NANAMI: FLOWER OF DESTINY

Anggra T

Bila saja tidak kehabisan bahan biji bunga dandula -bunga yang hanya mekar sekali dalam semusim, Alec tidak akan keluar dari kediamannya yang nyaman dan pergi menuju hutan Yeron di hari mendung seperti ini. Jarak hutan itu dan kediaman Roswell yang terletak di pinggir barat kota sebenarnya tidak jauh. Hanya beberapa jam perjalanan dengan kuda. Pemuda tujuh belas tahun itu hanya bisa berharap, langit tidak menjahilinya dengan menurunkan hujan. Tetapi ternyata itulah yang terjadi.

Pemuda itu hanya bisa mengumpat pada dirinya sendiri. Untunglah hujan turun di saat perjalanannya kembali dan ia segera menemukan ada gua kecil tertanam di sebuah dinding tebing yang bisa dijadikannya tempat berteduh.

Sayangnya gua itu terlalu kecil untuk kudanya, sehingga terpaksalah ia mengikat Horace di sebuah batang pohon yang lumayan rimbun dan menebarkan selimut kain di atas si kuda untuk menghangatkan. Dan ketika hendak kembali ke gua, kaki Alec tersandung sesuatu dan membuatnya terjatuh. Hari memang masih menjelang sore, tetapi awan mendung dan hujan yang turun membuat sekelilingnya sudah mirip dengan malam.

“Batang pohon sialan,” umpatnya kesal. Tetapi kemudian ia merasakan sesuatu itu terlalu lembut untuk sebuah batang pohon.

Penasaran. Ia membalikkan tubuhnya dan menemukan ‘benda’ itu memang bukan batang pohon, tetapi sesosok tubuh mungil. Seorang gadis kecil.

Alec terkejut. Buru-buru ia memeriksa nadi dan nafas, lalu mendesah lega begitu menyadari gadis itu masih hidup. Diangkatnya perlahan tubuh mungil itu dan dibawanya masuk berteduh dalam gua.

Menilik dari lokasinya berbaring, Alec menduga gadis itu terjatuh dari tebing. Untunglah tidak ada satu pun tulangnya yang patah, hanya mermar di sekujur tubuh mungilnya. Tetapi hingga esok paginya gadis itu tidak sadar juga, membuat Alec mengkhawatirkan ada pendarahan di otaknya. Sepertinya, ia harus segera membawa pulang gadis itu dan segera meracik elixir. Untunglah ia sudah mendapatkan biji bunga dandula sebagai salah satu bahan elixir.

Matahari yang kini bersinar cerah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari ini, memperlihatkan gadis kecil itu lebih jelas dari semalam. Usianya mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya hitam kebiruan sebahu. Ada tato dengan huruf aneh di salah satu lengannya. Dan walaupun beberapa bagian tertutup oleh mermar dan darah kering, Alec dapat melihat kepolosan yang tersamar dengan aura misterius yang menyeliputi diri gadis kecil itu. Entah kenapa, Alec merasa gadis ini bukanlah gadis biasa.

“Bertahanlah. Kau akan segera pulih, gadis kecil,” bisiknya.

***

Hal pertama yang dilihat gadis kecil itu ketika terbangun adalah wajah samar seorang laki-laki muda. Namun ia terlalu lemah untuk mengingat wajah pemuda itu dan membawanya dalam mimpi akibat demam tinggi. Yang diingatnya hanyalah suara lembut yang menenangkan jiwanya.

“Tenanglah. Kau akan baik-baik saja.”

Hanya sesaat saja, karena kemudian gadis itu kembali terlelap dalam tidur tanpa mimpi. Hal itu terulang ketika ia mendapatkan sedikit kesadarannya lagi.

Hingga akhirnya suatu kali sinar matahari yang menyusup di jendela yang memberinya kesadaran penuh. Ia mengerang. Demamnya memang sudah turun, tetapi kepalanya berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya sakit bukan kepalang.

Bersamaan dengan ingatan terakhirnya yang kembali, ia menyadari bahwa dirinya berada di tempat tidur empuk dan ruangan yang tak pernah terekam oleh ingatannya.

“Kau sudah sadar rupanya.”

Si gadis tersentak kaget, spontan menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya pemuda berambut hitam kelam agak panjang dan diikat satu, duduk di pinggir jendela tak jauh dari tempat tidurnya. Matanya berwarna biru safir menatapnya lembut. Sebuah anting perak kecil berbentuk cincin bergantung di salah satu telinganya. Wajah dan suaranya tidak terasa asing bagi si gadis. Namun tetap saja ia tak dapat menahan insting bertahan hidup yang mengharuskannya untuk curiga terhadap pemuda itu. Bagaimana pun juga, ia memang dilatih untuk itu.

“Aku tidak akan menyakitimu.” Pemuda itu seakan bisa mendengar suara hatinya. Senyuman pemuda itu menenangkan ketegangan yang dirasakan sekujur tubuhnya. Ia bahkan membiarkan si pemuda mendekatinya dan duduk di pinggir tempat tidur.

“Aku menemukanmu di pinggir hutan Yeron dalam keadaan yang tidak begitu baik, tapi kau akan baik-baik saja.”

Karena gadis itu tidak menanggapi kata-katanya, si pemuda melanjutkan. “Namaku Alec dan kau berada di rumahku, kediaman Roswell. Apa kau ingat namamu?”

Gadis itu tetap diam. Kata-kata memang selalu menjauhinya dan ini kali pertamanya berbicara dengan orang asing.

Namun Alec, pemuda itu, nampak tidak keberatan dengan kebisuannya. Tangannya menepuk lembut kepala gadis itu, mengalirkan kehangatan dalam hatinya. “Mungkin kau lapar. Aku akan menyuruh pelayanku mengambilkan makanan untukmu.” Pemuda itu bangkit dan beranjak pergi.

“…Nnn….” Gadis itu berusaha melemaskan lidahnya yang kaku dan rupanya hal itu menarik perhatian Alec.

“Ya?”

“N… Nanami…”

Alec hanya menatapnya sebelum kemudian berkata dengan tersenyum. “Namamu Nanami?”

Gadis itu mengangguk lemah. Itu nama yang seharusnya dilupakannya sejak lama. Semua orang yang memanggilnya dengan nama itu telah lama tiada, tetapi ia selalu merindukan seseorang memanggilnya dengan nama itu lagi.

“Nama yang indah,” puji Alec.

Sekali lagi aliran hangat kembali membasahi hatinya. Perasaan yang telah lama tidak dirasakannya, sehingga hampir terasa asing baginya. Ketegangan dan kewaspadaannya mengendur, sehingga sepeninggal Alec, Nanami tidak dapat lagi menahan rasa kantuk yang menyerangnya begitu kuat.

Beberapa hari di kediaman Roswell membawa Nanami kepada kehidupan asing dan membuatnya sulit beradaptasi. Ia tidak bisa mempercayai siapapun di rumah ini, kecuali Alec. Hanya bila pemuda itu berada di dekatnya saja, ia dapat merasakan ketenangan. Dan Alec pun nampaknya tidak keberatan. Hampir sepanjang hari, ia datang mengunjungi Nanami dan menemani gadis itu sambil melakukan rutinitasnya sebagai seorang penerus keluarga terhormat Roswell dan seorang calon penyembuh. Alec tidak pernah bosan bercerita apa saja kepadanya, walaupun Nanami tidak pernah menanggapinya dengan kata-kata, tetapi pemuda itu seakan mengerti isi pikiran Nanami dari tatapannya.

“Kau tahu, Nanami? Aku tidak pernah mempercayai adanya sebuah kebetulan,” kata Alec suatu hari. “Habisnya biji bunga dandula itu pun adalah pertanda bahwa aku akan bertemu denganmu.” Kemudian pemuda itu terdiam sejenak dan tertawa kecil. “Ah, lupakan saja. Aku rasa, kau masih terlalu kecil untuk mengerti maksudku ini.”

Tetapi Nanami mengerti. Di usianya yang baru saja menginjak sebelas tahun, ia sudah menyerap banyak pengertian dalam segala hal, yang bahkan mungkin melebihi orang dewasa. Dia mengerti ada beberapa hal yang sudah begitu jalannya dan hampir mustahil diubah kekuatan manusia, seperti halnya kenyataan tentang dirinya. Betapa pun ingin menjalani hari-hari tenang ini, ia tak akan pernah bisa terus merengguk kemewahan seperti ini.

Dan hari itu pun tiba.

Suatu pagi Nanami melihat pesan tersembunyi yang ditinggalkan di depan kamarnya. Tanda bahwa ia harus segera kembali ke dunia asalnya.

Kediaman Roswell terletak di daerah yang sebenarnya tidak dikenali Nanami. Tetapi petunjuk yang ditinggalkan kawan sedunianya bertebaran di mana-mana dan dengan mudah ia tiba di sebuah bangunan tua yang terlupakan di suatu sudut daerah slum ibukota. Gerbang Neraka. Gerbang menuju dunianya.

Gordan, si penjaga gerbang tua, memeluknya dengan penuh antusias dan mengatakan bahwa ia dan pemimpin mereka sangat mengkhawatirkan Nanami yang menghilang sejak misi terakhirnya. Selanjutnya, dengan diantar Gordan, Nanami menyusuri lorong-lorong gelap yang dikenalnya, menuju ruangan yang terletak paling ujung lorong.

Sekilas ruangan itu mengingatkan Nanami akan ruang kerja Alec. Penuh dengan rak buku dan hanya ada satu meja dan kursi sebagai tempat bekerja, namun bedanya di tempat ini tidak ada kehangatan seperti yang dirasakannya di kediaman Roswell. Apalagi dari pria besar setengah baya berambut perak tipis yang duduk di balik meja itu.

Pria itu. Ron Vladimir, sang pemimpin, mendekati Nanami dengan wajah gelap penuh kemurkaan. Tak sampai lima detik, Nanami sudah terjembab ke lantai dengan sebelah bibir sobek dan berdarah akibat pukulannya. “Apa yang kau pikir kau lakukan selama ini?!!” gelegarnya.

Nanami terengah-engah di lantai. Tak berani menjawab ataupun bergerak sedikit pun. Hampir pasti Vladimir akan melancarkan pukulan berikutnya bila ia bernyali melakukannya.

“Tapi kerjamu bagus,” ujar pria itu lagi. Nada suaranya melunak. “Lord Larson sangat puas dengan hasil kerjamu menghabisi seluruh keluarga inti Rutterford.”

Ia diam sejenak, kemudian maju mendekati Nanami. Tangannya yang besar dan kecoklatan serta penuh bekas luka menarik dagunya, memaksanya menatap bola mata hitam pria itu. “Kau tidak apa-apa, nak? Apa aku terlalu keras memukulmu?” Perlahan tangan itu menyapu sedikit darah dari bibir Nanami yang sobek, membuat Nanami sedikit tersentak akan sensasi nyeri akibatnya. Pria itu menjilat darah Nanami hasil sapuan jari tangannya. “Aku menyayangimu, Fey. Kau adalah gadis terbaikku.”

Air mata mengembang di pelupuk mata Nanami tak tertahankan. “Tuan…,” bisiknya. Ditariknya tangan besar itu, lalu diciuminya penuh rasa hormat dan pengabdian. Kharisma yang terpancar dari diri Vladimir selalu dapat menyihirnya untuk selalu patuh dan setia. Dalam sekejab mata, kehangatan Alec dan kediaman Roswell terlupakan.

***

Gadis kecil itu seperti kucing liar yang terluka. Itu yang pertama kali dipikirkan Alec ketika pertama kali melihat bola mata bagai batu delima menatapnya curiga. Penuh rasa tidak aman dan memandang dunia bagaikan sebuah medan peperangan.

Namun perlahan-lahan, Alec dapat merasakan perubahan dalam diri Nanami. Walaupun hanya sekali, ia mendengar gadis itu mengucapkan sesuatu -yaitu ketika menyebutkan namanya sendiri- beberapa kali Alec mendapati gadis itu tersenyum padanya. Dan itu sudah cukup baginya.

Namun suatu pagi, gadis kecil itu menghilang. Tanpa pesan ataupun pertanda. Menghilang bagaikan seekor kucing liar yang hanya singgah sementara.

Mungkin hanya kurang dari dua minggu kebersamaan mereka, namun Alec merasakan hatinya kosong merindukan kehadiran gadis itu. Sebagai anak tunggal yang tidak memiliki ibu, dengan ayah yang sangat jarang berada di rumah, ia membutuhkan seseorang selain pelayan dan tukang kebun untuk menemaninya. Aktivitas hariannya kini sama sekali tidak dapat lagi mengisi kekosongan hatinya.

“Lagi-lagi anda memasukkan bubuk akar loundum terlalu banyak dosis, Tuan Muda Roswell.” tegur Healer Murrey, guru ilmu penyembuhnya. Nada suaranya kedengaran penuh desah dan sedikit putus asa. “Bila anda begini terus, anda bisa gagal di ujian tahap pertama penyembuh kekaisaran!”

Alec tidak tahu harus mengatakan apapun selain maaf. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata itu. Bukan hanya Murrey, Sir. Johan –guru pedangnya- dan Tuan Neigu –guru ilmu sastra dan pemerintahannya- pasti juga sudah bosan mendengarnya.

“Sepertinya gadis kecil itu sangat berarti bagi anda.” Ucapan Murrey menarik pandangannya ke arah penyembuh tua itu. “Anda jadi seperti ini sejak ia menghilang.”

Alec menyunggingkan senyuman getir. “Dia sudah seperti adik perempuan yang manis bagiku, Guru.”

“Aku harap bisa melakukan sesuatu bagi anda selain membantu mendapatkan sertifikat penyembuh kekaisaran,” desah Murrey. “Sudahlah. Hari ini anda pulang saja, tapi kuharap besok anda bisa lebih fokus lagi dibandingkan hari ini.”

Tetapi Alec sendiri tak yakin esok akan berbeda dengan hari ini. Di tengah-tengah keramaian pasar malam ini pun, tanpa sadar Alec mencari-cari keberadaan Nanami. Bahkan kucing liar yang merintih lemah di salah satu sudut jalan pun nampak seperti Nanami di matanya. Tunggu. Kucing liar yang merintih? Alec tidak pernah dapat menahan diri bila melihat makhluk yang terluka.

Baru saja ia mau melihat apa yang membuat makhluk malang itu merintih, ia mendengar sabetan benda tajam dan teriakan tertahan tak jauh dari tempatnya. “Sebentar ya, makhluk cantik. Aku akan segera kembali,” bisiknya pada si kucing.

Suara sabetan itu berlanjut. Semakin Alec melangkah, semakin terdengar jelas. Satu per satu gang-gang pojok yang sepi ditiliknya, hingga kemudian ia melihat…

Sosok tak asing, namun juga terasa asing mendapati posisinya saat ini. Alec tak mungkin salah lihat, karena dua bulan di langit -Luniar dan Tharos- sama-sama sedang bersinar dengan benderangnya. Gadis kecil itu sedang berdiri di samping sosok lain yang terbaring bersimbah darah. Kedua tangannya menggenggam shiletto –pisau melengkung assasin- berlumuran darah.

“Nanami?”

Gadis kecil itu nampak terkejut melihat Alec. Entah mungkin perasaan Alec saja, tetapi ada ekspresi rindu yang terpancar di sana sebelum kemudian ia mendekati Alec dengan kecepatan luar biasa dan menyabetkan senjatanya.

“Nanami!” teriak Alec kaget. Serangan itu memang berhasil dihindarinya, namun berhasil merobek tas obatnya dan menumpahkan isinya. “Apa yang kau laku..?!” Kata-kata Alec terpaksa terhenti untuk menghindari serangan-serangan berikutnya. “Sial!” Gadis di hadapannya kini bukanlah ‘adik perempuannya yang manis’, melainkan seorang pembunuh. Sorot matanya terasa begitu dingin menusuk sukma.

Setelah bergumul beberapa saat, di suatu kesempatan, Alec berhasil menangkap tangan kanan Nanami dan menjatuhkan shiletto-nya, namun shiletto di tangan kiri gadis itu dengan sigap hendak memotong perutnya. Untunglah Alec berhasil mengantisipasinya dengan memundurkan sedikit tubuhnya, lalu jeda setengah detik sebelum shiletto itu melakukan serangan berikutnya, tangan Alec yang satunya menangkap tangan kiri Nanami dan memaksanya menjatuhkan pisau pembunuh itu. Berikutnya, dihantamkan dengkul kanannya ke perut gadis itu. Cukup keras hingga mampu membuat gadis itu seketika tak sadar diri.

Terengah-engah, Alec menjatuhkan dirinya bersama Nanami ke tanah. Ia mengumpat begitu mendapati darah timbul di bagian abdomennya yang ternyata sedikit tergores oleh shiletto Nanami. Otaknya berusaha keras berpikir akan apa yang harus ia lakukan sekarang.

Nama Murrey muncul dalam benaknya.

***

Lagi-lagi Nanami terbangun di tempat asing. Namun kali ini bukanlah di ranjang empuk dalam kediaman Roswell, namun di sebuah tempat tidur tua dalam sebuah kamar luas yang penuh dengan obat-obatan pada rak dan meja di sekelilingnya.

Alec. Ia teringat pada pemuda itu. Tidak. Tepatnya, ia ingat semalam ia mencoba membunuh pemuda itu. Membunuh penyelamatnya. Tetapi ia tidak mungkin boleh melanggar peraturan bukan? Bunuh semua saksi mata. Itulah bunyi salah satu peraturan yang telah ditanamkan dirinya sedari kecil. Rasa nyeri menyergap hatinya.

“Bila kau mencari Tuan Muda Alec, dia tidak ada di sini.”

Nanami tersentak kaget. Didapatinya seorang pria tua berambut dan berjanggut putih berkata kepadanya. Pria itu nampak sedang meracik sesuatu dan tak beberapa lama menyodorkan mangkuk hasil racikannya kepada Nanami. “Minumlah, Fey.”

Sekali lagi Nanami terkejut.

“Jangan terkejut begitu,” ujar pria tua itu. “Bukankah tertulis jelas pada tato di lengan kirimu?”

“..ta..tapi…”

“Tapi itu huruf rahasia assasin. Ya, aku sudah tahu.” Pria tua itu menurunkan sedikit jubah putihnya dan memperlihatkan pundak kirinya. Nampak sebuah tato dengan huruf assasin yang mirip dengan kepunyaan Nanami, namun ada bekas luka silang besar di atasnya. “Khan adalah nama assasinku dulu.” Pria tua itu menaikkan kembali jubahnya. “Sekarang namaku Rogent Murrey. Seorang penyembuh dan juga guru Tuan Muda Alec.”

Nanami ingat nama Khan. Seorang assasin hebat dalam kelompoknya. Namun suatu hari, assasin hebat itu menghilang begitu saja. Semua orang mengiranya sudah mati, siapa sangka ternyata…

“Aku sudah lama meninggalkan dunia itu. Sejak bertemu dengan almahrumah istriku.” Murrey menatap sendu sebuah foto dalam bingkai yang berdiri di sebuah sudut ruangan. “Kau pun bisa melakukannya juga, Nanami.”

“..a…aku…?”

Wajah Murrey mengeras. “Dan kupikir, kau patut mengejar Tuan Muda Alec secepatnya.”

Nanami merasakan adanya firasat buruk.

Tak beberapa lama, Nanami sudah membawa dirinya berlari keluar rumah Murrey menyusuri jalanan. Tak pernah markas kelompoknya terasa begitu jauh. Setiap detik berharga baginya untuk menyelamatkan nyawa Alec. Ironis. Semalam ia berpikir untuk menghabisi nyawa Alec, namun kini ia tak sanggup membayangkan sesuatu terjadi terhadap pemuda itu. Apalagi bila itu terjadi karena dirinya.

Alec berencana untuk membebaskannya dari Vladimir, begitu kata Murrey. Hal yang sangat mustahil terwujud. Pemuda itu tidak tahu betapa berbahayanya assasin seperti dirinya. Vladimir adalah yang paling berbahaya dari semuanya.

Dan Nanami menemukannya. Di lapangan pelatihan assasin. Sebuah lapangan yang terkungkung di dalam bangunan tua yang menjadi dunianya selama ini. Alec terkepung di sana, diantara puluhan assasin rekan sekerja Nanami dan Vladimir di hadapannya. Semua mata bernafsu membunuh mengarah kepada pemuda itu.

Nanami mendengar nada dingin khas Vladimir. “Sudah kubilang, pulanglah kau, bocah. Aku tidak akan menyerahkan gadisku kepadamu. Sudah bagus aku melepaskanmu karena kau putra seorang jenderal kekaisaran. Biasanya aku tidak akan sebaik itu pada orang yang mengetahui tempat ini. Aku hanya tak ingin mencari masalah dengan petinggi kekaisaran.”

“Aku akan membayarmu untuk itu,” sahut Alec. “Dan aku tidak akan pergi dari sini sampai kau melepaskan Nanami.”

“Namanya Fey,” tukas Vladimir. “Nanami sudah lama mati. Bukankah begitu, Fey?!”

Nanami terlonjak kaget. Entah bagaimana, Vladimir menyadari kehadirannya. Ia tak dapat berbuat apapun. Hanya bergeming di tempat. Di bawah tatapan seluruh penghuni lapangan.

“Bunuh dia, Fey,” ujar Vladimir lagi, membuat Nanami tersentak sekali lagi. “Putra jenderal atau bukan, ia sudah membuatku marah.”

“T..tapi dia penyelamatku!”

Baik Alec, Vladimir, maupun seisi lapangan terkejut mendengar bantahan itu.

Wajah Vladimir menggelap. Suaranya dingin dan berbahaya. “Ingatlah, Fey. Akulah yang menyelamatkanmu dari sampah dan memberimu tujuan hidup!”

Nanami gentar. Sekali lagi kharisma pria itu menghantam keras jiwanya yang rapuh. Gemetar. Ia menatap Alec dan terkejut mendapati pemuda itu sedang tersenyum padanya.

“Semuanya akan baik-baik saja, Nanami.”

“Bunuh dia, Fey! Aku lah penyelamatmu!!!”

Hening sesaat. Nanami bahkan bisa merasakan suara angin di sekelilingnya. Ia menarik nafas, tanda keputusan telah dibuat. Dibentuknya kuda-kuda menyerang, lalu berlari dengan kecepatan hampir setara angin, ia menuju tempat dimana pemuda itu berdiri. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Begitu hampir tiba di tempat Alec, diayunkannya shiletto di tangan kanannya sekuat tenaga dan senjata itu pun melayang dari tangannya ke arah Vladimir. Kemudian ia menghamburkan dirinya ke dalam dekapan Alec.

Seluruh penghuni lapangan itu terkesiap. Tak sampai sedetik, Vladimir jatuh bersimbah darah dengan shiletto yang menancap batok kepalanya. Senyuman licik namun kaku masih terhias di sana.

Suara teriakan marah membahana di seluruh lapangan, namun kemudian disusul dengan teriakan keras. “BERHENTI SEMUANYA! KALIAN SUDAH TERKEPUNG!”

Di sekeliling lapangan, muncul prajurit kekaisaran bersiap dengan pedang dan tombak masing-masing. Jumlahnya dua sampai tiga kali lipat para assasin yang ada.

Nanami, yang sudah siap mati, menatap Alec terkejut meminta penjelasan.  Dilihatnya pemuda itu sedang tersenyum penuh kemenangan. “Sudah pernah kukatakan padamu, bukan? Semuanya akan baik-baik saja.”

***

“Aku rasa anda tidak cocok jadi penyembuh, Tuan Muda Alec. Ahli strategi lebih cocok untuk anda.”

Alec tertawa mendengar ucapan Murrey. “Dulu Guru bilang, aku cocok jadi penyembuh.”

“Masa aku bilang begitu?” Penyembuh tua itu mengangkat bahunya. “Tapi saat ini aku merasa anda lebih cocok menjadi ahli strategi,” katanya keras kepala sambil menyeruput pelan-pelan teh hijau panasnya. “Aku tak menyangka ternyata anda meminta bantuan ayah anda untuk mengepung markas assasin itu.”

“Itu bukan apa-apa,” sahut Alec merendah. “Sekalian membantu pekerjaan ayahku. Kelompok assasin gelap seperti itu memang ilegal di negeri kita dan kelompok Ron Vladimir ternyata sudah lama menjadi buronan kekaisaran.”

Murrey mengangguk setuju. “Ngomong-ngomong dimana adik baru anda?”

Pertanyaan itu membuat Alec mendesah keras. “Aku rasa, Nanami tidak akan pernah bisa menjadi adikku.”

“Maksud anda?”

Alec mengarahkan tatapannya pada pohon yang tak jauh dari beranda tempat mereka duduk. “Nanami, kemarilah dan duduklah bersama kami.”

Dari pohon itu sosok Nanami turun dengan lincahnya. “T…Tuan Alec memanggil?”

Alec mendesah sekali lagi. “Dia menolak memanggilku apapun selain ‘Tuan Alec’.”

“K..karena anda t…tuan saya,” protes Nanami. “A…Ayah anda mengizinkan s…saya tinggal untuk j…jadi pengawal a…anda.”

Alec mendesah untuk ketiga kalinya, sementara tawa Murrey meledak.

Kemudian pemuda itu mengangkat bahunya dan menyunggingkan senyuman pada gurunya, kemudian pada pengawal barunya. “Setidaknya, Nanami ada bersamaku.”

Keduanya membalas senyuman Alec.

“Ya, itulah yang terpenting.”

***

Iklan