KISAH LAIN NAWANGWULAN

Tya

Langit masih biru meski tak sejernih dulu. Matahari pun masih saja setia menyinari negeri tropis tempat aku biasa berendam seperti sekarang ini. Bersama enam orang kakakku, aku berendam sambil bergosip hal-hal tak penting hanya supaya terlihat kami tak ada bedanya dengan manusia imortal lain. Di negeri langit asal kami, tidak perlu ada air untuk mandi atau kebutuhan lain seperti yang dilakukan manusia. Kami jauh lebih terhormat dari makhluk yang suka melamun sambil menggali kotoran hidungnya dengan jari telunjuknya itu. Tapi bagaimana pun juga, karena leluhur kami masih keturunan manusia bumi, kami butuh air bumi untuk tetap hidup abadi. Tepatnya ketika hari penganugerahan mustika seperti hari ini. Kalau saja hari ini bukan hari saat aku mendapat mustika, pasti aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan awan senja dari balkon kamarku di istana langit. Bumi terlalu jorok untuk ditinggali dan aku kesal bukan main kalau ada manusia yang buang sampah di sungai.

“Nawang! Cepat naik dan pakai kainmu. Sebentar lagi turun hujan”. Tegur  Nawangsari membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dengan malasnya. Menguap lebar dan mengangguk pelan sambil menjawab dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Sementara kakak-kakakku yang lain beterbangan dengan selendang warna-warninya entah kenapa aku masih ingin tetap berendam di sungai berarus tenang ini.

Langit masih terang dan tidak mungkin turun hujan, pikirku.

“Cepatlah! Aku tidak mau tertinggal jamuan malam lagi karena harus menemanimu” dia masih saja menggerutu sambil mengikatkan selendang merahnya di pinggangnya yang ramping.

Kusumpahi badanmu jadi rata kalau kamu menggerutu terus begitu, ucapku dalam benak, hanya gelembung-gelembung udara dari mulutku yang naik permukaan air. Dia tak akan dengar.

“Aku mendengar apa yang kamu pikirkan, bodoooh!!!!” alih-alih terbang, dia malah sempat-sempatnya melempar batu kali sebesar kerbau ke arahku. Kaget aku berkelit hingga batu besar itu melesat jauh menabrak pohon kelapa di belakangku hingga batangnya patah di tengah-tengah dan menghasilkan bunyi gedegum yang membelah hutan dan hewan-hewan hutan  pun belarian.

“Waw…” takjub aku menatap hasil geramnya kakakku yang satu itu. Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiran. Baru saja aku ingin bilang sesuatu, begitu aku menoleh kakak sulungku itu sudah hilang ditelan awan. Aku menghela nafas lega.

Untung aku bisa menghindar ya.. kalau tidak selanjutnya aku pasti sudah dijadikan umpan buaya. Ah, sudahlah.. mungkin memang sudah waktuku untuk pulang.

Aku berenang ke tepi sungai, naik ke permukaan hendak mengambil kain dan selendangku. Kakiku menjejak di batu kali yang licin berlumut, melangkah hati-hati agar tidak terpeleset seperti Nawangsari yang kepalanya remuk terbentur batu kali dan trauma turun ke sungai di bumi. Setelah berbalut kain, mataku mencari-cari di mana tempat kutaruh selendang kuning kesayanganku tadi. Aku yakin aku meletakkan di sisi kainku.

Nah, kenapa sekarang tidak ada ya? Apa mungkin hanyut?

Tidak mungkin. Karena dia akan otomatis mengambang di udara dan bersinar bila terkena air.

Wah.. aku tidak akan bisa pulang tanpa selendangku itu dan kalau aku tidak pulang berarti aku akan kehilangan kesempatan minum anggur perjamuan yang hanya dilakukan seratus tahun sekali. Terlebih lagi hari ini adalah  bagianku-sebagai anak bungsu di keluargaku-untuk minum anggur itu dan mendapatkan mustika kemampuan khusus. Sudah bosan aku dianiaya kakak-kakakku yang kemampuannya macam-macam itu.

Baiklah. Aku akan menyusuri sungai siapa tahu aku bisa menemukannya. Di saat seperti ini aku harus menemukan manusia dan bertanya. Yang aku tahu pemukiman manusia tidak jauh dari aliran sungai. Jadi aku yakin telah mencari di tempat yang benar.  Semilir angin membelai tubuhku dan cahaya matahari menembus dari celah-celah dedaunan menemani pencarianku. Sepanjang tepian sungai ini mataku tetap mencari-cari selendangku itu. Kutajamkan telingaku kalau-kalau siapa tahu ada orang bumi yang berniat jahat di sekitarku.

Setahuku mereka sangat terobsesi dengan tubuh indah. Kalau salah satu dari mereka melihatku seperti ini tidak salah lagi mereka pasti akan tergiur. Hehe.. aku kan putri ayah yang tercantik di antara semua putrinya yang lain. Hohoho…

“Hoekk..sstt..” suara seseorang kutangkap sangat jelas dan aku menoleh. Tapi nihil. Tak ada seorangpun di sekitarku. Selama ini kami tidak pernah berkomunikasi langsung dengan orang bumi, jadi agak aneh rasanya mendengar suara berbisik tadi. Apa begitu cara mereka menyapa orang lain? Aneh benar. Karena aku tidak melihat seorang pun akhirnya aku putuskan untuk tetap berjalan dan berharap bisa bertemu manusia untuk ditanyai.

“Gadis bodoh…”Aku menoleh lagi. “najis benar pikiranmu tadi. Cuih! Ehm! ini aku kakakmu, Nawangmelati. Aku sedang jadi sukma angin.”

Ah. Dia rupanya.

”Kenapa kamu belum pulang juga?” ucapnya bersamaan dengan desahan tiupan angin yang semilir melewati tengkukku. Wangi daging bakar resep istana yang selalu dimakan si gembul itu. Pasti dia. Langsung terbayanglah badan bulat penuh daging dengan selendang hijaunya mengambang-ngambang di udara waktu dia belajar terbang menjadi sukma angin. Lebih mirip balon udara daripada orang langit. Bagusnya ilmu mustikanya sudah sangat bagus hingga meski ia ingin jadi sukma angin di bumi, raganya tidak perlu ikut. Pasti sekarang dia sedang di teras istana dan melihat lewat pikirannya.

“Selendangku hilang jadi aku tidak bisa pulang,” jawabku santai dan datar sambil menggaruk-garuk kulit ketiakku yang tadi digigit lintah sungai.

“HAH?!” tiba-tiba saja suaranya terdengar begitu kerasnya sampai aku harus menutup rapat dua telingaku disusul suara teriakan orang terjun dari ketinggian.

BLUUGG! ia jatuh tepat di hadapanku. Jatuh begitu saja seperti gumpalan bola daging berukuran besar, hanya saja bedanya ia berpakaian lengkap. Ia meringis kesakitan, bangkit susah payah lalu mengelus-elus pantatnya yang bergumpal dan aku berani sumpah itu pantat sangat mirip dengan momiji berukuran raksasa.

Pasti tak begitu sakit.  Kan ia punya daging lebih sebanyak itu.

“Tidak sakit kepalamu! Sakit tahu!” jawabnya sambil marah-marah.

Hah? Kenapa sih semua kakakku bisa baca pikiranku. Sial!

“Duh! Kamu sudah membuatku mendengar kata-kata haram yang membuat ajianku tidak sempurna tadi. Padahal wujud sukma anginku sudah sangat bagus tadi,” ia menggerutu hingga dua pipi gembulnya bergetar lucu dan jadi berwarna merah muda.

Aku hanya bisa menatapnya, menaikkan bahuku tidak mengerti.

Ya. Mana aku tahu kalau kamu membuat dua kata itu sebagai kata-kata haram pemusnah ajianmu. Dasar gumpalan daging! Sebaiknya kamu membantuku karena sudah terlanjur ada di sini.

“Enak saja! Aku akan pulang dan bilang ke ayahanda kalau kamu sudah sangat ceroboh membiarkan selendang pusakamu dicuri seorang manusia! Ups!” meski ia buru-buru mendekap mulutnya pun percuma, aku sudah mendengarnya. Mataku langsung berkilat-kilat dan tanganku menarik sejumput dari rambut panjangnya sampai ia meringis kesakitan sekali lagi.

“OH! Jadi kamu tahu kalau selendangku dicuri salah satu manusia hutan ini dan berniat membiarkanku mencarinya setengah mati sampai aku tak sempat datang ke perjamuan? Terlalu!” seruku yang lalu melepaskan rambutnya dengan kasar.

“Ah, sial! Sebenarnya aku memang tak ingin membantumu, tapi apa boleh buat. Aku akan membantumu menemukan selendangmu sambil mengumpulkan kekuatanku sampai aku bisa menjadi sukma angin lagi dan pulang” dengan berat hati ia berjalan di sisiku. Aku tahu dia sangat malas berjalan sejak ia dikaruniai mustika ilmu menjadi sukma angin. Pantas saja tubuhnya membengkak begitu. Bikin malu bangsa langit saja.

“Jaga pikiranmu, adik bodoh!”

“Aduduhh!!! aku meringis kesakitan saat cubitan mautnya mendarat di kulit pinggangku. Sial! Mana aku punya privasi kalau begini caranya.

“Sudahlah. Terima saja nasib sialmu itu dan diamlah. Kita sudah dekat” katanya lagi dengan nada yang serius. Aneh rasanya mendengar ia berucap serius seperti itu. Biasanya ia selalu merajuk kalau bicara dan tak ada yang dibicarakannya selain resep baru masakan juru masak istana. Ternyata ia ada sisi baiknya juga. Kulihat ia tersenuym-senyum menatapku kemudian mengangguk penuh arti seakan mengiyakan pikiranku tadi.

Ah! Aku lupa ia bisa membaca pikiranku! Sial! Ia cekikikan melihatku yang jadi kesal sendiri dan tak tahu harus bersikap bagaimana.

Pegangan tangannya di lenganku membuatku terdiam dan serta merta mataku mengikuti arah matanya menatap. Ada sebuah gubuk kayu dengan asap mengepul di atasnya. Sepertinya mereka sedang membakar sesuatu di pelataran muka rumah itu. Kami tidak melihat apapun. Hanya tercium wangi cendana di udara dan arahnya dari muka rumah itu.

Jangan-jangan mereka membakar selendangku! Bahaya! Kurang ajar!pusaka ku satu-satu nya! Aku harus kesana!

Baru saja akan bergegas, Nawangmelati mengeratkan pegangannya. Menatapku dan dengan nada mengejek ia berkata,

“Selendangmu itu bau kecut keringat ketiakmu jadi tidak mungkin yang dibakar itu adalah selendangmu. Dasar bodoh!“

Tapi tetap saja kita tidak bisa membiarkannya memiliki selendangku! Aku mulai geram dan merenggut kesal.

“Yasudah..ayo kita periksa,” katanya dengan malas dan kamipun berjalan menuju muka gubuk itu. Begitu dekat muka rumah aku heran bukan main karena banyak sekali manusia berkumpul. Pria-wanita, tua-muda berkerumun memperhatikan sesuatu dan mereka mengeliingi sumber kepulan asap. Ramai sekali. Apa mungkin ini pusat pemukiman? Tidak mungkin karena sejauh mataku memandang hanya ada satu gubuk ini saja yang berdiri. Mereka ramai bersorak seperti sedang menonton sirkus hewan langka dan suara tepuk tangan riuh terdengar membuatku semakin penasaran.

“JAKAA!! JAka!!“ begitu mereka bersorak-sorak. Dengan susah payah aku menembus keramaian para manusia itu. Menutup hidungku dari ancaman bau busuk badan, mulut mereka, dan himpitan badan-badan yang rapat berkerumun itu. HWAH! Akhirnya aku bisa menembus keramaian dan bisa melihat jelas apa yang membuatku penasaran. Kecurigaanku benar, aku jelas-jelas melihat seorang lelaki menduduki selendangku dan ia mengambang-ngambang di udara dan setiap ia melambai semua orang pun bersorak memanggil-manggil namanya, takjub bukan main. Aku menatap sekelilingku. Melihat orang melempar kepingan kecil emas ke dalam buli-buli di sekitar orang yang duduk di selendangku itu. Aku masih menatapnya heran waktu Nawangmelati menepuk pundakku dan berkata,

“Dia memanfaatkan selendangmu untuk mencari uang.. ckckck” ia menggeleng-gelengkan kepala gemuknya sok prihatin padahal aku tahu ia sangat berminat mengejekku yang tidak bisa menjaga pusaka pribadinya ini. Aku mungkin masih akan terdiam di salah satu sudut keramaian itu kalau saja kakakku tidak nekat mendekati orang itu dan menarik paksa selendangku hingga ia jatuh terjerembab ke tanah.

“Kembalikan selendang adikku!” ucapnya ketus.

Keramaian orang sempat terdiam dan berpikir itu bagian dari pertunjukkan. Mereka semakin bersorak girang dan sang perncuri berdiri dan dengan geram menghardik balik kakakku.

“Enak saja kamu mengaku-ngaku! Ini selendang pusaka milik leluhurku!” ia menarik paksa selendangku dari tangan kakakku yang tetap memegang erat ujung yang lain.

”Oh ya? Coba siapa tadi namamu? Kenapa yang tersulam di sini jelas-jelas nama adikku ya?” ejek kakakku. Yang diejek hanya menatapnya dengan muka memerah menutupi kebohongannya.

”Tidak! Ini punyaku! Aku yang menemukannya berarti ini milikku!!” pria itu kembali menarik paksa. Pasti perjuangannya sangat berat untuk bisa merebutnya dari kakakku yang berbadan sangat gembul itu.

”Ayo menganku saja kalau kamu mencurinya saat adikku sedang mandi! Ayo mengaku, dasar maling!” teriak kakakku lagi.

Aku yang terdiam melihat mereka saling tarik-menarik selendangku hanya bisa berharap selendang itu tidak robek dan aku masih punya harapan untuk pulang dan menyambut anggur perjamuan pertamaku. Kalau sampai selendang itu robek..

BRET!

Mati aku!

Ototku mengejang. Darahku mengalir deras dalam tubuhku. Teralu deras hingga aku bisa mendengarnya bergerujuk dalam rongga tubuhku. Pandanganku menggelap dan suaraku menggeram berat seperti guntur dalam badai. Dari dalam tubuhku sesuatu seperti meronta-ronta mencabik-cabik dan berontak keras hingga merobek kulitku. Sakit bukan main rasanya kalau aku tahan amukan-amukan dalam tubuhku ini. Aku gemetar hebat dan melepaskan apapun itu yang ada di dalam tubuhku dan sekejab saja tubuh keputrianku hilang. Kini aku serupa monster setinggi pohon kelapa, berwajah serigala, bertaring seleher, bermata kuning menyala, berbulu hitam keras seperti beruang dan berlengan kekar lengkap dengan cakar hitam mencuat dari ujung-ujung jariku. Aku ingin bicara tapi yang keluar hanya geraman dan raungan kasar yang menggelegar dan membahana menggetarkan bumi. Semua orang berlarian panik ketakutan melihat wujud asli kami. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Dan tinggallah si pencuri yang ketakutan namun tak berdaya karena ada di genggaman tangan kakakku yang juga telah berganti sosok serupa denganku namun matanya nyalang bersinar hijau. Air liurnya mengucur dari mulutnya yang sedikit terbuka dan menghujani sang pencuri. Pencuri yang kini tampak sekecil dan selemah semut di tangan kakakku itu gemetar ketakutan dan menangis mohon ampun. Aku melangkah mendekati kakakku dan menjengukkan wajahku ke genggamannya untuk bisa melihat wajah ketakutannya dari dekat.

“Wulan.. aku ingin… meremukkan kepalanyaa…”geram kakakku dan genggamannya mengerat. Si pencuri mengerang kesakitan karena terjepit dan berusaha sekuat mungkin untuk menahan genggaman tangan kakakku. Darah keluar dari mulutnya tanda organ pencernaannya sudah mulai robek.

“Tidak. Jangan.. ia harus bertanggung jawab atas selendangku,” jawabku dengan nafas yang menderu-deru kasar di sela-sela geramanan yang menyakitkan gendang telinga.

Kakakku tampak berpikir. Kemudian menggeleng. Ia tak tahu bagaimana mengembalikan wujud cantik kami. Aku tahu ia sudah tidak tahan untuk meremukkan manusia pencuri itu.

“Ayo kita panggil paman kita” ia lalu menginjak bumi sebanyak tiga kali dan  setelah itu bumi bergetar hebat. Aku bisa merasakan pijakan tanah di bawah kakiku memanas dan tak lama meretak lalu munculah dia, paman kami yang terkenal sangat bijaksana itu terlihat tampak masih bugar meski wajahnya sudah berkeriput dan jenggot putihnya terurai panjang menyentuh tanah. Ia tampak sedikit kaget saat melihat kami berdua dalam wujud asli yang tidak pernah terlihat selama berabad-abad lamanya dan hanya mengangguk-angguk paham.

“Lama tidak berjumpa, sekarang kalian tumbuh berbulu seperti itu ya.. hmhmhm..”tuturnya sambil memainkan jenggotnya. Aku dan kakakku hanya saling tatap dan berharap ia bisa membantu. Nafasku sudah semakin panas dan berat. Akhirnya sang paman melompat ke pundakku dan berbicara tepat di telingaku.

“Bagus kamu tidak membiarkan kakakmu langsung membunuhnya, kalau tidak seluruh keluargamu akan tetap seperti ini, Nawang.” Ucapnya santai.

“Keluargaku?” aku bertanya-tanya. Ternyata robeknya selendangku berpengaruh ke seluruh keluargaku. Berarti mereka saat ini berwujud serupa dengan kami berdua dan bisa kubayangkan betapa murkanya mereka kalau aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Hii..

“Kalian bisa mengembalikan wujud agung kalian dengan menyatukan kembali selendang kuning nawangwulan yang robek.”

Aku menelengkan kepalaku.

“Bagaimana caranya? Tak ada satu benang Bumi pun yang dapat menyatukan selendang manusia Langit.

Paman menyunggingkan senyum kecil lalu membuka mulutnya.

“Tentu saja benangnya adalah setiap helai nadi manusia terkutuk itu..”

Mendengar hal itu aku dan kakak berpandangan sejenak lalu mengamati Jaka yang meronta-ronta dalam genggaman kakak. Seringai kakakku melebar. Kami lalu mendengarkan setiap instruksi paman dan bertindak cepat sebelum seluruh makhluk dalam ras kami murka. Paman  turun ke tanah, membentangkan selendangku yang terbagi menjadi dua bersiap menjahitnya dengan benang khusus yang kuambil dari sang pencuri, Jaka Tarub. Kakak memegangi pria yang meronta-ronta kesakitan itu sementara cakarku merobek kulitnya dan menarik setiap helai nadinya. Mencabut setiap urat yang melintang-lintang dalam tubuh kecilnya yang kini banjir darah segar. Suara teriakannya mengiris udara dan memekakkan telinga. Jaka memekik ngeri. Matanya terbelalak terbuka. Mungkin ia sedang menatap malaikat maut di balik bahuku yang sedang menantikan kepulangannya. Di tengah-tengah raungan kesakitannya ia berteriak-teriak memohon ampun dan menatap ngeri ketika aku mencabut nadi-nadi dan urat ototnya satu persatu.

“Paman, kenapa tidak kita bunuh saja dulu manusia ini? Repot memegangi nya meronta-ronta seperti ini sejak tadi” keluh kakakku. Pamanku yang sedang menjahit selendangku dengan urat nadi si Jaka menjawab tanpa menoleh, “Tidak akan manjur mengembalikan wujud agung kalian. Kalau kita menggunakan urat nadi mayat maka kalian akan berwujud agung tapi penuh bulu seperti itu. Mau? Aku yakin kalian tidak akan mau” ucapnya santai. Selendang kuningku kini beroles darah segar dan mendengar jawabannya aku langsung semangat mencabuti setiap urat nadi yang masih tersisa. Jaka Tarub sudah tidak seheboh tadi. Ia hanya meraung lemah. Matanya  terpejam sedang tubuhnya banjir darah dengan daging merahnya yang menganga terbuka beruap anyir.  Dadanya megap-megap sekarat. Tugasku mencabuti urat nadinya sudah selesai. Kakakku pun sudah malas memegangi pria tak berdaya itu. Ia menjatuhkan tubuh penuh darah Jaka dan membiarkannya kejang menggelepar-gelepar di tanah seperti ikan dikeluarkan dari air. Paman sudah selesai menjahit selendangku tapi wujud kami belum juga berubah.

“Paman, kenapa tubuh kami belum juga berubah?” geramku sambil menjilati jari-jariku yang berlumuran darah segar Jaka.

“Tugas kalian belum selesai” jawabnya tenang sambil menatap tubuh Jaka Tarub yang sekarat.

….

Aula istana ramai penuh dengan tawa dan percakapan. Semuanya tampak santai dan bahagia. Wujud agung kami telah kembali dan perjamuan anggur malam ini tidak jadi tertunda. Aku akhirnya mendapatkan mustika berupa tiara bertatahkan permata yang berkilau merah muda dan ditengahnya disusun sepasang bola mata manusia yang terbungkus air suci ajaib hingga tiap selnya masih hidup dan masih berbinar penuh cahaya meski sang empunya terdahulunya terpisah dengan jarak hanya dua piring dari ku. Selebihnya aku tinggal menanti saatnya kemampuan khusus ku menyatu sempurna dengan sukmaku dan aku tidak akan sama lagi.

“Wah..enak sekali ya, Nawangwulan. Sajian malam ini sangat berbeda dengan perjamuan terdahulu. Kami sangat puas” ucap adik dari ayah yang duduk di sampingku. Ia menyendok sup daging dengan wajah sangat berselera.

“Iya..kami akan usahakan agar jamuan seperti ini dilaksanakan kembali secepatnya ya” jawabku diplomatis. Ia tampak mengangguk senang sambil mengunyah makanannya.

“Tapi jangan sampai harus merobek selendang pusaka lagi ya..geli rasanya punya badan penuh bulu seperti tadi..hii” ucapnya dan dibalas tawa kakak-kakakku.

Aku ikut tertawa an kurasakan sepasang bola mata di tiaraku bergetar ketakutan. Dan aku pun menyeringai.

Iklan