MONGKU & BARNABAS

Rickman Roedavan

Barnabas terjun dari puncak pinus yang tingginya bisa membuat seekor kucing dewasa pingsan tak sadarkan diri. Gravitasi menarik seluruh kulit dan bulu-bulunya ke dasar tanah. Sementara angin yang berhembus bergerak sebaliknya. Bertiup kencang menekan kedua pipi tembem dan perut kecilnya. Aliran darahnya seperti berbalik. Dia merasa di tekan dari atas dan bawah secara bersamaan.

Mendekati ketinggian setengah pohon, dia membuka kedua tangan dan kakinya lebar-lebar. Membentangkan selaput tipis yang sejak tadi terlipat di tubuhnya. Selaput kecoklatan itu mengembang, memperlambat laju jatuhnya. Ekornya bergerak, begitu juga tangan dan kakinya. Membuat tubuhnya, yang tak lebih besar dari seekor kelinci, kembali terangkat di udara. Bergerak lincah menantang angin, menghindari batang pohon-pohon tinggi, lalu semakin turun, sampai akhirnya mendarat dengan sempurna di atas tanah berkerikil. Melihat caranya meloncat, menjaga keseimbangan di udara, dan mendarat, menandakan kalau Barnabas, adalah seekor bajing terbang yang sangat berpengalaman.

“Bagaimana? Kelihatan tidak?”

“Kelihatan. Rumahnya berada persis di balik bukit itu.”

“Bagus. Berarti kita sudah dekat. Ayo!”

“Tunggu dulu,”

“Kenapa lagi?”

Barnabas mengacak pinggang, melototi Mongku, sahabatnya.

“Memangnya kau sudah punya rencana?”

“Rencana? Mudah saja. Aku akan masuk melalui jendela, menghajar Sindel dengan pedangku, dan membebaskan semua teman-teman kita.” jawab Mongku. Barnabas tersenyum sinis. Seandainya dia tidak mengenal monyet berbulu emas itu sejak lama, dia pasti akan menyangka kalau monyet itu sedang bercanda.

“Kedengarannya itu sebuah rencana yang hebat. Aku yakin, rencana itu pasti berhasil.” sindirnya

“Memang. Aku juga yakin begitu. Ayo!”

“Ayo apanya!!” Barnabas berteriak. Kesal, “Memangnya bisa semudah itu? Aku masuk dari jendela, menghajar Sindel dengan pedangku, dan membebaskan teman-teman kita,” ulang Barnabas, “Sekedar mengingatkanmu, kalau-kalau kau lupa, Sindel itu seorang penyihir!!”

“Aku tahu kalau dia adalah penyihir. Lalu kenapa?” balas Mongku, “Aku tidak takut. Dia sudah menculik teman-teman kita, dan aku akan menyelamatkan mereka.” Dia mengambil sebilah pedang kayu dipunggungnya, “Pedang ini telah membantuku melewati banyak pertarungan. Jangankan seorang Sindel, sepuluh orang Sindel sekali pun bisa kukalahkan. Kau tahu, darimana aku mendapatkan pedang ini? Dua tahun yang lalu, ketika keluargaku terbunuh….”

“Ya, ya, ya., cukup! Cukup! Cukup!” potong Barnabas, “Kau sudah menceritakan soal kakek tua itu puluhan juta kali sampai aku bosan mendengarnya. Yang aku heran, kenapa sih kau tak bisa belajar dari peristiwa dulu, ketika Lala dan Yopi diculik pemburu?”

“Memangnya apa lagi yang harus aku pelajari? Toh aku juga berhasil menyelamatkan mereka berdua kan?”

“Oh ya. Kau memang berhasil menyelamatkan mereka,” jawab Barnabas dengan suara semanis madu, “Dengan hadiah berupa luka parah di punggung, kepala dan tanganmu. Kaki kirimu juga nyaris patah. Kalau saja waktu itu tidak ada Lagos, yang  mengantarmu ke sesepuh Olaf, mungkin riwayatmu sudah tamat.” lanjutnya sinis

“Aku tak takut mati.” jawab Mongku pelan. Ada ketegasan dalam suaranya.

“Bukan itu maksudku.”

“Jadi maksudmu apa? Aku harus duduk diam, menunggu dan tidak melakukan apa-apa sementara teman-temanku di tangkap Sindel? Aku harus menunggu sampai dewan sesepuh hutan Legenda selesai rapat untuk memutuskan layak atau tidaknya teman-teman kita itu di selamatkan?”

“Bukan itu maksudku!!” Barnabas balas berteriak. Lebih keras. Tak mau kalah dengan sahabatnya yang mulai emosi.

“Lalu apa??”

“Rencana, sobat! Rencana!” katanya, “Yang akan kita hadapi adalah Sindel. Salah satu penyihir terkenal di negeri Dongeng. Kau tahu, binatang-binatang di hutan Angker menjulukinya apa? Si nenek ular. Karena dari semua sihir hitam yang dikuasainya, sihir andalannya adalah Kutukan Ular. Dia bisa melontarkan ular gaib dari ujung tongkatnya dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Kau boleh punya nyali, kau boleh merasa berani. Tetapi menghadapi sihir Sindel?” Barnabas mendengus, “Kau bisa mati kalau tidak hati-hati! Begitu juga teman-teman kita. Kalau kau mati, terus apa artinya pelacakan kita selama dua hari ini?”

Mongku ingin membantah, tapi tidak jadi. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Barnabas ada benarnya juga.

“Aku tidak takut dengan Sindel.” katanya kemudian.

Barnabas menghembuskan nafas panjang. Mengelus dada. Sebisa mungkin membuang rasa kesal. Sabar. Sabar. Sahabatnya itu memang bodoh. Jauh lebih bodoh dari seekor keledai. Jika seekor keledai akan berpikir seribu kali untuk meloncati parit, maka sahabatnya itu tidak akan banyak berpikir untuk meloncati jurang.

“Dengar sobat. Aku juga sama sepertimu. Aku juga ingin menyelamatkan teman-teman kita. Tapi kita tidak boleh gegabah. Kita tidak boleh sembrono. Kita harus memikirkan rencananya matang-matang.”

“Dan selama kita memikirkan rencana, mungkin Sindel sudah mulai menguliti teman-teman kita.” kata Mongku.

“Bisakah kau diam sejenak? Biarkan aku berpikir.”

Mongku diam. Menarik nafas panjang, lalu berkata, “Aku rasa, aku punya rencana. Aku yakin. Rencana ini pasti berhasil.”

Barnabas mengangkat alis.

“Dan rencanamu adalah?”

“Aku akan masuk ke rumahnya melalui jendela, lalu aku akan membunuh Sindel dengan pedangku, dan membebaskan teman-teman kita.”

“RENCANAMU ITU SAMA SAJA DENGAN YANG TADI!!” teriak Barnabas frustasi. Dia hampir saja menangis. Bodoh benar sahabatnya itu.

“Lalu bagaimana? Hanya itu rencana yang terpikir di kepalaku!” jawab Mongku. Dia mengacungkan pedang kayunya bagai seorang jenderal perang kerajaan Dongeng, “Sindel menggunakan tongkat sihir kan? Kalau begitu kita tandingkan saja. Mana yang lebih kuat. Tongkat sihirnya, atau pedang kayuku.”

“Eh? Tongkat sihir?” Barnabas terbelalak. Matanya berbinar. “Tongkat sihir katamu? Itu dia! Itu dia yang kucari-cari. Itu adalah rencana yang bagus!”

“Oh ya?”

***

Negeri Dongeng terletak di tempat yang sangat jauh. Jauh sekali. Negeri ini terdiri dari hutan-hutan lebat, pepohonan tinggi, pegunungan menjulang, dan puluhan sungai lebar. Tanah subur menjadi andalannya. Rumput-rumput menebarkan wewangian yang khas. Pohon-pohon pinus, kenari, beringin, cemara, oak, dan willow menata setiap sudut hutan, menjadikannya tempat yang rindang dan nyaman untuk berteduh. Sungai-sungai mengalir jernih, dingin, dan segar. Tidak salah jika seorang penyair mengatakan kalau negeri ini bagaikan surga. Surga untuk bangsa manusia, maupun bangsa binatang.

Terlepas dari segala keindahan panoramanya, negeri ini ternyata menyimpan kegelapan yang bertolak belakang dengan segala yang terlihat secara kasat mata. Negeri ini dikuasai para penyihir. Kerajaan Dongeng, yang memimpin negeri ini pun tak bisa berbuat apa-apa. Sang raja pun tahu seperti apa, dan sekuat apa kaum mereka. Bahkan seluruh ksatria berpedang tunduk, dan tak berdaya dihadapan para penunggang sapu terbang, dan perapal jampi-jampi mengerikan itu. Cerita tentang para raja dan ksatria-ksatria terdahulu yang membangkang, dan berakhir menjadi kodok, atau hancur jadi debu, cukup membuat mereka mengerti apa akibatnya bila berani melawan mereka. Itu sebabnya, pihak kerajaan, sebisa mungkin tidak mau bersinggungan dengan kaum penyihir. Tukang-tukang sihir itu tidak dipungut pajak, dan mereka bebas melakukan apa saja di negeri yang indah namun sebenarnya kacau ini.

***

Ruangan kecil itu pengap, sempit, dan berantakan. Temboknya yang dicat putih terlihat kotor dan kusam. Dekat sebuah jendela kayu yang tertutup rapat, terdapat rak reyot yang berisi puluhan buku tebal. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah meja yang di atasnya terdapat botol-botol kaca berisi cairan kental. Masing-masing mengeluarkan bau busuk, seperti kotoran sigung. Tetapi baunya masih kalah dengan yang berasal dari panci kecil hitam di dekatnya, yang saat ini sedang diaduk-aduk oleh Sindel. Panci kecil itu, apa pun isinya, pasti panas sekali. Cairan kental yang direbusnya sampai mendidih. Meletup-letup bagai lahar.

Nenek tua berhidung bengkok itu terkekeh mana kala reaksi seperti ledakan, disusul bunyi ‘boff’ pelan, muncul ketika tangannya memasukan rumput-rumput ilazar, tangkai mawar bernari, atau beberapa helai bulu gagak. Sambil mengaduk ramuan dengan sendok kayu, mulut keriputnya komat-kamit mengucapkan sesuatu. Sebuah ledakan terjadi lagi. Tidak seperti ledakan sebelumnya, ledakan kali ini sedikit lebih besar.

Sindel pun menyeringai.

“Akhirnya,” katanya dengan suara parau, “Ramuan Ratu Abadi-ku hampir selesai. Dengan ramuan ini aku akan menjadi secantik ratu dari kerajaan Dongeng, tidak! Bahkan mungkin lebih cantik lagi, hihihihi,”

Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah halaman buku besar tua yang sejak tadi dibacanya. “Panaskan ramuan terus menerus selama tiga jam. Setelah itu, masukan bahan-bahan berikut,” Sindel membalik halaman, “Sembilan belas helai daun herbaloko, dua batang kerait, enam akar mandrake.” Dia mengerutkan kening, “Rasanya aku sudah memiliki semua bahan ini. Lalu selanjutnya adalah, empat jantung bajing terbang.” Dia menoleh ke beberapa sangkar yang terletak di lantai. Menghitung jumlah bajing terbang yang terkurung di sana. “Satu, dua,… ah, sudah juga. Kemudian, dua pasang mata sigung, tiga belas jari tikus, dan dua kepala monyet. Bagus. Semuanya sudah lengkap!” Sindel menyeringai senang.

Nenek tua itu lalu berjalan ke sebuah lemari kecil, membukanya, mengambil beberapa toples kaca yang berisi daun dan akar-akar ajaib.

“Sembilan belas daun herbaloko.” katanya sambil menjejerkan beberapa daun lebar berwarna biru di atas meja, “Dua batang kerait. Enam akar mandrake, Loh?” Sindel melotot. “Demi jenggot kambing! Aku kehabisan akar-akar mandrake!!”

Tangannya meletakkan empat buah tanaman sebesar apel berbentuk bayi di meja, lalu kembali ke lemari kecil tadi. Membuka semua toples yang dia punya. Dan kembali mengumpat meneriakkan semua nama binatang yang bisa diingatnya.

“Menyebalkan! Bagaimana aku bisa lupa kalau akar mandrake-ku hanya tersisa empat buah? Kacau.” Belum hilang rasa kesalnya, sebuah batu kerikil, entah dari mana, tiba-tiba melesat menyerang punggungnya.

“Adaw!!” Sindel mengaduh. “Siapa itu? Siapa yang berani melempar punggungku?” Dia berbalik, tapi tidak melihat siapa-siapa. Menunduk ke lantai, mengambil kerikil kecil di dekatnya. Mengendusnya.

“Bau ini kan…. monyet? Jangan-jangan,” Dia tercekat. Mengambil tongkat sihir di atas meja, berlari tergopoh ke ruang ramuan. Menodongkan ujungnya ke sangkar kecil yang berisi sepasang ekor monyet kecil yang ketakutan.

“Mereka berdua masih ada di sini? Lalu siapa… adaw!!” Sindel menjerit lagi ketika pantatnya kini yang menjadi sasaran kerikil. “Siapa? Siapa yang berani melemparku dengan kerikil??”

“Aku.”

Sindel melotot. Tak percaya.

“Demi jenggot kambing! Seekor monyet berbulu emas?”

“Namaku Mongku. Lepaskan teman-temanku, nenek tua. Atau pedangku ini akan menembus jantungmu.”

Sindel bengong. Dia, Sindel, si penyihir hebat dari negeri Dongeng, di ancam oleh seekor monyet? Ya ampun. Harga dirinya terasa diinjak-injak.

“Kurang ajar! Berani benar kau mengancamku. “

“Aku katakan sekali lagi, nenek tua. Lepaskan semua teman-temanku, atau kau akan merasakan akibatnya. Aku sarankan, sebaiknya kau menyerah dan jangan melawan. Karena tongkat sihir jelekmu itu, bukanlah tandingan pedang saktiku,”

Muka Sindel merah padam. Monyet dihadapannya itu pasti sudah gila.

“Kau benar-benar monyet sinting. Matilah kau!!” Sindel mengucapkan mantera Kutukan Ular sambil mengayunkan tongkat sihirnya. Sebuah bola kuning menyala di ujung tongkatnya, kemudian melesat bagai peluru. Meninggalkan jejak aneh seperti liukan ular di udara. Secepat bola itu berkelebat, secepat itu pula, bentuknya berubah menjadi seekor ular bercahaya, dengan sepasang mata berwarna merah.

Mongku melotot.

Dia tak menduga serangan cepat itu. Beruntung gerak refleksnya cukup baik. Ketika taring sang ular cahaya akan menerkamnya, dia berguling untuk menghindar. Ular sihir itu pun meledak ketika menghantam lantai. Membuat lantai itu hancur, meleleh, seperti baru saja diterjang lahar.

“Waaaah! Hampir saja, ” Mongku terbelalak. Dia melihat bekas lantai yang hancur tadi. Terlambat sedikit, dia akan bernasib sama.

“Rasakan ini!” Sindel kembali menembaki Mongku dengan mantera sihirnya. Beberapa bola kuning, yang kemudian berubah menjadi ular-ular cahaya, melesat sekaligus. Mereka bergerak zig-zag di udara, berkelok menukik tajam, menyerang Mongku dari segala arah.

“Gawat!! Aaaaaakh!!” Mongku mundur beberapa langkah, lalu meloncat, berguling, bersalto, melakukan semua gerakan yang dia bisa untuk menghindari semua serangan itu.

Ledakan demi ledakan terjadi silih berganti.

Ular-ular sihir yang gagal menerkamnya, menghantam lantai, tembok, kursi lalu meledak keras. Meskipun gerakan Mongku terbilang cukup cepat, tetapi dia gagal menghindari serangan ular terakhir. Bahu kirinya terserempet tubuh ular cahaya. Dia menjerit, berputar sesaat di udara, lalu terpelanting, terguling-guling.

“Kena kau,”

Mongku mengerang. Bahunya sakit sekali. Rasanya seperti disayat pisau panas.

“Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku.” Sindel terlihat senang, “Jarang sekali aku melihat seekor monyet berbulu emas di sekitar sini. Kau bisa menjadi salah satu bahan ramuanku yang berharga.”

“Kau mau menangkapku? Enak saja!” teriaknya.

Ketika Sindel mulai membidiknya lagi, dia melempar pedang kayunya. Gerakan itu membuat Sindel refleks menggoyangkan tongkatnya, melempar ular sihirnya dan menghancurkan pedang kayu yang dilempar Mongku.

“Kalau kau pikir pedang kayu itu bisa membunuhku, kau salah besar. Eh?” Sindel kaget begitu melihat Mongku tak memperdulikannya dan malah berlari kencang.

Kabur.

“Hei! Jangan lari kau monyet jelek!” teriaknya.

Dengan tergesa, dan sedikit terseok karena tersangkut jubah panjangnya, Sindel mengejar Mongku sampai ke pedalaman hutan yang ditumbuhi pohon tinggi dan semak-semak belukar. Begitu melihat ekor Mongku yang mencuat di kejauhan, nenek tua itu kembali merapal mantera. Ular sihirnya melesat dari ujung tongkatnya. Meliuk-liuk di udara. Mengamuk. Bergerak mencari sasaran. Menghancurkan semua benda yang diterkamnya.

Sambil memegangi bahunya yang terasa panas, Mongku berguling ke sana kemari. Berkelit ke balik pohon, bebatuan, dan terus bergerak. Sindel mendecak kesal. Rimbunnya pepohonan, perdu dan semak belukar, membuatnya kesulitan untuk membidik.

“Jangan bersembunyi kau, monyet jelek. Tunjukkan batang ekormu!” teriaknya keras saat ular sihirnya lagi-lagi gagal mengenai sasaran. Sial. Sindel mengumpat. Monyet itu sudah lenyap dari pandangannya. Pasti dia bersembunyi di balik semak-semak. Sindel menajamkan penglihatan. Berharap bisa melihat tanda-tanda keberadaan si monyet. Tiba-tiba sebuah batu kerikil, melesat cepat dan menyerang pantatnya lagi.

“Adaw!!” Sindel mengaduh, berbalik, menodongkan ujung tongkatnya. Tak ada siapa pun di belakangnya. Sebuah kerikil lain, melesat lagi. Kali ini menyerang belakang kepalanya.

“Adaw!!” Dia menjerit. Mengusap-ngusap kepalanya yang benjol. “Dasar monyet jelek tidak tahu diri. Beraninya sembunyi-sembunyi. Kalau kau memang ingin menantangku, tunjukkan….” Ceprot!

Sebongkah lumpur mendarat dengan sukses di wajahnya.

“Kuyang ajay, puh!”

“Aku di sini nenek tua,”

“Di maya kyau?” Sindel membersihkan lumpur di wajahnya dengan sekali usap. Kesabarannya sudah habis. Dia benar-benar marah. Berlari mendekati arah suara. Tangannya meremas tongkat sihirnya. Dia bersumpah akan membunuh monyet jelek itu sampai menjadi abu. “Tunjukkan batang ekormu!”

“Aku di sini.”

“Di mana? Aku tak melihatmu. Di mana kau?”

“Sekarang Mongku!”

“Waaa,” Gedebruk!

Kaki Sindel tersangkut sulur akar kerait yang mendadak melintang. Dia terjatuh, cukup keras. Tongkat sihirnya terlepas dari genggaman.

“Berhasil!” seru Barnabas. Dari balik semak-semak, dia meloncat cepat. Berlari mengambil tongkat sihir kesayangan Sindel.

“Aduh, kenapa sulurnya bisa melintang begini?” Sindel mengumpat, berdiri tertatih, dan melotot saat melihat Barnabas, dengan ekspresi penuh kemenangan, memainkan tongkat sihir kesayangannya.

“Kau kehilangan ini, nenek tua?”

“Bajing terbang? Kembalikan! Kembalikan tongkat sihirku!”

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

“Cepat kembalikan. Atau kau akan kukutuk menjadi batu!”

Barnabas pura-pura takut. “Dikutuk menjadi batu? Wah, itu benar-benar kutukan yang sangat mengerikan. Tapi, ada satu pertanyaanku. Bagaimana caranya kau mengutukku menjadi batu kalau tongkat jelekmu ini saja ada di tanganku?”

“Kurang ajaaar,” Sindel mengamuk, dan mulai mengejar Barnabas yang memancingnya berlari “Kemari kau bajing jelek. Kembalikan tongkatku!”

“Tangkap dulu aku, nenek tua. Kalau berhasil, barulah akan kukembalikan.”

“Awas kau ya. Aku bersumpah akan mengutukmu.”

Barnabas berlari kencang sampai mendekati pinggir sungai lebar yang membelah hutan Angker. Sesampainya di sana dia berbalik. “Apakah kau benar-benar menginginkan tongkat jelek ini, nenek tua?”

“Kembalikaaan!!”

“Kalau begitu, ambil saja sendiri!” Barnabas melemparkan tongkat itu sekuat tenaga ke tengah sungai. Dan berlari memanjat sebatang pohon willow.

“Bajing jelek!” Sindel mengumpat keras.

Tanpa pikir panjang dia melompat ke sungai yang dalamnya hanya sebatas pinggang. Dia terlihat berjalan dengan susah payah, padahal arus sungai tidak seberapa. Tongkatnya yang tidak tenggelam, dan hanya mengapung dipermukaan air, berhasil di dapatkannya lagi. “Akhirnya. Sekarang aku akan mengutukmu!”

“Bolehkah aku bertanya satu hal, nenek tua.” Barnabas berteriak dari puncak pohon. Tanpa menunggu jawaban dia melanjutkan, “Apa nama sungai ini?”

“Pertanyaan apa itu? Semua orang pasti tahu, kalau hutan Angker hanya dilewati oleh sungai Buaya.”

“Terus kenapa sungai ini sampai dinamakan sungai Buaya?”

Sindel bengong mendengar pertanyaan itu. Tawanya meledak. Keras sekali. Dia tahu kalau para bajing terbang adalah binatang yang bodoh. Tapi sepertinya, bajing tadi adalah bajing terbang paling bodoh dari yang terbodoh. Bukankah dari namanya saja sudah jelas, kenapa sungai ini sampai dinamakan sungai Buaya. Eh? Tawanya berhenti seketika. Dia melotot. Suara-suara kecipak air terdengar. Sedikit menganggunya. Ketika dia memandang berkeliling beberapa batang pohon sudah mengepungnya dari segala arah.

Oh, tidak. Sepertinya itu bukan batang pohon.

“Aaaaaaaaaakkkkh!!”
***

Para bajing terbang berebut memeluk Mongku yang telah membebaskan mereka. Sepasang monyet, sigung, dan beberapa ekor tikus tak mau ketinggalan. Mereka pun ikut bergembira menyambut sang pahlawan. Sejak di tangkap oleh Sindel beberapa hari yang lalu tak seekor pun dari mereka yang menyangka bisa bebas kembali. Setelah terlepas dari sangkar besi tua itu, udara yang mereka hirup jadi terasa lain. Ah, sungguh nikmat. Inilah yang dinamakan hawa kebebasan.

“Kau benar-benar hebat, Mongku.”

“Baru kali ini aku melihat ada seekor binatang yang bisa menghindar dari serangan sihir seperti dirimu. Kau sangat lincah.”

“Tadi itu aku sampai ketakutan. Sedikit saja kau salah melangkah, kau bisa hangus terkena mantera sihirnya.”

“Bahumu itu…, sakitkah?”

“Lumayan.” kata Mongku, dia meraba pelan bahu kirinya yang sudah dilapisi daun-daun herbaloko, dan diikat anak sulur kerait dengan kencang. “Tapi sudah agak berkurang, Barnabas yang mengikat lukaku. Dia memang pandai.”

“Seandainya tadi kau melakukan persis seperti apa yang kukatakan, pasti tidak akan jadi begini. Hampir saja kau mati tadi,” tukas Barnabas. Dia nyaris pingsan begitu mendengar kalau Mongku malah menantang Sindel satu lawan satu dengan pedang kayu bututnya. Padahal rencananya tadi hanyalah melempari nenek tua itu dengan batu, dan memancingnya ke semak-semak.

“Lalu, bagaimana dengan Sindel? Apa yang terjadi dengannya?”

“Kalau soal itu kau tak perlu kuatir. Aku yakin, nenek tua itu sekarang pasti sudah mati. Jadi santapan buaya,” Barnabas nyengir

“Masa?” para bajing terbang tak percaya.

“Dia tak usah dipikirkan. Dia takkan bisa menganggu kita lagi. Kalian semua baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?”

“Tidak. Kami semua baik-baik saja. Terima kasih atas pertolonganmu, Barnabas.”

“Berterima kasihlah kepada Mongku. Dia yang paling berjasa menolong kalian tadi. Aku hanya sedikit membantu dari belakang.” kata Barnabas, “Baiklah teman-teman, ayo kita semua pulang ke hutan Legenda.”

“Tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Bagaimana dengan para pemburu liar? Bukankah mereka juga banyak berkeliaran di hutan? Maksudku, selain para penyihir tentunya,” kata seekor bajing terbang. Nada suaranya terdengar ketakutan.

Para binatang saling pandang. Ada rasa takut yang sama menyelinap di dalam hati mereka. Satu per satu, mereka memandang Barnabas. Yang balas memandang dengan tersenyum lebar. “Kalian tidak perlu takut soal para pemburu liar itu.” katanya, “Asalkan kalian semua mengikuti semua kata-kataku, kita pasti selamat. Kita semua pasti bisa pulang. Aku jamin.”

Awalnya mereka ragu, tapi kemudian mengangguk. Ya. Mereka setuju. Bagaimana bisa mereka meragukan Barnabas. Bajing terbang paling cerdik dari hutan Legenda.

“Ayo semuanya, ikuti aku!!”

“Ayoooo!”

“Hei! Mongku? Kau mau kemana?” Barnabas bingung melihat Mongku dengan penuh percaya diri melangkah ke utara.

“Pulang kan?”

Barnabas menepuk jidatnya.

“Arahnya ke sebelah sini, sobat!”

cerita ini dapat dilihat juga di:

Blogspot

Iklan