LELEMBUT

Ewing

Matur nuwun, yo Nduk,” penuh terima kasih, bibir Mbah Soma terkembang pada Mala yang meletakkan teh hangat di mejanya.

Sang penyaji membalas dengan senyuman berhias lesung pipit, kemudian berlalu, tapi si pria tua terus mengamatinya. Gadis berkulit sawo matang berusia 14 tahun itu cantik jelita. Sepasang matanya bulat, cokelat berkilat di atas hidung bangir dan bibir tipis. Rambut hitam panjang nan bergelombang melengkapi postur tinggi semampai, molek berkat lekukan tubuh wanita dewasa yang telah terbentuk sempurna meski cuma berbalut kaus, celana jin dan sandal jepit sederhana.

Mbah Soma menghela napas. Sungguh keelokan alami, namun ada keganjilan tak terlihat di dalamnya. Semacam aura dingin, mengundang dan mengancam di saat yang sama. Lelaki lanjut usia tersebut bertanya-tanya dalam hati, seperti itukah anak-anak yang terekspos hawa alam gaib?

Disapukannya pandangan ke lingkungan sekitar. Sebuah kolam air mancur berukuran sedang merupakan titik tengah alun-alun ini, sedangkan keempat sisinya diisi deretan tenda-tenda jajanan malam. Ada ayam bakar, nasi dan mie goreng, sate, martabak serta lain sebagainya.

Sekilas para penjajanya tampak biasa-biasa saja. Mereka tetap ramah, murah senyum dan ceplas-ceplos, ceria bercanda satu sama lain meski sepi pengunjung. Maklum, sekarang hari Selasa dan sudah larut. Daripada nongkrong di sini, mungkin orang-orang lebih memilih beristirahat karena besok harus bekerja.

Sang sesepuh sebenarnya juga tak ada urusan berada di tempat ini. Lansia seperti dirinya lebih baik tidur di rumah, di ranjang berlapis selimut hangat, dikelilingi sanak keluarga. Tapi tidak, obrolan santainya sekitar setahun lalu bersama Bejo, sang penjual ayam bakar sekaligus ayah Mala, berujung pada keberadaan dirinya sekarang dan di sini.

Bila diingat kembali, saat itu Mbah Soma mengutarakan kegundahannya mengingat menjelang umurnya yang ke-100 tahun, ada hal-hal yang bisa jadi takkan pernah dilakukan atau dialaminya. Salah satunya adalah berdialog dengan lelembut alias makhluk halus. Ya, berkomunikasi dua arah, bukan sekadar melihat penampakan atau merasakan kehadiran mereka.

Tentu lelaki tua tersebut sangat menyadari keinginannya tergolong konyol dan mustahil terkabul, tapi kenyataan bicara lain. Apa yang awalnya hanya curahan hati seorang kakek bau tanah berubah menjadi godaan nyata ketika beberapa bulan setelahnya, Bejo menyatakan harapannya mungkin dapat terwujud. Syaratnya amat mudah, Mbah Soma hanya harus percaya dan tutup mulut. Di sisi lain, dia juga diperingati bahwa memberi tahu siapa saja soal kesepakatan mereka bisa berakibat fatal karena para lelembut benci orang yang tak bisa menjaga rahasia.

Yakin pengalaman hidup hampir seabad membuatnya tidak mudah terkejut terhadap apa pun, Mbah Soma menyanggupi. Dan memang, kisah Bejo mengenai betapa dia dan rekan-rekannya di alun-alun meminta kekayaan kepada kaum lelembut bukan hal mengagetkan bagi si mbah. Pesugihan, nyupang, penglaris, atau apalah istilahnya, jelas bukan hal baru dan pasti akan selalu ada sepanjang masa.

“Sabar, yo, Mbah,” suara si penjaja ayam bakar membuyarkan lamunannya, “sekedap malih piyambakipun bade dateng,” dan mengabarkan rombongan yang ditunggu akan segera tiba.

“Aku sabar, kok,” sahut Mbah Soma kalem.

Mboten menopo-menopo Mbah sare radi dhalu?” setengah berkelakar, Bejo mengemukakan si mbah mungkin akan tidur jauh lebih larut malam ini.

Lelaki tua itu tersenyum, “Ora opo-opo to, ora suwe maneh aku arep turu saklawase,” benar, sesekali bolehlah dia tidur telat, toh tidur abadinya pasti takkan lama lagi akan menjelang.

Bejo terkekeh, mengiyakan bahwa setidaknya keinginan Mbah Soma terkabul, “Nggih sampun, pokokipun sampun kepanggih kalian lelembut,” lalu beranjak pergi.

Pikiran rentanya kembali melanglang buana. Ya, ajalnya sudah dekat, dia bisa merasakannya. Semenjak kecil, setelah mengenal konsep hidup mati, entah kenapa Mbah Soma punya gambaran kasar kapan maut akan menjemput. Itu sebabnya tanpa ragu dia terjun ke medan laga, bertempur melawan penjajah Belanda kemudian Jepang. Demikian pula saat dia memutuskan jadi tentara untuk mempertahankan kemerdekaan serta menggebuk pemberontak dan disiden. Baktinya dilaksanakan gagah berani, tulus ikhlas demi negeri … karena tahu dirinya takkan wafat sebelum waktunya.

Walau begitu, seiring berlalunya masa, Mbah Soma mulai mengilas balik apa-apa yang telah dilihat, dialami, dan dilakukannya. Seumur hidup dia tak pernah ambisius, apalagi serakah. Pengetahuan mengenai kapan jiwanya berpulang membuatnya merasa semua fana belaka, jadi buat apa berlebih-lebihan? Toh segala kenikmatan duniawi pasti sirna begitu mengembuskan napas terakhir, sedangkan harta yang dipunya tentu jadi rebutan anak, cucu, dan menantu.

Karena itulah selama keluarganya cukup sandang, pangan, dan papan, dia pantang meminta lebih. Sepanjang bangsa dan negara terlayani, dia enggan mengejar kepuasan pribadi. Tapi, bagaimana jika ternyata hidup seharusnya tak hanya sebegini? Bagaimana jika seharusnya dia berbuat lebih daripada hidupnya kini?

Pertanyaan itu makin menghantuinya, terutama sejak anak-anaknya mampu mencari nafkah dan masa pensiunnya tiba. Selepas kepergian istri tercinta untuk selama-lamanya, Mbah Soma nekat pergi mencari jawaban, persetan keluarganya melarang dan senja usia menghadang. Apa daya, dari Serambi Mekah sampai Timor Lorosae hingga Puncak Trikora, tak kunjung ditemukannya pencerahan.

Mbah Soma akhirnya pulang, pasrah. Bisa jadi manusia memang tak tahu jawabannya. Tapi apa yang terjadi? Weladalah, malah muncul pertanyaan baru: jika manusia tidak tahu, mungkinkah yang bukan manusia tahu? Alhasil si mbah jadi ingin berbicara dengan lelembut, siapa tahu mereka tahu.

Sekali lagi kenangannya terusik ketika kursi roda bergerak. Kepala sang pria tua menoleh dan mendapati Mala mendorong di belakang.

Sampun wancinipun, Mbah,” ucapnya halus, mengabari waktunya telah tiba.

Di luar, Bejo dan Mala mengapit sisi kiri dan kanan lansia tersebut. Bukan hanya mereka, penjual makanan lain berikut anak buah turut pula berdiri di depan kedai masing-masing. Semua ceria semringah, bibir merekah, mata nyalang penuh gairah.

Sekilas Mbah Soma melihat segelintir pengunjung di beberapa warung tetap pada posisinya, bak tak terjadi apa-apa. Mereka terus melahap santapan atau mengobrol seolah pergerakan para juru masak dan pramusaji luput dari pandangan. Sungguh aneh.

Tangan Bejo menjamah bahu kakek itu, “Sampun tansah menggalih donya, Mbah. Donya sampun mboten wonten artosipun,” menganjurkan agar jangan memikirkan lebih jauh karena yang paling penting adalah kedatangan lelembut.

Sang kakek balik menatap pria itu dan mengangguk. Dia siap. Apa pun yang terjadi, terjadilah.

Bagaikan merespons pikiran si mbah, alam mendadak senyap. Suara-suara lenyap dari telinga, kecuali gemercik air di pancuran. Keheningan mencekam kian menguat kala lampu-lampu penerangan alun-alun dan tenda lambat laun meredup, seperti malu memancarkan sinarnya.

Kewaspadaan Mbah Soma meningkat, namun aksi Bejo menepuk-nepuk lembut bahunya meyakinkan pria tua itu bahwa fenomena ini memang sudah selayaknya.

Maka berlanjutlah. Kabut pelan-pelan turun diiringi hawa dingin. Saat Mbah Soma mensyukuri syal dan jaket tebal yang dikenakannya, hidungnya tergelitik oleh wangi bunga-bungaan yang akrab dan asing di saat yang sama, macam harum mawar berbaur aroma kenanga.

Menambah mistisnya suasana, lamat-lamat terdengarlah merdu gesekan rebab berpadu ketukan saron serta gender berikut degung bonang dan gong. Bulu kuduk Mbah Soma meremang, sadar telinganya menangkap alunan gamelan alam lain. Namun ada yang membuatnya lebih gamang: suara orang-orang di sekitarnya memanggil-manggil dengan nada merindu nan sendu, mendesah liris seolah kangen ingin segera bertemu.

“Raden Ayu Saraswati, aku ono kene.”

“Ndoro Bronto Warsito ….”

“Raden Pawiro, panjenengan wonten pundi?”

Bahkan Mala pun begitu, maju beberapa langkah, celingak-celinguk antara kebingungan dan penuh harapan, “Kangmas Abimanyu?”

Sebagai tanggapan, beragam sosok mulai mewujud dalam kepekatan kabut. Walau awalnya serupa bayang kelam, siluet-siluet itu perlahan mengisap warna dari temaramnya nuansa alun-alun, membuat keberadaannya lebih mudah dipersepsi oleh mata.

Mbah Soma diam-diam menghitung. Jumlahnya sekitar dua puluhan, kurang lebih sebanyak khalayak yang memanggil mereka. Jika perkiraannya benar, tiap-tiap orang di sini memiliki pasangan lelembut.

Belum sempat dia menduga-duga lebih jauh, para pendatang telah hadir secara sempurna di hadapannya. Dan betapa Mbah Soma terperangah. Makhluk-makhluk itu menyerupai manusia, tapi jauh lebih indah. Sekadar kulitnya pun sungguh sedap dipandang: yang cerah tidak seperti londo, sedangkan yang gelap tidak seperti Keling. Semuanya halus mulus tanpa noda barang setitik.

Dan aduhai busana rombongan itu, memesona lagi menggoda. Kaum wanita mengenakan kemben dipadu kain jarik dengan belahan hingga ke atas lutut, memamerkan secuil paha nan mulus dan betis bagai padi bunting. Terikat melilit pinggang ramping mereka adalah selendang sampur merah bata yang kedua ujungnya dibiarkan menjuntai nyaris menyentuh tanah.

Para lelakinya hanya mengenakan kain jarik, juga belah hingga menampilkan kaki yang kokoh menjejak Bumi. Selain sabuk timang, mereka praktis bertelanjang dada, memamerkan otot-otot lengan dan perut laksana diukir pemahat kayangan.

Lelembut memakai aksesori sumping berkilau di atas daun telinga, tapi tak beralas kaki. Tentu itu menjadi remeh belaka ketika memandang wajah-wajah yang seluruhnya tampak muda, sekitar usia 25-30 tahun. Pipi segar berisi bagi perempuan dan garis muka tegas bagi laki-laki makin lengkap berkat hidung mancung serta bibir ranum. Rambut pun beraneka gaya, setara keluaran salon: lurus, bergelombang, keriting, dan lain sebagainya.

Intinya, semuanya bagus-bagus dan ayu-ayu. Wajarlah orang-orang di sini segera menghambur ke pasangan masing-masing. Tak ayal tempat ini mendadak penuh cengkerama, canda dan tawa. Sesekali terdengar pekik kegelian, entah siapa yang mendapat cubitan mesra.

Dadhos meniko ingkang naminipun Mbah Soma,” seorang wanita menyela pengamatan sang sesepuh.

Si mbah menengok dan mendapati empu suara berdiri di sebelah Bejo. Mbah Soma langsung merasakan mukanya memerah dan hatinya dipenuhi keinginan untuk cepat-cepat mengalihkan pandangan

Meski demikian, wanita itu mencegahnya, “Sampun mboten isin-isin, Mbah. Ing wilayah keramat meniko kito sedoyo keluargo. Sami-sami keluargo mboten perlu ajrih,” katanya Mbah Soma boleh terus melihat karena di tanah keramat ini mereka semua keluarga, jadi jangan sungkan.

Dia bilang begitu, tapi mau tak mau pria tua tersebut risih. Bukan apa-apa, lawan bicaranya mengenakan kebaya kelabu panjang kerah tinggi yang menawan. Masalahnya, busana itu dan kemben di baliknya semi transparan,  terlihat cukup jelas oleh mata Mbah Soma yang masih awas.

Mungkin menyadari kecanggungan dalam diri lansia yang dihormatinya, Bejo memperkenalkan wanita itu, “Mbah, puniko Gusti Kanjeng Ratu Sekartaji.”

Yakin sedang berhadapan dengan petinggi makhluk halus, Mbah Soma mengangguk dalam-dalam penuh rasa hormat, “Sugeng dhalu, Gusti Kanjeng Ratu Sekartaji,” lalu memutuskan untuk berkonsentrasi pada wajah lawan bicaranya dan bukan buah dada tepat di hadapannya.

Seperti teman-temannya, lelembut berambut mayang mengurai ini amat rupawan, tapi si mbah berhasil menemukan detail-detail penambah pesonanya. Alisnya tebal dan meninggi pada bagian ujung, sementara bulu matanya panjang juga tipis, sedangkan bagian kelopak matanya dipulas cokelat keemasan. Bibirnya sendiri jingga muda mengilap.

Tersenyum, Gusti Kanjeng Ratu mengungkapkan dirinya sudah dengar banyak soal Mbah Soma dari Bejo, “Bejo crito kathah babagan simbah,” lalu menanyakan kebenaran niat yang bersangkutan meminta pencerahan kepada lelembut, ngendikane wonten ingkang badhe simbah tangletaken dateng kito?”

Leres, Gusti Kanjeng Ratu.”

Inggih dadhosipun,” si makhluk halus menengok ke belakang dan memanggil, “Andani, meriki, Cah Ayu.”

Sesosok wanita berjalan mendekat, anggun gemulai. Sekilas dia tampak biasa-biasa saja di antara golongannya, namun ternyata juga elok berkat wajah tirus bermahkotakan rambut belah pinggir yang bagian belakangnya digelung mungil dan dihias rangkaian bunga ros putih. Melihatnya, Mbah Soma jadi yakin tiap makhluk halus itu memiliki keindahan tersendiri.

Gusti Kanjeng Ratu berkata lagi, “Kulo ngajak Andani damel ngrencangi kulo damel njawab pitakon saking panjenengan,” menjelaskan bahwa dirinya mendelegasikan Andani untuk menjawab semua pertanyaan Mbah. “Kulo tilar rumiyen nggih Mbah. Monggo, Jo,” setelah pamit, dia pun berlalu dibuntuti Bejo yang cengengesan seperti anak kecil.

Nuwun sewu, Mbah,” Andani kemudian bergerak ke sebelah kanan Mbah Soma.

Meski sempat ragu mau menyebutnya dengan panggilan apa, secepat kilat Mbah Soma memutuskan, “Monggo, Mbakyu.”

Wanita itu lalu duduk bersimpuh di tanah. Sejenak hanya ada keheningan antara keduanya sementara senda gurau berubah menjadi cumbu rayu di seluruh penjuru alun-alun.

Menyaksikan pesta syahwat berlangsung tepat di depannya, Mbah Soma akhirnya memahami karakteristik pesugihan ini. Bejo dan kawan-kawan memohon kekayaan. Sebagai timbal baliknya, makhluk halus meminta kepuasan hewani.

Sampun dadhos sifatipun menungso ingkang serakah,” tanpa diminta, Andani menerangkan bahwa peristiwa ini disebabkan sifat serakah manusia. “Kito namung nyukani menopo ingkang piyambakipun suwun. Kagem gantosipun kito nyuwun imbalan saking piyambakipun. Mboten wonten rudho pekso, mboten wonten ingkang dipun rugekaken,” dan lelembut hanya memberikan apa yang manusia minta dan sudah sewajarnya mendapat imbalan. Tentu tak ada paksaan, tak ada yang dirugikan.

Lelaki tua itu mendesah, berusaha maklum mengingat apa yang mereka lakukan adalah urusan mereka, “Aku ngerti, Mbakyu. Opo sing deweke lakoni iku urusane deweke.”

Benar, dia di sini bukan untuk menghakimi, apalagi menceramahi. Mbah Soma sadar, hampir seabad hidupnya juga penuh noda dan dosa. Meski demikian, kebejatan yang melibatkan dua alam seperti sekarang tetap saja sulit diterima atau dibenarkannya.

Saenipun Mbah sampun menggalih piyambakipun,” Andani menganjurkan si mbah fokus pada alasan kehadirannya di sini dan tidak memikirkan kejadian di sekitarnya. “Saenipun Mbah tindakaken menopo ingkang dadhos sebab Mbah rawuh meriki dhalu meniko.

Mungkin sebaiknya begitu, dan setelah menarik napas dalam-dalam, Mbah Soma mengutarakan pertanyaan tentang makna hidupnya, tentang apakah hidup tak lebih dari sekadar bekerja, membina keluarga, bersenang-senang lalu mati begitu saja, “Mbakyu, opo menungso urip iku mung kanggo nyambut gawe, ngurus keluargo, seneng-seneng, terus mati? Opo urip bener-bener ora luwih soko iku?”

Andani menelengkan kepala, ingin tahu kenapa sebagai manusia, Mbah Soma tidak bisa menjawabnya sendiri, “Menopo Mbah mboten saget njawab piyambak?”

Lelaki uzur itu menggeleng berat, mengakui mungkin pengetahuannya terlalu sedikit hingga tak bisa menjawab, “Mbok menowo aku ora ngerti, dadi aku ora biso njawab.”

Si makhluk halus cantik melemparkan pandangan ke massa yang sedang berasyik masyuk, “Yen Mbah mboten saget njawab, menopo malih kulo,” menyatakan jika Mbah saja tidak bisa menjawabnya, apalagi lelembut.

Untuk pertama kalinya malam ini, Mbah Soma menyeringai masam, merasa kedatangannya ke sini sia-sia belaka, “Ngono, to?”

Pandangan mereka bertemu ketika Andani meliriknya, “Mbah, menungso mokal mangretosi pikiran semut. Kito mokal mangretosi pikiran menungso,” dan memberikan pengandaian seperti manusia tak bisa memahami pikiran semut, seperti itu pula lelembut tak bisa memahami pikiran manusia.

Dalam hati Mbah Soma bertanya-tanya, seperti itukah lelembut memandang manusia? Seperti semut?

Bedanipun,” Andani melanjutkan, “kito lan semut mboten repot-repot menggalihaken. Nanging sampun kodratipun menungso menggalihaken. Sebab meniko Mbah rawuh dumateng kito.” Kembali diamatinya obral seksual di seantero alun-alun, “Nanging, Mbah, mboten menopo-nopo sakupami Mbah mboten mangretos. Meniko mboten dosa.”

Jawaban Andani merambat merasuk ke benak laki-laki lanjut usia tersebut. Lelembut dan semut tidak pusing-pusing memikirkan hidup mereka. Itulah perbedaannya dari manusia yang kodratnya adalah berpikir dan mencari tahu. Di sisi lain, tidak apa jika Mbah Soma gagal menemukan jawaban dari pertanyaannya karena ketidaktahuan bukanlah dosa.

Ah, kenapa dia bisa sebodoh itu? Andani benar, tiada yang bisa memaknai hidup selain mereka yang menjalaninya. Bahkan manusia pun mungkin tidak tahu makna hidup bagi manusia lain, apalagi yang bukan manusia.

Selain itu, bukankah yang paling berarti adalah menjalani hidup secara lurus, membina keluarga, berbakti pada bangsa dan negara? Dan bukankah dia sudah melakukannya cukup baik? Kurang apa lagi?

Maka, sedikit demi sedikit Mbah Soma mencoba menerima kenyataan dia takkan tahu makna hidupnya sampai mati. Yang jelas dia merasa jauh lebih baik sekarang. Mungkin tidak percuma datang ke sini.

Tapi, setelah pikirannya belajar menerima ketidaktahuannya, seperti biasa muncul pertanyaan baru, “Uripe lelembut iku koyo opo?” kali ini tentang seperti apa hidup lelembut.

Perempuan ayu di sisinya tercenung, kemudian menoleh dan menatap mata si mbah lekat-lekat, “Kito urip, ngendiko lan makaryo ingkang sakmadyo, nanging merdiko.”

Hidup, berbicara, dan bertindak apa adanya, tapi merdeka. Jawaban yang menarik, menggoda imajinasi sang sesepuh. Hidup seperti demikian tentulah melegakan dan … bebas.

Alhasil rasa penasaran Mbah Soma meningkat, “Dadi keno opo sampeyan ngelakoni iki?” tanyanya sambil menunjuk asmaraloka di hadapan mereka.

Sebab kito mumpuni lan saget ngelampahi,” jawabnya seraya tersenyum simpul.

Opo bathine?”

Mbakyu tertawa kecil, “Mboten wonten.”

Benak si mbah mencoba menalar tanya jawab barusan. Jika Andani bicara jujur, lelembut berinteraksi dengan manusia semata karena bisa dan karena mau. Lebih jauh lagi, mereka tidak melakukannya demi keuntungan dalam bentuk apa pun. Sungguh makhluk yang aneh.

Kinten-kinten tasih dangu yuswanipun Mbah?” Andani mendadak menanyakan sisa umur Mbah Soma.

Terlepas apakah lawan bicaranya tahu soal kemampuan Mbah Soma melihat ajalnya, jawaban itu mengalir juga, “Paling ora suwe maneh.”

Ya, napasnya hanya bisa bertahan paling lama dalam hitungan hari. Rencananya adalah setelah mendapat jawaban dari lelembut, Mbah akan memasrahkan diri pada Tuhan, beribadah sampai ajal menjemput. Tapi tahan ….

Ngomong-omong, opo sampeyan percoyo marang Gusti Allah?” dan Mbah Soma langsung memaki diri dalam hati, mengutuki kekonyolannya menanyakan apakah lelembut juga percaya pada Tuhan.

Andani terdiam dan mengalihkan pandangannya, tapi Mbah Soma terlanjur menangkap kehampaan yang kini mendiami sepasang mata indahnya. Sesaat hanya terdengar suara  peserta jamuan asmara berpadu alunan gamelan gaib tanpa henti.

Cemas dia telah mengangkat topik sensitif, kakek itu mencoba memperbaiki keadaan, “Maaf yen aku ….”

Belum selesai permintaan maaf itu, Andani menjawab, “Gusti Allah wonten menopo bonten wonten kito mboten menggalih bab meniko,” suaranya halus, tapi dingin, jelas menekankan mereka tak tahu dan tak peduli Tuhan ada atau tidak.

Kembali keduanya membisu, menit demi menit berlalu, sampai akhirnya, “Mbah ….”

“Yo, Mbakyu?”

Bade nderek mboten?” Andani mengajaknya pergi, entah ke mana

Tawaran ganjil. Mbah Soma yakin dia harus mewaspadainya, tapi gagal menemukan alasannya. Mungkin karena pikirannya mendadak kosong? Lalu kenapa pula tubuhnya tiba-tiba lelah? Apakah karena mengantuk? Tapi dari tadi tak sedikit pun mulutnya menguap. Lalu kenapa dia ingin lekas tidur nyenyak? Senyenyak-nyenyaknya malah.

“Mbah sampun ngelampahi dadhos tiang sae,” lembut membuai suara Andani ketika bangkit berdiri, memuji lawan bicaranya karena telah menjalani hidup sebaik-baiknya.

Mbah Soma tak mampu merespons. Tarikan napasnya melambat. Matanya berat. Mungkin dia memang mengantuk, tapi dari sudut matanya dia menangkap Andani melangkah gemulai, sekilas mirip meluncur halus ke depan. Entahlah, penglihatannya mengabur.

Si lelembut mematut diri di depan kursi roda, “Sampun mboten wonten malih ingkang Mbah lampahi, nanging mboten lajeng cekap semanten.”

Sungguh menghanyutkan kata-katanya, tapi apa maksudnya? Mbah Soma memang takkan bisa melakukan banyak hal mengingat ajalnya sudah dekat, tapi apa maksudnya semua tak harus berakhir di sini?

Lengan kiri Andani terulur, “Monggo nderek, Mbah. Monggo kito meriksani donya meniko sakwontenipun,” sebuah ajakan terucap, untuk pergi bersama, melihat dunia apa adanya.

Dan hawa dingin mencuat di kedua telapak kaki Mbah Soma, perlahan menanjak seiring kian pelannya detak jantung dalam dada. Sementara itu, Andani dan geliat tubuh manusia bercampur lelembut di latar belakang kini bersinar.

Monggo nderek, Mbah.”

Ayo ikut.

Di relung hati terdalam, Mbah Soma tahu, hidupnya berakhir sekarang dan di sini, tapi … haruskah begitu?

Monggo nderek kulo, Mbah.”

Ayo ikut aku.

Dilihatnya tangan kirinya menyambut ajakan Andani tepat saat hawa dingin kematian mencapai leher. Dengan khidmat Mbah Soma menutup mata. Apa pun yang terjadi pada jiwa raganya setelah ini, biarlah para lelembut yang tahu.

Biarlah begitu.

beberapa kalimat dalam cerita ini disensor demi keamanan dalam negeri Kastil Fantasi.

cerita ini dapat dilihat juga di:

WordPress

Iklan