DI DEPAN GERBANG CARUBAN

Barlianto A.W.

Sungguh tak banyak manusia yang berani menghadang pasukan musuh seorang diri, seperti orang yang berdiri gagah di tengah ruas jalan itu. Ketika jarak kami hanya tinggal berapa puluh langkah dari gerbang Caruban, sebuah kota di lintas dagang yang dipagari balok-balok kayu setinggi 3 depa*.

“Berhenti!”

Aba-aba dari prajurit terdepan membahana di bawah sinar matahari yang terik.

“Apa maunya orang itu? Guti, kirim orangmu untuk cari tahu!”

Aku tak menanggapinya. Karena pikiranku terus berputar, sejak pertama aku melihat orang itu dari kejauhan.

Berdiri di hadapan 700 prajurit yang siap menyerang sewaktu-waktu, orang itu terlihat begitu tenang. Hanya berbekal sebilah pedang di pinggang, apa ia benar-benar sedang menghadang kami? Atau ada maksud lain? Entahlah, hanya aku merasa orang ini bukan orang sembarangan.

“Hei, kau tuli?” Suara serak itu terdengar lagi, kali ini dengan nada membentak.

“Aku sendiri yang akan sana.” Sahutku kemudian.

“Apa? Kau sendiri? Bodoh! Untuk apa kau bawa 100 prajurit berkudamu, kalau harus melakukan semuanya?”

Entah setan mana yang telah merasukiku, tanpa menghiraukan kata-katanya, tanganku menghela tali kekang kuda untuk maju.

“Dasar ingusan! Kau bisa mati karena ulahmu itu, kau tahu itu!”

Mati? Aku? Ah, peduli setan. Lagipula sudah terlambat..

“Kau memang tak pantas menjadi raja besar sepertiku, Rang* Guti. Karena kau bodoh.”

Sayup-sayup aku sempat mendengar cemoohnya. Ada sedikit keraguan menelikung hati, tapi toh tetap kubiarkan kudaku berlari.

Aku melompat dari atas sadel. Saat kakiku menjejak bumi, keraguan itu muncul lagi tapi kali ini aku dapat menepisnya jauh-jauh.

Lelaki di hadapanku berbadan tegap dan tinggi. Lebih tinggi dariku, walau aku termasuk yang paling tinggi di antara prajuritku. Wajah yang dipenuhi guratan-guratan usia, namun terlihat segar berselimut kulit yang keling. Rambutnya tertutup topi hitam yang, menurutku, lebih mirip kain biasa yang dibelitkan di kepalanya. Sebuah pedang tergantung di pinggangnya, dan tanpa sarung! Memperlihatkan bilah pedang yang tampak tak pernah diasah karena kedua sisi tajamnya, tumpul. Sebuah pedang yang rasanya tak akan mampu menyakiti siapa pun.

Orang dan pedang yang sungguh unik..

Orang itu terus menatap tajam ke depan. Keberadaanku sama sekali bukan ancaman, bahkan seperti tak berarti apa-apa baginya. Membuatnya terlihat sungguh berkharisma.

“Wahai, Bapak. Hajat apa yang membuat engkau berdiri di sini, sedangkan engkau tahu pasukan di belakangku akan segera menyerang kota?” Aku memutuskan menyapanya lebih dulu.

“Siapa yang memimpin pasukan di hadapanku itu?” Dengan suara yang tenang lelaki itu malah balik bertanya.

“Rang Ugal, Raja dari Lanteras”

“Aku berdiri di sini karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada pemimpin pasukan itu.” Katanya kemudian tanpa basa-basi.

“Kalau begitu, katakan saja padaku, Bapak. Aku akan menyampaikan padanya.”

Pandangannya beralih ke arahku. Matanya hitam dan tajam. Aku seperti melihat sebuah semangat hidup yang tak pernah padam di balik mata itu.

“Kau siapa?”

“Aku.. eh, aku Rang Guti, Raja Lantaram.”

Mendengar jawabanku, keningnya sedikit berkerut. Matanya menyipit. Aku sudah hapal dengan pandangan mata seperti itu, dan aku terbiasa membalasnya dengan tersenyum saja.

Ia membalas senyumku dengan senyum tipis, lalu kembali menatap ke depan.

“Katakan padanya untuk membawa pergi pasukannya dari sini atau mereka akan berhadapan dengan Pedang Tiga Belas Depa!”

Pedang Tiga Belas Depa?Apa itu? Pedang tumpul itu? Jangan-jangan itu pedang yang hebat? Kalau memang benar, pantas dia berani berdiri di sini..

“Kau dengar ucapanku dengan jelas?”

“Oh.. ya.” Aku mengangguk.

“Sampaikan segera.”

“Eh.., baik. Aku akan menyampaikannya.”

Sosoknya yang berkharisma dan kata-kata yang begitu tegas, membuatku merasa seperti anak kecil yang harus mematuhinya. Aku segera naik ke atas sadel dan berbalik arah meninggalkan lelaki itu. Hingga di tengah jalan aku teringat sesuatu. Aku lupa menanyakan namanya.

“Lelaki itu hanya ingin agar kita segera pergi dari sini atau..”

Dahi Rang Ugal sontak berkerut, seiring keterkejutannya. Namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia terbahak hingga tampak gerahamnya yang kehitaman. Begitu pula semua prajurit Lanteras, yang mendengar ucapanku, ikut tertawa.

“Kau jauh-jauh berlagak jagoan hanya untuk sebuah pesan bodoh itu, Guti?” sembur Rang Ugal meledekku. Suara tawa itu semakin riuh.

“.. atau kita akan berhadapan dengan Pedang Tiga Belas Depa.” lanjutku lirih tertelan derai tawa mereka.

Aku mendengus kesal dan menghela tungganganku menghampiri pasukan. Ada sesuatu yang lebih penting dari mendengar tawa sarat cemooh itu.

“Wahai prajuritku! Jika ada seorang di antara kalian yang tahu tentang Pedang Tiga Belas Depa, majulah!” seruku ke seluruh pasukan.

Hening. Semua prajurit saling berpandangan. Namun kemudian dari sebelah kiri, seseorang membawa kudanya memburu ke arahku.

“Ringgar..?” sapaku setelah mengenali wajah yang ditumbuhi bulu tak beraturan itu.

“Benar, tuan. Ini aku, Ringgar” jawab salah seorang kepala prajurit terbaikku itu, pendek.

“Apa yang hendak kau sampaikan padaku?” tanyaku kemudian.

“Apa benar tuan tadi menyinggung Pedang Tiga Belas Depa? Aku pernah berhadapan langsung dengan pedang itu, Tuan..” kata lelaki yang kutahu telah kenyang asam garamnya pertempuran.

“Begitukah? Bagus, ceritakan..”

“20 tahun yang lalu, tuan, aku adalah orang bayaran dan bekerja untuk seorang raja di barat daya. Kami mengepung sebuah benteng dengan kekuatan lebih dari 3000 orang. Memasuki hari ketiga pengepungan, kami bersiap dan memutuskan untuk menyerang. Menjelang tengah hari, muncul di hadapan kami seorang pria bersuara lantang, mengusir kami. Semua orang menertawainya. Namun begitu pedangnya terhunus, semua bungkam. Orang itu tidak gila, tapi pedangnya gila. Tebasan pedangnya yang pertama membelah pasukan seperti membelah roti menjadi dua. Tebasan-tebasan berikutnya, memporak-porandakan barisan kami seperti mencacah kentang. Semua berlangsung sekejap saja, tuan. Aku dan beberapa orang selamat karena sembunyi di bawah mayat-mayat sambil pura-pura mati..”

Mendengar cerita Ringgar, aku tercenung. Pikiranku kosong, hanya ada kematian yang membayang.

“Namun, tuan. Satu hal paling tak bisa kulupa adalah ucapan seorang kawan yang juga selamat. Saat itu ia bergumam, ‘bagaimana mungkin seorang diri menghabisi 3000 orang hanya dengan 25 kali sabetan pedang?’”

25 sabetan pedang..?

Sekali lagi aku menatap orang itu dari kejauhan.

“Lalu, apa saranmu untukku, Ringgar?”

“Sekali-kali jangan pernah berhadapan dengan pedang itu, tuan. Sungguh bijak jika pasukan kita menghindar.”

“Tapi aku punya kesepakatan dengan Rang Ugal, Ringgar.”

“Ya, kesepakatan yang mewajibkan tuan membantunya menumpas pemberontakan. Tapi apakah satu orang melawan 700 orang itu dapat disebut sebagai pemberontakan, tuan?” tukas Ringgar mendebat.

“Saranmu akan menyulitkanku. Kau tahu itu.”

“Benar, tuan. Tapi, itu jauh lebih baik dari kematian.”

Akalku yang buntu membuatku kembali terdiam.

“Rasanya aku memang harus membicarakan hal ini dengan Rang Ugal.”

“Apakah aku perlu menyertai tuan?”

“Tidak. Kau di sini saja. Bila aku kembali tanpa memberi isyarat apa-apa, segera perintahkan pasukan kita bergerak ke bukit sebelah timur itu. Selanjutnya tunggu perintahku.”

