DREAM JUMPER

Herjuno

Aku memindahkan sepasang telapak tangan yang sedari tadi kugunakan untuk menutupi wajahku. Dapat kulihat tiga orang berseragam cokelat-cokelat dengan jaket kevlar terpasang di dada mereka dan sebuah helm baja di atas kepala masing-masing tengah memandangiku. Terdapat senapan serbu M-4 atau M-16 di tangan ketiganya. Sayup-sayup, telingaku kemudian menangkap suara yang lumayan berisik bergaung di balik langit-langit.  Aku tahu suara itu; suara rotasi baling-baling. Ditambah dengan ruangan sempit tempatku duduk kini, aku langsung tahu kalau kami—aku dan tiga orang lain yang berada bersamaku—kini tengah berada di dalam helikopter yang bersiap menuju medan perang. Ah, payah. Kenapa di saat kondisiku seperti ini, tim kami harus ditugaskan ke sini?

“Kamu tidak apa-apa, kan, Rei?” tanya seorang gadis yang duduk di seberangku dengan diiringi pandangan khawatir. Namanya Fiona,  dan dia adalah satu-satunya perempuan dalam tim kami. “Kau seharusnya tidak perlu ikut jika kurang sehat.”

“Fiona,” sela Leon yang menjadi pemimpin regu, “dia pasti sudah paham konsekuensinya kalau dia ikut.”

“Benar, Fi,” sambung Brian yang sedikit lebih tua dari Fiona. Kalung bersimbolkan matahari yang ia kenakan tampak berayun saat ia menoleh ke arah gadis itu. “Meskipun Rei itu paling muda, tapi jangan lupa kalau dia yang paling berbakat!” ucapnya seraya menepuk-nepuk bahuku.

“Tapi tetap saja….”

BLAR! Belum sempat Fiona menyelesaikan kalimatnya, aku merasakan sesuatu menghantam bagian lambung helikopter. Guncangan hebat langsung melanda kabin, membuat beberapa ransel terjatuh dari tempat duduk. Helikopter itu pun buru-buru menukik ke atas untuk menghindari serangan kedua.

“Sial!” umpat pria Brian seraya menyiapkan senjatanya. “Eros? Atau para Hacker? Delia, laporkan keadaan,” ujarnya seraya menyentuh sisi kanan helmnya dengan kedua jarinya.

“Bukan keduanya,” telingaku serta-merta mendengar suara perempuan menjawab permintaan Brian tadi. “Serangan  tadi berasal dari Host.”

“Sialan, getaran palsu lagi!” kali ini, giliran Leon yang mengumpat. “Ayo kita keluar dari sini!” ujarnya kepada rekan-rekan setimnya yang lain.  Ia lantas menggeser pintu helikopter tersebut, dan kemudian, beringsut ke sisi pintu yang sudah terbuka lebar itu. Dapat kulihat angin dari baling-baling mengibar-ngibarkan lengan baju dan celana panjangnya.  “Ayo, kamu duluan, Bri!”

Sedetik kemudian, Brian yang berambut hitam cepak itu sudah melompat dari helikopter sesuai dengan instruksi Leon. Fiona menjadi yang berikutnya, disusul kemudian aku dan terakhir, Leon. Selama beberapa saat, kami melayang di udara. Tanpa parasut, tanpa pengaman. Memang inilah yang harus kami lakukan kalau harus keluar dari sini; menjatuhkan diri hingga perlahan-lahan partikel dalam tubuh kami lenyap dan berpindah ke Sentinel Base—mimpi yang menjadi markas kami.

***

Mimpi. Sejak beribu-ribu tahun silam, manusia sudah berusaha untuk menguak apa sebenanya makna dari sebuah objek yang hanya bisa diperoleh lewat tidur tersebut. Mulai dari zaman prasejarah hingga zaman satelit seperti sekarang ini, misteri mimpi telah menjadi suatu kajian yang selalu—dan akan selalu—diperbincangkan oleh para cenayang,  agamawan, filosof, dan para ilmuwan. Beribu-ribu literatur telah bermunculan hanya untuk membahas sesuatu yang sering disebut “bunga tidur”  tersebut.  Sebut saja ayat-ayat dalam kitab suci, Oneirocritica yang dibuat oleh Artemidorus dari Yunani, dan—tentu saja—Die Traumdeutung atau lebih dikenal dengan The Interpreation of Dreams karangan Sigmund Freud yang amat kesohor itu.

Meskipun begitu, meskipun ada banyak sekali manusia yang berusaha mengungkap makna di balik mimpi, mungkin tak akan ada satu pun yang mampu mengenal mimpi sebaik diri kami. Para Dream  Jumper.  Orang-orang dengan kemampuan memasuki mimpi orang lain . Beberapa bahkan memiliki kemampuan untuk memodifikasi mimpi, seperti aku.

Aku pertama kali menyadari bahwa aku memiliki kemampuan itu pada umur sepuluh tahun. Awalnya, aku mempergunakan kemampuanku itu tanpa tujuan yang jelas. Aku seringkali memasuki mimpi teman-temanku, dan setelah itu, mengubah detail mimpi mereka. Rumah mewah yang pernah kudapati di mimpi seorang adik kelas pernah kubakar sampai menjadi abu, dan aku bahkan pernah mengganti air kolam renang di mimpi Bondan, preman sekolah, dengan darah setelah ia mempermalukanku di depan teman-temanku.

Namun, itu dulu.  Sebelum aku mengenal para Sentinel. Mereka yang bertugas menjaga mimpi.

Pertemuanku dengan mereka dimulai setahun silam, saat tiga orang yang tadi bersamaku—Fiona,  Leon,  dan Brian—mendapatiku tengah mengubah bunga-bunga menjadi jamur beracun pada sebuah mimpi. Mereka kemudian langsung menyergapku,  dan setelah itu, membawaku ke suatu tempat yang kemudian kuketahui bernama Sentinel Base. Leon, pria kurus berkacamata yang ternyata merupakan pimpinan mereka, lantas mengajakku untuk bertemu di dunia nyata. Ia berkata kalau ia tertarik akan kemampuanku. Aku setuju, dan jadilah kami bertatap muka di sebuah coffee shop dekat kampusku keesokan harinya.

“Jadi,” ucap Leon setelah memperkenalkan dirinya dan kedua rekannya. “Kamu dapat memasuki mimpi orang lain dan berbuat apa pun yang kamu suka dengan mimpi itu, kan?”

Aku tidak segera menjawab. Dalam benakku, aku harus ekstrahati-hati saat menghadapi tiga orang ini. “Jika aku berkata ‘ya’, lantas kenapa?” balasku dengan tatapan sedikit curiga. Namun, Leon justru menyunggingkan senyum. “Kenapa kamu mengubah bunga-bunga menjadi jamur beracun?” tanya Leon lagi.

Kenapa? Jujur saja, aku tidak memiliki alasan khusus. Aku melakukannya karena aku suka saja. “Terserah aku, dong. Yang punya kemampuan lan aku,” tantangku tak mau kalah.

“Tapi itu tidak baik!” Fiona turut menimpali. “Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu mengubah detail mimpi seseorang?” tanyanya dengan badan tercondong ke arahku.

Aku menggeleng.

“Mimpi,” ujar Brian tiba-tiba, membuat pandanganku beralih kepadanya,  “pada dasarnya merupakan manifestasi berbagai hal yang tak  ingin—atau tak dapat—diwujudkan dalam kehidupan nyata,” ia menambahkan seraya menghirup cappuccino yang sedari tadi terhidang di meja. “Hasrat terpendam, kekecewaan karena tak bisa memperoleh sesuatu, trauma masa lalu…semuanya ditekan ke dalam alam bawah sadar dan lalu muncul sebagai mimpi.”

“Apa yang kaubicara—“

“Dalam mimpi, terdapat representasi hal-hal yang ditekan ke dalam alam bawah sadar,” lanjutnya.  “Misalnya, kamu bermimpi mengobati luka patah tulang seseorang. Tulang yang patah menandakan hubunganmu yang retak dengannya, sementara kegiatan mengobatimu menandakan kamu ingin berdamai dengan orang itu.”  Kemudian, Brian lantas kembali meminum  cappuccino-nya, meninggalkanku dengan pandangan dipenuhi tanda tanya.

“Jadi begini,” Fiona lalu mengambil alih setelah dilihatnya Brian tidak melakukan tugas menerangkannya dengan baik, “karena alam bawah sadar turur berperan besar dalam kehidupan seseorang, maka kamu akan mengubah seseorang secara tak langsung  kalau kamu mengubah atau menghancurkan detail mimpinya. Keinginannya, rasa takutnya, semuanya!”

Aku langsung terperanjat begitu Fiona selesai menyelesaikan kalimatnya. Sungguh, aku tak pernah berpikir kalau perbuatan main-mainku itu memiliki dampak yang sebegitu besar terhadap orang lain. Aku tidak mengira kalau apa yang kuanggap lelucon itu bisa mengubah kepribadian seseorang. Tiba-tiba saja, kurasakan saluran paru-paruku menyempit. Apa…apa yang telah kulakukan selama ini?

“Kulihat, kamu sudah memahami kenyataannya.”

“Eh, maaf?” tanyaku ke arah Leon yang menjadi sumber suara itu. Aku terlalu dalam terjebak dalam pemikiran bersalahku, sampai-sampai aku tak mengindahkan kalimatnya barusan.

“Jadi,” kata Leon alih-alih mengulangi perkataannya barusan, “mari bergabung dengan kami untuk mencegah orang lain merusak mimpi,” lanjutnya dengan tangan kanan terulur padaku.

Aku sempat ragu untuk menanggapi uluran tangan Leon pada awalnya. Maksudku, apa aku bisa melakukannya? Apa aku bisa menjagai mimpi orang-prang? Namun, didorong oleh rasa bersalah dan keinginan untuk menebus kesalahanku, aku akhirnya membalas jabat tangan Leon juga.

“Selamat datang, Sentinel baru.”

***

Sejak saat itu, aku pun lantas menjalani kehidupan baruku sebagai Sentinel bersama ketiga temanku ini. Malam demi malam, kami bertualang di Alam Bawah Sadar untuk menjaga mimpi agar tidak dikacaukan oleh  para Hacker.  Mereka ini adalah para Dream Jumper yang dengan seenaknya mengubah mimpi seseorang—dikenal juga dengan sebutan Host. Motif para Hacker ini bermacam-macam. Beberapa hanya iseng tanpa tujuan jelas seperti diriku, sedangkan sebagian lain lebih didasari atas sesuatu yang lebih konkret: uang. Benar, ternyata, tak sedikit orang yang mau membayar para Hacker itu  untuk masuk dan meyabotase mimpi orang lain. Alasannya? Persaingan politik, korporasi, dan bahkan masalah  warisan sekali pun!

“Payah!” Kudengar Brian mengumpat begitu kami sudah kembali ke Sentinel Base—masih dalam mimpi, tentu saja. Di tempat ini, para Sentinel  dari seluruh dunia berkumpul setiap malam untuk melakukan tugas mereka: menjaga mimpi.  Meskipun begitu, tanggung jawab tim kami hanyalah mimpi-mimpi orang Indonesia saja. Lebih spesifiknya lagi masyarakat Jakarta. Selain kami, ada ratusan Sentinel lain yang wilayah operasinya tersebar di seluruh Indonesia. “Getaran itu palsu! Tidak ada Hacker di situ!” tambahnya masih dengan intonasi tinggi. Getaran yang hebat pada alam bawah sadar memang menjadi pertanda adanya penyusup, tapi tidak selalu. Terkadang, getaran itu terjadi karena seseorang tidur dalam keadaan menekan konflik.

“Lantas, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Fiona yang kini tengah duduk di sampingku. Ia menggerak-gerakkan kedua kakinya seraya memainkan rambut panjangnya yang dikuncir samping.

“Kita akan mencari apakah ada Hacker lain,” sahut Leon. “Delia, laporkan keadaan,”  Ia lantas memberi instruksi pada komputer di depannya. Benar, Delia adalah sebuah komputer—singkatan dari Dream Analyzer. Tugasnya adalah mendeteksi kalau-kalau ada para Hacker yang melakukan infiltrasi ke dalam sebuah mimpi dan menyuplai para Sentinel dengan informasi yang mereka butuhkan.

“Sebuah  getaran ganjil  terdeteksi,” jawab Delia dengan suara-perempuannya.  “Nama Host: Alyssa Sekarwangi. Sembilan belas tahun. Pekerjaan sekarang….”

“Ya, ya, kita akan melihat profilnya nanti,” potong Brian dengan tangan terkibas di depan muka. “Kirim kami ke mimpi itu.”

“Segera, Pak.”

Baik Leon, Fiona, maupun Brian lantas menjejakkan kakinya menuju Dream Portal, sebuah ruangan berisikan portal ke dunia mimpi. Namun, aku bergeming. Bahkan sejak sedari tadi Delia menyebutkan nama Host itu, badanku sudah terasa tegang.

Alyssa Sekarwangi adalah nama kekasihku. Lebih tepatnya, mantan kekasihku.

“Rei, ayolah,” panggilan Brian dengan segera membuatku tersadar dari lamunanku. “Kamu ikut, tidak?”

Aku menjawab seruan Brian itu, dan setelah itu, menyusul ketiga rekanku yang lain ke arah Dream Portal.

***

Aku dan Alyssa sebenarnya pasangan yang serasi.  Hanya saja, sebuah kesalahpahaman telah membuat hubungan kami retak. Kesibukanku di kampus telah membuatku jarang menghubunginya, sehingga ia jadi berpikir kalau aku tak lagi menyayanginya. Puncaknya, ia memutuskan hubungan kami kemarin siang. Itulah pula yang menjadi alasan kenapa aku  merasa kurang fit untuk melaksanakan tugasku sebagai Sentinel malam ini; aku masih mencintainya.

“Ini dia, “ ucap Leon begitu kami tiba di mimpi milik Alyssa. Kastil yang terbuat dari batu, ksatia dengan pedang dan baju zirah, para petani yang mengasung garu…ia pastilah tengah bermimpi tentang Abad Pertengahan kini. Kulihat pakaian tim kami juga telah menyesuaikan dengan kondisi mimpi sang Host. Kami bertiga kini mengenakan zirah logam abu-abu; hanya saja senjata kami berbeda. Aku dan Leon menggunakan pedang, Fiona pisau lempar, sementara Brian menggenggam sebuah busur.

“Wah, mimpi Medieval!” Fiona berteriak kegirangan sambil mengamat-amati lengan zirahnya. “Aku selalu ingin berada dalam mimpi semcam ini!”

“Hey, kita di sini bukan untuk main-main!” sentak Brian kepada Fiona yang membuat gadis itu langsung terdiam. Dalam sekejap, ekspresinya langsung berubah dari kegirangan menjadi sendu.

“Habisnya….”

“Sudahlah,” Leon menengahi. “Yang penting sekarang pasang mata baik-baik. Laporkan segala hal yang tak biasa, oke?”

Kami berempat lantas sepakat untuk memecah grup kami dan lalu berpencar. Aku bersama Leon, dan itu berarti, Fiona bersama Brian.  Tujuan pun ditetapkan; tim Leon akan menginvestigasi bagian utara kota sementara tim Brian akan menyisiri bagian selatan kota.

Kalau mau jujur, aku sebenarnya belum pernah memasuki mimpi Alyssa.  Tidak heran, ia menjadi pacarku enam bulan setelah aku memutuskan untuk bergabung dengan Sentinel,  jadi bukan hal yang aneh kalau aku tidak punya waktu untuk datang ke dalam mimpinya. Aku sebenarnya ingin sekali mampir ke dalam Alyssa. Mengetahui apa keinginan terbesarnya. Memahami apa yang ia cemaskan, takutkan, dan senangi. Mencari tahu  apakah aku akan ada di dalam mimpinya.

Sayangnya, di saat keinginanku terkabul, kami sudah memutuskan ikatan kami….

“Tunggu sebentar,” ucap Leon tiba-tiba seraya mengangkat tengannya.  Perlahan, ia lantas menaiki sebuah bukit yang berada di hadapan kami, sementara aku berjalan di belakangnya. Dapat kulihat ia berada dalam posisi siaga dari tangannya yang terus memegangi gagang pedang.

“Ada apa, Leon?” tanyaku. Namun, ia tidak menjawab dan justru memintaku mendekat ke tepian bukit. Masih dengan  perasaan bingung, aku lantas mengikuti perintahnya.

Mataku langsung terbelalak saat melihat pemandangan di depanku. Sebuah serigala  cokelat besar—sangat besar—dengan tanda segitiga terbalik di dahinya tampak terbaring di dasar lembah sana. Darah berceran di sekujur tubuhnya, mengubah warna rumput yang hijau menjadi merah.

“Thanatos,” ucap Leon. Dikendurkannya gagang pedangnya, dan setelah itu, ia lantas berkomentar, “Orang ini kuat.”

