EMPAT ELEMEN TIGA NYAWA

A.R. Dani

Ponsel Rom berdering. Dari Novi.

“Halo…?”

“Rom, besok kan kita libur,” ucap Novi segera. “Bagaimana kalau kita main ke pabrik kosong dekat sekolah?” katanya.

“Oh, pabrik yang kemarin?” sambut Rom mencoba menebak.

Tak ada jawaban. ”Ya kan?” desak Dani.

“Oh iya,” sambut Novi. Sorry aku melamun tadi. Mau, kan?” kejar Novi.

“Oh tentu dong. Pasti seru! Sampai ketemu besok, ya!”

* * * * *

Sore hari, Novi sering berdiri di depan rumahnya, sekadar menyaksikan pemandangan. Tak jarang, ia mengkhayal memiliki kekuatan super, menyelamatkan orang lain dan menangkap para penjahat dengan kekuatan yang ia miliki. Tapi ia sadar bahwa yang ada dalam imajinasinya saat ini takkan mungkin terjadi pada dirinya maupun orang lain.

Masih melamun, Novi seakan tersihir ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam melewati jalan depan rumahnya menuju ke arah sekolah. Ia tahu bahwa mobil itu adalah mobil termahal di dunia saat ini. Karena penasaran akan mobil mewah itu, ia pun beranjak dan melihat mobil itu parkir di depan pabrik kosong. Saat Novi berniat mendekati mobil itu, terdengar panggilan seorang wanita.

“Novi, mau ke mana, Nak? Mama mau ajari kamu masak soto ayam kesukaanmu nih.”

“Ya, Ma!” sahut Novi, lalu masuk ke dalam rumah.

* * * * *

Malam harinya setelah makan malam, Novi pergi ke ruang keluarga. Tiba-tiba telepon berdering. Novi menghampiri dan mengangkatnya.

“Halo! Ini siapa ya?” tanya Novi.

“Hai! Ini Rom. Bisa bicara dengan Novi?”

“Ini aku! Hai, Rom!”

“Nov, gimana? Besok jadi kan?” tanya Rom bersemangat.

“Mungkin.”

“Kok mungkin? Memangnya kenapa?”

Novi menceritakan apa yang dilihatnya.

* * * * *

Sementara itu, sore hari di pabrik kosong dekat sekolah terparkir mobil mewah yang sebelumnya telah dilihat oleh Novi. Seorang laki-laki bersetelan jas dan celana hitam keluar dari kursi pengemudi. Ia berjalan memutar menuju pintu belakang mobil dan membukanya. Terlihatlah sesosok laki-laki berkepala botak dan berpakaian serba putih bagai seorang ilmuwan. Orang itu berjalan keluar mobil lalu berdiri menatap pabrik kosong itu dengan ekspresi tersenyum. Tak beberapa lama kemudian, lelaki itu pun masuk ke dalam pabrik bersama lelaki yang sepertinya adalah sopir sekaligus pengawalnya itu.

* * * * *

Seperti biasa, suasana pagi di kota itu begitu cerah dan menyenangkan bagi kebanyakan orang. Tapi pagi tak terasa menyenangkan bagi Rom. Dia merasa sulit tidur setelah mendengar perkataan sahabatnya bahwa kemarin sore ada mobil yang parkir di depan pabrik kosong itu. Setahunya selama tujuh tahun ini, tak ada satupun orang yang mau ke sana kecuali Rom dan Novi. Kedua anak ini memang begitu penasaran untuk melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan anak remaja pada umumnya.

Suasana tak menyenangkan itu ternyata dirasakan juga oleh Novi. Tak berbeda dengan Rom, Novi juga menghabiskan hampir separuh masa tidurnya memikirkan kejadian kemarin sore.

Rom keluar dari kamarnya dan bertemu ibunya yang berencana pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Ketika Ibu Rom hendak berangkat, dilihatnya wajah Rom yang pucat. Sang ibu mendekatinya dan melekatkan punggung tangan kanannya ke kening Rom.

“Kamu kenapa, Rom? Kok pucat?” katanya menatap lekat-lekat mata Rom kemudian meletakkan kedua tangannya di atas bahu anaknya.

“Nggak kok, Bu. Cuma kurang tidur,” Rom menjawab sambil menatap wajah ibunya yang terlihat cemas.

Ia tahu bahwa ibunya akan meninggalkan kegiatan apapun apabila Rom sakit atau ada masalah.

“Kamu nggak bohong kan, Rom?” tanya ibunya lagi.

“Nggak kok, Bu. Eh…” tiba-tiba terbesit dalam pikirannya untuk bertanya tentang pabrik kosong itu. ”Ibu tahu nggak tentang pabrik kosong dekat sekolahku?” lanjutnya.

“Oh… pabrik itu. Katanya ada hantu di sana. Banyak orang yang lewat sana di malam hari mengatakan melihat asap warna-warni yang merambat keluar dari pabrik itu.” Dilihatnya ekspresi Rom yang kelihatan heran. “Yah, tapi itu terjadi…” Ibu menghitung sebentar. ”Sekitar tujuh tahun yang lalu.”

“Oh, begitu. Ya sudah, aku istirahat dulu saja,” Rom beranjak ke arah sofa.

“Baiklah. Semoga harimu menyenangkan ya, sayang.” Ibu berjalan ke luar dan berangkat

Rom berbaring di sofa. Ia mulai berpikir ada hubungan antara asap yang keluar dari dalam pabrik tujuh tahun yang, pabrik yang selama itu tak pernah diinjak orang lagi, dengan kedatangan mobil mewah kemarin. Ada yang tak beres dengan kejadian itu.

* * * * *

Novi duduk di teras rumah, membaca koran pagi itu. Saat ia membaca, ia terkejut melihat sebuah judul sebuah artikel, “Seorang Ibu Rumah Tangga Ketakutan Melihat Asap Warna-warni dari Sebuah Gedung Tua.” Dibacanya cepat-cepat tulisan itu, lalu ia bersandar di atas tempat duduknya sambil menggenggam koran dan berpikir. Tiba-tiba…

“Kring…! Kring…!” Suara telepon berdering dari dalam rumah. Novi mengangkatnya.

“Halo?” sapa Novi, tangannya tetap memegang koran yang tadi dibacanya.

“Hai, Nov,” suara Rom menyahut. “Sekarang aku mulai curiga pada kejadian yang kamu katakan kemarin. Sepertinya ada yang tak beres dengan …”

“Pabrik kosong dekat sekolah,“ sambar Novi. ”Aku membaca koran pagi ini dan ada berita tentang pabrik itu,” lanjutnya.

* * * * *

Di dalam pabrik, dua orang laki-laki mencampurkan ramuan demi ramuan ke dalam empat tungku yang berisi cairan merah, hitam, putih, dan abu-abu. Dalam keheningan seorang di antaranya yang berbaju putih berteriak, ”Ha… ha… ha… ! Akulah profesor terhebat dalam sejarah. Aku akan menjadi manusia super dengan empat kekuatan super.” Didekatinya rekannya, “Aku akan menjadi penguasa dunia, kan, Edi?”

Edi membungkukkan badan. ”Tentu, itu sudah pasti, Profesor. Dengan kecerdasan yang anda miliki pasti semua orang di dunia ini pasti bertekuk lutut di hadapan anda,” sambungnya penuh rasa hormat.

Profesor membalikkan badan dan melihat empat tungku berisi ramuan super buatannya. Ia berjalan keluar ruangan diikuti Edi.

“Setelah perjalanan kita dari Eropa yang rasanya begitu melelahkan bagiku,” katanya sambil menghempaskan diri di atas kursi, ”biarkan aku istirahat, Edi!”

“Tentu saja profesor. Silakan!” Edi membungkukkan badan lalu keluar ruangan.

* * * * *

Novi dan Rom sepakat pergi ke pabrik itu secara diam-diam. Rom berjalan mengendap-ngendap ke dalam pabrik. Setelah beberapa lama, Novi muncul dan menghampirinya. Mereka ada di ruang depan pabrik yang luas dan gelap. Keanehan muncul ketika masuk masuk ruangan itu. Asap warna-warni berhamburan  memenuhi ruangan, asap yang tidak bergerak saat dikibaskan oleh dngan tangan. Bahkan Novi yang terbiasa memikirkan hal yang ajaib pun tampak begitu heran.

Melihat wajah Novi, Rom meletakkan tangannya di pundak Novi dan menunjuk ke arah pintu tempat mereka masuk tadi. ”Lihatlah! Menurut pengamatanku, asap warna-warni ini akan tak terlihat ketika terkena cahaya.” Ditatapnya wajah sahabatnya itu. ”Aku tak pernah melihat ini sebelumnya. Seperti…” Rom terdiam sejenak lalu tersenyum. “… Sebuah keajaiban.”

“Yah, mungkin sebuah keajaiban. Tapi…” ucap Novi sambil menyingkirkan tangan Rom dari pundaknya. ”Sepertinya akan ada yang lebih dari ini.” Novi berjalan ke ruang datangnya asap itu, diiringi Rom melihat sudut demi sudut ruangan yang akan dimasukinya. Setelah satu-persatu ruangan dimasukinya, Novi berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya sEdikit tebuka.

Rom menghampirinya mendekati pintu itu. Mereka terdiam menyaksikan seorang pria berstelan hitam membuka sebuah botol dalam ruangan yang tampak seperti laboratorium. Penasaran, Rom yang dikenal selalu bisa menyelesaikan teka-teki yang diberikan kepadanya tampak tak bisa menebak apa yag sedang dilakukan pria itu di dalam.

Novi berbisik, “Rom! Apa seharusnya kita pulang saja?” Terdengar jelas nada takut dalam suaranya.

Rom merasa khawatir. ”Novi, kamu kenapa? Tak biasanya kamu begini.” Ditatapnya wajah Novi yang pucat. “Baiklah, kita pulang,” putusnya sambil memegang tangan Novi erat-erat dan berbalik menuju keluar.

Tiba-tiba terdengar seruan. “Edi, cepat tuangkan ramuan kita itu ke dalam tabung reaksi masing-masing!” perintah sang profesor. ”Sebentar lagi aku akan mendapatkan empat kekuatan super dari ramuan itu. Ha… ha… ha… !”

Mendengar perkataan itu, Rom dan Novi merasakan jantung mereka berdegup kencang. Dua sahabat ini merasakan semangat mereka menggelora dan tanpa sadar langsung mendekatkan tubuh ke tembok luar ruangan. Masing-masing menempelkan dan mempertajam pendengaran.

Di dalam laboratorium , Edi berjalan mendekati Profesor Agni dan memberikan segelas bir yang tadi dituangnya.

”Profesor, apakah tidak terlalu mencurigakan di kota kecil ini tiba-tiba muncul mobil mewah melewati jalan kampung dan parkir di depan pabrik kosong saat sore hari?” Edi berhati-hati memilih setiap kata yang diucapkannya.

Ekspresi Profesor Agni berubah serius. “Kau tak perlu memperingatkan hal itu kepadaku, karena aku akan mnguasai dunia dengan ramuan yang kuracik sendiri dari batuan terlangka di dunia.” Diminumnya habis bir dalam gelasnya.

Edi kembali menuang bir ke gelas Profesor. “Lalu mengapa Anda mngerjakan proses pertama dan terakhir di sini?” tanya Edi yang tanpa sadar manggunakan nada perintah dalam pertanyaannya. Cepat-cepat ia meminta maaf kerena takut akan hal yang mungkin terjadi padanya.

Profesor Agni memicingkan mata cepat sekali, lalu ekspresinya berubah seperti sebelumnya. “Dulu aku adalah seorang arkeolog dan mengetahui bahwa di dunia ini ada kumpulan batu yang mmiliki kekuatan super. Lalu aku menyimpulkan bahwa keempat batuan inilah yang memiliki kekuatan terkuat.” Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. ”Banyak ilmuwan yang lain mencoba tapi tak pernah berhasil. Kemudian aku tahu ternyata hanya di tempat inilah batuan itu bisa dijadikan ramuan super yang kekuatannya bisa disalurkan ke tubuh manusia .”

“Kekuatan apa yang akan anda dapat dari ramuan itu?” tanya Edi yang tampak begitu tertarik.

“Tentu saja Edi, dari batuan api aku akan mendapat kekuatan api. Begitu juga dengan batu air, batu angin dan batu kegelapan”, katanya sambil menunjuk ke arah empat ramuan itu.

Di luar, Rom yang pada awalnya mencoba tenang, merasa sangat tertarik dengan apa yang dibicarakan kedua orang itu. Ia tergerak mencoba untuk melihat seperti apa ramuan itu. Novi menyadari apa yang akan dilakukan Rom, langsung memegang tangan kirinya. Merasa kesal, Rom menepisnya. “Hei, lepaskan tanganku!” seru Rom spontan, mengagetkan Edi dan Profesor yang berada dalam ruangan.

Dengan cepat Edi keluar. Rom maupun Novi tak sempat bereaksi kena cengkeram pria itu. Profesor Agni keluar menghampiri mereka. Ekspresi tak menyenangkan langsung diperlihatkan olehnya. “Kalian telah lama di sini, bukan?” seringainya. ”Kalian akan menjadi orang pertama yang mati saat aku jadi orang berkekuatan super. Sangat menyenangkan, bukan? Ha… ha… ha… !”

Novi sebenarnya anak pemberani, namun kali ini ia hanya bisa lemas mendengar yang dikatakan Profesor. Berbeda dengan Novi, Rom tetap meronta-ronta dari cengkeraman Edi sampai lelaki itu menggunakan kekuatan ekstra untuk menahannya. Tak beberapa lama kemudian Rom merasa lelah dan menyerah lunglai di tangan Edi.

* * * * *

Tak terasa hari beranjak siang. Novi dan Rom duduk terikat di lantai, hanya bisa memandangi kedua orang yang telah menyekap mereka di pojok laboratorium itu. Sesaat Novi sempat berpikir apa yang ia bisa lakukan untuk membebaskan diri, juga untuk mengambil ramuan yang ada di atas meja. Tapi ide-idenya buntu. Ingin sekali Novi bertanya kepada Rom untuk memecahkan masalahnya bersama-sama, tapi kenudian diurungkan niatnya karena Edi berdiri tidak jauh dari mereka.

Setelah beberapa lama, Profesor yang awalnya terlihat sangat serius terlihat lebih santai. Ketika profesor berdiri tiba-tiba asap warna-warni di ruangan itu terlihat semakin tebal. Edi yang sadar akan hal ini menjadi kaget.

“Profesor, ada apa ini ?” tanyanya.

Profesor tersenyum mendengar pertanyaan ini

“Proses hampir selesai, Edi” jawabnya. “Setelah asap ini menghilang, secepatnya aku menjadi manusia super dan menguasai dunia.” Ia pun tertawa terbahak-bahak, mengejutkan Rom dan Novi yang sadar ternyata ada juga orang sejahat itu.

Dengan perasaan sangat senang, Profesor pergi ke ruangan sebelah diikuti Edi di belakangnya. Novi langsung memandang Rom. “Rom, bagaimana ini?” bisiknya sepelan mungkin.

Raut muka Rom terlihat begitu santai, membuat Novi menduga sahabatnya itu telah mendapatkan sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah.

Rom mencoba menggerakkan badannya dan tiba-tiba tali yang mengikatnya terlepas. Novi diam terpesona dengan apa yang dilihatnya.

“Bagaimana, hebat bukan?” ucap Rom berbisik sambil memamerkan cengirannya.

“Bagaimana kau melakukannya?” bisik Novi terpesona.

Rom menggeser duduknya dan dengan tersenyum bangga memperlihatkan pisau lipat yang sempat dikeluarkannya sebelum mereka terikat. Rom langsung mendekati Novi dan memotong tali yang mengikatnya. Namun keduanya tersentak ketika mendengar suara Profesor dan Edi mendekat. Langsung saja Rom berjalan cepat diikuti Novi, menuju meja yang di atasnya terdapat empat tabung reaksi berisi ramuan yang tadi dikerjakan kedua pria itu.

Novi menyaksikan keempat ramuan itu tiba-tiba berhenti berasap. Novi memukul pundak Rom dan menuju kearah ramuan itu. Sekejap mereka saling pandang dan langsung mengambil masing-masing satu ramuan itu. Rom mengambil ramuan berwarna merah sedangkan Novi mengambil ramuan yang berwarna abu-abu. Mereka bersiap meminumnya.

*    *    *    *    *

Profesor mendekati laboratorium, terlihat sangat senang ketika asap warna-warni itu mulai menghilang. Ketika membuka pintu, Profesor terpanjat kaget melihat kedua anak yang tadinya terikat sangat kuat telah berdiri dengan memegang tabung reaksi yang telah ia kerjakan bertahun-tahun. Cepat-cepat ia menghampiri kedua anak itu untuk merebut ramuannya.

Kedua remaja itu menyadari kedatangan profesor Agni, langsun saja meneguk ramuan yang mereka pegang. Tiba-tiba mereka merasakan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Rom merasakan tubuhnya seperti dialiri api, tapi tak merasakan panas yang pasti dirasakan oleh orang yang tubuhnya tersentuh api. Novi measakan tubuhnya seakan-akan terbang dan dialiri oleh angin  yang sungguh sangat menyejukan hingga ke sel-sel terkecilnya.

Sekarang ruangan itu terasa sangat panas dengan angin yang menekan begitu kencang. Barang-barang yang ada di ruangan itu berguncang karena tekanan yang begitu kuat dari kedua anak itu. Profesor yang tadinya akan mengambil ramuan yang ada di tangan Rom dan Novi terpental ke tembok. Botol-botol pecah, meja dan kursi berguling menjauh. Edi yang berada di pintu jatuh pingsan setelah sebuah meja membentur kepalanya.

Profesor menahan sakit yang ia rasakan karena benturan. Ketika mulai berdiri, matanya menangkap dua tabung reaksi lain masih tak tersentuh di atas meja. Ia tersenyum dan mengambil ramuan hitam dan putih itu.

Tubuh Rom yang dikelilingi api dan Novi yang dikelilingi angin tak kuat menahan tekanan yang ada di ruangan itu dan tergeser menjauhi Profesor. Ruangan itu menjadi gelap tak bercahaya, lalu pabrik itu meledak dahsyat. Akibat ledakan itu, sebuah lubang besar menganga di area pabrik itu. Kayu-kayu material pabrik berserakan di sekeliling lubang itu.

Sebuah kayu besar yang terbakar seketika pecah diterabas Rom yang keluar mengangkat Novi di pundaknya. Melihat Profesor melayang di sekitar lubang bekas ledakan, Rom menduga profesor kerasukan. Sikap Profesor begitu aneh. Ia tertawa terbahak-bahak dan sempoyongan menjauhi tempat awal ia melayang. Tersadar Profesor mendekatinya, Rom mencoba berkonsentrasi dan menajamkan matanya.

Di tengah debu dan asap, sesosok pria berpakaian putih muncul dan berbicara padanya. “Aku adalah pemilik kekuatan super masa lalumu. Dulu aku memiliki tiga kekuatan super dan temanku memiliki tiga puluh kekuatan super sekaligus.”

Pria itu memperlihatkan gambaran saat dan temannya itu bertarung di masa lalu. “Dulu, dengan bertarung, seorang manusia super bisa mendapatkan kekuatan super milik orang yang ia kalahkan. Di samping itu, mereka juga mendapatkan tambahan umur dari orang yang mereka kalahkan.”

Gambaran itu menghilang, menjelma sosok pria berpakaian putih tadi. “Kami tadinya penguasa bumi dengan kekuatan super terbanyak dan terkuat. Namun ketika aku berhasil mendapatkan tiga kekuatan super, dan temanku hampir mendapatkan setengah dari keseluruhan kekuatan super di dunia, malapetaka dimulai. Ia meminum ramuan kekuatan kegelapan yang dikatakan paling kuat, seperti saat aku mendapatkan kekuatan api pertama kali.” Muncul gambaran langit yang berubah menjadi hitam dan memperlihatkan hal yang sangat mengerikan.

“Akibatnya,” pria itu melanjutkan, “temanku kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Beberapa puluh tahun kemudian kekuatan itu berubah menjadi batu setelah aku membakar seluruh tubuhnya dengan api putih hingga menjadi debu. Saat debu-debu itu mulai menyatu kembali, kukeraskan inti sel tubuhnya menjadi tiga puluh batu lagi oleh kekuatan angin dan airku yang bertekanan sangat kuat. Karena aku tak bisa menghancurkan batu-batu itu akhirnya kumasukkan ke lapisan tanah yang menyebar di seluruh dunia.”

“Termasuk di sini,” tutur bayangan pria itu sebelum menghilang diterpa angin.

* * * * *

Rom terpana. Saat membuka mata, ia melihat Profesor yang diselimuti asap hitam menuju ke arahnya. Kepada Novi dikatakannya bahwa Profesor Agni tidak sadarkan diri, hanya saja kekuatan supernya berhasil mengambil kendali atas tubuhnya.

“Aku juga berpikir begitu,” timpal Nov. “Tapi apa yang harus kita perbuat?” tanyanya khawatir.

“Novi, dengarkan aku! Tadi aku didatangi pria yang dulunya pemilik kekuatan apiku ini.” Rom memandang ke arah Profesor yang tertawa dan terbang ke arah mereka. ”Orang tadi menunjukkan padaku cara mengalahkan Profesor gila itu dengan menghancurkan tubuhnya, kemudian kau bekukan seperti yang pernah dilakukan dulu.”

“Apakah aku bisa melakukannya ?” tanya Novi ragu.

“Apabila kita tak bisa melakukannya, dunia ini akan menjadi sangat mengerikan karena Profesor itu akan meluluhlantakkan dunia ini hingga tak ada lagi yang bisa ia hancurkan!” Rom mencoba meyakinkan sahabatnya.

Tiba-tiba Profesor berhenti melayang dan menghadapkan tangan kanannya ke arah dua remaja itu. Bola berwarna hitam bulat menyelimuti telapak tangannya. Menyadari bahaya, Rom membuka kedua tangannya. Bola api kuning terbentuk dan diarahkannya kepada profesor. Bola hitam yang telah dilepaskan oleh profesor dengan cepat disambar oleh bola api Rom. Sialnya, api kuning itu langsung hancur ketika menyentuh bola hitam, sedangkan bola hitam itu terus mengarah ke arah mereka berdua dan menghantamnya. Akibatnya Rom maupun Novi terpental sangat jauh.

Terdengar suara tawa profesor makin kencang dan aura hitamnya semakin besar. Aura hitam itu kini membentuk bola yang mengelilingi tubuhnya. Profesor di tengah lingkaran bola itu  menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada. Segaris bayangan hitam meluncur cepat dari bola hitam itu ke langit. Setelah beberapa detik, bumi menjadi gelap gulita karena tertutup lapisan berwarna hitam yang terbentuk dair kekuatan Profesor itu.

Saat tertutupnya langit, seluruh manusia di bumi pingsan tak sadarkan diri. Profesor yang sekarang diam, tba-tiba membesar dengan diikuti perubahan fisik tubuhnya. Novi dan Rom menyaksikan kejadian itu dengan penuh kengerian. Hal menakutkan yang tadi diperlihatkan oleh seorang pria dalam tubuh Rom benar-benar terjadi. Bahkan lebih menakutkan…

Iklan