fientist ada tidak?” tanya ibuku kepada… Miss Snopty! Begitulah yang tertulis di tanda pengenal yang dipakai olehnya.

“Untuk Fivesciend dan Twosciend?” tanya Miss Snopty lagi.

“Iya…,” jawab Ibuku keras, karena suasana disini sangat ramai!

“Tunggu sebentar ya Miss… Silahkan mencari buku yang lain dahulu…,” tawar Miss Snopty dengan senyum manisnya.

Ok, thanks,” jawab Ibuku. Sementara buku dicarikan oleh Miss Snopty, aku, Zevia, dan Ibu mencari buku Bahasa Indonesia dan buku IPS untuk Fivesciend dan Twosciend.

Setelah mencari sekaligus menunggu sekitar 15 menit, akhirnya buku yang kami cari terlihat! Dan, tidak hanya itu, Miss Snopty yang sedari tadi tidak muncul, sekarang giliran Miss Snopty muncul dengan membawa setumpuk buku.

“Ini Miss bukunya. Benar? Saya mohon maaf jika membuat anda terlalu lama menunggu…,” ujar Miss Snopty sambil mengulurkan bukunya kepada ibu.

“Oh! Iya, terima kasih Miss Snopty. No problem,” jawab Ibu sambil mengambil buku yang diberikan oleh Miss Snopty.

“Miss Snopty, terima kasih atas bantuannya… Mari,” sambung Ibu sambil berlalu.

“Iya…, sama-sama,” jawabnya.

Sekarang, aku dan Zevia membawa sebuah keranjang yang berisi setumpuk buku yang harus kami pelajari. Huft…, sangat melelahkan! Sekarang, waktunya kami membayar!

2 weekghy kemudian…

Hoooaaammm…

“Zev…, Zev…, ayo bangun! Sudah pagi!” perintahku kepada Zevia sambil mengguncangkan badannya.

“Aduuuhhh…, kak! Kok cepat sekali ya, pagi datang?” jawab Zevia sambil mengucek-ucek matanya.

“Kakak juga tak tahu Zev… Sudah ya, kakak keluar dulu. Sekalian mau mandi…,” jawabku dengan muka masam sambil berlalu.

Sesampainya diruang tengah, aku bertanya, “Ayah, Ibu, mau berangkat…?”

“Iya… Weestrie nggak mandi?” tanya Ibu lembut. “Zevia mana?” sambung Ibu lagi.

“Iya, habis ini. Zevia, masih dikamar tuh! Sedang mengucek matanya,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Hihihi… Ya sudah! Kamu segera mandi, sudah disiapkan air hangat oleh Aunty Cifty kok,” tutur Ibu sambil tertawa.

Jam 06.30, aku dan Zevia telah siap, Uncly Hoggy juga telah menunggu kami di dalam mobil. Sedangkan ayah dan ibu telah berangkat terlebih dahulu. Dan…, bruuummm…, mobil melesat kencang ke arah SD Star Science I.

Teng… Teng… Teng… Teng… Teng…

Jam 14.00, bel pulang sekolah untuk anak Fivesciend SD Star Science I  berbunyi, anak Fivesciend SD Star Science I pun berhamburan keluar kelas. Aku pun segera menuju mobil Jaguar Hitam yang didalamnya ada Uncly Hoggy. Oh ya! Zevia sudah pulang terlebih dahulu.

“Uncly, hari ini kayaknya ada yang syirik sama aku deh…,” ujarku kepada Uncly yang sedang menjalankan mobilnya.

“Maksud Non Weest, ada yang iri sama Non gitu?” jawab Uncly Hoggy sambil menyetir mobil.

“Iya…,” jawabku singkat sambil mengambil segelas soda jeruk yang berada di mini-refrigerator di mobilku.

“Um…, kalau menurut Uncly sih, santai saja. Nanti dia juga bosan kalau iri sama Non Weest melulu,” terang Uncly sambil terus berkonsentrasi kepada jalanan. Sedangkan, aku, hanya santai-santai, dengan sesekali meneguk soda jeruk yang ada di tanganku.

“Oh ya un, tadi sewaktu pelajaran IPA, aku dapet vipar (Vipar: nilai) 10 lho!” gumamku sambil meneguk soda jeruk.

“Wow! Hebat sekali Non Weestrie ini! Semoga Non jadi opsciend (Opsciend: ranking) satu lagi ya…,” jawab Uncly sambil mengacungkan jempolnya.

“Oke un…, Thanks,” jawabku.

Tiba-tiba, Tiiinnn… Tiiinnn… Josss…

Klakson mobilku berbunyi!! Keras sekali!!! Seketika, soda jerukku tumpah, hingga mengenai seragamku dan berbusa.

“Uncly! Ada apa!?” seruku setengah berteriak.

“Itu tuh! Tiba-tiba, mobil itu tiba-tiba berhenti mendadak!” Uncly Hoggy mulai marah.

“Aduh…! Gimana sih mobil itu!? Sampai-sampai soda jerukku tumpah ke baju! Tapi…, kayaknya aku sering melihat mobil itu parkir disekolah. Siapa ya…?” aku bertanya-tanya.

“Oh! Tumpah ya Non, maaf ya… Uncly Hoggy tidak sengaja,” ujar Uncly Hoggy. “Oh ya! Non Weest, masa sih, mobil itu biasa parkir di sekolah Non? Siapa?” sambung Uncly Hoggy.

No problem! Uncly! Sudah pergi tuh, mobilnya!” seruku.

“Oke…,” jawab Uncly, Uncly pun menginjak gas, dan! Bruuummm! Mobil melesat kencang. “Nah Non, tadi pertanyaan Uncly belum dijawab,” ujar Uncly Hoggy.

“Oh iya! Um…, kayaknya…, iya…! Itu mobil si Twin. Xoria dan Xorine,” jawabku.

“Oh! Yang kata non paling jahat di Fivesciend_01 itu?” Uncly Hoggy mencoba menebak.

Yup! That’s right!” jawabku sambil mengacungkan jempol.

“Non, sudah sampai nih!” tutur Uncly Hoggy tiba-tiba.

“Oke, makasih ya Uncly. Aku turun dulu,” pamitku sambil membuka pintu mobil.

Sebaiknya aku bilang tidak ya, kepada Xoria dan Xorine tentang masalah tadi!? Tidak usah lah! Nanti malah menimbulkan masalah! batinku dalam hati.

Weekghy by weekghy berlalu… Hingga sekarang, tiba saatnya ulang tahunku! Oh ya! aku sempat sakit lho, pada saat Jum’at opar, jadi aku tidak masuk deh!

“Weestrie! Selamat ulang tahun!”

“Weest, met ultah!”

“Weest, happy bhirtday!”

Happy bhirtday to you…!

Itulah kata yang selalu diucapkan oleh teman-teman di Fivesciend, maupun Fivesciend_01, Fivesciend_02, Fivesciend_03, sampai Fivesciend_06. Tapi, sepertinya si Twin belum mengucapkan itu kepadaku. Biarlah! Mungkin nanti dia mau memberiku kejutan (Ih…! KeGeeRan!) 😀 Tapi, jika memang dia tidak member ucapan. Tak apa! Aku tetap senang!

Sampai dirumah, sudah banyak Miss-Miss dan Mister-Mister yang mengucapkan happy bhirtday to me. Termasuk ibuku, ayahku, Zevia, Aunty Clifty, dan Uncly Hoggy. Dan, kinilah puncaknya! Ulang tahunku dirayakan di rumah. Meskipun hanya dihadiri oleh seisi rumah, tetap terasa sangaaat mengasyikkan!

“Terima kasih ya bu…!” ujarku kepada ibu sambil mengecup pipi ibu. “Thanks ya yah…!” tuturku pada ayah, tak lupa aku mengecup pipi ayah. “Makasih banyak ya…, adikku yang baik!” aku mengecup dahi Zevia. “Aunty Clifty, makasih ya… Sudah mengasuhku sepenuh hati!” ujarku kepada Aunty Clifty sambil memeluknya. “Untuk Uncly Hoggy, terima kasih sudah mau mengantarkanku pulang-pergi dan sudah mau mendengar ceritaku!” ujarku pada Uncly Hoggy, aku memeluknya juga.

Huft…, hari yang begitu melelahkan sekaligus mengasyikkan! Sangat asyik! Semoga, aku bertambah berbakti pada ayah dan ibu, tambah patuh dengan Aunty Clifty dan Uncly Hoggy, lebih sayang pada si cilik Zevia, lebih sabar dengan cobaan yang Engkau berikan, lebih sayang dengan teman-temanku, pokoknya semuanya deh!” gumamku dalam kamar sambil menengadahkan tanganku. “Amiiinn…,” gumamku lagi.

“Masih jam 8 malam. Belajar dan menyiapkan pelajaran untuk besok dulu ah!” ujarku sambil menuju meja belajar yang berada di dalam kamarku.

Menit demi menit berlalu! “Sekarang telah jam 9 malam. Waktunya aku tidur, tapi, pelajaran belum disiapkan. Siapkan dulu saja!” tuturku.

“Lho!? Kok buku IPAku tidak ada!?” aku terbelalak. “Apa…? Mungkin tertinggal dikelas? Um…, iya deh kayaknya! Ya sudahlah! Dicari saja besok,” sambungku. Aku pun merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, dan…, aku pun masuk ke dream world.

Keesokan harinya, sesampainya aku di Fivesciend_01, belum ada seorang pun. Jadi, aku menghabiskan waktu untuk mencari buku IPAku yang hilang.

15 menit aku mencari, tetapi buku IPAku sama sekali tak terlihat! Kutengok jam tanganku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 06.40

“Aduh! Setelah ini bel masuk berbunyi. Lalu, pelajaran IPA! Tetapi, buku IPAku belum ketemu juga! Bagaimana ini!?” gumamku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Tiba-tiba, bel masuk berbunyi! Teman-temanku pun berbaris rapi didepan kelas. Setelah itu, Miss Groony (Guru IPA Fivesciend_01) datang. Alhasil, aku tidak menggunakan buku IPA saat pelajaran IPA. Dan, weekghy demi weekghy aku mencari, tetapi tak terlihat juga! Yang paling parah, IPA adalah pelajaran pokok. Selain itu, semenjak buku IPAku hilang, si Twin sering mengerjaiku! Huh! Sangat tidak mengenakkan!

Keesokan harinya…

“Weest, sini deh!” panggil Xoria.

“Ada apa?” jawabku sambil menghampirinya.

“Sini deh! Agak dekat!” perintah Xoria. Aku pun mendekatinya. Dan…, brukkk! Aku terjatuh! Aku pun mengeluh kesakitan.

“Aduhh…,” keluhku sambil memegangi lututku.

“Oh…! Weestrie! Maaf ya!” ucap Xoria sambil menapuk keras pundakku.

“Tapi, maaf. Aku memang sengaja! Rasain!” bisik Xoria ketus.

“Xoria! Kamu jangan begitu dong! Dari kemarin! Dan kemarin! Aku selalu kamu tertawakan dan selalu kamu permalukan! Kenapa!? Kenapa!?” bentakku keras kepada Xoria. Seketika, air mataku menetes.

“Weestrie! Ada apa ini!?” Xorine datang menghampiriku. Persaingan semakin ketat! Apalagi, kami dilihat oleh teman-teman sekelas!

“Kamu juga! Sifatmu itu sama persis seperti sifat kembaranmu! Sama-sama jahat dan kejam!” bentakku kepada Xorine.

“Hah!? Apa katamu!?” jawab Xorine keras.

I hate you!!!” bentak Xorine dan Xoria bersamaan.

I hate you too!!!” jawabku sambil keluar kelas dengan air mata bercucuran di pipiku.

Keesokan harinya…

“Weest…, aku mau bicara private denganmu. Ayo ikut aku!” ajak Freezy, teman baikku. Dia pun menyeretku keluar kelas. Lagipula, itu sewaktu istirahat.

“Ada apa sih!?” tanyaku kepadanya saat tiba di aula.

“Gini…, buku IPA kamu hilang kan? Aku tahu siapa yang mengambilnya,” jawab Freezy setengah berbisik.

“Hah!? Siapa!?” jawabku sambil berteriak. Seketika, orang-orang yang ada disekelilingku tersenyum kecut kepadaku.

“Heh! Jangan keras-keras dong!” tegur Freezy. “Yang nyuri tuh…,” sambung Freezy sambil melihat keadaan sekitar, suaranya pun tambah pelan, “Xoria dan Xorine,” gumam Freezy!

“Hah!? Xoria dan Xorine!? Astaghfirullahhaladzim…! Masa sih!? Aku nggak percaya!” jawabku terbelalak.

“Masih nggak percaya! Aku punya kok saksinya!” jawab Freezy.

“Siapa!? Kamu tahu informasi ini darimana!?” tanyaku tegas.

“Denya! Tanya saja ke dia! Aku mengintipnya saat dia melakukan ‘penyiksaan’ terhadap bukumu!” jawab Freezy. Oh ya! Denya itu headvinclass (Headclassvin: ketua kelas) di Fivesciend_01 lho!

“Ok, aku percaya…! Memang bagaimana ceritanya!?” tanyaku.

“Begini…, sewaktu pelajaran IPA pertama, mereka itu iri denganmu, karena kamu mendapat vipar 10. Lalu, satu minggu mereka merencanakan ini, sampai-sampai, mereka juga sering mengerjaimu untuk mencari kelemahanmu! Lalu, sewaktu Kamis opar, mereka menyembunyikan buku IPAmu. Dan, sewaktu kamu tak masuk, tepatnya Sabtu opar, dia merusak, menyobek, menyelupkan dalam air, dan mencoret-coret bukumu! Begitu… Butuh bukti?” terang Freezy panjang lebar.

“Hah!!?? Benar!? Iya! Aku butuh bukti!!” jawabku. Air mata di pelupuk mataku sudah tak kuat untuk dibendung. Aku pun menangis.

“Tapi…, Weest! Jangan nangis dong! Please… Jangan nangis! Nanti dilihat sama anak-anak!” cegah Freezy. Aku pun berhenti menangis, dan Freezy menarik tanganku menuju loteng sekolah kami.

Disana, ada sebuah ember kecil yang berisi air bekas pel, sobekan-sobekan kertas, spidol warna-warni, dan… buku IPAku!! Telah kaku, lecet, dan sobek. Huaaa!

Ya Allah… Astaghfirullahhaladzim…! Xoria, Xorine! Kenapa kamu tega melakukan ini!?” aku menangis sejadi-jadinya. Freezy yang menghiburku ikut terharu. Aku pun mengambil sobekan buku yang telah terbagi menjadi dua bagian.

“Freezy…, makasih ya atas informasimu… Hiks… Aku nggak bisa balas apa-apa. Makasih banyak ya…,” ucapku pada Freezy sambil memeluknya.

“Iya, iya. Nggak usah dibalas kok… Mau aku bantu melabrak Xoria dan Xorine?” tawar Freezy sambil terus memelukku.

“Freezy… Kamu baik banget sih! Boleh… Aku mau dong, jadi bestFFmu, boleh? Hiks,” aku melepaskan pelukanku sambil menangis.

What!? Boleh banget! Dari dulu, aku pingin jadi bestFFmu. Tapi, nggak keturutan… Jadi, mulai sekarang kita berbestFF ya…?” jawab Freezy senang.

“Iya…,” jawabku. Aku menghapus air mataku yang sudah bercucuran kesana kemari. Dan, aku pun merangkul pundak Freezy sambil tersenyum.

“Sekarang, kamu jangan nangis lagi ya… Kita sama-sama melabrak si Twin. Nanti keburu masuk,” gumam Freezy sambil tersenyum. Dia pun kembali menarik tanganku menuju kelas.

Sesampainya dikelas, kebetulan hanya ada Xoria dan Xorine. Dan…, inilah waktunya!

“Xoria! Xorine! Kamu tahu buku ini nggak!?” tanyaku kasar kepada si Twin yang sedang nyemil.

“Hah!? Buku siapa ini!? Kok bisa sobek!? Siapa yang menyobek!?” Xoria mulai ber-acting.

What!? Ya ampun…, ini buku siapa!? Kasihan sekali, bukunya tersobek!” Xorine pun ikut ber-acting.

“Hei…! Jangan pura-pura nggak tahu kalian!!! Semua rahasia kalian sudah terbongkar!! Aku sudah mengetahuinya…, kalau kalian pelakunya!!” bentakku kepada Xoria dan Xorine.

“Apa katamu!? Jangan asal menuduh kamu!?” balas Xorine ketus.

“Siapa yang menuduh!!?? Ini kenyataan!! Bukan khayalan!! Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga!! Pasti!!” jawabku sambil melemparkan sobekan buku IPAku ke muka mereka.

“Weestrie! Jangan kurang ajar kau! Berani-beraninya kamu menamparku dengan bukumu yang telah kaku, lecet, sobek pula! Dasar! Penuduh! Munafik!” caci-maki dilempar kedalam diriku. Begitu tersayatnya hatiku mendengar caci-maki dari mulut Xoria. Aku kecewa padanya!

“Hei! Ngaca dong! Kamu itu yang penuduh! Munafik! Kalau kamu nggak mau dituduh! Mending mengaku saja deh! Agar nanti di akhirat nggak disiksa terlalu berat! Mengaku saja deh!” Freezy mulai angkat bicara. “Kamu tahu nggak! Perasaan kalau di caci-maki oleh seseorang yang tidak mau mengakui kesalahannya!? Yang tidak mau jujur dengan perlakuannya sendiri!? Sangat sakit! Hati itu sangat sakit dan sakit sekali!” sambung Freezy keras. Aku pun tak kuat menahan tangisanku.

“Hei! Freezy! Kamu nggak usah ikut campur deh!” Xorine angkat bicara.

Why!? Terserah aku dong! Aku BestFFnya! Perlu dong! Tahu masalah BestFFnya!” kelihatannya, Freezy mulai marah.

Sementara aku menangis, tiba-tiba, “Xoria! Xorine! Sudah deh! Kamu jangan berpura-pura deh! Aku dan Freezy menjadi saksinya! Aku punya buktinya! Mau lihat!?” Wow! Denya datang dengan wajah tegasnya.

Denya pun menunjukkan pelewphone (Pelewphone: handphone) miliknya dan…, muncul video Xoria dan Xorine sedang menyobek bukuku, menyelupkan bukuku, mencoret-coret bukuku, dan menginjak-injak bukuku.

Begitu sangat sakit hatiku. Terlebih, aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

“Xoria, Xorine! Kamu sudah lihat kan buktinya! Itu ditunjukkan oleh ketua kelas kita sendiri! Lihat kan! Lihat! Jadi, sudah terbukti! Kamu pelakunya! Dasar! Munafik! Jika kalian ketahuan melakukan hal itu ke bukuku, kalian pasti akan di skors atau mungkin kalian bisa di-DO oleh ayahku!” caci-maki seketika  keluar dari mulutku yang sudah tak sabar untuk mengejeknya. Cukup untuk  membuatku menganga. Sedangkan Xoria dan Xorine memilih untuk membungkam mulutnya sendiri. Freezy dan Denya pun memilih diam.

Teng… teng… teng…

Bel masuk berbunyi, pada waktu ini, jam pelajaran hanya sebentar. Aku segera kembali ke tempat duduk, begitu pula teman-temanku. Anak-anak masuk ke dalam ruang yang baru saja digunakan untuk perang mulut. Anak-anak yang masuk pun menganga, karena di Fivesciend_01 ada dua sobekan kertas tebal yang biasa mereka gunakan untuk belajar. Ya! itu sobekan buku IPAku!

“Weest, awas kamu!” bisik Xoria dan Xorine kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman sinis.

Miss Tynaw, teachmissclass (Teachmisclass: ibu guru) kami masuk kelas. Dan…, beliau berkata, “Xoria! Xorine! Ke headvinroom (Headvinroom: ruang kepala sekolah)!!” Xoria dan Xorine pun berjalan keluar dari Fivesciend_01 sambil menundukkan kepalanya

Terima kasih Ya Allah… Terima kasih… Engkau telah mengabulkan permintaanku…, batinku dalam hati sambil tersenyum. Denya dan Freezy pun ikut tersenyum.

“Den, Frez, bagaimana Miss Tynaw bisa tahu permasalahan ini?” tanyaku senang kepada Freezy dan Denya.

“Sudahlah!” jawab Denya. Freezy menjawabnya dengan anggukan.

“Anak-anak! Sekarang, di Fivesciend_01, sedang ada permasalahan serius, yang hanya didasarkan oleh hal-hal SEPELE! Apakah kalian sudah mengetahuinya!?” tanya Miss Tynaw galak

Sayup-sayup, terdengar suara, “belum, Miss.”

“Siapa yang melakukannya!?” tanya Zendun, teman perempuanku.

“Yang melakukan adalah anak dari pejabat tinggi Science Town! Dan, pelakunya adalah anak dari headvinschool kita sendiri! Begitu…,” Miss Tynaw belum melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba, Teng… Teng… Teng… Teng… Teng…

Bel pulang telah berbunyi. “Pulaaang!” teman-temanku berteriak kegirangan, tapi aku, Freezy, dan Denya tidak.

“Baiklah. Ceritanya Miss teruskan besok. Sekarang, silahkan pulang. Bagi Denya, Freezy, dan Weestrie tetap dikelas!” perintah Miss Tynaw.

Setelah semua anak pulang, Miss Tynaw berseru, “anak-anakku, silahkan ke headvinroom!”

“Baik Miss…,” jawab kami serempak. Kami berjalan ketakutan kearah headvinroom. Miss Tynaw membuntuti kami.

Sesampainya disana, kami dipersilahkan duduk. Disana, telah ada si Twin dengan cucuran air mata di pipinya. Di pelupuk matanya pun sudah terbendung air mata.

“Denya, Freezy, apakah video pembuktian itu asli!?” tanya ayah.

“Iya! Itu asli! Aku dan Denya yang menyutingnya,” jawab Freezy.

Alright, sekarang, boleh kalian tunjukkan videonya?” tanya ayah.

“Silahkan…,” jawab Denya, video pun telah diputar. Ayah pun tercengang. Lalu bertanya pada Xoria dan Xorine, “jawab dengan sejujur-jujurnya. Apa itu benar Xoria, Xorine!?”

“Um…, benar Mister,” jawab mereka.

“Terima kasih Xorine, Xoria, telah berbicara jujur. Sekarang, kalian berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang sama lagi, dan berjanji untuk tidak mempermalukan nama SD Star Science I di Science Town!” ujar ayah tegas.

“Kami berjanji! Agar tidak melakukan hal yang sama lagi! Dan! Tidak akan mempermalukan nama SD Star Science I lagi!” seru Xoria dan Xorine dengan diikuti senggukan tangis.

“Tak usah menangis! Tak ada gunanya!” singgung Miss Tynaw yang ada dibelakang kami.

“Sudahlah! Jangan bertengkar!! Weestrie, kamu ingin Xoria dan Xorine dihukum apa!?” ayah menawarkan kepadaku.

“Aku ingin mereka diskors selama 2 bulan!!” jawabku ketus.

“Keputusanmu akan dipikirkan dahulu oleh pihak sekolah,” jawab ayah.

“Baiklaaahhh…,” jawabku lesu.

“Semuanya silahkan pulang! Terima kasih telah hadir,” ujar ayah.

Aku keluar dari headvinroom, dan segera berlari menuju Uncly Hoggy.

Keesokan harinya saat aku sampai dikelas…

“Weestrie!!! Deceptive problems!!!” Xoria, Xorine, Freezy, dan Denya tiba-tiba tertawa kepadaku.

“Hei! Ada apa sih!?” tanyaku.

“Deceptive Problems!!!” tiba-tiba, semua anggota sekolah datang ke Fivesciend_01.

“Ada apa sih semuanya ini!?” tanyaku heran.

“Kamu baru saja kami tipu! Sebenarnya, masalah itu kami ‘rekayasa’! Untuk kejutan ulang tahun kamu!” terang Miss Tynaw.

Wuuuaaa!!! Aku ditipu! Hahaha…,” aku terbelalak sekaligus tertawa.

“Maaf ya Weestrie!” mereka mengucapkannya serempak.

LOVE YOU ALL!!!”


Iklan