“Baik, tuan.”

“Ingat Guti, antara aku dan kau, ada kesepakatan. Kau tak hendak ingkar janji, kan?

“Sekali-kali tidak, Rang Ugal. Hanya, apa yang kita dapati kini tidak sesuai dengan kesepakatan itu.”

“Jangan membuatku pusing. Katakan apa maksudmu dengan ‘tidak sesuai’ itu?” tanyanya tak sabar.

“Sesuai kesepakatan aku bersedia membantumu, hanya jika seluruh penduduk Caruban angkat senjata melawanmu. Tapi, seperti kau lihat. Ternyata hanya satu orang saja yang berani melawanmu. Itu jelas bukan pemberontakan.”

“Sudah tiga bulan Caruban tidak membayar upeti padaku. Itu sama saja menantangku! Dan aku datang untuk menghukum mereka dengan keras.” sahutnya dengan nada meninggi.

“Aku tahu itu.”  Jawabku pendek.  “Tapi kau juga tahu, musim kemarau kali ini sangat panjang dan belum juga ada tanda-tanda akan berakhir. Sebulan lagi masa panen tiba. Mungkin saat itu mereka bisa membayar upeti padamu.”

“Kau benar-benar harus belajar banyak, Guti. Kau lihat pasukanku?” nada suara Rang Ugal berubah merendah. “Mereka sudah dua bulan tak mendapat upah. Padahal dengan tenaga merekalah aku dapat menguasai banyak kota dan negeri, serta memastikan apa yang kudapat tetap dalam genggamanku. Aku tak bisa membiarkan mereka melemah hanya karena masalah ini. Selama ini mereka telah menunjukan kesetiaan mereka padaku, dan Caruban adalah ganjaran mereka untuk itu. Seperti biasa, aku akan membiarkan mereka berbuat apa saja di sana. Dan ini juga akan menjadi pelajaran untuk kota-kota lain di bawah kekuasaanku.”

Aku menelan ludah mendengarnya.

“Sepertinya kita memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah ini, Rang Ugal.”

Rang Ugal menatap tajam padaku.

“Jangan katakan kau hendak menarik dukunganmu padaku, Guti!”

“Untuk menghadapi orang itu, kau tak memerlukan pasukanku, Rang Ugal. Kau tahu itu.”

“Terserah kau. Tapi ingat, kau tak akan mendapat pampasan* sedikit pun dariku.” Gertaknya dengan telunjuk teracung menantang wajahku.

“Aku pikir itu cukup adil.” Aku putar kudaku menuju pasukanku. “Kami akan menunggumu di bukit sebelah timur. Berjaga-jaga, jika situasi.. berubah.”

Rang Ugal terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya mendelik.

“Camkan kata-kataku, Rang Guti. Jika masalahku di sini selesai, sasaran berikut dari pasukanku adalah istanamu. Akan aku pendam kotamu ke dalam bumi!”

Sumpah serapah itu menggelegak penuh amarah, terdengar bagai desing sebilah tombak yang dilempar ke arah punggungku.

Oh Tuhan, apakah aku membuat keputusan yang salah ?

Tiba-tiba kegelisahan berkecamuk dalam hati, terlebih melihat pasukan berkudaku telah memisahkan diri dan bergerak ke arah bukit. Dan kegelisahan itu hampir saja berubah menjadi kepanikan andai saja Ringgar tak menghampiri dan menenangkanku.

“Tuan sudah bertindak benar. Tuan juga tidak menyalahi kesepakatan. Tak perlu khawatir.” Katanya seolah membaca kegelisahanku.

“Tapi dia mengancamku, Ringgar. Dia mengancam kita.” Kataku seraya memacu kuda.

“Aku juga mendengarnya, tuan. Tapi jangan takut. Pasukan Lanteras tak akan sampai ke istana tuan. Kali ini pasukan begundal itu tak akan selamat.”

“Mudah bagimu berkata seperti itu, Ringgar. Kau hanya orang biasa, sedang aku seorang raja. Aku harus memikirkan rakyatku. Aku tidak boleh membuat keputusan yang salah.”

“Keputusan tuan sudah benar.” Ringgar menjajariku mendaki kaki bukit.

“Tapi..” Sahutku, masih ingin membantah tapi tak tahu lagi harus berkata apa. Karena kesal, kupacu tungganganku lebih cepat. Kuda Ringgar terdengar mengejar di belakang.

“Baiklah, tuan. Sekarang lihat kembali orang itu!” Suara Ringgar kembali terdengar, begitu aku sampai di atas bukit. Dan terdengar lebih tegas kali ini.

