KSATRIA PUTIH DAN LABIRIN DUNIA KEGELAPAN

Shao An

Adikku, yang terpaut dua tahun dariku, tampak gelisah ketika kami masih saja menelusuri lorong yang seakan tanpa akhir itu. Sudah satu, atau mungkin dua jam, kami terus berputar-putar di tempat itu. Kugenggam tangannya, dan kukatakan padanya agar jangan khawatir. Aku akan segera menemukan jalan keluar dari sini. Lagipula kita adalah Ksatria Putih, kataku. Kita yang membawa cahaya. Adikku mengangguk dan kami kembali berjalan. Tapi sesungguhnya, aku sendiri mulai kehilangan arah dan keyakinanku.

Lorong itu masih belum kelihatan ujungnya. Lampu neon panjang yang berjajar di atas kepala kami terus mengerjap dan berdengung seperti serangga raksasa. Di sisi kiri dan kanan terdapat dinding putih kusam yang sudah tua dengan deretan pintu yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap kali melewati tiga belas pintu, kami menemukan percabangan lain yang juga berisi tiga belas pintu lain yang sama persis, yang terus bercabang sejauh mataku memandang. Lampu neon yang sama. Lantai keramik kotak-kotak, dan lapisan cat lama pada dindingnya. Pintu kayu dengan kenop putar yang sama.

Sial, bisikku. Apakah ini Labirin Dunia Kegelapan yang sering dibicarakan orang-orang? Mereka berkata bahwa setiap tahun pasti akan ada seseorang yang terjebak ke dalam labirin itu dan tidak pernah kembali lagi. Tidak ada yang tahu kenapa atau bagaimana seseorang bisa sampai terjebak di sana. Mereka hanya bilang hal itu kadang-kadang terjadi begitu saja di luar kemampuan kita.

Bagaimana ini, pikirku. Aku menoleh pada adikku. Ia mengangkat wajahnya dan balas memandangku tanpa daya. Melihatnya seperti itu, hatiku seakan tersayat-sayat. Ia adalah adik yang kukasihi dan sekarang ia harus terjebak di tempat seperti ini bersamaku. Ini semua memang salahku. Seharusnya aku mendengar kata-kata ibuku dan kami tidak masuk ke hutan itu. Kurangkul tubuhnya dan kubelai lembut rambutnya. Bertahanlah, kataku. Sebentar lagi kita pasti akan keluar dari sini. Aku berjanji.

Aku menghela nafas dan berdiri memandangi lorong di depanku. Lorong di samping kiri, belakang, dan akhirnya lorong di sebelah kananku. Ada jutaan pintu di tempat itu. Pasti ada alasannya mengapa pintu-pintu itu ada di sana. Mungkin salah satunya adalah jalan keluar kami, pikirku. Pintu kebebasan kami.

Aku berjalan mendekati salah satu pintu itu, lalu menempelkan telinga dan berdiri mendengarkan. Hening. Kosong. Tidak ada apa-apa. Aku meraih kenop pintu dan memutarnya.

Terkunci.

Aku mencoba mendorongnya dengan bahu. Pintu itu kokoh sekali. Aku lalu mengetuk pintu itu. Halo? Apa ada orang di dalam?

Tidak ada jawaban.

Aku mencoba membuka pintu lain di sampingnya lalu pintu di seberangnya, tapi semua pintu itu terkunci. Aku mengetuk lebih keras. Halo? Ada orang? Siapa saja?

Hening. Hanya terdengar dengungan lampu.

Aku berhenti dan mengamati pintu di hadapanku lalu membandingkannya dari satu pintu ke pintu lain, tapi semuanya sama persis. Tidak ada ciri atau tanda khusus yang membedakannya. Bagaimana ini? Kepalaku mulai pusing. Aku lalu berjongkok di lantai dan mencoba menjernihkan pikiranku. Mungkin jika aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sejak awal dan mengurainya satu per satu aku akan dapat menemukan jalan keluarnya, pikirku. Jadi aku memejamkan mata dan mencoba menggali ke dasar ingatanku, dan tidak lama kemudian aku mulai mencium aroma rumput.

Aku sedang bermain bersama adikku di halaman belakang rumah kami. Hari sudah menjelang sore. Langit berwarna kuning keemasan, dan angin bertiup sepoi-sepoi dari arah bukit. Kami sedang bercanda dan bermain gulat, bergulingan di atas tanah dan tertawa terkikik-kikik, ketika aku kemudian melihat seekor kelinci di luar pagar halaman. Aku berhenti dan berbaring di atas rumput, memandangi kelinci itu. Kelinci itu memiliki bulu putih yang sangat indah dan lebat, seperti gumpalan kapas besar. Matanya berwarna merah.

Lihat kelinci itu, kataku pada adikku. Ayo kita tangkap. Kita bisa memeliharanya.

Aku bisa melihat senyum adikku melebar dan matanya berbinar-binar ketika mendengar gagasan itu. Ia selalu senang memelihara sesuatu.

Kami bangkit dan berlomba menangkapnya, tapi kelinci itu gesit sekali. Kami terus mengejarnya hingga menuruni bukit belakang rumah, melewati hamparan padang rumput, dan akhirnya mendekati hutan yang menjadi perbatasan desa kami. Adikku segera berhenti begitu melihat kelinci itu berlari ke arah hutan.

Hutan itu gelap dan tampak angker dari luar. Sesekali, jika kita berdiri cukup dekat di sana, kita bisa mendengar suara-suara aneh menyerupai bisikan dari dalamnya. Pohonnya tinggi-tinggi dan sudah sangat tua umurnya, dengan akar-akar panjang dan berbonggol-bonggol yang menjalar di tanah seperti tangan raksasa. Daunnya lebat dan berlapis-lapis, sehingga cahaya matahari tidak dapat menembus ke dalamnya, dan ketika hari mulai menjelang malam, kabut putih akan merangkak keluar dan menyelimuti hutan itu.

Ibu selalu mengingatkan agar kami jangan sekali-sekali memasuki hutan itu. Ia bilang, tempat itu sangat berbahaya dan penuh dengan makhluk-makhluk jahat.

Ayolah, kataku pada adikku saat berlari memasuki hutan itu. Kita akan kehilangan kelinci itu jika tidak cepat.

Dulu aku pernah memasuki hutan itu. Dengan memakai jubah putih dan membawa tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiriku, aku melangkahkan kaki ke dalamnya. Aku selalu ingin menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah didatangi manusia, dan melihat makhluk-makhluk ajaib seperti yang ada dalam cerita-cerita legenda. Tapi ternyata hutan itu tidak seperti apa yang selama ini kubayangkan. Tidak ada makhluk-makhluk aneh atau petualangan apapun di dalamnya. Di sana hanya ada pepohonan dan batu.

Ayolah. Kita akan segera kehilangan kelinci itu jika tidak cepat, kataku.

Adikku tampak bimbang untuk sesaat, tapi ia akhirnya berlari mengikutiku dari belakang. Ia selalu mempercayai kata-kataku. Ia selalu berpikir bahwa ia akan selalu aman jika bersamaku.

Kami masuk semakin dalam, dan selama beberapa saat itu mataku terus tertuju pada kelinci putih itu. Aku sudah semakin dekat dan tidak ingin kehilangannya. Lalu tiba-tiba, aku mendengar adikku menjerit.

Aku berhenti seketika itu juga dan menoleh ke arahnya, tapi ia tidak ada di belakangku. Aku memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Aku mulai khawatir. Aku segera kembali menyusuri jalan yang tadi kami lewati sambil terus memanggil-manggil namanya. Tapi hingga aku keluar dari hutan itu aku tidak dapat menemukannya, seolah adikku menghilang begitu saja.

Bagaimana ini, bisikku. Ini semua salahku. Seharusnya kami tidak masuk kemari. Aku masuk kembali ke dalam hutan dan menyusuri daerah di sekitar jalan masuk hingga ke tempat aku terakhir kali mendengar suaranya. Aku terus mengamati jalan di bawahku, mencari jejak atau sesuatu.

Lalu aku berhenti. Dua langkah di depanku, terlindung rapi oleh rerumputan, terdapat sebuah lubang di atas tanah. Lubang itu cukup besar, diameternya kurang lebih sama seperti sumur-sumur yang banyak ditemui di desa kami. Tapi lubang itu bukan sumur, juga bukan lubang-lubang yang dibuat manusia. Lubang itu ada begitu saja di sana.

Jantungku berdebar kencang. Jika adikku berlari melewati jalan ini, ia tidak mungkin akan melihat lubang itu. Perlahan-lahan aku mencondongkan tubuhku dan mengintip ke dalam.

Lubang itu dalam dan gelap sekali, tidak ada apapun yang dapat terlihat. Tapi setelah beberapa saat mataku mulai terbiasa dan samar-samar aku bisa melihat sesosok tubuh yang terbaring dengan posisi aneh di dasar lubang itu.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Itu adalah adikku.

Untuk sesaat aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku tahu aku seharusnya bereaksi atau melakukan sesuatu, tapi aku hanya terdiam di pinggir lubang itu. Seolah jiwaku melayang pergi entah kemana dan yang tersisa di sana hanyalah seonggok daging dan tulang.

Baru beberapa saat kemudian aku mencoba memanggilnya. Aku terus memanggil-manggilnya hingga akhirnya aku melihat gerakan di bawah sana. Pada mulanya aku tidak yakin, tapi beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak lagi.

Adikku mulai terjaga. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang sekelilingnya dengan bingung. Aku lalu memanggilnya lagi, dan ia menangkupkan tangannya di atas mata dan memandang ke atas.

Tunggu sebentar, kataku. Jangan bergerak. Aku akan segera turun kesana.

Aku menggunakan batu-batu yang menonjol di pinggir lubang itu sebagai pijakan. Aku turun dengan perlahan sekali, karena batu-batu itu licin dan beberapa kali aku hampir tergelincir. Ketika aku melihat pada adikku lagi, ia sedang menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang berenang. Apa yang ia lakukan, pikirku.

Jangan gerakkan dulu tanganmu, kataku. Sebaiknya kuperiksa dulu. Mungkin ada tulang yang patah.

Tapi adikku tidak mendengarkanku. Ia terus menggerak-gerakkan tangannya. Aku baru akan menegurnya lagi, ketika aku melihat cairan hitam dan kental menyerupai lumpur di dasar lubang itu, yang perlahan-lahan membuat tubuhnya tenggelam.

Aku terkejut dan berusaha turun lebih cepat. Adikku semakin panik. Ia terus menggerakkan tangannya dan berusaha tetap mengambang, tapi sia-sia saja. Dadanya mulai tenggelam. Lalu lehernya. Ia menatapku dari bawah dengan putus asa dan menjulurkan tangannya, sebelum akhirnya kepalanya tenggelam ke dalam cairan itu.

Tanpa pikir panjang lagi, aku lalu melompat. Aku merasakan tubuhku tercebur ke dalam cairan itu, dengan gelembung-gelembung udara di sekelilingku. Suara-suara menjauh dan mengabur, terdengar seperti gumaman. Aku membuka mataku tapi tidak terlihat apa-apa. Tanganku mencari-cari dalam kegelapan, dan aku akhirnya dapat menemukan tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Aku mulai berenang. Aku tidak tahu lagi mana atas atau bawah, aku hanya berusaha keluar dari tempat itu secepatnya.

Selama beberapa saat aku terus berenang, tapi kami tidak kunjung mencapai permukaan. Aku mulai kehabisan nafas. Aku mencoba bertahan dan berenang lebih cepat, tapi dorongan untuk menghirup udara terus memuncak dan akhirnya tidak tertahankan lagi. Aku membuka mulutku dan cairan hitam itu berlomba masuk ke dalam rongga hidung dan tenggorokkanku, memenuhi paru-paruku. Lalu perlahan-lahan segalanya mulai mengabur.

Aku tidak bisa mengingat lagi apa yang terjadi berikutnya. Tapi ketika aku kembali terjaga, tahu-tahu kami berdua sudah ada di labirin itu.

Aku membuka mata. Lorong-lorong itu masih ada di hadapanku. Adikku sedang berjongkok di sampingku dan mencoret-coret lantai dengan jari telunjuknya.

Mungkin aku harus kembali, pikirku, dan berenang ke arah berlawanan melewati cairan hitam itu, lalu memanjat kembali lubang itu agar bisa keluar dari labirin ini. Tapi dimana aku menemukan lubang berisi cairan hitam itu di tempat seperti ini? Ketika aku terjaga, yang kulihat adalah lorong-lorong itu, pintu-pintu, dan lampu-lampu itu. Tidak ada lubang atau saluran apapun di dekatku yang mungkin terhubung dengan lubang yang ada di hutan itu. Jadi bagaimana aku bisa kembali kalau begitu?

Aku memandangi kedua tanganku. Aku menelusuri pakaianku, dan memperhatikan pakaian adikku. Aneh. Seharusnya pakaian kami basah dan kotor oleh cairan hitam itu, tapi pakaian kami kering dan tidak ada noda hitam sama sekali. Satu-satunya noda yang menempel di pakaian kami hanyalah bekas tanah setelah bermain gulat di halaman rumah kami pada sore itu. Benar-benar aneh. Mengapa bisa begini? Mengapa semuanya jadi membingungkan seperti ini?

Adikku tiba-tiba bangkit. Ia merapatkan tubuhnya padaku dan menggoyang-goyangkan bahuku. Ada apa, kataku. Tapi ia tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke belakang kami dengan ketakutan. Wajahnya pucat. Aku membalikkan tubuhku dan melihat arah yang ditunjuknya.

Tuhan, bisikku. Demi Tuhan.

Lorong di belakang kami bergerak membentuk pusaran, dengan kegelapan tidak tembus pandang di ujungnya. Dinding, atap, lampu, pintu-pintu itu semuanya tersedot masuk ke dalam lubang hitam. Aku bangkit dan segera menarik adikku berlari menjauhi tempat itu. Lari, kataku. Lari.

Kami membelok ke kiri di percabangan lalu membelok ke kanan di percabangan berikutnya, dan terus berlari seperti itu. Tapi ketika aku menoleh ke belakang, pusaran itu masih membayangi kami dan semakin mendekat.

Aku tahu kami akan kehilangan banyak waktu jika terus berlari seperti itu, jadi kami akhirnya hanya berlari sekencang-kencangnya menembus lorong di depan kami. Adikku mulai terisak. Ia pasti sangat ketakutan sekarang.

Cepat. Ayo cepatlah.

Entah sudah berapa percabangan yang kami lewati. Kami sudah mulai lelah dan melambat, dan seberapapun cepatnya kami berlari, kegelapan itu selalu ada di belakang kami. Aku mencengkeram tangan adikku dan memaksanya terus berlari. Ayolah. Kita tidak boleh berhenti sekarang, kataku.

Lalu tiba-tiba pegangan kami terlepas dan adikku terjatuh. Aku berhenti dan segera kembali untuk menjemputnya, tapi lorong di belakangnya mulai berputar dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh ke dinding, lalu terguling ke atap, dan ia mulai tersedot masuk ke dalam lubang hitam itu.

Berpeganganlah pada sesuatu, kataku. Aku segera datang.

Ia mencoba berkali-kali mencari pegangan, dan akhirnya ia berhasil meraih sudut dinding dekat pintu dan menggelantung di sana. Lorong itu terus berputar masuk ke dalam kegelapan, seolah ada makhluk tidak berwujud di belakangnya yang terus membuka mulut dan menghisap semua benda yang ada di depannya.

Lantai di bawah kakiku mulai miring. Aku bergerak mengikuti putaran lorong itu dan berusaha mendekatinya. Bertahanlah, kataku. Aku mengulurkan tanganku, tapi jarak antara kami terlalu jauh dan terus melebar. Pegangan tangannya mengendur dan ia mulai merosot turun.

Tidak. Bertahanlah sebentar lagi. Kumohon.

Aku bisa melihat raut ketakutan yang amat sangat di wajahnya. Begitu jelas dan begitu nyata. Sehingga saat pertama kalinya aku melihat wajah itu, aku tahu aku tidak akan pernah bias melupakannya lagi.

Kumohon bertahanlah, bisikku. Kumohon.

Lalu pegangan tangannya terlepas.

Berbagai macam ekspresi wajah adikku kemudian muncul saling tumpang tindih dalam benakku seperti potongan-potongan film lama, ketika ia terjatuh ke dalam lubang itu. Wajahnya saat ia dengan serius mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan yang kubacakan. Wajahnya saat ia tertidur pulas di sampingku. Wajahnya saat ia berbicara penuh semangat tentang sekolah dan teman-teman barunya. Wajahnya saat ia meniup lilin di kue ulang tahunnya.

Tubuh mungilnya itu menabrak dinding, menghantam atap dan lantai di lorong itu dengan tidak terkendali, seolah ada kekuatan luar biasa yang terus menarik tubuhnya ke bawah. Meremukkan tangan dan kakinya. Mematahkan lehernya. Menghancurkan kepalanya.

Lalu tubuhnya berhenti seketika di dasar lubang hitam itu. Tidak tersedot ke dalam kehampaan dan menghilang seperti yang terjadi pada lorong-lorong itu. Tubuhnya hanya terbaring dengan posisi aneh di bawah sana, di dasar lubang gelap itu, dan tidak pernah bergerak lagi.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas wajahnya saat kami bercanda dan bergulingan di halaman belakang rumah kami sore itu, cahaya matahari yang kuning keemasan menimpa wajahnya saat ia tertawa terkikik-kikik di atas tubuhku. Aku masih dapat mengingat senyumannya yang perlahan-lahan mengembang ketika aku mengajaknya menangkap kelinci itu. Dan aku dapat mengingat keraguan yang ada pada wajahnya sesaat sebelum kami memasuki hutan itu. Lalu satu per satu kenangan akan adikku mulai terhapus dalam ingatanku, seberapapun kerasnya aku mencoba mengingat dan mempertahankannya. Dan yang tersisa dalam ingatanku adalah raut wajahnya yang ketakutan itu, yang tanpa daya dan tahu bahwa maut akan segera menghampirinya dan tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilakukannya.

Wajah itu terpatri dalam ingatanku hingga hal yang sekecil-kecilnya.

***

Laki-laki itu duduk seorang diri di sebuah ranjang tipis di pojok ruangan. Ia mengenakan pakaian putih polos dengan celana panjang yang juga berwarna putih. Usianya sekarang tiga puluh tiga tahun, dan ia sudah berada di ruangan itu sejak berusia tiga belas tahun. Dua puluh tahun telah berlalu sejak peristiwa itu.

Ruangan tempatnya berada cukup bersih dan steril. Berukuran tiga kali tiga, dengan dinding tinggi yang warna catnya sudah kusam. Isinya tidak banyak. Hanya ada ranjang besi tempatnya duduk sekarang dan sebuah kursi dengan meja kayu untuk menulis di depannya. Selain itu tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada jendela. Sirkulasi udara diatur melalui lubang angin di pojok atas yang tidak terjangkau olehnya, sekalipun misalnya ia menggeser meja lalu menaruh kursi di atasnya dan berdiri di kursi itu. Satu-satunya penerangan di ruangan itu datang dari lampu neon panjang di langit-langit. Lampu itu sudah menghitam pada salah satu ujungnya, dan memerlukan waktu satu hingga dua menit untuk menyala setelah sakelarnya ditekan. Laki-laki itu selalu mengeluhkan dengungan samar dari lampu itu, tapi tidak pernah ada yang menanggapinya. Pada bagian dinding di seberang ranjangnya, terdapat sebuah pintu yang memisahkan laki-laki itu dengan dunia luar, pintu kayu dengan kenop putar. Pintu yang selalu dikunci dari luar.

Laki-laki itu mendekap boneka kain yang sudah usang itu di dadanya, dan tubuhnya mulai berayun ke depan dan belakang seperti pendulum. Jangan takut, bisiknya pada boneka itu. Kita akan segera keluar dari sini. Kita adalah Ksatria Putih. Kita yang membawa cahaya.

Iklan