Thanatos? Tapi bagaimana mungkin? Baik Thanatos sang insting kematian maupun Eros sang insting kehidupan merupakan penjaga alami alam bawah sadar. Mereka akan mengeliminasi apa pun yang bukan berasal dari alam bawah sadar seseorang—dan itu berarti para Dream Jumper. Untung bagi kami baik Thanatos maupun Eros tidak akan keluar kecuali mereka benar-benar merasa terusik. Itu karena jika mereka benar-benar keluar, dapat dipastikan para Dream Jumper yang ada di dalam mimpi tersebut  tidak akan  bisa selamat—kecuali jika mereka segera pergi dari mimpi itu. Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Namun, Fiona berkata kalau tim kami pernah melihat kemunculan sebuah Eros berbentuk kumbang jauh sebelum aku bergabung. Tentu saja, mereka segera meninggalkan mimpi itu untuk menghindari risiko berhadapan dengan sang Eros.

Dan Hacker ini berhasil membunuh salah satunya? Hacker macam apa itu?

“Ya, Fiona?” kata Leon tiba-tiba sambil menempelkan dua jari tangannya di telinga. Aku pun buru-buru melakukan hal yang sama untuk membuka komunikasi.

“Kurasa kalian perlu ke sini,” sahut Fiona. Dari nada suaranya, ia terdengar begitu panik. “Dan cepat,” tambahnya.

***

Hacker ini sakit. Benar-benar sakit. Ia dengan sengaja memodifikasi  hutan di hadapan kami menjadi sesuatu yang hitam legam dan mengubah warna langit menjadi putih. Pemandangan di hadapan kami tak ubahnya siluet; hanya terdiri atas dua warna tersebut.

“Kasihan Host ini,” ucap Brian seraya menggelengkan kepalanya. “Alam bawah sadarnya dirusak sampai seperti ini.”

Aku menggertakkan gigiku. Darahku terasa mendidih saat memandangi kehancuran  yang terhampar di depan mataku. Dia…dia melakukan hal semacam ini kepada Alyssa-ku yang kusayangi?

“Bagaimana ini?” tanya Fiona kepada Leon. Sebuah getaran takut jelas terbaca dari suaranya. “Apa kita kembali saja?” tanyanya lagi. Namun, Leon menggeleng.

“Kita tidak bisa mundur sekarang,” balas Leon.  “Tapi kalau keadaan sudah di luar kendali, maka….”

“TIDAK!” raungku. Dengan alis terangkat, aku kemudian berbicara kepada yang lainnya. “Kita tidak akan keluar dari sini sebelum berhasil meringkus orang ini!”

Fiona menatapiku dengan pandangan heran. Begitu pula Leon dan Brian, mereka tampak terkejut saat melihatku meledak seperti tadi. Wajar saja, pria mana yang tidak murka saat gadis yang dicintainya”dirusak” seperti ini?

“Rei,” panggil Leon perlahan seraya mendekatiku. “Hacker ini sepertinya bukan Hacker biasa. Kau tahu kan apa yang tejadi  kalau kita tewas di sini?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Tentu saja aku tahu. Apabila seorang Dream Jumper tewas di alam bawah sadar, maka ia tidak akan bisa memperoleh kesadarannya kembali.  Ia tidak akan pernah bangun dari mimpinya meskipun masih bernafas.

Itu artinya, ia akan koma hingga meninggal.

“Kita akan tetap pada rencana semula,” ucap Leon lagi. “Semuanya….”

DUAR! Sebuah ledakan yang tiba-tiba telah menghentikan perkataan Leon. Tak berapa lama kemudian, asap mulai memenuhi pandanganku, membuat keadaan sekeliling kami menjadi putih. Dapat kudengar suara Fiona terbatuk, sementara Leon langsung memanggil nama kami satu per satu untuk memastikan kami baik-baik saja. Sedikit demi sedikit asap itu lantas mulai menipis, dan aku akhirnya berhasil melihat teman-temanku lagi. Namun, bukan hanya mereka yang kulihat. Ada satu orang lain yang kini hadir di hadapan kami semua. Rambut merah sebahunya terlihat sedikit berkibar tertiup angin. Ia mengenakan pelindung dada hitam—benar-benar hitam—tanpa senjata apa pun di tangannya  Dan ia mengendarai sebuah wyvern yang memiliki tanda segitiga di dahi.

Benar. Hacker ini telah berhasil mengambil alih Eros.

***

Well, well, para Sentinel,” ujar Hacker itu dari atas Eros. “Senang berjumpa kalian di sini.”

Dengan segera, akulangsung mencabut pedangku dari sarungnya. Hal yang sama juga dilakukan Leon. Brian dan Fiona juga turut memasang kuda-kuda; Brian mengarahkan sebuah anak panah ke arah Hacker itu sementara Fiona mengeluarkan segenggam pisau kecil dari pouch-nya.

“Siapa kau?” seru Leon lantang sambil menggenggam pedangnya erat. “Dan kenapa kau menyusup ke mimpi ini?”

Hacker itu menyeringai. Bola matanya yang merah tampak mengilat-ngilat. “Nama asliku tidak penting, tapi kalian bisa memanggilku Pantheos,” jawab Hacker itu—Pantheos.  “Dan alasanku di sini—tentu saja—hanya untuk meningkatkan kemampuanku. Setiap Hacker harus melakukannya kalau ingin tetap lihai, kan?”

Meningkatkan kemampuan? Hanya karena alasan sesepele itu, orang gila ini mengobrak-abrik alam bawah sadar Alyssa-ku?  Dengan darah mendidih, aku bersiap untuk melompat dan menghunuskan pedangku ke arah maniak ini. Namun,  aku tiba-tiba merasakan tangan Fiona mendarat di bahuku. Ia tengah menatapku sembari menggeleng saat aku menoleh kepadanya.

Aku mendengus kesal. Bedebah di atas sana itu telah menghancurkan mimpi Alyssa, dan Fiona menyuruhku tenang? Aku baru saja hendak melepaskan tangan Fiona dasri bahuku ketika tiba-tiba aku melihat Leon menatap ke arahku dengan pandangan tajam. Akhirnya, dengan telapak tangan bergetar menahan amarah, kuutuskan untuk mengurungkan gerakanku.

“Delia, siapa orang ini?”  kudengar suara Brian bertanya. Kami memperoleh respons sedetik kemudian, tapi jawaban Delia membuatku terbelalak.

“Data tak ditemukan.”

Apa ini? Seharusnya, Delia memiliki seluruh data Dream Jumper di duniaini, tapi kenapa…? Aku menoleh ke arah Leon, dan dapat kulihat ia juga terperangah.

Siapa dia sebenarnya?

“Sudah cukup basa-basinya.”

Ctik.

Serentetan pedang yang muncul entah dari mana langsung melesat ke arah kami sesaat setelah Pantheos menjentikkan jarinya. Tanpa membuang waktu, Leon pun lantas segera menggunakan kemampuan modifikasi mimpinya untuk menciptakan pelindug berupa dinding batu. Aku dapat mendengar suara ujung-ujung pedang itu menghujani tembok batu di balik dinding yang Leon ciptakan.

Namun, ternyata serangan itu tidak behenti di situ saja. Pantheos kembali menjentikkan jarinya, dan sekonyong-konyong, pedang-pedang itu lantas meledak, membuat tembok batu Leon runtuh. Debu-debu dengan segera bertebaran di sekeliling kami.  Aku sendiri refleks menutupi wajahku dengan lengan. Saat debu itu mulai menghilang, aku kembali mengunci pandanganku kepada Pantheos.

Pantheos mengangkat tangannya. Dilihat-lihatnya punggung  tangannya yang dibalut sarung tangan, kemudian ia berkata, “Kalau dipikir-pikir, mimpi Host ini menyenangkan juga. Aku bisa dengan mudah melakukan apa yang kumau dengannya.”

Sudah cukup, teriakku dalam hati. Dengan sekali jejakkan, aku kemudian melompat ke arah Hacker itu, bersiap menghabisinya untuk selamanya.

Ctik.

Sesuatu yang tajam—entah apa—tiba-tiba saja kurasakan menembus perutku.  Itu…tombak! Dengan segera, rasa sakit mulai menjalari tubuhku, membuatku terjatuh dari ketinggian. Aku mengerang saat badanku terhempas di tanah sementara tombak Pantheos masih tertancap di perutku. Sekilas, mataku melihat seringai mengejeknya. Aku baru saja hendak mencabut tombak itu ketika tiba-tiba saja ia kembali menjentikkan jarinya.

Aku menjerit.

Rasa sakit yang tak terkira langsung menyergapku saat puluhan tombak lain menghujaniku.  Darah segar  pun dengan segera mengalir keluar dari mulutku.  Sial…sial…SIAL…!

“Aku tak akan segegabah itu bila jadi kau,” sindir Pantheos.  “Kita akhiri saja, ya,” ia lantas menambahkan  seraya menjentikkan jari.

Samar-samar, aku melihat tombak raksasa melayang tepat di depan mataku. Apa? Jangan bilang kalau ia hendak menghujamkan tombak itu ke kepalaku?

“Antío.”

Ctik.

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan