PEDANG DAN KAPAK

Andry Chang


Dalam kelamnya malam, dalam rimbunnya pepohonan ek dan birch yang menutupi rembulan dan bintang-bintang di langit.

Di tengah-tengah kepungan sekelompok orang bersenjata dengan wajah-wajah tegang, dengan tatapan mata setajam belati.

Kulihat seorang wanita cantik bergaun sutra putih-ungu muda, bercorak rangkaian bunga aster yang tersulam bagai mahakarya.

Rambutnya yang pirang-panjang melambai-lambai walau tak dihembus angin. Aneh.

Mata berbola biru safirnya yang indah, jernih dan jeli menatap lurus tanpa berkedip.

Sesaat kemudian, bibirnya yang mungil bak delima merekah bergerak, melantunkan suara merdu nan tegas, “Mana pimpinan kalian? Aku ingin menagih janjinya untuk memenuhi tantanganku!”

Salah seorang pengepung, pendekar pria berewokan dan berambut lebat bagai bulu beruang berseru kasar, “Pimpinan tak sudi menemuimu! Gadis kecil lemah sepertimu tak pantas bertarung dengannya! Pulang saja sana, jangan sampai ibumu mencarimu kemana-mana!”

“Kekuatan tak diukur dari penampilan. Jangan paksa aku membuktikannya,” sudut bibir wanita itu menegang.

“Cih! Keras kepala! Mati saja kau! Semuanya, SERANG DIA!” Si brewok merangsek maju, diikuti oleh para pendekar lainnya.

“Main keroyok? Baik, biar pedangku yang melayani kalian! Gynheid!”

Mendengar namaku disebut, bilahku yang lurus bertepi lancip sontak berpendar biru, menebar aura sedingin es beku. Si wanita menggenggam erat gagangku yang berbentuk burung walet berukiran indah dan menerjang maju.

Ya, akulah Gynheid, si pedang sakti. Konon, senjata-senjata terkuat dalam legenda bahkan memiliki “jiwa” dan kehendaknya sendiri. Ya, itu tak sepenuhnya benar. Dalam kasusku, misalnya, aku memang telah menjadi “jiwa” pedang ini, membuat “tubuh” baruku ini seakan punya kecerdasan, kehendak dan kepribadian. Sesungguhnya, aku hanyalah roh yang merasuki pedang ini dan dulu aku adalah manusia.

Nah, kembali pada pertarungan. Kerjasama apik antara aku dan majikanku membuatku berkelebat bagai menari, bergerak, lincah dan indahnya.

Melayang bebas, lepas.

Bagai burung walet menyambut fajar.

Dengan irama beraturan, riang, lembut… dan mematikan.

Menetak bahu si brewok.

Melucuti senjata si satu mata.

Menyayat tangan si wajah pucat bak mayat.

Menggores dada, tak mencabut nyawa.

Majikanku akhirnya mengambil jeda, menarik napas untuk melancarkan jurus berikutnya.

Di tanah, sepuluh pengeroyok terkapar kesakitan semua, tak lagi berdaya.

“Masih ada dua puluh tersisa. Ayo, Gynheid, kita lumpuhkan mereka semua!”

Kupendarkan bilahku lebih terang, mendukung tekadnya. Saat kutatap wajahnya, aku teringat masa lalu, wajah yang dulu lugu, ceria dan penuh semangat saat ia belajar ilmu pedang dariku.

Ya, dulu aku adalah gurunya.

Saat aku masih manusia, wanita setengah baya yang beranjak tua.

Sekilas terbayang lagi wajah muridku yang menangis penuh duka.

Saat kuwariskan Gynheid padanya, dengan pesan agar berjuang jadi pendekar terkuat.

Lalu kututup mata, tutup usia.

Kini akulah Gynheid, menari lagi, digerakkan muridku dengan jurus-jurus indah ciptaanku sendiri.

Kadang mantan muridku yang kini jadi majikanku ini mendaratkan gagang pedang, siku dan tendangan, tapi tak apa. Hatinya memang baik, tak mau membunuh dan menumpuk dendam. Ia bahkan telah bersumpah untuk selalu bertanding adil, menang dengan terhormat.

Ia terus menari, meloncat kesana-kemari bagai terbang, menumbangkan lima, enam orang lagi.

Hingga terdengar satu teriakan garang.

“HENTIKAAN!!”

Perintah. Berarti itu mungkin suara sang pimpinan. Mata sukmaku menoleh, mengikuti arah pandang majikanku hingga mendapati seorang pria berambut biru panjang berikat kepala putih, berbadan tegap dan mengenakan rompi kulit tebal berdiri tegak.

Wajahnya ternyata tampan bak malaikat, dan matanya yang berbola kemerahan memancarkan amarah campur keterkejutan.

“Apaa? Para pengikutku tumbang oleh seorang gadis? Dan ia…” sejenak wajah tegangnya mengendur, “… cantik… cantik sekali.”

Ditatap seperti itu, majikanku menghardik, “Hei, beraninya kau bicara kurang ajar! Humph, aku, Annabelle von Struysen akan memberimu pelajaran sopan-santun! Mana janjimu, hah? Katamu kau menerima tantanganku! Apa kau mau mangkir dan jadi ayam pengecut, heh? Pok, pok, pok!” Annabelle menirukan suara ayam betina untuk memancing emosi lawan.

“Aku sama sekali tak berniat mangkir, nona,” kata si pemuda dengan lembut. “Hanya saja, saat ini aku belum siap karena guruku baru berpulang dan mewariskan kapak sakti padaku. Rombongan kami baru saja selesai mengebumikannya dan dalam perjalanan pulang. Nanti saja baru kita jadwalkan ulang tarung kita.”

“Oh, jadi kau penyandang senjata sakti juga sekarang, eh, Barsec Pietran? Bagus kalau begitu, tarung kita akan makin seru!”

Sambil mengibaskan tangan sebagai isyarat agar para pengikutnya menjauh, Barsec menghardik, “Mungkin kau ini pendekar berbudi luhur yang pantang membunuh orang, nona, tapi kau sudah kurang ajar telah menyerang perkemahan kami! Kalau kau bersikeras ingin tarung sekarang, baik! Aku layani! Beraksilah, Holgarcon!”

Barsec segera menghunus kapak besar yang tersandang di punggungnya dan mengacungkannya pada lawan. Tampaklah bilah tunggal dan gagangnya yang keemasan, dengan pangkal bilahnya diukir membentuk kepala singa bertanduk satu dengan bilah kapak sebagai “surai”-nya. Barsec menghentak, dan kapak itu memendarkan aura kobaran api magis.

Sejenak aku tersentak.

Holgarcon? Bukankah itu kapak kesayangan rivalku, Holgar Dubarec?

“Benar, Gynell. Ini memang kapakku, dan kini akulah Holgarcon, si Kapak Singa Api.” Suara batin yang rupanya berasal dari kapak sakti itu terngiang jelas. Jelas kukenal.

“Astaga… jadi Barsec, salah satu pendekar paling ternama di benua ini adalah muridmu? Sungguh kebetulan… Ini sungguh takdir!” seruku.

Suara roh-roh seperti kami memang hanya bisa didengar roh saja, bukan makhluk fana, begitu pula penampakan sukma kami di senjata-senjata sakti yang tak bisa dilihat kecuali oleh makhluk yang terberkahi kemampuan melihat dan mendengar makhluk halus. Jelas Barsec dan Annabelle bukan termasuk golongan ‘yang terberkahi’ itu, kalau tidak mereka pasti bisa melihat penampakan sukmaku, sesosok wanita setengah baya yang beranjak tua dengan tanda-tanda keriput di tepi kedua mataku.

Sukma Holgar menampakkan diri sebagai seorang pria setengah baya berjanggut kasar lebat, lalu suaranya bergema lagi, “Ya, ini kebetulan yang diatur takdir. Juga kesempatan untuk menuntaskan tarung kita yang tak pernah rampung, menuntaskan rasa penasaran kita selama-lamanya, membebaskan kita dari penjara-penjara ciptaan kita yang terkutuk ini!”

Aku menggeram, “Ya, Holgar. Inilah saatnya. Aku dan muridku melawan kau dan muridmu. Tarung pamungkas sampai salah satu pihak bertekuk lutut!”

Seiring seruanku, Barsec dan Annabelle juga berseru, “Tarung sampai mati!!”

Merekapun menerjang bersamaan.

Sekali lagi aku menari, lebih cepat, lebih gemulai dari sebelumnya, diperkuat dengan daya es yang lebih membekukan dari sebelumnya.

Di sisi lain, Kapak Holgarcon membacok berulang-ulang dengan dahsyat dan brutal, bagai roda-roda api yang mampu membelah dan menghanguskan benda apapun yang dilindasnya.

Sesekali muridku melompat dan bersalto, menyengat punggung lawan dengan bilah esku. Darah yang keluar dari luka itu langsung membeku, lawan berteriak kesakitan dan mencairkan bekuan darah itu dengan tenaga dalamnya.

Barsec sontak membalas, mengayunkan kapaknya dan meninggalkan luka bakar yang memanjang dari bahu ke dada Anna, tapi tidak dalam berkat hawa pelindung es di tubuh lawan. Sambil menahan sakit, Anna menyentuhkan sisi pipih bilah Gynheid pada luka di dadanya yang segera membekukan darah sekaligus memulihkan luka.

Tiba-tiba, bacokan kapak Holgarcon datang lagi, kali ini untuk memancung kepala Anna. Gawat! Mustahil dia bisa mengelaknya. Kami tak boleh kalah, jadi terpaksa aku berinisiatif mengalirkan tambahan energi ke tubuhnya. Walhasil, di detik penentuan Anna bergerak mundur secepat kilat, lolos dari maut.

Terbersit keheranan di wajah penyandang pedang sakti ini, namun ia tak punya waktu untuk mencari penyebabnya. Malah ia memanfaatkan tenaga tambahannya ini dengan bergerak cepat, mendaratkan serangan balasan berupa sabetan-sabetan dingin ke sekujur tubuh Barsec. Darah bercipratan dari tubuh kekar berpelindung aura api itu, namun lelaki itu tetap berdiri, walau agak limbung. Bilah kapaknya bagai berkobar lebih besar, rupanya Holgarcon juga membantu tuannya.

Diam-diam aku menggeram, lalu kudengar Holgar tertawa, “Haha, kau lihat, Gynell? Muridku lebih kuat dari muridmu! Lihat saja, ia akan membuat muridmu mencium tanah dalam tiga jurus!”

“Oh ya?” Kataku sengit. “Maaf ya, kakek keriput, menang atau kalah tak hanya ditentukan oleh kekuatan semata. Kecepatan, kelincahan dan kecerdasan juga ikut menentukan, dan muridku jelas lebih unggul dari muridmu dalam ketiga faktor itu. Lihat, dia beraksi lagi!”

Kali ini Anna bergerak secepat angin, meloncat kesana-kemari, menghinggapi batang-cabang pepohonan sekitar sambil menyengat lawannya di tanah bagai nyamuk.

“Aduh! Aw! Sial! Lincah sekali perempuan ini!” Barsec mulai kewalahan. Walau luka-luka yang timbul di tubuhnya tak lebih bagai sengatan nyamuk, kalau ini berlangsung terus cepat atau lambat pertahanan aura apinya akan jebol dan ia jadi tak ubahnya kantung kulit yang bocor. Maka pemuda itu memutuskan berdiri tenang, mengamati pola gerakan lawannya, lalu mendadak melayangkan tinju tangan kanan – serangan tercepatnya dan menghantam Annabelle tepat di bahu kirinya, hingga wanita itu terlontar sampai menabrak pohon.

Annabelle kembali bangkit – lagi-lagi kedudukan mereka seimbang.

“Bagaimana nona manis, masih mau main-main lagi?” Barsec tersenyum mengejek.

Dengan santai Annabelle menjawab, “Ya, ya, tadi aku memang main-main. Biasa, pemanasan. Sekarang, mumpung sudah ‘panas’, biar kaucicipi jurus andalanku ini! HEAAA!”

Anna melompat tinggi-tinggi lalu terjun ke arah lawan, melancarkan kombinasi sabetan dan tusukan pedang yang beruntun bagai hujan badai es.

Melihatnya, Barsec tahu taktiknya memancing emosi lawan telah gagal. Ia berseru, “CIH!” lalu memutar-mutar kapak itu di atas kepala hingga terbentuklah perisai api, menangkis tiap curahan es yang menimpanya.

Mirip payung diputar-putar.

Menepis hujan hingga terciprat kemana-mana.

Ah! Aku tersentak lagi. Tiba-tiba kenangan masa lalu mulai terbayang. Aku dan Holgar – sama-sama jauh lebih muda dan rupawan saat berusia dua puluh tahunan – berdiri berdua di tepi sungai, berdampingan di bawah satu payung di tengah guyuran hujan sore hari.

Dengan usil aku memutar-mutar gagang payung hingga air hujan bercipratan ke segala arah, membuatku tertawa melihatnya. Tawa Holgar ikut berderai, menghangatkan kemesraan kami. Pasangan yang selangkah lagi akan mengarungi mahligai rumahtangga.

Kusandarkan kepalaku di dada kekasihku yang bidang itu, terasa hangat, teduh, aman dalam lindungannya. Dan tiba-tiba…

“Cih! Jurus picisanmu mustahil membuatku bertekuk lutut! Rasakan jurusku ini, HEEAGGH!!”

Kembali aku tersentak – tersadar dari lamunanku dan bayang-bayang memoriku berubah. Teriakan Barsec ini persis seruan Holgar saat di arena pertandingan dulu, bertarung melawanku di pantai puncak demi merebut gelar ‘pendekar terkuat’.

Tiada lagi senyum mesranya.

Tiada lagi derai tawa candanya.

Hanya seringai ganas menghias wajahnya.

Bahkan Barsec mengerahkan jurus yang dulu pernah memutuskan tali kasih kami itu. Ia mengayunkan kapak tegak lurus ke atas dan menembakkan sabit api raksasa yang menembus jurus hujan es dan nyaris membelah raga lawan jadi dua.

Untunglah, seperti halnya aku dulu, muridku sempat bersalto ke belakang, menghindari sabit api namun terkena tendangan susulan Barsec di pinggul kanannya.

Bedanya pula, dulu aku terkapar setengah pingsan hingga Holgar dinyatakan sebagai juara dan aku terpaksa pergi menyepi, mengasingkan diri, jauh dari hiruk-pikuk dunia kependekaran. Kini, muridku tetap berdiri tegak, siap membalas dengan jurus-jurus ciptaanku setelah kalah di kejuaraan itu.

Dan inilah saatnya.

Saat pembalasan dendam.

Saat penentuan si pemenang dan pecundang sejati.

Sekali untuk selamanya.

“Bagaimana, Anna? Siap menyerah? Akui sajalah aku lebih hebat darimu, kita sudahi saja pertarungan ini,” ujar Barsec sambil memikul kapak di bahunya.

“ENAK SAJA!” Hardik Annabelle sambil mengacungkan pedangnya, yaitu aku. “Aku takkan pernah menyerah sampai gelar ‘pendekar terkuat’ berhasil kurebut darimu! Memenuhi cita-cita almarhumah guruku!”

Ingin rasanya aku menitikkan air mata haru melihat tekad muridku yang melampauiku ini, namun sebagai arwah penunggu pedang aku hanya bisa memancarkan sinar biru dari bilahku untuk mendukungnya.

Tak salah aku memilih gadis perkasa ini sebagai muridku.

“Dasar gadis kecil bodoh! HYAAA!!”

Barsec dan Annabelle maju bersamaan lagi!

Holgarcon terayun, membabat deras.

Gynheid melesatkan tusukan.

Holgarcon berputar, menangkis.

Rentetan tusukan Gynheid berubah jadi sabetan dari samping, menggores pinggang lawan.

Pangkal gagang kapak menghantam dagu lawan.

Anna sesaat sempoyongan, dan saat berikutnya keseimbangan tubuhnya pulih. Ia memutar tubuh, mendaratkan tendangan telak di wajah Barsec.

Terjengkang, darah meleleh keluar dari hidung si pemuda.

Barsec menggeram, kembali maju, mengayun kapak lagi dan ditangkis pedang dengan mudah.

Kedua petarung itu terus saling serang, saling melukai lawan, menghindar dan menangkis senjata lawan masing-masing. Nyeri luka di tangan, kaki dan badan tak mereka pedulikan lagi, namun dari wajah mereka nampak tanda-tanda kelelahan akibat laga yang berkepanjangan.

Semua jurus yang kuajarkan pada Annabelle telah ia kerahkan, tapi ia tetap tak berhasil unggul dari lawannya. Sebaliknya, Barsecpun tampak frustrasi karena keadaannya selalu berimbang dengan lawan.

Tiba-tiba Barsec dan suara sukma Holgar berseru bersamaan, “Saatnya mengakhiri ini! JURUS PAMUNGKAS!”

Sontak lidah api ganas menyelubungi manusia dan kapak itu seolah-olah membakar mereka hidup-hidup. Aura api itu berangsur-angsur membentuk wujud aslinya, sesosok singa perkasa yang mengaum, mengancam tak henti.

Annabellepun tak mau kalah, “Ayo Gynheid! Tarian Terakhir Walet Es!”

Akupun melonjakkan seluruh energi es yang terkandung pada bilahku hingga hawa dingin membekukan tanah dan benda-benda dalam jarak jangkauan, hingga aura es itu tampak seperti burung walet yang mengepakkan sayap dengan anggunnya.

Kedua petarung menerjang. Hawa serangan mereka tampak seperti singa api dan walet es yang saling menerkam, dan terjadilah tumbukan.

Mengerahkan segala daya.

Adu tenaga, yang mana yang lebih kuat.

Habis-habisan, kalau perlu…

Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Agh! Aku tersentak, baru menyadari sesuatu. Ini… tidak beres!

Apakah semua upayaku, segala daya cipta dan ajaranku cukup hanya demi tarung pamungkas ini, lalu musnah, punah begitu saja? Inikah tujuan terbaik? Bukankah seharusnya ada jalan keluar yang lebih baik?

Tiba-tiba sukma Holgar menampakkan diri di balik aura singa api, lalu bicara dengan dahi berkerut, “Ah, benar juga pemikiranmu itu, Gynell. Segala perselisihan ini: rivalitas kita, keinginan untuk lebih unggul dari yang lain demi kebanggaan dan kejayaan telah membuat kita tak bisa bersatu di masa kita masih hidup dulu dan jadi arwah penasaran seperti sekarang.

Dan kini, kedua murid kita mengulangi kesalahan yang sama. Lebih parah lagi, mereka belum menemukan penerus ilmu Pedang Walet Es dan Kapak Singa Api!

Kita akan punah, kesepian, terlupakan! Selamanya terkungkung dalam penjara ini, senjata-senjata sakti yang akan jadi rongsokan karena tak ada yang tahu cara mendayagunakan kesaktiannya! Apa yang harus kita lakukan?”

Aku terdiam sesaat, lalu kembali bicara pada Holgar, “Ada jalan keluar. Kitalah yang harus berkorban. Pusatkan seluruh tenaga serangan masing-masing pada seluruh “tubuh” kita dan biarkan dua tenaga yang bertentangan – es dan api –  bertumbukan hingga meledak. Biarlah senjata yang hancur, karena pemegangnyalah yang lebih penting. Senjata bisa ditempa lagi, penempanyalah yang harus lestari!”

“Benar. Ayo kita lakukan, Gynell. Semoga caramu ini berhasil.”

Sesaat kemudian, Holgar bicara lagi, kali ini menyunggingkan senyum mesra, “Oh ya, selagi sempat, biarlah aku menyampaikan ini padamu: Aku cinta padamu, Gynell.”

Sukmaku balas tersenyum, “Aku juga mencintaimu, Holgar, sejak pertama kali kita bertemu. Nah, ayo kita mulai! HEAAAA!!!”

Mendadak, kedua senjata yang tengah beradu itu berpendar. Gagang Holgarcon jadi sedingin es, dan gagang Gynheid seperti mendidih. Kedua citra singa dan walet menyusut drastis, genggaman pada senjata terlepas dan kedua petarung terlempar menjauh.

Annabelle dan Barsec terpuruk di lantai. Mereka bangkit perlahan, lalu menatap kedua senjata yang melayang di udara itu sambil melongo, kebingungan.

Detik berikutnya, kapak dan pedang sakti meledak, lalu hancur berkeping-keping.

“Aah!! Apa artinya ini, Anna?”

“Entahlah, Barsec, aku juga tak mengerti.”

Dari serpihan kedua senjata itu asap membubung, lalu menggumpal, membentuk sosok dua insan muda, pria dan wanita rupawan yang saling berangkulan.

Barsec menunjuk ke wajah si roh pria, “A… Anna! Lihat! Itu guruku! Tapi dia kelihatan… lebih muda!”

Annabelle juga membelalakkan matanya untuk melihat lebih jelas, “Ya! Dan yang wanita itu mirip guruku! Mungkin memang benar dia guruku, tapi… bukankah mereka telah berpulang?” Wajah wanita muda itu langsung memucat.

Aku mencoba bicara. Mungkin kali ini mereka bisa mendengarkanku.

“Annabelle, Barsec, ya, kami guru-guru kalian, Gynell dan Holgar.”

Mereka bereaksi, terperangah. Ya, mereka memang bisa mendengarkan suaraku kini, jadi aku melanjutkan lagi.

“Begini duduk perkaranya. Sejak dulu, kami berdua selalu bersaing seperti air dan api, berusaha saling mengungguli, menciptakan jurus-jurus canggih dan senjata-senjata sakti untuk jadi yang terbaik tanpa pernah menyadari bahwa sesungguhnya kami saling mencintai.”

Holgar melanjutkan, “Ya, dan kini, berkat kalian kami akhirnya bersatu dalam keabadian. Nah, para penerus, jangan ulangi kesalahan kami. Jangan lagi berkutat dalam persaingan demi gelar semu sebagai ‘yang terkuat’. Gabungkanlah kekuatan kalian dalam kerjasama yang saling melengkapi dan saling mengisi satu sama lain. Bersatulah!”

Giliranku bicara lagi, “Satu permohonan kami, lestarikanlah ilmu beladiri warisan kami ini dan gunakanlah di jalan kebenaran, niscaya kalian akan hidup bahagia dan arwah kami tenang di alam baka. Maukah kalian memenuhinya?”

Barsec dan Annabelle saling bertatapan sejenak. Kerutan di dahi dan tatapan tajam mereka mengendur berganti dengan senyum penuh arti, lalu keduanya mengangguk pada “sepasang hantu asap” dan Barsec menjawab, “Ya, guru berdua, kami berjanji. Istirahatlah dalam damai.”

Akupun tersenyum damai, dan bersama Holgar menjawab, “Terima kasih.”

Lalu kami berdua terangkat, membubung makin tinggi, tinggi ke langit.

Masih sempat aku menatap Barsec di bawah sana berdiri berdampingan bersama Annabelle, saling berhadapan dan berjabat tangan: sebuah tanda persatuan, sebuah awal yang dapat  berlanjut menjadi kerjasama, persahabatan dan siapa tahu… cinta.

Lalu aku berpaling, menatap Holgar di hadapanku yang ekspresi wajahnya sama denganku, tersenyum damai penuh cinta.

Gynheid si Walet Es dan Holgarcon si Singa Api.

Semoga kalian lestari selamanya.

cerita ini dapat dilihat juga di:

Blogspot

Kemudian

Goodreads

Iklan