MIMPI YANG DI DALAMNYA KEMAMPUAN BERPEDANGKU DIUJI

Alfare

Pada suatu sore di tahun pertamaku kuliah, beberapa meter sekeluarnya aku dari kelas, aku berpapasan dengan Nia Damayanti dalam perjalananku pulang ke rumah.

Nia sejurusan dan seangkatan denganku di universitas. Namun karena NIM kami berbeda jauh, belum pernah sekalipun kami ditempatkan sekelas.

Sebelum kejadian ini terjadi, aku dan dia lumayan akrab. Kami jarang berbicara. Tapi kami ‘nyambung’ pada kesempatan-kesempatan langka tatkala kami harus bertatap muka. Terutama pada saat-saat ospek jurusan dilaksanakan.

Pada awalnya kurasa, kami hanya merasa cocok dengan satu sama lain saja. Bukannya saling suka atau apa. Bagiku sendiri, Nia bukanlah perempuan yang penampilannya menarik perhatian. Yah, kuakui daya tarik yang dimilikinya memang beberapa tingkat di atas rata-rata. Tapi serius, aku belum cukup mengenalnya untuk sampai naksir padanya atau semacamnya.

Meski demikian, kejadian yang melibatkan dirinya ini tetap terjadi, yang secara bawah sadar turut mempengaruhi hidupku sampai bertahun-tahun ke depan.

Dia sedang berjalan beriringan dengan temannya. Aku tak ingat siapa. Lalu begitu melihatku, dirinya mendekat dan serta merta dia bertanya, “Rinto, katanya… kamu mau non-him ya?”

Ada jeda beberapa detik—saat langkahku terhenti, dan dengan enggan aku balas menatapnya—sebelum aku membenarkan pertanyaannya tersebut.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

Ekspresinya serius. Nada suaranya di antara mendesak dan cemas.

Aku nyerah. Aku ga sanggup lagi. Aku kurang tidur. Aku udah enggak liat ada lagi gunanya.Aku muak ama sistem osjur. Aku pengen lakuin sesuatu buat ngelawan.

Aku lupa apa persisnya yang kukatakan padanya. Aku hanya ingat bahwa aku mengatakannya selintas dengan nada muram. Tapi di bawah langit jingga yang menaungi kami hari itu, kata-katanya yang berikut ia terakkan sampai menggema di sepenjuru plaza kampus.

“…Payah. Kamu payah! Rinto payah! ARINTO MUSTOFA ITU ORANG PAYAAAAAAH!”

Baru pada tahun-tahun belakangan saja aku memahami latar belakang kemarahannya.

Aku biasanya tak mempedulikan pendapat orang. Tapi bila aku mengkaji baik-baik fakta-fakta yang kuingat dari tahun pertamaku kuliah itu, meski aku bukan mahasiswa berprestasi menonjol, kurasa aku cukup disegani oleh teman-teman seangkatanku. Alasannya sederhana: aku memperlihatkan lebih banyak semangat selama ospek jurusan dibandingkan kebanyakan orang.

Kami para mahasiswa baru mengikuti osjur sebagai prasyarat untuk diterima sebagai anggota himpunan. Ada lari-lari keliling kampus, tugas-tugas aneh, marah-marahan, dan segala macam hal lainnya. Semua demi menyiapkan sikap, mental, dan keterampilan dasar kami agar layak diakui sebagai anggota himpunan.

Hal ini juga berkaitan dengan koneksi dan kekerabatan di dunia nyata nanti. Tapi lebih banyak soal ini masih belum terlalu kupahami waktu itu.

Aku hanya… merasa sangat marah saat anak-anak Swasta—anggota-anggota himpunan yang tidak tergabung dalam kepanitiaan osjur—mulai terlibat dalam kegiatan. Sikap mereka yang temperamental dan begitu seenaknya—sekalipun itu semua hanya pura-pura sekalipun—membuatku tidak lagi ragu bahwa semua yang berkaitan dengan osjur itu konyol dan tak berarti.

Pada sore itu, tak kulihat ekspresi penolakan atau kekecewaan yang tersirat di wajah Nia. Padahal aku tahu ada nada sakit hati dalam suaranya. Kurasa Nia saat itu bahkan sudah membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya lagi.

Kakiku pun sudah kembali melangkah, bahkan sebelum teriakannya terdengar. Sebab dengan segala kedongkolan yang kurasakan waktu itu, sedikitpun aku tak sudi berlama-lama di hadapan orang lain.

Setahun kemudian, akhirnya tibalah saat aku dan Nia bisa sekelas. Tapi semenjak kejadian di plaza itu, kami berdua hampir tak pernah saling bicara lagi. Alasannya… sulit kujelaskan. Ada hubungannya dengan struktur kemasyarakatan kampus. Singkatnya, hubungan kami tak pernah berkembang sebagaimana yang semula kukira.

Mungkin karena stigma yang telah terlanjur melekat.

Kenangan itulah yang untuk suatu alasan menyeruak tatkala Penjaga Toko mengajukan tawarannya padaku.

“Jati diri manusia dibentuk oleh rangkaian-rangkaian keputusan di masa lalu. Ekspresi-ekspresi membentuk guratan wajah. Postur badan dibentuk citra diri bawah sadar. Segalanya ditentukan oleh keputusan-keputusan! Lalu masa lalu tersusun atas memori. Dengan merubah akar memori seseorang, maka merombak kenyataan masa kini menjadi suatu hal yang mungkin dilakukan! Inilah yang kau harapkan, bukan? Wahai, Arinto Mustofa?”

Aku tak sepenuhnya memahami teori yang diajukannya. Tapi secara perlahan, aku mengangguk.

Sejak dulu, aku percaya kalau dunia paralel itu ada. Dunia yang berbeda dari dunia yang kutempati sekarang ini.

Sebut aku pengkhayal. Sebut aku kurang kerjaan. Tapi keyakinanku akan keberadaan dunia lain itu tak lagi bisa diubah. Mungkin akibat segala kekecewaan yang kualami, keyakinanku itu mungkin sudah menjadi semacam ideologi. Semacam kepingan impian masa lalu yang masih belum rela kulepas, yang justru menguat alih-alih melemah seiring aku dewasa.

Brave Story.” ucap Dodi, tatkala aku bercerita padanya tentang keyakinanku ini.

“Apa?”

“Aku sebenarnya enggak terlalu heran sama khayalan-khayalan kayak gitu. Tapi cara kamu nyeritain, enggak tau kenapa bikin aku keinget sama novel itu.”

Perkataannya membuatku terhenyak.

Aku mengerti maksudnya, terutama sesudah mencari sendiri keterangan tentang novel itu di Internet. Tapi aku tak yakin apa aku bisa menjelaskan alasannya.

Inti cerita novel itu memang seputar anak-anak manusia yang berkelana di dunia lain. Tapi berbeda dari kebanyakan dongeng fantasi anak-anak yang lebih dikenal, tema-tema yang secara tersamar mendasari Brave Story adalah sisi suram kehidupan orang dewasa.

Ide mendasar soal bagaimana seandainya kita diberi kesempatan untuk mengubah realitas kita.

Sejujurnya, aku tak sedikitpun menyangka Nia akan bereaksi terhadap keputusanku mundur dari osjur. Maksudku, memang dia siapa? Setahuku tak ada alasan apapun baginya untuk mencampuri urusanku.

Hanya saja, menilai dampak keputusan itu terhadap kejiwaanku belakangan, tak pernah kuberhenti berpikir bahwa mungkin saja waktu itu Nia memang punya alasan yang bagus.

Penjaga Toko membawaku melewati serangkaian pintu di balik kassa, menuju satu dari sekian banyak ruangan misterius yang tersembunyi di bagian belakang tokonya. Aku perhatikan ada banyak jam antik tergantung di sepanjang dinding-dinding lorong. Detak jam-jam yang memenuhi kesunyian lorong entah mengapa membuatku bergidik. Lalu setelah melewati salah satu pintu, melalui sebuah kaca besar, yang hampir-hampir memenuhi satu sisi ruangan—terbingkai tirai-tirai beludru berwarna gelap bagaikan panggung sandiwara—Penjaga Toko memperlihatkan padaku ‘harga’ yang harus kubayar demi mengubah realitasku itu.

Ya, alasanku datang ke toko ini hanya satu

Aku mencari Brave Story-ku sendiri.

Aku tak ingat persis bagaimana awal mula aku bertemu dengannya. Tapi sebatas yang kuingat, Penjaga Toko adalah penjaga toko aneh di pusat perbelanjaan dekat rumahku. Toko yang setelah sekian lama tutup, baru belakangan buka kembali. Konon, toko ini menawarkan ‘layanan khusus’ bagi ‘pelanggan-pelanggan tertentu.’ Kemudian untuk suatu alasan, aku terpilih sebagai salah satu ‘pelanggan tertentu’ tersebut.

Yang agak menakutkan, Penjaga Toko itu tahu apa yang kuinginkan. Sekalipun aku tak pernah membicarakannya dengan siapapun.

“Kakak sedang melawan Kegelapan ‘kan? Salah satu kebijakan toko kami adalah membimbing orang dalam melawan Kegelapan masing-masing.”

Aku tak tahu bagaimana. Tapi aku langsung tahu yang dimaksudkannya itu apa.

Lewat ucapan itu saja, aku langsung terbayang akan kegelapan yang semenjak itu menyelubungi hatiku.

Saat aku kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat.

Saat minatku menjalani kehidupan lenyap.

Saat tahu-tahu saja aku apatis terhadap kenyataan.

Kuliahku tersendat. Aku kehilangan kontak dengan teman-temanku. Aku mulai menyadari perbedaan radikal antara jalan pikiran satu orang dengan jalan pikiran orang lainnya. Aku saksikan betapa kelam dunia nyata yang mesti kuhadapi selepas sekolah.

Masa-masa ketika kenyataan dan mimpi seakan melebur tanpa dapat dibedakan—kondisi wajar bila mempertimbangkan kondisi kejiwaanku.

Masa-masa aku mengalami depresi.

Setelah kupikirkan belakangan, kurasa semua ini memang dimulai semenjak Nia meneriakiku di plaza kampus waktu itu.

Belum pernah aku begitu berkeinginan mengubah masa lalu seperti saat itu!

Keputusan tak lazimku untuk menyerah.

‘Pengkhianatanku’ sesudah menjadi yang paling bersemangat agar kami semua menjadi anggota himpunan.

Semua… kepura-puraan dan kerendahdirianku saat berhasil memasuki jurusan dan universitas yang begitu prestisius…

Keputusasaanku tatkala terseret ke dalam neraka jiwa…

Penjaga Toko ingin aku pergi ke dunia lain, untuk ‘melawan Kegelapan jahat yang tengah mengancam.’ Baru sesudah aku melakukan itu keinginanku akan bisa dikabulkan.

Melalui kaca portal, Penjaga Toko  sebelumnya memaparkan bahwa kota Walsa di dunia lain telah jatuh ke tangan sesosok monster jahat bernama Bhoul. Bhoul membantai semua yang melawan. Lalu sesudah menghancurkan kota bersama para pengikutnya, ia memperbudak mereka yang masih tersisa untuk membangun Menara Kegelapan di markasnya, sekaligus menjadikan mereka sandera seandainya Tentara Kerajaan datang untuk menghentikan niatnya.

Mendengar cerita aneh ini, tentu aku semula skeptis.

Tapi Penjaga Toko lalu berkata:

“Apa kau keberatan menolong orang-orang asing yang tak ada hubungannya denganmu, padahal kau mampu?”

Lalu aku terhenyak. Aku tak tahu apa, tapi ada sesuatu pada kalimat itu yang terus mengusik perasaanku.

Lagipula, bukankah semenjak awal aku percaya dunia lain itu ada? Dunia yang mirip, dengan perkembangan kejadian yang berbeda? Dengan sejarah yang berbeda? Tempat ‘aku’ berhasil menyelesaikan segala sesuatu sebagaimana mestinya?

Yang paling kuinginkan melebihi segalanya adalah menjadikan dunia lain itu milikku. Maka pada akhirnya, aku sepakat menerima tawarannya. Kupikir, apapun akan kutempuh asalkan bisa mengubah masa lalu dan menghapus penyesalanku.

Semacam bunyi denging aneh kemudian mulai terdengar. Kaca yang berpendar di hadapanku semakin terang. Kurasakan seisi ruangan mulai berputar.

“Ini… bahaya ‘kan?” Aku bertanya lagi di saat-saat terakhir.

“Kami mengamati pelanggan-pelanggan kami dengan seksama. Jadi kami tak sedikitpun ragu akan kemampuan terpendam yang Kakak miliki. Hasil yang diperoleh sepenuhnya akan bergantung pada kekuatan tekad Kakak sendiri.”

Kekuatan tekad?Bukankah justru itu yang selama ini tak kumiliki!

Tapi keraguanku tak terucapkan. Gravitasi portal kaca telah mengangkatkuku dan menarikku ke depan, membawaku menuju dunia lain.

Pada detik terakhir, entah mengapa, aku tak lagi melihat Penjaga Toko sebagai penjaga toko. Aku melihatnya bagaikan raja, yang untuk suatu alasan aneh tertentu, kini hanya bisa meminta jasa orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Ucapannya lebih terdengar sebagai permintaan daripada perintah, dan aku merasakan sensasi aneh bahwa merupakan sebuah kehormatan bagiku untuk melaksanakannya.

Tiba-tiba dengan gemetar kusadari satu hal aneh yang lolos dari kesadaranku sepenuhnya.

Wajah Penjaga Toko luar biasa mirip Dodi.

Jika ada dua hal yang membuatku bertahan agar tak sampai didepak dari bangku kuliah, maka itu adalah unit olahraga kendo yang kuikuti; dan teman-teman baru di subjurusan yang banyak menyemangati saat aku mendekati batas akhir masa kuliahku.

Kendo adalah olahraga bela diri Jepang yang mengaplikasikan pedang yang dibuat dari potongan-potongan bambu. Terdapat hanya tiga gerakan dasar dalam kendo, yang terus dilatih secara berulang. Kesederhanaannya memang menjadi daya tarik sendiri. Tapi kelebihan anehnya dalam mengasah indera-indera kami lebih cepat dibandingkan olahraga bela diri lain menjadi apa yang membuatku melekat.

Aku memang jarang terlibat dalam obrolan teman-temanku di subjur (aku lebih tua karena seringnya mengulang mata kuliah). Tapi aku menghormati mereka karena perlakuan wajar mereka terhadapku—mengajakku bicara saat berpapasan dan sebagainya. Alasan sederhana itu sudah cukup bagiku untuk memandang mereka berarti.

Dodi salah satu dari mereka. Di antara semua temannya, Dodi satu-satunya yang semenjak awal memandangku tanpa prasangka. Kurasa, karena itulah aku sedikit lebih menghargainya dibandingkan yang lain.

Aku sebenarnya jarang berbicara dengan Dodi. Hanya pada saat-saat kuliah saja. Aku juga belum pernah melihatnya lagi semenjak ia diwisuda satu semester lebih awal dariku. Karena itulah, aku merasa aneh dengan kemiripan ini.

Tapi kuputuskan untuk tak memikirkannya lebih lanjut begitu aku tiba di tujuan.

Langit Walsa di atasku tampak gelap dan suram. Gumpalan awan yang berpusar pun seakan merintih akibat siksaan penderitaan. Sekeliling terdekatku dipenuhi puing-puing kehancuran. Sekeliling terjauhku dipenuhi pembusukan dan kematian  Aroma abu dan kepahitan merebak.

Terperangah, aku perlu sedikit menahan nafas agar tak merasa tercekik.

Ada rasa pahit sekaligus kesedihan yang secara mengejutkan menjalar. Sebab… segala sesuatu serupa dongeng itu kini hadir begitu nyata! Batinku tergetar. Nafasku tertahan. Rasanya, semua acuan akal sehatku menjadi terbalik.

Seketika saja aku kembali diliputi keraguan, ketakutan, semua emosi negatif yang selama ini telah begitu sering kurasakan.

Tapi begitu aku menemukan senjata yang telah Penjaga Toko siapkan, tertancap bersama sarungnya di tanah lapang di tengah-tengah reruntuhan rumah, semua tergantikan oleh perasaan menggelora yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sebilah pedang bergaya Jepang; panjang keseluruhannya, dari ujung mata hingga dasar gagang bila diukur dari atas tanah, tepat sampai ke ketinggian ulu hatiku. Panjangnya pas, batinku. Pedang bersama sarung kucabut dan aku kemudian menimbang bobotnya. Belum pernah aku memegang pedang sungguhan sebelumnya, bahkan untuk iaido sekalipun. Tapi genggaman pedang, ukurannya, bersama pembagian titik-titik beratnya, secara menakjubkan terasa begitu sesuai untukku.

Lalu dengan berbekal pedang itu, entah bagaimana aku merasa aku bisa melakukan sesuatu.

Kubawa pedang itu di tangan kiri, dan kutatap Menara Kegelapan yang berdiri angkuh di kejauhan itu dengan penuh tekad.

Baru saat itu aku sadar. Selama hidupku memiliki makna dan tujuan, tak ada alasan apapun bagiku untuk merasa bersedih!

Tujuanku saat ini adalah mengalahkan Bhoul di menara kegelapan.

Apa yang orang lain katakan tentang diri atau prestasiku sama sekali tak ada artinya.

Yang terpenting bukanlah apa yang dilihat orang lain, melainkan apa yang kita lihat pada diri kita sendiri. Bagaimana kita melihat semua itu, kemudian bergerak untuk mewujudkan segala yang kita citakan!

Maka aku berlari menembus cahaya sore yang melingkupi hutan. Dari jauh kudengar Tentara Kerajaan yang akhirnya bergerak. Medan pertempuran telah menanti!

Aku melepaskan teriakan perang.

“Bhoul! Aku datang untuk menghentikan semua kejahatan yang telah kau lakukan!”

Lalu kucabut pedangku dan dengan sigap membantu pasukan berzirah menghadapi monster-monster yang menjaga dasar menara. Tubuhku tahu-tahu bergerak. Aku bahkan tak menyadari saat badanku dengan luwes mengikuti gerakan pedang dan mematikan lawanku yang pertama.

Pedang kugenggam dengan dua tangan. Inilah saat ketika semua yang telah kulatih selama ini diuji.

Perwira yang kutolong bertanya-tanya tentang siapa diriku. Tapi sekarang bukan saatnya berbicara, sebab monster-monster baru semakin mendekat!

Gerbang Menara berhasil kami terobos dan kali melalui lorong-lorong suram dan tangga-tangga melingkar. Mayat dan orang terluka, tua maupun muda, telah bertebaran di mana-mana. Kuperhatikan sebagian di antara tak memakai seragam. Teriakan-teriakan kerusuhan terus menggema. Para penduduk yang diperbudak akhirnya mengambil kesempatan untuk memberontak sesudah dibebaskan para pionir.

Situasiku mengingatkanku akan video game yang pernah kumainkan bersama bersama beberapa teman lamaku dulu. Di game itu, kami memilih satu dari sekian banyak jagoan berpedang dan menghadapi ninja-ninja yang menyerang kami secara mendadak. Mungkin karena pengetahuanku akan kendo, aku yang pemula mengesankan teman-temanku dengan menaklukkan lawan-lawan di tingkat pertama dengan satu sabetan saja. Tapi tanganku mendadak licin menjelang akhir tingkat, sehingga dengan konyolnya karakterku turut tewas dengan hanya satu sabetan pula.

Hal serupa kutakutkan di sini. Dengan ngeri kudapati aku selalu hanya perlu satu tebasan—satu tebasan cepat dan tanpa ragu—untuk menjatuhkan setiap lawan yang menghadang. Apa… sejak dulu aku sekuat ini? Aku sadar keberuntungan ini takkan berlangsung lama. Aku tahu suatu saat genggamanku mungkin ‘selip’ dan ‘kekonyolan’ saat aku memainkan game itu akan terjadi.

“Jangan kira… kebangkitan Tuan Yorugias… akan bisa kalian hentikan!”

Monster terakhir yang kami bunuh membuat kami mengetahui bahwa para monster membangun Menara Kegepalan untuk menjangkau Kunci Langit; yang selanjutnya akan digunakan untuk membebaskan Yorugias, Penguasa Langit Kegelapan yang telah dikurung para Pahlawan Agung pada zaman dahulu kala.

Dengan ngeri kami akhirnya menyadari bahwa kami berpacu melawan waktu. Keselamatan dunia Walsa terancam, dan yang dapat mencegah kehancuran lebih lanjut yang akan terjadi hanyalah kami.

Kedua lenganku kebas. Nafasku terus memburu. Jantungku seakan hampir meledak saat aku akhirnya tiba di puncak Menara. Dengan ngeri kusadari para perwira yang bertarung bersamaku telah berpisah jalan entah ke mana.

Di hadapanku, sesosok banteng kelabu berotot berjubah berdiri menggunakan dua kaki membelakangiku dengan kedua tangan terentang ke atas. Pijar-pijar sihir meletup di atas kepala. Secara perlahan, dari depan altar, ia membalikkan badan saat merasakan kehadiranku.

“Kau?” cibir Bhoul. Suaranya begitu menggelegar dan dalam. “Kau, yang tak memiliki kaitan dalam peperangan ini, justru menjadi orang pertama yang sampai? Hahahahahahaha! Lelucon macam apa ini?”

Kengerianku memuncak. Tapi dengan kemarahan terhadap diri sendiri dan sesal untuk mereka yang tewas, aku mencoba untuk berani.

“Namaku Arinto Mustofa! Akulah orang yang akan mengambil nyawamu!” teriakku lantang.

“Pulanglah, orang asing! Pertempuran ini tak ada kaitannya dengan dirimu! Ya, aku tahu.” lanjutnya saat melihat keterkejutanku. “Aku tahu kau diutus dari dunia lain! Hal serupa pernah terjadi ribuan tahun lalu saat tuanku terkunci! Aku bahkan tahu kau orang yang sebenarnya seperti apa!”

Genggaman pedangku bergetar…

“Kau pengecut yang telah melarikan diri dari kenyataanmu.”

…ia berada tepat beberapa belas meter di depanku…

“Kau yang bermaksud menukar kenanganmu untuk kepuasan diri yang sama sekali tak layak kau dapatkan!”

…tapi tubuhku membeku tanpa dapat bergerak!

“Kau kira orang sepertimu sanggup menghadapiku?”

“Bukan…”

“IYA! Kau bahkan tak LAYAK untuk mati di tanganku! Pulanglah. Toh kau tak lebih dari sekedar sampah.”

“BUKAAAN!” Aku menjerit.

Aku melangkah maju dan bertarung dengannya!

Saat berikutnya aku sadar, sepasang tanduknya telah menembus abdomenku. Organ pencernaanku hancur. Darah dan empeduku mengucur. Aku ingin mengerang, tapi untuk bersuarapun aku tak bisa. Akhirnya air mataku meleleh, baik oleh sesal maupun rasa sakit.

Haha, mungkin… pada akhirnya aku memang tak berguna…

Tapi saat mata nanarku memperhatikan; rupanya tebasanku yang mengincar kepala tanpa sadar kuubah menjadi tusukan akibat cepatnya Bhoul merunduk. Karena bersih dari keraguan, seranganku ternyata tepat sasaran. Ujung pedangku menembus titik lunak tengkorak Bhoul dan keluar lewat dagunya.

“Padahal… tinggal sedikit.. kenyataan baru… Tuan… Maaf… Rufael… bahkan pasukanmu… aku… g-gagal…balas…dendam…”

Apa yang terjadi selanjutnya kurang bisa kuingat. Tubuhku yang sekarat entah bagaimana terpulihkan. Aku teringat inti semua ilmu pedang adalah semangat hidup yang tak goyah. Lalu mungkin karena telah bisa mensyukuri apa yang ada, aku tak lagi berminat terhadap masa lalu lagi. Sebagai gantinya, karena telah mengalahkan Bhoul dan menyelamatkan Walsa, Penjaga Toko menghadiahiku sebentuk boneka sapi mungil paling manis yang pernah kulihat (“Tunggu dulu, ini maksudnya APA-APAAN?!”).

Kedengarannya absurd.

Tapi sekejap berikutnya, kurasakan tubuhku seakan mengambang hingga mencapai permukaan. Telingaku kembali berfungsi. Mataku membuka. Seketika, keriuhan orang-orang berbelanja memenuhi udara.

Ingatanku kembali.

Aku yang tertidur di salah satu bangku mall dekat rumahku, hujan deras yang turun di luar, setahun yang sudah berlalu semenjak aku diwisuda. Lalu keadaanku yang tertekan karena tak ada pemasukan. Lalu soal Dodi yang tak mungkin kujumpai karena sedang S2 di mancanegara. Jantungku yang utuh dan masih berdebar.

Sehingga dengan terkesiap, aku tersadar..

Semua pengalamanku bersama Penjaga Toko hanyalah mimpi.

Mimpi yang amat sangat aneh.

…atau bukan?

Sebab boneka sapi itu masih ada.

Terbujur di pangkuan, terbungkus kantung kertas coklat, masih dengan label merek, tapi tanpa kuitansi ataupun keterangan harga.

Aku terhenyak.

“…Rinto?”

Seketika aku terlonjak, dan saat mendongak, dengan takjub aku melihat Nia Damayanti kembali setelah sekian tahun. Untuk sesaat, aku hampir tak mengenalinya. Sorot matanya yang pengertian masih belum berubah.

“Nia?”

Apa ia secara kebetulan saat sedang window-shopping?

“Hei.”

“H-hei.”

“Lama enggak ketemu, ya?”

“Iya.”

…Kurasa wajar bila sesudah semua yang terjadi, kami berdua sama-sama sedikit salah tingkah.

“Abis belanja?” tanyanya, menunjuk apa yang terdapat di pangkuanku.

Dalam hati aku bertanya-tanya apa aku memang telah membeli sapi itu sebelumnya. Ingatanku mungkin sudah tak beres. Tapi dipikir bagaimanapun, tetap tak ada alasan bagiku untuk membeli boneka sapi.

“…Buat kamu aja.”

“…Hah?”

Teringat soal mengubah realitas, dengan sedikit malu kusodorkan sapi itu kepadanya.

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan