JEMMA DAN SANG NAGA

Light

“Mulai hari ini wortel pada sup anda berasal dari pemasok baru, karena pemasok sebelumnya gagal panen, apakah anda puas dengan kualitasnya?”

“Iya,“ jawab Jemma malas.

“Apakah anda nyaman dengan gaun tidur baru anda?” tanya pria gemuk dengan rambut mengkilat yang disisir ke samping.

“Iya,” Jemma menjawab tanpa berpaling pada pria itu.

Pria itu sedikit menghela nafas dan mengayunkan pena bulunya diatas perkamen kaku.

“Apakah buang air besar anda hari ini lancar ?” tanyanya lagi.

Kali ini Jemma bereaksi, ia berpaling dan mendongak sebal pada pria gemuk, pria itu membalasnya dengan senyuman ramah yang dipaksakan.

“Bisakah kau berhenti mengurusi masalah pribadi bokongku?” ujar Jemma kesal, membuat pria gemuk panik dan pena bulunya bergetar.

“Maaf tuan putri, ini prosedur dari Yang Mulia Raja,” jawab pria itu gugup.

“Apakah kata ‘baik-baik saja’ tidak bisa dimengerti oleh orang dewasa―?” balas Jemma, “aku bahkan masih 12 tahun,”

“Sekali lagi maaf tuan putri, akan segera saya sampaikan pada Yang Mulia Raja―” jawab pria gemuk cepat-cepat, “―semoga tidur anda nyenyak,” imbuhnya.

Lalu pria itu berlalu―dengan kikuk melintasi kamar besar penuh ukiran dan juntaian kain sutra yang diselimuti cahaya emas dari kandelar-kandelar cantik, hingga tubuh gemuknya yang dilapisi tunik bergaris horizontal itu tertelan barisan papan dengan pengait besi kokoh. Terdengar debaman yang menggema meskipun pintu itu ditutup dengan pelan.

Jemma beranjak dari tempat tidurnya, mukanya berkerut saat dia merenggangkan otot-otonya sembari menghirup nafas panjang, lalu menghelanya dengan lega seolah baru lepas dari ‘belenggu-ujian-akhir’. Gaun tidur dengan pasmen emas indah terayun-ayun, ketika tubuh mungil Jemma melompat-lompat menuju balkon―tanpa memperdulikan retih api dari kerangka perapian berbingkai emas dengan pengorek mengkilat disebelah kiri ruangan.

Jemma menbuka jendela tinggi dihadapanya, kemudian menghambur ke balkon super luas, saking luasnya hingga mampu menampung mahluk besar berwarna merah yang meringkuk disana. Seekor Naga…

Melihat Jemma, naga itu mengibas-ngibaskan lehernya perlahan. Tanduknya yang berwarna gading dengan semburat merah dibagian pangkal, seolah menyala diterpa sinar bulan.

“Kau dengar tadi―?” Jemma bersuara, “apakah buang air besar anda lancar hari ini?” ujar Jemma mengajuk. “Entah apa yang ada dibenak mereka,“

Sang Naga membalasnya dengan terkekeh pelan, “Berhentilah bersikap seolah baru malam ini kau mengalaminya, Jemma,“ ujar naga itu akhirnya, dengan suara pria yang lembut.

“Aku rindu bibi Regina,” kata Jemma sembari memeluk leher Sang Naga. “Kau tau, hanya dia yang mengerti kata ‘baik-baik saja’,” imbuhnya. Kini Sang Naga mengelus-eluskan kepalanya ke punggung Jemma dengan lembut.

“Kau ingat kata-kata ajaibnya? Aku akan bahagia jika Sang Putri bahagia,” ujar Sang Naga, “maka tersenyumlah―dengan begitu kita bisa yakin bibi Regina juga tersenyum di surga,”

Mendengar perkataan Sang Naga, Jemma tersenyum sembari memeluk erat leher panjang sahabatnya itu.

“Baiklah, sudah waktunya Putri kecil tidur,” Sang Naga berkata sembari bangkit dan membuka sayap kelelawarnya yang sangat lebar.

“Kau mau kemana?”

“Patroli, tentu saja,”

“Aku ikut,”

“Hehe―kau bercanda kan―?”

“Kumohon…” rengek Jemma.

Sang Naga kembali menutup sayapnya sembari menoleh ke kanan-kiri seolah tengah membicarakan rahasia besar.

“Jemma, kita akan mendapat masalah―” bisiknya.

“Aku memaksa,” singkat Jemma.

Beberapa saat Sang Naga bimbang, lalu menghela nafas perlahan. “Baiklah, hanya untuk malam ini,”

Jemma tersenyum girang mendengar itu, lalu dengan lincah naik ke punggung kekar Sang Naga.

“Ingat, tidak ada api di udara, itu bisa menarik perhatian,”

“Baiklah makhluk agung,”

“Heeh―kau paling bisa memujiku,” ungkap Sang Naga, lalu tertawa bersama Jemma. Detik berikutnya terdengar deru angin yang dihempaskan oleh sayap Sang Naga. Kemudian keduanya melesat ke udara, memberikan warna baru pada lanskap hamparan bintang dan pendaran purnama.

***

“Saya melihatnya sendiri Yang Mulia,” ujar pria kerenpeng dengan jubah ungu mengkilap. Matanya yang juling memberikan kesan licik.

Jemma gemetar ketakutan―tak berani menatap ayahnya yang kini mulai bimbang diatas singgasana.

“Cronus, apakah kau yakin?” tanya Sang Raja dari bawah mahkota emas yang mengkilap tertimpa cahaya pagi, yang menembus jendela tinggi di sekeliling ruang singgasana.

“Sangat yakin Yang Mulia, karena saat kejadian itu―saya tidak menemukan Sang Putri di kamarnya,” ujar pria kerempeng, sembari melirik tajam ke arah Jemma. Disebelahnya, berdiri seorang bocah lelaki seumuran Jemma dengan muka runcing yang kini tengah menyeringai penuh kemenangan. Dia adalah Mervico, putra dari Mervana, selir Sang Raja. Bersama dengan ibunya dan Cronus―penyihir pendampingnya, Mervico selalu berusaha untuk menjatuhkan Jemma sejak Sang Ratu―ibu Jemma―meninggal ketika melahirkan Jemma.

“Ini benar-benar penghinaan,” ujar perempuan ceking bermuka mayat dengan gaun biru tua bertabur permata. Mata hitamnya tajam menyorot Jemma. Dialah Mervana. “Sang Naga telah melanggar aturan―dan dia harus dipisahkan dengan Sang Putri, selamanya,” imbuh Mervana dingin.

“Tidak,” Jemma memekik, sekarang ia mematap ayahnya dengan tatapan memelas.

Sunyi sejenak, hanya gerakan Nancy―pembantu kerajaan―yang terdengar, dengan segala bunyi peralatan pel-nya. Dari sudut ruangan, wanita tua itu sengaja melambatkan pekerjaannya. Tentu saja agar dia bisa mendapat bubur kalkun dan mead―minuman dari campuran air dan madu yang difermentasikan―gratis di Mersine Mankers, dengan menciptakan obrolan seru bertema ‘Sang Putri Yang Bersalah’.

“Jemma, kali ini sebagai ayah yang peduli kepada putrinya, sekali lagi aku bertanya, apakah yang dikatakan Cronus itu benar?” tanya Sang Raja dengan sorot mata tegas.

Jemma semakin panik dan ketakutan. Telapak tangannya mulai berkeringat dan dia mulai merasa mual. Sementara Nancy benar-benar menghentikan pekerjaannya dan semakin menajamkan indra pendenarannya.

“Itu tidak benar Yang Mulia,” ujar suara lembut tiba-tiba. Semua menoleh dan Nancy menjatuhkan mop-nya karena kaget.

Seorang wanita tua bermuka ramah mengenakan jubah abu-abu bercahaya, berjalan melintasi ruangan singgasana. Menghampiri Jemma yang kini merasa lega.

“Belturia…” desah Jemma.

“Maaf memotong pembicaraan anda, tapi yang dikatakan Cronus tidak benar,” ungkap penyihir pendamping Jemma itu. Lalu dengan anggun dia mengayunkan tongkat sihirnya yang berwarna putih pucat. Terdengar letupan pelan dan dari udara kosong muncul kotak emas dengan pita yang mengikat sendiri―melayang di udara. “Sang putri gugup karena takut anda tahu bahwa semalam beliau berada di ruangan saya―mempersiapkan hadiah spesial untuk anda,” kata Belturia lancar. Kemudian  ia menjentikkan tongkan sihirnya, dan kotak emas meletup―hilang―meninggalkan percikan bunga api kecil. Cronus dan Mervico sangat geram mendengar itu, sedangkan Mervana tertuduk sinis.

Wajah Sang Raja yang sedari tadi serius, kini tampak lebih cerah. “Apakah itu benar Jemma?” tanyanya.

“I… iya, aku…dan Belturia ingin membuat kejutan dihari ulang tahun ayah besok―”

“Tunggu Yang Mulia!” sela Cronus, “saya ingin Belturia menjelaskan ini,” imbuhnya, lalu meletakkan ujung tongkat sihirnya ―yang mirip sumpit emas―di tengah dahinya, sejenak ia memejamkan mata. Ujung tongkat itu berpendar ungu dan Cronus mengayuknkannya ke udara. Dari ujung tongkat itu muncul sulur asap ungu yang mencuat kelangit-langit, kemudian menggumpal dan membentuk adegan yang membaut Jemma panik.

Sekarang, di udara tampak adegan Sang Naga terbang melintasi langit malam lengkap dengan miniatur bulan purnama. Dipunggung Naga terdapat seseorang dengan gaun putih yang tampak kurang jelas, karena selain kecil, sosoknya terhalangi oleh sayap lebar Sang Naga. ‘Mantra Reka-Ulang’ entah sudah berapa kali Cronus melakukan itu pagi ini, untuk meyakinkan Sang Raja bahwa yang berada di punggung Sang Naja adalah Jemma.

“Bisakah kau jelaskan siapa penunggang itu? Jika bukan Sang Putri dengan gaun tidurnya,” tantang Cronus. Sang Raja kembali serius dan Belturia mencoba tenang menghadapi ini.

“Itu saya Yang Mulia” ujar suara dari belakang. Semua menoleh menangkap sosok bocah lelaki kumal dengan rambut berantakan.

Bocah pemotong kubis… Jemma membatin. Nancy kembali menjatuhkan mop-nya ketika kedua tangannya menutup mulutnya. Kali ini dia yakin akan mendapat sup salmon dengan obrolan bertema ‘Pudarnya Pesona Penyihir Oleh Bocah Pemotong Kubis’.

“Maaf saya lancang, tapi saya ingin mengaku bahwa semalam setelah saya selesai memotong kubis, saya merasa bosan dikamar―maka saya memutuskan untuk ikut membantu Sang Naga berpatroli,” ungkap bocah itu gugup, namun berani. ”Mengenai gaun putih, itu sebenarnya hanya celemek dapur yang lupa saya lepaskan,”

Sang Raja tertawa mendengar itu―bersamaan dengan lenyapnya ‘Mantra Reka-Ulang’ milik Cronus yang kini terlihat sangat kesal.

“Rupanya kau terlalu serius Cronus,” kata Sang Raja, “santailah sedikit, besok adalah hari ulang tahunku, dan kau―” ujar Sang Raja sembari menunjuk ke arah bocah pemotong kubis, “―kau boleh kembali kedapur,”dia mengakhiri. Lalu bocah pemotong kubis segera pergi ke luar ruangan setelah memberi hormat, disusul Nancy yang sudah tidak sabar untuk mengintrogasinya.

“Jemma, maafkan ayah―dan teruskan pekerjaanmu dengan Belturia, ayah janji akan terkejut dengan hadiah apapun yang kau berikan,” Sang Raja berbicara sembari tersenyum penuh kasih pada anaknya.

“Terima kasih ayah,” balas Jemma, bersamaan dengan umpatan bisu dari mulum Mervico.

***

“Aku membantu bukan untuk mendukung putri melakukan pelanggaran,” ujar Belturia serius dari atas tempat tidur Jemma. “Dan putri harus berterima kasih pada bocah pemotong kubis itu, selama ini dia selalu membantu putri,”

“Iya, aku mengerti, maafkan aku Belturia, tapi aku sangat bosan terkurung di sini, dan kau tidak pernah bertemu dengan orang yang setiap hari bertanya apakah buang air besar-mu lancar hari ini?’,

“Saya mengerti putri, tapi anda juga harus ingat bahwa Mervico dan ibunya akan terus berusaha untuk mencari kesalahan putri, mereka sangat ingin memisahkan anda dengan Sang Naga, karena dengan begitu syarat anda menjadi Ratu tidaklah lengkap tanpa Sang Naga, itu akan membuat tahta jatuh ke tangan Mervico,”

“Aku mengerti, kau sudah puluhan kali mengatakan itu,” balas Jemma kurang senang.

Lalu keduanya terdiam. Jemma masih tak habis pikir, mengapa hal ini terjadi padanya. Ramalan itu benar-benar konyol, pikir Jemma.

Sang Ratu harus didampingi Sang Naga…’ kata-kata itulah yang selalu terngiang di kepala Jemma. Sebuah ramalan yang sudah dipatenkan oleh kerajaan selama turun-temurun. Dan membuat siapa saja yang ingin merebut tahta, memiliki satu cara―yaitu dengan memisahkan Sang Putri dengan Sang Naga, sehingga syarat pada ramalan tak akan terpenuhi. Jemma bisa menerima jika ada banyak pihak yang sangat ingin menjatuhkannya, tapi dia sangat keberatan jika ada pihak yang sangat ingin memisahkannya dengan Sang Naga. Namun itulah kenyataannya yang terjadi sekarang, perpisahan Jemma dengan Sang Naga sangat diidam-idamkan oleh Mervico dan ibunya.

Jemma memandang Belturia dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak. Entah apa jadinya jika Belturia tidak ada di sisinya. Inilah saat dimana Jemma bisa bersyukur di tengah ‘usikan-keras’ yang selama ini ia terima.

Belum sempat menikmati ketenangan, tubuh Jemma terhentak oleh bunyi keras lonceng peringatan.

“Demi kucing penyelam! Apa lagi ini?” geram Belturia. “Putri, tetap berada di dalam kamar!” perintah Belturia, menenangkan Jemma yang mulai kebingungan―lalu segera keluar kamar. Dari dalam kamar, terdengar kegaduhan di seluruh kerajaan. Derap kaki di mana-mana, perintah-perintah keras berkumandang. Jemma beranjak dari tempat tidur dan berlari kearah balkon. Menghadap lanskap langit cerah, Jemma berusaha mencari sosok Sang Naga. Namun kemanapun ia memandang, ia tak menemukan sahabatnya itu, hingga terdengar pintu kamar menjeplak terbuka, dan beberapa sosok dengan baju jirah menghambur kedalam.

Sesaat kemudian hati Jemma seolah runtuh mendengar kabar buruk yang dibawa oleh prajurit kerajaan. Dikabarkan bahwa Sang Naga tengah mengamuk di pemukiman warga hingga mengakibatkan kerusakan parah. Raja sangat murka mengetahui itu, dan dengan tegas menyatakan bahwa mulai saat itu, Sang Naga diusir dari kerajaan. Kejadian itu mebuat Mervico, Mervana dan Cronus berpesta  pada malam harinya. Sedangkan Jemma yang dalam kesedihannya tidak berhasil memnemukan Belturia, meringkuk di balkon hingga larut malam sembari terus berharap Sang Naga kembali. Namun hingga terdengar nyanyian para burung berjudul ‘Selamat Datang Pagi’, tak ada satupun kadal bersayap yang menemuinya. Sang Naga benar-benar sudah pergi. Apa yang sebenarnya terjadi…? Jemma membatin di tengah derai tangisnya.

***

Dengan pandangan kosong, Jemma memenuhi formalitasnya sebagai putri― bersanding di samping ayahnya di Podium-Utama alun-alun kerajaan. Disisi yang lain, Mervico dan Mervana nampak sangat sumringah menikmati pertunjukan, sama seperti Sang Raja dan ratusan undangan yang mememnuhi podium. Semua terperangah menyaksikan tarian peri yang sedang berlangsung. Ratusan peri dari seluruh penjuru negeri tengah berkumpul, mempersembahkan tariannya di hari ulang tahun Sang Raja. Sangat indah sebetulnya, ratusan peri kecil itu terlihat seperti kilatan-kilatan cahaya beraneka warna yang terbang kesana-kemari dengan pola memukau, sembari mengikuti irama parade musik yang ada ditengah alun-alun.

Jemma yang urat kebahagiannya sudah hilang, tiba-tiba mencurahkan perhatiannya. Bukan kepada kumpulan peri dengan tariannya yang makin lama makin membius penonton, melainkan pada sesuatu yang lain, sekelebat merah yang terbang mendekat. Sang Naga kembali…

Tak lama semua yang ada di alun-alun menyadari hal itu. Semuanya berdiri dengan terkejut sembari menatap kehadiran Sang Naga. Segera saja ratusan peri menghambur kesegala arah bagai kumpulan lebah yang mendapati sarangnya tertimpuk batu, dan parade musik seketika berhenti, diikuti oleh para pemainnya yang berbondong-bondong membawa alat musiknya masing-masing ke tepi alun-alun, ketika tubuh besar Sang Naga secara anggun mendarat di tengah alun-alun, suasana yang tadi hingar-bingar kini seketika menjadi sunyi seolah kedipan mata dapat di dengar.

Hati Jemma seolah hendak melompat saking girangnya melihat kedatangan sahabatnya itu. Sang Naga tak sendiri, dia bersama wanita tua yang sangat Jemma kenal. Belturia, yang tampak lebih berantakan dari biasanya, turun dari punggung Sang Naga. Mervico dan Mervana terkejut menyaksikan itu.

“Belturia!” raung Sang Raja dari atas Podium-Utama, kesunyian yang melanda membuat suaranya terdengar jelas ke segala penjuru alun-alun.

“Kemana saja kau?! Dan berani-beraninya kau membawa kadal pembuat kekacauan itu?!” geram Sang Raja.

“Mohon ampun Yang Mulia, saya kemari membawa kebenaran,” jawab Belturia dari tengah alun-alun.

Lalu Sang Naga yang sedari tadi diam kini melangkah maju dan mendongak kearah Podium-Utama sembari melirik lembut Jemma.

“Saya ingin mengatakan bahwa bukan saya yang membuat kekacauan kemarin, ada semacam sihir hitam yang mengandalikan saya, saya tidak bersalah Yang Mulia,” ujar Sang Naga dengan penuh kepastian. Jemma tersenyum mempercayai itu, sedangkan Sang Raja nampak kebingungan.

“Itu semua omong-kosong!” kata suara keras tiba-tiba. Semua mata berpaling, dari lorong dibawah podium, Cronus muncul dengan jubah mengkilatnya. “Yang Mulia―ketahuilah bahwa selama ini Belturia bersekongkol dengan Sang Naga guna menjatuhkan anda!” ujar Cronus lantang.

Belum sempat kalimat itu menuai reaksi dari para undangan, Sang Naga meraung keras dan menyemburkan bola api jingga ke angkasa. Lalu secepat kilat Sang Naga melesat terbang dan menembus bola api buatannya, membuat bola api itu berubah warna menjadi hijau cerah, sebelum hilang meninggalkan sulur-sulur asap yang kemudian berubah menjadi kilatan-kilatan cahaya emas yang melesat mengelilingi alun-alun lalu saling bertabrakan menciptakan bunga api yang sangat terang.

Terdengar decak kagum dari para undangan. Tak lama, Sanga Naga kembali menukik dan mendarat, kemudian dengan bengis berjalan ke arah Cronus. “Apakah tadi itu kurang menyakinkanmu?” gertaknya.

Cronus tampak sangat ketakutan, dia tak menyangka bahwa Sang Naga akan melakukan itu. Semua orang  tahu, tadi itu adalah ‘Api-Kepercayaan’, yang akan berwarna hijau dan berubah menjadi bunga api jika orang yang dipercayai Sang Naga tidak bersalah. Namun akan berwarna hitam dan berubah menjadi mendung pembawa badai disertai kemayian Sang Naga apabila orang itu bersalah.

“Aku sudah pastikan Belturia tidak bersalah,” raung Sang Naga, “karena dalang dari semua kekacauan ini adalah Cronus sendiri,” imbuhnya, lalu menatap Cronus dengan penuh amarah. “Dialah yang membuat aku mengamuk di pemukiman,” papar Sang Naga.

Mendengar itu, sontak semua undangan berseru kemudian mulai saling berbisik. Sedangkan Cronus Sangat gugup dan ketakutan. Dari kejauhan, di balik kumpulan pemain parade musik dengan pakaian mencolok, tampak Nancy tengah sibuk menggoreskan pena bulunya di atas perkamen kaku, sembari terus membayangkan roti gandum dan coklat panas terbaik milik Mersine Mankers.

“O… omong kosong macam apa ini? Seenaknya saja kau menuduhku…!” ujar Cronus panik.

“Oh-ya?!” Belturia menyaut, “bisakah kau jelaskan tentang ini?” kalimatnya berakhir ketika ada sosok baru yang menghambur ke alun-akun. Semua mata tertuju pada sosok kumal itu. Jemma memekik, bocah pemotong kubis

Bocah itu menghampiri Belturia, kemudain memejamkan mata saat tongkat sihir Belturia menyentuh dahinya. Tak lama ujung tongkat putih itu mengeluarkan cahaya dan segera Belturia mengayunkan tongkat sihirnya ke angkasa. Dari ujung tongkat itu muncul sulur-sulur asap putih yang melesat ke udara, menggumpal, kemudian membentuk adegan yang membuat Cronus berhenti bernafas.

Semua yang ada di sana terperangah ketika melihat adegan Cronus yang mengendap-endap dan menuangkan semacam ramuan pekat kedalam mangkuk besar, disamping Naga yang tengah tertidur. Adegan itu terpampang jelas di angkasa.

“Kemarin―aku membuntuti Cronus dari dapur,” ungkap bocah pemotong kubis malu-malu. Dan Nancy menulis besar-besar judul baru pada perkamennya yang berbunyi, Pudarnya Pesona Penyihir Oleh Bocah Pemotong Kubis Bag.2

“Yang Mulia―itu adalah ramuan terlarang yang hanya dibuat untuk kejahatan, Ramuan-Pengendali, bukan begitu Cronus?” ujar Belturia santai, sembari melemparkan senyum kemenangan ke arah Cronus yang kini mulai bergetar saking paniknya.

“Cronus―!” raung Sang Raja.

“Tahan Tuanku, ada hal lain yang ingin saya sampaikan,” Belturia memotong, “ketahuilah bahwa ternyata, Sang Naga memiliki kemampuan untuk menghilangkan kekuatan kami―para penyihir, itu sebabnya Cronus melakukan ini semua agar Sang Naga diusir dari istana, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah agar tak ada lagi penghalang baginya untuk bisa merebut tahta anda Yang Mulia,” papar Belturia. Semua memekik mendengar itu. “Ya―Cronus ingin memonopoli kerajaan dengan sihir,” imbuh Sang Naga. Jemma tercekat  mendengar itu.

“Terkutuk kau Cronus!” raung Mervana tanpa diduga. Sama dengan ibunya, Mervico kini tampak geram oleh penipuan yang dilakukan Cronus.

Lalu Cronus mengerang seperti orang gila, kemudian mengayunkan tongkat sihirnya ke arah Podium-Utama. Terdengar letupan keras, dan dari ujung tongkat sihir Cronus, mencuat petir ungu yang sangat terang. Dengan sigap Belturia mengayunkan tongkat sihirnya, menciptakan perisai tak terlihat yang menyelimuti Podium-Utama, membuat petir ungu yang menghantam perisai itu berubah menjadi hamburan kelopak bunga mawar berwarna merah cerah, semua berdecak kagum.

“Belturia!!,” teriak Cronus penuh amarah. Belum sempat ia kembali menyerang, Sang Naga keburu menyemburnya dengan lidah api berwarna biru cerah. Kena telak, segera saja tubuh Cronus menari di tengah kobaran api Sang Naga. Setelah api itu hilang, entah mengapa Cronus tak menderita luka bakar sedikitpun, hanya rambutnya yang berantakan. Namun ada yang aneh pada dirinya, tak terjadi apa-apa ketika ia mengayun-ayunkan tongkat sihirnya dengan segala kutukan maut yang ia lontarkan.

“Apa yang kau lakukan padaku?” kata Cronus setengah menangis. Kali ini ia tampak sangat berantakan.

“Api biru Sang Naga menghilangkan kekutan sihirmu, sekarang kau bukan apa-apa Cronus,” ujar Belturia enteng.

“Pengawal! Tangkap dia!” suara Sang Raja terdengar keras sekali. Segera selusin prajurit menggelandang Cronus yang mengerang. Seolah belum puas, Belturia menjentikkan tongkat sihirnya dengan malas dan jubah mengkilat Cronus berubah menjadi juntaian kain goni yang compang-camping. Sontak, membuat tawa meledak dari segala penjuru, disertai tepuk tangan yang meriah. Akhirnya bocah pengupas kubis dapat tertawa lepas setelah menemukan orang yang lebih pecundang daripada dirinya. Dan Nancy tak sabar ingin berkoar di Mersine Mankers―dia yakin butuh waktu lebih dan tambahan coklat panas―untuk menceritakan ini semua. Sementara Mervico dan Mervana hanya bisa menunduk, mereka akhirnya sadar dan menyesali segala perbuatannya pada Jemma selama ini, di dalam hati, mereka bisa memastikan Sang Naga akan terus berada di sisi Jemma.

Dengan kebahagiaan menggebu, Jemma melompat―terjun bebas dari Podium-Utama. Secepat mungkin Sang Naga terbang melesat membuat Jemma mendarat di atas punggungnya, lalu membawanya terbang membumbung tinggi. Sementara dibawah, parade musik kembali dimulai dan para peri kembali menari. Kemeriahan pun tak dapat dielakkan.

“Aku tahu kau akan kembali,” ujar Jemma terharu.

“Kau tau, aku tidak pernah pergi,” jawab Sang Naga, sembari terus membawa Jemma terbang.

“Naga…”

“Ya?”

“Apakah buang air besarmu lancar hari ini?”

“Sangat lancar putri!” jawab Sang Naga, kemudian tertawa lepas bersama Jemma.

***

Iklan