KERAJAAN HATI: TENTANG PENANTIAN MUSIM SEMI

Chie-chan

“Kalau saja sempat kusisipkan sekeping kisah

Sebelum lelapmu datang mengoyak memisah

Sepenggal melodi lagu lama yang kita jalin indah

Berdua

Barangkali takdir pun takkan mampu menceraiberaikan kita.

Dalam dingin, aku memejamkan mata, memintal sebenang jalan bagi sang mimpi agar kembali mempertemukanku dengan dirimu.”

**

Salju.

Menghapus seluruh warna-warni di atas daratan seujung pandang selain putih. Dicurahkan dengan derasnya oleh tangan-tangan langit yang menaburkan butiran-butiran beku, terlempar kemudian berpencar ke segala arah. Sementara angin keras menampar-nampar. Membutakan pandang. Melemahkan dengan dinginnya yang menghujam bahkan permukaan kulit yang dilindungi berlapis-lapis pakaian. Untuk bernapas pun rasanya sesak, seolah tak ada ruang.

Seharusnya tempat ini tak layak lagi disinggahi mereka yang hidup.

Namun tiga sosok bermantel nampak di tengah padang salju. Salah satunya terbaring lemah di atas tanah, napasnya yang putus-putus menjelma asap, samar-samar menjadi kian tak terlihat—berbaur dengan angin kencang dan latar belakang putih total.

“Sudahlah, nona.” Yang berdiri agak kebelakang menepuk pundak yang terdepan, yang juga merupakan yang terkecil di antara ketiganya, tengah menekuk lututnya mengawasi orang ketiga pelan-pelan meregang nyawa. “Sebaiknya kita bergegas. Makin cepat kita tiba, makin baik.”

Sosok yang dipanggil dengan sebutan nona itu memutar kepalanya menghadapi satu-satunya hambanya yang tersisa. Satu dari apa yang tadinya berjumlah lima orang. Berenam, mereka berjalan dari selatan menuju utara dengan tujuan mendatangi sang raja, membujuknya—atau dengan sedikit paksaan jika perlu—mengembalikan musim semi dan mengakhiri badai salju yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Sebuah perubahan yang mengakibatkan bencana masal bagi seluruh penduduk. Dan karena gadis ini adalah putri dari salah satu bangsawan kenamaan, sudah merupakan kewajibannya untuk turun tangan melindungi rakyat dari tindakan semena-mena penguasa.

Maka berangkatlah dia bersama kelima orang bawahannya dengan tujuan meminta musim semi kembali dari sang raja. Namun pergerakkan mereka terhambat oleh badai salju yang bertambah lebat semakin utara mereka berjalan. Seolah kedatangan mereka telah diantisipasi oleh sang penguasa kerajaan yang tidak gembira menyambut mereka, dan mencoba merintangi mereka sebelum tiba di kediamannya. Hari demi hari berlalu dan perjalanan mereka menjadi kian berat. Satu persatu pengawalnya berguguran, entah karena kehabisan daya melawan dingin, ataupun demi melindunginya dari serangan predator padang es yang mencari mangsa.

Umumnya, gadis ini akan bersikeras agar minimal mereka melakukan penguburan yang pantas untuk sang hamba yang baru saja pergi. Tapi memahami kondisi serta waktu yang tidak mendukung, dia pun berusaha menguatkan diri untuk tidak bersikap manja.

“Maaf,” ucapnya pelan pada wajah si mati yang membiru karena dingin. “Aku berjanji akan menebusnya.”

Kemudian atas dorongan satu-satunya pengawalnya yang tersisa, dia beranjak menjauh, memandang sosok yang terbaring untuk terakhir kalinya sebelum mengeratkan mantelnya sendiri yang melambai-lambai tertimpa angin, lalu memaksa diri berjalan pergi.

“Hari ini genap dua bulan semenjak kita meninggalkan kota,” kata pengawalnya, yang seorang wanita. Gemerisik tudungnya hampir mengalahkan suaranya sendiri. “Kuharap aku bisa melihatmu tiba dengan selamat di sana. Itu saja sudah cukup bagiku.”

Mengenali maksud yang terselubung dalam perkataan itu, sang gadis balas berkata dengan nada tinggi, “Kita berdua akan tiba di sana dengan selamat, dan kita akan kembali pulang dengan musim semi. Pada saat itu, badai salju terkutuk ini tentunya sudah enyah!”

Pengawalnya tersenyum miris. “Akan baik sekali kalau benar begitu,” katanya. “Aku percaya kau akan melakukan yang terbaik untuk para penduduk, nona.”

“Tentu saja!” sahut sang gadis. Suaranya menjadi keras oleh sebab tangisnya yang selama ini selalu ditahan-tahan rasanya hendak pecah. “Sudah kubilang, aku bersedia melakukan apa saja demi membawa musim semi kembali ke kerajaan kita… Bahkan sekalipun itu berarti aku harus menghadapi sang raja!”

“Aku tahu,” kata sang pengawal maklum. “Itu sebabnya kau tidak pernah berhenti meskipun perjalanan ini seperti mimpi buruk bagimu, bukan? Bertahanlah, hanya sebentar lagi.”

“Kuharap begitu,” kata sang gadis, bersedih memikirkan rekan-rekannya yang gugur selama perjalanan.

Tetapi pengawal itu tidak pernah melihat nonanya tiba dengan selamat sampai di tujuan, ataupun pulang membawa musim semi bersama-sama seperti yang dengan yakin dikatakan si gadis. Sebab tak lama setelah percakapan kecil mereka, badai kembali menggila, dan menghantam bukit salju yang menumpuk di ujung tebing, persis beberapa puluh meter di atas mereka. Dan sang nona menyaksikan sendiri satu-satunya pengawalnya yang tersisa tertimpa reruntuhan dan tertimbun di dalamnya diiringi bunyi derak mengerikan. Sedangkan yang mampu dilakukannya hanya menjerit, membiarkan dirinya sendiri terseret oleh gelombang angin. Pikirannya sudah tak dapat berfungsi normal ketika dirasakannya badai mulai berlalu, kemudian dia membiarkan gelap menyapanya.

**

Suara gaung dentang lonceng.

Terasa bagai mengarahkannya untuk keluar dari labirin kegelapan yang berputar-putar. Sang gadis pun membuka mata, meninggalkan kegelapan yang nyaman menuju terang hangat yang merembes masuk dari balik bingkai-bingkai klasik jendela tinggi.

“Tempat apa ini…?” tanyanya pada diri sendiri, menyingkap kelambu dan memandang berkeliling. Ruangan itu polos namun mewah. Lantainya terbuat dari marmer, bening dan menguapkan dingin. Di seberang ruangan tampak sebilah cermin besar, sedang di sisi lain terletak sebuah lemari ukir kecil. Disematkan pada dinding di antara sepasang jendela, adalah apa yang nampak seperti pigura foto ditutupi kain.

“Sudah siuman…?”

Sang gadis menoleh mendapati sesosok laki-laki muda berdiri melangkahi ambang pintu yang tengah terbuka. Figurnya kurus dan jangkung, mengenakan jubah kebesaran panjang berwarna hitam. Rambutnya panjang mencapai pinggang berwarna keperakkan, menjuntai halus membingkai wajahnya yang tirus namun tampan, dengan sepasang mata biru jernih yang menyorot tajam serta bibir tipis juga hidung yang runcing.

“…siapa kau?” Sang gadis mendengar dirinya sendiri bertanya pada akhirnya, setelah sekian lama terpana mengamati penampilan si laki-laki yang mengingatkannya akan sebuah ukiran berbentuk manusia.

Namun yang ditanyai tidak menjawab, dan alih-alih itu malah mencibir.

“Maumu aku siapa?”

Mengernyit, sang gadis hanya bisa terdiam sementara dia mengamati sang laki-laki melangkah pelan mendekat, mengawasinya dengan kehati-hatian yang ditingkatkan. Pikirannya memutar ulang kejadian terakhir yang dilaluinya sebelum tak sadarkan diri.

“Kau menyelamatkanku…?” Sang gadis mendengar dirinya bertanya lagi. Dan karena tidak yakin akan mendapatkan jawaban detil, dia memberanikan diri menambahkan, “Bagaimana dengan wanita yang bersamaku?”

Si laki-laki menatapnya agak dingin, seakan emosi semacam kecemasan maupun kehilangan sama-sama membuatnya jijik. “Aku menemukanmu tak sadarkan diri pada setapak di depan sana,” tukasnya menjelaskan. “Kau sendirian, tidak bersama siapa-siapa. Lalu aku membawamu ke kastil ini.”

Begitu, sang gadis merasakan perasaan mencelos pada perutnya. Jadi pada akhirnya hanya dia seorang yang selamat…

Tak lama, dia tersentak. Tanpa disadarinya, tadi dia mendengar si laki-laki mengatakan ‘kastil.’

Ditatapnya sang peyelamatnya, yang balik mengamatinya tanpa ekspresi. Hanya ada sebuah kastil berdiri di kaki gunung utara, yang tak lain tak bukan adalah tempat yang selama dua bulan terakhir ini ditujunya. Kalau benar adanya begitu, maka orang ini pastilah…

“Kau boleh pergi meneruskan perjalananmu setelah kau merasa cukup pulih,” kata sang laki-laki seraya berbalik pergi. “Atau kau boleh tinggal selama yang kauinginkan. Lakukan apa saja, asal jangan menggangguku.”

“Tunggu!” Sang gadis melompat berdiri dari tempat tidurnya. “Aku kemari untuk menemuimu!”

Gerakkan sang raja terhenti, dia mengerling sang gadis tanpa benar-benar menoleh, berkata, “Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu…”

“Tolong kembalikan musim semi!” pinta sang gadis langsung, keras dan tegas. “Kelima rekanku meninggal dalam perjalanan demi berusaha memintanya darimu!”

“Aku tidak bisa,” jawab sang raja tanpa berpanjang-panjang memikirkannya.

Tetegun serta kecewa, sang gadis bertanya marah, “Tapi kenapa tidak bisa?!”

“Karena aku memang tidak bisa,” kata sang raja lagi, kali ini benar-benar menghadapinya dengan ekspresi yang keras dan tajam. “Beristirahatlah, supaya kau dapat segera pergi dari sini.”

Setelah selesai mengucapkannya, kelebatan jubah hitam sang raja menghilang di balik pintu yang menutup.

**

Sang gadis memandangi butir-butir salju turun dengan anggun di luar jendela. Tiga minggu berlalu semenjak pembicaraannya yang pertama dengan sang raja, namun belum juga dia pergi dari kastil. Sebabnya karena dia belum berhasil membawa kembali musim semi—untuk apa dia bersumpah kepada penduduk kotanya, juga karena tidak mungkin berhasil menempuh padang es seorang diri dan masih hidup di akhir perjalanan. Jadi dia memang tidak punya pilihan selain terus mencoba.

Sang raja sendiri, benar-benar bersikap seusai kata-katanya untuk membiarkan si gadis melakukan apa saja maunya, sepanjang dia tidak merasa terganggu—hal yang berulang kali menjadi bahan pertimbangan si gadis setiap kali dia ingin mengungkit soal musim semi. Walau sebenarnya dia sendiri jarang bertemu sang raja. Sekali-kalinya pun mereka bertemu di kastil yang maha luas itu, sang raja hanya melintasinya tanpa peduli, itu pun dengan pengecualian dia keluar dari sisi timur kastil tempat kamar pribadinya berada.

Padahal, dia tidak melihat satu orang pun dalam kastil itu selain mereka berdua.

Pasa suatu malam dimana salju berjatuhan dalam kecepatan konstan yang tenang di luar sana sehingga rembulan berani menampakkan wajahnya, menghiasi ruangan-ruangan kastil dengan cahayanya yang temaram, tanpa sengaja sang gadis menemukan sang raja di dalam kamar tempat dia selama ini tinggal, tengah memandangi lukisan yang senantiasa tertutup itu. Wajahnya tidak sekeras biasanya.

“Pernakah kau merasakannya…?” tanya pria itu tanpa menoleh, menyadari keberadaan si gadis. “Hal yang kaurindukan terasa begitu mudah dijangkau, namun karena kau sudah menantinya terlalu lama, kau menjadi takut akan apa yang akan kautemukan?”

Tidak tahu harus menjawab bagaimana, sang gadis diam saja.

Lama tidak ada yang bicara di antara mereka, akhirnya sang raja menoleh. Sinar bulan menerangi wajahnya yang rupawan, serta membiaskan kilau pada rambutnya yang panjang keperakkan. “Maafkan aku karena lancang masuk kemari sementara aku tahu kau berada di sini,” katanya dingin. “Tolong lupakan saja yang barusan kukatakan.”

Dia berjalan melewati si gadis, yang entah bagaimana ingin mengatakan sesuatu jika saja tenggorokkannya tidak tercekat. Namun hingga selangkah lagi mencapai pegangan pintu, sang raja berhenti.

“Aku juga mengharapkan kembalinya musim semi,” katanya tanpa disangka-sangka. “Sayang sekali aku tak bisa berbuat apa-apa…. maaf.”

Pintu berdebam menutup di belakang sang gadis, yang mendadak pikirannya dibanjiri oleh begitu banyak hal dan pertanyaan yang sebelumnya tak pernah sungguh-sungguh dia pikirkan.

Kenapa sang raja tinggal sendirian dalam kastilnya?

Bagaimana bisa musim dingin tak berkesudahan melanda kerajaan jika sang raja tidak menghendakinya?

Apa gerangan di balik kain penutup pigura itu—atau siapa?

Sebuah suara letupan keras terdengar, berasal dari balik punggungnya. Sang gadis menoleh dan terkejut, menemukan seorang anak laki-laki kecil tengah berdiri gemetaran di tepi tempat tidur, selain karena rasanya sudah berhari-hari dia tak menemukan manusia selain dirinya dan sang raja, juga karena penampilan si anak yang tampak ajaib.

“Siapa kau?!” tanya si gadis keras.

“T-tidak, jangan khawatir nona, aku tidak bermaksud jahat!” kata si anak panik, buru-buru memperkenalkan diri. “Namaku Khiel, aku pelindung kerajaan ini.”

“Pelindung…?” Sejenak, si gadis mengernyit kebingungan. Tapi kemudian dia teringat bahwa menurut kabar angin yang beredar, kerajaan ini memang mempercayai keberadaan semacam peri pelindung. “Kau sang pelindung kerajaan ini?!” tanyanya lagi, terperangah dan tiba-tiba merasa memiliki kesempatan bagi pertanyaannya untuk dijawab. “Jadi kau tahu sesuatu mengenai musim semi yang hilang…?”

“Ya, aku tahu,” kata Khiel mengiyakan. “Tetapi nona, sebelum aku bersedia menjelaskannya kepadamu, aku harus menanyakan sesuatu terlebih dahulu,” tukasnya serius, “Apakah kau bersedia menyelamatkan sang raja, jika memang itu yang dibutuhkan untuk mengembalikan musim semi ke kerajaan ini…?”

Menimbang-nimbang, sang gadis berpikir. Adalah wajar jika apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan sang raja, dan maka itu ‘menyelamatkan’nya bukanlah sebuah persyaratan yang membuatnya terkejut. Namun pemikiran bahwa dirinyalah yang harus melakukan itu membuatnya sedikit banyak terhenyak. Tetapi teringat akan raut wajah sang raja kala dia memandang lukisan yang tertutup tadi, entah kenapa membuatnya merasa tergerak untuk menyelamatkan laki-laki itu—kalau dia bisa.

“Ya,” kata sang gadis menyanggupi. “Aku bersedia.”

Khiel menelan ludahnya. Selama sepersekian detik sang gadis merasa bisa melihat kecemasan dan ketakutan yang mungkin tengah melanda anak itu. “K-kalau begitu,” katanya agak tergagap. “Aku akan menunjukkan sesuatu padamu besok pagi.”

**

Pagi-pagi benar Khiel membawa si gadis keluar kastil, mengikuti setapak yang berkelok-kelok dan bersalju, meski pagi itu salju hanya turun sedikit. Dengan bantuan sihirnya, Khiel menjadikan perjalanan menembus sesemakan dan hutan kecil itu sebagai sesuatu yang tidak sukar dilalui. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah danau yang membeku. Air terjun yang tadinya mengaliri danau turut membeku bersama danaunya, membentuk apa yang terlihat seperti dinding es setinggi bermeter-meter hingga mencapai tebing.

“Lihat,” kata sang peri, yang wajahnya gelisah, menunjuk dindingnya.

Napas si gadis tertahan kala dia melihat apa yang dimaksudkan si peri. Tepat pada titik pertengahan dinding kaca, beku dan diam, adalah sesosok manusia. Seorang wanita teramat cantik berambut hitam sebahu. Matanya terpejam seolah-olah dia tengah tertidur. Tetapi sang gadis tahu itu bukan kebenaran. Itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh pemandangan indah namun mengerikan ini.

Sosok di balik es itu sudah meninggal. Ia tidak membusuk karena jasadnya membeku.

Suara isakkan di sebelahnya menyadarkan si gadis dari keterkejutan.

“I-ini semua salahku…!” sengau Khiel, air mata bening bercucuran membasahi pipinya. “Salahku!”

Maka sang gadis membungkukan badan untuk mendengarkan ceritanya.

**

“Jantung Hati sang penguasa adalah tombak berdirinya sebuah kerajaan… Dari sanalah kekuatan untuk menopang kerajaan ini dimiliki sang raja. Dan wanita ini, adalah kepada siapa sang raja menukarkan Jantung Hatinya…

Tapi kemudian suatu hari, wanita ini sakit dan dia pergi utuk selama-lamanya meninggalkan sang raja.

Namun ketika aku melihat bagaimana sang raja memandangi sosoknya dalam potret di kamar itu, aku pun tahu bahwa Jantung Hati itu tidak akan kembali pada pemiliknya semula. Aku takut wanita ini akan pergi bersamanya, menyisakan kehancuran bagi kerajaan ini…

Oleh sebab itu, dengan kekuatanku aku memutuskan untuk menciptakan musim dingin tak berujung, supaya aku dapat menjaga agar wanita ini tetap utuh di sini—menjaga Jantung Hati sang raja agar tidak lenyap bersama dengan dirinya.

Dan ingatan sang raja turut membeku bersama kekasihnya…”

**

“Tetapi aku tidak menyangka,” isak Khiel pilu, “bahwa semua ini akan mengakibatkan luka mendalam yang tidak disadarinya dalam diri sang raja, dan mengapa musim semi semakin jauh dari kerajaan ini adalah karena waktu dalam dirinya telah melambat hingga akhirnya berhenti…”

Derap langkah kaki kuda menyentakkan mereka berdua dari cerita si peri. Sang gadis menoleh, dan terperanjat menemukan, tak lain tak bukan, sang raja sendiri bergerak menghampiri mereka.

“Aku mencarimu,” katanya seraya beranjak turun dari kudanya, mengarahkan bicaranya pada si gadis, sementara yang bersangkutan membatu di tempatnya. “Melintasi padang salju sendirian tanpa persiapan sama saja dengan bunuh diri.”

Namun ketika melangkahi permukaan danau yang licin, yang ditujunya bukanlah sang gadis, melainkan dinding beku air terjun yang menyembunyikan wanita yang dulu menjadi kekasihnya.

“Aku selalu bertanya-tanya mengapa aku tak kunjung mampu menyingkap potret yang terselubung itu,” katanya dengan senyum getir. “Aku ketakutan, dan sekarang sudah kutemukan jawabannya mengapa.”

Sekonyong-konyong, es yang menopang mereka bergetar. Demikian juga tanah di sekitar danau, yang berderak seolah-olah makhluk berbobot sekian belas ton sedang melompat-lompat di atasnya. Sang gadis memekik, meski pekikannya seolah tak dapat didengar oleh sang raja, yang memilih saat itu untuk berkata, “Aku sudah tak peduli lagi mengenai apapun,” dia mendongak memandang wajah si wanita yang memejam, “satu-satunya jalan bagiku adalah untuk kembali bersamamu.”

Saat itu juga, derak permukaan tanah yang mengerikan berubah menjadi lolongan memekakkan telinga. Di sana sini tanah mulai terbelah, dan pepohonan mulai tumbang karenanya. Sementara retakkan muncul di salah satu titik permukaan danau es, dengan segera memanjang dan melebar. Kiehl menjerit, salah satu kakinya terperosok ke dalam retakkan. Dan ketika pada akhrinya retakkan itu menjelma menjadi renggangan menuju air beku, dia akan tenggelam apabila sang gadis tidak segera meraih tangannya.

“Itu bukan satu-satunya jalan!” jerit sang gadis, berpikir panik. “Melarikan diri hanya akan menghancurkan dirimu sendiri! Lihat apa yang sudah kaulakukan!“

Salah satu dari permukaan es yang tercerai berai melesak masuk menuju kedalaman danau, sedang di sisi lain danau tampak reruntuhan salju menghujam daratan yang bergetar. Permukaan es tempat Khiel berkelit bertahan mulai condong. Sang gadis mengerahkan segenap upayanya di detik-detik terakhir.

“Hentikan ini, baginda!” teriak sang gadis lagi pada pundak sang raja yang tak bergeming. Air mata mulai menggenangi matanya. “Kami semuanya berada di sini untukmu! Kau tidak mencoba untuk menerimanya, makanya kau merasa takut karena kau membohongi dirimu sendiri!

Sampai titik itu, sang gadis merasa segala daya upayanya telah mencapai batas. Dia membiarkan dirinya terdorong oleh tekanan dari pihak Khiel, menyiapkan dirinya sendiri untuk menembus air danau yang membekukan…

…hingga sebuah tangan yang kuat menarik sebelah tangannya yang bebas, menariknya dan si peri keluar dari mulut bahaya.

“Aku ingin menyelamatkan semuanya,” kata sang raja, wajahnya nanar oleh bimbang. “Tetapi bisakah aku melakukannya tanpa kekuatanku…?”

“Kau bisa,” jawab sang gadis yakin. “Hal yang kautinggalkan pada selembar potret itu akan selamanya berada di sana… tetapi Jantung Hatimu selamanya adalah milikmu, meskipun kau mempercayakannya pada orang lain. Hanya kaulah yang mampu melakukannya… aku percaya padamu, baginda.”

Sejenak, sepasang mata biru milik sang raja bertemu dengan sepasang milik sang gadis. Hingga secercah cahaya keemasan memecahkannya, meledak menghambur memenuhi pandang ketiga orang yang berada di sana. Dan hal terakhir yang dilihat sang gadis adalah retaknya dinding es air terjun, yang pecah berkeping-keping, memuntahkan tubuh sang wanita dari dalamnya yang langsung jatuh terbenam dalam kegelapan air danau. Tetapi tidak sebelum sang gadis mendengar sebuah suara samar melintasi telinganya.

“Terima kasih…. tolong jagalah dia.”

**

Beberapa bulan telah berlalu. Musim semi yang ditunggu-tunggu akhirnya mendatangi kerajaan, sebagaimana sang waktu yang telah kembali mengalir dalam diri penguasanya. Padang salju bermil-mil itu telah menjelma menjadi tempat tinggal berbagai jenis tumbuhan warna-warni, serta berbagai jenis hewan. Sang gadis melangkah melintasi rerumputan dimana beberapa ekor serangga bersuara merdu tengah bermain di atasnya. Dia memandang ke atas, pada awan-awan yang bergerak ke selatan. Tentunya musim semi juga telah tiba di kotanya. Segala pengorbanan itu tak sia-sia.

“Tempat ini bukan lagi padang salju tempat badai bersarang, kurasa aku tidak dalam bahaya,” kata sang gadis memulai, “tetapi kenapa baginda bersikeras ikut denganku?”

“Karena,” Sang raja, yang telah memotong rambutnya hingga pendek sebatas leher dan mengganti jubah hitamnya menjadi apa yang lebih berwarna menjawab, “setelah apa yang kualami selama bertahun-tahun, kupikir tidak ada salahnya melakukan sedikit petualangan.”

Tetapi sang gadis tersenyum dikulum seraya menyilangkan jarinya, dia tahu sang raja belum selesai dengan jawabannya—atau setidaknya, dia harap.

“….dan yang jelas, aku perlu waktu untuk lebih banyak mengenal gadis yang kepadanya akan kuserahkan Jantung Hatiku—jika aku menemukannya, dalam perjalanan ini.”

Sang raja sama sekali melewatinya dan tidak berpaling ketika menambahkan kalimat ini ke dalam jawabannya, tapi toh untuk saat ini, sang gadis merasa lebih dari cukup. Sebelum inipun tentunya kerajaan pernah mengalami berbagai musim semi, tapi sekarang, dia yakin ini adalah musim semi terindah yang pernah datang ke dalam kerajaan hati.

~And they lived happily ever after~

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan