KUNCI HITAM

T. Rossi

Kedua sosok itu terpojok di pertahanan terakhir, pasukan mereka telah kalah, hanya sikap berani namun bodoh, yang membuat keduanya tetap menegakkan wajah dengan arogan. Para ajudan mengelilingi mereka, menunjukkan gigi-gigi tajam, memegang erat kampak dan pedang, siap mati demi melindungi sang pemimpin.

Ara’el Ringerdrill menjilat bibirnya yang kering. Menatap ke depan, beberapa ratus meter di depannya musuh terpojok, mereka bertahan di ambang pintu menuju sebuah gua berlorong-lorong panjang dan sangat gelap. Hanya sekali tangannya mengibas memberi perintah untuk mendesak ke depan, maka semua berakhir.

“Sudah tiga malam, Ara’el. Apa kau akan tetap berdiam diri seperti ini?”

Ia yang berjubah putih, dengan kepala terbalut oleh lilitan kain putih bersih, berdiri disamping Ara’el, mengusik angan pria dari negeri Barat itu sehingga dia menoleh dan mengalihkan perhatiannya.

“Bukankah aliansi kita sudah bertahan lebih dari tiga tahun di tanah ini, Sakht?” Ara’el membalikkan pertanyaan. “Menunggu beberapa hari lagi bukanlah hal yang mustahil.”

Sakht Nakerma tak menjawab. Pandangannya lurus ke depan.

Ara’el benar. Tiga tahun terakhir mereka berjuang di padang pasir Thôth, tahun-tahun sebelumnya, musuh masih bertahan di negeri Barat. Karena terdesak, mereka lari ke negeri Timur, dan berusaha membumihanguskan manusia-manusia yang tinggal di sana.

Di negeri Sakht dilahirkan.

Selama kurang lebih dua tahun berada di tengah teror serangan musuh, tiba-tiba Ara’el dan pasukan aliansinya datang ke Timur. Sakht menerima Ara’el di negerinya penuh sukacita, mereka saling bahu membahu untuk menghancurkan lawan yang dipimpin oleh Shades dan permaisurinya, Ifis.

Kedua nama itu tidak asing di telinga makhluk berakal di dunia Khâli, Shades dan Ifis, raja dan permaisurinya yang sangat kejam dan haus akan kekuasaan. Mereka adalah bangsa deya. Elf menyebut mereka sebagai keturunan bangsa dëia, kaum shyrh yang berarti darah, di mana sejak dari masa lampau menjadi musuh bebuyutan. Sedangkan manusia, menyebut bangsa deya adalah bangsa iblis.

Ribuan tahun yang lalu, elf dan bangsa ini sudah berperang, hingga bangsa dëia kalah, dan hampir musnah. Namun, karena rasa belas kasih para elf, mereka melepaskan pasangan dëia yang takkan berkhianat.

Yähgé dan Gôntra, adalah nenek moyang dari bangsa deya, mereka yang berjanji tidak akan pernah mengibarkan bendera perang. Keduanya mampu memegang teguh janji, dunia tentram dan damai beribu-ribu tahun lamanya, karena bangsa dëia adalah makhluk abadi, Yähgé dan Gôntra dapat mengawasi keturunannya yang masih menyimpan dendam karena terkalahkan.

Namun keturunannya, tak mampu memegang janji itu, terlebih setelah dinobatkannya 10 Raja Manusia Pertama di Khali oleh seluruh aliansi bangsa-bangsa di dunia Khâli. Shades dan Ifis akhirnya membunuh Yähgé juga Gôntra, yang tak mau melanggar janji mereka terhadap bangsa lain. Shades dan Ifis lalu mengambil takhta dan menyiarkan kabar peperangan ke seluruh bangsa yang ada di dunia Khâli. Dan menyebut diri mereka sebagai bangsa deya. Tak lama mereka pun merajalela, membunuh dan menghancurkan wilayah-wilayah berpenghuni di dunia Khâli.

Ara’el Ringerdrill tidak bisa tinggal diam negerinya diluluhlantakkan oleh keturunan dari kaum yang pernah memegang teguh janjinya untuk tetap berdamai. Ara’el geram. Dia bersama tujuh raja di negeri Barat, berembuk untuk melancarkan serangan balasan. Dibantu oleh elf, kurcaci, dryad dan nymph, mereka bisa menaklukkan bangsa deya, sehingga bangsa api itu lari ke negeri Timur. Di mana dua dari 10 Raja Manusia Pertama tinggal di sana. Ara’el tak menyia-nyiakan waktu, dia berlayar bersama kaum aliansi ke sana, karena semakin mengulur waktu, maka pasukan musuh bisa mengumpulkan kembali kekuasaan mereka, bahkan akan membinasakan manusia-manusia yang tinggal di negeri Timur.

Dan kini, setelah sepuluh tahun berperang, perjuangan Ara’el bersama pasukan aliansi membuahkan hasil. Shades dan Ifis tak lama lagi akan binasa.

Ini kemenangan yang ditunggu-tunggunya. Tidak perlu terburu-buru.

“Apa kau berpikir bahwa setelah semua ini selesai, takkan pernah ada lagi tantangan besar yang bisa kau hadapi?” tiba-tiba saja Sakht berujar pelan.

Ara’el menatap penuh keterkejutan. “Kenapa kau berpikir demikian?”

“Hanya pemikiranku saja, tidak pernah bermaksud menyinggung.”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku ingin semua berakhir, penderitaan semua bangsa harus selesai sampai di sini.” Ara’el menggeleng tegas. “Dan aku sama sekali tak pernah berprasangka buruk, bahkan menganggap perkataanmu adalah sebuah singgungan.”

Angin menghembus, menerbangkan pasir-pasir yang panas dan menyesakkan. Ara’el hendak kembali ke tendanya dan mengatur rencana untuk memukulkan serangan terakhir, namun datang tiga elf menghampiri Ara’el.

Ketigany adalah, Anfúril FalássÍyon, raja celdin atau light elf pertama dan memiliki ilmu sihir yang sangat tinggi. Infardon Varlynhorl, raja nor’adin atau dark elf. Dan Invedil Sichyvail, raja carlén atau red elf.

“Ara’el, Sakht, kabar buruk yang harus kusampaikan, apa yang kita lakukan saat ini, hanya penundaan,” ujar Anfúril.

“Penundaan?” Ara’el tak mengerti.

“Shades dan Ifis telah menumpahkan darah nenek moyang mereka sendiri, bukan?” ujar Invedil.

“Ya, lalu?” tanya Ara’el.

“Yähgé dan Gôntra adalah makhluk yang hidup di zaman kuno, kekuatan mereka sangat besar, terlebih Yähgé. Salahnya, jika ia tewas di tangan keturunannya sendiri, hampir seluruh jiwanya akan merasuk pada yang membunuhnya.

“Dengan kata lain, keduanya tak bisa dibunuh, bahkan tersakiti. Meski ribuan pasukan kita kerahkan, Shades dan Ifis akan tetap berdiri di sana. Tak tersentuh.” Invedil tersenyum kecut.

“Ini hanya hitungan waktu, hingga Shades dan Ifis menyadari kekuatan yang dimiliki. Karena itu, kita harus mengunci mereka,” tambah Infardon.

“Tapi itu mustahil!” seru Ara’el.

Hatinya kecewa. Bertahun-tahun bangsanya menderita karena kedua makhluk jahat ini dan saat kemenangan akan direguk, lawan mereka takkan bisa terkalahkan?

“Kita harus serang mereka sekarang, atau tidak ada kesempatan lain!” tegas Anfúril. Ia membuka telapak tangan kanannya yang awalnya terkepal. Ada sebuah kunci berwarna hitam mengkilat, besarnya tak lebih dari telunjuk manusia.

Sakht mundur beberapa langkah. Nafasnya tercekat. “Kekuatan macam apa yang kau simpan dalam kunci itu, Tuanku?” ia berbisik, ada nada khawatir dan takut dari ucapannya.

“Sebagian dari jiwaku, temanku Sakht,” jawab Anfúril muram. “Jika aku tak melakukan hal ini, maka peperangan tak akan pernah berakhir.”

“Tapi kau tidak bisa membuang separuh dari dirimu!” seru Ara’el marah. “Kau akan….”

“Menjadi manusia?” Anfúril memotong. Lalu ia mengangguk. “Resiko itu akan aku tempuh, teman. Ini demi kita semua, bukan kepentinganku semata.”

“Aku dan Infardon akan membuka gerbang ke dunia gelap yang tak seorang pun pernah ke sana,” ujar Invedil. “Dan resiko kami adalah….”

“Kematian,” Infardon melanjutkan.

Ara’el menggeleng tegas, matanya nanar. Kenapa para elf ini dapat begitu mudah mengambil keputusan besar tanpa berembuk dengan dirinya? Kenapa harus mengorbankan nyawa lagi, jika ada hal lain yang bisa dilakukan?

Atau memang tidak ada jalan keluar lainnya?

“Kami adalah kaum tua, Ara’el. Kau dan bangsa lain tidak akan bisa melawan kekuatan dan kemarahan dari Shades maupun Ifis,” ujar Invedil. “Bukan maksudku untuk menghina pencapaian yang telah kau raih selama ini, namun kini adalah tugas kami.”

“Dan merupakan suatu kebanggaan, bisa berjuang di samping bangsa manusia, kaum kurcaci, dryad, nymph dan pasukan aliansi kita. Nyawa kami…,” Infardon menoleh pada Invedil dan Anfúril secara bergantian, “…nyawa kami hanyalah setitik pengorbanan.”

Ara’el terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Ini seperti kata-kata perpisahan di awal. Bahkan ia merasa tak sanggup bertahan jika tidak ada ketiga sosok hebat yang menyokong dirinya untuk tetap maju dan tak kenal menyerah.

“Apa harus seperti ini?” bisik Ara’el getir.

Ketiga elf itu mengangguk tegas.

“Bagaimana rencana selanjutnya?” tanya Sakht.

“Kita ke tenda, Infardon sudah mengusulkan sebuah cara,” ajak Anfúril.

***

Pagi keesokan harinya Ara’el bersama seluruh gabungan prajurit aliansi bergerak maju, Shades dan Ifis beserta pasukannya yang jumlahnya tak lebih dari seratus, bersiap di pintu gua, tak gentar menghadapi kematian.

Bau busuk tercium, dari bangkai-bangkai orc, goblin dan troll yang tewas mengenaskan di sekitar pertahanan Shades dan Ifis di selatan perbukitan Qubon. Dalam beberapa bulan ke depan, mereka yang telah mati akan menjadi tengkorak, mengering lalu terkikis dan melebur bersama pasir. Hanya kenangan, yang akan tetap menyimpan bau-bau makhluk terkutuk itu.

Horgor Radum membuang ludah, pemimpin pasukan kurcaci itu menatap sekeliling, bergidik jijik. “Kita selesaikan hari ini, atau tidak sama sekali!” serunya.

Para pemimpin masing-masing pasukan mengangguk setuju, ada binar bahagia di mata mereka. Kecuali Ara’el, sinar matanya redup. Bahkan dia sudah menyimpan duka sejak semalam.

“Ara’el, semua akan baik-baik saja,” sahut Anfúril, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu. “Ini yang sudah kita tunggu begitu lama.”

“Sayangnya, bukan akhir seperti sekarang yang aku inginkan.”

“Ada saatnya kami pun pergi dari dunia ini, Ara’el. Bagaimana pun jalan yang ditempuh semua akan mencapai ke titik terakhir. Jangan sesali keputusan kami,” sahut Invedil.

Anggukan lemah pertanda Ara’el setuju. Ia mendesah pelan, seluruh pasukan yang sudah mengepung menunggu aba-aba darinya.

Waktunya tiba. Tangannya yang mengepal gemetaran ketika mengangkat ke angkasa, dan ketika telapaknya terbuka, Ara’el bisa mendengar derap langkah pasukan aliansi yang merangsek maju.

Troll-troll melompat keluar dari pintu gua, dengan membabi buta, menginjak dan memukul pasukan aliansi dengan gada. Panah-panah beterbangan, tombak-tombak saling beradu. Dalam hitungan menit, mata Ara’el melihat banyak yang terjatuh, dari kedua pihak yang berseteru. Tubuhnya berkali-kali ditahan oleh para pemimpin yang lain, karena dia ingin turun dan ikut berperang.

“Tunggu! Tidak sekarang!” peringat Horgor, cengkramannya yang kuat membuat Ara’el mengurungkan niat. “Tugas kita adalah menghadapi Shades dan Ifis, jika kau pergi berperang, tenagamu akan terkuras banyak.”

“Dan kau tahu, bahwa Ifis bisa mempengaruhi pikiran seseorang, terlebih jika orang itu sudah terlalu lelah,” tambah Sakht.

Betapa sulitnya untuk menghancurkan bangsa deya. Ara’el menggigit bibir bawahnya, ketika teringat kembali bahwa bangsa tersebut takkan musnah untuk selama-lamanya. Ini hanya penundaan, sampai mereka bisa menggeliat keluar dan menutupi bumi dengan kegelapan yang mereka tebarkan.

Infardon menunjuk ke arah pintu gua. “Mereka sudah kalah, Shades dan Ifis masuk ke dalam gua. Ayo, kita pergi sekarang.”

Para pasukan aliansi bergerak mundur memberikan jalan ketika para pemimpin mereka hendak masuk ke dalam gua. Infardon, Invedil, Anfúril, Sakht, Ara’el, juga Horgor, dan raja-raja manusia lainnya berada di ambang pintu gua. Taeté Lahn, pemimpin pasukan dryad berhenti di ambang gua, ia menggeleng pelan.

“Aku tak bisa memasuki tempat ini, ada kekuatan besar yang menahan,” desahnya. “Restuku menyertai kalian, berhati-hatilah.”

Ara’el dan yang lain mengangguk cepat, mereka pun segera masuk. Udara lembab menusuk, menyesakkan. Entah kenapa, Ara’el merasakan ketakutan yang amat sangat, lebih-lebih dari menghadapi troll-troll raksasa.

“Jangan terpengaruh, kuatkan hati kalian,” bisik Infardon. Para raja manusia dan pemimpin kurcaci mengalami hal yang sama seperti Ara’el. Ternyata, sihir Ifis tidak berpengaruh untuk para elf.

Mereka pun sampai di ujung lorong gua setelah berjalan cukup jauh. Dan di sana, Shades dan Ifis, beserta beberapa sosok kaum deya sudah menunggu. Keduanya hanya menyeringai kejam. Ini pertama kalinya Ara’el bertatapan dengan musuh bebuyutan.

Shades dan Ifis berkulit kemerahan, tubuh mereka sangat tinggi, berambut hitam, dan bola mata berwarna merah. Ketika menyunggingkan senyum sinis, gigi taring mereka tampak jelas, tajam dan menakutkan.

Bahkan hanya menatap pun, rasa takut sudah menghinggap.

“Selamat datang,” sambut Shades mencemooh.

“Tak bisakah kita membicarakan hal ini, tanpa mengusung senjata, para Tuanku yang sangat terhormat,” desis Ifis. “Lupakah kalian akan perjanjian di masa lampau?”

“Perjanjian itu sudah berakhir ketika kalian menumpahkan darah moyang kalian, perjanjian itu sudah selesai saat kalian membasahi tanah kami dengan darah,” balas Ara’el. “Tidak ada lagi yang akan dibicarakan, sekarang saatnya kalian binasa!”

Ifis tertawa, suaranya melengking, hingga membuat bulu kuduk berdiri. “Oh, oh… Ara’el muda, aku suka semangatmu,” ejeknya. “Tapi, apakah kau lupa, bahwa kau pun tak berbeda seperti kami? Bagaimana tanahmu yang basah oleh darah benar-benar dikarenakan oleh kaum kami? Tidak, Tuan Muda, kau pun tak berbeda jauh dari para deya! Kau memerintah orang lain untuk berkorban, untuk membasahi tanah yang merah, dialiri bau amis yang sama!” Ifis melanjutkan.

“Dan kau mengatakan itu tindakan pengorbanan?” cetus Shades. “Lalu apa yang telah kau janjikan untuk anak-anak mereka yang nyawanya telah berkorban untuk kalian?”

“Jangan dengarkan mereka!” tegas Anfúril.

“Anfúril….” Ifis tersenyum. “Bahkan kau harus bersembunyi di balik tubuh-tubuh makhluk fana agar dirimu tak tersentuh, aku tak menyangka dengan ilmu sihir tinggi kau masih menyimpan sifat pengecut.”

Anfúril tak banyak bicara. Ia membuka telapak tangannya dan seluruh ruangan bergetar dengan hebat. Shades, Ifis dan beberapa kaum mereka menatap sekeliling dengan khawatir. Invedil juga Infardon melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba saja dinding gua yang berada di belakang Shades, Ifis dan kaum mereka seolah berkedut-kedut, angin besar mendadak saja muncul dan terbuka lubang besar yang menganga di dinding itu.

Teriakan histeris terdengar ketika pengikut Shades dan Ifis tersedot masuk, sedangkan kedua pemimpin bangsa deya itu berusaha bertahan. Ara’el dan kesembilan raja manusia lain, memegang batu-batu besar, mereka pun hampir tersedot ke dalam gerbang ke dunia kegelapan.

“Elf-elf keparat!” desis Ifis. “Apa kalian begitu bodohnya sampai berani membuka pintu ke dunia kegelapan? Kau takkan tahu apa yang datang dan pergi dari pintu ini!”

“Setidaknya kalian terkunci selamanya di sana!” teriak Anfúril.

Shades tertawa. “Selamanya? Kau hanya bisa menyegelnya, Anfúril. Akan ada saatnya kami kembali, dan menguasai dunia ini untuk selamanya!!”

“Sekarang!” desak Invedil. “Atau teman kita semua akan tersedot masuk!”

Invedil dan Infardon seolah terbang saat mereka melepaskan kedua tangan mereka yang berpegangan pada batu, tubuh mereka menghambur pada Shades dan Ifis. Dalam hitungan detik, keempat sosok itu terlempar masuk ke dalam gerbang dunia kegelapan, dan Anfúril segera menyegel gerbang tersebut dengan kunci hitam yang digenggamnya.

Ada sinar kebiruan membias, dengan segera menyelubungi tubuh Anfúril. Lalu ia terjatuh, tak sadarkan diri.

Selesai.

Angin besar menghilang, gua yang tadi bergetar hebat berhenti.

Peperangan berakhir.

Tubuh Ara’el lemas. Dia tak mampu berdiri dan di hari itu, ia menangis hebat. Ara’el telah kehilangan dua sahabat, dua pemimpin besar, sekaligus sosok yang sangat ia hormati, Invedil Sichyvail dan Infardon Varlynhorl.

Anfúril sudah dibopong oleh raja-raja yang lain, tak lama lagi ia akan siuman. Elf itu akan terbangun sebagai manusia biasa mulai saat itu. Entah kutukan, entah anugerah, namun Anfúril lakukan demi semua umat.

Kini hanya Ara’el sendiri yang tertinggal. Dia menghampiri dinding yang kini berubah warna, menjadi hitam mengkilat, yang awalnya hanya berwarna tanah. Ia mendesah pelan, tangannya menyentuh dinding itu, sebagai tanda perpisahan kepada dua sahabatnya.

“Kutukanku berlaku untukmu, Ara’el,” ada suara berbisik. Ara’el tak bisa berkata apa-apa ketika ia melihat wajah Ifis berada di balik dinding hitam mengkilat itu.

“Kau… kau….” Ara’el tergagap.

“Kami akan kembali. Dan keturunan terakhirmu, adalah penentu dari semua. Apakah kehancuran atau kemenangan. Tapi kami akan tetap menang.

“Saat kami tersegel lagi, maka keturunanmu yang harus menyegel kami, dan kematian akan menyertainya. Namun jika ia tak mampu melakukannya, maka kami akan tetap membunuhnya. Kau akan kehilangan segalanya,” bisik Ifis.

Ara’el memukul dinding hitam itu. “Kau takkan bisa! Tak akan pernah!”

“Ingat Ara’el, ketika ada kunci, ada pintu yang harus dibuka. Dan kau jelas tahu benar, bahwa siapa pun tak bisa menghancurkan kunci milik Anfúril. Ketika itu diciptakan, maka ia menciptakan sesuatu yang berada di dua sisi. Cahaya dan gelap.”

Gigi-gigi Ara’el bergemeletuk.

“Meski kami tak mampu keluar dari tempat ini, namun ingatlah… saat pintu ini dibuka, ada sesuatu telah keluar dari dunia gelap yang kini menjadi rumah kami.”

“Apa?”

“Sesuatu ini, memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari kaum deya.”

“Kau berbohong!”

Ifis terkekeh lirih.

“Oh, dia takkan menampakkan dirinya begitu cepat. Ia akan datang tanpa kau sadari, Ara’el. Dan saat kau mengetahuinya semua akan terlambat. Dan aku, akan melihat kehancuran semua umat dari balik dinding ini. Aku tak masalah… selama kalian semua mati.”

“Dengar, Ifis! Ancaman murahan apa saja darimu takkan kudengar! Semoga kau dan kaummu hancur dan binasa di alam sana!”

Ara’el membalikkan tubuhnya. Namun Ifis kembali memanggil.

“Ini hal terakhir yang kau dengar, Ara’el… dan sebaiknya kau camkan baik-baik.”

“Jangan membual, Iblis!”

“Dia yang keluar dari pintu gerbang ini, adalah anak dari pemilik dunia yang pintunya telah dibuka secara paksa oleh Anfúril. Dia, sang penyebar putus asa, dia adalah bayang-bayang.”

“Siapa dia?”

“Putri kegelapan.” Wajah Ifis mulai memudar. “Dan ketika ia menancapkan kegelapan di dunia. Kau tahu… semuanya akan berakhir, diselimuti kelam.”

Ara’el bergerak mundur. Ia menatap sekeliling.

Dia sendiri di sana. Tidak ada siapa pun. Ifis hanya membual. Bukankah Ifis adalah bangsa iblis? Dan keahlian mereka memainkan pikiran makhluk berakal lainnya? Kenapa Ara’el harus khawatir. Peperangan sudah selesai, kini waktunya untuk membenahi yang telah dirusak dan membangunnya lagi.

Dengan mantap, Ara’el melangkah keluar dari dalam gua.

Tiba-tiba saja ia merasakan angin berhembus cepat melewati tubuhnya, hingga dalam beberapa detik nafasnya terasa berhenti. Mata Ara’el berkeliling. Tidak, tidak ada apa-apa. Itu hanya angin biasa.

Suara sorak-sorai menyambut Ara’el, saat keluar dari mulut gua. Cahaya matahari membuat dia harus memicingkan mata karena sinarnya begitu terang.

Senyumnya mengembang, hari baru penuh kedamaian telah dihirup semua umat. Ara’el bahagia.

Tanpa Ara’el sadari, ada tawa kecil dari dalam gua, mengintip kemenangan sementara dari manusia dan para aliansinya.

Iklan