KESEMPATAN TIDAK DATANG DUA KALI

Vania Ivena

Aku adalah seorang dokter di sebuah Unit Gawat Darurat. Menolong orang adalah pekerjaanku. Pekerjaan ini tidak akan ada habisnya, karena setiap hari selalu saja ada orang lain yang harus ditolong. Lama-kelamaan aku menjadi muak dengan pekerjaanku, karena semakin lama aku semakin hidup untuk orang lain, bukan untuk diriku sendiri. Banyak yang harus aku korbankan dalam hidupku hanya untuk menolong orang. Menolong orang bukanlah menjadi perbuatan mulia lagi bagiku, tetapi telah menjadi beban.

Akhir-akhir ini gempa terus terjadi. Satu gempa, disusul gempa yang lain, gempa lainnya, gempa-gempa lainnya, dan gempa yang lebih besar dari gempa-gempa sebelumnya terjadi malam ini. Proses evakuasi masih terus dilakukan, dan korban-korban gempa tidak habis-habisnya dilarikan ke Unit Gawat Darurat. Semakin malam, semakin banyak korban-korban yang mengantri untuk segera ditolong. Aku sudah sangat lelah dan ingin sekali pulang. Tidak rela bagiku untuk mengorbankan waktu tidurku satu malam lagi, hanya untuk lembur dan menolong orang lagi.

Suara ambulans terdengar lagi, dan seorang bapak yang kira-kira berusia 40 tahun keluar dari ambulans tersebut dan berteriak dengan panik, “Dokter! Tolong istri dan anak saya!”

“Keadaannya kritis, Dok!” Kata petugas dari ambulans sambil mendorong ranjang roda rumah sakit keluar dari ambulans tersebut menuju ruang UGD. Diatas ranjang tersebut, terbaring seorang ibu dan anak perempuan yang sudah terlalu banyak mengeluarkan darah dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran lagi.

“Dokter Blaise! Cepat, Dokter! Mereka harus segera ditolong!” Kata Suster Ferera, suster shift malam di Unit Gawat Darurat tersebut. Tetapi aku tetap diam dan kali ini aku sudah kebal melihat penderitaan orang lain. Aku tidak merasa kasihan lagi. Aku sudah benar-benar muak menolong orang.

“Dokter! Apa yang Dokter tunggu! Cepat, Dok!” Kata Suster Ferera sudah mulai panik. Aku tetap diam.

“Dokter Blaise!” Suster Ferera memanggilku sekali lagi dengan suara yang lebih kencang.

“Saya sudah tidak mau menolong satupun pasien lagi!” Kataku.

“Apa?! Mereka sangat membutuhkan bantuan Dokter! Lihat ibu dan anak ini, mereka dalam keadaan kritis! Jika tidak ditolong secepatnya, mereka tidak akan bisa tertolong lagi!”

“Tolong, Dokter. Saya mohon. Tolong istri dan anak saya, Dok. Saya mohon, saya mohon,” kata suami dan ayah dari korban gempa tersebut.

“Tidak bisa! Saya sudah lelah sekali!” Kataku.

“Tapi, Dok, tolonglah, dua pasien lagi!” kata Suster Ferera.

“Pasti pasien tidak akan habis sampai pagi!” kataku.

“Tapi itulah tugas seorang dokter!” Kata Suster Ferera. “Dokter sendiri tahu, sekarang lagi musim gempa. Pertolongan dokter sangat dibutuhkan!”

“Sus, asal Anda tahu saja! Saya sudah bosan dengan pekerjaan saya sebagai seorang dokter! Sekarang saya benci menjadi dokter! Suruh dokter lain saja yang menangani mereka!”

“Dokter-dokter lain juga sedang menangani pasien lain, Dok! Dokter sendiri tahu betapa banyaknya korban gempa kali ini! Hanya Dokter saja yang sekarang lagi kosong!” kata Suster Ferera.

“Tolong, Dok. Tolong istri dan anak saya. Saya mohon, Dok. Saya mohon,” kata Bapak itu, ia mulai menitikan air mata.

“Cepat, Dok! Kita tidak punya banyak waktu! Dokter mengapa, sih? Mengapa tiba-tiba Dokter jadi begini? Mengapa tiba-tiba tidak mau menolong pasien lagi? Bukannya saya lancang, Dok, tapi ini masalah nyawa!” Kata Suster Ferera.

“Masa bodoh dengan nyawa orang lain! Bagaimana dengan hidup saya sendiri? Setiap hari saya selalu hidup untuk orang lain! Bahkan setiap hari saya hanya tidur kurang dari 4 jam hanya karena tidak habis-habisnya menolong orang! Saya sudah muak menolong orang! Saya sudah terlalu banyak menolong orang sampai saya tidak punya kehidupan sendiri! Bagaimana dengan istri saya yang menceraikan saya dengan alasan saya tidak punya waktu untuk dia? Bagaimana dengan anak saya sendiri yang membenci saya dengan alasan saya gila kerja? Itu semua karena menolong orang kan?!” Kataku dengan emosi yang amat besar sampai semua orang di sekitarku menatapku, tetapi aku tidak peduli.

Aku berlari meninggalkan ruang Unit Gawat Darurat menuju tempat registrasi pasien dan berkata, “Mulai hari ini saya keluar! Pindah tangankan saja pasien-pasien saya ke dokter lain!” Petugas di tempat registrasi hanya diam membisu dan terlihat kaget dengan perkataanku.

Aku berjalan cepat menuju mobilku dan menyalakan mesin mobilku. Tetapi aku tidak langsung pulang, kata-kata yang telah aku ucapkan tadi terngiang kembali di hatiku. Aku tidak percaya apa yang kukatakan tadi, aku sudah sangat emosi dan lelah.

Hujan mulai turun rintik-rintik. Aku merenungkan perkataanku. Nama baikku telah hancur. Aku benci hidupku! Aku menyesal telah menjadi dokter, aku berharap aku menjadi orang lain. Diluar sana proses pengevakuasian gempa terus dilakukan, satu per satu korban gempa terus dilarikan ke UGD. Aku tidak peduli. Aku mengubah posisi kursi mobilku menjadi tertidur, dan aku tidur dengan nyaman di dalam mobilku untuk sejenak saja beristirahat tanpa harus memikirkan pasien dan korban gempa di luar sana.

***

Sinar matahari pagi membangunkan tidurku. Aku melihat sekelilingku dan tersentak kaget. Aku tidak berada di mobilku, tetapi aku berada disebuah kamar.

‘Kamar siapa ini?! Bukankah tadi malam aku di mobil?!’ Tanyaku dalam hati. Aku berjalan keluar dari kamar itu, melihat sekeliling rumahnya. Rumah itu sangat kecil dan sederhana, hanya terdiri dari satu kamar, satu kamar mandi, dapur kecil, TV tabung sekitar 14 inch, dan sebuah sofa berwarna coklat.

Mengapa aku bisa berada di rumah ini? Siapa yang sebenarnya tinggal di rumah ini? Aku kembali masuk ke kamar tempat tadi aku bangun. Aku melihat kamar itu dengan saksama dan menemukan kotak sepatu di kolong tempat tidur. Firasatku mengatakan bahwa mungkin ada suatu petunjuk yang tersimpan di dalam kotak sepatu itu. Aku membuka kotak sepatu itu dan menemukan 3 lembar foto. Aku melihat foto pertama, terdapat seorang laki-laki, seorang perempuan, dan seorang anak perempuan berdiri diantara mereka. Ini pasti foto keluarga pemilik rumah ini. Aku terus memandangi foto tersebut, sepertinya aku pernah melihat keluarga ini. Kemudian aku beralih ke foto kedua dibaliknya, aku tersentak saat aku menyadari bahwa itu adalah fotoku! Mengapa fotoku bisa ada disini? Aku beralih ke foto ketiga dan foto itu adalah foto rumahku. Aku membanting ketiga foto tersebut, aku berlari keluar dari rumah itu dan melihat sekelilingnya. Orang-orang di luar rumah itu tiba-tiba kaget dan berjalan cepat menjauhiku.

“Tunggu!” seruku, sepertinya ada yang tidak beres dengan reaksi orang-orang itu.

“Ada apa ini?!’ seruku. Aku menyadari bahwa ada yang berbeda dan salah dengan suaraku. Kemudian aku berjalan kembali masuk ke rumah itu. Aku berjalan menuju kamar mandi rumah itu untuk mencari baju seadanya, tidak sengaja aku melihat pantulan wajahku di cermin. Aku tersentak dan begitu kaget. Aku masih tidak percaya dan melambaikan tanganku sekali lagi untuk membuktikan kalau pantulan cermin itu benar-benar diriku. Dan benar, pantulan itu adalah aku, aku yang menggerakkan tubuh ini, tetapi tubuh itu bukanlah tubuhku, bukanlah wajahku, melainkan tubuh dan wajah orang lain. Sebelum sempat bertindak apapun, aku mendengar suara ponsel yang berdering. Aku mencari-cari asal suara ponsel tersebut. Aku merogoh-rogoh kantong celana yang aku pakai dan menemukan ponsel yang berbunyi itu, tanpa berpikir panjang aku menjawab telepon itu.

“Halo,” Kataku ragu.

“Pak Ferdi! Kami sudah tepat di depan rumahnya. Kami yakin kami tidak salah alamat,” kata orang di sebrang sana.

“Pak Ferdi?” Kataku bingung.

“Bapak sudah dimana? Rumahnya yang bercat putih dan berpagar hitam, kan, Pak?” Aku terdiam. Orang diseberang sana seperti sedang mendeskripsikan rumahku.

“Maaf, ini dengan Bapak siapa?” Tanyaku.

“Ya ampun Pak Ferdi! Bagaimana bisa anda tidak mengenali suara saya? Cepatlah kemari, Pak. Ini hari yang sudah Bapak tunggu-tunggu. Inilah puncak dari semua rencana yang kita sudah buat mantap-mantap,”

“Rencana apa, Pak?” Tanyaku lagi.

“Tentu saja rencana membunuh Dokter itu, Pak! Bagaimana Bapak bisa lupa?! Ini hari yang sudah Bapak tunggu-tunggu!”

Aku reflek mematikan telepon itu. Benar, rumahku adalah rumah yang dimaksud suara diseberang sana. Suara sekelompok orang yang ingin membunuhku, termasuk si pemilik asli tubuh yang aku gerakan ini. Aku berjalan mendekati kaca, melihat pantulan wajah itu di cermin.

‘Wajah ini…’ gumamku dalam hati, ‘seperti baru kutemui wajah ini dalam waktu dekat.’ Aku terus memandangi wajah ini.

‘Wajah ini! Aku mengingatnya!’ Kataku dalam hati, ‘Wajah Suami dari korban gempa yang tadi malam! Pasti aku tidak salah!’

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Semua yang terjadi sangat tidak masuk akal. Aku duduk di sofa ruang tamu rumah itu, pikiranku berputar mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

‘Jadi aku berada di dalam tubuh Pak Ferdi, orang yang mau membunuhku? Ini sangat aneh, aku pasti bermimpi,’ pikirku mencoba mengambil kesimpulan. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam, sebelum aku berada di tubuh ini. Aku meragukan apa yang salah dengan tindakanku tadi sampai semua orang disekitarku langsung menjauhiku ketika aku keluar dari rumah ini. Ataukah bukan diriku yang salah, melainkan Pak Ferdi, si pemilik asli tubuh ini?

Pagi telah berganti siang. Sudah lama sekali aku duduk disini. Aku terus berpikir tanpa menemukan jalan keluar. Dua orang anak sedang bermain di luar, sekalipun cuaca sedang panas sekali.

“Ayo, aku tantang kamu! Kalau kamu anak pemberani, kamu harus berani mengetuk rumah Om Ferdi sampai Om Ferdi keluar!” Kata suara seorang anak dari luar.

“Kalau aku berani, kamu mau kasih aku apa?” Kata suara seorang anak lain membalasnya.

“Aku kasih bola basket aku!” Jawab anak yang tadi.

“Aku berani,”

Terdengar suara langkah kaki menuju rumah ini. Sepertinya anak itu hendak mengetuk rumah ini.

Suara langkah kaki anak itu semakin mendekat, terdengar suara ketukan pintu yang pelan dan ragu. Aku berjalan kearah pintu, dan membuka pintu itu secara perlahan.

“Nak, Om tidak akan menyakitimu,” kataku. Anak laki-laki itu diam menatapku dengan wajah yang sangat ketakutan.

“Tenang, Nak. Om bukan orang jahat, Om butuh bantuan kamu,” kataku. Anak itu tetap diam menatap temannya, kemudian ia menatapku kembali.

“O-o-om Fe-fe-ferdi,” Kata anak itu gemetaran dan menunjuk kearah temannya, “a-a-a-aku disuruh dia.”

“Iya, Om tahu. Om sangat butuh bantuan kamu sekarang, Om tidak akan menyakitimu, tenang saja,” kataku, kemudian aku berlutut agar tinggiku sejajar dengan anak ini dan aku memegang kedua sisi pundaknya.

“Nak, apa yang bikin kamu takut sama Om? Apa Om ada salah sama penduduk daerah ini?” Tanyaku.

“Se-se-semua orang bilang Om sakit jiwa. Katanya orang yang sakit jiwa itu berbahaya. Tapi apa Om sudah sembuh?”

“Oh. Ya, Om sudah sembuh!”

Anak itu tetap terdiam menunduk, tidak berani menatap mataku. Kemudian ia mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit.

“Ternyata Om tidak seperti yang orang-orang bilang,” kata anak itu.

“Maksud kamu, kamu tidak pernah mengenal Om? Bukankah kita tetangga?”

“Ya, tapi bagaimana kami bisa kenal Om jika Om tidak pernah keluar rumah sejak Om pindah ke rumah ini?”

“Kapan Om pindah kesini? Maaf, Om lupa,”

“Seminggu setelah gempa besar itu. Orang-orang bilang Om pindah karena rumah Om yang dulu roboh karena gempa itu, keluarga Om pergi ke surga, dan Om jadi sakit,”

“Oh,” Kataku. Aku sudah mendapat sedikit gambaran, namun aku tetap bingung akan segala sesuatunya. Anak itu berlari kembali dan menemui temannya. Aku tetap diam, memikirkan segala perkataan anak itu tadi.

Anak itu berkata bahwa Pak Ferdi pindah ke rumah ini seminggu setelah gempa besar itu, bukankah gempa besar itu terjadi kemarin? Apakah benar Pak Ferdi menjadi gila sejak istri dan anaknya meninggal akibat gempa itu? Pak Ferdi ingin membunuhku. Adakah hubungan rencana pembunuhan ini dengan semua perkataan anak itu? Aku tahu kemana aku harus mencari tahu, sebelum semua ini terlambat.

Aku segera berlari keluar dari rumah ini, memakai baju seadanya. Aku berlari terlalu kencang tanpa menyadari aspal di daerah ini tidak sebagus aspal di daerah rumahku, dan aku terjatuh. Lututku terluka dan berdarah, tetapi aku harus mengabaikannya, aku harus segera sampai ke rumah sakit tempat aku bekerja. Aku berdiri kembali dan memberhentikan angkutan umum yang sedang lewat.

“Lewat Rumah Sakit Peduli Nusantara tidak, Pak?” Tanyaku kepada supir angkutan umum itu.

“Ya,” Jawab supir angkutan umum itu. Selama perjalanan banyak sekali pertanyaan yang muncul di pikiranku yang aku coba untuk abaikan.

Sesampainya di Rumah Sakit Peduli Nusantara, aku berlari menuju meja registrasi. “Permisi, saya ingin bertemu dengan Dokter Blaise,” kataku kepada wanita di meja registrasi tersebut.

“Dokter Blaise dari UGD?” Tanya wanita itu.

“Ya, ini darurat. Saya harus bertemu dengannya sekarang juga,” kataku.

“Dokter Blaise sudah lama tidak praktek disini lagi,” kata wanita itu. Aku mengingatnya, kemarin malam saat aku sedang marah, aku berkata bahwa aku sudah tidak akan bekerja disini lagi.

“Suster Ferera?” Tanyaku, “Apa ia masih bekerja disini?”

“Ya, ada yang bisa saya bantu?”

“Dimana saya bisa bertemu dengannya?”

“Mohon tunggu sebentar, Pak. Dengan Bapak siapa?” Kata wanita itu.

“Ferdi,” jawabku. Kemudian ia menghubungi seseorang lewat telepon.

“Suster Ferera sekarang berada di bangsal 303, Pak. Saya sudah memanggilkannya, mohon Bapak tunggu sebentar di ruang tunggu,” kata wanita itu.

“Terima kasih. Hari ini tanggal berapa, Bu?” Tanyaku.

“30 September,” Jawabnya.

“Tahun berapa?” Tanyaku lagi.

“2010,” katanya. 2010? Hari ini adalah setahun setelah gempa itu. Aku menunggu cukup lama sebelum Suster Ferera datang. Lututku masih terasa perih karena aku jatuh tadi.

“Selamat siang, Pak Ferdi,” kata Suster Ferera yang langsung mengenali wajah Pak Ferdi.

“Suster Ferera, apa Suster tahu kemana Dokter Blaise pergi setelah malam gempa itu?” Tanyaku.

“Setahu saya Dokter Blaise tidak bekerja lagi disini, dan kami tidak pernah bisa menghubunginya sejak malam itu, seperti ia menghilang begitu saja. Bagaimana keadaan Bapak sekarang?” kata Suster Ferera.

“Saya… Saya… Ummmm… Saya lupa dengan kejadian malam gempa itu, bisa Suster ceritakan lagi?” Kataku.

“Dokter Blaise meninggalkan rumah sakit ini dan pasien-pasiennya, serta korban-korban gempa yang seharusnya ia tolong,” kata Suster Ferera.

“Termasuk istri dan anak saya? Maksud Suster, istri dan anak saya meninggal karena Dokter Blaise tidak mau menolong mereka?” Tanyaku.

“Kurang lebih seperti itu, Pak. Sekali lagi kami mohon maaf atas kejadian malam itu, kami turut berdukacita atas meninggalnya istri dan anak Bapak,” kata Suster Ferera. Oh, tidak! Baru kusadarari betapa jahatnya aku ini. Dengan penolakanku untuk menolong mereka, sama saja seperti aku membunuh mereka. Pantas saja Pak Ferdi berniat untuk membunuhku, karena secara tidak langsung aku telah membunuh istri dan anaknya. Aku teringat sesuatu, sekelompok tim Pak Ferdi yang seharusnya membunuhku hari ini, yang ada di depan rumahku dari pagi ini. Aku harus segera kesana!

“Terima kasih, Suster,” kataku sambil menjabat tangan Suster Ferera, kemudian aku langsung berlari keluar dari Rumah Sakit Peduli Nusantara, memberhentikan taksi yang sedang lewat dan memberitahu alamat rumahku kepada supir taksi tersebut.

Sesampainya di rumahku, aku melihat ada sebuah mobil asing yang parkir di depan rumahku. ‘Pasti ini mobil tim Pak Ferdi,’ pikirku. Aku berjalan masuk ke rumahku lewat pintu garasi yang sudah terbuka. Aku berjalan melewati mobilku dan terus berjalan masuk menuju ruang tamuku.

“Bos datang!” Kata salah satu dari kelompok itu ketika melihatku.

“Kami sudah menyelidiki satu rumah ini, tetapi kami masih belum menemukan jejak Dokter itu,” kata seorang yang lain. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku ingin segalanya berhenti. Aku ingin menjadi Dokter Blaise kembali, sekalipun aku harus dibunuh. Aku ingin bersujud memohon maaf kepada Pak Ferdi karena aku telah membiarkan istri dan anaknya meninggal begitu saja. Ini adalah penyesalanku yang terberat. Apakah segalanya benar-benar terlambat? Mengapa keadaan harus menjadi seperti ini? Mengapa aku harus berada di tubuh Pak Ferdi sekarang ini? Dimanakah tubuhku yang asli? Kemana aku pergi selama setahun ini? Bagaimana bisa aku berada di tubuh ini? Terlalu banyak pertanyaanku, terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal. Aku lelah dengan semua ini, segalanya serba teka-teki yang tidak dapat aku pecahkan. Aku berlari menuju mobilku, membuka pintunya tanpa memikirkan mengapa pintu itu tidak terkunci. Aku sudah terlalu lelah untuk berpikir. Aku masuk ke dalam mobilku, mengubah posisi kursi mobilku menjadi tertidur, dan aku tidur dengan nyaman di dalam mobilku untuk sejenak saja beristirahat tanpa harus memikirkan segala sesuatu yang terjadi.

***

Suara petir membangunkanku.

Tanpa kusadari, aku telah tertidur lelap sekali. Diluar sedang hujan. Aku memandangi tubuhku. Aku telah memakai jas dokterku kembali. Aku menggerakkan kaca mobil untuk melihat pantulan wajahku. Itu aku, aku si Dokter Blaise. Apakah segala yang terjadi hanya mimpi? Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang jauh lebih penting daripada memikirkan segala hal yang tidak masuk akal itu. Aku harus menolong istri dan anak Pak Ferdi sebelum terlambat! Aku membuka pintu mobilku. Aku berlari sekuat tenaga untuk kembali masuk ke ruang UGD. Hujan yang turun dengan deras mengguyur tubuhku, dan membuat lututku terasa sangat perih. Aku menghentikan langkah kakiku. ‘Luka itu… Benar-benar ada.’ Kataku dalam hati.

Tanpa berpikir panjang lagi aku berlari lebih kencang lagi menuju ruang UGD sambil berusaha mengabaikan perihnya luka itu. Saat aku melewati meja registrasi, aku berteriak, “Aku tidak jadi keluar! Abaikan saja perkataanku tadi!” Aku menghentikan langkah kakiku sekali lagi, dan bertanya, “Tanggal berapa ini?”

“30 September,” kata wanita di meja registrasi tersebut.

“Tahun?” Tanyaku.

“2009,” jawabnya. Aku tersenyum, dan berlari lebih kencang lagi. Sesampainya di ruang UGD aku melihat Pak Ferdi yang sedang menangis, “Suster, tolong istri dan anak saya. Tolong, Sus. Tolong…”

Kemudian aku datang dan berkata kepada Suster Ferera yang terlihat tidak berdaya, “Mari kita bawa mereka ke ruang operasi,”

Suster Ferera berbalik dan menatapku, “Dokter Blaise…”

“Cepat! Tidak banyak waktu lagi!” Kataku. Kemudian kami mendorong ranjang rumah sakit tersebut menuju ruang operasi.

“Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih banyak,” kata Pak Ferdi sambil berlutut sebelum aku, Suster Ferera, dan tim operasi masuk ke ruang operasi. Aku memeluknya, menepuk punggungnya, dan berkata, “Tenang, Pak, tenang,”

***

“Pak Ferdi, Anda sudah bisa menemui istri dan anak Anda,” kataku kepada Pak Ferdi yang sedang menunggu di ruang tunggu.

“Terima kasih banyak, Dokter,” kata Pak Ferdi. Aku dan Pak Ferdi berjalan menuju bangsal tempat istri dan anaknya dirawat. Aku membuka pintunya, dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu.

“Anak anda sudah sadar, Pak. Mungkin istri anda masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk sadar karena efek dari obat bius, tetapi ia sudah melewati masa kritisnya,” kataku.

“Papa…” Anak Pak Ferdi memanggilnya.

“Clara,” kata Pak Ferdi sambil memeluk anaknya, “bilang terima kasih sama Om Dokter dulu, ya, sayang,”

“Terima kasih, Om Dokter,” kata Clara, anak Pak Ferdi, kepadaku.

“Sama-sama, Clara,” kataku sambil tersenyum kepadanya.

“Oh ya, Dok. Urusan biaya, nanti saya cari pinjaman dulu, ya, Dok,” kata Pak Ferdi.

“Tidak usah bayar, Pak,” kataku.

“Terima kasih, Dokter. Terima kasih…” Katanya sambil menangis penuh haru, kemudian aku perlahan-lahan memeluknya.

“Tidak apa-apa, Pak,” kataku, “Rumah saya kosong, saya hanya tinggal sendiri, maukah Bapak dan keluarga sementara tinggal di rumah saya selagi rumah Bapak diperbaiki?”

“Saya tidak tahu harus berapa kali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Dokter. Terima kasih banyak, Dokter. Dokter adalah pahlawan bagi keluarga saya,” katanya masih menangis.

Aku menyadari sesuatu. Luka di lututku sudah tidak terasa sakit lagi. Aku menaikkan celanaku untuk mengeceknya. Luka itu benar-benar sudah hilang.

Iklan