Akuberbalik dan memandang ke depan gerbang kota Caruban. Dari atas bukit orang itu terlihat kecil, sekecil ibu jariku. Dan ia masih berdiri dengan gagah di tempat semula.

“Apakah ia terlihat seperti orang yang menggertak, tuan? Apakah ia tampak seperti pembohong yang hendak mengelabui kita dengan pedang ‘sakti’nya? Apakah ia seperti orang yang nekad atau gila?” tanya Ringgar yang beringsut ke sampingku.

Aku membisu.

“Aku tidak melihatnya seperti itu, tuan.” Kata Ringgar seperti menjawab pertanyaannya sendiri. “Bahkan bila aku memegang pedang ‘sakti’ yang sama dengan orang itu, belum tentu aku berani menghadang pasukan Lanteras seorang diri. Jelas dia tidak menggertak, tuan. Dia berani melakukannya dengan begitu yakin, karena dia berbeda. Dia berbeda dari kita semua.”

Aku mengangguk.

Aku setuju denganmu, Ringgar. Aku juga merasa dia bukanlah orang sembarangan.

Di bawah sana, pasukan Lanteras mulai bergerak. Sekitar 30 prajurit maju membentuk garis lengkung dengan senjata terhunus. Mereka mengurung lawan dengan rapat.

“Mengapa pedang itu dinamai Tiga Belas Depa, Ringgar, jelas ia tak sepanjang itu?” tanyaku seraya terus mengamati pertarungan tanpa berkedip.

“Tak tahu pasti, tuan. Tapi dulu aku mendapat kabar, bahwa saat pedang itu mulai terdengar adalah sejak memenggal seorang raja lalim di utara dari jarak tiga belas depa. Konon sejak peristiwa itu orang-orang menamainya seperti itu.”

Keajaiban terjadi. Ketiga puluh prajurit yang mengepungnya roboh seketika, saat orang itu mencabut pedang dan mengayunkannya dengan kuat ke sekeliling. Membuat kami yang menyaksikannya ternganga tak percaya.

“Mengapa bisa begitu, Ringgar. Sihirkah itu?” tanyaku di sela keterkejutan.

“Aku rasa bukan, tuan. Konon pedang itu terbuat dari bahan yang istimewa, yang diambil dari dua dunia. Yaitu dunia kita tinggali ini, dan dunia yang tak dapat kita lihat..”

“Dunia ghaib, maksudmu?”

“Tuan bisa menyebutnya begitu.” Kata Ringgar sambil mengangguk. “Pedang yang kasat mata itu memang pendek seperti layaknya pedang biasa, tapi sisi pedang yang tak tampak oleh mata, sangat panjang dan sangat tajam. Jika ia mengenai makhluk hidup, nyawa akan terbelah dan langsung terpisah dengan jasadnya. Pendek kata, makhluk hidup itu mati seketika dan karena itulah orang yang terbunuh oleh pedang itu akan mati tanpa tumpahan darah.”

Usai membantai 30 puluh lawan yang mengepungnya. Orang itu mulai melangkah maju dengan pedang terhunus. Pekik lantang Rang Ugal terdengar sesaat kemudian. Serentak seluruh pasukan Lanteras berhamburan menyerang musuh.

Namun tebasan Pedang Tiga Belas Depa yang kedua kali, segera menyambut mereka. Seratusan prajurit Lanteras di baris paling depan segera tersungkur mencium ajal tanpa sempat merintih kesakitan.

Orang itu terus maju tanpa peduli. Kakinya begitu mantap melangkah diantara mayat-mayat. Sebaliknya, pasukan Lanteras begitu terkejut. Sebagian dari mereka, terutama di barisan belakang, perlahan mulai surut. Melangkah mundur setapak demi setapak. Sementara yang di barisan depan diam terpaku karena ragu untuk maju. Sepertinya mereka mulai menyadari siapa lawan mereka.

Pedang itu kembali terayun dan membunuh lebih banyak dari sebelumnya. Hawa kematian bagaikan menyapu pasukan Lanteras dari ujung barisan yang satu ke ujung yang lain.

Tanpa perlu lagi di perintah, seluruh pasukan Lanteras yang ketakutan sontak berhamburan tunggang langgang. Namun hasrat membunuh pedang itu tampak belum hendak mereda. Sekali terhunus, pedang itu tak akan berhenti hingga lawan hancur dan binasa.

Ia terus mengejar. Satu tebasan terayun sekali lagi. Lalu sekali lagi. Seperti parang membabat ilalang, tebasannya membuat ratusan orang bertumbangan menutup rerumputan yang menyelimuti tanah lapang di depan gerbang kota Caruban.

Hingga saat ujung pedang itu tertunduk ke bumi. Menyisakan beberapa prajurit Lanteras yang selamat berhamburan, menyelamatkan diri ke segala arah.

Semua orang yang menyaksikannya dari atas bukit, hanya bisa ternganga.

Hanya lima kali tebas..

Apa yang baru saja kusaksikan sungguh luar biasa tapi juga bukan suatu baik untuk dikenang, tapi entah mengapa, ada perasaaan nyaman menelusup dalam hati. Mungkin karena aku telah membuat keputusan yang benar.

“Ringgar, mulai detik ini aku mengangkatmu menjadi penasihat pribadiku.” Kata-kataku memecah suasana.

Ringgar menatapku dengan kerut di dahi.

“Tuanku, anda tak perlu melakukan itu.” Sahutnya kemudian.

“Kau menolak permintaanku, Ringgar?”

“Tuanku, tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup ini. Dan bila aku mendapatkannya, aku akan mengambilnya tanpa ragu dan meninggalkan segalanya untuk meraih kesempatan itu. Jadi tuan tak perlu mengangkatku menjadi penasihat.”

“Apa maksudmu, Ringgar? Jangan berbelit. Katakan maumu.”

“Tuanku, seperti ceritaku tadi, aku pernah bertemu dengan pedang itu. Saat itu aku masih muda, mungkin seusia tuan sekarang. Aku selamat, namun ketakutan akan pedang itu terus menghantuiku selama bertahun-tahun. Setelah lelah dengan ketakutan itu, suatu hari aku akhirnya mengetahui apa dan siapa sebenarnya pemilik Pedang Tiga Belas Depa itu. Segalanya kemudian berubah. Entah mengapa, ketakutanku berubah menjadi sebuah kerinduan. Sejak saat itu, tujuan hidupku hanya satu. Aku ingin bertemu dengan pedang itu. Tak kusangka hari ini aku berjumpa lagi dengannya. Aku sungguh beruntung, tuan. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini.”

Aku termangu mendengar penjelasan Ringgar.

“Karena itu, tuan. Aku mohon tuan mengijinkan aku pergi.” Lanjut Ringgar setengah memohon.

“Kau.. hendak pergi? Kemana?”

“Aku hendak menemui orang itu.”

“Sampai kapan?”tanyaku lagi.

“Aku juga tidak tahu, tuan. Tapi yang pasti, jika tuan mengijinkan, mulai detik itu juga aku akan mengikutinya kemana pun ia pergi.”

Aku menghela napas panjang.

“Bagaimana bila ijin itu tak kuberikan?”

“Percayalah tuan, walau pedang tuan menembus dadaku hingga nyawa keluar dari tubuhku, aku tetap akan pergi menemuinya.” Kata Ringgar begitu yakin. “Maafkan aku, tuan..”

Aku tersenyum mendengarnya. Senyum pahit. Aku akan kehilangan salah satu prajurit terbaikku.

“Kalau begitu tak ada lagi yang bisa menghalangimu, Ringgar. Pergilah.”

“Tuan mengijinkan aku pergi? Begitu saja?” kata Ringgar seolah tak percaya.

Aku mengangguk dengan yakin.

Senyum yang paling lebar seketika menghiasi wajah Ringgar.

“Terima kasih, tuan.”

Sekali lagi aku mengangguk.

Ringgar melompat dari atas kudanya dan segera berlari. Ia meninggalkan kuda kesayangannya begitu saja. Lalu aku menoleh ke samping. Kiri dan kanan. Kuperhatikan wajah-wajah prajuritku yang masih terpana itu, sekilas satu persatu. Lalu aku teringat pada kotaku. Istanaku. Rakyatku.

Ah, kalo saja aku orang biasa sepertimu, aku pasti akan mengikutinya juga, Ringgar.

Lalu pandanganku beralih ke depan. Di sana Ringgar menghambur menuruni bukit menyeberangi lapangan yang dipenuhi jasad tak bernyawa. Ia terus berlari. Berlari bagaikan orang yang menyongsong pintu surga yang terbuka.

Keterangan :

* Depa             : Dimensi panjang yang diukur dari ujung jari tangan kanan pria dewasa hingga ujung jari tangan kiri, dengan posisi tangan di rentangkan memanjang ke samping. ± 170 cm.

* Rang             : Kependekan dari Raja Panjang. Gelar bagi raja, yang juga bermakna sebagai doa, agar yang bersangkutan diberikan umur dan tahta yang panjang.

* Pampasan     : Harta rampasan perang.


Iklan