INTI KHATULISTIWA

Catzlink

Saat masa perang dunia ke tiga telah lewat dan berganti dengan puluhan peperangan lainnya manusia tidak pernah mau tahu bahwa mereka telah membuat kesalahan besar. Berbagai peringatan tidak pernah mereka gubris sampai akhirnya sang matahari merasa waktunya untuk bertindak telah tiba.

Puluhan tahun berganti dan beberapa generasi terhenti. Namun manusia yang mengatakan diri mereka begitu hebat dan jenius tak dapat juga meredakan murka matahari. Ribuan orang mencari cara tapi jutaan jiwa pula lenyap karena jalan keluar yang mereka buat.

“Benarkah saat titik kulminasi, inti khatulistiwa akan muncul?” Sayoka menatap ayahnya dengan penuh harap. Menaruh harapan pada selembar legenda tua bukanlah hal yang masuk akal. Tapi saat semua rumus nyata tidak berhasil dan digantikan dengan puluhan keanehan yang mereka sebut dengan kisah dongeng, tidak menjadi masalah menyerahkan jiwamu pada selembar legenda, ayah Sayoka tersentak dari lamunan saat tangan kecil itu menarik lengan bajunya.

“Belum pernah ada yang menemukan inti Khatulistiwa, nak,” mereka mencoba kalahkan awan gelap.

“Tidak juga dirimu, Ayah?” ayahnya gundah. Hanya setitik harapan itu yang perlu Sayoka ketahui. Walaupun harapan itu terkubur di dalam perut bumi.

“Tidak ada yang tak dapat ayah temukan Sayoka, inti Khatulistiwa akan berada dalam genggaman kita,” suara ayah yang penuh kepercayaan diri membuat Sayoka tersenyum. Dan senyum itu akhirnya terkubur di dalam jiwanya.

Inti khatulistiwa. Sayoka mendengar beberapa pemuda mencoba menemukan inti khatulistiwa lagi. Dan kali ini dia terlalu lelah untuk menguping pembicaraan mereka. Sepuluh tahun ini Sayoka berkelana menelusuri tiap jengkal daratan yang tersisa di bumi, untuk menemukan inti khatulistiwa. Dia belum pernah memegang, bahkan melihat bagaimana rupa dari inti khatulistiwa. Hanya saja mendapatkannya merupakan satu-satunya tujuan hidup Sayoka.

Dia berjanji pada ayahnya saat usianya dua belas tahun, janji yang akan ditepatinya walau harus ditukar dengan nyawa. Dia melihat ayahnya terkubur dalam perut bumi tanpa dapat menolong. Ayahnya sudah meneliti tentang inti khatulistiwa selama berpuluh tahun, mencari titik kulminasi yang tepat dan lokasi asli tempat persembunyian inti khatulistiwa.

“Mau menyeberangi sungai, nak?” perahu kayu yang dikayuh Pak tua merapat. Sayoka menatap sungai Kapuas, sungai ini semakin keruh dan terdapat banyak jebakan gelembung panas yang menyembur setiap saat. “Berapa?”Pak tua itu tersenyum. “Tiga krat” sebelum Sayoka duduk di dalam sampan Pak tua itu kembali berkata “Akan kukembalikan tiga kali lipatnya kalau kau bisa kembali dari daratan seberang, nak,” Sayoka menatap dan mengunci janji Pak tua itu.

Daratan seberang, dulu daerah ini termasuk aman. Tapi setelah matahari terpecah dua dan terhempas ke dalam lubang hitam semuanya menjadi berbeda. Daratan ini menjadi kelam dan suram. Musim-musim menjadi kacau. Tidak ada Negara adidaya yang dapat bertahan melawan kehendak alam. Hanya inti khatulistiwa yang dapat menjalin kembali matahari, itulah legenda yang selalu Sayoka dengar. Dan karena legenda itu pulalah ayahnya mengali hingga ke perut bumi.

“Apa untungnya bagi kita kalau menemukan inti khatulistiwa dan membuat matahari kembali utuh, Ayah?” senyum ayah kembali berputar di ingatannya. “Kehidupan akan menjadi lebih baik. Segala tata surya bisa kembali pada jalurnya, nak”

“Ke manakah pencipta semesta saat ini? Mengapa dia membiarkan …?” ayah menutup mulut Sayoka dengan cepat.

“Sang pencipta telah berusaha menyadarkan kelalaian kita. Hanya saja kita terlalu membuat Dia marah. Bersyukurlah, Sang pencipta masih menyisakan harapan untuk kita. Matahari yang masih ada sebelah itu adalah janiinya untuk kita,” Sayoka tersentak dari lamunannya. Dia menatap peta dan kompasnya.

Lokasi titik kulminasi harus segera dia temukan, bila tidak semua usahanya sia-sia. “Kali ini pasti, aku tidak akan kalah lagi ayah,” Sayoka mengenggam kalung bermata zamrud pemberian dari ayahnya.

Pohon ulin yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari yang memang sudah redup. Walaupun matahari itu bersinar redup tapi lidah-lidah apinya terus memercik. Pohon-pohon ini telah bertahan hidup, mereka membentuk batang yang keras dan kokoh, daun yang lebar serta licin bagai kaca. Sayoka menerobos rumpun-rumpun lidi, menebas daun-daun ketasena – rumpun perdu yang memiliki bulu disetiap lembar daunnya, bisa menjadi racun yang sangat kuat.

Perjalanan memasuki daratan seberang semakin sulit. Langkah kaki Sayoka semakin berat, matanya pun mulai mengantuk. Menurut perhitungannya titik kulminasi akan muncul tepat pukul 12 besok siang. Dan sampai saat ini Sayoka belum lagi tiba di tempat pertemuan nol derajat itu.

Dulu, para peneliti mengatakan bahwa posisi kulminasi berada tepat di tempat mereka mendirikan tugu Khatulistiwa. Hanya ayah Sayoka yang meragukan dan tetap berkutat dengan pencariannya. Banyak kota yang dilalui oleh garis Khatulistiwa ini, tapi hanya sedikit yang tahu bahwa sebenarnya titik kulminasi utama hanya terletak pada satu titik utama. Sayoka sudah menemani ayahnya menjelajahi semua kota-kota yang berada dalam rentang Khatulistiwa dan pencarian mereka akhirnya membawa mereka ke kota Pontianak.

Suara burung Jrungek yang memekakkan telinga, menyadarkan Sayoka dari lelapnya sesaat tadi. “Harus bergegas,” Sayoka memaksakan raganya yang letih untuk mengejar waktu. Sayoka melompati parit kecil yang penuh dengan ular kring – ular yang berukuran kecil namun memiliki sisik yang sangat tebal. Kompas enggangnya mengeluarkan bunyi. “Kita hampir sampai di tujuan, ayah

Sayoka menatap gerbang batu yang telah rubuh. Tangannya mencengkram gagang pedangnya, sementara matanya mengawasi situasi sekeliling. Langit malam ini lumayan bersahabat, sedikit cahaya dari bulan membuat Sayoka lebih tenang.

Kakinya melangkah, memasuki reruntuhan gerbang. Rupanya di dalam gerbang dan pagar batu yang tinggi terdapat makam tua yang sudah rusak dan tak terurus. Sayoka berusaha menyingkirkan dahan dan batu-batu yang menghalangi jalannya. Tangannya mencoba membersihkan makam tua. Dia melihat ukiran huruf berwarna merah di batu nisan.

“Sepertinya makam ini adalah makam orang yang kaya dan terpandang di jaman dulu,” ikat kepalanya digunakan untuk membersihkan nisan makam. Sayoka menunduk, mencoba membaca tulisan yang terdapat di makam. “Hwei Kuang Sin” ucapnya pelan. “Di sini tertidur putri Cahaya Hati, selir Sultan Syarif Masrif Al Amari,”

“Nafasnya terkunci pada titik tanpa derajat.

Detak nadinya berhenti saat bayangan tak terlihat.

Darah membeku kala panas membakar

Dan padanya kuberikan Kosong”

Sayoka tertegun menatap rangkaian kata yang terukir. Apa maksud yang terdapat dalam puisi itu. Kompas enggangnya kembali berbunyi. “Benar, di sinilah letak titik kulminasi. Tapi dimana inti Katulistiwa?”

“Mungkin sebaiknya aku membongkar makam ini, siapa tahu terdapat rahasia di dalamnya,” Sayoka mencari batang kayu yang besar dan mulai membongkar satu persatu lapisan makam.

Matahari setengah muncul lebih cepat dua jam hari ini. Dua belas jam lagi matahari akan berada pada titik nol derajat, dan Sayoka belum bisa menemukan di mana letak rahasianya. Makam itu memiliki sebuah pintu, Sayoka mengunakan pedang untuk membuka pintu makam. Namun sia-sia saja. Dilihatnya bentuk kunci makam sangat mirip dengan kompas enggang miliknya. Dengan berharap cemas Sayoka memasukkan kompas enggang. Lima menit berlalu, belum juga ada tanda makam akan terbuka, bergerak sedikitpun juga tidak pintu makam itu.

Akhirnya dia kembali mengambil kompas enggang dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Tiba-tiba saja pintu makam terbuka dan sebuah tangga terhampar dihadapannya. Sayoka melangkah dengan hati-hati. Dia menghitung setiap anak tangga yang dituruninya. 365 anak tangga hingga Sayoka mencapai sebuah pintu lagi. Sayoka memasukkan angka 365 saat pintu itu meminta password, dan ternyata berhasil.

Ruangan makam memiliki cahaya yang redup. Dihadapannya terdapat ruangan berukuran dua puluh kali dua puluh kilan. Di setiap sisi dinding ruangan segi empat itu terdapat gambar aneka musim. Sayoka dihadapkan dengan sebuah tangga berwarna merah muda, dia menghitung jumlah anak tangganya tiga puluh satu buah. Kemudian dilanjutkan dengan anak tangga berwarna merah yang berjumlah dua puluh Sembilan buah. Hingga gerbang ke dua belas, akhirnya Sayoka menyadari kalau setiap gerbang mewakili bulan dalam kalender. Gerbang ke dua belas dengan anak tangga berwarna seputih salju, membawa Sayoka menuju ruangan dengan dinding semu.

Setiap sisi memiliki corak tersendiri, 12 sisi dan semuanya berbeda tanpa dapat tersentuh. Setiap kali Sayoka mencoba menyentuh dinding itu akan menjauh. Matanya menatap sebuah ruangan lubang kecil yang berada tepat di tengah-tengah ruangan. Baru saja dia mengayunkan kakinya, dua belas pilar besi muncul dari tiap dinding dan mengarah kepadanya. Sayoka berlari dan melompat masuk ke dalam lubang sebelum pilar-pilar itu menghantam kepalanya.

Badannya terasa sangat sakit,dia merasakan salah satu kakinya terkilir. “Ruangan apa ini?” saat matanya menyapu ruangan dan mendapati hanya warna putih yang terlihat. Gumpalan asap yang membentuk awan lembut terbang di dalam genggamannya. Sayoka mencoba mengusir awan-awan dari pandangan mata. Meraba-raba tanpa kepastian, hingga akhirnya dia menyadari seorang gadis berambut sangat panjang sedang mengerakkan alat tenun.

“Siapa kamu?” mata gadis itu menatap Sayoka dengan tajam.

“Tidak sopan! Harusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Mengapa kamu memasuki tempat kediamanku tanpa ijin?” gadis itu memperhatikan Sayoka dari atas hingga ke bawah. Sementara tangannya masih saja mengerakkan alat tenun.

“Namaku Sayoka, aku mencari inti Khatulistiwa,” gadis itu tertawa.

“Tertipu cerita legenda?” ucapnya dengan tawa mengejek.

“Tidak. Aku yakin, inti khatulistiwa itu ada,” Sayoka mendekati.

“Yah, untuk apa?” akhirnya tangannya berhenti juga mengerakkan alat tenun.

“Mengembalikan matahari,”

“Omong kosong” teriak gadis itu sebelum Sayoka sempat menyelesaikan penjelasannya.

“Tidak ada yang dapat mengembalikan keutuhan matahari, tidak juga inti Khatulistiwa,” Sayoka terdiam. Sia-siakah usahaku selama ini, ucapnya dalam hati.

Tangan sang gadis terulur pada ruang kosong, tapi dia terlihat seperti sedang melipat sebuah kain. Sayoka menatap dan hanya terdiam. “Matahari tidak akan kembali utuh bila bukan kemauannya sendiri. Dia hanya menyembunyikan diri,” kata-kata si gadis membuat Sayoka merasa bingung.

Ditatapnya tangan si gadis yang membawa kekosongan namun terlihat sangat hati-hati. “Sutra cahaya, terlalu lembut dan licin. Sangat susah dilipat dan ditenun,” menjawab kebingungan Sayoka.

“Tidak ingin bertanya mengenai inti khatulistiwa lagi?” si gadis mulai mengerjakan tenunannya lagi. Kali ini Sayoka bisa melihat angin dan awan berlari seiring alat tenun itu dimaju dan mundurkan.

“Apa maksudmu dengan matahari yang bersembunyi. Bagaimana mungkin? Sebelah?” Sayoka tidak tahu harus mulai bertanya dari mana

“Kalian terlalu sombong tidak memperhatikan alam semesta,” matanya menusuk dengan tatapan menuduh.

“Oh iya, mengapa kamu mengetahui semua ini sementara kamu terkurung dalam kuburan tua,” Sayoka menatap si gadis dengan tatapan mengejek.

“Angin, awan, tanah, air serta sahabat kecilku mengabarkan setiap kabar yang mereka ketahui. Aku mengetahui lebih banyak daripada kamu mahluk dunia atas,” senyum kemenangan menghiasi wajahnya.

“Siapa kamu sebenarnya? Kalau kamu adalah Hwei Kuang Sin sesuai dengan yang tertulis di batu nisan, bukankah sudah seharusnya kamu telah mati 2500 tahun yang lalu,” Sayoka menatap si gadis dengan perasaan ngeri. Apakah dia bertemu dengan hantu? Atau dia yang telah mati?

“Terlambat sekali kau baru menyadari kalau aku seharusnya sudah mati 2500 tahun yang lalu.” Si gadis mengucapkannya dengan nada datar namun ekspresi wajahnya terlihat sedih.

“Aku memang seharusnya sudah mati. Namun waktu berhenti di tempat ini. Aku tidak mati, tidak bisa walaupun aku sangat ingin,” ruangan itu tiba-tiba menjadi terang benderang.

“Kau! Cepat ikuti aku,” si gadis menarik tangan Sayoka. Menariknya melalui awan-awan dan berhenti pada sebuah dinding berwarna perak. Tangannya menarik dinding itu dan dalam sekejap dinding itu terbuka. Si Gadis mendorong Sayoka dan menutup kembali dinding itu.

“Kuang Sin,” teriakkan mengelegar membuat nyali Sayoka menciut. Hanya suara langkah kaki yang berat yang terdengar. “Mengapa kamu tidak menyahut? Lupakah kamu? Aku paling tidak suka kalau harus menunggu,” Kuang sin, ternyata gadis itu memang bernama Hwei Kuang Sin.

“Saya terlalu sibuk dengan tenunan yang kau perintahkan,” Sayoka mendengar nada pemberontakan dalam suara Kuang Sin.

“Gadis manis, nyawamu milikku. Dan walaupun kamu saat ini merasa sombong, tapi saat kamu membutuhkan inti Khatulistiwa, saat nafasmu pergi dari ragamu. Aku pastikan kamu akan memohon padaku seperti yang selalu terjadi,” tawa menyebalkan itu membuat Sayoka geram.

“Panglima Bajra, aku selalu mendoakan dirimu, dengan sepenuh hatiku,” Panglima Bajra tertawa puas.

“Mendoakan, semoga jiwamu membusuk di neraka,” ucap Kuang Sin dengan amarah yang memuncak.

“Aku penjaga inti Khatulistiwa, seperti yang sudah dititahkan sultan kita yang terlalu mudah ditipu itu,” Sayoka mencoba mengeser dinding perak, agar dapat melihat percakapan mereka berdua.

“Dan dengan inti khatulistiwa di tanganku, aku abadi dan tak terkalahkan,” panglima Bajra mengeluarkan sebuah kotak kristal kecil berukuran setelapak tangan anak kecil. Dan ketika membuka kotak tersebut terlihat sebuah bola yang bersinar seperti matahari. “Inti Khatulistiwa, hadiah sang Sultan untuk selir kesayangannya yang lebih memilih mati daripada menjadi selir,” panglima Bajra menutup kembali kotak kaca.

“Tenun saja kain cahaya itu, maka akan kubiarkan kau mendapatkan energy inti khatulistiwa pada saatnya nanti,” Panglima Bajra baru saja akan meninggalkan ruangan itu saat Kuang Sin berteriak padanya “Kau, aku sudah tahu titik kelemahanmu,”

“Jangan mengucapkan kebohongan yang membuat jiwamu sesat gadis manis,” panglima Bajra melempar kayu penenun ke wajah Kuang sin. Panglima Bajra mengangkat tubuh Kuang sin dan melemparnya tepat menghantam dinding perak. Sayoka terkejut, dia melompat keluar dan membantu Kuang Sin tanpa menyadari tatapan membunuh panglima Bajra.

“Siapa kamu? Hanya aku yang dapat membuka makam terkutuk ini,” pedangnya terhunus, matanya mengandung amarah.

“Kau? Bukannya dirimu adalah Naranhata – sebutan untuk penguasa baru daratan,” Sayoka tertegun saat melihat dengan jelas wajah pria yang dipanggil sebagai panglima Bajra.

“Zamrud khatulistiwa, kalungmu adalah inti dari pedangmu. Letakkan zamrud khatulistiwa pada gagang pedang Amine milikmu,” bisik Kuang Sin.

“Bagaimana kau tahu kalau aku memiliki zamrud dan pedang amine?” Kuang Sin terlihat kesal.

“Karena pedang itu milik sultan, dan dihadiahkan kepada penasehat dari barat. Sepertinya penjelasannya akan kuberikan nanti lagi, sekarang serang panglima berengsek itu dan keluarkan kita dari tempat terkutuk ini. Aku sudah bosan menenun, aku ingin keluar walaupun saat keluar dari sini bisa saja nyawaku hilang dari raga,” Kuang Sin menarik kalung Sayoka dan meletakkan zamrud Khatulistiwa pada gagang Amine.

“Sepertinya kamu juga harus lenyap dari dunia ini. Tenang saja, aku akan melakukannya dengan sangat cepat,” panglima Bajra mengeluarkan sebuah pedang dan mulai menyerang Sayoka. Posisi Sayoka yang masih berlutut membuatnya susah mengelak. Dia  terkena sabetan pedang panglima Bajra.

Darah mengucur dari salah satu lengannya. Sayoka merasakan sebuah kain lembut membungkus lengannya dan darahpun berhenti mengucur. “Mengotori kain cahayaku dengan darahnya, penghinaan!” Panglima Bajra meraung dan mulai menyerang lagi. Kali ini Sayoka lebih cepat, dia menarik Kuang Sin dan menghindar dari sabetan pedang.

Sayoka mengerti keadaan tidak memperbolehkan dia lenggah sedikitpun. Saat Sayoka menghunuskan pedangnya ada perbedaan besar yang terasa. Pedang Anime terasa lebih ringan, dan bergerak seirama dengan detak nadinya.

Panglima Bajra mengarahkan pedang ke perut Sayoka, dengan cepat pedang Anime menahan serangan tersebut. Sayoka berusaha menahan kekuatan panglima Bajra, kedua pedang beradu. Percikan bunga api terlihat. Sayoka mengumpulkan tenaganya dan mendorong panglima Bajra hingga terhuyung ke belakang sejauh dua meter.

Dalam satu kali lompatan dia berhasil mendekati panglima Bajra. Sayoka menendang pedang yang berada dalam genggaman tangan sang Panglima. Tanpa memperhitungkan gerakan kaki panglima Bajra yang cepat, Sayoka terjatuh saat kakinya di jegal. Mereka berusaha saling mengunci gerakan lawan. Terjadi pergumulan yang lama sebelum akhirnya panglima Bajra berhasil mencekik leher Sayoka dan menariknya ke atas.

Kuang Sin keluar dari persembunyiannya, dia melemparkan debu emas ke mata panglima Bajra “Tutup matamu Sayoka,” teriaknya. Sayoka sudah memperhitungkan gerakan yang akan dibuat Kuang Sin tanpa mengetahui dari mana asalnya pemikiran itu. Debu emas membuat mata panglima Bajra buta. Cekikan di leher Sayoka mengendur. Sayoka memanfaatkan situasi itu untuk membebaskan diri.

“Ambil inti khatulistiwanya! Cepat!” Kuang Sin berlari menghampiri panglima Bajra yang masih kesakitan. Sayoka dengan cepat menahan tangan sang panglima sementara Kuang Sin mengeledah. “Sudah,” Kuang Sin menarik tangan Sayoka.

“Kita harus segera pergi dari sini, kunci dia di ruangan tanpa waktu.” Kuang Sin berlari diikuti Sayoka. Mereka berlari terus, satu persatu pintu tertutup. Sayoka terengah-engah,mereka mencapai anak tangga terakhir. Kuang Sin dan Sayoka mengerahkan sisa tenaga untuk menutup pintu makam.

“Ini!” Kuang Sin memberikan inti Khatulistiwa kepada Sayoka.

“Bagaimana caranya mengunakannya?” Tanya Sayoka.

“Inti Khatulistiwa adalah janji cinta dari Matahari. Kamu harus memancing Sisi Kiri dari Matahari yang saat ini sedang bersembunyi,” Kuang Sin terus bercerita sementara langkah mereka semakin menjauh dari makam.

“Setelah itu, kamu harus menguntai kembali cincin pijaran. Sekali lagi mengunci janji mereka untuk tetap bersatu,” Sayoka terlihat semakin bingung.

“Jadi! Semuanya tidak selesai hanya dengan inti khatulistiwa?” Kuang Sin tersenyum

“Tidak ada yang instant, anak muda,” ucapnya.

“Bagaimana caranya memancing sisi Kiri Matahari kembali? Lalu menguntai cincin pijaran?” Sayoka terlihat kesal. Dia memang telah menganggam inti Khatulistiwa, memenuhi janjinya. Tapi ternyata tugasnya belum lagi selesai.

“Kalau begitu berterima kasihlah, karena aku akan menjadi teman seperjalananmu yang baik,”

“Tidak! Aku tidak mau membawa seorang gadis yang merepotkan,” teriak Sayoka.

“Aku! Merepotkan? Kamu tidak mau tahu cara menguntai cincin pijaran? Rahasianya ada padaku,” Kuang Sin tersenyum, sementara Sayoka merenggut.

=====

Inti Khatulistiwa memang sudah dia temukan, tapi ada tugas lain yang menunggunya. Matahari harus kembali utuh, aku berjanji Ayah. Dan tolong beri aku kekuatan untuk menutup telingaku dari gadis cerewet ini. Sayoka mengenggam ujung pedang anime, mencari sedikit ketenangan dan kekuatan dari peninggalan ayahnya.

Iklan