MIDRELTY

Billy Phoenix

Siang itu matahari bersinar terik ,tapi itu tidak mencegah kegiatan di desa Kalid. Para wanita paruh baya tetap pergi berbelanja. Sedangkan kaum lelakinya ada yang mengurusi sawah dan ada yang duduk-duduk didepan warung sambil menyantap kopi hangat dan berbincang megenai istri dan anak mereka. Ketika semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing tidak ada yang menyadari seorang pria tua dengan topi besar dan jubah hitamnya yang panjang berjalan dengan satu tongkat ditangannya menghampiri sekumpulan anak yang sedang bermain.

“Ambil bolanya!” teriak seorang anak.

Bola yang dimaksudnya melambung tinggi diudara. Terus bergerak hingga akhirnya tertangkap oleh sosok misterius itu.

“Boleh aku minta bolenya tuan?” Tanya ana yangk berlari mengejar bola.

Pria itu tidak menjawab namun terus bergerak maju sambil membawa bola itu menuju kerumunan anak yang memandang ngeri kearahnya. Hanya perlu beberapa menit untuknya mencapai anak-anak berpakaian lusuh di tengah lapangan. Diletakkannya bola ditanah dan duduklah dia diatas bola itu. Anak-anak memandangnya dengan heran, beberapa anak perempuan sudah mulai menitikan air mata karena takut. Dihampirilah salah satu dari mereka yang menangis.

“Jangan menangis nak,” katanya sambil melepas topi dan tersenyum, “Ini bolanya.”

Anak itu mengambilnya sambil terisak.

“Sebagai permintaan maaf. Bagaimana bila kuceritakan sebuah kisah? Kisah yang kubawa dari negeri ke negeri.Kisah mengenai pemuda bernama Orian. Kisah mengenai tempat bernama Midrelty.”

Tidak ada jawaba, tapi anak-anak itu satu per satu menghampirinya. Mereka semua duduk manis membentuk formasi setengah lingkaran. Pria itu tersenyum lalu bangkit.

“Baiklah, anak-anak.anggap aku sebagai Orion yang berbagi pengalaman pada kalian.”

Anak-anak itu hanya memberi jawaban berupa anggukan kecil dan terus memandang wajah si pria penuh tanya.

“Banyak hal terjadi begitu cepat,”pandangannya menerawang kelangit,”seperti yang kualami saat itu, sangat cepat, bahkan aku mengiranya hanya mimpi.”

*****

“Tiba-tiba saja aku terbaring menatap langit dan matahari. Kala itu sinar matahari begiru terik bahkan lebih terik dari pada siang ini. Cahayanya sungguh menyilaukan mata. Yang membuatku lebih heran adalah aku dikelilingi begitu banyak orang. Mereka menatapku dengan iba. Aku ingin bertanya pada mereka namun aku tidak bisa.Apa yang terjadi pada diriku? Belum sempat aku menemukan jawabannya, matahari seakan bergerak menjauh dariku membuat sinarnya semakin redup. Sedangkan kerumunan orang itu semakin memburam dan samar sehingga membuat bayang-bayang yang memusingkan. Ditengah semua itu teliangaku mendengar teriakan dan isak-isak tangis sebagian ku kenal, sebagian tidak. Mataku sudah hampir kehilangan seluruh cahayanya sekarang. Yang kutahu tubuhku terangkat diiringi derap kaki yang berpacu cepat menghentak-hentak. Tak lama kemudian aku pun tenggelam dalam kegelapan total.

“Orion,orion.”

Suara asing itu membangunkanku. Aku berada disuatu tempat yang gelap. Aku terlonjak kaget saat kudengar suara derap kaki perlahan. Semakin lama terdengar semakin jelas seakan seseorang melangkah kearahku.

“Si…siapa disana?”

*****

Seorang anak perempuan dengan topi musim panasnya mengangkat jari. Wajahnya menunjukkan ekspresi ketakutan, posisi duduknya pun semakin merapat kearah temannya.

“Silahkan nona kecil, ada yang ingin disampaikan?” jawab si pria tersenyum.

“A…apakah itu hantu, tuan?” tanyanya gemetar.

“Hahaha,” tawa si pria renyah, “Tentu saja bukan nona manis. Sekarang bisa kulanjutkan kisah ini?”

Terdengar gumaman dari anak-anak, tampaknya mereka saling bertukar pikiran tentang kelanjutan kisah itu. Setelah beberapa menit yang cukup ribut akhirnya terjadi keheningan.

“Kau bisa melanjutkannya, tuan.” Jawab salah satu anak yang paling tua.

*****

“Apakah kau hantu?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku,tapi terdengar suara tawa kecil yang menggema. Aku semakin panik dan ketakutan. Terlebih saat terlihat siluet beberapa sosok manusia yang berdiri diam dihadapanku. Jaraknya sedikit jauh, namun salah satu dari mereka bergerak kearahku. Tampaknya dialah yang tadi memanggilku. Aku ingin lari tapi tidak bisa. Kakiku seakan terkunci. Akhirnya dia menggapaiku dan menarikku. Anehnya aku bagai pasrah mengikuti tarikan tangannya. Dia membawaku kesebuah pintu. Pintu itu penuh cahaya sehingga membuatku silau. Hanya butuh beberapa menit hingga akhirnya aku melewati pintu itu. Kini semua putih dan menyilaukan. Sosok yang menarikku hanya tampak seperti bintik-bintik semut yang semakin memudar. Aku yakin melihatnya tersenyum.

“Mari berteman.” Terdengar suara seperti bisikan dan seketika aku terlelap dalam tidur.”

*****

“Mari berteman.” Suara itu bergaung dikepalaku.

Aku terbangun dikamarku. Cahaya matahari yang begitu terik membuatku menyipitkan mata. Kepalaku masih pusing entah mengapa. Aku seperti mengalami mimpi yang sangat panjang tapi aku tidak ingat. Semakin aku berusaha mengingatnya semakin pusing juga rasanya. Kuputuskan untuk memnghirup udara segar agar pikiranku lebih jernih. Aku membuka jendela sambil merenggangkan tulang-tulangku.Kupandangi langit biru cerah. Awalnya biasa saja pemandangan  yang begitu tenang, namun semakin lama aku menyadari adanya keanehan. Sesuatu bergerombol berwarna putih yang tadinya kukira awan terus bergerak mendekati jendela kamarku.

Semakin mendekat mataku semakin menyipit berusaha melihat lebih jelas. Aku yakin itu bukan burung karena ukuran makhluk itu tampak lebih besar dan terbang sangat cepat. Tak lama kemudian makhluk-makhluk itu melintas dihadapanku. Aku terlonjak kaget hingga terjatuh kelantai. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, aku mengucak mataku berkali-kali karena tidak percaya.

“Mungkin hanya halusinasiku saja…”

*****

“Apakah dia melihat seekor monster raksasa?” teriak seorang anak lelaki dengan topi biru merah dari sisi kanan.

“Tidak, yang dilihatnya adalah sekumpulan peri cantik yang sedang menari-nari dilangit.” Teriak seorang gadis kecil berambut kepang dari sisi kiri.

Yang terjadi saat itu bukan lagi gumamman namun suara teriakan sahut-menyahut dari tiap anak yang menyuarakan imajinasi mereka.

“Tenang anak-anak. Aku akan memberitahu kalian,” Suara anak-anak itu mulai mengecil kemudian mulai terjadi keheningan, “Kalian semua hampir betul. Makhluk ini tentu saja memiliki sayap. Makhluk ini juga secantik peri, tapi juga gagah bagai ksatria. Makhluk ini adalah Pegasus.”

Suara decak kagum dari anak-anak terdengar dalam kelompok kecil itu.

“Dan sekarang aku akan melanjutkan kisah ini untuk kalian.”

*****

“Mungkin hanya halusinasiku saja. Mana mungkin aku melihat kuda terbang.”

Karena kepalaku masih sakit kuputuskan untuk meminum obat dan beristirahat. Jadilah hari pertama liburanku aku hanya duduk sendiri dirumah menganti-ganti channel televisi. Andai aku tidak kesiangan mungkin aku bisa ikut orang tuaku ke kantor batinku. Rasanya sudah berjam-jam aku duduk didepan televisi tanpa menonton acara yang jelas, hingga akhirnya bel rumahku berbunyi.

“Ya, sebentar!”

Aku berjalan untuk membukakan pintu. Aku sudah dapat menduga siapa yang datang. Dia adalah Zavera. Jika kalian bertanya siapa dia? Aku akan menjawabnya, dia adalah teman sepermainanku. Biasa aku memanggilnya Vera.Kali ini rambutnya hitam panjangnya diikat ekor kuda. Dia mengenakan baju terusan kebawah dengan motif polkadot yang membuatnya semakin manis.

“Pagi, Ian. Aku kemari membawa tetangga baru kita, dia baru saja pindah.”

Aku baru tersadar bahwa disamping Vera ada seorang anak perempuan.Rambutnya sedikit kecoklat-coklatan dipangkas pendek hampir menyentuh pundaknya. Dia mengenakan sebuah baju biru langit polos dan celana panjang hitam.

“Kenalkan Icy Phobeos, panggil saja Icy.” Dia mengulurkan tangannya

“Ian Orion Zace, panggil saja Ian.” Kusambut uluran tangannya.

Saat itu juga sensasi aneh seperti merayapi tubuhku. Tiba-tiba saja aku seperti berada diruang gelap dan melihat sekelebat bayangan yang berputar-putar. Seperti menonton cuplikan dari film-film yang berbeda. Mula-mula aku melihat diriku disebuah ruang megah, tiba-tiba saja aku terbaring melihat orang-orang berputar mengelilingiku, lalu berganti lagi menjadi pemandangan patung-patung. Terakhir aku seperti berada diruang gelap dan mendengar tawa kecil yang menggema.

Aku tersadar saat mendengar dering handphone Vera berbunyi.

“Permisi, sebentar.” Kata Vera sambil menjauh pergi.

Saat itu juga aku melepas tangan Icy. Dia hanya tersenyum melihat tatapan anehku padanya.

“Maaf aku harus pulang sekarang, orang tuaku meminta bantuanku. Bisakah kau menemani Icy?” Tanya Vera sekembalinya dari menerima telepon.

Aku hanya mengangguk tanda menyetujui.Aku mempersilahkan Icy untuk masuk lebih dulu karena  aku ingin mengantar Vera sampai kerumahnya, mungkin sudah naluriku untuk memastikannya selamat walaupun jaraknya dekat. Sekitar 15 menit aku tiba dirumahku. Saat aku sedang melepas sepatu Icy mengagetkanku.

Sesuatu yang aneh terjadi sesaat sebelum aku masuk kedalam ruang tengah. Aku mendengar suara Icy sedang berbicara dengan suara-suara mungil. Aneh, padahal di rumah ini tidak ada siapapun selain aku dan dia.

“Tidak perlu menguping, masuk saja.” Suara Icy terdengar riang.

Seketika jantungku berdegup kencang, bagaiman dia bisa tahu? Aku berusaha menenangkan diri dan bersikap sebiasa mungkin saat membuka pintu dan memasuki ruang. Aku tidak tahu harus berkata apa saat memasuki ruang. Aku mengedarkan pandangan mencari-cari. Aku tidak menemukan siapapun disana. Siapa gerangan yang diajak Icy berbicara?

“Kamu mencari mereka?”

Tiga makhluk kecil bersayap muncul. mereka berbaris dan memamerkan panah mereka yang berbentuk hati.

“Aku baru saja berdiskusi dengan mereka dan kau tahu? Mereka akan menyatukan cintamu dengan Vera.” Senyum bahagia tersungging dibibirnya.

“Cinta? Asal kau tahu Vera sudah seperti adikku sendiri. Kau tidak perlu berlagak tahu segala tentangku dan mencampuri urusanku. Kita baru bertemu hanya sekitar beberapa menit dan kau  sudah tidak sopan. Sekarang lebih baik kau keluar dan bawa mainan bodohmu itu bersamamu.” Aku berusaha menahan nada suaraku agar tidak meninggi.

“Ian,”Dia menarikku mendekat dan berbisik,”Jaga kata-katamu dihadapan mereka. Cupid adalah dewa cinta tapi apakah kau tahu bahwa mereka pemarah. Kau bisa terkena bahaya jika berurusan dengan mereka. Lebih baik kau diam dan biarkan mereka membantumu”

“Cukup, Icy. Cukup semua lelucon ini. Sekarang kau boleh pulang. Jika tidak terpaksa aku bertindak kasar.”

Aku seperti ingin meledak. Bayangkan saja seorang anak gadis yang baru kukenal dengan mainan remotenya tidak mau berhenti mengerjaiku. Lebih parahnya lagi dia berlagak seperti sudah mengenalku sejak dulu. Sekarang saat aku sudah mengusirnya dia tidak merespon sama sekali. Akhirnya aku lakukan tindakan terbodoh yang pernah kulakukan tapi anehnya aku tidak pernah menyesalinya.

Dengan cepat kuraih salah satu dari robot itu dan melemparnya hingga menabrak dinding ruang. Kuharap dengan merusak salah satu mainan itu dia akan menangis dan pulang. Tapi ternyata tidak.

“Bodoh!” teriaknya.

Belum sempat aku merespon dia sudah menarik tanganku dan berlari keluar ruang dengan cepat.

“Cukup!” akhirnya aku membentaknya dan menghentikan langkah tepat didepan pintu keluar.

“Aku akan menjelaskannya nanti. Jika kita tidak cepat, nyawa kita taruhannya.” Ekspresi ketakutan terpapar jelas diwajahnya.

Aku baru saja akan mendebatnya, namun suaraku terhenti karena suara ledekan besar diiringi panah-panah yang melesat kearah kami. Panah itu cepat dan berlapiskan api. Untung Icy segera menarikku dan kami terus berlari diringi lengkingan mengerikan dari para Cupid.”

*****

“Kami bersembunyi disebuah gang sempit yang tidak kukenal. Icy berdiri dihadapanku memegangi lututnya sambil mengatur nafas.

“Lihat perbuatanmu. Kau tahu cupid memiliki banyak teman. Sebagian dari mereka adalah makhluk-makhluk berbahaya. Sekarang kita dalam masalah besar! Karena meraka semua akan mengejar kita.”

”A….a…aku pikir mereka mainan. Ti…tidak mungkin mereka ada. Ini pasti mimpi. Aku harus bangun. Ini pasti mimpi.”

Tanpa tersadar kaki dan lututku mulai bergetar kecil. Kini Icy melihatku dengan iba.

“Maafkan, aku.” katanya sedih, “Tapi semua ini nyata untuk kita.”

“Bagaimana dengan orang tuaku? Bagaimana Vera? Bagaimana orang-orang lain? Mereka dalam bahaya.” Aku semakin panik

”Tidak, mereka tidak disini. Vera yang tadi kau lihatpun tidak nyata”.

“A…apa maksudmu?”

Icy menghela nafas. Badannya mendekat kerahku.Nafasnya kini terasa begitu dekat membuat jantungku berdegup kencang.

“Pejamkan matamu.” Bisiknya.

Aku sudah tidak bisa berkata-kata. Mataku terpejam. Icy seperti menghipnotisku. Tangannya kini menyentuh mataku dan mengumamkan sesuatu.

“Sekarang buka matamu perlahan. Ingat tetap tenang.”

Mataku mulai membuka. Icy muncul dihadapanku.Tidak ada yang berbeda dengannya, tapi lingkungan sekitarnya telah berubah 180 derajat. Mulutku mulai membuka karena terkejut namun aku tidak ingin berteriak karena aku tahu itu akan membuat keadaan lebih buruk.

“Selamat datang di Midrelty, dunia tempat tinggal makhluk-makhluk imajinasi, dan para penguasa tidur.”

Dan sejak itulah petualangan beratku dimulai.”

*****

“Tuan, bagaimana mereka melawan si cupid?” gadis berambut kepang kembali bertanya.

“Tidak, aku tidak berkata mereka akan melawannya. Mereka tidak bisa melawannya, Apakah aku lupa mengatakan bahwa Icy kehilangan banyak kekuatan sihirnya karena dia membawa Orion ke Midrelty?”

“Ya, kau lupa tuan.”

“Oh, maafkan aku. Ya dia kehilangan banyak kekuatannya maka dari itu dia meminta bantuan cupid untuk  membuat hati Vera berubah.”

“Bagaimana mereka bisa selamat?” pertanyaan itu disambut gumam-gumam kecil

“Well, Icy bersama Orion berencana pergi kesebuah danau tempat para Sirent tinggal. Kalian tahu apa itu Sirent? Mereka adalah makhluk menyerupai putri duyung dan memiliki suara yang sangat indah. Suara itulah yang bisa membuat semua makhluk menjadi tenang termasuk cupid. Tapi untuk kesana tidaklah mudah bagi mereka karena banyak monster yang mencari dan menyerang mereka.”

“Ceritakan petualangan mereka, ceritakan!” teriak salah satu anak sangat bersemangat.

“Itu akan terlalu panjang untuk diceritakan nak. Akan kuceritakan satu yang paling menegangkan. Saat itu mereka berjalan dalam keheningan, untung saja Icy sadar mereka dibuntuti oleh seekor Grifon, makhluk bersayap, dengan kepala elang, dan badan singa lengkap dengan cakarnya yang mematikan.Mereka berusaha lari namun sulit lepas dari kejaran Grifon. Hingga akhirnya Grifon itu menerjang dan hampir memutuskan kepala Orion untung Icy menyelematkannya walau harus mengalami cidera di punggungnya.”

“Apa dia tidak apa-apa?” Tanya gadis yang tadi sempat menangis.

“Ya, nona manis, dia tidak apa-apa. Mereka berhasil lolos pada akhirnya. Dari perjalanan itu mereka semakin dekat dan saling menguatkan satu sama lain. Perjalanan yang sungguh menyenangkan.” Mata pria itu kembali memandang langit.

“Bagaimana akhir ceritanya?” anak itu kembali bertanya.

“Kita akan sampai kesana sebentar lagi.” Pria itu tersenyum dan mulai bercerita.

*****

”Alunan suara yang begitu indah membangunkanku dari istirahat. Icy duduk menatapi danau yang sudah ada dihadapan kami. Lagu yang dilantunkannnya bernada sedih..

“Hei..”

Icy, kaget dan tampak menyeka sesuatu dari matanya.

“Hei…” suaranya serak.

“Kamu menangis? Ada apa?”

Tidak ada jawaban, kuputuskan untuk membiarkannya.Kami duduk dalam diam memandangi hamparan rumput hijau. Bunga-bunga bergoyang pelan tersapu oleh angin.Cahaya orange matahari tergambar indah dihiaskan awan mendung.

Satu per satu bintang mulai tampak dilangit. Cahaya-cahaya kecil bermain disekitarku, mengitariku juga Icy. Dia tampak sama terkesimanya denganku. Aku berdiri, menarik Icy ketengah kerumunan cahaya,berputar-putar disana. Hujan turun menghapus cahaya-cahaya. Kami duduk ditengah hujan, diatas rerumputan yang telah basah.

“Maafkan aku.” Kata Icy

“Untuk apa?”

“Semua kejadian menyeramkan ini.Semua…”

“Dengar, kau tidak perlu memikirkannya.Aku cukup menikmati semua ini Jadi tidak ada yang perlu disalahkan.” aku memotongnya

“Tidak, aku….”

Kukatupkan bibirnya menggunakan dua jariku. Rintik-rintik air yang mulai mereda menghiasa wajahnya. Aku memalingkan wajah kami, memandang kelangit gelap bermandikan cahaya bintang. Aku menunjukkan satu persatu bintang diatas sana.

“Kau tahu saat masih kecil, setiap kali aku sedang sedih Ibu ku selalu mengajakku melihat bintang dan memberitahuku. Bintang pergi disiang hari dan kembali tiap malam. Mereka akan mendengar semua kekesalan kita, kesedihan kita, beban kita. Teriakan pada bintang-bintang, lalu mereka akan membawanya pergi, membawa gelap dari hidup kita pergi, pergi bersama gelapnya malam, lalu terang akan datang kepada kita membawa indah.”

Icy hanya terdiam memandangi bintang dilangit.

“Ayo, ikuti saja aku. “Aku berteriak sekencang mungkin dan mengulanginya beberapa kali

Aku berdiri mengulurkan tanganku kepadanya. Icy. Kini kami berdiri berdampingan. Aku mulai berteriak lagi. Dengan suatu isyarat aku menyuruhnya mengikuti. Dia mencobanya, kami saling bersahut-sahutan. Kami tertawa dan tersenyum gembira sepanjang malam.

*****

Kami sudah dekat namun Icy terlihat semakin sedih.

“Bawa ini.Anggap sebagai kenang-kenangan”

Sebuah cincin indah dengan berbagai rangkaian indah tergambar disana, matanya berwarna biru langit begitu indah.

“Apa maksudmu kenang-kenangan?” Kuraih cincin itu dari tangannya.

“Kamu akan tahu nanti.” Icy tersenyum lemah.

Aku bisa melihat didalam para Sirent dari tempat kami berbicara. Mereka memegang instrument dan tampak sedang bermalas-malasan. Aku baru saja ingin berlari kesana, tapi sebuah panah melesat membakar pipiku. Seperti tanpa ampun salah satu panah menghujam perutku.Cupid-cupid itu menemukan kami,dan memanahi kami tanpa henti.

“Si….sirent menyanyilah.” kataku lemah,namun tak menuai respon dari mereka.

Hujan panah tidak kunjung berhenti untuk itu Icy membawaku menghindari panah-panah ketepi danau.

“Sirent tidak akan menyanyi, mereka membutuhkan tumbal jika ingin memintanya menyanyi.”

Akhirnya aku mengerti kenapa Icy murung sejak kemarin.Dia akan mengorbankan dirinya. Aku berusaha mencegahnya namun tidak bisa rasa sakit diperutku semakin menjadi-jadi, membuatku tidak dapat bergerak.Satu panah melesat tepat kekepalaku. Aku memejamkan mata bersiap menerimanya, tapi tidak terjadi apa-apa. Hanya cipratan hangat kewajahku. Panah itu mengenai perut Icy. Aku hanya bisa terpaku melihat tatapannya yang kini kosong. Dalam hujan panah dia berlari kearah danau, lalu berbisik.

“Para Sirent bernyanyilah.”

Seiring dengan suara itu kesadaranku hilang, cahaya orange warna yang terakhir kulihat. Satu yang pasti aku mendengar suara nyanyian indah.

*****

Potongan film itu kini tampak jelas. Gedung megah yang adalah museum,patung-patung keluarga Hypnos,keluarga dewa mimpi yang kubersihkan dari debu-debu.Aku yang terbaring dijalan raya karena kecelakaan lalu lintas. Semua jelas. Sekarang aku berdiri diruang dengan cahaya redup. Aku melihat dua sosok manusia,salah satunya Icy.

”Icy kau selamat!”Aku berseru kegirangan.

Tapi tidak ada jawaban dari Icy,dia tampak lemah dan pucat.

“Kau sudah melihat semuanya, ini saatnya kau untuk pergi kembali keduniamu.”Suaranya nyaris tidak terdengar karena hanya berupa bisikan.

”Tidak, aku tidak akan pergi aku akan disini bersamamu.”

“Tidak, lihat itu,”Tampak gambar aku dirumah sakit, kedua orang tuaku, Vera, dan teman-temanku menunggu disana, ”Disanalah tempatmu, bersama mereka. Maafkan aku karena membawamu kemari. Aku memang hanyalah sesuatu yang buruk, karena itulah aku Icy, pembuat mimpi buruk. Aku sudah membuat mimpi yang sangat buruk bagimu. Maafkan aku.”

“Tidak Icy. Bagiku kau bukan mimpi buruk. Kau tahu tidak ada satupun diciptakan buruk. Keburukan hanyalah keindahan yang tersipu malu. Kau indah bagiku Icy.Aku akan tetap disini.”

“Tapi, bagaimana dengan mereka? Orang-orang yang juga menyayangimu?”

“Tapi..” Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Terima Kasih, Ian.”Icy tersenyum

Bersamaan dengan itu aku seperti terseret dalam kegelapan. Tidak bisa melawan, tidak bisa berteriak.

*****

“Kupikir disinilah kisah Midrelty berakhir.” Pria itu tersenyum.

“Bagaimana Icy selamat?”Anak-anak tampak belum puas.

“Anggota keluarnya menolongnya. Salah satu dari mereka sangat kuat.”

“Apa yang terjadi pada Orion?”

“Hmm, tidak ada yang spesial terjadi. Dia terbangun dirumah sakit tanpa mengingat apapun. Walaupun dia merasa seperti ingin menangis. Tapi tidak lama kemudian Ibunya menemukan cincin yang diberikan Icy padanya. Seketika itu dia ingat semua pertualangannya. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa sedih hatinya harus berpisah dari Icy. Dia berteriak hingga serak kepada bintang malamnya, dia pun menangis hingga air matanya kering. Untung dia memiliki keluarga dan teman-teman yang sayang padanya hingga dia menjadi kuat untuk tetap menjalani hidup.”

“Apakah dia masih menyimpan cincin itu?”

“Sayangnya cincin itu hilang.Terjatuh entah dimana”jawabnya sedih.

Tanpa terasa hari sudah sore. Matahari mulai tenggelam, satu per satu anak pulang. Hingga akhirnya tersisa si pria yang berjalan menuju matahari terbenam seorang diri.

“Tunggu tuan.” Teriak gadis kecil.

“Wah, aku tidak melihat bahwa ada yang belum pulang.” Si pria berbalik sambil tersenyum. “Ada apa nona ma…”

Kata-katanya langsung terhenti saat dilihatnya seorang gadis kecil mengenakan baju biru langit polos dengan celana hitam panjang. Wajahnya tampak manis dengan rambut kecoklat-coklatannya yang pendek. Latar matahari terbenam tepat berada diantara gadis dan pria misterius itu.

“Kau menjatuhkan cincin ini pak Ian.”Sebuah cincin indah dengan mata biru diberikannya pada si pria misterius.

Genangan air tampak dimatanya saat dia menerima cincin itu.

“Terima kasih,”suara pria itu bergetar, “Icy.”

Gadis itu tersenyum dan menghilang bersama tenggelamnya matahari.

Iklan