HEART SPEAKER

Alfian Daniear

Kilau mentari yang baru muncul dari peraduannya sungguh indah menghiasi ufuk timur. Warnanya kemerahan seperti buah pepaya yang akan matang, berpendar lamban menunggu waktu munculnya datang. Pelan-pelan ditampilkan tubuhnya yang berpijar, membuat siapapun yang melihatnya tak sabar.

Semerbak harum bunga dan tanaman-tanaman hutan menyeruak. Aku yang bertengger pelan di atas pohon tempatku berada sekarang sejak beberapa hari yang lalu merasa terhibur. Aku sama sekali tidak tidur sejak aku tiba di sini. Memang aku tidak diciptakan untuk tidur, bahkan untuk mengantuk sekalipun. Diriku terbentuk agar selalu ada dan siap memberitahu siapa saja yang mau bertanya padaku, mengajari siapapun yang mau belajar padaku.

Aroma harum ini begitu menentramkan.

Di seberang pohon yang lain ada seorang gadis yang luar biasa cantik sedang duduk di salah satu cabang pohon besar. Dia sedang melantunkan melodi alam indah dalam bahasa yang mungkin tidak bisa dimengerti manusia biasa.  Bahasa yang pelafalannya sangat tidak jelas. Bahasa yang hanya dikuasai kaum gadis itu dan juga aku, bahasa Naturspell.

Gadis itu terus menyanyi dan tersenyum, tak sadar aku sedang mengamatinya. Digerak-gerakannya kedua tangannya yang indah, seperti sedang menari. Bersama itu pula aku bisa melihat sekumpulan tunas bunga lili muncul di permukaan tanah, lahir tiba-tiba dari bumi.  Mereka tertawa-tawa menyaksikan indahnya dunia untuk pertama kalinya pagi ini.

Lantunan merdu suara gadis itu belum berhenti.  Sesekali suaranya memelan, terkadang tiba-tiba melengking. Daun-daun di pepohonan yang sempat layu semalam kembali segar, hijau cerah penuh semangat. Lagu yang mengalun dari gadis itu bagaikan pupuk yang dicampur air berkah, membuat tanaman-tanaman menjadi bergairah menyambut indahnya pagi yang cerah.

Suara semak yang bergemerisik di bawah pohon tempatku berada membuatku terusik dari buaiannya nada. Aku yakin ada yang datang.

Benar saja, seorang pemuda dengan busur panah dalam genggamannya telah berdiri tepat di bawah pohon. Dia merapatkannya tubuhnya di pohon, berusaha agar dia tak terlihat oleh si gadis.

Tatapan mata pemuda itu meyakinkanku kalau dia jauh lebih terbuai dariku. Pandangannya tak lepas sedikitpun dari sang pelantun melodi. Senyum tak henti-hentinya merekah di bibirnya.

Kulihat pemuda itu dan gadis di cabang pohon secara bergantian, berulang-ulang. Aku merasakan ada yang lain yang kurasakan. Rasa yang sudah agak lama tak pernah kualami lagi. Rasa yang kualami setiap aku mendapatkan tugas mulia.

Tiba-tiba seekor elang hinggap di sampingku. Dia mengangguk-angguk pelan kepadaku. Awalnya aku senang saja. Tapi akhirnya aku sadar kalau aku sedang dalam sasaran. Pemuda tadi sudah menyadari hewan buruannya bertengger di sampingku. Dibidiknya elang ceroboh itu. Dan anak panah melesat ke tempatku berada. Aku panik. Tak tahu harus berbuat apa.

Haap! Sesuatu yang sangat aneh terjadi. Si elang menangkap anak panah yang melesat cepat dengan paruhnya. Tampangnya tampak biasa saja melakukan hal itu. Tapi bagiku itu hal yang setengah konyol.

Pemuda itu merasa bidikannya tepat. Dia memanjat pohon cepat-cepat. Kurasa dia jauh lebih terkejut dariku saat melihat anak panahnya sedang digigit elang.

Elang ajaib itu melepaskan anak panahnya lalu terbang. Si pemuda yang masih terheran-heran secara tak sengaja melihatku. Dielusnya permukaan tubuhku pelan. Dia tampaknya tertarik padaku. Tanpa ragu dimasukkannya diriku ke dalam kantong yang dia bawa. Kantong ini agak kekecilan sehingga aku masih bisa melihat keluar.

Pemuda itu baru sadar saat si gadis tampak terperanjat menatapnya. Gadis itu segera beranjak dari duduknya, lalu lenyap di balik pohon.

***

“Hai!” sapaku pelan.

Pemuda tadi tampak bingung mencari sumber suara.

“Apa kabar?” tanyaku lagi dari atas meja tempat pemuda itu meletakkan tubuhku.

Dia menatapku ragu dan heran.

“Iya, ini aku yang bicara,” kataku lagi. Aku harus selalu mengucapkan kata-kata ini setiap pertama kali bertemu manusia.

“Kau bisa bicara?” tanyanya terkejut.

Aku sebenarnya ingin mengangguk, tapi aku tercipta tanpa kemampuan itu.

“Apakah ini sihir?”

“Aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya,” jawabku sekenanya.

“Namaku Elung,” katanya sambil mengajakku bersalaman.

Aku berdehem pelan.

Dia menarik tangannya tergesa-gesa.

“Kau sudah tahu kalau aku buku,” kenalku.

“Ya, buku yang bisa berbicara,” dia tersenyum. “Apa kau sahabat gadis tadi?” dia tampak  sangat ingin tahu saat mengucapkan kalimat ini.

“Peri tadi?” tanyaku memastikan.

“Ya, peri yang sangat cantik.”

“Kau menyukainya?”

Elung diam sesaat. “Entahlah. Aku tak tahu bagaimana perasaanku.” Dia melengos dariku beberapa detik. “Apakah kau mengenalnya?”

“Aku baru melihat dia beberapa hari yang lalu.”

“Bagaimana kau bisa ada di sana? Apakah kau juga bisa berjalan?” dimainkannya dua jarinya, telunjuk dan jari tengah, seperti kaki yang berjalan di atas meja.

“Dalam arti sesungguhnya tidak. Tapi aku terkadang bisa tiba-tiba menghilang dan berpindah tempat.”

“Kenapa bisa begitu.”

“Entahlah.”

Kami terus berbincang-bincang di dalam rumah itu. Elung tinggal di sebuah rumah pohon di bagian lain hutan. Orang-orang di sana semuanya membangun rumah di atas pohon.

Saat malam tiba Elung menimangku sambil berjalan keluar. Dia menyusuri jembatan kayu yang melintang menghubungkan dua pohon yang cukup besar. Panorama desa di atas pohon molam itu sungguh indah. Banyak jembatan-jembatan serupa yang menghubungkan antar pohon, menjadi jalan bagi manusia. Obor-obor disusun sedemikian rupa menerangi keremangan malam.

“Kau belum menceritakan siapa dirimu,” Elung berbisik. Dia sepertinya takut ada orang lain yang mendengar perbincangan kami.

“Buka saja lembaran-lembaranku.”

Dia membuka pelan-pelan sampul tubuhku. Dia mencoba membaca dalam keremangan. Dia mengernyit. Dia bergeser ke dekat obor, mencari sumber cahaya. Dia mengernyit lagi.

“Bahasa apa ini?” tanyanya.

“Naturspell.”

“Naturspell?”

“Bahasa bisikan alam. Bahasa kaum peri seperti yang tadi kau lihat.”

“Aku tak mengerti bahasa ini. Suku kata satu sama lain sangat mirip dan serupa. Kurasa ini hanya akan terucap seperti senandung atau gumaman saja.”

“Naturspell memang bahasa yang unik. Bagi kaum peri, Naturspell seperti mantra, karena mereka bisa membuat pepohonan melakukan yang mereka mau. Tapi juga sangat berbeda dengan mantra. Jika mantra pelafalannya tegas dan bernada seperti sebuah perintah, Naturspell justru sebaliknya, nadanya halus dan tidak tergantung pada pelafalannya. Naturspell lebih menekankan pada perasaan si pengucap dalam menyampaikannya. Sama sekali diucapkan bukan sebagai suruhan, namun lebih tepat sebagai permohonan dan rayuan.”

“Sungguh menarik. Apa aku bisa mempelajarinya?”

Aku bingung untuk menjawabnya. Karena dalam sejarah para pengguna Naturspell belum ada manusia yang tercatat bisa menguasainya. Bahasa ini sangat sulit dipelajari. Semua pengucap Naturspell memperoleh kemampuan melalui anugerah. Mereka semua meraihnya secara alami tanpa mempelajarinya, kecuali satu mahkluk, makhluk yang sangat kutakutkan.

“Kuharap kau mampu,” kataku akhirnya.

Dia diam sejenak, seperti sedang mencoba mengucapkan kata-kata dalam lembaranku dalam hatinya.

“Aku pasti bisa,” dia tersenyum penuh keyakinan, membuatku merasa bersalah tidak mengungkapkan yang sebenarnya.

Dia masuk kembali ke dalam rumah pohonnya.

“Kau mendengarnya?” tanya Elung tiba-tiba. Dia baru saja terbangun dari tidurnya di tengah malam. “Dia bernyanyi lagi,” katanya gembira.

Aku yang memang terus terjaga mengiyakannya. Sebenarnya ada keheranan yang kupendam. Elung tidak bisa bahasa Naturspell, tapi bagaimana dia bisa mendengar nyanyian peri dalam Naturspell. Aku belum bisa menyimpulkannya.

Elung tiba-tiba menarik tubuhku dan memasukkanku ke kantong bekalnya. Aku hanya bisa merasakan guncangan ketika dia berlari menembus malam, menjelajahi hutan rimba yang begitu lebat dalam nuansa gelap pekat.

“Kenapa dia seorang diri?” tanyanya setelah sampai.

“Mungkin yang lain sedang mengembara, berkelana mencari tanah tempat tinggal baru,” kujawab pertanyaannya semauku.

“Bisa jadi,” dia setuju denganku.

Elung terus berdiri di sana. Mendengarkan tiap lirik merdu nan menyihir dari peri. Dia seakan-akan tahu apa makna nyanyian itu. Tapi aku ingat kalau dia tidak menguasai Naturspell.

Elung akhirnya tertidur sambil bersandar di pohon tempatnya memandang peri.

***

Pagi hari berikutnya hadir bersama fajar yang menyingsing. Sebuah belaian lembut membangunkan Elung. Aku begitu gugup meski hanya menyaksikannya. Peri cantink bergaun merah telah duduk di samping Elung bersandar. Dia berusaha membangunkan Elung.

“Lovina,” ucap peri tadi sambil menaruh telapak tangannya di depan dadanya.

“Elung. Kamu bisa bahasaku?” tanya Elung ragu.

Si gadis menjawab dengan kata-kata yang mirip senandung, panjang dan sangat mirip antar penggalan kata yang diutarakannya.

“Kamu tidak bisa ya?”

Seharian ini aku hanya diam mengikuti Elung dan Lovina yang sedang berkomunikasi tanpa suara. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya. Mereka tampak sedang berbincang-bincang. Mungkin sedang memperbincangkan aku.

Mereka terus berpandangan seperti mengutarakan kata-kata melalui pancaran mata. Tapi seperti kataku tadi, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari bibir mereka.

Aku sudah sampai dalam puncak kebosananku ketika Elung meraih tubuhku. Dia mengelus sampulku yang berwarna coklat berukirkan dedaunan pelan, lalu menyerahkannya pada Lovina. Aku merasakan perpindahan yang sangat berbeda. Mungkin karena aku dulu ditulis langsung oleh para peri, aku merasa berbeda jika tangan peri yang menyentuhku. Rasanya damai dan tenang. Sangat berbeda jika ada manusia-manusia serakah yang menyentuhku. Disentuh mereka saja rasanya panas. Tapi untuk kasus Elung, aku menemukan nuansa yang berbeda. Tidak selembut sentuhan peri, namun sedamai belaian peri. Aku yakin ini karena Elung adalah manusia yang baik.

Lovina membukaku dengan hati-hati. Dibacanya apa yang tertulis di permukaan lembaranku. Seketika beberapa capung datang. Bukan capung biasa. Mereka memiliki sayap perak yang berpijar berkilauan indah sekali.

Capung-capung itu mengelilingi Lovina dan Elung sambil terus berkelip. Sayap mereka mengepak pelan tanpa suara.

Lovina membalik lembaran ke halaman selanjutnya. Sekali lagi dia mengucapkan Naturspell yang tergores di lembaranku. Seketika bunga-bunga lili yang tumbuh di tanah bermekaran, menebar semerbak aroma harum yang memikat.

Halaman-halaman yang dibaca Lovina tadi merupakan ucapan hati Elung yang tak bisa disampaikan melalui kata. Tapi perasaan Elung berhasil menuliskan yang ingin dia curahkan melalui halaman tubuhku.

“Sudah hampir malam. Aku harus pulang,” kata Elung.

Lovina tampak muram saat Elung akan pergi. Dia tampaknya sudah bosan kesepian sendiri di tengah hutan. Diserahkannya aku pada Elung.

Elung membacanya. Seketika kerlap-kerlip seperti bintang muncul di sekitar mereka.

Elung menatap Lovina.

“Aku akan datang lagi,” kata Elung. “Aku janji.”

Lovina tersenyum.

Elung berlari kencang menerjang semak belukar. Dia buru-buru agar tiba di desanya sebelum malam. Tapi matahari sudah terbenam sebelum Elung melintasi jurang di bagian lain hutan. Dia harus melintasinya agar tiba lebih cepat di desanya.

Saat Elung melintas di tepi jurang, ada suara kepak sayap yang keras terdengar. Elung berusaha mengabaikannya. Suara kepak sayap itu berulang terus. Elung berhenti mengamati langit yang terhampar tanpa bintang malam ini. Suara itu menghilang. Elung berlari lagi. Suara itu terdengar lagi.

Elung berhenti dan bersembunyi di balik pohon. Dia merasa ada sesuatu yang terbang yang mengikutinya. Aku terus mengamati sekitarku.

“Berhati-hatilah, El!” kataku pelan sekali.

Elung hanya mengangguk sedikit.

“Kau tak bisa bersembunyi dari, anak manis!”

Suara itu begitu mengerikan, terlontar dari sosok yang tak kalah mengerikannya, yang tengah berdiri di belakang Elung.

Makhluk itu sedikit lebih tinggi dari Elung. Kedua matanya berwarna merah dengan titik hitam kecil di tengahnya. Merahnya menyala-nyala menebar kengerian, menyiratkan kelicikan. Kedua tangannya dihiasi cakar-cakar panjang yang siap menancap. Bahkan cukup bersentuhan saja dengan cakar itu, kulitmu akan robek. Taring berkilau mengerikan di antara gigi-giginya yang lain menunjukkan dia makhluk penghisap darah. Wajahnya pucat  seakan tanpa darah. Sementara sayapnya yang sudah berhenti mengepak, bertengger gagah di kedua punggungnya. Ukurannya cukup lebar, jauh lebih lebar dari sekadar bentangan kedua tangannya. Bentuknya serupa sayap kelelawar. Rambutnya yang panjang acak-acakan tersampir di sepasang sayapnya yang mengatup.

“Kau terkejut?” desisan menyela tiap patah kata yang terucap dari bibirnya.

“Kau?” Elung tak bisa berkata lebih banyak karena tubuhnya telah disergap makhluk yang telah menguntit dirinya itu.

Elung terbanting ke tanah, tubuhnya terseret di bumi hingga menghamtam batang pohon. Sementara aku terjepit di antara tubuhnya dan batang pohon itu.

“El!” panggilku pelan.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya, kedengaran sekali sedang menahan sakit.

“Dia makhluk berbahaya El!” kataku takut.

“Aku tahu…”

Makhluk bersayap tadi terbang ke angkasa, kemudian tiba-tiba menukik dengan kedua tangannya siap mencekik leher Elung.

“ELUNG!” peringatku.

Alih-alih menghindar Elung malah bergerak ke arah datangnya makhluk bersayap. Elung mengepalkan tangannya. Tangannya berhasil menghantam wajah lawannya, namun dia terhempas akibat dorongan tangan lawannya juga.

Elung segera bangkit dan menerjang makhluk bersayap yang masih mengerang akibat terlempar. Tapi makhluk itu telah membalikkan tubuhnya sehingga kepakan sepasang sayapnya menampar tubuh Elung cukup keras. Aku juga merasakan efek tamparan itu.

Tiba-tiba makhluk itu berhenti, diam di seberang Elung.

“Ternyata kau ada di sini.”

Dia tidak menatap Elung melainkan menatapku yang mengintip melalui kantong kekecilan tempatku berada.

“Aku sudah mencarimu.”

Ketika dia berbicara aku mulai mendengar nyanyian Lovina. Nyanyian yang lain dari biasanya. Nada lagunya menjadi terdengar tanpa pola. Pelafalan lembutnya menjadi kasar tak jelas. Ada sesuatu yang terjadi padanya.

“Apa yang terjadi pada Lovina?” Elung berbisik padaku.

“Aku tak tahu.”

“Serahkan buku itu padaku!” sela makhluk bersayap.

“Tidak akan!”

Tiba-tiba saja bunyi kepakan sayap datang dari langit. Seketika muncul beberapa makhluk serupa dengan yang baru saja dihadapi Elung. Tanpa basa-basi mereka menangkap Elung dan membawa kami terbang.

Kami dibawa ke sebuah lembah yang gelap. Ada banyak pepohonan gelap yang berdiri menakutkan di tempat itu. Samar-samar aku bisa melihat banyak sosok yang dikurung di penjara yang mereka buat dengan melubangi batang pohon besar. Mereka adalah peri-peri yang telah tertangkap terlebih dahulu. Inilah mengapa yang membuat Lovina tinggal sendirian di hutan. Aku tahu ini sebelumnya, tapi aku tak mau memberi tahu Elung. Aku takut dia akan gentar menjelajah hutan itu lagi. Karena dialah yang akan menyelamatkanku dari sebuah perburuan abadi mereka.

“LOVINA!” panggil Elung pada gadis bergaun merah yang baru saja dituntun beberapa makhluk berjubah menuju penjara yang masih kosong.

“Apa yang kau mau?!” bentak Elung kepada makhluk bersayap yang pertama ditemuinya tadi.

“Sharkulla, aku telah memasukan Lovina di tempatnya,” kata salah seorang makhluk bersayap lain pada lawan Elung.

“Lepaskan dia!” Elung menyergap Sharkulla. Pertempuran mereka pun terjadi lagi.

Elung memulai dengan tendangan kaki kanannya. Sharkulla telah sigap menghadangnya. Elung terlempar akibat tangkisan tangan Sharkulla yang cukup keras.

Peri-peri di sana tampak muram. Sepertinya ada kabut yang menghalangi akal mereka. Mereka serempak menyanyikan nyanyian yang membuat dedaunan pohon berguguran. Angin menjadi bertiup kencang. Kabut muncul di mana-mana.

Elung panik. Sharkulla juga mulai panik.

“Apa ini?!” Sharkulla heran ketika kabut mulai mengepung lembah muram itu.

“Mereka sedang melantunkan kemarahan mereka,” kataku pada Elung. “Sepertinya sihir yang Sharkulla gunakan pada mereka justru berbalik tak terkendali.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Bukalah aku. Bacalah aku sebisa mungkin. Lantunkan kata-kata yang ada dalam lembaranku.”

“Tapi aku belum bisa.”

“Kau pasti bisa.”

Elung menuruti perintahku. Dia membuka lembar demi lembar halamanku.

“Tetap tak bisa. Kabut menghalangi pandanganku.”

“Kau harus ingat Elung. Naturspell bukan mantra yang bisa kaubaca hanya dengan sepasang matamu. Bacalah dengan hatimu.”

“Dengan hati?”

Hantaman keras menerpa Elung. Dia terjerembab di tanah. Aku tak bisa melihat apa lagi yang dilakukannya. Sementara sentuhan dingin yang membuatku ketakutan terasa. Sharkulla telah menggenggamku.

Sharkulla mengucapkan sedikit mantra sehingga bagian tubuhku berkilau. Dia menelusuri kata demi kata.

“Aku akan menaklukan hutan ini. Aku akan mendapatkan Lovina di tanganku. Aku telah memilikimu. Kaulah buku yang menerjemahkan isi hati siapapun. Buku yang siapapun bisa melantunkan mantra pamungkasnya akan menjadi penguasa.”

Aku tak rela dia mengucapkan itu.

Sharkulla mulai melantunkan Naturspell secara tak jelas. Tapi tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang. Elung merebutku darinya.

Elung terus mencoba sesuatu yang tak dimengertinya, membaca dengan hati.

“Ini sulit sekali.”

“Membaca dengan hati adalah membaca setulus hati, Elung.”

“Aku pasti bisa.”

Elung mulai memejamkan matanya sambil berkonsentrasi penuh. Aku mulai mendengar kata hatinya.

“Aku bisa karena aku yakin. Aku yakin karena aku melakukan semuanya dengan tulus.”

Kilauan cahaya itu mulai muncul mengingatkanku pada masa berabad-abad yang lalu. Saat penulis pertamaku, yang seorang peri, mengungkapkan isi hatinya pada gadis peri. Tapi Sharkulla yang juga menyukai peri itu tak terima. Dia akhirnya bersumpah akan merebutku dari kaum peri. Dan dengan sebuah persekutuan sihir dia hidup abadi hingga sekarang. Dialah makhluk selain peri yang menguasai Naturspell. Makhluk yang selalu memburuku.

Aku memang tercipta dengan keistimewaan. Siapapun yang bisa melantunkan Naturspell dalam lembaranku, dia bisa mendapatkan siapapun orang yang dicintainya. Tapi Sharkulla tak pernah tahu kalau ketulusan hatilah yang sebenarnya menjadi kunci dalam membacaku.

Kilau cahaya menyerbu kabut dan memukulnya mundur. Aku mencari sumber cahaya itu. Dan aku menemukan pepohonan di sekitarku telah berkilau. Mereka yang tadinya muram telah cerah kembali. Mereka semakin cerah bersama terdengarnya teriakan Sharkulla dan para kaum. Mereka adalah bangsa penguasa Lembah Muram. Ketika Lembah Muram ditaklukan merekapun menjerit meratapi kekalahan. Cahaya suci dari pepohonan itu membuat mereka terbang jauh meninggalkan lembah yang kembali indah itu selamanya.

“Elung!” panggil Lovina. Dia berlari dari sekumpulan peri yang telah sadar dari mantra mereka.

Elung mulai berkata lewat hatinya. Dan aku diserahkannya pada Lovina. Lovina membalas lewat hatinya. Lalu aku kembali ke tangan Elung. Begitu terus menerus. Aku menjadi penerjemah ungkapan hati mereka.

Lovina menatap wajah Elung dengan senyuman yang membuatnya semakin cantik malam itu. Dan Elung balas tersenyum padanya.

Setelah itu Elung mulai mengucapkan Naturspell tersulit yang pernah ada. Naturspell yang tak terucapkan. Dan hanya Lovina yang mengerti ucapannya. Aku memang tak tahu, tapi aku yakin itu ungkapan cinta.

Aku tercipta sebagai penerjemah hati pengungkap cinta yang tak mampu berbicara lewat kata. Aku hadir untuk mempertemukan mereka dalam bahasa hati. Menampilkan kata lewat ketulusan mereka dalam bait-bait curahan rasa.

Tugasku yang sempat kukatakan lalu telah tuntas. Aku berhasil menyatukan Elung si manusia dan Lovina si peri. Aku telah meyakinkan Elung bahwa tak ada rasa yang tak bias diungkapkan. Tak harus lewat kata. Karena bagi mereka yang dianugerahi ketulusan hati tiada tara akan selalu melantunkan kejujuran dalam hati mereka.

“Terima kasih, Heart Speaker,” kata Elung dan Lovina padaku. Mereka menyebut namaku tadi dalam bahasa mereka. Ungkapan hati.

Elung telah menjadi manusia pertama pengucap Naturspell. Dan aku yakin masih banyak manusia yang bisa. Mungkin saja kalian salah satunya.

Iklan