DUNIA YANG KUTINGGALKAN

Katib An-Nafi

Seorang diri kukayuh sepedaku, tanpa tujuan tanpa teman. Jalanan panjang melintang di hadapanku, begitu luasnya, memberikan rasa bebas yang lama tidak kurasakan. Wajah bapak masih terus terbayang dibenakku, dengan bentakannya yang kasar dan bau alkohol yang menyengat. Sejak ibu meninggal, hidupku bagai budak yang tak punya masa depan. Dari pagi hingga malam kuhabiskan waktu di pinggiran jalan, pasar, pertokoan, bahkan di atas bus-bus angkutan umum bersama anak-anak belasan tahun yang lain.

Bapak selalu berjudi tiap waktu, merampas uang jerih payahku, dan tak pernah mengembalikannya, bahkan hutangnya semakin menumpuk akibat perbuatannya itu. Uang simpananku 1 tahun terakhir yang susah payah kukumpulkan dari hasil ngamen di jalan begitu saja dirampasnya.

Saat itu pukul 3 pagi, aku sedang tertidur lelap di ruang depan—yang sekaligus ruang tidur bagiku. Bapak masuk begitu tiba-tiba, mengagetkanku, dan entah bagaimana, dia menggeser boks lemari pakaian di samping pintu masuk, mencabut kayu yang tersembunyi di bawahnya, dan mengambil uang simpananku yang kusembunyikan dalam sebuah plastik, kumpulan uang receh hasil jerih payahku selama 1 tahun, yang rencananya akan kugunakan untuk membayar tunggakan kontrakan beberapa bulan terakhir, dan pegangan untuk makan sehari-hari.

“Itu punyaku,” respon kutarik kantong plastik dari tangan bapakku,

“Dasar anak kurang ajar,” tangan besar bapak menghantam tubuhku, “jangan kau pikir bisa seenaknya saja, bapak perlu duit ini, bandar itu sedang menuju kesini dan akan membunuh kita.”

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya, ketika kuputuskan untuk pergi, tak kuasa menanggung beban yang sangat tidak adil buatku. Kukayuh sepeda butut peninggalan almarhum kakek, satu-satunya harta yang kumiliki, pergi mencari kehidupan baru di luar sana.

Dua belas jam sudah aku berada di atas sepeda, menjauh dari hingar-bingar perkotaan, Perutku lapar, tubuhku lemas, yang ada hanyalah hamparan jalan yang ada di depan, dengan tebing-tebing di kanan-kirinya. Belum pernah aku menjamah sampai sejauh ini. Terik, sunyi dan begitu tenang suasana di sini. Sambil kutuntun sepeda lusuh menaiki jembatan, kulihat gerombolan buah yang menggantung di sebatang pohon yang mencuat tinggi tumbuh di samping jembatan—Pohon Mangga, ya, tak salah lagi.

Matahari sudah condong ke Barat, petang akan segera tiba. Instingku tak butuh waktu lama untuk segera mengambil beberapa buah, cukup untuk sekadar mengganjal perut dan melanjutkan perjuangan besok. Mungkin aku akan menuju perkotaan lain untuk bergabung dengan pengamen jalanan yang ada di sana, atau apapun yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup.

Kuletakkan sepeda di trotoar jembatan. Sebuah motor melintas, melihatku sekilas, tampak acuh dan melenggang kembali mengembalikan kesunyian. Tanganku memegang besi pagar jembatan dan mulai memanjat perlahan. Cukup mudah untuk mengambil beberapa buah—warnanya kekuning-kuningan dan agak lembek, kucium dan langsung terbayang buahnya yang amat manis. Kusimpan tiga di saku celana—samping kanan, kiri dan belakang. Satu kuselip di dalam baju, dan satu lagi kupegang dengan tangan kiri. Cukup satu tangan untuk turun kembali ke jembatan.

Tak disangka, ranting yang kuganduli patah, kakiku tergelincir pagar besi jembatan. Mangga yang terselip di bajuku terjatuh—kulihat riaknya ketika membentur sungai yang ada di bawah. Tanganku berusaha meraih ranting terdekat yang bisa kupegang, tapi tak ada apa-apa. Tubuhku pun ikut terjatuh bersama buah yang kuambil. Pandanganku buram, kemudian benar-benar menjadi gelap.

Beberapa saat kemudian…..

Seberkas sinar masuk ke pelupuk mataku, perlahan dan memaksa. Kubuka pandanganku, silau. Tampaknya waktu tengah hari. Kulihat sekelilingku—tampak gumpalan awan dan pucuk-pucuk pepohonan menjulang. Aku terbaring di atas rerumputan. Punggungku sakit. Benar saja, sebongkah batu mengganjal tubuh belakangku. Perlahan diriku bangkit, berusaha untuk duduk. Rasa sakit menjalari punggung, leher dan menuju ke kepala.

Tuhan, Dimana aku?

Hal terakhir yang kuingat adalah pertengkaran dengan bapak. Setengah jam aku berjalan menembus hutan, atau apapun tempat ini, sejauh mata memandang, hanya ada pepohonan. Diriku berjalan dan terus berjalan. Sayup-sayup suara terdengar di kejauhan. Entah suara apa, yang pasti, semakin lama semakin keras terdengar.

Akhirnya, setelah sekian lama berjalan, aku berhasil keluar dari belantara rimba dan tiba di sebuah lahan kosong—terbentang begitu luas. Langit berubah mendung, gelap seketika. Tanah yang kupijak seperti aspal namun agak lunak. Sayup-sayup suara itu terdengar lagi, semakin keras, semakin jelas. Beberapa seperti suara teriakan. Yang lainnya seperti tangisan.

Pandangan yang kulihat tampak buyar, bukan karena penglihatanku yang buram, lebih kepada suasana di sekitar yang jika diperhatikan dengan seksama, seperti sentuhan tinta di atas kanvas. Semakin lama kian memudar.

Di depan tampak sekerumunan orang, pria wanita berkumpul, mereka mengenakan jubah putih yang panjangnya menutupi kaki-kaki mereka. Setengah berlari kuhampiri mereka,

<Sedang apa kalian di sini? Bisakah kalian menolongku? Aku tersesat.>

Rangkaian kata yang terlontar tak bisa kuucapkan.

<Hei, kalian mendengarku??>

Lagi-lagi kalimat yang kuucapkan tak terdengar.

Kuhampiri salah satu dari mereka. Kupegang bahunya dan kutarik jubahnya. Seorang pemuda menoleh ke arahku, wajahnya bersih, tatapannya tenang, seraya tersenyum padaku. Lama rasanya aku tak melihat senyuman seperti itu, sesaat jiwaku tenang. Senyumnya tidak dipaksakan, penuh keikhlasan mengalir begitu saja dari wajahnya. Kulihat orang-orang yang lain, ternyata mereka semua tersenyum. Pemuda tadi menunjukkan kepadaku dengan gerakan tangannya bahwa mereka sedang menunggu, mengantri perahu-perahu yang akan mengangkut mereka menyeberangi danau.

Ya, danau dengan warna keemasan yang membentang lebar di depanku. Kemudian sebuah perahu datang, pemuda tadi langsung menaikinya, gerakannya pasti, tak ada keraguan sedikitpun. Disusul seorang wanita yang juga mengenakan jubah putih sama seperti pemuda itu. Mereka berdua telah duduk berdampingan di dalam perahu kayu tersebut. Suasana di sini sangat tenang, semua penghuninya terlihat gembira. Perahu kayu sederhana lainnya mulai berdatangan. Yang lain segera menyusul pemuda tadi yang sudah berlayar terlebih dahulu dengan seorang wanita.

Tak lama kemudian aku berada di atas salah satu perahu kayu lainnya—seorang diri, berlayar ke tengah danau yang menurutku terlalu lebar untuk diseberangi. Sayup-sayup suara teriakan semakin jelas terdengar dari sini—di tengah danau. Suaranya seperti jeritan kesakitan yang sangat memilukan, melengking dan membuatku merinding. Kutatap sekelilingku, mencari asal dari suara teriakan itu, sejauh mata memandang hanya ada perahu-perahu yang membawa orang-orang berbaju putih. Perahu tanpa pemandu yang berlayar dengan sendirinya, termasuk yang kunaiki sekarang.

Sesampainya di tengah danau, tampak sebuah pulau yang dipenuhi orang-orang yang sibuk bekerja. Kulihat ada yang tengah mencangkul, ada yang sedang mendorong gerobak, yang lain memunguti bebatuan dengan tangan telanjang. Pulau itu cukup besar, tak tampak bagian belakangnya yang penuh diselimuti kabut. Perahu-perahu orang berjubah putih tak ada yang singgah di pulau itu, semua mengacuhkannya, lewat begitu saja.

Sampai salah satu perahu berbelok menuju ke pulau itu. Perahu yang membawa laki-laki berjubah yang jaraknya hanya beberapa meter dariku. Lelaki itu turun dari perahunya, menjejakkan kakinya di pulau tersebut. Cukup dekat bagiku untuk melihat wajah lelaki itu.

BAPAK!!!

Laki-laki itu, tidak salah lagi. Dia bapakku.

Jubahnya tidak berwarna putih seperti orang-orang di atas perahu yang lain. Pakaian bapak tampak begitu lusuh, kalau tidak mau disebut compang-camping. Jalannya lunglai menuju tengah pulau bergabung dengan penghuni yang lain. Aku ingin segera turun dari perahu ini, menyusul bapak. Namun jaraknya masih cukup jauh. Kudayung perahu dengan kedua tanganku supaya mendekati pulau. Kudayung dengan keras, airnya dingin tapi tidak membasahi tanganku. Perlahan akhirnya sampai juga perahuku ke bibir pulau.

Orang-orang di pulau ini tidak setenang orang-orang berjubah putih. Keriuhan tampak terdengar diantara mereka. Pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang memakai jubah lusuh seperti bapak, ada yang memakai jubah hitam, ada juga yang hanya memakai celana panjang tanpa mengenakan baju. Bau keringat mereka tercium di mana-mana.

Sebuah gubuk berdiri dekat bibir pulau yang pertama kupijak. Seorang lelaki keluar dari gubuk tersebut, tubuhnya besar berpenampilan seperti orang romawi. Dia melihatku, berjalan ke arahku dan membawa perkakas dengan kedua tangannya. Melihat postur tubuhnya, hatiku berdegup cepat.

Tuhan, apa yang akan ia lakukan padaku?

Sesampainya di hadapanku, lelaki itu menyerahkan perkakasnya padaku. Sebuah helm—atau sesuatu yang tampak seperti helm, sarung tangan, dan sebuah gerobak sorong yang sebelumnya kulihat tengah didorong oleh beberapa orang di pulau ini.

Aku diam saja, pria itu pun tak berkata-kata melihatku dengan tatapan tajam.

<Menyingkirlah dariku, pria bodoh. Aku ingin mencari bapakku, bukan bertemu denganmu. Apa-apaan semua ini? Aku tak butuh perkakas-perkakasmu, dasar tak berguna.>

Ejekku dalam hati.

“Ambillah.” Pria itu berkata—kata pertama yang kudengar sejak berada di dalam hutan.

“Eee,, maaf,” aku bergumam. “Apa kau bisa mendengarku?”

Pria itu menatapku lebih dekat. “Tentu saja. Ambillah, ini semua peralatanmu.”

“Em, tidak. Tolong aku Pak, aku sedang mencari bapakku, dia di pulau ini, maksudku baru saja dia menepi di pulau ini. Tolong aku, aku ter….”

“Ikut aku.” Ujar pria itu.

Tak sempat menyelesaikan kata-kataku, pria itu langsung berlalu, menyuruhku untuk mengikutinya. Kakiku belum beranjak sedikitpun. Harus kuapakan perkakas ini? Untuk apa aku mengikutimu? Hei, dengarkan aku!!

Pria itu menoleh ke belakang, ke arahku. Cepat-cepat kupakai benda yang menyerupai sarung tangan itu—berwarna hitam, tanpa lubang jari tapi pas dengan tanganku. Bahannya seperti katun, tidak panas dan terasa nyaman. Lalu sesuatu seperti helm—keras, tanpa penutup kaca—yang kupakai di kepalaku. Dan terakhir, gerobak sorong yang mirip dengan gerobak untuk mengangkut tanah dan bebatuan yang biasa dipakai buruh bangunan. Kutarik pegangannya, dan mengikuti pria besar tadi.

Banyak orang kulewati, mereka sedang bekerja, tak ada yang berbicara satu sama lain. Suara mereka terdengar seperti bisikan, tapi cukup untuk membuat keriuhan tersendiri. Jeritan dan lengkingan yang sebelumnya kudengar sudah hilang. Disini sama seperti tambang dengan sekumpulan buruh pekerjanya. Mereka mengangkut batu dan tanah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ada yang memakai gerobak sorong sepertiku, ada yang menggunakan tangannya, ada juga yang mengangkutnya dengan baju mereka—ya, itu sebabnya mengapa sebagian dari mereka hanya mengenakan celana saja. Paras mereka tampak tidak bahagia, tertekan, tidak satupun yang tersenyum. Aku menoleh mencari bapak. Di mana dia ?

Pria besar itu berhenti. Di depanku berkumpul serombongan pekerja, semuanya laki-laki—tak ada wanita di sini. Mereka semua melihatku, pandangannya kosong, dan pria besar itu mengisyaratkan kepadaku untuk bergabung dengan mereka.

“Pakai tanganmu, pindahkan tanah-tanah ini dengan gerobak itu,” seraya menunjuk gerobak sorong yang diberikannya, pria besar itu melangkah pergi dan menghilang di tengah kerumunan yang lain. Orang-orang kembali bekerja. Semua antusias, memindahkan gundukan tanah walaupun tak ada yang mengawasi mereka. Aku ikut bekerja—meraup segumpal tanah, menaruhnya di gerobak, meraup lagi, taruh di gerobak, meraup dan terus sampai gerobak sorong itu penuh, benar-benar penuh. Kulihat rombonganku membawa tanah yang telah dikumpulkannya ke gundukan yang lain beberapa meter dari tempatku.

Hari sudah tampak gelap, remang-remang. Tak tahu apakah ini menjelang malam atau keanehan lain dari tempat ini. Kutatap langit, sama seperti langit yang biasanya kutatap, tapi tak ada matahari di sini, atau senja menjelang malam.

Tiba-tiba pekikan teriakan manusia terdengar, begitu memilukan, menyakitkan. Kututup telingaku. Teriakan itu tetap terdengar. Kulihat yang lain tampak biasa-biasa saja, menghentikan aktivitas mereka. Semua membawa peralatan mereka, berjalan dan meninggalkan gundukan tanah dan batu-batu yang belum mereka pindahkan. Aku terdiam sejenak, kulepas tanganku ketika suara itu sudah benar-benar berhenti. Sambil menarik gerobak kuikuti rombonganku, berjalan ke suatu tempat.

Aku menoleh ke kanan-kiri mencari bapak, tapi belum juga kutemukan. Mengapa ia bisa ada di sini? Dan mengapa aku di sini bersamanya?

Terus berjalan ke tengah pulau, berdiri beberapa pondok terbuka, tempat orang-orang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Bau lezat tercium dari sini. Baunya harum, mengalahkan bau keringat para pekerja. Perlahan muncul asap-asap yang menuju masing-masing pondok. Semakin harum tercium, yang sepertinya berasal dari asap-asap tersebut. Wanginya tak terkalahkan.

Entah kapan terakhir kali aku memakan makanan, yang pasti saat ini, bau harum dari asap-asap tersebut seperti mengenyangkan perutku, perlahan, rasanya ingin terus menghirup bau harum dari asap-asap. Aku bersama kelompokku telah sampai di pondok kami, dan mulai mencari tempat duduk masing-masing. Semua telah mendapat tempat, kulihat mereka memejamkan mata, tampak sangat menikmati wewangian asap yang mengenyangkan itu.

Setelah beberapa lama, lengkingan teriakan manusia terdengar lagi, lebih memilukan dari sebelumnya, kututup telingaku dalam-dalam. Berusaha mengatasi suara yang mungkin dapat memecah gendang telingaku kapan saja jika tidak kututupi. Warga pulau di pondok yang lain mulai beranjak meninggalkan tempat mereka, membawa perkakas dan peralatannya masing-masing. Begitu juga dengan kelompokku. Bergegas kuambil gerobak sorong milikku, kutarik berjalan mengikuti kerumunan yang lain.

Langit kembali terang, beberapa kelompok yang sudah sampai di wilayah mereka, mulai melanjutkan pekerjaannya. Akhirnya, aku tiba di tempat semula, dengan sisa gundukan tanah yang belum kupindahkan. Semua bahu-membahu memindahkan sisa gundukan tanah tersebut, kuambil dan kutaruh dalam gerobak sorong lalu kupindahkan ke gundukan tanah yang lain, begitu seterusnya.

Ketika selesai, semua gundukan tanah sudah kupindahkan. Orang-orang dikelompokku berpindah ke gundukan tanah yang lain—hasil pindahan dari gundukan tanah sebelumnya. Kemudian mereka meraup kembali dengan perkakas masing-masing, dan mulai memindahkannya lagi.

Lagi?? Ke gundukan tanah yang lain beberapa meter dari gundukan tanah kedua.

Ketika gundukan tanah kedua selesai dipindahkan, mereka memindahkan kembali ke gundukan tanah beberapa meter tak jauh dari situ.

Ya, pekerjaan bodoh yang sia-sia. Apakah mereka tidak menyadari semua ini? Atau otak mereka sudah teracuni asap-asap dari pondok terbuka?

Setiap hari—meraup tanah, menarik gerobak sorong, mengisap wewangian asap yang mengenyangkan—rutinitas keseharian di pulau ini. Tanpa mandi, tanpa tidur, tanpa buang air, semuanya tampak terlihat normal.

Beberapa hari, beberapa minggu, atau mungkin beberapa bulan. Pindah dari satu kelompok pemindah gundukan tanah, ke kelompok pemindah gundukan batu. Rutin mendengar jeritan memilukan, tak perlu menutup telinga lagi, bahkan seperti mendengar bunyi lonceng istirahat makan siang saja.

Sampai suatu hari, aku melihat bapak dalam satu kelompok pemindah batu, tepat di sampingku, mengangkut gundukan batu memakai tangan telanjangnya, tampak amat sangat menyedihkan. Kuhampiri dia, kulepas sarung tanganku, kutarik tangan bapak yang sedang menggenggam batu-batu. Tapi tak berhasil kuraih.

“Bapak, ini aku. Anakmu.” Aku berteriak dan kupeluk tubuhnya. Namun, apa yang kurasakan hanyalah kehampaan. Kudekati lagi dan berusaha mendekap tubuhnya. Tapi, aku tak merasakan apa-apa, yang kudekap hanyalah angin.

Lengkingan jeritan terdengar kembali, bapak segera meninggalkan pekerjaannya. Kuikuti dia, jalannya sangat lemah, beda sekali dengan yang biasa kulihat—sangar dan menakutkan. Di tengah perjalanan, pria romawi bertubuh besar menarik bapak dengan kasar. Tertatih dan hampir terjatuh bapak mengikuti pria besar itu.

“Hei, jangan menarik dia seperti itu!!” kataku kepadanya. “Hei, kau dengar aku? Brengsek!!”

Kulempar helmku padanya, mengenai kaki pria bertubuh besar itu. Dia menoleh sejenak, menyeringai dan melanjutkan berjalan, semakin kasar menyeret bapak dengan tangannya yang gempal. Lengkingan jeritan terdengar lagi. Kuabaikan dan terus mengejar bapak bersama pria besar. Sampai di sebuah jembatan, lengkingan semakin jelas terdengar, lama kelamaan bertambah memilukan. Udara di atas jembatan sangat panas, walau tak ada sinar matahari di sini.

“Hei, kau bawa kemana bapakku?” Pria besar itu tak mempedulikan setiap teriakanku. “Dasar brengsek, jahanam!! <Hei, berhenti!!!>” Tiba-tiba suaraku hilang.

Percuma, aku tak bisa berbuat apa-apa.

Udara bertambah panas, sangat panas. Tubuhku penuh keringat. Bau di sini sangat tidak sedap. Amis dan berbau busuk. Lengkingan jeritan terdengar semakin keras, seperti berasal dari bawah jembatan. Jeritan kesakitan yang menyedihkan—benar-benar memilukan. Membuat tubuhku lemas, gemetar, lututku tak bisa bergerak.

Pria besar itu mendorong bapak ke tepi jembatan. Jarakku beberapa meter dengannya.

<Tolong, jangan jatuhkan dia. Jangan jatuhkan bapakku. Kumohon…>

Aku mulai menangis. Bapak terlihat pasrah dijatuhkan kapan saja. Tanpa belas kasih, pria besar itu menendangnya, kulihat kelebatan jubah lusuh bapak untuk terakhir kalinya.

Hatiku bagai lepas dari gedung bertingkat. Tubuhku tak bisa digerakkan. Pekikan jeritan terdengar lebih menyakitkan telinga, sangat memilukan. Aku jatuh tersungkur, terjerembab seraya menutupi telingaku.

<Cukup!! Keluarkan aku dari sini. Oh, Tuhan…>

Aku menjerit, menjerit sekeras-kerasnya. Kemudian tersentak, bangun dan terkejut menyadari bahwa aku telah berada di atas jembatan lain. Sebuah dahan patah menjulur dari pohon mangga di samping jembatan. Pagar besi pembatas yang agak penyok menjorok keluar jembatan. Di bawahnya, mengalir sungai, dengan air keruh dan sampah yang menumpuk. Tak ada jeritan di sini, hanya bau sampah dari bawah jembatan, dan sengatan sinar matahari. Pakaianku basah oleh keringat. Tak ada sepeda kakek yang kutinggalkan sebelumnya di sini.

Aku berjalan, berusaha melupakan apa yang telah terjadi padaku.

Semua tidak nyata. Semua hanya mimpi. Ya, mimpi buruk.

Berjam-jam aku berjalan, tak menghiraukan lalu-lalang orang dan kendaraan yang lewat. Tatapanku kosong, dan terus berjalan. Petang pun tiba, berganti malam. Malam berganti Siang. Akhirnya sampailah aku di depan rumahku. Seseorang berdiri, membelakangi diriku. Kudekati, ia pun menoleh ke arahku. Bapak?

Lelaki itu tersenyum. Senyumnya menenangkan, Kupeluk dirinya. Kali ini, benar-benar kupeluk.

“Bapak, maafkan aku. Aku telah meninggalkanmu, dua kali. Aku benar-benar minta maaf.” Kutatap wajahnya. Ekspresinya berubah menjadi ekspresi kesedihan. Kucoba untuk menenangkannya. Ia melepaskan pelukanku. Kulihat orang-orang berkumpul di depan rumahku.

“Bapak, mengapa orang-orang berkumpul di rumah kita? Apa yang terjadi?” Tak sempat menjawab pertanyaanku, ketika aku menoleh dia pun pergi. Ya, bapak telah pergi. Menghilang begitu saja.

Maafkan aku Bapak, aku meninggalkanmu dua kali, sewaktu pergi dari rumah, dan ketika di atas jembatan. Aku benar-benar menyesal.

Kudekati kerumunan orang, tak ada yang menyadari kedatanganku. Aku menerobos masuk dengan mudahnya. Banyak orang berkumpul di dalam. Bapak ketua RT, Ibu tetangga sebelah, teman-temanku di jalanan. Mereka semua menangis. Kulihat sesosok tubuh terbujur di tengah ruangan, kuperiksa dengan seksama. Tubuh itu,,,

Tidak mungkin. MUSTAHIL!!!

Terbujur di tengah-tengah ruang tamu, yang sekaligus menjadi ruang tidurku, sesosok tubuh yang tak lain adalah…… diriku sendiri. Perasaanku bercampur aduk, membingungkan. Sesaat kemudian diriku tertarik masuk ke dalam tubuhku, yang berada tepat di depanku.

Lalu akupun hidup. Ya, aku bangkit kembali. Dari mimpi buruk—dari perjalananku yang membingungkan. Kulihat orang-orang tersentak kaget, beberapa ada yang mundur perlahan, dan ada yang memastikan bahwa sosok di depannya adalah benar-benar aku—pemuda yang terjatuh dari jembatan dan ditemukan hanyut di hilir sungai dengan keadaan mengenaskan.

Iklan